Oleh : Choirul Anam, MSi.

Selain masalah hadits ahad, hal lain yang paling banyak digunakan untuk menyesatkan Hizbut Tahrir (HT) dan mencela Syeikh Taqiyuddin An-Nabhany adalah masalah qodlo dan qodar. Dikatakan oleh mereka bahwa Syeikh Taqiyuddin menolak qodlo dan qodar di dalam kitab beliau, yaitu Kitab Nidzomul Islam dan Kitab Syakhsiyyah Islamiyyah Jilid I.

Benarkah HT menolak qodlo dan qodar?

Tulisan ini tidak akan membantah orang-orang yang mengatakan bahwa HT sesat atau mencela Syeikh Taqiyuddin, sebab berbantah-bantahan dalam masalah ini tidak ada gunanya dan tidak menghasilkan apapun kecuali bangkitnya rasa benci diantara sesama umat Islam. Orang yang memang sudah terlanjur tidak senang, apalagi di hatinya ada kedengkian, memang tidak akan pernah menerima argumentasi apapun dari pihak yang dibenci atau didengki. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu.

Tulisan ini hanya akan memdudukkan masalah ini apa adanya, sehingga kita semua mengetahui hakikat yang sebenarnya. Para ikhwan yang tidak sependapat, juga dipersilahkan.

*****
Dalam masalah qodlo dan qodar ini sebenarnya ada tiga pembahasan, yang seharusnya dibahas secara berbeda.

Pertama, pembahasan tentang qodlo. Istilah ini membahas tentang perbuatan Allah swt. Sumber pembahasan ini adalah al-qur’an dan hadits.

Kedua, pembahasan tentang qodar. Istilah ini juga membahasa tentang perbuatan Allah swt dan sumber pembahasannya juga berasal dari al-qur’an dan hadits.

Dua istilah tadi, yakni qodlo dan qodar, merupakan bagian dari keimanan di dalam Islam, sehingga siapapun yang menolaknya, ia adalah orang kafir.

Ketiga, pembahasan tentang qodlo-qodar. Qodlo dan qodar di sini digabung dalam satu frase. Penggabungan ini akan memberikan makna dan arti yang berbeda dari kata penyusunnya. Dalam bahasa Arab, penggabungan ini membentuk tarkib-mazji. Penggabungan kata dalam satu frase biasanya akan memmiliki arti sendiri yang berbeda dengan istilah penyusunnya. Contoh, istilah “rumah-tangga”. Rumah-tangga tersusun dari “rumah” dan “tangga”. Arti “rumah” semua orang sudah tahu (yaitu tempat tinggal), arti “tangga” semua orang juga sudah tahu (yaitu alat yang biasanya dipakai untuk menuju tempat-tempat yang tinggi). Lalu apa arti “rumah-tangga”? “Rumah tangga” artinya bukan rumah yang ada tangganya, atau tangga yang ada di dalam rumah. Tetapi arti rumah tangga adalah keluarga. Inilah yang dinamakan tarkib mazji, penggabungan dua istilah dalam satu kata.

Istilah qodlo-qodar muncul dari Yunani dan membahasa tentang perbuatan manusia. Iya, membahas tentang perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah swt. Qodlo-qodar adalah pembahasan tentang free-will atau hurriyatul irodah. Lebih detilnya, qodlo qodar adalah pembahasan tentang: “apakah manusia bebas berbuat sesuatu sesuai kehendaknya atau tidak?”. Pembahasan ini baru muncul setelah umat Islam bersinggungan dan berinteraksi dengan mereka pada abad ke dua hijriyah.

Itulah fakta istilah qodlo, qodar dan qodlo-qodar.

Asas dan sumber pembahasan berbeda. Pembahasan tentang qodlo harus menggunakan dalil (dari al-qur’an atau hadits) dan pembahasan tentang qodar juga harus dengan dalil (dari al-qur’an dan hadits). Sebab, pembahasannya tentang perbuatan Allah swt, dan manusia tidak akan pernah mengetahui tentang Allah swt, kecuali yang dijelaskan Allah melalui al-qur’an atau hadits.

Sedangkan tentang qodlo-qodar karena menjelaskan tentang perbuatan manusia, maka penjelasan faktanya tidak memerlukan dalil, tetapi cukup dilihat faktanya. Contoh, jika kita ditanya apakah bola mata kita hitam atau biru? Untuk menjawabnya kita tidak perlu sibuk mencarinya di dalam al-qur’an atau hadits, tetapi cukup dilihat faktanya dan insya Allah kita langsung tahu, apakah bola mata kita hitam atau biru. Tetapi jika yang ditanya adalah “dampak perbuatan manusia apakah berpahala atau tidak”, maka hal ini memerlukan dalil dari al-qur’an dan hadits. Sebab, tidak satu pun manusia yang mengetahui hakikat pahala dan dosa, kecuali telah dijelaskan Allah melalui al-qur’an atau hadits. Contoh: Jual beli itu halal atau haram? Riba itu halal atau haram? Dua pertanyaan ini, hanya bisa dijawab dengan dalil.

Berikut ini, akan dibahas tentang ketiga istilah tadi: qodlo, qodar dan qodlo-qodar. Pembahasan ini akan diusahakan seringkas mungkin, dan siapa saja yang ingin membahasa lebih detil sebaiknya langsung mengkaji kitab Nidzomul Islam atau kitab Syakshiyyah Islamiyyah jilid I, tetapi membahas dua kitab tersebut harus dengan guru, kalau tidak dijamin salah-paham.

*****
Pembahasan akan dimulai dari qodlo-qodar dulu.

Apakah manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak atau tidak? Untuk menjawab hal ini sebenarnya tidak sulit, asal kita mau melihat fakta secara obyektif. Selama ini pembahasan terasa sangat rumit, karena pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filsafat. Tetapi, jika mengkajinya secara faktual, pembahasan ini sangat mudah.

Fakta real tentang manusia, bahwa manusia itu hidup dalam dua wilayah. Pertama, wilayah dimana manusia bebas melakukan dan memilih perbuatannya (da’iratun yusaithiru ‘alaiha al-insan). Contoh kita mau sholat atau tidak, kita mau dakwah atau tidak, kita mau memfitnah orang atau tidak, dan lain-lain. Semua ini, merupakan pilihan bebas manusia.

Kedua, wilayah dimana manusia tidak bebas melakukan atau memilih sesuatu (da’iratun tusaithiru ‘alal insan). Dalam kondisi ini, suatu kejadian terjadi dengan terpaksa, tanpa pilihan manusia. Contoh: kita naik kendaraan sudah hati-hati, tetapi ditabrak oleh orang lain. Kita dilahirkan di Indonesia dan bola mata berwarna hitam dan kulit agak hitam. Dan lain-lain. Semua kejadian ini terjadi tanpa ada pilihan dari manusia.

Itu fakta real tentang kejadian atau perbuatan yang dialami manusia.

Berikutnya pembahasan tentang apakah perbuatan manusia itu berpahala atau tidak, maka dalam hal ini membutuhkan dalil dari al-qur’an atau hadits.

Tentang perbuatan manusia, maka Allah berfirman di dalam al-qur’an: “Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (TQS. Al-Mudatstsir [74]: 38). Dan ada ribuan ayat yang lain dan hadits yang senada, yang menjelaskan bahwa perbuatan manusia itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt. Jika perbuatannya baik, maka ia akan mendapatkan balasan dari kebaikannya, meskipun sekecil dzarroh. Jika perbuatannya buruk, maka ia akan mendapatkan balasan dari keburukannya, meskipun sekecil dzarroh.

Jadi kesimpulannya, setiap perbuatan manusia itu akan berdampak pahala atau dosa. Namun, apakah dalil yang umum tadi, ada yang mengkhususkan? Ternyata ada. Misalnya sabda Rasulullah saw riwayat Imam Abu Dawud dari Sayyidina Ali ra. Rasulullah saw bersabda: “Telah diangkat pena (artinya hukum tidak dibebankan atau perbuatan manusia tidak ada pertanggung-jawabannya) atas tiga orang. Anak kecil hingga baligh, orang yang tidur sampai bangun. Dan orang gila sampai sembuh kembali”. Dalam hadits yang lain, disebutkan: “juga dari orang-orang yang terpaksa”.

Hadits ini mentakhsis keumuman ayat di atas. Artinya, setiap perbuatan manusia itu diminta pertanggung-jawaban, kecuali yang dilakukan karena terpaksa, misalnya karena tertidur, gila, masih kecil, atau terjadi tanpa ada pilihan darinya. Kejadian itu terjadi begitu saja dan manusia tidak memiliki andil apapun.

Dengan pemahaman ini manusia harus hati-hati, karena setiap perbuatannya akan diminta pertanggung-jawaban oleh Allah, kecuali yang terjadi di luar kontrol kita. Karena itu, janganlah kita sekedar mengikuti nafsu kita, seperti suka memfitnah orang lain, meninggalkan dakwah, meninggalkan sholat, mengambil riba dan lain-lain. Sungguh rugi, manusia yang hidupanya hanya mengikuti nafsu.

Selain di akhirat akan mendapatkan siksa, orang yang melanggar ketentuan Allah swt, di dunia ia juga akan mendapat sanksi. Misalnya pencuri akan dipotong tangan, inilah hukum Allah swt tentang pencuri. Dalam hal ini, sang pencuri tidak akan pernah dibebaskan dari hukum, hanya dengan alasan bahwa pencuriannya ini didasari qodlo-qodar dari Allah swt.

Inilah pembahasan tentang qodlo-qodar dan konsekuensinya….

*****
Berikutnya pembahasan kedua tentang qodlo. Pembahasan qodlo harus dengan dalil.

Segala hal yang terjadi pada daerah yang menguasai manusia dan manusia tidak memiliki kendali, maka semua ini terjadi karena keputusan Allah swt. Inilah yang dinamakan qodlo. Sebab, memang hanya Allah swt sendirilah yang memutuskannya.

Allah swt berfirman: “(Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari. Dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari. Dan Dialah yang membangkitkan kalian untuk meneruskan (kehidupan kalian) sampai batas waktu (ajal yang ditentukan). Kemduian kepada-Nya tempat kembali kalian. Dia akan memberitahukan kepada kalian apa saja yang kalian kerjakan” (QS. Al-An’am 60). Allah berfirman: “Bencana yang terjadi di muka bumi atau atas diri kalian sendiri telah tertuang di dalam Kitab sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Al Hadid 22). Dan ribuan ayat lain dan juga hadits yang senada dengannya.

Semua kejadian yang terjadi dalam wilayah ini, betapapun besar manfaatnya atau kerugiannya, menurut manusia, maka manusia tidak akan diminta pertanggung-jawaban. Manusia dalam hal ini hanya diminta ridlo dengan ketentuan Allah swt ini.

Orang mukmin harus beriman bahwa yang menetapkan semua itu adalah Allah swt dan orang mukmin harus ridlo dengan keputusan Allah swt ini. Jika ia tidak beriman dengan qodlo atau menolaknya, ia adalah orang kafir.

*****
Terakhir pembahasan tentang qodar. Pembahasan tentang qodar juga harus dengan dalil, karena membahas tentang Allah swt.

Semua kejadian dan fenomena yang terjadi di alam ini terjadi dengan sunnatullah, karena setiap apa yang ada di dunia ini memiliki karakteristik dan sifat yang unik. Misalnya air berwujud cair, batu berwujud padat, api memiliki karakteristik untuk membakar, dan lain sebagainya. Manusia juga memiliki karakteristik yang unik, yakni memiliki kebutuhan jasmani dan nurani. Semua karakteristik yang ada di alam ini semua yang menciptakan dan menentukan adalah Allah swt. Inilah yang dinamakan dengan qodar. Sebab, hanya Allah yang meng-qodarnya (menentukannya).

Allah swt berfirman: “Sesunggunya Allah telah mngqodar (menetapkan ketentuan) bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath-Tholaq 3), Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran tertentu (qodar)” (QS. Al-Qomar 49).

Inilah qodar. Orang yang beriman harus percaya bahwa yang menetapkan segala sesuatu di dunia ini adalah Allah swt dan ridlo dengan ketentuan Allah swt. Orang yang beriman tidak akan menyalahkan hujan, atau api yang membakar, atau apapun yang telah ditetapkan Allah swt. Ia ridlo dengan semua keputusan Allah swt. Baik atau buruknya semuanya tadi (menurut pandangan manusia) berasal dari Allah swt.

Ketentuan-ketentuan itu juga tidak memaksa manusia. Misalnya, api memang memiliki sifat membakar. Pertanyaannya: membakar itu baik atau buruk? Jawabnya netral: tidak baik juga tidak buruk. Nah, jika api digunakan oleh seorang istri untuk membakar ayam guna dihidangkan ke keluarga, maka itu baik dan berpahala. Tetapi, jika api itu digunakan untuk membakar rumahnya umat Islam yang kebetulan berbeda dalam beberapa masalah furu, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat buruk dan berdosa sebab dilarang oleh Allah swt.

*****
Itulah pembahasan singkat tentang qodlo dan qodar dan konsekuensinya.

Orang yang memahami masalah ini dengan clear, maka mereka akan memliki profile sebagai berikut:

“IA AKAN BEKERJA KERAS DAN BERBUAT TERBAIK PADA WILAYAH YANG IA KUASAI DAN SANGGUP IA USAHAKAN, TETAPI IA AKAN SANGAT PASRAH KEPADA ALLAH DENGAN APAPUN YANG TERJADI DI LUAR KENDALI ATAU KEHENDAKNYA”.

Sebab, ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa di satu sisi ia diberi amanah oleh Allah swt, yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dan itu akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah swt di akhirat nanti. Sementara, di sisi lain ia yakin, seyakin-yakinnya bahwa Allah swt adalah yang berkuasa menentukan segala sesuatu di muka bumi ini. Ia akan menerima qodlo dan qodar Allah dengan ikhlas dan ridlo, meski itu tampak baik atau buruk dalam pandangan manusia.

Inilah pemahaman dan sikap yang diharapkan saat orang memahami qodlo dan qodar.

Keimanan terhadap qodlo dan qodar merupakan anugrah terbesar bagi orang-orang yang beriman, sehingga mereka akan merasa la khoufun ‘alaihim wa laa-hum yahzanuun….

Inilah kira-kira ringkasan dari pembahasan qodlo dan qodar dari kitab Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani.

Apakah penjelasan ini dapat dipahami bahwa HT dan Syeikh Taqiyuddin menolak qodlo dan qodar? Silahkan Anda menilai sendiri.

Sebagai akhir, jika ada diantara ikhwan yang kurang paham dan meminta penjelasan, insya Allah akan kami jawab sesuai kemampuan kami yang sangat terbatas. Namun, jika ada diantara ikhwan yang mengajak berdebat dalam masalah ini, mohon maaf, kami tidak biasa berdebat dan menghindari perdebatan, apalagi dalam masalah ini.

Semoga Allah swt memahamkan kita semua tentang diin-Nya dan semoga Allah menyatukan hati kaum Muslimin, sehingga mereka saling menyayangi dan berbelas-kasih, serta bersatu lagi dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Amin ya robbal ‘alamin…

Wallahu a’lam bi ash-showab.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah BENARKAH HIZBUT TAHRIR MENOLAK QODLO DAN QODAR ?

Post a Comment

Powered by Blogger.