Nama Serka H Waryono cukup dikenal di kalangan umat Islam Indonesia. Tugasnya sebagai anggota TNI tidak menghalanginya untuk mengabdi kepada umat Islam. Berbekal zikir sebagai terapi, Waryono turut serta dalam menyiarkan Islam yang penuh kedamaian di tanah air.

H. Waryono dilahirkan di desa Pegagan Kidul Kapetakan Cirebon pada tanggal 24 Februari 1970. Ia adalah putra pasangan petani miskin, yakni Bapak Rastia dan Ibu Mitari. Karena keterbatasan ekonomi, sejak usia 11 bulan Waryono sudah berpisah dengan orang tua dan diasuh oleh kakek dan neneknya di daerah Kertasura Cirebon.

Saat duduk di kelas 3 SD, Waryono kecil bersama anak-anak sebayanya mulai belajar mengaji pada seorang Ulama setempat bernama Kyai Sirod di sebuah Masjid di desanya. Karena dorongan yang kuat untuk membiayai sekolahnya, ketika menginjak kelas 4 SD hingga SMP Waryono sudah mencari biaya sendiri dengan cara menjadi buruh perkebunan tebu dan ternak di wilayah Ciwaringin. Selama bertahun-tahun berjuang menafkahi diri sendiri Waryono kerap kali makan sekali dalam sehari karena upah yang diperolehnya sangat minim, belum lagi untuk keperluan alat tulis dan sebagainya.

Sepulang dari menderes tebu, Waryono masih menyempatkan diri untuk belajar ilmu agama pada ulama setempat. Tak jarang Waryono harus terlambat ke sekolah karena tuntutan pekerjaan yang harus dilakukan. Waryono kerap dimarahi guru karena keterlambatan yang dilakukan. Setelah menceritakan alasan keterlambatan secara panjang lebar, guru dan teman sekolahnya larut dalam kesedihan hingga menangis. Mendengar pengakuan itu akhirnya guru memutuskan Waryono dibebaskan membayar SPP. Tekad keras Waryono membuat iba seorang kepala desa yang juga merupakan anggota TNI, lalu menjadikan Waryono sebagai anak angkatnya. Sejak tinggal bersama anggota TNI hari-hari dilaluinya dengan kebiasaan disiplin. Ketika duduk di kelas 3 SMP, Waryono menerima tawaran untuk mendaftarkan diri sebagai tentara. Pada usia 18 tahun ia mengikuti proses penyeleksian dan dinyatakan diterima sebagai calon siswa Secata.

Selama lebih kurang enam bulan mengikuti pendidikan di Rindam III/Siliwangi, kemudian ia ditempatkan pertama kali di Korem Cirebon. Pada tahun 1989 ia dimutasi ke Batalyon 303/SSM Cikajang Garut. Pada suatu ketika Waryono memeroleh kesempatan untuk mengikuti seleksi Pasukan Perdamaian Kamboja. Pada tes perdananya dia dinyatatakan lolos seleksi dan menjadi organik Kontingen Garuda 12D pada tahun 1993. Saat itu ia berjanji apabila selamat dalam penugasan dan memeroleh penghasilan yang cukup, maka ia berkeinginan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Setelah tugas dilaksanakan dalam keadaan aman serta uang yang diperoleh cukup, kemudian tahun 1994 saat usianya baru 24 tahun ia menunaikan ibadah haji. Selama melaksanakan ibadah haji berbagai pengalaman gaib dialaminya, dan yang membuat kalbunya tersentuh adalah ketika merasakan adanya kehadiran Rosululloh dengan aroma wangi Hajar Aswad.

ANGGOTA TNI INI MEMILIH BERDAKWAH

Pengalaman spiritual di tanah suci membawa perubahan luar biasa pada dirinya. Setelah kembali ke tanah air, Wahyono yang semula pendiam, bahkan merasa takut ketika harus berhadapan dengan pimpinan, tiba-tiba tidak bisa diam untuk bicara tentang kebaikan, bahkan kepada atasannya sekalipun. Melihat ada perkembangan positif pada diri Waryono, Danyon pun memerintahkannya untuk memberikan ceramah di kesatuannya sekali dalam sebulan. Sejak itu hingga kini Sang Komandan memberinya tugas untuk “Memakmurkan Masjid”, pendek kata Waryono mengelola Masjid hingga terbangunlah Madrasah dengan 400 orang Santri. Sambil mengamalkan ilmu di madrasah tersebut Waryono terus menimba ilmu kepada para Kyai dan Ulama terkenal di Cikajang Garut.

Pada tahun 1996 Waryono mendapatkan jodoh dengan mempersunting gadis pilihannya bernama Rita Yulianingsih. Dari perkawinannya ia dikaruniai lima orang anak, yakni Rindalmi Nur wahtu Illahi (SMA), Ola Nisa Iqti Sodiyah Sa’adah (SMP), Fadilah Ayu Nelhena (almarhumah), Muhammad Reffi Hidayatullah (SD), Ukhti Kaila Safitri (PAUD). Sejak itu ia menetap di Asrama Nyantong Brigif 13 Kostrad Galuh Rt. 05/07 Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. Pada tahun 1998 ia berkesempatan mengikuti pendidikan Secaba yang membawanya menyandang pangkat Bintara.

Pada awal tahun 2000 Wahyono mulai merintis mengembangkan Majelis Dzikir Muda-Mudi Asrama dan sekitarnya, yang diikuti kurang lebih 60 orang secara rutin setiap malam Jum’at di rumah dinas. Saat itu cobaan dan tantangan datang silih berganti, ada yang mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukannya tidak benar. Syukur Alhamdulillah setelah para remaja yang mengikuti kegiatan dzikir tersebut ternyata banyak yang niatnya terkabul dan sukses, pada akhirnya banyak pihak yang mendukung kegiatan dzikir tersebut.

Melihat antusiasme masyarakat sangat besar terhadap kegiatan tersebut yang mengakibatkan sarana yang disiapkan tidak dapat menampung para jama’ah, kemudian Komandan memfasilitasi menemui MUI kota Tasikmalaya untuk menyampaikan kegiatan anggota dan permasalahannya. Dari pihak MUI sangat merespon dan meminta Wahyono untuk mengadakan dzikir di Masjid Agung kota Tasikmalaya.

Kemudian atas seijin Walikota, Waryono pun menyelenggarakan Dzikir Akbar di Masjid Agung, dan diluar dugaan ternyata mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat Tasikmalaya. Setelah acara terselenggara dengan respon jama’ah yang sangat luar biasa, akhirnya diputuskan untuk diadakan Majelis Dzikir sebulan sekali di Masjid Agung Kota Tasikmalaya.

Seperti Da’i Kondang lainnya, kini Serka Waryono semakin dikenal bukan saja oleh masyarakat Tasikmalaya, melainkan juga masyarakat Garut, Ciamis, Bandung, Kuningan, Banjar, Majalengka, Mojolaban, Purworejo, Salatiga, Bekasi, Jakarta serta banyak instansi pemerintah/swasta dan Pondok Pesantren yang harus rela mengantri padatnya jadwal demi untuk menghadirkan KH. Waryono, MBT, Pimpinan Majelis Silaturahmi dan Dzikir, Masjid Agung Kota Tasikmalaya, di wilayah mereka.

Semoga semakin banyak prajurit yang religius seperti Waryono. Amin. [tniad.mil.id]

Post a Comment

Powered by Blogger.