DYLANN Roof, pria kulit putih yang dijerat dengan sembilan dakwaan setelah melepaskan tembakan terhadap kelompok studi Injil di Gereja Metodis Afrika Emanuel, Charleston, hanya disebut sebagai pelaku kejahatan rasial bukan teroris.

Kenyataan itu membuat sejumlah pihak menilai bahwa pihak berwenang tidak adil karena setiap kasus yang melibatkan tersangka muslim selalu disebut teror dan pelakunya disebut teroris, sedangkan bila tersangkanya orang kulit putih seringkali hanya disebut penjahat rasial atau sakit jiwa.

Insiden itu menewaskan sembilan orang, termasuk pendeta yang juga Senator South Carolina, Clementa Pinckney. Di hadapan penyidik, tersangka mengakui perbuatannya dan menyatakan bahwa dia ”ingin memulai perang rasial”.

Setelah kabar mengenai penembakan itu menyebar, muncul sebuah foto di halaman Facebook yang memperlihatkan Dylann Roof (21) mengenakan jaket yang bergambar bendera Afrika Selatan era apartheid dan Rhodesia. Kedua bendera itu sering dipakai oleh kelompokkelompok supremasi kulit putih di AS.

Sejak serangan di gereja warga kulit hitam itu, kelompok- kelompok kebebasan sipil di AS bertanya mengapa Roof tidak disebut sebagai tersangka teroris. Mereka heran, mengapa kasus-kasus yang melibatkan tersangka ekstremis Islam, seperti serangan bom di Boston Marathon dan di kontes kartun Nabi Muhammad di Texas, disebut sebagai aksi teror.

Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi Nasional di kelompok advokasi muslim Dewan Hubungan Islam Amerika, berpendapat Roof pasti langsung akan disebut sebagai teroris jika dia muslim atau orang Arab.

”Setiap terjadi penembakan massal, masyarakat menunggu apakah tersangkanya terkait dengan Islam atau tidak,” ucapnya.

”Jika tidak ada kaitannya dengan Islam maka aksi tersebut tidak pernah disebut sebagai terorisme. Fakta semacam itu terjadi berulang kali,” paparnya kepada Yahoo News.

Teroris

Hooper menambahkan, begitu tersangkanya diketahui bukan muslim, pembicaraan akan mengarah pada status mental tersangka dan data biografi pribadinya. ”Dalam insiden di Clarleston Rabu lalu, secara definisi, kasus tersebut jelas merupakan aksi terorisme.

Pelaku melakukannya untuk tujuan politik, yakni menciptakan perang rasial di AS.” Menurut kamus The Oxford English Dictionary, teroris adalah orang yang menggunakan cara-cara kekerasan dan intimidasi untuk mencapai tujuan politik. Hooper kemudian memaparkan sebuah studi dari Universitas Illinois yang dimuat dalam Journal of Communication.

Studi yang mengampil sampel laporan berita media massa antara tahun 2008 dan 2012 itu menyebutkan, 81 persen tersangka teroris domestik di AS diidentifikasi sebagai muslim. Padahal, menurut laporanlaporan FBI dari periode tahun yang sama, tersangka muslim dalam aksi terorisme domestik hanya sekitar 6 persen. Ketika ditanya apakah dia akan menyebut Roof sebagai teroris, seorang politikus Republik dari South Carolina sedikit kebingungan.

”Tidak. Menurut saya, aksi teror melibatkan agenda politik yang lebih besar. Tapi saya tidak tahu apa bedanya. Dia adalah anak nakal dan perlu diseret ke pengadilan. Hanya itu yang saya tahu,” ujar Mark Sanford.

Teman masa kecil Roof, Joe Meek, yang melihat tersangka sehari sebelum peristiwa penembakan di Gereja Metodis Afrika Emanuel, menuturkan: ”Roof berpendapat orangorang kulit hitam secara umum merupakan ras yang akan menjatuhkan orangorang kulit putih.”

Heidi Beirich, Direktur Proyek Intelijen di Southern Poverty Law Center, menilai bahwa insiden penembakan di gereja kulit hitam di Charleston merupakan kejahatan yang dilandasi kebencian dan juga merupakan terorisme domestik.

Sementara itu, korban selamat mengaku mendengar Roof mengatakan kepada para korbannya sebelum melepaskan tembakan: ”Kalian memperkosa para wanita kulit putih dan berusaha menguasai negeri ini. Kalian harus pergi!”

Mark Pitcavage, pengamat dan peneliti kasus-kasus ekstremisme, mengatakan bahwa Roof tidak memiliki keanggotaan resmi dengan kelompok-kelompok rasis tertentu dan dia mungkin menjadi radikal secara online.

”Jumlah anggota kelompok- kelompok hater jauh lebih kecil dibanding dengan jumlah anggota kelompokkelompok supremasi kulit putih di AS,” jelasnya.

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Publik bertanya, Kenapa Pembunuhan di Gereja AS tidak disebut Teroris?

Post a Comment

Powered by Blogger.