Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)  

Dalam sebuah diskusi bertajuk "Indonesia Damai Tanpa Khilafah" (9/11),  Wapres KH. Makruf Amin menyatakan bahwa tidak ada negara normal yang  menggunakan sistem Khilafah (www.republika.co.id, 09 Nopember 2020). Lebih  lanjut wapres menjelaskan bahwa saat ini tidak ada negara yang menggunakan  Khilafah. Menurutnya, hanya ISIS yang menggunakan Khilafah. Kaum muslimin  mengikuti sistem negara di negeri tempat tinggalnya. Khilafah itu memang  islami, tapi tidak selalu yang islami itu Khilafah, imbuhnya. 

Memang benar adanya bahwa saat ini tidak ada negara yang menggunakan sistem  Khilafah. Setelah dihapusnya Khilafah Utsmaniyah di tahun 1924 M, kaum  muslimin terpecah menjadi puluhan nation state (negara bangsa). Pada  masing-masing nation state tersebut dipaksakan untuk menerapkan sistem  kenegaraan yang tidak bersumber dari Islam. Ada yang menggunakan sistem  republik parlementer, presidensial, maupun sistem monarki atau kerajaan.  

Kesemua sistem kenegaraan tersebut bersumber dari demokrasi. Artinya  berubahnya sistem kenegaraan di dunia Islam merupakan suatu proses sosial  dan politik, bukanlah sesuatu yang fix sehingga kaum muslimin harus apatis  terhadap realitas.  Kaum muslimin disebut oleh Allah SWT sebagai umat terbaik. Dan salah satu  karakter umat terbaik adalah melakukan aktifitas amar bil makruf dan nahyu  anil munkar. Wujud aktifitas amar bil makruf dan nahyu anil munkar adalah  dengan melakukan dakwah. 

Sedangkan dakwah sejatinya aktifitas untuk  mengubah keadaan yang tidak islami menjadi islami. Dalam konteks sistem  kenegaraan, dakwah dilakukan agar terwujud penerapan Islam secara paripurna  dalam sistem Khilafah. Upaya memperjuangkan tegaknya Syariat Islam dan  Khilafah adalah suatu bentuk proses sosial dan politik. Jadi adalah sebuah  keniscayaan sistem kenegaraan di dunia Islam berubah dari sistem sekuler  demokrasi menjadi sistem Khilafah.  

Di samping itu, fakta tidak bisa digunakan untuk menolak sistem Khilafah,  apalagi fakta yang rusak. Andaikan fakta dijadikan sebagai sumber hukum  dalam Islam, tentu akan banyak ajaran Islam yang dianulir. Menurut akal  manusia, tatkala seseorang yang batal wudhunya lantaran buang angin,  seharusnya yang dibasuh untuk bersuci kembali adalah bagian duburnya.  

Sedangkan dalam ketentuan Islam, orang tersebut harus mengulangi aktifitas  berwudhunya. Bisa terbayang ribetnya bila ketentuan akal yang dipakai yaitu  membasuh bagian duburnya. Tentunya hal demikian tidak sesuai dengan fitrah  kemanusiaan.  

Contoh yang lain lagi. Menurut akal manusia, mestinya status hukum atas air  kencing dan air mani itu sama karena keluarnya dari tempat yang sama. Akan  tetapi Islam membedakan status hukum di antara air kencing dan air mani  yang menurut akal kelihatannya sama. Artinya akal manusia tidak mampu  menjangkau hakikat segala sesuatu. Bahkan menurut akal manusia, mengusap  bagian bawah sepatu khuf itu lebih baik daripada mengusap bagian  punggungnya. 

Padahal jika keputusan akal ini digunakan justru hanya akan  mempersulit manusia itu sendiri. Jadi akal yang sehat dan benar akan  menyadari keterbatasannya. Dengan demikian akal yang sehat dan benar akan  mengantarkan manusia sebagai hamba Allah SWT yang pasrah dan patuh  sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT.  Dalam kehidupan sekuler seperti sekarang, kaum muslimin terus menerus  mengalami ketidakadilan. Penistaan terhadap agama dan Nabinya terus saja  terjadi. 

Yang terbaru Presiden Perancis melegitimasi penistaan terhadap  Nabi Saw atas nama freedom of speech. Di dalam negeri, para pelaku  penistaan terhadap Islam tidak tersentuh oleh hukum, walaupun telah  dilaporkan berulang kali. Sementara mereka yang kritis terhadap kebijakan  pemerintah justru mengalami kriminalisasi. Kekayaan alam mereka diserahkan  kepada swasta dan asing atas nama investasi.

 Hasilnya kaum muslimin dipaksa  menjadi miskin di negerinya sendiri. Akibat ikutan berikutnya kejahatan dan  dekadensi moral seolah menjadi pemandangan harian kehidupan mereka.  Pertanyaannya, apakah kehidupan yang demikian bisa disebut sebagai  kehidupan bernegara yang normal dan menjadi cita-cita kehidupan kaum  muslimin? Tentunya tidak. 

Maka adalah selayaknya bila kaum muslimin  bercita-cita kehidupannya diatur dengan Syariat Islam. Dengan penerapan  Syariat Islam secara paripurna, keberkahan hidup akan dapat diwujudkan.  Bukankah Allah Swt menyatakan dalam firmanNya bahwa tatakala penduduk suatu  negeri beriman dan bertaqwa niscaya sungguh Allah akan membukakan  keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi manusia itu kebanyakan  mengingkari nikmat Allah lalu Allah pun menurunkan adzabNya atas apa yang  sudah mereka lakukan. Kesimpulannya, berbagai ketidakadilan, kejahatan dan  dekadensi moral yang terjadi akan semakin mengingatkan kaum muslimin untuk  bisa hidup secara normal dalam tatanan Islam.  

Adapun mengenai syubhat bahwa yang islami tidak selalu Khilafah. Yang jelas  bahwa Khilafah itu ajaran Islam. Islam sendiri telah menjadikan Khilafah  sebagai metode dalam melaksanakan Islam secara paripurna. Jadi sistem  kenegaraan yang kompatibel dengan Islam adalah Khilafah.  Pertanyaannya apakah sistem kenegaraan seperti kerajaan, republik, dan  parlementer itu melaksanakan Islam secara paripurna? Menurut hukum Islam,  kekayaan alam itu adalah milik umum dan haram untuk diserahkan kepada  swasta dan asing. Bukankah kekayaan alam dikangkangi swasta dan asing  justru di dalam sistem kenegaraan di luar Islam? Kekayaan alam Indonesia  dieksploitasi swasta dan asing sebagai contoh tambang emas di Papua  dieksploitasi oleh Freeport. Blok minyak di Cepu dieksploitasi oleh Exxon  Mobile, dan blok Tangguh di Minahasa dieksploitasi oleh Newmont.  

Ditambah lagi sebutan ulil amri tidak bisa disematkan pada kekuasaan di  luar Islam. Sebutan ulil amri menurut An-Nisa ayat 59 hanya dari kalangan  umat Islam. Mereka dipilih dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah  dan Rasul-Nya.  Sedangkan penisbatan penerapan Khilafah kepada ISIS adalah jauh panggang  dari api. Deklarasi ISIS sejatinya tidak memenuhi pilar-pilar dari tegaknya  Khilafah yang syar'i. Bisa disebut yang dideklarasikan ISIS itu adalah  Khilafah abal-abal. 

Khilafah itu negara super power umat Islam.  Kehadirannya bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, menyiutkan  nyali negara-negara imperialis. Kehadirannya akan disambut suka cita oleh  kaum muslimin. Khilafah yang ditunggu kaum muslimin bukanlah bentuk negara  yang justru menjadikan mereka menjauh dari Islam dan perjuangan penegakkan  Khilafah. Khilafah yang ditunggu kaum muslimin adalah Khilafah yang akan  membebaskan negerinya dari segala bentuk penjajahan.



Menanggapi hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat, Pengamat Politik Internasional Budi Mulyana mengatakan sikap Donald Trump atau Joe Biden terhadap dunia Islam sama saja.

“Memang terlihat Joe Biden mampu merangkul pemilih Muslim di Amerika, saya melihatnya Donald Trump yang sangat konfrontatif terhadap umat Islam termasuk di Amerika sehingga seolah-olah Joe Biden menjadi harapan walaupun kalau kita lihat sebenarnya sikap Amerika terhadap dunia Islam itu sama saja baik partai Demokrat maupun Republik,” ucapnya dalam acara Kabar Malam Senin (09/11/2020) di kanal YouTube Khilafah Channel.

Ia memperkirakan kebijakan yang dilakukan Trump dengan menormalisasi hubungan dunia Arab dengan Israel akan tetap dilanjutkan oleh Biden. Amerika tetap berada di balik Israel dan tidak akan pernah berpaling dari Israel. “Jadi artinya masih dalam satu arus yang sama sikap Amerika kepada dunia Islam,” ujarnya.

Menurutnya, dunia Islam menjadi semacam lawan tanding Amerika pasca runtuhnya komunisme. Sehingga dalam upaya untuk memperkuat hegemoni Amerika di dunia, potensi dari dunia Islam ini akan menjadi penghambat terhadap tersebarnya kapitalisme global tersebut.

Maka, lanjut Budi, dilakukan pendekatan kepada dunia Islam sesuai rekomendasi dari Rand Corporation yaitu untuk menjaring hubungan dengan Muslim yang moderat sehingga kelihatan ada upaya memecah belah, Muslim mana yang sejalan dengan Amerika dan Muslim mana yang Amerika perangi.

Budi mengingatkan sikap kaum Muslim terhadap pemilihan Presiden Amerika tidak perlu bereforia seolah-olah kekalahan Trump menjadi kemenangan dari dunia Islam karena hal itu sama saja “Amerika sudah mempunyai khithah politik yang tidak pernah berubah sebagai negara kapitalisme global dengan strategi imperialismenya tinggal masalah style dan gaya kepemimpinan saja yang membedakan,” pungkasnya.[]



Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (MIY) mengungkap faktor penyebab kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab yang sudah tiga tahun di Kota Suci Mekkah disambut antusias umat Islam dari Bandara Soekarno-Hatta hingga Petamburan Jakarta.

“Antusiasme yang begitu besar dari umat Islam itu mencerminkan bahwasanya Habib Rizieq adalah tokoh yang kokoh dalam memperjuangkan kebenaran, karena itu umat begitu rindu menunggu kepulangan Habib Rizieq,” ujar Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (MIY)  Selasa (10/11/2020).

Menurutnya keteguhan Habib dalam menyampaikan al-haq itulah membuat umat Islam rindu sehingga menyambut kepulangannya.

“Kekokohan dia, keteguhan dia untuk menyampaikan al-haq, satu ungkapan dia yang diucapkan dengan lantang dan jelas tanpa tedeng aling-aling di hadapan presiden dan menterinya, bahwa ayat suci harus di atas ayat konstitusi, jadi Habib Rizieq ini adalah sosok yang kokoh dalam menyampaikan al-haq, dan sekaligus menghapus yang bathil,” jelasnya.

Menurut MIY, perjuangan Habib Rizieq dinilai tidak pernah surut hingga tempo hari ini. MIY juga mengingat, Habib Rizieq pernah menyampaikan dengan tegas bahwa umat harus memperjuangkan syariat, tegaknya khilafah dan khilafah itu adalah ajaran Islam.

“Dengan tegas ia sampaikan di saat sekian banyak orang, tokoh, termasuk ormas Islam itu mencibir perjuangan itu,” kata MIY.

Kemudian, lanjut MIY, Habib Rizieq juga dilihat oleh umat Islam sebagai tokoh yang melakukan perlawanan terhadap rezim yang jahat kepada umat Islam khususnya. Meskipun Habib Rizieq berkali-kali menghadapi kriminalisasi, namun perjuangan melawan rezim yang sedemikian rupa tidak pernah surut.

“Segala cara digunakan untuk menaklukkan dia, kalau pakai istilah stick and carrot, stick itu dengan kekerasan yang begitu jelas tampak digunakan untuk menaklukkan Habib, ada 17 kasus dan dari sekian banyak itu adalah kasus-kasus kriminalisasi yang sebenarnya beliau tidak lakukan, seperti chat mesum dan sebagainya. Tapi beliau tidak tunduk,” jelasnya.

Lalu, lanjut MIY, Habib juga dicoba ditaklukkan dengan berbagai tawaran yang menggiurkan namun tidak goyah. MIY bercerita bahwa ditawari uang dalam jumlah besar pun tidak menghentikan Habib untuk melawan kejahatan rezim.

“Jadi, saya kira itu yang dilihat oleh umat, Habib ini adalah sosok yang mencerminkan dua hal tadi, pertama, kekokohan membela al-haq, menghancurkan yang bathil dan yang kedua adalah kekokohan dalam melakukan perlawanan terhadap rezim,” kata MIY.

Lalu MIY menerangkan, ketika Habib Rizieq konsisten dalam memperjuangkan kebenaran, menumpas kejahatan, ini akan bisa mengumpulkan kekuatan umat Islam yang besar dalam satu komando nantinya.

“Karena perjuangan ini perlu tokoh atau pemimpin yang tegas dan jelas dalam menyuarakan Islam, syariat dan khilafah, posisi Habib ada di situ,” jelasnya.

Konsistensi Habib Rizieq dalam melawan penguasa yang punya kejahatan dan penyimpangan juga akan menjadi kekuatan besar umat Islam nantinya dalam melawan kezaliman. “Karena itu saya kira pantas untuk optimis untuk memandang perjuangan ke depan, lalu saat ini Habib posisi sudah di Indonesia, dengan karakter tadi, Insyaallah kekuatan perjuangan akan berlipat-lipat,” tegas MIY.

Sikap penguasa saat ini dinilai MIY sedang dilema, mereka ingin melanjutkan kriminalisasi, tapi kalau mereka melanjutkan itu mereka akan berhadapan dengan umat yang sudah jengah dengan situasi yang ada, karena kalau bicara tentang kriminal, penguasa saat ini  sudah banyak sekali melakukan kesalahan, salah satunya kejahatan dan penyimpangan seperti yang terjadi pada UU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Hanya karena semua instrumen kekuatan ada di tangan pemerintah, jadi tidak ada tindakan apa-apa atas kejahatan dan penyimpangan tersebut,” ungkap Ismail.

Di sisi lain, apabila dibiarkan kekuatan Habib ini akan semakin besar dan umat akan semakin berkumpul di belakang dia untuk melanjutkan perjuangan ini. “Memperjuangkan yang haq dan menumbangkan rezim yang zalim,” pungkasnya.[] Fatih Solahuddin


sumber : Mediaumat.news,

 



Semarang, Kamis 05/11/2020 Masyarakat Cinta Rasul Semarang mengadakan aksi bela nabi SAW. Dalam aksinya mereka mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pembuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang dianggap menghina Islam. Massa juga menyerukan kepada semua kalangan untuk boikot produk Prancis.

Hadir Sebagai orator dalam aksi diantaranya Ustadz Haidar amtory. Beliau menyampaikan tentang pentingnya kaum muslim untuk mengetahui bahwa sistem demokrasi lah yang menyebabkan penghinaan kepada nabi Muhammad SAW terus berulang. Karena didalam demokrasi Ada kebebasan yang diperbolehkan yaitu kebebasan berpendapat. 


Hadir juga ustadz amri moeslem sebagai perwakilan pondok pesantren al mabda’ al islami. Beliau menyampaikan bahwa tidak ada hukuman yang pantas untuk penghina nabi selain hukuman mati. Baik itu muslim, kafirr dzimmy maupun kafir harbi. Bahkan jika penghina nabi adalah kafir harbi maka layak untuk diperangi.

Sedangkan pembicara terakhir yaitu ustadz wasroi menyampaikan bahwa salah satu penyebab penghinaan terhadap nabi berulang ulang terjadi adalh karean ketiadaan pemimpin islam yaitu khalifah yang akan melindungi marwah daripada agama islam itu sendiri. Maka sebagai seorang muslim layak bagi kita untuk memperjuangkannya.

Meskipun aksi berjalan dengan diiringi hujan namun peserta tetap semangat menjalankan aksi bela nabi.[]




Selama berlangsungnya pandemi di Indonesia sejak awal Maret 2020, jumlah yang terkonfirmasi positif serta yang meninggal terus meningkat. Tidak terkecuali dari tenaga medis. 

Berdasarkan data Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), hingga Sabtu (3/10/2020) terdapat 130 dokter, 9 dokter gigi dan 92 perawat yang meninggal dunia akibat Covid-19. (kompas.com, 4/10/2020). Dari 130 dokter yang wafat, 67 merupakan dokter umum dengan 4 di antaranya guru besar. Kemudian, 61 merupakan dokter spesialis dengan 4 di antaranya guru besar dan 2 orang residen. Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI wilayah (provinsi) dan 61 IDI cabang (kota/kabupaten). 

Di sisi lain Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menuding banyaknya tenaga medis yang gugur tersebut, lantaran kurang disiplinnya penegakan protokol kesehatan oleh tenaga medis. “Jadi kenapa masih terkena (Covid-19), ya pasti karena tidak disiplin, di situ celahnya,” kata Terawan. (republika.co.id, 27/8/2020). 

Para tenaga medis berjuang sepanjang waktu siang malam tak kenal lelah melaksanakan tugas mulianya melakukan perawatan demi kesembuhan para pasien. 

Penuturan dari seorang suster di sebuah rumah sakit di Jakarta bahwa kewalahan dan kelelahan adalah hal yang sama dialami oleh tenaga medis. Ketika merasakan lelahnya dalam bekerja maka di antara tenaga medis saling menguatkan. Saling curhat dan ada momen mengharukan saat lelah dan takut. Kemudian juga di masyarakat mendapat stigma negatif, penolakan dari masyarakat karena khawatir tenaga medis menyebarkan virus di lingkungannya. 

Banyaknya tenaga medis yang meninggal karena positif Covid-19 merupakan konsekuensi logis karena mereka berhadapan langsung dengan pasien. Di tengah banyaknya kasus pasien yang dirawat di rumah sakit. Belum lagi sarana dan prasarana kesehatan yang tidak memadai. 

Hal ini terjadi karena kelalaian dari penguasa dalam melindungi kesehatan dan keselamatan jiwa para tenaga medis serta masyarakat secara umum. Pandemi bermula di negeri ini dan seluruh dunia karena pengabaian lockdown di area wabah. Padahal secara penelitian, lockdown syar'i terbukti menekan pandemi, tetapi hingga sekarang hal itu tidak dilakukan. 

Selain itu penguasa juga telah abai terhadap isolasi dan pengobatan bagi yang terinfeksi yang tampak dari rendahnya testing dan lemahnya upaya tracing. Ditambah lagi buruknya edukasi yang mencerdaskan bagi masyarakat dan pengabaian jaminan pemenuhan kebutuhan hidup termasuk perawatan kesehatan itu sendiri, membuat masyarakat meremehkan pandemi. Sehingga muncul klaster-klaster baru di berbagai fasilitas publik, termasuk di sejumlah rumah sakit yang mengakibatkan dokter dan tenaga medis lainnya terinfeksi bahkan meninggal. 

Pengabaian peran penguasa adalah buah diterapkannya sistem politik demokrasi dengan ekonomi kapitalisme, di mana penguasa hanya mengutamakan ekonomi dibandingkan keselamatan jiwa rakyat bahkan tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi. Kalaupun ada pelayanan yang diberikan kepada rakyat semata-mata hanya demi kemaslahatan para korporasi. Jadi penguasa bekerja untuk kepentingan pengusaha. 

Oleh karena itu, Indonesia dan dunia butuh sistem shahih yang berasal dari wahyu Allah SWT yaitu sistem politik Islam yang akan mampu menjadi solusi atas segala bentuk permasalahan yang dihadapi umat manusia secara keseluruhan termasuk dalam menghadapi pandemi global ini. Sistem yang pernah pernah diterapkan selama kurun waktu lebih dari 13 abad yaitu Khilafah. 

Islam meniscayakan berjalannya fungsi negara yang shahih dalam mengatasi kekurangan sarana dan prasarana kesehatan dan menjamin perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Sehingga keselamatan jiwa rakyat maupun tenaga kesehatan akan terjaga dalam masa pandemi. Wallahu a'lam bi ash shawab.[]

Oleh: Haryati
Powered by Blogger.