Ucapan syukur kepada Allah terucap dari lisan juru dakwah Syekh Ali Jaber karena Allah masih menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan.

"Alhamdulillah, Allah selamatkan saya dari pembunuhan. Allah takdirkan saya mengangkat tangan diposisi depan leher dan dada," ujarnya melalui akun Official You Tube Channel Syekh Ali Jaber, Ahad (13/09/2020).

Beliau bercerita tiba-tiba diserang dan ditusuk orang tak dikenal menggunakan pisau di bahu kanannya. "Luka tusuk di bahu kanan cukup dalam karena pisau yang dipergunakan untuk menusuk masuk hingga separuh ke bahu. Saya sendiri yang melepaskan pisau yang sudah patah itu," terangnya.

Ia berharap agar negeri ini tetap menjaga nikmat keamanan dan kesejahteraan. "Kita bersatu untuk memperjuangkan Alquran di negeri kita Indonesia tercinta ini" pungkasnya.[]



Khalifah berarti pengganti Rasulullah SAW dalam kepemimpinan umat Islam. Khalifah dibai'at untuk menjalankan syariat Islam, menjalankan hukum-hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Dia adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia yang fungsinya adalah menjalankan hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru alam. Wilayah kewenangan khalifah disebut kekhalifahan atau Khilafah. Khalifah disebut juga Amirul Mukminin atau pemimpin orang-orang yang beriman.


Khalifah mewakili umat dalam kekuasaan dan pelaksanaan syara’. Setiap muslim yang baligh, berakal, baik laki-laki maupun wanita berhak memilih Khalifah dan membai’atnya. Sedangkan orang-orang non-muslim tidak memiliki hak pilih. Pengangkatan Khalifah sebagai kepala negara, dianggap sah jika memenuhi tujuh syarat, yaitu laki-laki, muslim, merdeka, baligh, berakal, adil dan memiliki kemampuan.

Apabila jabatan Khalifah kosong, karena meninggal atau mengundurkan diri atau diberhentikan, maka wajib hukumnya mengangkat seorang pengganti sebagai Khalifah, dalam tempo tiga hari dengan dua malamnya sejak kosongnya jabatan Khilafah. Diangkat amir sementara untuk menangani urusan kaum Muslim dan melaksanakan proses pengangkatan Khalifah yang baru setelah kosongnya jabatan Khilafah sebagai berikut:

a. Khalifah sebelumnya, ketika merasa ajalnya sudah dekat atau bertekad untuk mengundurkan diri, ia memiliki hak menunjuk amir sementara.

b. Jika Khalifah meninggal dunia atau diberhentikan sebelum ditetapkan amir sementara, atau kosongnya jabatan Khilafah bukan karena meninggal atau diberhentikan, maka Mu’awin Tafwidl yang paling tua usianya menjadi amir sementara, kecuali jika ia ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah, maka yang menjabat amir sementara adalah Mu’awin Tafwidl yang lebih muda, dan seterusnya.

c. Jika semua Mu’awin Tafwidl ingin mencalonkan diri maka Mu’awin Tanfizh yang paling tua menjadi amir sementara, jika ia ingin mencalonkan diri maka yang lebih muda berikutnya, dan demikian seterusnya.

d. Jika semua Mu’awin Tanfizh ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah maka amir sementara dibatasi pada Mu’awin Tanfizh yang paling muda.

e. Amir sementara tidak memiliki wewenang melegislasi hukum.

f. Amir sementara diberikan keleluasaan untuk melaksanakan secara sempurna proses pengangkatan Khalifah yang baru dalam tempo tiga hari. Tidak boleh diperpanjang waktunya kecuali karena sebab yang memaksa atas persetujuan Mahkamah Mazhalim.

Metode untuk mengangkat Khalifah adalah baiat. Adapun tata cara praktis untuk mengangkat dan membai'at Khalifah adalah sebagai berikut :

a. Mahkamah Mazhalim mengumumkan kosongnya jabatan Khilafah

b. Amir sementara melaksanakan tugasnya dan mengumumkan dibukanya pintu pencalonan seketika itu.

c. Penerimaan pencalonan para calon yang memenuhi syarat-syarat in’iqad dan penolakan pencalonan mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat in’iqad ditetapkan oleh Mahkamah Mazhalim.

d. Para calon yang pencalonannya diterima oleh Mahkamah Mazhalim dilakukan pembatasan oleh anggota-anggota Majelis Ummah yang muslim dalam dua kali pembatasan. Pertama, dipilih enam orang dari para calon menurut suara terbanyak. Kedua, dipilih dua orang dari enam calon itu dengan suara terbanyak.

e. Nama kedua calon terpilih diumumkan. Kaum Muslim diminta untuk memillih satu dari keduanya.

f. Hasil pemilihan diumumkan dan kaum Muslim diberitahu siapa calon yang mendapat suara lebih banyak.

g. Kaum Muslim langsung membaiat calon yang mendapat suara terbanyak sebagai Khalifah bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kitabullah dan sunah rasul-Nya.

h. Setelah proses bai'at selesai, Khalifah kaum Muslimin diumumkan ke seluruh penjuru sehingga sampai kepada umat seluruhnya. Pengumuman itu disertai penyebutan nama Khalifah dan bahwa ia memenuhi sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk menjabat Khilafah.

i. Setelah proses pengangkatan Khalifah yang baru selesai, masa jabatan amir sementara berakhir.

Setelah terpilih seorang Khalifah, selanjutnya ia dibai'at dengan mengucapkan kalimat sebagai berikut: “Kami angkat engkau menjadi khalifah 
untuk menjalankan syariat Allah dan Rasul-Nya, dan kami akan taat kepada perintahmu selama engkau menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya."

Setelah khalifah terpilih diambil sumpahnya, selanjutnya ia dipersilahkan menyampaikan khotbah perdananya seperti yang dilakukan Khalifah Abu Bakar Shidiq sebagai berikut :

Para hadirin sekalian, sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pemimpin atas kalian padahal aku bukanlah yang terbaik. Maka jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku. Jika aku bertindak keliru, luruskanlah aku.

Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku, hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya barang siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. 

Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka kehinaan. Tidaklah suatu kekejian tersebar di suatu kaum kecuali azab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika aku tidak mematuhi keduanya maka kalian tidak ada kewajiban taat terhadapku.

Berangkat dari sikap seperti itulah sayogyanya seorang khalifah memulai menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agama dan pemimpin bangsa dan negara. Sehingga dengan demikian kepemimpinannya layak untuk diikuti rakyat.[]


Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Referensi:

1. Taqiyuddin an-Nabhani, "Nizham al-Islam," 2006.

2. Buku Fiqih Madrasah Aliyah Kelas 12, Kementrian Agama Republik Indonesia 2016



Penganiayaan terhadap ulama kembali terjadi. Peristiwa ini merupakan duka bagi muslim tanah air, bahkan juga dunia islam. Apalagi penganiayaan disaksikan para jamaah dalam sebuah majelis ilmu. 


Ya, Syeh Ali Jaber dianiaya saat memberikan ceramah di Lampung. Pelaku penusukan seorang pria berusia 24 tahun yang tinggal tak jauh dari tempat acara. Akibatnya Syeh mendapatkan luka cukup dalam pada lengan sebelah kanan. Saat ini pelaku juga sudah diamankan pihak kepolisian Daerah Lampung (www.detiknews.com,14/9/2020).

Penganiayaan terhadap ulama bukan kali ini saja terjadi. Pada bulan Juli lalu kejadian serupa juga menimpa imam masjid di Pekanbaru, Riau. Imam tersebut ditusuk seorang pria usai memimpin salat isya. Pelaku sudah kenal dengan korban. Pelaku sering berkonsultasi pada korban, hanya saja hasil konsultasi tidak memuaskan.  Pelaku pun merasa kecewa hingga tega menganiaya korban (www.detiknews.com, 24/7/2020).

Hilangnya rasa aman di negeri ini

Kedua peristiwa pilu diatas terjadi di lingkungan tempat beribadah. Kita pasti menganggap bahwa rumah ibadah akan aman dari kejahatan manusia. Kita tahu bahwa masjid adalah rumah Allah, tempat muslim bermunajat padaNya. Pelaku setidaknya akan malu pada Allah karena berbuat dosa di rumahNya. Tapi faktanya tidak demikian. Bahkan,  SAJ dianiaya didepan para jamaah majelis ilmu. Sebuah majelis  yang dimuliakan oleh Allah. Tapi para pelaku dengan keji melakukan aksinya. Hal ini menandakan bahwa tak ada tempat yang aman dari kejahatan dinegeri ini. 

Lalu dimanakah tempat yang aman di negeri ini? Kenapa para pelaku kejahatan tak ada rasa takut dan malu berbuat aniaya. Bahkan dalam rumah ibadah sekalipun? Pertanyaan tersebut bisa kita uraikan dalam berbagai ulasan berikut :

Pertama, paham seluler telah mengikis nilai-nilai spiritual masyarakat. Paham seluler merupakan pemisahan agama dari kehidupan. Sebuah paham yang tak melibatkan keberadaan pencipta dalam segenap tingkah laku. Penganut paham ini tak akan merasa ada yang mengawasi perbuatannya. Keberadaan Allah dikesampingkan dari kehidupan. Mereka bebas melakukan perbuatan, tanpa mengkaji bahwa segalanya akan ada balasannya. Maka jangan heran, saat ini banyak lahir manusia yang jauh dari nilai-nilai spiritual. 

Kedua, hilangnya wibawa aparat keamanan dimata pelaku kejahatan. Walaupun tak semua aparat yang terbukti melanggar hukum, tapi banyak kejadian membuktikan bahwa aparat keamanan bisa diatur. Penegakan hukuman yang tak tegas pada  pelaku kejahatan menjadi saksi bahwa penegakan hukum bisa diakali. Jika pelaku kejahatan dan penegak hukum sudah berkompromi, bagaimana bisa penegakan hukum akan adil?.

Ketiga, sistem saksi  yang tak berikan efek jera. Keluar masuk penjara jadi hal yang biasa bagi para residivis. Tak ada yang mereka takutkan dari ruangan besi bernama penjara. Jangan heran keluar penjara, pelaku kejahatan akan kembali melakukan aksinya. Toh dalam penjara mereka dapat makan dan tidur gratis.

Dari ketiga uraian diatas, tak dipungkiri tak akan ada tempat yang aman jika ketiga hal diatas masih berjalan dinegeri ini.

Islam ciptakan rasa aman bagi rakyatnya 
Keamanan dalam islam merupakan kewajiban negara untuk mewujudkannya. Rasa aman akan muncul jika tak ada ancaman terhadap jiwa, psikis, fisik, harta dan kehormatan. Keamanan akan terwujud jika tidak muncul keinginan pada diri orang untuk melakukan kejahatan berkat tertanamnya keimanan dan ketakwaan pada dirinya. 

Berikut strategi islam ciptakan rasa aman bagi umatnya : 

Pertama,  islam mewajibkan negara agar secara sistematis mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan rakyat. Hal itu bisa ditempuh melalui sistem pendidikan formal maupun non formal pada semua jenjang, level, usia dan kalangan. 

Diantaranya menanamkan pemahaman bahwa seorang muslim wajib memberi rasa aman kepada orang lain. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar _radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 

"Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,

و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم

“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”

Kedua, seorang muslim juga haram mengacungkan senjata kepada sesama muslim, dan dilarang membawa senjata ke tengah-tengah pasar dan kerumunan orang. 

Dari Abu Hurairah _radhiyallahu ‘anhu_, ia berkata bahwa Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda,

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ

“Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim)

Ketiga, untuk mencegah terjadinya kejahatan dan kemungkaran, Islam mewajibkan masyarakat untuk saling menasehati dan melakukan amar ma'ruf nahi munkar sesama mereka. Dan negara wajib menjamin atmosfer yang positif untuk itu. 

Dengan penerapan syariah Islam dalam semua sendi kehidupan, maka peluang terjadinya kejahatan akan minim terjadi. Jika pun ada orang yang melakukan kejahatan, maka sanksi dan pidana Islam yang diterapkan akan membuat pelakunya kapok dan orang lain tidak berani melakukan kejahatan. 

Penerapan sanksi dan hukuman itu akan efektif menjadi benteng terakhir yang bisa mencegah dan mengikis terjadinya tindak kejahatan. Pada akhirnya keselamatan dan rasa aman bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_"Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 179)

Demikianlah strategi islam dalam menciptakan rasa aman bagi umatnya. Sudah jelas bahwa islam agama yang lurus, dengannya umat akan aman, damai dan sejahtera. Wallahu alam bissowab.

Oleh: Yudia Falentina



Penusukan Syekh Ali Jaber


Penyerangan kepada ulama kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah ulama dan pendakwah yang bernama Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber. Ulama kelahiran Madinah ini mendapat tusukan dibagian lengan kanan atas pada saat acara Wisuda Hafidz Alquran di halaman Masjid Falahuddin, Jalan Tamin, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Ahad (13/9) petang.

Saat itu ia sedang berkomunikasi dengan salah satu santri dan wali santri. Tiba-tiba seorang pemuda naik ke panggung melakukan penyerangan dengan melayangkan tusukan pada syekh Ali Jaber hingga mengalami luka di tangannya.

Penyerangan pada ulama, kyai, atau ustaz tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya juga banyak terjadi. Seperti misalnya yang menimpa pengurus PERSIS ustaz Prawoto hingga mengakibatkan korban meninggal dunia. 

Pelaku disebut mengalami gangguan jiwa?

Pada kasus yang menimpa syekh Ali Jaber, pelaku merupakan seorang pemuda usia 24 tahun yang rumahnya tidak jauh dari masjid. Setelah kejadian penusukan ini, pihak aparat masih mendalami apakah pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak. Hanya saja kalangan warganet justru ramai membahas foto diduga pelaku. Banyak warganet mewanti-wanti jangan sampai jika korbannya ulama, pelaku langsung dianggap gila. 

Kasus akan menjadi janggal, apabila pelaku dianggap gila. Karena kejadian ini akan menimbulkan pertanyaan pada khalayak. Mengapa bila terjadi penyerangan terhadap seorang ustadz atau ulama pelakunya seringkali dianggap gila? Apakah orang gila dapat memilih korbannya untuk dijadikan sasaran? Hal ini harus mendapatkan perhatian yang serius karena meresahkan umat Islam, khususnya dan masyarakat secara luas pada umumnya.

Akibat yang dapat terjadi apabila tidak tuntas meyelesaikan kasus. Kezaliman bisa saja terjadi apabila kasus semacam ini terus-menerus berulang dan dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat. Pihak terkait harus mengusut tuntas setiap kejadian kriminal semacam ini agar tidak menimbulkan prasangka negatif dari masyarakat.

Penguasa selaku pimpinan tertinggi juga harus memberikan perhatian lebih pada kasus-kasus yang terjadi. Dikarenakan kasus semacam ini tidak terjadi sekali saja. Sebagai pihak yang bertanggungjawab melindungi setiap warganya penguasa harus mengambil sikap preventif maupun penyelesaian kasus melalui lembaga terkait hingga tuntas dengan kebijakan yang win-win solution.

Seharusnya pemerintah mampu memberikan rasa aman kepada rakyatnya, apalagi kepada para ulama. Anehnya mengapa banyak ulama yang diteror hingga meninggal? Sekalipun ada yang berhasil menangkis serangan teroris tersebut, mereka berhasil melukai ulama.

Hal ini telah mengkonfirmasi bahwa negeri ini gagal memberikan perlindungan pada ulama dan umat Islam. Lebih-lebih umat Islam dan ajarannya juga banyak yang dinista. Inilah akibat jika negeri ini menerapkan sistem aturan sekuler, yang bertentangan dengan Islam. Wajar saja jika banyak para penista dan peneror umat Islam bebas berkeliaran dan tak ada hukum yang tegas yang mampu mengadili mereka.

Di sini peran penguasa itu dibutuhkan, rakyat untuk mendapatkan keadilan.  Agar tidak dinilai berlaku tidak adil atau bersikap abai terhadap masalah yang dihadapi rakyatnya maka penguasa harus hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Keadilan hanya bisa ditegakkan jika diterapkan syariah Islam, karena jika sistem masih sekuler, umat Islam tak akan mendapat keadilan.

Pertanggungjawaban penguasa
Dari Ibn Umar ra. Dari Nabi saw, beliau bersabda : 

… رَعيّتِهِ عَنْ مَسْئُوْلٌ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ كُلُّكُمْ ..
“ Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis diatas jelas bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Di berbagai tingkat kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang ada dikepemimpinannya. Kepemimpinan dilevel RT misalnya, akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Begitu juga tak terkecuali kepemimpinan level Negara. Akan dimintai pertanggungjawaban kelak diakhirat atas apa yang ada didalam kekuasaannya.

Oleh sebab itu, maka sebagai pemimpin harus betul-betul memperhatikan apa yang ada didalam wilayah kekuasaannya agar selamat dari azab dari Allah SWT yang amat pedih. Ada ancaman bagi pemimpin-pemimpin yang zalim. Seperti pada hadis berikut :

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu juga ada hadist yang lain tentang pemimpin yang dicintai oleh Allah SWT dan yang dibenci oleh Allah SWT pada hari kiamat.

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Disisi lain, umat muslim juga tidak boleh membiarkan kemaksiyatan terjadi. Maka umat Islam akan didorong oleh sikap yang timbul dari aqidah Islam yang diyakininya untuk berbuat amar ma’ruf nahi munkar. Diantaranya menasehati penguasa sesuai hadist berikut :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya untuk saling menasehati dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Oleh karena itu dengarkan nasehat dari saudaramu jangan menutup telinga dan hati dari kebenaran. Semoga cahaya hidayah diberikan kepada pemegang kekuasaan setiap lini di negeri ini agar selalu dapat bersikap adil. Aamiin.[]

Oleh: Enggo Transinus



Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mengecam aksi penusukan terhadap Syekh Ali Jaber yang mengakibatkan luka di tubuhnya. Syekh Ali Jaber mengalami penusukan saat memimpin pengajian di Masjid Fallahuddin, Lampung, Minggu 13 September 2020.

“Peristiwa ini sungguh mengagetkan dan patut dikecam. Tindakan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama, dan kejahatan berencana terhadap agama dan keberagamaan,” kata Din dalam keterangan tertulisnya, Minggu 13 September 2020.

Kepolisian telah menangkap dan menahan AA, pelaku penusukan terhadap pendakwah . Ia ditusuk saat tengah mengisi acara dakwah di Falahuddin, Tamin, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, pada hari ini, Minggu 13 September 2020.

“Pelaku sudah ditangkap dan saat ini sudah dibawa ke Mapolresta Bandar Lampung untuk dilakukan pemeriksaan,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Lampung Komisaris Besar Zahwani Pandra Arsyad saat dihubungi pada Ahad, 13 September 2020.

Ia mendesak Polri mengusut tuntas kasus tersebut. Tak hanya pelakunya, Din berharap polisi juga bisa mengungkap siapa yang berada di belakang kasus penusukan ini. “Kepada Polri agar bersungguh-sungguh memproses secara hukum dan menyeret pelaku ke meja pengadilan dengan tuntutan hukum maksimal,” ucapnya.

Selain itu, ia berharap kepolisian agar tidak mudah menerima pengakuan dan kesimpulan bahwa pelakunya adalah orang gila, sebagaimana pernah terjadi pada masa lalu yang sampai sekarang tidak ada kejelasan. Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini meminta Polri untuk menjamin keamanan para tokoh agama, khususnya ulama dan dai, serta mengusut gerakan ekstrimis yang anti agama dan hal yang bersifat keagamaan.

Terkait kasus penusukan ini, Din Syamsuddin berharap umat Islam tetap tenang dan dapat menahan diri. “Jangan mudah terhasut oleh upaya adu domba,” ujarnya.[]

Sumber: tempo.co

Powered by Blogger.