dakwahjateng.net - Mulai 1 Juli 2017 pelanggan rumah tangga mampu 900 VA akan dikenakan penyesuaian tarif otomatis setiap bulan setiap bulan seperti 12 golongan tarif nonsubsidi lainnya. Ini sangat memperhatikan bahkan ditahun sebelumnya yakni tahun 2016 saja tarif dasar listrik juga mengalami kenaikan dengan dalih pencabutan subsidi. Pemerintah mencabut subsidi sebesar 23 juta pelanggan PLN yang diniliai tidak berhak menerima subsidi karena dianggap bukan keluarga miskin.

Tidak seperti tahun tahun sebelumnya, tidak tampak banyak nampak gejolak penolakan dari masyarakat umum akibat kenaikan TDL ini. Namun begitu, bukan berarti masyarakat mengamini kebijakan tersebut, justru sebaliknya. Setidaknya itu yang terlihat ketika wartawan dakwahjateng melakukan wawancara. Dalam pantauan dakwahjateng.net, hanya beberapa Ormas yang berani tampil menyuarakan penolakan. Diantaranya adalah Hizbut Tahrir Indonesia.

Di beberapa titik di Kota Semarang misalnya, HTI Kota Semarang mengadakan aksi damai bentang spanduk, secara tegas menyuarakan penolakan kenaikan TDL. Sembari membagikan flyer (selebaran) yang berisikan alasan penolakan, aksi tersebut berlangsung sangat tertib, dari hari Kamis (22/06) sampai dengan hari Jumat (23/06).



Dampak kenaikan listrik sangat luar biasa menjerat ekonomi rakyat, ujar Ustdz Brojo, Ketua HTI Kota Semarang ketika diwawancarai dakwahjateng.net. "Dengan kasus ini (kenaikan TDL, red), semakin jelas terlihat keberpihakan rezim. Rakyat yang semakin merasakan kesulitan, sedangkan konsentrasi pemerintah justru pada hal yang tidak seharusnya yang membuat gaduh negeri ini seperti kriminalisasi Ulama dan rencana pembubaran ormas Islam", tambahnya.

Berikut video petikan wawancara dengan salah satu warga Kota Semarang. (HS)




dakwahjateng.net, Semarang - Di beberapa ruas jalan terlihat Hizbut Tahrir Kota Semarang kembali menggelar aksi secara serentak pada Kamis (22/06). Aksi tersebut digelar dalam rangka menolak kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang rencananya akan diberlakukan mulai bulan Juli 2017 nanti. Itu artinya, beban hidup yang harus ditanggung masyarakat akan lebih berat.

Dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Tolak Kenaikan Listrik (TDL)", HTI ingin menyuarakan bahwasanya listrik (energi) adalah milik umat. Dalam pandangan Islam, listrik termasuk kepemilikan umum (milkiyah ammah), maka dilarang memperjualbelikannya kepada ummat. Terkait milkiyah ammah ini, negara wajib mengelolanya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, haram dikelola swasta apalagi asing.

Sebelumnya, TDL juga mengalami penyesuaian tarif beberapa kali dalam 6 bulan terakhir. Sejak awal tahun, TDL sudah naik 3 kali yakni di bulan Januari, Maret dan Mei. Kenaikan ini menyasar pada pelanggan listrik yang menggunakan daya 900VA, dari yang sebelumnya bertarif Rp. 605 / KWH, kini menjadi Rp. 1,352 / KWH per Mei 2017. Rencananya, pada awal Juli mendatang akan disesuaikan kembali tarifnya menjadi Rp. 1,467 / KWH.

Alasan yang kerap dikemukakan pemerintah untuk menjustifikasi kenaikan harga listrik adalah selama ini subsidi listrik tidak tepat sasaran dimana kebanyakan penggunanya adalah orang yang kaya. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya benar. Sebab selama ini sebagian besar subsidi masih dinikmati oleh kelompok rumah tangga kecil dan menengah. (HS)
Aksi Tolak Kenaikan TDL di Depan Taman KB


Aksi Tolak Kenaikan TDL di Pasar Krempyeng Meteseh

Aksi Tolak Kenaikan TDL di Depan Rumah Bupati Semarang

Jasa penukaran uang baru (ilustrasi)
dakwahjateng.net, Semarang - Menjelang Idul Fitri, jasa penukaran uang mulai menjamur. Jasa penukaran uang kecil di pinggir jalan tersebut, haram hukumnya karena di dalamnya terdapat unsur riba.

Alhamdulillah, ghiroh / semangat umat untuk kembali kepada ajaran Islam semakin menggeliat. Semakin banyak da’i yang menyampaikan bahaya riba, sehingga semakin banyak masyarakat yang menginginkan transaksi yang terbebas dari riba. Semakin banyak pula komunitas dan gerakan anti riba yang bermula dari kesadaran masyarakat akan kerusakan riba. Salah satunya, komunitas facebook Tempat Bakulane Wong Semarang (TBWS) yang memiliki anggota lebih dari 200 ribu orang.

Di dalam akunnya, pengurus (admin) TBWS mengumumkan akan menggelar penukaran uang baru tanpa dipungut biaya atau potongan. Kegiatan ini akan digelar di Halaman Masjid Baiturrahman Simpang Lima Semarang, pada Sabtu (24/06).



Bagi masyarakat yang tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut, silahkan datang langsung ke TKP atau bisa menghubungi Admin TBWS. Berikut link group TBWS : https://www.facebook.com/groups/1731887377095236/?ref=group_header.

TBWS adalah grup yang didirikan sejak 16 April 2013 lalu dengan nama awal Toko Baguse Wong Semarang. Dikarenakan banyak teguran soal nama grup, akhirnya namanya berganti dengan Tempat Bakulane Wong Semarang. (HS)

 

Powered by Blogger.