Dakwah Jateng – MUI mengecam aksi pembakaran gereja yang dilakukan di Singkil, Aceh. Namun, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Din Syamsuddin juga mendengar keluhan umat Islam berdirinya banyak gereja di wilayah yang mayoritas Islam itu.

“Saya memang melakukan pembicaraan ke sananya (Singkil), kawan-kawan di sana bilang bagaimana sebuah kecamatan tidak terlalu besar, mayoritas muslim tapi ada tempat rumah ibadah lain yang jumlahnya bahkan lebih dari masjid,” kata Din Syamsuddin usai menghadiri “Rembug Tokoh Agama Menyelamatkan Bumi” di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2015).

Ia menilai keluhan ini menjadi introspeksi untuk setiap kaum agama di Indonesia. Din meminta umat beragama menerapkan toleransi dan tahu diri saat menjadi kaum minoritas di wilayah tertentu.

“Kalau di kalangan mayoritas tertentu, maka pemeluk agama lain harus tahu diri. Yang Islam harus tahu diri di Papua. Makanya di Tolikara tidak usah banyak masjid karena mayoritas Kristen. Tapi di mayoritas muslim, jangan banyak gereja,” ujarnya.

Ia memahami kegusaran umat muslim di Singkil yang melihat banyaknya gereja sedangkan mayoritas warganya memeluk agama Islam. Menurutnya, aturan pembangunan rumah ibadah yang dibuat oleh pemerintah dalam SKB 2 Menteri saat ini sudah baik. Namun, pelaksanaan di lapangan haruslah juga dipantau.

Hal ini karena pembangunan rumah ibadah adalah hal sensitif dan bisa jadi pemicu konflik antar warga. Meski fungsi rumah ibadah sebagai tempat untuk melakukan kebebasan beragamanya, tetapi ada efek sosial pada lingkungan sekitar yang harus dipikirkan.

“Salah satu faktor picu di negara ini adalah pendirian rumah ibadah. Itu tidak semata-mata ranah kebebasan beragama. Tapi ketika muncul (dibangun), dia jadi punya efek sosial pada sekitarnya,” pungkasnya.

[detik.com]

info terbaru dari Jawa Tengah Bersyariah Din Dengar Curhat Warga Singkil Tentang Rumah Ibadah, ini Ceritanya

Post a Comment

Powered by Blogger.