Image result for radikalisme
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
Jika melihat masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hari ini, seperti kata Mantan Wapres Jusuf Kalla, adalah masalah ketidakadilan. Bukan Radikalisme. Masalah ketidakadilan di hadapan hukum, ekonomi, politik, dan sebagainya. Dalam bahasa Rocky Gerung, Kabinet Maju ini jelas memenuhi kepentingan Oligarki.
Maka, alih-alih menyelesaikan masalah yang ada, justru membuat banyak masalah. Apa yang dinyatakan oleh Mantan Wapres memang benar, bahwa masalah Indonesia saat ini bukanlah Radikalisme. Tetapi, ketidakadilan. Mestinya inilah yang harus diselesaikan.
Umat Islam, sebagai mayoritas penduduk di negeri ini, justru terus dipinggirkan. Bahkan, dipojokkan, dituduh, dan sebagiannya telah dikriminalisasi. Bukan hanya umatnya, ajaran agamanya juga terus diserang. Setelah Khilafah, Bendera Tauhid, jihad, kini cadar, celana cingkrang, hingga pemisahan antara anak laki dan perempuan yang bukan mahram pun dipersoalkan. Ini adalah bukti, bahwa Islam dan umatnya sebagai pemegang saham terbesar di negeri ini diperlakukan tidak adil.
Bahkan, JK yang sudah berpengalaman menyelesaikan berbagai konflik di negeri ini, mulai dari Poso, Ambon, hingga Aceh, dengan tegas mengatakan, bahwa akar masalah dari semuanya itu adalah ketidakadilan. Pertanyaannya, jika masalahnya ketidakadilan, mengapa justru ini tidak diselesaikan? Lalu, ada apa di balik “genderang perang” melawan Radikalisme ini? Apakah ini yang disebut oleh Rocky Gerung, sebagai kepentingan Oligarki?
Pasca Reformasi 1998
Diakui atau tidak, umat Islam telah mengalami penindasan yang luar biasa, sejak Orde Lama hingga Orde Baru. Setelah Orde Baru tumbang, tahun 1998, umat Islam seolah mendapatkan udara segar. Sejak saat itu, tuntutan penerapan syariat Islam menggema di seantero negeri yang mayoritas Muslim ini. Bahkan, berbagai survey membuktikan terjadinya kenaikan yang luar biasa. Puncaknya, 2007, ketika umat Islam mengadakan perhelatan Konferensi Khilafah Internasional di GBK, Jakarta.
KKI 2007 ini menggetarkan singgasana penguasa, baik Muslim maupun non-Muslim di seluruh dunia. Tak lama, berselang, pernyataan dari berbagai pemimpin dunia muncul. Setelah itu, NIC mengeluarkan Prediksi akan kembalinya Khilafah tahun 2020. Pendek kata, ancaman Khilafah, sejak saat itu dianggap sebagai ancaman serius.
Arab Spring yang terjadi sejak 2011, yang menjalar di beberapa wilayah Timur Tengah, diikuti dengan Revolusi di Suriah, berhasil dimanfaatkan oleh Barat untuk menciptakan ISIS. Dimulai dari Irak, kemudian bermutasi di Suriah, ISIS yang sebenarnya fabricated itu dipakai untuk menciptakan monster tentang Khilafah. Terbukti, ISIS sudah tidak ada, tetapi hantu “Khilafah ISIS” terus digunakan untuk menakut-nakuti kaum Muslim tentang Khilafah. Padahal, hampir semua umat Islam tahu, bahwa ISIS bukan Khilafah, dan Khilafah bukan ISIS.
Khilafah sebenarnya sudah menjadi bagian dari Islam, dan sejarah umat Islam. Sejak Khilafah runtuh, 3 Maret 1924, memang umat Islam nyaris melupakannya. Karena Barat telah berhasil mensihir umat Islam dengan mantra “Nation State”, “Negara Demokrasi”, dan sebagainya. Sebaliknya, Khilafah distempel dengan stempel negatif, “The Sick Man”, dan sebagainya.
Tetapi, setelah berbagai krisis yang menimpa dunia Islam, dan dakwah Khilafah yang dilakukan siang malam, akhirnya Allah menyampaikan urusan-Nya, sampai pada tahapan seperti saat ini. Ketika semua orang, mulai dari pejabat hingga rakyat jelata, fasih bicara Khilafah, baik dengan konotasi positif maupun negatif. Para pengembannya pun tak hanya dari satu kelompok, sebut saja, Hizbut Tahrir, tetapi nyaris semua kelompok.
Meminjam istilah Ustadz Budi Azhari, “Ini memang sudah zamannya.” Siapa yang menyampaikan urusan ini sampai pada tahapan seperti ini? Bukan Hizbut Tahrir, tetapi Allah. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Sesungguhnya Allah Maha Menyampaikan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menjadikan setiap sesuatu memiliki kadar ukurannya.” [Q.s. at-Thalaq: 03]
Ketika Khilafah telah menjadi opini umum di tengah umat, diikuti dengan kesadaran umum, yang ditandai dengan kesadaran akan kembalinya Fase Kelima, “Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah”, setelah Fase Keempat, “Mulkan Jabariyyan”, yang telah tumbuh di tengah umat Islam, khususnya di kalangan terdidik, dan perkotaan, sebagai pusat perubahan, maka inilah yang menciptakan ketakutan luar biasa.
Bukti kesadaran itu diikuti dengan maraknya semangat keberislaman, dan hijrah, yang diikuti dengan perubahan gaya hidup, seperti gerakan anti riba, anti pacaran, dan sebagainya. Semuanya ini jelas telah mengancam kepentingan kaum Kapitalis dan Komunis. Bahkan, ancaman itu semakin nyata, ketika umat Islam berhasil melakukan konsolidasi dalam acara 212, yang diikuti dengan Reuni 212, baik Reuni 1 maupun 2.
Dari sini, kita paham, siapa yang sesungguhnya terancam? Jelas Oligarki, atau negara penjajah, baik asing maupun aseng, yang ada di balik kekuasaan. Bagi Oligarki, Islam dan umatnya jelas merupakan “batu karang”, yang bisa menghancurkan kapal kekuasaan mereka. Karena itu, umat Islam harus dijadikan “tempe”, agar tidak mengancam kepentingan mereka.
Proyek Radikalisme dan Pertempean
Jelas ke mana arah Proyek Radikalisme ini. Proyek ini merupakan “Proyek Pertempean” umat Islam. Dengan kata lain, dengan Proyek Radikalisme ini, umat Islam yang menjadi batu karang ini hendak dijadikan tempe, agar tidak bisa menjadi penghalang yang akan mengancam kepentingan mereka untuk menguasai negeri ini. Tetapi, pertanyaannya, apakah mereka akan berhasil?
Sejarah membuktikan, bahwa serangan sedahsyat apapun tak akan bisa mengalahkan umat Islam, yang mempunyai akidah Islam yang luar biasa dahsyat. Bagaimana penduduk Syam, seperti Suriah, yang dibantai dari berbagai penjuru, hingga kini masih bisa bertahan. Penduduk Palestina, juga sama, bahkan selama puluhan tahun hidup di bawah pendudukan Yahudi, tetap tak bisa ditundukkan. Sejarah Indonesia, yang dijajah Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang hingga 350 tahun tetap tidak bisa ditundukkan.
Semua ini karena umat Islam mempunyai akidah Islam. Andai bukan umat Islam, pasti mereka sudah punah. Sejarah ini bukan sekali dua kali. Lihat, bagaimana pembantaian kaum Kristen Spanyol terhadap umat Islam di sana, begitu juga kejahatan rezim Komunis Uni Soviet terhadap umat Islam di wilayahnya. Semuanya tak bisa membumihanguskan Islam dan umatnya. Lihatlah, ketika Tatar membantai 1,5 juta jiwa di Baghdad, karena pengkhianatan Wazir al-Qumi, penganut Syiah fanatik, dan 35 tahun mereka menguasai umat Islam, nyatanya tak mampu mengalahkan umat Nabi Muhammad. Justru Tatarlah yang kemudian berbondong-bondong masuk Islam.
Itulah sejarah Islam dan umatnya. Karena itu, proyek-proyek seperti ini tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam dan umatnya. Paling-paling hanya bisa memengulur-ulur waktu, memberikan nafas kepada mereka, yang sudah kehabisan nafas, untuk bisa mengulur waktu. Sementara Islam dan umatnya tetap tak terkalahkan. Begitu juga pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh segelintir umat Islam tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam dan umatnya. Begitulah sejarah Islam dan umatnya ini terjadi di masa lalu, kini dan yang akan datang.
Semuanya itu, karena Islam dijaga oleh Allah. Allah menjaga Islam dengan melahirkan generasi khaira ummah, generasi kesatria, yang luar biasa. Generasi ini selalu ada dalam sepanjang sejarah. Meski kelahirannya tidak dengan sendirinya, tetapi harus dilahirkan. Tetapi, mereka selalu ada dalam setiap sejarah kebangkitan, kemenangan dan kejayaan Islam.
Jika generasi Shalahuddin al-Ayyubi lahir dari Madrasah Nidzamiyah yang dibangun oleh Hujatu al-Islam al-Imam al-Ghazali, kemudian diteruskan oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, maka begitu juga generasi Muhammad al-Fatih lahir dari Madrasah ‘Aq Syamsudin dan Ahmad al-Qurani.
Dari sini kita paham, mengapa Proyek Deradikalisasi, yang tak lain adalah Proyek Sekularisasi Radikal, atau Proyek Pertempean, itu diikuti dengan Kriminalisasi Ulama’? Karena, ulama’ adalah mesin yang akan menggerakkan, dan mencetak generasi-generasi Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih berikutnya.
Mereka bukan ulama’ biasa, tetapi ulama’ Rabbani. Ulama’ yang mempunyai kesadaran politik, karena tanggungjawabnya kepada Allah, Rasul dan kaum Mukmin.
Ya Rabb, lindungilah agama-Mu!
Ya Rabb, jaga dan lindungilah para ulama’ pewaris Nabi-Mu!
Ya Rabb, selamatkanlah umat Nabi-Mu!
Hanya Engkau yang Kami Punya!
Hanya kepada-Mu, tempat kami berserah diri!

Related image

Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Teguran berakhir tragis. Seorang guru di Manado ditikam muridnya lantaran si murid tak terima ditegur merokok oleh sang guru. Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus tersebut, akhirnya tewas di tangan murid sendiri. Peristiwa yang kembali mencoreng wajah pendidikan.
.
Di tahun 2018, kejadian serupa juga terjadi pada seorang guru SMA Sampang. Ahmad Budi Cahyono meninggal setelah dianiaya muridnya. Berawal dari teguran sang guru karena si murid tak menghiraukan pelajaran sepanjang kelas berlangsung. Terjadilah perdebatan antarkeduanya, hingga sang guru mengalami penganiayaan dan berujung pada kematian.
.
Kasus semacam ini bukanlah hal baru. Potret buram pendidikan dengan berbagai macam kasusnya menoreh duka panjang dunia pendidikan. Generasi tak lagi berkarakter mulia. Moralnya rusak dan bejat.
.
Bagaimana nasib bangsa bila generasi masa depan sudah luluh lantak diterjang pola pikir dan pola sikap yang jauh dari agama?
Revolusi mental yang digagas pemerintah faktanya tak mampu membendung kerusakan yang sudah mengakar. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi seorang Nadiem Makarim selaku Mendikbud.
Dalam menjawab tantangan itu, ia mengungkap program-program prioritas miliknya selama menjabat sebagai menteri. Pertama, melakukan penyisiran anggaran dan aktivitas mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT). Kedua, memeriksa struktur kelembagaan untuk mendukung pembelajaran siswa. Ketiga, menggerakkan program revolusi mental milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui suatu konten pembelajaran. Keempat, pengembangan teknologi.
Mengenai anggaran pendidikan, meski terbesar di APBN 2019 yakni 20% dari belanja APBN, pendidikan layak belum merata ke semua rakyat. Masih saja ada kondisi miris terkait bangunan sekolah rusak, gaji guru honorer yang minim, serta fasilitas pendidikan yang sangat terbatas.
Dari sisi sarana dan prasarana, pemerintah belum menyamaratakan pemberian itu ke semua sekolah. Tak heran bila sistem zonasi yang diterapkan menuai banyak polemik di masyarakat.
Adapun tentang revolusi mental, efektivitasnya dalam membangun generasi berkarakter dan berakhlak mulia masih diragukan. Revolusi mental yang digagas Jokowi belum mampu menyelamatkan generasi dari seks bebas, narkoba, kekerasan, tawuran, aborsi, perundungan, hingga nilai kejujuran. Revolusi mental tak ubahnya jargon kosong yang tak bermakna.
.
Jika memang mau merevolusi mental generasi, harusnya diketahui sumber masalah kerusakan generasi. Setelah mengkaji dan mengetahui sumber masalahnya, barulah memberi solusi yang mampu mengobati dan menyelamatkan mereka dari virus yang merusak akal dan jiwanya.
.
Terkait pengembangan teknologi, tak dipungkiri generasi hari ini sedang tumbuh di masa teknologi canggih. “Ajarilah anakmu sesuai dengan zamannya,” begitu sabda Nabi.
Mengenalkan dan mengajarkan anak-anak tentang sains dan teknologi itu penting. Agar mereka semakin bertambah wawasan dan ilmunya. Sehingga mereka bisa berlaku bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.
Diharapkan teknologi yang ada tepat sasaran dan penggunaannya. Yaitu bermanfaat demi kemaslahatan manusia. Bukan malah sebaliknya di mana tak jarang kita jumpai teknologi banyak disalahgunakan. Bahkan, menimbulkan kecanduan semisal game online, konten YouTube unfaedah, hingga akses video porno.
// Pendidikan Sekuler Mengancam Generasi //
Harus diakui bahwa problem pendidikan yang terus saja bermunculan tak lepas dari akar masalah yang melingkupinya. Masalah karakter dan moral masih menjadi PR besar. Sistem sekuler menafikan peran Tuhan dalam kehidupan. Generasi semakin jauh dari nilai Islam.
Mereka justru lebih dekat dengan nilai liberal dan kental dengan nilai-nilai Barat. Buah dari kehidupan sekuler liberal yang dijalankan. Generasi kehilangan jati diri hakikinya sebagai hamba. Mereka tak lagi memiliki visi misi mulia di dunia. Kesenangan dunia seolah menjadi prioritas kehidupan.
Sistem pendidikan berbasis sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia bebas nilai dan manusia sekuler tanpa fondasi. Sistem ini juga hanya mengajarkan arti kebahagiaan sebatas nilai materi. Alhasil, lahirlah generasi tanpa iman dan krisis moral.
Sekolah hanya untuk mengejar ijazah, kedudukan, dan materi berlimpah. Generasi dididik hanya untuk mengejar target pasar. Hal ini sesuai titah Jokowi kepada Mendikbud, yakni menyiapkan SDM siap kerja tanpa berfokus pada perbaikan karakter generasi.
// Pendidikan Mau Dibawa ke Mana? //
Meluruskan mindset pendidikan sangatlah penting, sebab dari sanalah kerangka berpikir itu lahir. Ketika mindset ini salah, maka berakibat pada kesalahan merencanakan program pendidikan. Begitu pula dengan tujuan pendidikan. Merumuskan tujuan pendidikan akan menjadi peta jalan apa dan mau dibawa ke mana pendidikan kita.
Tatkala mindset pendidikan kita berpijak pada kapitalisme, maka kerangka yang lahir dari mindset ini adalah bagaimana menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang menguntungkan dan memiliki nilai manfaat lebih.
Saat rumusan tujuan pendidikan menyandarkannya pada basis sekularisme, maka kurikulum yang dibuat juga akan mengacu pada akidah sekuler. Dalam sekularisme, agama tak diberi ruang untuk terlibat jauh dalam kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan.
Kalaupun ruang itu diberi, hanya sebagai pelengkap saja. Agama hanya diajarkan sebatas ibadah mahdhoh saja. Tidak lebih dari itu. Itu pun juga tidak banyak berpengaruh pada revolusi mental yang dibangga-banggakan rezim Jokowi.
Oleh karena itu, bila ingin memermak total wajah pendidikan hari ini, maka itu bergantung pada perubahan mindset dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Jika mindset pendidikan dilandasi pemikiran kapitalis, maka pendidikan tak ubahnya ladang bisnis untuk mengejar profit. Jika tujuan pendidikan hanya berkutat pada mencetak SDM siap kerja, maka kita tidak sedang menyiapkan generasi pembangun peradaban, tapi hanya generasi ‘buruh’ yang siap bekerja memenuhi pasar industri ala kapitalis.
Maka dari itu, perlu ada revolusi pendidikan secara sistemis. Bukan sekadar permak atau perbaikan masalah yang sifatnya cabang.
// Revolusi Pendidikan dengan Islam //
M. Ismail Yusanto dalam bukunya berjudul Menggagas Sistem Pendidikan Islam menuliskan bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia; sebelum dunia dan kehidupan setelahnya; serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam.
Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullahdan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya akidah Islam.
Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Menjamurnya lembaga pendidikan Islam di tengah arus sekuler liberal, mengindikasikan bahwa pendidikan berasas sekuler tak mampu memberi penyelesaian atas persoalan pendidikan. Generasi makin merosot moralnya dan makin terkikis karakternya, bahkan hilang jati dirinya sebagai hamba.
Di masa Khilafah Islam telah banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Tak hanya unggul dalam ilmu saintek, mereka pun sukses menjadi ulama yang faqih fiddin. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena Islam dijadikan asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan.
Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.
Masjid saat itu menjadi pusat keilmuan dan kegiatan belajar mengajar. Bermunculan para ulama sekaligus ilmuwan yang terintegrasi ilmu eksak dan agama.
.
Sebutlah Imam Syafi’i. Tak hanya ahli ushul fikih, beliau juga fakih dalam ilmu astronomi. Ada pula Ibnu Khaldun, bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau pun hafal Alquran sejak usia dini. Tak hanya ekonomi, beliau juga ahli dalam ilmu politik. Lalu ada Ibnu Sina, sang bapak kedokteran sekaligus ahli filsafat, Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia, Ibnu al-Nafis bapak fisiologi peredaran darah, dan masih banyak lainnya.
Ilmuwan-ilmuwan itu tak hanya cakap dalam sains namun juga berperan sebagai ulama besar. Ilmu dunia dan akhirat berpadu demi kemaslahatan hidup manusia. Begitulah kecemerlangan Islam saat diterapkan.
Maka dari itu, bila ingin mengembalikan generasi emas kejayaan Islam di masa lalu, maka mau tidak mau harus mengadopsi sistem yang diterapkan kala itu. Sistem pendidikan Islam telah membuktikan generasi unggul tidak lahir dari sekularisme. Generasi unggul hanya lahir dari sistem yang berlandaskan akidah Islam.
Fakta membuktikan bahwa pendidikan di bawah asuhan kapitalisme dan sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia minus nurani. Revolusi mental hanya akan terwujud nyata tatkala Islam menjadi aturan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Paket lengkap itu hanya bisa diterapkan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam. []

Image result for fakta khilafah

Oleh: Arief B. Iskandar

Tidak dipungkiri (kecuali oleh mereka yang percaya ilusi), saat wafat, salah satu ‘harta ber-harga’ yang diwariskan Baginda Rasulullah saw. kepada umat ini adalah Daulah Islam (Negara Islam)., yang kemudian dikenal dengan Khilafah Islam. Dalam Negara Islamlah, penerapan Islam betul-betul nyata, dan Islam berkembang pesat sekaligus menguasai seluruh jazirah Arab. Negara semacam inilah yang kemudian diwarisi Khalifah Abu Bakar ra., sesaat setelah Baginda Nabi saw. wafat. Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ra, Islam semakin menyebar ke luar jazirah Arab.
Setelah Abu Bakar ra. wafat, Umar bin al-Khaththab ra. diangkat menjadi khalifah. Pada masanya, Kota Damaskus (Syria) berhasil dikuasai. Pasukan Muslim berhasil menembus benteng Aleppo. Kaisar Herak-lius terpaksa mundur ke Konstantinopel meninggalkan seluruh wilayah Syria yang telah lima abad dikuasai Romawi.
Penguasa Yerusalem juga menyerah. Khalifah Umar ra. lalu berangkat ke Yerusalem. Kaum Gereja Syria dan Gereja Koptik-Mesir bahkan begitu mengharapkan kedatangan Islam. Sebab, semasa kekuasaan Romawi mereka sangat tertindas.
Islam segera menyebar dengan cepat ke arah Memphis (Kairo), Iskandariah hingga Tripoli. Ke wilayah Timur, pasukan Muslim juga merebut Ctesiphon, pusat Ke-rajaan Persia pada 637 Masehi. Dari Persia, Islam menyebar ke wilayah Asia Tengah; mulai Turkmenistan, Azerbaijan bahkan ke timur ke wilayah Afganistan sekarang.
Tibalah Utsman bin Affan ra. diangkat sebagai khalifah berikutnya setelah Umar ra. wafat. Untuk pertama kalinya, Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sufyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengem-bangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopel pun sempat dikepung.
Berikutnya, penerus Khalifah Utsman ra., adalah Khilafah Ali bin Abi Thalib ra. Pada masanya, meski sempat dilanda ‘krisis politik’, Islam dan kekuasaannya semakin mantap.
*Kekhilafahan Umayah (661-750 M)*
Pada masa Muawiyah, kekuasaan melebar ke Barat hingga Tunisia yang berada di seberang Italia. Di Timur, wilayah kekuasaan telah menjangkau seluruh tanah Afganistan sekarang. Wilayah Asia Tengah seperti Bukhara, Khawarizm, Ferghana hingga Samarkand mereka kuasai. Pasukan Umayah bahkan menjangkau wilayah Sind dan Punyab di India dan Pakistan.
Dengan rentang wilayah kekuasaan yang sangat luas pada abad ke-8 M tersebut, saat itu Kekhilafahan Islam merupakan kekuasaan yang paling besar di dunia, mengalahkan kekuasaan besar lainnya, yakni Dinasti Tang di wilayah Cina dan Kerajaan Romawi yang berpusat di Kons-tantinopel.
Pada masa ini pula, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720) berhasil mensejahterakan seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Saat itu, tidak ada seorang pun yang mau menerima pembagian harta zakat.
*Daulah Abbasiyah (750-1258 M)*
Pada masa ini, Baghdad dibangun sebagai pusat peradaban. Sains dan teknologi berkembang pesat. Kemak-muran masyarakat terwujud pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785). Program irigasi berhasil meningkatkan produksi pertanian berlipat kali. Jalur perdagangan dari Asia Tengah dan Timur hingga Eropa melalui wilayah Kekhalifahan Abbasiyah berjalan pesat. Pertambangan emas, perak, besi dan tembaga berjalan dengan baik. Basrah di Teluk Persia tumbuh menjadi satu pelabuhan terpenting di dunia.
Puncak peradaban Islam terjadi pada masa Harun ar-Rasyid (786-809 M). Bukan hanya kemakmuran masyarakat yang di-capai, namun juga pendidikan, kebu-dayaan, sastra dan lain-lain.
Masa keemasan ini dilanjutkan oleh Al-Ma’mun (813-833). Dia mendirikan ba-nyak sekolah. Ia mendirikan pula “Bait Al-Hikmah”, perpustakaan sekaligus pergu-ruan tinggi. Hingga Khalifah al-Mutawakkil (847-861).
Pada awal masa Bani Buwaih (945-1055), kemakmuran kembali berkembang di wilayah Kekhalifahan Abbasiyah. Banyak intelektual bermunculan, sebagian besar-nya bahkan menjadi rujukan di Barat sampai Abad 19.
Pada tahun 1065 dibangun Universitas Nizhamiyah di Baghdad. Inilah yang disebut model pertama universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang universitas ini. Pengetahuan berkembang sangat pesat. Banyak intelektual lahir pada masa ini.
Secuil kisah sukses Negara Islam atau Khilafah Islam itu benar-benar nyata, bukan ilusi, kecuali bagi mereka yang buta sejarah, atau mungkin buta mata hatinya.
WalLâhu a’lam bi ash-Shawâb. []
loading...
Powered by Blogger.