Dakwah Jateng – Puasa di bulan ramadhan adalah salah satu rukun islam yang wajib dikerjakan oleh setiap umat muslim. Para ulama telah sepakat bahwa bagi orang tua renta yang sudah tidak bisa menjalankan ibadah puasa karena udzur dan tidak mungkin menggantinya di hari yang lain maka baginya boleh tidak berpuasa di bulan ramadhan.

Namun, muncul pertanyaan bagaimana hukumnya puasa ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui. Yang mana masih memungkinkan baginya untuk mengqadhanya di hari setelah dia tidak hamil dan menyusui lagi. Apakah wajib baginya qadha puasa saja ataukah juga harus membayar fidyah (memberi makan faqir miskin).

Dalam hal ini wanita yang hamil dan menyusui mengalami tiga macam keadaan. Yang Pertama adakalanya dia hanya khawatir terhadap dirinya sendiri jika berpuasa. Kemudian yang kedua adakalanya dia khawatir terhadap dirinya dan buah hatinya. Dan yang ketiga adakalanya dia hanya khawatir terhadap buah hatinya saja.

Mari kita simak langsung saja pemaparan para ulama 5 madzhab mengenai wanita yang hamil dan menyusui dibulan ramadhan.

Ulama’ Madzhab Hanafi

Ibnul Humam (w. 681 H) dalam kitab Fathul Qadir jilid 2 hal. 355, mengatakan bahwa seorang wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan jika dia khawatir terhadap dirinya atau anaknya maka boleh baginya tidak berpuasa dan hanya mengqadha (berpuasa di luar Ramadhan, red) di hari lain tanpa membayar fidyah.

Sementara itu, Ibnu Abdin (w. 1252 H) dalam kitab Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 2 hal. 422, mengatakan bahwa seorang wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan maka boleh baginya tidak berpuasa dan hanya mengqadha di hari lain saja. Tidak perlu baginya membayar fidyah. Dalam hal ini beliau sependapat dengan Ibnul Humam

Ulama’ Madzhab Maliki

Menurut beberapa ulama’ dari Madzhab Maliki, paling tidak disana ada dua pendapat yang berbeda terkait hal ini, berikut pemaparannya.

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) dalam kitab Al-Istidzkar jilid 3 hal 311, mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan boleh baginya tidak berpuasa dan hanya dibebani untuk membayar fidyah saja.Dan tidak perlu baginya mengqadha di hari yang lain. Dan inilah pendapat dari Imam Malik serta Sahabatnya.

Al-Qorofi (w. 684 H) dalam kitab Adz-Dzakhiroh jilid 2 hal. 515, membedakan antara ibu hamil dan ibu menyusui. Seorang ibu yang hamil boleh baginya tidak berpuasa dan baginya hanya mengqadha’ saja. Adapun ibu yang menyusui boleh baginya tidak berpuasa dan baginya hanya membayar fidyah saja.

Madzhab Asy-Syafi’i

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal 267, mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan jika dia khawatir akan dirinya sendiri maka baginya boleh tidak berpuasa dan harus mengqadha saja tanpa membayar fidyah. Dan jika dia khawatir terhadap dirinya dan buah hatinya maka boleh tidak berpuasa dan harus mengqodho saja dengan tanpa membayar fidyah. Namun jika dia hanya khawatir terhadap buah hatinya saja maka baginya harusmengqadha puasa dan wajib membayar fidyah. Dan beliau menyatakan bahwa ini juga merupakan pendapat Asy-Syafii dalam Al-Umm.

Ulama’ Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah (w. 620 H) di dalam kitab Al-Mughni jilid 3 hal. 149, mengatakan bahwa wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir terhadap buah hatinya maka baginya boleh tidak berpuasa dan harus mengqadha dan membayar fidyah. Namun jika keduanya hanya khawatir terhadap dirinya saja maka bagi mereka qadha puasa saja tanpa harus membayar fidyah.

Ulama’ Madzhab Adz-Dzahiri

Ibnu Hazm (w. 456 H) berpendapat di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar jilid 4 hal 410,  bahwa wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir akan buah hatinya maka baginya boleh tidak berpuasa tanpa harus mengqadha dan membayar fidyah. Tapi jika mereka tidak puasa itu karena sakit maka wajib bagi mereka untuk mengqadha saja.

Kesimpulan

Inilah pendapat para ulama pada tiap-tiap madzhab mengenai wanita yang hamil dan menyusui di bulan ramadhan. Jika kita perhatikan ternyata pendapat Mahzhab Dzohiri ini sangat berbeda jauh sekali dibanding dengan madzhab-madzhab yang lain. Karena menurut pendapat Madzhab Dzohiri bahwa wanita yang hamil dan menyusui itu tidak wajib baginya puasa,qadha dan fidyah. Namun yang paling benar dan lebih selamatwallohu ‘alam adalah pendapat 4 madzhab selain Madzhab Dzohiri.

Rep: Muhammad Ishaq
Editor: Muhammad Ishaq

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Hukum Puasa Bagi Ibu Hamil Dan Menyusui Menurut Ulama’ Lima Madzhab

Post a Comment

Powered by Blogger.