Hasil gambar untuk pelantikan wakapolri

Oleh: Neta S Pane - Ketua Presidium Ind Police Watch

Dari delapan jenderal bintang tiga atau Komjen di Polri, ada tiga yang menjadi calon kuat untuk posisi Wakapolri menggantikan Komjen Syafruddin. Yakni, Komjen Suhardi Alius, Komjen Moegiharto, dan Komjen M Iriawan.

Dari pendataan Ind Police  Watch (IPW), Komjen Suhardi Alius lahir 10 Mei 1962. Pada Juli 2016 Alius menjadi Kepala BNPT menggantikan Tito Karnavian yang diangkat menjadi Kapolri. Alius pernah memegang sejumlah jabatan strategis, antara lain Sestama Lemhanas, Kabareskrim, Kapolda Jabar, Humas Polda dll.

Begitu juga dengan Komjen Moegiharto, yang lahir pada 25 Mei 1962, sejak 13 Septembet 2017 memegang jabatan Kabaharkam. Selain itu pernah menjadi Kalemdikpol, Kapolda Metro, Kapolda Jabar dan Kapolda NTB. Sedangkan Komjen M Iriawan lahir pada 31 Maret 1962. Saat ini menjadi Plt Gubernur Jabar. Iriawan pernah menjabat Sestama Lemhanas, Asop Kapolri, Kapolda NTB, Kapolda Jabar, dan Kapolda Metro.

Dari kebiasaan Polri selama ini, posisi Wakapolri selalu dipilih dari jenderal bintang tiga atau Komjen. Tidak pernah ada dari jenderal bintang dua atau Irjen yang kemudian dijadikan sebagai Wakapolri. Hal ini mengingat, Wakapolri adalah posisi orang nomor dua di Polri sehingga harus diambil berdasarkan urut kacang, yang tentunya mempertimbangkan kualitas, kapasitas dan kapabilitas figurnya.

Posisi Wakapolri saat ini menjadi sangat strategis, mengingat pada tahun politik ini tugas Kapolri sangat berat dan perlu back up penuh oleh Wakapolri. Setidaknya, ada lima tugas utama Wakapolri. Pertama, harus benar benar loyal dan mampu membantu Kapolri untuk mengkonsolidasikan institusi Polri. Kedua, harus mampu menghapus isu adanya matahari kembar di Polri, sehingga jajaran Polri benar benar solid dalam menjalankan tugas tugasnya. Ketiga,  sebagai Ketua Wanjakti, Wakapolri harus mampu menjaga profesionalitas Polri dalam penempatan personil maupun dalam mendidik kader kader kepolisian. Keempat, harus mampu mengawasi proyek proyek pengadaan yang sesuai dengan kebutuhan kepolisian. Kelima, harus mampu menjaga netralitas anggota Polri di Pemilu maupun Pilpres 2019.

Hasil gambar untuk haji umrah dan qurban

Sebagaimana kita ketahui, Pemerintah melalui Kemenag telah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijjah tahun ini jatuh pada Hari Rabu, 22/8/2018. Sebelumnya, Pemerintah Saudi telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada Hari Selasa, 21/8/2018. Dengan demikian bisa dipastikan, kaum Muslim di Tanah Air akan merayakan Hari Idul Adha tahun ini pada hari berbeda. Pasalnya, sebagian kaum Muslim di sini tetap mengacu pada ketetapan Pemerintahan Saudi. Mereka antara lain beralasan, Idul Adha berkaitan erat dengan ritual ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah (Hari Arafah), yang jatuh pada Senin, 20/8/2018.

Idul Adha dalam Duka

Terlepas dari perbedaan di atas, di Tanah Air, Idul Adha tahun ini sama-sama akan dirayakan saat bangsa ini dirundung oleh ragam ujian. Di kalangan elit politik, tampak nyata hasrat dan nafsu untuk saling berebut jabatan atau untuk terus mempertahankan kekuasaan. Ego pribadi, kehendak golongan dan kepentingan partai, tak jarang mendominasi. Saling sikut berebut kursi. Masing-masing siap mengorbankan apa saja, bahkan mengorbankan siapa saja, demi jabatan dan kekuasaan.

Saat yang sama, rakyat terus ditimpa nestapa. Kemiskinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, utang negara yang terus menumpuk dan aneka persoalan lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini. Minyak bumi, emas, perak, tembaga, aneka mineral, kekayaan hayati, hutan belantara, kekayaan laut dan banyak yang lainnya memang terhampar di seantero negeri ini. Sayang, semua kekayaan itu tak banyak rakyat nikmati. Sebab sebagian besarnya telah dikuasai oleh pihak asing, swasta dan pribadi-pribadi.

Di sisi lain, bencana demi bencana terus mengguncang negeri ini. Yang terkini adalah gempa bumi yang bertubi-tubi. Di NTB dan Bali. Semua ini tentu makin menambah derita penduduk negeri tercinta ini.

Namun demikian, hendaknya kita selalu menyadari bahwa semua duka pada akhirnya akan terhenti, kecuali duka karena meninggalkan petunjuk Baginda Nabi saw. Semua bahagia pun akan sirna, kecuali bahagia saat kita diakui sebagai umatnya. Tentu saat kita benar-benar meneladani ketaatan, perjuangan dan pergorbanannya di jalan Allah SWT.

Merenungkan Nasihat Nabi saw.

Di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha tahun ini, mari kita renungkan nasihat-nasihat Baginda Nabi saw. pada saat Haji Wada. Selama Haji Wada, beliau berkhutbah di hadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji. Tak hanya sekali. Beliau berkhutbah di Hari Arafah, Hari Idul Adha juga Hari Tasyriq. Berikut ini adalah sebagian kecil dari isi khutbah yang beliau sampaikan:

Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan... Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian...

Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain...

Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung... (HR al-Bukhari dan Muslim).

Beliau pun bersabda:

Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pula keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih. Kecuali karena ketakwaannya... (HR Ahmad).

Beliau juga bersabda:

Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini...Riba jahiliah pun telah dilenyapkan...

Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang
teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya... (HR Ibnu Khuzaimah).

Dari apa yang Baginda Nabi saw. sampaikan di atas, ada sejumlah hal yang beliau nasihatkan kepada kita. Di antaranya: Pertama, kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul atas bangsa dan umat lain. Tak selayaknya bangsa Arab merasa lebih unggul atas bangsa non-Arab. Tak sepatutnya bangsa non-Arab, termasuk kita di Nusantara ini, merasa lebih unggul atas bangsa Arab. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Takwa tentu harus dibuktikan dengan ketaatan total atas seluruh perintah dan larangan-Nya, dengan menjalankan semua syariah-Nya.

Kedua, kita diperintahkan oleh beliau untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Tak boleh saling menumpahkan darah. Haram saling merampas harta. Terlarang saling menodai kehormatan sesama.

Ketiga, kita diperintahkan oleh beliau agar meninggalkan semua tradisi jahiliah. Di antaranya riba dalam segala bentuknya. Sayang, hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar ekonomi yang utama. Tidak aneh jika utang ribawi, dengan bunga sangat tinggi, sangat berpeluang membangkrutkan negeri ini. Akankah bangsa ini terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi saw. ini?

Keempat, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan. Sayang, hari ini tali persaudaraan seolah hilang. Antar kelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Tak ada lagi ruh berjamaah. Tak ada lagi rasa kebersamaan. Mereka seolah lupa, kaum Muslim itu bersaudara. Mereka harusnya saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Kelima, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Sebab, kata Baginda Nabi saw., agama adalah nasihat. Di antara nasihat yang paling utama adalah yang ditujukan kepada penguasa agar tidak terus dalam kesesatan dan penyimpangan. Agar penguasa tidak terus melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan al-Quran. Saat mereka tidak menerapkan syariah Islam. Itulah yang Allah SWT tegaskan: 

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al-Quran), mereka itulah kaum zalim (QS al-Maidah [5]: 45).

Keenam, kita diwajibkan oleh beliau untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Baginda Nabi saw. telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya. Sayang, apa yang dipesankan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan, kecuali sebatas bacaan. Isinya kita abaikan. Hukum-hukumnya kita campakkan. Pantas, saat ini, bangsa ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Lalu sampai kapan al-Quran dan as-Sunnah akan terus kita abaikan? 

Esensi Ibadah Haji dan Kurban

Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah saw. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ
Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai (QS Ali Imran [3]: 92).

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya—yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya—ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as.; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah saw. Bukan hanya cinta dan taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban—mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita—semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw., mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna, di bawah ridha Allah SWT. []

Hikmah:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain selain Allah. Begitu pula mereka menjadikan Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka telah diperintahkan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Satu. Tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari semua kesyirikan mereka (QS at-Taubah [9]: 31). []

Buletin Kaffah_No. 052_05 Dzulhijjah 1439 H-17 Agustus 2018 M

tolak islam nusantara
Kesalahan sangat fatal, jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal.
“Islam Nusantara” cukup ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Banyak intelektual, ulama, politisi, dan pejabat pemerintah yang menggunakan istilah ini ketika membicarakan Islam. Pemantik awalnya adalah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah Alquran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 17 Mei 2015 di Istana Negara.
Sejak saat itu perbincangan “Islam Nusantara” menghangat. Apalagi ketika hal itu dikaitkan dengan opini penegakan syariah dan khilafah. Kalangan yang selama ini menolak ide syariah dan khilafah menemukan momentum mengajak masyarakat untuk turut berbaris bersama mereka. Mereka mempropagandakan “Islam Nusantara” sebagai wujud implementasi Islam terbaik, Islam sejati. Bahkan tanpa ragu mereka menyebut “Islam Arab” sebagai Islam abal-abal.
Bersikap Kritis
Para pengusung dan pendukung “Islam Nusantara” ini menggunakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya. Karena itu perlu ada sikap kritis terhadap argumentasi yang mereka kemukakan.
Pertama: konsep Islam Nusantara dianggap sebagai wujud kearifan lokal Indonesia. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat-istiadat di Tanah Air. Menurut Said, Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam di Arab atau Timur Tengah. Islam Nusantara, tegasnya, adalah Islam yang khas ala Indonesia (Republika.co.id, 10/3/2015).
Hal senada dikemukakan oleh Komaruddin Hidayat, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut mantan Rektor UIN Jakarta ini,  fikih atau paham keberagaman yang tumbuh dalam masyarakat padang pasir dan bangsa maritim serta pertanian yang hidup damai, jauh dari suasana konflik dan perang, memerlukan tafsir ulang. Karena itu, menurut Komaruddin, beberapa daerah di Nusantara ini para wanitanya sudah biasa aktif bertani di sawah untuk membantu ekonomi keluarga. Mereka sulit disuruh mengganti pakaian adatnya dengan pakaian model wanita Arab. Di Amerika, dia menambahkan, telah terjadi Amerikanisasi Islam dan di Eropa terjadi Eropanisasi Islam (Koran Sindo, 10/4/2015).
Argumentasi seperti ini sangat lemah. Pasalnya, Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Eropa, Asia, dan sebagainya. Tentu kesalahan sangat fatal, jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah. Misalnya, memakai kopiah pada saat shalat dibolehkan sebagaimana sorban, karena hal tersebut hukumnya mubah. Namun, memakai jilbab (milhafah [baju kurung/abaya]) merupakan kewajiban bagi setiap Muslimah yang akil balig (lihat: QS al-Ahzab [33]: 59). Karena itu jilbab tidak boleh diganti dengan sarung dan kebaya karena pertimbangan budaya lokal di daerah maritim dan agraris, seperti yang diargumentasikan oleh Komaruddin.
Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun Alquran dan Hadits berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam berupa khilafah bukanlah produk budaya Arab.
Kedua: “Islam Nusantara” dianggap sebagai perwujudan Islam yang bersifat empirik. Guru Besar Filologi Islam UIN Jakarta, Oman Fathurrahman, menyatakan bahwa “Islam Nusantara” itu adalah Islam yang empirik dan distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan sastra di Indonesia (Nu.or.id, 22/4/2015).
Argumentasi Oman ini tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, di dalam Islam, sesuatu yang bersifat normatif tidak terpisah dengan empiriknya. Misalnya, secara normatif setiap Muslim harus taat kepada Allah SWT secara totalitas. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan secara empirik supaya sifat normatif ini bisa diimplementasikan, dengan membangun peradaban Islam dalam wadah Negara Islam di Madinah untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah.
Artinya, agar setiap Muslim bisa taat kepada Allah SWT secara totalitas maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah. Untuk menerapkan syariah secara kaffah diperlukan negara. Alasannya, banyak hukum syariah yang tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya negara, misalnya sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem politik luar negeri, dan sebagainya.
Ketiga: “Islam Nusantara” dianggap sebagai bentuk alternatif untuk menampilkan wajah Islam yang lebih “moderat” dan “toleran”. Ini sebagai reaksi terhadap kondisi Timur Tengah yang saat ini diwarnai konflik berkepanjangan. Karena itu, menurut mereka, Timur Tengah tidak layak dijadikan acuan keberislaman kaum Muslim. Justru Indonesialah, menurut mereka, yang semestinya menjadi kiblat peradaban Islam, karena Islam di Indonesia dianggap lebih moderat dan bisa diterima oleh banyak pihak.
Argumentasi seperti itu juga tidak tepat. Pasalnya, kondisi Timur Tengah yang terus bergolak sesungguhnya bukan karena faktor Islam. Wilayah ini terus memanas karena strategi penjajah Barat dan Timur. Timur Tengah selama ini telah menjadi arena pertarungan kepentingan antara Inggris, Amerika, Rusia, dan Prancis. Sebagai contoh, konflik yang sedang terjadi di Yaman sekarang ini. Konflik tersebut sebenarnya bukanlah konflik Syiah-Sunni, tetapi pertarungan Amerika dengan Inggris untuk memperebutkan kekuasaan di sana. Begitu juga yang terjadi di Suriah. Karena itu mengaitkan konflik Timur Tengah dengan Islam merupakan tindakan naif, bodoh, dan terlalu simplikatif.
Keempat: “Islam Nusantara” dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk membendung bahaya Islam Transnasional. Argumentasi ini tidak ada realitanya dan ahistoris. Mereka seakan lupa bahwa Islam sendiri berasal dari Timur Tengah, bukan “produk” asli Indonesia. Kalau mereka konsisten mestinya shalat, shaum, zakat dan haji mereka sebut juga sebagai produk Transnasional. Sejarah juga mencatat, bahwa Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh “orang luar”, yaitu Wali Songo. Jadi Islam itu memang sejak dulu bersifat transnasional, mulai didakwahkan secara lintas negeri dari pusat Negara Islam di Madinah hingga akhirnya menembus wilayah Romawi, Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan seterusnya hingga masuk ke Nusantara ini.
Faktanya, tidak ada yang salah dengan Islam transnasional sehingga harus dibendung dengan “Islam Nusantara”. Memang demikianlah semestinya karakteristik dakwah Islam yang harus diemban oleh kaum Muslim ke seluruh dunia, melintasi sekat-sekat wilayah geografis. Justru ide “Islam Nusantara” yang bersifat kewilayahan itulah yang berbahaya karena pada akhirnya akan mengerdilkan Islam itu sendiri. []
Sumber : Mediaumat.news

advertisement

loading...
Powered by Blogger.