JAKARTA – Pedagang Kaki Lima (PKL) panen rejeki, menyusul usainya penyelenggaraan Rapat dan Pawai Akbar yang diselenggarakan Hizbut Tahir Indonesia (HTI) di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2015).

“Hari ini penjualan saya bisa 5-6 kilogram mi, atau sekitar Rp400 ribuan. Kalau hari biasa paling hanya sampai Rp100 ribuan,” ujar Parno Budiman, penjual mie ayam di GBK kepada citraindonesia.com.

Acara HTI Dongkrak Omset PKL di GBK

Pria asal Solo berusia 30 tahun ini berharap akan ada lagi acara yang dihadiri ribuan orang seperti acara HTI hari ini, karena jika GBK banjir massa, dagangannya bisa laris.

“Ya, mudah-mudahan ada acara yang ramai seperti ini lagi. Saya kan jadi untung,” paparnya.

Seperti diketahui, acara Rapat dan Pawai Akbar HTI dihadiri kurang lebih 150 ribu peserta dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), serta dari beberapa kota lain di Indonesia.

Seusai acara yang berlangsung selama lebih dari dua jam, para peserta banyak yang didera rasa lapar dan haus, sehingga mereka ‘menyerbu’ para PKL di depan GBK.

Acara HTI ini mengusung konsep Khilafah untuk menyelesaikan persoalan Indonesia yang dianggap telah jatuh dalam cengkeraman neoimprerialisme dan neoliberalisme.

[citraindonesia.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Acara HTI Dongkrak Omset PKL di GBK

Oleh: Asmara Dewo, Kemauan yang Lurus

INDONESIA sudah 70 tahun merdeka dengan sistem pemerintahan yang akarnya sama, yaitu demokrasi. Mulai dari demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila dan sekarang era reformasi. Dan terbukti Indonesia gagal membawa perubahan yang lebih baik bagi rakyatnya.

Detikcom Sabtu (30/05/15), Juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto menyatakan, pihaknya menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya para ormas, organisasi politik, ulama, wakil rakyat, anggota TNI/Polri, dan elemen masyarakakat lainnya untuk sungguh mengamalkan syariat Islam dan memperjuangkannya di negeri ini.

“Menyerukan kepada pemerintah untuk memandang acara ini sebagai bagian dari ekspresi dan aspirasi umat Islam yang dijamin undang-undang serta mengajak aparat keamanan untuk mengamankan acara ini hingga bisa berlangsung aman dan tertib,” ujarnya.
Bagi kaum yang sensitif dengan HTI, mereka menjelek-jelakkan ormas Islam ini. Apalagi setelah membaca dan medengar berita ada sekitar ratusan ribu massa HTI senusantara ikut rapat dan pawai akbar (RPA) tahun 2015 di Stadion Glora Bung Karno.

Bahkan ada yang berpendapat negeri tercinta ini dijadikan negara seperti di Suriah. Mereka khawatih negeri merah-putih ini akan kembali bertumpahan darah merebut kekuasaan pemerintahan. Mengingat tahun 1965, saat PKI ingin menguasai pemerintahan Indonesia.

Benarkah pendapat mereka demikian? Saya pribadi menilai HTI sejauh ini baik-baik saja, bahkan sistem mereka menegakkan Khilafah itu tidak dengan kekerasan, berkesan damai dengan pemerintahan Indonesia. Jadi, tidak ada yang harus dikhawartirkan. Toh, kalau impian para pejuang HTI tercapai mengganti sistem pemerintahan presidensil itu ada baiknya juga.

Indonesia selamanya ini menganut demokrasi, dan nyatanya kita bisa merasakan keunggulan dari demokrasi itu sendiri. Saya katakan demokrasi gagal membawa Indonesia lebih baik. Lantas, kenapa umat Muslim sendiri menjelekkan dan menghina pejuang HTI? Kalau takut negeri ini bergeser ke sistem syariah (Islam), bentuk ormas yang baru lagi, saingi HTI, pastikan bisa menduduki kursi pemerintahan dan terapkan sistem Islam yang sesuai dengan keyakinan. Sederhana sekali bukan?

Agar tidak menjadi fitnah, jujur saya katakan, saya bukan simpatisan HTI, pun bukan dari barisan mereka. Karena saya tahu, saya akan diserang dengan berbagai pertanyaan, jadi alangkah baiknya saya jujur di awal. Kalau tidak percaya juga, silahkan cari data saya selengkapnya.

Saya pribadi pun sudah bosan dengan partai dan ormas yang membawa embel-embel agama Islam. Saya tidak percaya dengan partai ataupun ormas, namun saya percaya dengan islam itu sendiri. Kalau tujuannya untuk menegakkan Islam, ya saya dukung. Dan jika suatu hari nanti HTI memang tidak sesuai apa yang diterapkannya di bumi Indonesia ini, sebagai pemuda yang peduli terhadap bangsa akan mengkritik HTI.

Sekali lagi, saya bukan mendukung HTI, namun saya mendukung agama Islam untuk menerapkan sistem di negeri ini. Saya sadar negeri ini beraneka ragam suku dan agama, tentunya banyak yang berontak jika sistem itu berdiri. Namun, kita bisa belajar dari sejarah keemasan Islam itu sendiri. []

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Memangnya Kenapa Kalau Sistem Khilafah Tegak di Indonesia?

Oleh : Choirul Anam, MSi.

Selain masalah hadits ahad, hal lain yang paling banyak digunakan untuk menyesatkan Hizbut Tahrir (HT) dan mencela Syeikh Taqiyuddin An-Nabhany adalah masalah qodlo dan qodar. Dikatakan oleh mereka bahwa Syeikh Taqiyuddin menolak qodlo dan qodar di dalam kitab beliau, yaitu Kitab Nidzomul Islam dan Kitab Syakhsiyyah Islamiyyah Jilid I.

Benarkah HT menolak qodlo dan qodar?

Tulisan ini tidak akan membantah orang-orang yang mengatakan bahwa HT sesat atau mencela Syeikh Taqiyuddin, sebab berbantah-bantahan dalam masalah ini tidak ada gunanya dan tidak menghasilkan apapun kecuali bangkitnya rasa benci diantara sesama umat Islam. Orang yang memang sudah terlanjur tidak senang, apalagi di hatinya ada kedengkian, memang tidak akan pernah menerima argumentasi apapun dari pihak yang dibenci atau didengki. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu.

Tulisan ini hanya akan memdudukkan masalah ini apa adanya, sehingga kita semua mengetahui hakikat yang sebenarnya. Para ikhwan yang tidak sependapat, juga dipersilahkan.

*****
Dalam masalah qodlo dan qodar ini sebenarnya ada tiga pembahasan, yang seharusnya dibahas secara berbeda.

Pertama, pembahasan tentang qodlo. Istilah ini membahas tentang perbuatan Allah swt. Sumber pembahasan ini adalah al-qur’an dan hadits.

Kedua, pembahasan tentang qodar. Istilah ini juga membahasa tentang perbuatan Allah swt dan sumber pembahasannya juga berasal dari al-qur’an dan hadits.

Dua istilah tadi, yakni qodlo dan qodar, merupakan bagian dari keimanan di dalam Islam, sehingga siapapun yang menolaknya, ia adalah orang kafir.

Ketiga, pembahasan tentang qodlo-qodar. Qodlo dan qodar di sini digabung dalam satu frase. Penggabungan ini akan memberikan makna dan arti yang berbeda dari kata penyusunnya. Dalam bahasa Arab, penggabungan ini membentuk tarkib-mazji. Penggabungan kata dalam satu frase biasanya akan memmiliki arti sendiri yang berbeda dengan istilah penyusunnya. Contoh, istilah “rumah-tangga”. Rumah-tangga tersusun dari “rumah” dan “tangga”. Arti “rumah” semua orang sudah tahu (yaitu tempat tinggal), arti “tangga” semua orang juga sudah tahu (yaitu alat yang biasanya dipakai untuk menuju tempat-tempat yang tinggi). Lalu apa arti “rumah-tangga”? “Rumah tangga” artinya bukan rumah yang ada tangganya, atau tangga yang ada di dalam rumah. Tetapi arti rumah tangga adalah keluarga. Inilah yang dinamakan tarkib mazji, penggabungan dua istilah dalam satu kata.

Istilah qodlo-qodar muncul dari Yunani dan membahasa tentang perbuatan manusia. Iya, membahas tentang perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah swt. Qodlo-qodar adalah pembahasan tentang free-will atau hurriyatul irodah. Lebih detilnya, qodlo qodar adalah pembahasan tentang: “apakah manusia bebas berbuat sesuatu sesuai kehendaknya atau tidak?”. Pembahasan ini baru muncul setelah umat Islam bersinggungan dan berinteraksi dengan mereka pada abad ke dua hijriyah.

Itulah fakta istilah qodlo, qodar dan qodlo-qodar.

Asas dan sumber pembahasan berbeda. Pembahasan tentang qodlo harus menggunakan dalil (dari al-qur’an atau hadits) dan pembahasan tentang qodar juga harus dengan dalil (dari al-qur’an dan hadits). Sebab, pembahasannya tentang perbuatan Allah swt, dan manusia tidak akan pernah mengetahui tentang Allah swt, kecuali yang dijelaskan Allah melalui al-qur’an atau hadits.

Sedangkan tentang qodlo-qodar karena menjelaskan tentang perbuatan manusia, maka penjelasan faktanya tidak memerlukan dalil, tetapi cukup dilihat faktanya. Contoh, jika kita ditanya apakah bola mata kita hitam atau biru? Untuk menjawabnya kita tidak perlu sibuk mencarinya di dalam al-qur’an atau hadits, tetapi cukup dilihat faktanya dan insya Allah kita langsung tahu, apakah bola mata kita hitam atau biru. Tetapi jika yang ditanya adalah “dampak perbuatan manusia apakah berpahala atau tidak”, maka hal ini memerlukan dalil dari al-qur’an dan hadits. Sebab, tidak satu pun manusia yang mengetahui hakikat pahala dan dosa, kecuali telah dijelaskan Allah melalui al-qur’an atau hadits. Contoh: Jual beli itu halal atau haram? Riba itu halal atau haram? Dua pertanyaan ini, hanya bisa dijawab dengan dalil.

Berikut ini, akan dibahas tentang ketiga istilah tadi: qodlo, qodar dan qodlo-qodar. Pembahasan ini akan diusahakan seringkas mungkin, dan siapa saja yang ingin membahasa lebih detil sebaiknya langsung mengkaji kitab Nidzomul Islam atau kitab Syakshiyyah Islamiyyah jilid I, tetapi membahas dua kitab tersebut harus dengan guru, kalau tidak dijamin salah-paham.

*****
Pembahasan akan dimulai dari qodlo-qodar dulu.

Apakah manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak atau tidak? Untuk menjawab hal ini sebenarnya tidak sulit, asal kita mau melihat fakta secara obyektif. Selama ini pembahasan terasa sangat rumit, karena pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filsafat. Tetapi, jika mengkajinya secara faktual, pembahasan ini sangat mudah.

Fakta real tentang manusia, bahwa manusia itu hidup dalam dua wilayah. Pertama, wilayah dimana manusia bebas melakukan dan memilih perbuatannya (da’iratun yusaithiru ‘alaiha al-insan). Contoh kita mau sholat atau tidak, kita mau dakwah atau tidak, kita mau memfitnah orang atau tidak, dan lain-lain. Semua ini, merupakan pilihan bebas manusia.

Kedua, wilayah dimana manusia tidak bebas melakukan atau memilih sesuatu (da’iratun tusaithiru ‘alal insan). Dalam kondisi ini, suatu kejadian terjadi dengan terpaksa, tanpa pilihan manusia. Contoh: kita naik kendaraan sudah hati-hati, tetapi ditabrak oleh orang lain. Kita dilahirkan di Indonesia dan bola mata berwarna hitam dan kulit agak hitam. Dan lain-lain. Semua kejadian ini terjadi tanpa ada pilihan dari manusia.

Itu fakta real tentang kejadian atau perbuatan yang dialami manusia.

Berikutnya pembahasan tentang apakah perbuatan manusia itu berpahala atau tidak, maka dalam hal ini membutuhkan dalil dari al-qur’an atau hadits.

Tentang perbuatan manusia, maka Allah berfirman di dalam al-qur’an: “Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (TQS. Al-Mudatstsir [74]: 38). Dan ada ribuan ayat yang lain dan hadits yang senada, yang menjelaskan bahwa perbuatan manusia itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt. Jika perbuatannya baik, maka ia akan mendapatkan balasan dari kebaikannya, meskipun sekecil dzarroh. Jika perbuatannya buruk, maka ia akan mendapatkan balasan dari keburukannya, meskipun sekecil dzarroh.

Jadi kesimpulannya, setiap perbuatan manusia itu akan berdampak pahala atau dosa. Namun, apakah dalil yang umum tadi, ada yang mengkhususkan? Ternyata ada. Misalnya sabda Rasulullah saw riwayat Imam Abu Dawud dari Sayyidina Ali ra. Rasulullah saw bersabda: “Telah diangkat pena (artinya hukum tidak dibebankan atau perbuatan manusia tidak ada pertanggung-jawabannya) atas tiga orang. Anak kecil hingga baligh, orang yang tidur sampai bangun. Dan orang gila sampai sembuh kembali”. Dalam hadits yang lain, disebutkan: “juga dari orang-orang yang terpaksa”.

Hadits ini mentakhsis keumuman ayat di atas. Artinya, setiap perbuatan manusia itu diminta pertanggung-jawaban, kecuali yang dilakukan karena terpaksa, misalnya karena tertidur, gila, masih kecil, atau terjadi tanpa ada pilihan darinya. Kejadian itu terjadi begitu saja dan manusia tidak memiliki andil apapun.

Dengan pemahaman ini manusia harus hati-hati, karena setiap perbuatannya akan diminta pertanggung-jawaban oleh Allah, kecuali yang terjadi di luar kontrol kita. Karena itu, janganlah kita sekedar mengikuti nafsu kita, seperti suka memfitnah orang lain, meninggalkan dakwah, meninggalkan sholat, mengambil riba dan lain-lain. Sungguh rugi, manusia yang hidupanya hanya mengikuti nafsu.

Selain di akhirat akan mendapatkan siksa, orang yang melanggar ketentuan Allah swt, di dunia ia juga akan mendapat sanksi. Misalnya pencuri akan dipotong tangan, inilah hukum Allah swt tentang pencuri. Dalam hal ini, sang pencuri tidak akan pernah dibebaskan dari hukum, hanya dengan alasan bahwa pencuriannya ini didasari qodlo-qodar dari Allah swt.

Inilah pembahasan tentang qodlo-qodar dan konsekuensinya….

*****
Berikutnya pembahasan kedua tentang qodlo. Pembahasan qodlo harus dengan dalil.

Segala hal yang terjadi pada daerah yang menguasai manusia dan manusia tidak memiliki kendali, maka semua ini terjadi karena keputusan Allah swt. Inilah yang dinamakan qodlo. Sebab, memang hanya Allah swt sendirilah yang memutuskannya.

Allah swt berfirman: “(Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari. Dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari. Dan Dialah yang membangkitkan kalian untuk meneruskan (kehidupan kalian) sampai batas waktu (ajal yang ditentukan). Kemduian kepada-Nya tempat kembali kalian. Dia akan memberitahukan kepada kalian apa saja yang kalian kerjakan” (QS. Al-An’am 60). Allah berfirman: “Bencana yang terjadi di muka bumi atau atas diri kalian sendiri telah tertuang di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Al Hadid 22). Dan ribuan ayat lain dan juga hadits yang senada dengannya.

Semua kejadian yang terjadi dalam wilayah ini, betapapun besar manfaatnya atau kerugiannya, menurut manusia, maka manusia tidak akan diminta pertanggung-jawaban. Manusia dalam hal ini hanya diminta ridlo dengan ketentuan Allah swt ini.

Orang mukmin harus beriman bahwa yang menetapkan semua itu adalah Allah swt dan orang mukmin harus ridlo dengan keputusan Allah swt ini. Jika ia tidak beriman dengan qodlo atau menolaknya, ia adalah orang kafir.

*****
Terakhir pembahasan tentang qodar. Pembahasan tentang qodar juga harus dengan dalil, karena membahas tentang Allah swt.

Semua kejadian dan fenomena yang terjadi di alam ini terjadi dengan sunnatullah, karena setiap apa yang ada di dunia ini memiliki karakteristik dan sifat yang unik. Misalnya air berwujud cair, batu berwujud padat, api memiliki karakteristik untuk membakar, dan lain sebagainya. Manusia juga memiliki karakteristik yang unik, yakni memiliki kebutuhan jasmani dan nurani. Semua karakteristik yang ada di alam ini semua yang menciptakan dan menentukan adalah Allah swt. Inilah yang dinamakan dengan qodar. Sebab, hanya Allah yang meng-qodarnya (menentukannya).

Allah swt berfirman: “Sesunggunya Allah telah mngqodar (menetapkan ketentuan) bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath-Tholaq 3), Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran tertentu (qodar)” (QS. Al-Qomar 49).

Inilah qodar. Orang yang beriman harus percaya bahwa yang menetapkan segala sesuatu di dunia ini adalah Allah swt dan ridlo dengan ketentuan Allah swt. Orang yang beriman tidak akan menyalahkan hujan, atau api yang membakar, atau apapun yang telah ditetapkan Allah swt. Ia ridlo dengan semua keputusan Allah swt. Baik atau buruknya semuanya tadi (menurut pandangan manusia) berasal dari Allah swt.

Ketentuan-ketentuan itu juga tidak memaksa manusia. Misalnya, api memang memiliki sifat membakar. Pertanyaannya: membakar itu baik atau buruk? Jawabnya netral: tidak baik juga tidak buruk. Nah, jika api digunakan oleh seorang istri untuk membakar ayam guna dihidangkan ke keluarga, maka itu baik dan berpahala. Tetapi, jika api itu digunakan untuk membakar rumahnya umat Islam yang kebetulan berbeda dalam beberapa masalah furu, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat buruk dan berdosa sebab dilarang oleh Allah swt.

*****
Itulah pembahasan singkat tentang qodlo dan qodar dan konsekuensinya.

Orang yang memahami masalah ini dengan clear, maka mereka akan memliki profile sebagai berikut:

“IA AKAN BEKERJA KERAS DAN BERBUAT TERBAIK PADA WILAYAH YANG IA KUASAI DAN SANGGUP IA USAHAKAN, TETAPI IA AKAN SANGAT PASRAH KEPADA ALLAH DENGAN APAPUN YANG TERJADI DI LUAR KENDALI ATAU KEHENDAKNYA”.

Sebab, ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa di satu sisi ia diberi amanah oleh Allah swt, yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dan itu akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah swt di akhirat nanti. Sementara, di sisi lain ia yakin, seyakin-yakinnya bahwa Allah swt adalah yang berkuasa menentukan segala sesuatu di muka bumi ini. Ia akan menerima qodlo dan qodar Allah dengan ikhlas dan ridlo, meski itu tampak baik atau buruk dalam pandangan manusia.

Inilah pemahaman dan sikap yang diharapkan saat orang memahami qodlo dan qodar.

Keimanan terhadap qodlo dan qodar merupakan anugrah terbesar bagi orang-orang yang beriman, sehingga mereka akan merasa la khoufun ‘alaihim wa laa-hum yahzanuun….

Inilah kira-kira ringkasan dari pembahasan qodlo dan qodar dari kitab Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani.

Apakah penjelasan ini dapat dipahami bahwa HT dan Syeikh Taqiyuddin menolak qodlo dan qodar? Silahkan Anda menilai sendiri.

Sebagai akhir, jika ada diantara ikhwan yang kurang paham dan meminta penjelasan, insya Allah akan kami jawab sesuai kemampuan kami yang sangat terbatas. Namun, jika ada diantara ikhwan yang mengajak berdebat dalam masalah ini, mohon maaf, kami tidak biasa berdebat dan menghindari perdebatan, apalagi dalam masalah ini.

Semoga Allah swt memahamkan kita semua tentang diin-Nya dan semoga Allah menyatukan hati kaum Muslimin, sehingga mereka saling menyayangi dan berbelas-kasih, serta bersatu lagi dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Amin ya robbal ‘alamin…

Wallahu a’lam bi ash-showab.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah BENARKAH HIZBUT TAHRIR MENOLAK QODLO DAN QODAR ?

Dakwah Jateng – Sore ini saat yang tepat untuk mengoreksi arah kiblat Anda. Data astronomi menunjukan tepat pukul 12.18 waktu Arab atau 16.18 WIB, matahari akan melintas tepat di atas Kabah.

“Bayang-bayang benda yang berdiri tegak, pada tanggal dan jam tersebut akan mengarah tepat ke Ka’bah,” jelas Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Mukhtar Ali, dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Dream, Kamis, 28 Mei 2015.

Menurut Mukhtar, peristiwa yang dikenal sebagai Rashdul Qiblah adalah ketentuan waktu di mana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat. Lewat fenomena alam ini, Kemenag mengimbau kaum muslimin dan pengurus takmir masjid/mushalla yang akan memverifikasi kesesuain arah kiblat.

Untuk dapat melakukan penyesuaian arah kiblat, lakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan lokasi masjid, mushalla, langgar, atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus panjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang masih mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar. Pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Saat rashdul qiblah berlangsung amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa rashdul qiblah terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menujuu ke Timur. Sedangkan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat;

4. Gunakan tali, susunan tegel lantai, atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid/rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.

Mukhtar menambahkan bahwa selain tongkat lurus, menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera, atau benda lain yang tegak juga bisa digunakan untuk melihat bayangan.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Jam 16.18 WIB, Hari Ini Posisi Matahari Tepat Berada Di Atas Kabah

POLIGAMI dalam Islam diperbolehkan. Hukumnya adalah tidak wajib dan tidak haram sebagaimana Allah swt. berfirman :

“Nikahilah wanita – wanita yang kamu senangi ; dua, tiga, dan empat. Dan apabila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil, maka satu cukup atau budak – budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An – Nisa (4) : 3).

Ternyata islam memperbolehkan seseorang untuk berpoligami maupun dipoligami, namun dalam catatan sang suami dapat berlaku adil terhadap semua istrinya. Dan dapat memenuhi semua kebutuhan pangan, papan, sandang, lahir maupun bathin.

Indahnya Poligami

Berikut akan dipaparkan sedikit berkenaan manfaat dari melakukan poligami.

  1. Membantu mereka yang tidak cukup dengan istri satu dari kemungkinan terjatuh de dalam dosa zina.
  2. Memberantas kemaksiatan (perzinaan) di masyarakat. Apabila diantara sepasang muda – mudi sudah saling mencintai, pilihan yang mereka punya hanyalah dua, yakni cinta itu akan menjadi halal dengan cara menikah, dan cinta itu akan menjadi haram dengan berzina. Tentunya orang yang waras akan memilih pilihan yang pertama, yaitu menghalalkan cinta dengan cara menikah, agar mendapat banyak pahala.
  3. Membantu para janda beserta anak – anaknya, khususnya setelah perang, dimana banyak suami yang gugur menjadi syahid di medan perang. Bagi janda – janda yang ditinggal mati, lebih baik mereka bersedia untuk dinikahkan kembali baik jadi istri pertama, kedua, ketiga, maupun keempat. Karena sungguh tidak aman bagi mereka melanjutkan sisa hidupnya tanpa didampingi oleh seorang suami.

Telah diketahui betapa banyaknya orang yang tidak menyetujui adanya poligami, terutama dari pihak wanita. Karena kaum wanita mempunya rasa ghiroh (cemburu) apabila suaminya mencintai wanita lain. Kemudian wanita akan menganggapnya sebagai penghinaan bagi kaum wanita dan perampasan terhadap hak – hak mereka.

Apabila seorang suami ingin melakukan poligami namun istri pertamanya menolak untuk dimadu, maka itu adalah hak kaum wanita untuk menolaknya. Namun tidak dibenarkan bagi wanita untuk mengingkari hukum Allah SWT. yang membolehkan suami berpoligami. Setiap muslim harus taat pada semua hukum Allah swt. agar tercapainya iman yang sempurna dan benar dihadapan Allah SWT.

Allah berfirman pada QS.Al – Ahzab (33) : 36 yang artinya :

“Dan tidaklah patut bagi laki – laki mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah swt. dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah swt. dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Sumber : Menikmati hubungan intim suami – istri menggapai pernikahan berkah, Muhammad Ahmad Kan’an, Pustaka Nawaitu, Mei 2003, Jakarta Timur.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Indahnya Poligami

Dakwah Jateng – Akibat ‘kicauannya’, pendukung Jokowi ini harus berurusan dengan masalah hukum. Ya ,dialah dosen FISIP UI yang bernama Dr. Ade Armando, MSc dipolisikan karena melalui akunnya @adearmando1, ia menulis kalimat yang dianggap melecehkan Agama Islam dan Allah. Ocehannya itupun dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh seorang advokat Johan Khan.

Diketahui sebelumnya, Ade Armando berkicau dengan kalimat “Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dg gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop,…” tulisnya di Twitter dan Facebook beberapa waktu yang lalu.

Kalimat tersebut lantas mendapat respon dari banyak netizen. Mereka pun mempertanyakan tingkat intelektual seorang Ade Armando sebagai dosen dan ada juga yang melaporkannnya ke Polda Metro Jaya.

Dilasnir laman satunusanews (23/5/15), Melalui akun twitternya @johankhan, ia mengunggah photo surat tanda bukti laporan bernomor TBL/1990/V/2015/PMJ/Dit Reskrim tanggal 23 Mei 2015.

Sebelumnya ia menggunggah cetak layar percakapan antara dirinya dengan Ade Armando. “Johan jangan marah dong kalau saya tidak minta maa. Kan saya kan tidak salah. Dari mana saya menghina umat Islam? Sekarang saya tanya pada Anda, menurut Anda, Allah orang Arab bukan? Menurut saya, Johan, Allah bukan orang Arab. Allah bukan orang. Dia itu Mahluk yang tak bisa disamakan dengan orang. Dia itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dia pencipta alam semesta beserta isinya. Jadi jelas ya, Allah bukan orang Arab. Kalau Anda marah pada saya, apa alasan Anda?” tulis Ade Armando.

Namun jawaban tersebut tidak digubris Johan. “Silahkan Anda jelaskan alasan Anda itu ke Penyidik nanti atau pada saat kita fight di court, citizen against you. Anda berhak punya alasan, Saya pun memilik hak yang sama. Anda fikir cuma Saya yang marah? Perhatikan lagi baik-baik dunia Anda, ada ribuan lagi yang marah seperti Saya. Anda telah menghina agama Saya dan Saya akan gunakan hak hukum Saya sebagai warga negara,” jawab Johan.

debat-Ade-dan-Johan-di-facebook (1)

Dari surat Tanda Bukti Lapor, tertanggal waktu lapor hari ini Sabtu (23/05) pada pukul 12.03 WIB dengan sangkaan tindak pidana Penistaan terhadap agama pasal 156 A dan atau pasal 28 (2) UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Ade Armando Dipolisikan Karena Dinilai Melecehkan Allah

Dakwah Jateng – Tampaknya Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Andi Aulia Rahman tak bisa menutupi kekecewaanya kepada Presiden Jokowi. Hal itu terlihat dalam akunnya @andauliar. Kicauannya di Twitter disertai tanda pagar (Tagar) #JokowiBohong.

Sebabnya tak lain adalah Presiden Jokowi dikabarkan tak dapat menemui mahasiswa pada Senin 25 Mei seperti yang sudah dijanjikan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan. Kabar itu diperoleh mahasiswa dari Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Ketua BEM UI Di Tipu Jokowi, Serukan Tagar #JokowiBohong

Seperti dikutip dari Okezone (24/5), Celotehan Andi diawali dari kronologis demonstrasi hingga janji yang dilontarkan oleh pihak istana bawah Presiden Jokowi akan menemui mahasiswa. Berikut kicauan Andi Aulia:

Saat #Aksi21Mei, saya dan 49 perwakilan masing-masing kampus masuk menemui Bapak Luhut Panjaitan untuk menyampaikan tuntutan kami bertemu dengan Jokowi.

Kami, perwakilan mahasiswa saat itu, tetap mendesak untuk bertemu Jokowi, di waktu apapun, bahkan tengah malam sekalipun. #JokowiBohong.

Karena terdesak, akhirnya Mensesneg menelfon Presiden. Berkali-kali tidak tersambung, namun setelah 20 menit akhirnya ada kejelasan. #JokowiBohong.

Mensesneg menyampaikan kepada kami bahwa Presiden Jokowi baru bisa menemui mahasiswa pada hari Senin 25 Mei 2015 pukul 08.00 WIB. #JokowiBohong.

Setelah itu, perwakilan mahasiswa meminta waktu Salat Ashar sembari saya dan Korpus BEM SI keluar menemui massa aksi utk beritahu progres.

Setelah itu, saya & Korpus BEM SI kembali lagi ke dalam Istana, melanjutkan diskusi untuk menyepakati/tidak tawaran Presiden bertemu hari Senin.

Singkat cerita, akhirnya mahasiswa sepakat menerima tawaran dialog terbuka dengan Presiden Senin 25 Mei pukul 08.00 WIB live di TV nasional. #JokowiBohong.

Akhirnya #Aksi21Mei selesai dan massa membubarkan diri setelah Bapak Luhut menyampaikan bahwa agenda pertemuan dijadwalkan Senin 25 Mei.

#JokowiBohong akhirnya benar-benar kejadian. Sabtu malam kemarin, Presiden melalui Mensesneg membatalkan agenda pertemua besok dengan sepihak..

Beberapa Presma dari berbagai daerah sudah dalam perjalanan ke Jakarta ketika berita #JokowiBohong ini sampai.

Saat ini, saya & beberapa Presma yang sudah sampai Jakarta, berkumpul di Kampus UNJ. Bahas penyikapan untuk #JokowiBohong ini. Doanya kawan.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Ketua BEM UI Di Tipu Jokowi, Serukan Tagar #JokowiBohong

JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan beredarnya beras plastik. Menurut dia, beredarnya beras plastik ini bukan lah sebuah masalah besar.

“Saya yakin itu bukan sesuatu masalah besar karena motifnya kita tidak tahu,” kata JK di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2015).

Wapres JK: Beras Plastik Bukan Masalah Besar

JK memastikan, beras plastik ini muncul bukan karena masalah ekonomi. Sebab, harga beras belakangan ini relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat.

“Saya tidak tau motifnya, tidak tahu berasnya macam mana. Tetapi saya pikir masyarakat tidak perlu khawatir lah,” ujarnya.

JK menambahkan, masalah beras dengan campuran bahan palsu seperti ini sebenarnya sudah kerap terjadi. Salah satunya seperti yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Namun dia tidak menyebutkan kapan peristiwa penemuan beras palsu itu terjadi.

Informasi mengenai beras plastik mencuat setelah salah seorang penjual bubur di Bekasi, Dewi Septiani, melaporkan kasus itu. Dewi mengaku membeli enam liter beras yang diduga bercampur dengan beras plastik. Beras tersebut dia beli di salah satu toko langganannya.

Dewi memang biasa membeli beras dengan jenis yang sama di toko tersebut seharga Rp 8.000 per liter. Keanehan dari beras tersebut dia rasakan setelah mengolahnya menjadi bubur.

Beras plastik tersebut pun positif mengandung polyvinyl chlorideyang merupakan bahan baku pipa, kabel, dan lantai.

Beras itu juga mengandung plastiser plastik seperti Benzyl Butyl Phtalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl Phtalate (DEHP), dan Diisononyl Phtalate (DNIP).

Ketiga bahan tersebut merupakan pelembut yang biasa digunakan bersamaan dengan polyvinyl chloride. Tujuannya agar pipa atau kabel mudah dibentuk.

[kompas.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Wapres JK: Beras Plastik Bukan Masalah Besar

Oleh: Abu Muhtadi, Lc dan KH Hafidz Abdurrahman

 

LANGGAM JAWA

Geger “langgam jawa” yang digunakan dalam tilawah di Istana, saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. 17 Mei 2015 yang lalu telah menimbulkan reaksi keras dari umat Islam. Tilawah yang dilantunkan dosen UIN Sunan Kalijaga, DIY, di acara kenegaraan atas permintaan resmi Menteri Agama RI itu benar-benar telah membuat heboh.

Semakin ramai, karena saling serang antara yang pro-kontra terjadi di media sosial. Bahkan, para pendukung “langgam jawa” yang nota bene kaum Liberal menganggap mereka yang kontra berpikiran cetek. Seperti yang diungkapkan oleh Guntur Romli di akun sosial medianya. Orang yang dianggap cetek ilmunya padahal bukan ulama’ sembarangan. Tidak sedikit di antara mereka adalah orang-oran yang nota bene mendalami ilmu qiara’at.

Lalu bagaimana sebenarnya mendudukkan “langgam jawa” atau langgam-langgam lain dalam tilawah al-Qur’an, kalam Allah yang suci itu?

Dalam hal ini ada dua hadits. Hadits pertama, memerintahkan agar melanggamkan tilawah al-Qur’an [Hr. Muslim], sedangkan hadits kedua melarang melanggamkan tilawah al-Qur’an. Mengenai hadits pertama, al-‘Alim ‘Atha’ Abu Rusytah menguatkan hadits Muslim tersebut dengan konotasi membaguskan suaranya. Konotasi ini dikuatkan oleh hadits al-Bara’ bin ‘Azib dari Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibn Majah.

زَيِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” [Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibn Majah]

Karena itu, pendapat yang paling kuat menyatakan, bahwa membaguskan tilawah al-Qur’an dengan suara yang indah, sesuai dengan kaidah-kaidah tartil yang sahih dari Nabi saw. adalah sunah.

Namun, harus dipilah antara membaguskan tilawah dengan suara yang indah, dengan langgam. Karena, dalam konteks langgam ini ada perselisihan di kalangan fuqaha’. Dari aspek, apakah bacaan dengan langgam tersebut benar-benar bisa menepati kaidah-kaidah qira’at atau tidak?

Pertama pertama, menyatakan bahwa hukum tilawah dengan langgam, seperti langgam jawa itu haram, karena keluar dari kaidah-kaidah tilawah, seperti bayati, husaini bayati, hijaz, shoba, nahqand, rast, sikkah, jaharkah atau ajami. Karena terjadi pemanjangan huruf dan keluar dari batasannya yang sudah dikenal. Pendapat kedua, menyatakan boleh, dengan syarat. Jika qira’at menggunakan langgam tertentu itu tidak keluar dari manhaj yang lurus. Jika tidak, maka haram, dan tidak boleh.

Dari kedua pendapat ini, pendapat pertama yang lebih kuat. Karena itu, hukum membaca al-Qur’an dengan suara yang indah jelas sunah, karena tindakan ini dipuji oleh Nabi saw. Sedangkan melanggamkan bacaan dengan langgam tertentu, seperti “dandang gula” itu jelas haram. Karena telah keluar dari kaidah-kaidah qira’ah yang benar.

Inilah tentang hukum melanggamkan tilawah al-Qur’an dengan langgam jawa, atau langgam-langgam yang lain.

BAHAYA DI BALIK IDE LANGGAM JAWA DAN ISLAM INDONESIA

Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah ide yang mendasari lahirnya permintaan sang Menteri Agama itu. Ide membangun “Islam Indonesia”. Gagasan ini pernah dilontarkan oleh KH Said Aqil Siraj, Ketua PBNU. Ide ini jauh sebelumnya telah dikemukakan oleh Nurchalis Madjid, melalui karyanya di era 1980-an, “Islam Keindonesiaan dan Kemodernan”. Ide ini muncul sebagai reaksi terhadap wajah Islam yang buruk di Timur Tengah. Tetapi, juga tidak bisa dipungkiri, bahwa ide ini juga tidak lepas dari kebanggaan kelompok, mazhab dan suku.

Ditambah dengan gejolak berkepanjangan di wilayah itu akibat perang saudara, menurut sebagian kalangan, Timur Tengah tidak pantas menjadi kiblat kaum Muslim. Maka, “Islam Indonesia” dinilai lebih baik dari pada Islam Timur tengah. Salah satu faktornya, kata Said, karena Indonesia sudah memiliki komitmen kebangsaan dalam menghadapi konflik, baik internal maupun eksternal. Sementara di Timur Tengah, menurutnya, persoalan agama dan nasionalisme sangat sulit diwujudkan. Karena, rata-rata di negara Timur Tengah, masih menurutnya, tidak mempunyai organisasi massa sebagai penengah sebagaimana yang dimiliki Indonesia. Negara di Timur Tengah disebutnya hanya memilki pemerintah, militer dan partai politik. (http://ift.tt/GWBny1).

Lebih lanjut, Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Mahfud MD, mengatakan Indonesia seharusnya bisa menjadi pusat pemikiran Islam. Sebab, Islam di Indonesia lebih moderat dan bisa diterima banyak pihak. Senada dengan itu, Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyerukan agar Islam di Indonesia mampu menjadi teladan dan referensi bagi peradaban dunia. “Indonesia harus menjadi pelopor pemikiran-pemikiran kebersamaan yang lebih baik. Harus menjadi referensi di dunia ini, Islam yang moderat, Islam menjadi referensi dunia,” kata Wapres, saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin [09/02].

ISLAM HANYA SATU

Dikotomi Islam, dengan berbagai ajektif, seperti “Islam Indonesia”, “Islam Timur Tengah” sebenarnya sama dengan “Islam Radikal”, “Islam Militan”, “Islam Moderat” atau yang lain. Dikotomi seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam, sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen Rand Corporation. Strategi penghancuran yang dibangun dengan basis filosi “devide et impera”, atau politik belah bambu, yaitu pecah dan perintah.

Begitulah bahaya ide ini. Tampak dari luar memang indah. Terlebih dibumbui dengan semangat menampilkan wajah Islam yang indah. Meski, faktanya tidak demikian. Pertanyaannya sederhana, jika benar ada “Islam Indonesia” dari mana sumbernya? Kalau yang menjadi patokan adalah NU dan Muhammadiyah, bukankah pendiri kedua ormas ini adalah produk Timur Tengah? Kalau pun ada “Islam Indonesia”, apakah ada pemikir atau mujtahidnya? Bukankah selama ini mereka menolak berijtihad? Kalau begitu, pasti sumbernya adalah khazanah Islam klasik yang dihasilkan oleh ulama’ di masa lalu.

Disamping itu, semangat “Islam Indonesia” yang lahir dari sentimen Nasionalisme jelas berbahaya, bahkan dilarang oleh Nabi. Nabi saw. sendiri menyebut sentimen Nasionalisme itu sebagai “muntinah” [barang yang busuk]. Lebih berbahaya lagi, karena “Islam Indonesia” atau “Islam Turki” telah didesain dan dimanfaatkan oleh Amerika dan negara Kafir penjajah untuk melepaskan umat Islam dari Islam yang sesungguhnya. Ini bagian dari penyesatan politik dan pemikiran yang jelas berbahaya.

Islam adalah agama yang satu. Allah berfirman:

إنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ [سورة المؤمنون: 52]

“Sesungguhnya umat [agama]-mu ini adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah Tuhanmu, maka takutlah kamu kepada-Ku.” [Q.s. al-Mu’minun: 52]

Ayat yang sama diulang dalam Q.s. al-Anbiya’: 92, dengan akhiran yang berbeda, “fa’buduni” [sembahlah aku]. Lafadz “ummat” di dalam kedua nash ini diartikan oleh para ahli tafsir dengan agama. Meski bisa juga diartikan, sebagaimana harfiahnya, yaitu umat. Karena itu, Islam adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak ada “Islam Indonesia”, “Islam Turki”, atau “Islam Arab”. Begitu juga umat Islam hanya satu, tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat Islam Arab” atau yang lain. Semuanya adalah Islam dan Umat Islam.

ISLAM YANG MANA?

Meski Islam adalah agama yang satu, tetapi kita tidak menutup mata adanya perbedaan di dalamnya, karena perbedaan pendapat, pandangan dan mazhab. Perbedaan seperti ini pun dibenarkan dalam Islam. Karena dua alasan. Pertama, karena nash syariah memungkinkan umat Islam untuk berbeda, akibat adanya nash-nash yang dzanni tsubut [sumber] dan dzanni dalalah [makna]-nya bersifat debatabel. Kedua, karena kemampuan intelektual umatnya juga berbeda-beda, sehingga memungkinkan perbedaan dalam memahami nash-nash syariah.

Meski demikian, ukurannya jelas. Kata Sayyidina ‘Ali –radhiya-Llahu ‘anhu:

لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، أَعْرِفِ الْحَقَّ وَتَعْرِفْ أَهْلَهُ

“Kamu jangan mengenali kebenaran dengan melihat orangnya. Kenalilah kebenarannya itu sendiri, maka kamu akan mengenali orangnya.” [al-Ghazali, al-Munqidz min ad-Dhalal]

Mengenali Islam sebagai agama yang benar harus kembali kepada sumbernya, bukan orangnya. Sumbernya adalah al-Qur’an, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Siapapun yang membawa dan menyampaikan Islam harus dilihat dan diukur dengan sumber-sumber tersebut. Jika menyimpang, siapapun dia, apapun kelompok dan organisasinya, apa yang dibawa dan disampaikan itu bukanlah kebenaran. Bukan Islam. Begitulah, cara kita menilai kebenaran Islam.

Kembali kepada sumber Islam yang outentik tersebut membutuhkan ilmu alat, mulai dari bahasa, ushul fiqih, ilmu hadits, tafsir, fikih dan sebagainya. Karena, khazanah Islam yang disampaikan di tengah-tengah umat itu, ibaratnya adalah buah dari pohon subur. Menggunakan ungkapan Imam al-Ghazali, buah itu tidak bisa dipetik dari pohonnya, yang tak lain adalah dalil, kecuali dengan alat. Alat itu adalah ushul fikih. Tetapi, alat itu bisa digunakan, kalau ada yang bisa menggunakannya. Itulah para mujtahid [al-Ghazali, al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul].

Karena itu, tradisi ini tidak pernah hilang dari kaum Muslim selama berabad-abad, sejak umat ini lahir di tangan Baginda Nabi Muhammad saw. Kembali kepada sumber outentik Islam, dengan meninggalkan alatnya, dengan alasan dulu Nabi dan para sahabat tidak pernah menggunakan alat itu, sesungguhnya juga sama bahayanya dengan orang yang tidak mau merujuk kepada sumber outentik Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, menemukan kebenaran Islam harus dengan kembali kepada Islam secara kaffah. Merujuk kepada sumber outentiknya, sekaligus ilmu alat dan para pemikir dan mujtahidnya. Begitulah seharusnya. Hanya dengan cara seperti itu, kebenaran Islam itu bisa direngkuh dengan sebenar-benarnya.

SUMBER KONFLIK BUKAN SUMBER ISLAM?

Mengenai Timur Tengah sebagai wilayah konflik yang terus bergolak, sebenarnya tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan Islam yang ditranmisikan dari sana. Karena fakta konflik di Timur Tengah, sesungguhnya bukan karena faktor Islam. Wilayah ini terus-menerus membara justru karena strategi penjajah untuk terus-menerus menjajah wilayah ini. Wilayah ini telah menjadi ajang pertarungan antara Inggris, Amerika dan Perancis.

Karena itu, menisbatkan konflik Timur Tengah kepada watak keislaman kaum Muslim di sana merupakan tindakan gegabah, sambil menutup mata terhadap kepentingan negara-negara penjajah di wilayah tersebut. Setidaknya ada empat faktor yang menyebab instabilitas Timur Tengah hingga saat ini: (1) Potensi Ideologi Islam yang selalu mengancam kepentingan Barat; (2) persoalan minyak; (3) letak strategis Timteng, dan (4) Institusi yahudi yang sengaja ditanam oleh Barat.

Sebagai contoh, gejolak di Suriah yang masih terjadi hingga saat ini, tak lain karena Revolusi Islam di sana membahayakan kepentingan Barat. Sampai sekarang, Barat belum berhasil memalingkan tujuan Revolusi Islam di sana agar tunduk pada kepentingannya. Disisi lain, Tsaroh as-Syâm (Revolusi di bumi Syam), sampai saat ini masih menjadi harapan besar umat agar benar-benar menjadi jembatan yang mengantarakan mereka dari fase pemerintahan diktator menuju fase Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhajin Nubuwwah. Dianggap lebih berbahaya bagi kepentingan barat, karena Revolusi Syam masih memiliki pilar-pilar yang kokoh hingga sekarang, yakni: 1) Meruntuhkan sistem yang saat ini berkuasa di Suriah, beserta seluruh pilar dan simbol-simbolnya, 2) Menolak intervensi asing (negara-negara kafir) beserta seluruh agen-agennya, 3) Menegakkan Daulah Khilâfah ‘Alâ Minhaj an-Nubuwwah.

Begitu juga apa yang terjadi di Yaman sekarang. Konflik Yaman bukanlah Konflik Syiah-Sunni, tetapi pertarungan antara Amerika dengan Inggris. Karena itu, mengkambinghitamkan Islam sebagai biang konflik, selain berbahaya juga memalingkan umat Islam dari musuh yang sesungguhnya, yaitu imperialisme Barat dengan Sekularisme dan Kapitalisme-nya. Akibatnya, umat Islam akan saling menyalahkan satu dengan yang lain, sementara musuh mereka yang sejatih tidak pernah mereka salahkan, apalagi mereka lawan.

Walhasil, sangat naif bila kita mengkaitkan konflik Timur Tengah dengan ciri keislaman kaum Muslim, apalagi bermuara pada Islam. Tetapi, konflik-konflik itu semuanya bermuara bukan dari Islam. Justru Islam telah menjadi solusi. Tetapi, masalahnya umat Islam tidak mau mengambil Islam sebagai solusinya. Mereka lebih percaya kepada ideologi penjajah yang justru hendak menghisap darah dan kekayaan alam mereka. Akibatnya, konflik antara sesama kaum Muslim itu tidak pernah reda. Bahkan, terus membara.

Inilah saatnya umat Islam kembali kepada Islam, dengan sistemnya yang adil dan sempurna. Sistem yang diturunkan oleh Allah SWT. Hanya semuanya itu tidak akan pernah ada, kecuali dengan Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah. Itulah satu-satunya institusi yang bisa menjamin kehadiran Islam dengan wajahnya yang asli dan khas, sebagaimana yang diridhai oleh Allah SWT.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah BAHAYA DI BALIK IDE LANGGAM JAWA DAN ISLAM INDONESIA

Dari semua buku yang saya baca, yang menjelekkan dan menyesat Hizbut Tahrir (HT), terutama adalah tentang hadits ahad. Dikatakan bahwa Hizbut Tahrir menolak hadits ahad, karena itu HT itu sesat dan menyesatkan. Jika kita telaah kitab-kitab HT secara mendalam, adanya ungkapan-ungkapan tersebut adalah karena kedengkian dan sebagian lagi karena kesalah-pahaman. Maka benarlah penjelasan para ulama salaf, bahwa mengkaji kitab itu harus dengan guru yang benar-benar memahami kitab tersebut, sehingga tidak salah paham.

Masalah ini sebenarnya membutuhkan penjelasan yang panjang agar tuntas. Namun, saya akan berusaha membahas secara singkat, semoga cukup jelas. Bagi yang ingin mengkaji secara mendalam bisa merujuk kitab-kitab ulama salaf atau kitab asy syakhsiyyah al islamiyaah jilid 1 karya Syeikh Taqiyuddin.

Apakah benar HT menolak hadits ahad? Jawab: pernyataan itu super-duper keliru. HT tidak pernah dan tidak akan pernah menolak hadits ahad. Bahkan hampir di semua kitab HT, hadits-hadits yang dijadikan rujukan adalah hadits ahad, tentu yang shohih.

Mengapa banyak yang mengatakan hal itu dan mereka merujuk pada kitab HT yaitu kitab syakhsiyyah islamiyah jilid1? Jawab: Hal itu terjadi karena kesalah-pahaman memahami kitab tersebut. Coba perhatikan bab yang membahas hadits ahad dalam kitab tersebut. Di sana dikatakan: al ahad laisa bi hujjatin fil aqidah, artinya hadits ahad tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah akidah. Jadi, sama sekali tidak ada penolakan terhadap hadits ahad.

Apa arti bahwa hadits ahad tidak jadi hujjah dalam akidah? Jawab: artinya masalah akidah itu tidak boleh sembarangan, akidah harus ditetapkan dengan dalil yang qoth’i, yaitu al-quran dan hadits mutawatir. Adapun dalam hal selain akidah, maka hadits ahad tersebut menjadi hujjah, setelah terbukti kesahihannya.

Berarti HT sembrono dengan pernyataannya tersebut? Jawab: justru HT sangat hati-hati. Masalah akidah adalah masalah iman dan kafir, makanya dalilnya harus benar-benar qoth’i. Dengan pemahaman ini HT tidak berani mengkafirkan orang hanya atas dasar hadits ahad (la yukfaru mungkiruhu). Ini berbeda dengan orang atau kelompok yang menjadikan hadits ahad sebagai dalil akidah, maka mereka menjadi sangat mudah mengkafirkan orang. Dikit-dikit kafir, padahal itu hanya dalam masalah cabang (furu’) yang masih khilafiyah.

Hizbut Tahrir Menolak Hadits Ahad ?

Berarti HT tidak membenarkan hadits ahad? Jawab: HT sangat membenarkan hadits ahad setelah terbukti kesahihannya, hanya tidak menjadikannya sebagai dalil akidah. Maksudnya, HT percaya dengan hadits tersebut, tapi seandainya ada pihak yang tidak percaya, maka HT tidak akan mengkafirkan orang itu. Itulah makna dari AL AHAD LAISA BI HUJJATIN FIL AQOID.

Kalau HT tidak menjadikan sebagai dalil akidah, berarti tidak yakin dengan Rasulullah saw? Jawab: Tidak ada hubungannya. Ini adalah masalah periwayatan hadits. Hadits itu memang dari Rasulullah saw, kemudian dihafal generasi sahabat, kemudian generasi tabi’in, lalu genetasi tabi’ut tabi’in. Jadi, hal ini adalah masalah periwayatan, benar atau tidak, itu perkataan atau ucapan dari Rasul? Kalau memang benar dari Rasulullah saw, maka itu menjadi dalil akidah yang pasti benarnya. Tapi bagaimana mengeceknya? Nah, disinilah para ulama ahli hadits membuat kriteria berdasarkan jumlah dan kualitas para perawi. Coba anda lihat kitab-kitab mushtolahul hadits.

Membagi hadits menjadi ahad dan mutawatir adalah bid’ah karena tidak ada di zaman Rasulullah saw? Jawab: memang klasifikasi itu tidak ada pada zaman Rasulullah saw, sebab pada zaman beliau, kebenaran ucapan dan tindakan beliau bisa langsung dikonfirmasi kepada beliau. Masalah pembagian hadits itu terjadi pada generasi setelah tabi’ut tabi’in. Saat itu, banyak orang yang mengaku meriwayatkan hadits, padahal dia berbohong. Lalu, para ulama bangkit dan meneliti hadits. Lalu hadits dipilah-pilah dan diklasifikasi, salah satunya berdasarkan jumlah dan kualitas para perawi. Maka, kemudian ada hadits shohih, hasan, dhoif dan lain sebagainya. Kalau klasifikasi mutawatir-ahad adalah bid’ah, maka klasifikasi sohih-hasan-dhoif juga bid’ah, karena tidak ada pada zaman Rasulullah saw. Berarti para ahli hadits adalah orang-orang yang ahli bid’ah semua? Kita berlindung diri kepada Allah swt dari anggapan yang sangat keji ini.

Pada zaman Rasulullah saw, Mush’ab bin Umair diutus ke madinah sendirian untuk berdakwah di sana, ini bukti kalau hadits ahad bisa jadi hujjah? Jawab: tidak ada hubunganya. Itu masalah tabligh bukan masalah periwayatan. Tabligh itu menjelaskan ke orang dengan berbagai penjelasan sehingga orang jadi paham. Dalam tabligh, redaksinya terserah orang yang tablig, yang penting yang didakwahi paham.Sedangkan periwayatan itu menyampaikan APA ADANYA, tidak ada kata yang ditambahkan atau dikurangi. Dalam periwayatan, redaksi tidak boleh di-UBAH oleh perawi. Jadi, sangat berbeda antara tabligh dengan periwayatan.

Tapi pendapat HT itu bertentangan dengan pendapat ulama salaf? Jawab: justru pendapat HT ini sesuai dengan jumhur ulama salaf. Coba lihat Imam Qorofi dalam kitabTanqih al-Ushul, Al-Kasai dalam Badaa’i al-Shanaai, Imam Al-Amidy dalam Alihkam fi Ushulil Ahkam, Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul Ila Tahqiqil Haq Min Ulumil Ushul, Syeikh Jamaluddin Al-qasimi dalam Mahasinul Ta’wil, Imam As-Suyuthi dalam Al-itqan fi Ulumil Qur’an, dan masih sangat banyak laiinya. Pendapat HT ini sama dengan jumhur ulama dan imam madzhab. Di sini akan ditampilkan sebagian foto dari kitab al-Ihkam fi ushulil ahkam, karya Imam al-Amidy. Di dalam kitab ini pembahasan tentang hadits ahad, ada di jilid 2, dari halaman 42 hingga 157. Silahkan dibaca sendiri untuk lengkapnya. Memang, di sana ada beberapa perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama, tetapi yang rajih, adalah yang mengatakan al ahad la yufiidu al-‘ilma ai al-yaqin.

Tapi kok saya tidak tahu? Jawab: Silahkan belajar lagi dan mengkaji kitab-kitab ulama yang muktabar. Sebab, tidak tahu itu bukan dalil. ‘Adamul ilmi laisa dalilan. ‘Adamul ilmi yadullu bi annaka jahilun.

Wallahu a’lam.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah HIZBUT TAHRIR SESAT KARENA MENOLAK HADITS AHAD?

Bojonegoro – Bupati Bojonegoro Suyoto menyatakan akan mengasuh lima hingga 10 anak-anak pengungsi etnis Rohingya, Myanmar, yang kini berada di Aceh Timur, Aceh Utara, dan Kota Langsa. Alasan mengasuh para pengungsi, lebih karena persoalan kemanusiaan. ”Ya, saya ingin mengasuhnya,” ujar Suyoto, Jumat, 22 Mei 2015.

Suyoto mengatakan, untuk proses pengasuhan ini, pihaknya telah koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro. Suyoto juga telah menghubungi beberapa panti asuhan di Bojonegoro yang berniat mengasuh anak-anak pengungsi Rohingya.

Bupati Bojonegoro Berniat Asuh Anak Pengungsi Rohingya

Suyoto berharap proses untuk mengasuh anak-anak Rohingya yang terusir di Myanmar bisa cepat selesai. Langkah awalnya, menghubungi Pemerintah Provinsi Aceh. Kemudian, jika sudah terhubungi nantinya, akan ada upaya lanjutan. Di antaranya menemui sejumlah pengungsi Rohingya yang terdampar di beberapa tempat di provinsi paling barat Indonesia.

Suyoto menyebutkan, ada dua upaya yang harus cepat dilakukan. Pertama, akan ditawarkan bagi beberapa orang di Bojonegoro untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak etnis Rohingya. Selain itu, anak asuh juga ditawarkan ke sejumlah panti asuhan di Bojonegoro.

Nantinya, pemerintah Bojonegoro akan membantu, untuk beberapa hal. Misalnya, selain mengasuh anak-anak Rohingya, juga bagaimana masa depan, pendidikan, dan lainnya.

Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah Aceh, saat ini terdapat 1.704 pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh. Mereka ditampung di tiga tempat, yakni Kabupaten Aceh Utara, Kota Langsa, dan Kabupaten Aceh Timur.

Pemerintah Aceh dan warga setempat tetap memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi, sambil berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk penanganan lebih lanjut.

[tempo.co]

 

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Bupati Bojonegoro Berniat Asuh Anak Pengungsi Rohingya

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

Beberapa waktu yang lalu, pernah saya menulis di majalah kita ini sebuah artikel yang berjudul “Sikap Politik Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” (Salafy Ed. Xxvii Th. 1419/1998 Hal. 4 S/D 9). Ketika itu saya sangat meyakini bahwa demikian itulah sesungguhnya sikap politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Namun setelah beberapa waktu ini, saya mentelaah lebih banyak lagi keterangan para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Akhirnya saya harus meninjau kembali apa yang saya pahami berkenaan dengan sikap politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan yang dikoreksi di sini bukanlah sikap politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tetapi pemahaman saya yang keliru di masa lalu tentang sikap politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ini adalah upaya menunaikan tanggung jawab sebagai da’i (juru da’wah) di jalan Allah. Untuk keperluan ini, saya telah menulis di Majalah SALAFY ed. 2 th. 5 hal. 19 s/d 26 dengan sub judul : Menentang Kesalahan Dan Kemungkaran Pemerintah. Dimana dalam tulisan tersebut saya uraikan landasan pemikiran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam perkara sikap politiknya.

Namun baru saja saya menjelaskan landasan pemikiran dan belum masuk kepada bantahan terhadap berbagai kerancuannya, muncul tulisan di sebuah majalah, artikel yang membantah tulisan tersebut. Isi bantahan itu tentu saja dengan gaya bahasa remaja emosional dengan ilmu taqlid yang sesungguhnya sudah dibuang jauh-jauh oleh prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka dari itu, saya harus menuntaskan tulisan saya itu dalam mengoreksi berbagai kerancuan yang terjadi dalam tulisan yang pernah saya lansir dalam artikel di masa lalu. Agar semua pihak mempunyai kejelasan tentang permasalahan sikap politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tersebut.

Hal yang perlu saya koreksi dalam artikel ini adalah hukum mencerca penguasa di depan umum. Karena perkara inilah yang saya yakini telah terjadi kesalahan pemahaman padanya bila ditinjau dari pandangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan kesalahan dalam memahami masalah ini justru dilansir besar-besaran oleh para muqallidin (orang-orang yang taqlid buta dalam beragama), seakan-akan hanya keyakinan merekalah yang sesungguhnya sebagai keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa saja yang menyelisihi keyakinan mereka, dianggap sesat dan menyimpang dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Demikianlah malapetaka hizbiyyah yang sedang melanda da’wah Salafiyah.

Hadits-Hadits Tentang Mencerca Penguasa Di Depan Umum

Tampaknya sumber permasalahan dalam perkara ini adalah adanya hadits-hadits yang menyatakan larangan Nabishallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam untuk mencerca penguasa di depan umum. Permasalahannya bukan pada pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, tetapi terletak pada shahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Sebagian Ulama’ menganggap shahih hadits-hadits tersebut, sehingga merasa yakin bahwa apa yang diberitakan dalam hadits-hadits itu adalah pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang harus ditaati. Sebagian Ulama’ yang lainnya meyakini bahwa hadits-hadits itu lemah riwayatnya sehingga diyakini oleh kelompok Ulama’ ini bahwa apa yang tertera di situ bukanlah pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dengan sebab itu tidak bisa dijadikan dalil pengharaman satu masalah yang hukum asalnya halal. Kedua golongan Ulama’ ini tentu telah sepakat, bahwa bila sebuah hadits telah diyakini shahih, maka yang ada padanya adalah pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam dan harus ditaati.

Kedua golongan Ulama’ dalam permasalahan hadits-hadits yang melarang mencerca penguasa itu adalah sama-sama Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Perbedaan pendapat para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam permasalahan shahih dan tidaknya satu hadits, sesungguhnya bukanlah permasalahan yang perlu dipertentangkan. Tetapi yang sesungguhnya membikin ribut itu adalah para muqallidin, sehingga muncullah stempel-stempel dhalim dari golongan ini. Oleh karena itu, mari berikut ini kita bincangkan kedudukan hadits-hadits yang berkenaan dengan larangan mencerca penguasa didepan umum.

Adapun hadits-hadits yang diperdebatkan dalam masalah ini adalah sebagai berikut : Hadits riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah, riwayat Ahmad dalam Musnadnya, dan riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya yang menyatakan sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah menyatakannya di depan umum dengan terang-terangan. Hendaklah ia memegang tangan penguasa itu (dan mengajaknya ke tempat tersembunyi –pent). Maka bila penguasa itu mau mendengar nasehat tersebut, itulah memang yang diharapkan. Tetapi bila tidak mau mendengar nasehat itu, sungguh penasehat itu telah menunaikan apa yang diwajibkan atasnya”.

Dalam sanad hadits ini ada beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 3 halaman 290, terdapat pada sanadnya seorang rawi yang bernama Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ bin Zuraiq Al Humshi. Al Imam Adz Dzahabi mengomentari sanad Al Hakim ini dengan menyatakan : “Aku katakan : Ibnu Zuraiq adalah rawi yang lemah”.
  2. Riwayat Ahmad dalam Musnadnya jilid 3 hal. 403, dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Syuraih bin Ubaid Al Hadrami. Terhadap sanad Imam Ahmad ini, Al Hafidl Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Al Haitsami memberikan komentarnya dalam kitabnya Majma’uz Zawa’id Wa Manba’ul Fawa’id jilid 5 halaman 229 sebagai berikut : “Sanadnya riwayat Ahmad ini adalah orang-orang kepercayaan. Hanya saja aku tidak mendapati keterangan bahwa Syuraih mendengar riwayat ini dari Iyadl dan Hisyam, walaupun Syuraih adalah seorang Tabi’ie”.
  3. Riwayat Ibnu Abi A’shim dalam As Sunnah hadits ke 1096 , dalam sanadnya juga Syuraih bin Ubaid yang terputus sanadnya dari Iyadl bin Ghanim dan Hisyam bin Hakim. Dalam riwayat ke 1097 dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ismail bin Ayyasy Al Humshi. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Taqribnya menyatakan tentangnya : “Mereka para Ulama’ mencercanya karena dia meriwayatkan dari bapaknya tanpa mendengarnya sendiri”. Sedangkan dalam riwayat ke 1098 terdapat rawi yang bernama Abdul Hamid bin Ibrahim Abu Taqiy Al Hadrami Al Humshi. Orang ini dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Taqribut Tahdhib : “Dia orang yang shaduq(yakni benar ucapannya), hanya saja kitab-kitab catatannya hilang sehingga rusaklah hafalannya”.
  4. Riwayat At Thabrani dalam Mu’jam

Hadits-hadits ini lemah pada sanadnya masing-masing. Sehingga Al Imam Al Hafidl Abi Ja’far Muhammad bin Amer bin Musa bin Hammad Al Uqaili Al Makki dalam Adh Dhu’afa’ Al Kabir jilid 3 halaman 60 ketika menguraikan tentang rawi bernama Abdul A’la bin Abdullah bin Qais (rawi ke 1022) menyatakan : “Tidak ada satu hadits shahihpun dalam perkara ini”.

Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah ketika saya menanyakan kepada beliau : “Mengapa yang mulia mencerca pemerintah dalam berbagai ceramah di depan umum padahal terdapat beberapa hadits yang menyatakan larangan Nabishallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam untuk mencerca penguasa di depan umum ?”. Maka beliaupun menjawab : “Semua hadits-hadits itu lemah pada sanadnya !”.

Pada waktu itu aku menyangka bahwa yang mempunyai anggapan demikian itu hanyalah Syeikh Muqbil. Namun setelah Syeikh Muqbil membimbingku untuk merujuk kepada kitab Adl Dlu’afa’ Al Kabir karya Al Imam Al Uqaili dan aku menelaah lebih lanjut, ternyata Al Imam A Uqaili telah menyatakan demikian, jauh sebelum Syeikh Muqbil. Lebih-lebih lagi setelah saya mentelaah berbagai sanad hadits-hadits itu, ternyata apa yang dinyatakan oleh beliau-beliau memang benar terbukti.

Beberapa Kejanggalan Ulama’ Yang Menshahihkan Hadits Ini

Dalam hal ini yang paling menonjol adalah Al Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Karena itu uraian di sini tertumpu pada beberapa kritik pada keterangan beliau dalam menshahihkan hadits-hadits tersebut. Syeikh Al Albani dalam menshahihkan hadits-hadits ini menerangkan sebagai berikut :

(Setelah beliau menukil keterangan Al Hafidl Al Haitsami yang menegaskan bahwa Syuraih bin Ubaid Al Hadrami tidak mendengar riwayat tersebut dari Iyadl dan Hisyam, beliau mengomentari) “Aku katakan, sesungguhnya Al Haitsami mengemukakan catatan demikian, karena Syuraih meriwayatkan hadits dari sekelompok Shahabat Nabi dalam keadaan dia tidak mendengar langsung dari mereka sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya At Tahdzib. Meskipun, Al Bukhari menyatakan bahwa Syuraih mendengar langsung riwayat dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dan juga Ibnu Makula menyatakan bahwa Syuraih mendengar langsung riwayat dari Fadhalah bin Ubaid, wallahu a’lam. Akan tetapi sanad Syuraih ini telah ditopang oleh sanad Al Hakim dalam Mustadraknya dari jalan Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ bin Zibriq Al Humshi”. Demikian penjelasan Syeikh Al Albani rahimahullah.

Meriwayatkan satu hadits dalam keadaan tidak mendengar sendiri riwayat itu, diistilahkan oleh para Ahli Hadits sebagai periwayatan dengan cara mursal. Yakni dia sesungguhnya mendengar hadits itu dari narasumber lain, namun yang disebutkan olehnya dalam periwayatan hadits itu ialah nara sumber yang tidak dia temui dan tidak dia mendengarnya sendiri. Cara periwayatan yang demikian itu termasuk keaiban yang dicerca oleh para Ulama’. Hal ini terjadi pada cara periwayatan yang dilakukan oleh Syuraih bin Ubaid dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari para Shahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Sehingga riwayat Syuraih adalah riwayat yang lemah atau dengan kata lain tidak akurat. Namun Syeikh Al Albani membela riwayat Syuraih ini dengan dua cara :

1]. Dikatakan oleh beliau bahwa Al Bukhari menyatakan bahwa Syuraih mendengar langsung periwayatan hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufayan. Juga Ibnu Makula menyatakan bahwa Syuraih mendengar langsung periwayatan hadits dari Fadhalah bin Ubaid. Apa yang dinukil oleh Al Albani di sini dari pernyataan Al Bukhari dan Ibnu Makula, telah dibantah oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tahdzibut Tahdzib jilid 4 halaman 300, sebagai berikut : “ Ibnu Abi Hatim menyatakan dalam kitab Al Marasil dari bapaknya : Syuraih tidak menemui hidupnya Abu Umamah Al Bahili, dan tidak pula menemui hidupnya Al Miqdam bin Ma’dikariba, dan tidak pula menemui hidupnya Al Harits bin Abil Harits, dan Syuraih meriwayatkan hadits dari Abi Malik Al Asy’ari dengan cara mursal. Sampai di sini pernyataan Abi Hatim yang dinukil oleh Ibnu Abi Hatim. Dan apabila Syuraih tidak menemui hidupnya Abi Umamah yang meninggalnya belakangan (meninggal th. 86 H –pent), maka tidak mungkin lagi dia menemui zaman hidupnya Abu Darda’ (meninggal th. 324 H). Dan sungguh aku sangat heran dengan sikap penulis (yakni Al Mizzi), bagaimana dia memastikan bahwa Syuraih tidak berjumpa dengan orang-orang yang disebutkan di sini, namun dia tidak menerapkan teori yang serupa dalam perkara Al Miqdad, yang beliau ini telah wafat sebelum Sa’ad bin Abi Waqqash. Demikian pula Abu Darda’, Abu Malik Al Asy’ari dan banyak lagi yang lainnya dari kalangan para Shahabat Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang disebutkan bahwa Syuraih telah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam dari mereka, dan Allahlah yang memberi taufiq kepada para hambaNya”.

Jadi pernyataan Al Bukhari dan Ibnu Makula yang menegaskan bahwa Syuraih mendengar riwayat hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Fadhalah bin Ubaid adalah pernyataan yang sangat diragukan kebenarannya, dengan keterangan Ibnu Hajar Al Asqalani sebagaimana tersebut di atas. Karena menurut penelitian Ibnu Hajar Al Asqalani, Syuraih tidak ketemu dalam hidupnya di dunia ini dengan Abu Umamah Al Bahili yang merupakan Shahabat Nabi yang paling akhir meninggal. Kalau tidak ketemu Abu Umamah, tentu lebih-lebih lagi beliau tidak mungkin ketemu Mu’awiyah dan Fadhalah yang meninggal lebih dahulu sebelum Abu Umamah.

2]. Pembelaan Al Albani berikutnya terhadap riwayat ini ialah bahwa riwayat Syuraih ditopang dengan riwayat Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ bin Zibriq Al Humshi yang mendapatkan riwayat ini dari bapaknya sebagaimana dibawakan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya. Sementara Amer bin Ishaq ini adalah seorang rawi yang lemah sebagaimana dinyatakan oleh Al Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhis – nya. Dan riwayat Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ bin Zibriq Al Humshi ini tidak bisa ditopang oleh sanad lemah yang lainnya. Karena dalam riwayat ini disamping kelemahan itu pada Amer bin Ishaq, juga kelemahan lainnya ialah bahwa dia meriwayatkan hadits ini dari bapaknya yang bernama Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ Al Humshi Ibnu Zibriq. Bapaknya Amer ini disamping adanya Ulama’ yang memujinya, juga ada yang mencercanya dengan cercaan yang berat. Yang mencercanya ialah Ulama’ Ahli Hadits dari negeri Humshi bernama Muhammad bin Auf At Tha’i yang mengatakan bahwa Ishaq bin Al Ala’ Al Humshi ini adalah pendusta. Disamping itu Al Imam An Nasai menyatakan tentangnya : “Dia ini bukan orang kepercayaan”. Juga Al Imam Abu Dawud menyatakan tentangnya : “Dia ini riwayatnya tidak ada nilainya sama sekali”.

Demikian penilaian para Ulama Ahli Hadits terhadap rawi yang bernama Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ Al Humshi Ibnu Zibriq dan juga penilaian para Ulama’ tersebut tentang bapaknya Amer yakni Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ Al Humshi Ibnu Zibriq, sebagaimana yang telah dibawakan keterangan ini oleh Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Mizanul I’tidal jilid 1 halaman 181. Dan juga dibawakan keterangan yang demikian oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Taqribut Tahdzib berkenaan dengan Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ Al Humshi Ibnu Zibriq.

Maka dengan kenyataan yang demikian ini semua, sungguh sangat aneh bila riwayat Al Hakim yang sedahsyat ini kelemahannya dikatakan sebagai riwayat penopang bagi riwayat Syuraih bin Ubaid. Padahal riwayat dari pendusta seperti ini, tidak bisa sama sekali untuk dijadikan penopang riwayat lemah lainnya dan juga tidak bisa ditopang oleh riwayat lain untuk meningkat menjadi Hasan apalagi menjadi shahih.

Maka dengan berbagai kelemahan fatal sanad-sanad hadits ini, amat dipertanyakan kebenarannya bila Syeikh Al Albani menyimpulkan :

“Maka hadits ini shahih dengan terkumpulnya berbagai sanadnya, wallahu a’lam”. Kemudian Syaikh Al Albani menambahkan : “Dan hadits ini diperkuat lagi ma’na yang terdapat padanya dengan hadits mauquf pada Abdullah bin Abi Aufa yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya jilid 4 halaman 382 – 383 dengan sanad yang hasan”. (Dzilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah halaman 516).

Riwayat Ahmad ini juga ada kelemahan padanya, yaitu terdapat dalam sanadnya Hasyrad bin Nubatah yang dikatakan oleh Abu Hatim bahwa dia ini orang shaleh dan hadits yang diriwayatkannya boleh ditulis tapi tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Kemudian terdapat pula dalam sanadnya seorang rawi bernama Sa’id bin Jumhan dimana Al Imam Al Bukhari menyatakan bahwa dia ini dalam riwayatnya terdapat berbagai keanehan. Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan bahwa rawi ini meriwayatkan beberapa riwayat yang ganjil dan hadits ini termasuk riwayat-riwayat yang ganjil yang diriwayatkannya.

Maka kalau Al Albani menyatakan bahwa riwayat Ahmad ini sebagai pendukung makna bagi riwayat-riwayat yang lemah tersebut di atas, ini juga merupakan keanehan pada keterangan beliau. Mengapa beliau mengabaikan riwayat yang jauh lebih kuat dari riwayat Ahmad ini yang amat bertentangan dengan makna hadits-hadits dhaif (lemah) tersebut di atas dan kemudian berpegang dengan riwayat yang lemah. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya telah diriwayatkan perbuatan Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang senior bernama Abu Said Al Khudri dan Abu Mas’ud Al Anshari yang keduanya mencerca di depan umum (yakni di depan jama’ah shalat hari raya di lapangan) terhadap perbuatan gubernur Al Madinah An Nabawiyah yang bernama Marwan bin Al Hakam yang membikin khutbah terlebih dahulu sebelum shalat ied (Shahih Al Bukhari hadits ke 956, juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya hadits ke 889). Al Hafidl Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari jilid 2 halaman 450 menyatakan : “Dan telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari jalan Thariq bin Syihab, bahwa beliau menyatakan : Yang pertama kali menjadikan khutbah hari raya di dahulukan atas shalatnya ialah Marwan. Maka berdirilah seorang pria mengatakan kepadanya : Shalat sebelum khutbah. Maka Marwan mengatakan : Sungguh telah ditinggalkan perbuatan yang seperti itu. Terhadap perbuatan orang itu (Yakni menegur penguasa di depan umum) berkatalah Abu Said Al Khudri : Adapun orang ini sungguh telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya”.

Perbuatan dua orang Shahabat Nabi yang senior ini dilakukan di Al Madinah An Nabawiyah ketika para Shahabat Nabi masih banyak yang hadir dalam peristiwa tersebut. Dan tidak ada seorang Shahabat Nabipun yang mengingkari perbuatan keduanya diamana keduanya mencerca penguasa di depan umum. Dengan demikian amat jelas, bahwa mencerca penguasa didepan umum tidak dianggap sebagai perbuatan yang salah oleh para Shahabat Nabi, minimal yang hadir dalam shalat ied di lapangan itu. Lalu dimanakah letak hadits-hadits yang menyatakan larangan mencerca penguasa di depan umum ? Apakah mungkin ribuan Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang hadir disitu tidak ada yang tau tentang larangan tersebut sehingga semuanya diam ketika kedua Shahabat senior ini “melanggar” larangan tersebut ?! Demikianlah beberapa keanehan Ulama’ yang menshahihkan hadits-hadits larangan mencerca penguasa di depan umum.

Kesimpulan Dan Penutup

Dari uraian tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa permasalahan larangan mencerca penguasa di depan umum itu bukanlah permasalahan ushul bagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam artian, bahwa masalah ini tidak bisa dipakai sebagai patokan untuk menilai apakah seseorang itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau bukan. Dan juga tidak bisa dipakai sebagai alat untuk memvonis bahwa orang yang mencerca penguasa di depan umum itu berarti mengikuti pemahaman khawarij dan menyimpang dari jalan pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Bagaimana mungkin sikap mencerca penguasa di depan umum itu dijadikan patokan untuk menilai pelakunya sebagai khawarij, padahal terdapat kalangan Shahabat dan Tabi’in yang mencerca penguasa di depan umum dan bahkan memberontak kepada penguasa yang dianggap telah melakukan kekafiran yang nyata. Dari kalangan Shahabat dan Tabi’in itu antara lain ialah Abu Thufail Amir bin Watsilah Al Kinani[1] yang memobilisasi kaum Muslimin untuk memberontak kepada Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqfi dan mendukung pemberontakan Abdurrahman bin Al As’ats. Juga Uqbah bin Abdil Ghafir Al Azdi[2] dan juga para Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari kalangan Tabi’in, seperti Al Hasan Al Basri, Sa’id bin Jubair, Amir bin Syarahil Asy Sya’bi, Ibnu Kumail dan lain-lainnya. Dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil tidak ada pernyataan dari para Imam Ahlus Sunnah yang menganggap mereka ini sebagai Khawarij. Bahkan tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang-orang yang keluar dari kedududkan mereka sebagai Ahlus Sunnah Wal jama’ah.

Adalah bukan akhlaq Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bila seseorang menjadikan permasalahan furu’ ini sebagai permasalahan ushul (pokok). Permasalahan furu’ itu adalah permasalahan yang masih menjadi perdebatan para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan belum disepakati. Sedangkan masalah ushul itu adalah permasalahan yang telah disepakati oleh para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Tuntunan akhlaq Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam permasalahan furu’ ini, ialah hendaknya kita mengikuti mana pendapat yang paling kuat dipandang dari sisi dalilnya dan kemudian tidak memvonis pihak lain yang mengikuti pendapat lainnya. Semoga Allah Ta’ala membimbing kita ke jalanNya yang diridhoiNya dan menyelamatkan kita dari hawa nafsu yang terus-menerus mengajak kepada kesesatan. Amin ya Mujibas sa’ilin. Wallahu a’lamu bi shawab.

Footnote :________________

1). Beliau adalah salah seorang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam.

2). Menurut Al Imam At Thabari, beliau ini adalah salah seorang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallamsebagaimana hal ini dinyatakan dalam Tarikh At Tabari jilid 6 halaman 341.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Hukum Mencerca Penguasa Didepan Umum

ACEH – Seorang warga Muslim Rohingya yang pergi dari negaranya sendiri, yakni Myanmar mengaku sudah berbulan-bulan mengapung di air tanpa persediaan bahan makanan pokok yang mencukupi untuk seluruh penumpang kapal yang ia tumpangi.

Suara Hasan Ali lirih saat menceritakan perjalanannya di laut hingga berakhir di Indonesia. Seperti warga minoritas Muslim Rohingya lainnya, Hasan adalah pelarian dari diskriminasi dan kekejaman yang diterimanya umat Budha dan pemerintah Budha di Myanmar.

Hasan bersama lebih dari 300 warga Muslim Rohingya dan Bangladesh diselamatkan oleh warga Desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur pada Rabu (20/5/2015) dini hari. Mereka kemudian ditempatkan di meunasah, diberi pakaian, mandi dan makan sepuasnya, dari hasil swadaya masyarakat setempat.

Warga Muslim Rohingya Menangis Saat Melihat Nasi & Lauk

“Tiga bulan kami tidak makan, kini kami makan,” kata Hasan sambil terisak saat diberikan dua piring berisi penuh nasi dan lauk oleh warga desa, pada Rabu (20/5/2015). Melihat Hasan menangis, warga lainnya juga ikut meneteskan air mata.

Hasan mengatakan, dirinya pergi dari Myanmar dibantu oleh seorang warga Rohingya yang telah hidup makmur di Thailand bernama Anwar. Bersama ratusan warga Muslim Rohingya lainnya, Hasan ditempat di kapal yang dilarung ke laut.

Kehidupan mereka di laut mengenaskan. Kapal mereka dirusak oleh lima orang Myanmar. Pria 33 tahun ini menceritakan, di tengah laut lima orang warga Myanmar tiba-tiba datang, membawa makanan dan minuman untuk ditukar dengan bagian mesin kapal.

“Mesin diangkat, bensin juga dibawa. Ditukar dengan beras, air, cabe dan garam,” ungkap Hasan.

Kapal mereka tidak diperbolehkan merapat ke Thailand dan Bangladesh. Bantuan dari kedua negara tersebut hanya berupa makanan seadanya, dilemparkan dari helikopter. Pasokan yang tipis, Hasan hanya makan sehari sekali, minum dua kali sehari.

“Ada dapur di kapal, untuk memasak nasi dan garam. Mie instan kami makan mentah tanpa dimasak,” kata Hasan.

Untuk diketahui bersama, Hasan diselamatkan oleh para nelayan di desa Simpang Lhee pada Rabu (20/5/2015) dini hari tepat di saat persediaan makanan mereka habis. Kini dia bisa memakai pakaian yang layak, makan yang kenyang, dan tanpa rasa takut akan kehilangan nyawa di laut.

Sampai saat ini masih ada ribuan warga Muslim Rohingya yang ditampung di beberapa lokasi di Aceh. Sebagian tiba pekan lalu saat kapal mereka mencapai pantai Lhokseumawe dan Langsa.

Sementara itu, menurut data yang ada menyebutkan jika jumlah imigran asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di Aceh telah mencapai 1.346 orang. Jumlah ini belum termasuk ratusan imigran yang terdampar di perairan Aceh pada Rabu (20/5/2015) pagi.

Sedangkan warga Muslim Myanmar dan Bangladesh yang masih terkatung-katung di lautan lepas yang diperkirakan berjumlah sekitar 7.000 orang.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah 3 Bulan Tak Makan, Warga Muslim Rohingya Menangis Saat Melihat Nasi & Lauk di Aceh

ACEH – Total dana bantuan kemanusiaan yang tersalurkan untuk pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh di Provinsi Aceh selama 10 hari terakhir tercatat mencapai hampir Rp1 miliar.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menegaskan dana bantuan kemanusiaan yang mengalir kepada sekitar 1.800 pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar dan warga Bangladesh bukan berasal dari Pemerintah pusat atau Anggaran penerimaan dan belanja Aceh (APBA).

Pasalnya, persoalan pengungsi Rohingya merupakan urusan pemerintah pusat dan antar-negara. Gelontoran dana berasal dari sumbangan masyarakat, baik dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal maupun internasional.

Sumbangan Dari Warga Aceh Untuk Rohingya Capai Hampir 1 Miliar

“Saya kira kurang dari Rp1 miliar yang dari daerah untuk 1.800 pengungsi. Ini bukan dari APBD, tapi dari masyarakat,”ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Rabu(20/5/2015).

Wakil Presiden Jusuf Kalla menambahkan pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya yang ada di Indonesia. Sayangnya dia enggan menyebutkan lebih rinci jumlah dana khusus yang disediakan.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Sumbangan Dari Warga Aceh Untuk Rohingya Capai Rp 1 Miliar, Dari Pemerintah Belum Jelas

Pertanyaan:

Apakah ada larangannya jika kitab suci Alquran dijadikan mas kawin pernikahan?

Jawaban:

Mahar adalah sesuatu yang diberikan oleh suami kepada istrinya dengan sebab pernikahan. Mahar itu bisa berbentuk harta benda atau jasa. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(QS. An-Nisa: 4).

Mahar termasuk syarat sah pernikahan. Adapun dalil mahar berupa harta benda atau jasa, disebutkan dalam hadis berikut ini,

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu’anhu, ia mengatakan, “Seorang wanita mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatakan bahwa dia menyerahkan dirinya untuk Allah dan rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian nabi menjawab, ‘Aku (sekarang ini) tidak membutuhkan istri.’ Maka seorang laki-laki mengatakan, ‘Nikahkanlah aku dengannya.’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berikan sebuah baju untuknya.’ Laki-Laki itu menjawab. ‘Aku tidak punya.’ Nabi melanjutkan, ‘Berikanlah sesuatu walaupun cincin dari besi.’ Laki-laki itu pun kembali menyatakan dia tidak punya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang engkau hapal dari Alquran?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Surat ini dan surat ini.’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kami telah menikahkanmu dengan wanita itu dengan Alquran yang ada padamu.’ (HR. Bukhari, no. 5029).

Di dalam hadis ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan laki-laki tersebut memeberikan barang kepada wanita tersebut. Hal ini sebagai dasar argumentasi dibolehkannya memberikan mahar berupa barang kepada calon mempelai. Karena laki-laki tersebut tidak memiliki materi untuk ia berikan maka nabi memerintahkannya untuk memeberikan mahar berupa hapalan Alquran yang bisa ia ajarkan. Intinya mahar adalah sesuatu yang memiliki harga di masyarakat, baik berupa barang atau jasa.

Mas Kawin Al Quran, Bolehkah?

Mengajarkan Alquran adalah sesuatu yang bisa mendatangkan materi. Adapun Alquran itu sendiri, kalau seandainya bisa dijual lagi atau bisa memberikan nilai tukar dan bisa dihargai maka Alquran bisa dijadikan mahar. Namun, apabila di suatu masyarakat Alquran secara zatnya tidak bisa dihargai atau ditukar dengan materi, maka tidak bisa dikatakan ia bisa menjadi mahar.

Allahu a’lam.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Mas Kawin Al Quran, Bolehkah?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya tentang wirid ayat-ayat yang dibaca ketika seorang wanita kesulitan untuk melahirkan.

Beliau menjawab, apabila seorang wanita merasa kesulitan untuk melahirkan, maka dia dibacakan ayat-ayat berikut ini dan juga surat Al-Zalzalah di air (minum) kemudian wanita tersebut agar meminum sebagian airnya dan sebagian lainnya diusapkan ke bagian perutnya. Insya Allah, dia akan melahirkan dengan mudah -dengan izin Allah- dan hal ini telah banyak di praktikkan.

“Dan Kami turunkan al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Israa': 82)

Beberapa Ayat yang Dapat Dibaca Saat Sulit Melahirkan

1. Surat Ar-Rad: 8

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”

2. Surat Fathir: 11

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lohmahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”

3. Surat An-Nahl: 78

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

4. Dan surat Al-Zalzalah: 1 8

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Beberapa Ayat yang Dapat Dibaca Saat Sulit Melahirkan

Dakwah Jateng – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan setuju jika Pemerintah Indonesia menerima Etnis Muslim Rohingya asal Myanmar yang saat ini sudah mencapai ratusan orang yang terdampar di Aceh.

“Ada ketentuannya memang, tapi saya pribadi senang sekali Etnik Rohingya Myanmar bisa diterima di Indonesia karena kebetulan mereka tak berwarga negara dan mereka juga Muslim. Indonesia akan berbesar hati karena masih banyak pulau yang belum dihuni,” katanya di Pekanbaru, Senin (18/05/2015) malam.

Menurut Din yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, dari 17 ribu pulau yang ada di Indonesia baru 1/2 saja yang dihuni. Ibaratnya, lanjut dia, diberi satu pulau saja sudah cukup dan biarkan mereka hidup di pulau itu.

“Ini pilihan yang baik, saya termasuk orang yang setuju. Tapi tidak perlu pakai petisi, sampaikan saja ke presiden dengan baik,” ungkapnya.

Namun, dia juga mengatakan hal itu akan ada konsekuensinya karena sekali dibuka, maka orang juga akan berbondong-bondong datang ke Indonesia, apalagi Indonesia saat ini masih punya banyak masalah juga. “Tapi dipilah-pilah lah,” imbuhnya.

Untuk saat ini, dia sebagai Ketua MUI mengimbau umat Islam dan organisasi masyarakat yang lokasinya dekat dengan pengungsi seperti di Aceh, Sumut, dan Kepulauan Riau mengulurkan tangan membantu Etnis Rohingya itu, karena sifatnya mendesak dan mereka juga sesama Muslim.

Terkait masyarakat setempat yang menggalang dana untuk pengungsi itu, Din menyatakan hal itu patut dibanggakan, dihargai, dan apresiasi.

“Syukur Alhamdulillah, banyak yang mau membantu, ada yang mau.

Untuk ini dibantu saja, bagi Indonesia ini memang risiko. Anggap saja ini adalah ujian Allah ada orang yang terdampar di rumah kita,” tambahnya.

Etnis Rohingya, menurutnya, adalah umat yang paling menyedihkan karena dikatakan tidak memiliki kewarganegaraan, padahal secara historis Etnik Rohingya itu sudah ada lama di Myanmar, bahkan beberapa dari mereka ada yang telah menjadi tokoh pemerintahan di Yangon, ibukotanya.

Sekitar satu pekan lalu, sekitar 600 orang Etnis Rohingya asal Myanmar terdampar di Aceh Utara. Mereka mengaku tujuannya ke Malaysia, namun ditipu tekong perahu sehingga terombang-ambing di laut hingga akhirnya ditolong nelayan Aceh.

[rimanews.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Muhammadiyah Minta Pemerintah Hibahkan Pulau untuk Etnis Rohingya

BANDUNG – Pemimpin Daarut Tauhid yang berada di Geger Kalong, Bandung, tak lagi menutupi sikapnya terhadap Jokowi. Menurut AA Gym, tokoh dadakan yang terpilih presiden dengan suara hanya dukungan suara 53 persen, tak dapat memberikan solusi apapun, karena dia hanya ‘boneka‘.

Menurut tokoh yang dikenal dengan ‘Aa Gym alias Abdullah Gymnastiar, melihat  Indonesia dibawah Jokowi setelah enam bulan, semakin amboradul. Rakyat semakin mlarat dan terkecik dengan berbagai kenaikan harga.

Pemimpin pesantren Daarut Tauhhid itu menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi bernegara saat ini. Pria yang akrab disapa Aa Gym ini menilai, kondisi politik dan penegakan hukum di Indonesia tidak stabil dan kacau dalam enam bulan pertama pemerintahan Jokowi dan JK, ujarnya Minggu, 17/5/2015

Indonesia Semakin Amburadul di Bawah Jokowi

“Banyak partai politik yang pecah. Padahal partai merupakan fondasi untuk membangun negeri. Masyarakat juga pasti merasakan KPK semakin lemah,” kata Aa Gym kepada wartawan di Bandung, kemarin.

Menurut AA Gym masalah pokok dan menjadi pangkalnya yaitu dua persoalan tadi adalah kepemimpinan yang lemah dan tidak mandiri. Tanpa menuding satu pihak, dia menyebut ada kekuasaan besar yang mengendalikan presiden.

“Sekarang memang terasa seperti itu. Tidak ada gebrakan apapun. Ada penguasa lain yang bermain di belakang presiden. Itu yang membuat presiden kita lemah,” ujarnya.

Perselisihan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri jadi sorotan pengasuh Pesantren Daarut Tauhiid ini. Aa Gym melihat adanya fenomena bawahan yang tidak patuh terhadap atasan. Menurutnya hal tersebut tidak akan terjadi jika presiden memiliki kepemimpinan yang kuat.

“Kalau presidennya kuat dan memimpin dengan baik, bawahanmya pasti akan mengikuti dengan baik. Sebaliknya, kalau pengikutnya membangkang, kemungkinan pemimpinnya yang tidak baik. Itu rumus dasarnya,” kata Aa Gym.

Jadi apa yang bisa diharapkan  dari Jokowi? Jokowi oleh Mega disebut sebagai PETUGAS PARTAI, tak akan mampu menentang perintah titah Mega, dan inilah yang menjadi pangkal yang sebenarnya. Jokowi hanyalah bertindak atas perintah Mega dan PDIP. Tidak memiliki kemandirian.

Tentu, kelompok yang paling untung dan menikmati segalanya, termasuk asset dan kekayaan Indonesia di zaman Jokowi, tak lain : CINA! Mengapa Cina dibiarkan menguasai dan  menjarah negeri ini?

[voa-islam.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah AA Gym: Indonesia Semakin Amburadul di Bawah Jokowi

ACEH  – Ratusan pengungsi dari Myanmar dan Bangladesh resah ketika mereka diusir pergi oleh Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia. Tak disangka, mereka justru selamat karena kebaikan hati para nelayan Aceh yang membawa mereka ke darat dan memberi mereka makan.

Marzuki Ramli (45), nelayan asal Kuala Langsa, saat itu sedang bersama 30 nelayan lainnya menangkap ikan menggunakan pukat pada Kamis malam (14/5/2015). Ia berada di perahu miliknya yang berukuran 26 x 6 meter, sekitar 35 mil dari pinggir pantai.

Sebuah kapal nelayan kecil tiba-tiba melintas, dan meminta bantuan. Diketahui mereka sudah tiga bulan tarkatung-katung di lautan lepas.

“Woi, cepat pergi ke sana, ada orang yang mengapung-apung di laut. Kalau kalian terlambat datang, bisa mati semua,” kata orang itu seperti dituturkan Marzuki, dikutip Rappler, Jum’at (15/5).

Marzuki dan nelayan lainnya segera mengarah ke kerumunan orang-orang yang mengapung tersebut. Jaraknya sekitar 5 mil atau 1 jam perjalanan dari tempat mereka menangkap ikan.

Ketika sampai, para nelayan langsung menarik satu demi satu para pengungsi tersebut dari laut. Perahu Marzuki hanya sanggup menampung 250 orang.

Marzuki segera mengontak nelayan yang lain, dan datanglah 5 perahu nelayan yang membantu Marzuki mengevakuasi para pengungsi. Totalnya ada 672 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak.

“Begitu kapal nelayan merapat, para pengungsi langsung melompat ke perahu,” kata Marzuki.

Butuh dua jam bagi Marzuki dan 5 kapal lainnya untuk melakukan evakuasi tersebut, karena kondisi langit sangat gelap dan ombak yang tinggi.

Ada dua orang yang diduga preman ditinggal di tengah laut.

“Ini dari pengakuan para pengungsi bahwa ada dua orang yang disebut sering memukul, daripada berkelahi maka kami tinggal,” katanya.

Ada lagi, satu orang yang sudah meninggal dengan kondisi tangan putus di kapal juga ditinggalkan.

Nelayan memasak untuk pengungsi yang kelaparan

Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.

Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.

Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.

“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”

Ar Rahman, salah satu nelayan dari Langsa, mengatakan ia mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur.

“Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya,” jelas Ar Rahman.

“Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka,” jelas Ar Rahman, dilansir BBC Indonesia.

Proses evakuasi para pengungsi ke pelabuhan Kuala Langsa kala itu dilakukan oleh lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa.

Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.

Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.

Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.

“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.

Mereka dihalau AL karena dalih ‘kedaulatan’

Para pengungsi yang ingin pergi ke Malaysia ini ditinggalkan kapten kapal terombang-ambing di tengah laut. Ketika mereka mendekati Indonesia, mereka mengatakan kapal TNI AL menghampiri, memberi makanan dan minuman, lalu menyuruh pergi.

Dalam keadaan resah karena mesin kapal mati dan terapung-apung beberapa hari di lautan, kapal milik angkatan laut Malaysia mendekat. Lagi-lagi, mereka hanya diberi bantuan makanan dan minuman. Perahu mereka lalu ditarik ke tengah laut oleh angkatan laut Malaysia.

“Kami dilepas di tengah laut, dekat perairan Indonesia,” kata Sahidul, salah seorang pengungsi.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko membenarkan penolakan tersebut.

“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib kita bantu. Kalau ada sulit air atau makanan, kita bantu, karena itu terkait human. Tapi kalau mereka memasuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” dalih Moeldoko.

Menurut Moeldoko, bila para pengungsi dibiarkan masuk ke wilayah Indonesia, mereka akan memunculkan persoalan sosial.

“Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini,” katanya.

Saat ditanyakan bagaimana nasib para pengungsi Rohingya ini jika tak ada negara yang mau menampung, Moeldoko menolak berkomentar. Moeldoko mengatakan itu urusannya menteri Luar Negeri.

Sejumlah foto berikut menunjukkan kondisi memilukan para pengungsi Rohingya yang baru tiba di wilayah Indonesia:
ar-r1 ar-r2 ar-r3 ar-r4 ar-r5 ar-r6 ar-r7 ar-r8 ar-r9 ar-r10 ar-r11 CFB_tYWUUAAnhT6 CFCHDw0WIAAF267

[arrahmah.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Panglima TNI Tolak pengungsi Muslim Rohingya : Urus Rakyat Sendiri Saja Tidak Mudah

Usai mengumpulkan sejumlah bantuan kemanusiaan dihari pertama pembukaan Posko HTI Peduli Muslim Rohingya, sejumlah relawan HTI Langsa pada Ahad pagi tanggal 17 Mei 2015 langsung turun ke lokasi pengungsian untuk menyalurkan bantuan kepada pengungsi muslim Rohingya Myanmar dan Bangladesh yang masih berada di Pelabuhan Kuala Langsa. Selain menyerahkan bantuan, relawan HTI juga ikut berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi Rohingya yang mampu berbahasa Inggris .Posko HTI Peduli Muslim Rohing terdapat di dua tempat di Mesjid Raya Darul Falah Langsa dan di Wisma Mutiara sebagai posko penampungan bantuan logistik.[]Musri

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Buka Donasi Peduli Rohingya

Sungguh malang nasib saudara-saudara kita Muslim Rohingya. Sebagian mereka dibantai oleh rezim Budha Miyanmar, rumah, sekolah, masjid, dan kampung mereka dibakar. Mereka diusir dari negeri mereka sendiri dan mengungsi ke negeri-negeri lain seperti Bangladesh, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Namun yang menyedihkan mereka ditolak, perahu mereka dihalau dan terapung-apung di laut dalam keadaan lapar dan dahaga. Sebagian mereka berhasil ditolong dan terdampar di Aceh dan Sumatera. Inilah akibat dari ketiadaan Khilafah yang melindungi umat Islam dan yang mempersatukan umat Islam yang terpecah belah .Sungguh hanya Khilafah yang diharapkan dapat menyelamatkan kaum muslimin yang ditindas secara menyeluruh.

Untuk membantu meringankan penderitaan pengungsi Rohingya Hizbut Tahrir Indonesia membuka Donasi Peduli Rohingya. Uluran tangan anda dibutuhkan. Dengan Bantuan tersebut semoga Allah Swt meringankan mereka dan hisab kita di akhirat kelak. Amin

Salurkan Bantuan anda ke Rekening:

BSM 7002737005 an. Hizbut Tahrir Indonesia
BNI Syariah 0177325530 an Hizbut Tahrir Indonesia

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Hizbut Tahrir Indonesia Salurkan Bantuan Untuk Pengungsi Rohingya

loading...
Powered by Blogger.