Image result for kota metropolitan

DI NEGERI SEKULER ITU
(Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar)

Para politisi berkata, "Kalau bicara politik, jangan bawa-bawa agama!"
Dan para kyai berkata, "Kalau forum agama, jangan bicara politik!"

Para ekonom berkata, "Krisis ini akibat ekspor turun dan impor naik"
Sedang para ulama berkata, "Ini semua karena riba dan minimnya zakat"

Para insinyur berkata, "Bencana ini semata-mata kegagalan teknologi"
Tapi para ustadz berkata, "Bencana ini semata-mata karena maksiat kita"

Para mahasiswa berkata, "Pantas gak
nyambung, gatek sih"
Lalu para santri berkata, "Kalau bicara agama harus lulusan syari'ah"

Kapan dua alam ini akan berintegrasi?
Ketika tidak ada pemisahan antara alam agama
dengan alam dunia?

Ketika bicara dunia sekaligus berakibat akherat, dan juga sebaliknya?

Ketika para politisi tidak phobi agama, dan para kyai tidak menjual agama?

Ketika para ekonom melek syari'ah dan para ulama mengerti ekonomi?

Ketika para insinyur tahu tawadhu' dan para ustadz paham persoalan?

Ketika para mahasiswa tidak takabbur, dan para santri tidak arogan?

Ternyata sekulerisme ada di kedua sisi, baik sisi yang merasa lebih tahu dunia, maupun sisi yang merasa lebih kenal akherat.

Padahal syariat itu diturunkan melalui para Nabi, agar manusia bahagia di dunia dan di akherat, tidak cuma salah satunya.

Image result for surga neraka
Oleh: Rokhmat S. Labib
Menjadi manusia yang baik atau manusia yang buruk, bergantung pada hukum yang diyakini, dijalankan, dan diterapkan.
Apabila hukumnya benar dan baik, maka akan mengantarkan pelakunya menjadi orang yang baik. Sebaliknya, ketika hukumnya batil dan buruk, maka hanya akan membuat pelakunya menjadi orang yang buruk dan jahat.
Sebagai contoh, ketika ada seseorang meyakini bahwa zina dan riba perbuatan dosa dan tercela, kemudian dia menjauhinya, niscaya dia akan terhindar dari perbuatan buruk tersebut. Namun sebaliknya, ketika dia menganggap perbuatan tersebut tidak tercela, bahkan menganggapnya seebagai perbuatan mulia, maka tak berat untuk mengerjakannya. Terbayanglah, bagaimana kehidupan orang yang seperti itu.
Hukum Islam adalah hukum yang berasal dari Allah Swt. Dzat yang Yang Maha Benar dan Maha Adil. Allah Swt berfirman:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا 
Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu yang benar dan adil, QS al-An'am [6]: 115).

Maka, siapa pun meyakini, mengikuti, dan menjalankan Islam beserta seluruh hukumnya, akan mengantarkan pelakunya menjadi manusia yang baik. Bahkan, sebagaimana ditegaskan AlLlah swt dalam QS al-Bayyinah ayat 7, orang tersebut akan menjadi 'khair al-bariyyah' (sebaik-baik makhluk).
Sebaliknya, mereka yang mengingkari dan menolak dan Islam, pasti akan menjadi 'syarr al-bariyyah' (seburuk-buruk makhluk). Sebab, ketika menolak Islam, pastilah dia akan mengikuti dan menerapkan hukum dan ide selainnya. Padahal, semua selain yang haq adalah sesat dan bathil. Allah Swt berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ
Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan (QS Yunus [10]: 32).

Allah Swt juga menyebut orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk-Nya sebagai orang yang paling sesat. Perhatikan firman-Nya:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (QS al-Qashash [28]: 50).

Akhirnya, semuanya bergantung pada kita, mau menjadi makhluk terbaik atau menjadi makhluk terburuk. Jika menginginkan menjadi makluk terbaik, tak ada pilihan kecuali memilih Islam. Jika menolak dan mengingkari, maka jangan salahkan siapa-siapa jika menjadi makhluk paling buruk. Semohga kita dimasukkan Allah Swt dalam golongan khair al-bariyyah. WaL-lah a'lam bi al-shawab.[]

Image result for nasionalisme islam
Oleh: Rokhmat S. Labib
Pemerintah memutuskan untuk menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait kemudahan izin kerja bagi tenaga kerja asing (TKA) ahli. Hal ini sebagai tindak lanjut instruksi Presiden Joko Widodo yang meminta para pembantunya untuk memudahkan jalur investasi, jalur ekspor hingga TKA ahli ke Indonesia.
Sebelumnya Jokowi menegaskan bahwa tidak zamannya lagi mempersulit orang yang mau masuk bekerje di republik ini.
Sungguh, kebijakan ini amat sulit diterima akal sehat. Bagaimana tidak, di saat rakyatnya masih banyak menjadi pengangguran dan kesulitan mendapatkan pekerjaan, bahkan sebagiannya lagi harus merantau ke luar negeri untukbekerja seadanya, pemerintah justru membuka pintu lebar bagi pekerja asing. Untuk itu, bahkan harus dibuat peraturan yang memudahkan mereka bekerja di sini.
Tak menghengkan jika kebijakan itu memunculkan pertanyaan: Mengapa pemerintah lebih [eduli terhadap nasib orang asing dibandingkan dengan rakyatnya sendiri?
Pertanyaan lainnya yang juga cukup menggelitik: Di manakah slogan nasionalisme yang sering digembar-gemborkan penguasa itu?
Bukan hanya tentang soal tenaga kerja asing. Pertanyaan serupa juga dapat diajukan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai lebih pro asing.
Ketka impor beras dan produk-produk pertanian lainnya dilakukan sementara produk yang sama bisa dihasilkan oleh para petani kita, di manakah nasionalisme itu?
Di manakah nasionalisme ketika pemerintah terus menjual jalan tol, pelabuhan, bandara, dan berbagai sektor penting yang menguasai hajat hidup orang banyak kepada asing?
Di manakah nasionalisme ketika pemerintah menyetujui pasar bebas yang hanya akan membuat negeri ini menjadi pasar besar yang menguntungkan bagi asing?
Di manakah nasionalisme ketika pemerintah menyerahkan pengelolaan tambang-tambang minyak, gas, batu bara, dan tambang-tambang lainya yang depositnya melimpah?
Di manakah nasionalisme ketika tambang emas di gunung Papua dikuasai PT Freeport berpuluh-puluh tahun dengan hanya mendapatkan bagian yang sangat sedikit?
Di manakah nasionalisme ketika lembaga-lembaga asing ikut campur tangan dalam berbagai penyusunan undang-undangan di negeri, padahal semua undang-undang itu akan melempangkan jalan bagi penjajahan asing atas negeri ini?
Di manakah nasionalisme ketika sistem ekonomi, politik, dan hukum seperti kapitalisme dan liberalisme yang diterapkan di negeri ini berasal dari Barat?
Jawabannya: Tidak ada. Slogan nasionalisme sama sekali tidak terdengar dalam semua itu.
Lalu kapan slogan nasionalisme diteriakkan?
Slogan nasionalisme baru diteriakkan ketika ada seruan kepada rakyat ini untuk menerapkan syariah. Teriakan nasionalisme semakin kencang ketika ide khilafah didakwahkan.
Mereka tiba-tiba ingat nasionalisme dan seolah-olah menjadi orang yang paling mencintai negeri ini. Sementara syariah dan khilafah dianggap sebagai ancaman yang menghancurkan negeri ini.
Padahal, syariah dan khilafah adalah ajaran Islam. Ajaran yang berasal dari Tuhan yang menciptakan mereka. Karena berasal dari Dzat yang Maha Benar dan Maha Adil, tentulah syariah dan Khilafah adalah ajaran yang benar dan adil.
Dengan syariah dan khilafah pula, berbagai problem dapat diatasi dengan solusi yang benar dan diridhai-Nya. Negeri ini dan seluruh negeri Islam pun lainnya dapat dibebaskan dari aneka penjajahan dengan syariah dan khilafah.
Sebagai gambaran, Islam mengharamkan kekayaan negeri Muslim dikuasai negara penjajah. Islam juga mengharamkan dominasi negara-negara kafir penjajah atas kaum Muslimin.
Maka, jangan heran jika negara-negara kafir penjajah itu amat memusuhi syariah dan khilafah. Karena mereka tak ingin berbagai tambang yang mereka kuasai lepas begitu saja. Mereka juga tak mau penjajahan mereka atas kaum Muslimin hilang begitu saja. Bahkan dominasi mereka terhadap dunia bisa berakhir dengan tegaknya syariah dan khilafah.
Kembali kepada pertanyaan awal: Mengapa nasionalisme hanya diteriakkan dengan keras untuk menghalangi tegaknya sariah dan khilafah; sementara terhadap berbagai kebijakan pro asing penjajah, tak ada terdengar slogan nasionalisme?
Pertanyaam pun layak dilanjutkan: Sesungguhnya untuk kepentingan siapakah slogan nasionalisme diteriakkan? Silakan dijawab dengan jujur. WaL-lah a'lam bi al-shawab.

advertisement

loading...
Powered by Blogger.