Mungkin, kelak kau akan terheran dan bertanya-tanya, Anakku,
Mengapa Bunda hanya seperti ini?
Sementara di luar sana teman-teman Bunda sudah menjadi
Profesor di berbagai perguruan tinggi
Dokter-dokter spesialis konsultan yang laris melakukan operasi,
Atau sekadar menjadi pejabat kantoran alias karyawati.

Dan engkau akan bertanya
Lantas apa pekerjaan Bunda?
Ke mana saja Bunda selama ini?
Kaulihat, Bunda selalu berada di rumah, ngemil dan lelah sepanjang hari?

Baiklah Bunda akan menjawab pertanyaanmu, Cinta,
Bunda memberimu ASI eksklusif langsung dari dada Bunda
Bunda menatap matamu yang terbuka saat menyusu
Ketika kau tertidur Bunda mencium pipi dan kepalamu

Berapakah lamanya, kau bertanya, bukankah hanya 2 tahun saja?
Kau sungguh pintar, Nak, kalikanlah dengan anak empat jumlahnya
Selama itulah Bunda seperti anjing, kucing, dan kera, beserta anaknya
Di mana ada Bunda di situ engkau berada

Kau akan menulis banyak paper yang published di jurnal penelitian kelas satu
Kau juga akan menulis banyak sekali cerpen, artikel, dan buku
Bukan gurumu di sekolah, Nak, yang pertama mengenalkan A, B, C padamu
Bundalah yang membawamu ke library minimal dua kali seminggu

Kau akan menjadi aktivis dakwah yang mahir berorasi
Khutbah Jumat, atau sekadar ngisi halqoh, kehadiranmu selalu dinanti
Bukan TV itu, Nak, yang mengajarimu berbicara
Di awal umurmu, kau mengimitasi pilihan kata-kata Bunda

Guru-gurumu memuji kau yang pandai berhitung
Abstraksi, di luar kepala, memiliki ayah yang pintar kau beruntung
Itu pendapat mereka di luar sana
Nyatanya, Bundalah yang pertama mengenalkanmu kepada angka

Kau akan berbahasa Arab lebih fasih daripada ayahmu
Tentu saja jauh lebih baik daripada Bundamu
Tapi, ah, kau pasti tidak tahu
Bundalah yang berinisiatif mendaftarkanmu ke Islamic School, bertahun-tahun yang lalu

Kau akan menjadi penghafal Alquran dan haaritsan aaminan lil islam, penjaga agamamu
Dan kau akan lupa saat-saat Bunda menghapus air matamu
“Not Ayah,” katamu marah, “Ngaji Iqra’ sama Bunda!”
Menghiburmu dari ayah yang menuntutmu melafal makhraj secara sempurna

Kau akan belajar berbagai jenis peta
Mungkin seperti Bunda dulu, kau akan mengenal atlas anatomi dan Sobotta
Tapi mungkin kau tak pernah tahu Bundalah dulu yang meraut pensil-pensilmu
Menyeterika seragammu, mengecek PR-mu, saat kau lelap dibuai mimpimu

Kau tidak akan ingat berapa jumlah Alquran yang kausobek halamannya
Kau akan lupa saat tak bisa bersuci dan dari atas WC berteriak, “Sudah, Bunda!”
Kau tak mungkin ingat berapa charger tablet dan keyboard komputer yang kau rusakkan
Kau akan lupa pada perintah-perintah yang kau keluarkan bergantian

“Where’s my bag, Bunda?”
“Mau apel with no skin, Bunda!”
“Baca fairy book, Bunda!”
“Computer is broken, Bundaaaaaaaa!!!!”
(“It’s not. Coba di-refresh lagi. Di re-enter lagi. Nggak usah nangis!!!”)

Bunda menjahit kancing seragammu yang terlepas
Menungguimu bermain di hari yang panas
Mengantarmu masuk dan menjemputmu di luar kelas
Menyiapkan pengajian dan piknik, dari makanan, karpet/tikar, hingga piring dan gelas

Ah, Bunda sudah letih, Nak,
Mengingat tahun-tahun itu, selalu membuat mata berair dan dada sesak
Cepat atau lambat Bunda juga akan lupa semua semua ini
Tapi mungkin Bunda akan tetap mengingat satu janji

Nak, Bunda berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu
Bunda tak pernah lama menitipkanmu
Pada orang lain selain ayahmu, karena Bunda sangat tahu waktu yang menipu
Bahwa bukan Bunda yang pergi, Nak, suatu hari nanti kaulah yang akan meninggalkan Bunda

Nak, Bunda sangat tahu
Begitu banyak nama yang antri kau sebut dalam doamu
Tapi sisipkanlah, Nak, nama Bunda dalam sujud-sujud panjangmu
Doa yang pendek saja, yang satu itu

Robbighfir lii wali waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil

Doakanlah agar Allah menyayangi Ayah dan Bunda
Sebagaimana Ayah dan Bunda menyayangimu ketika engkau masih kecil
Doakanlah agar Allah tak meninggalkan Bunda
Sebagaimana Bunda tak pernah meninggalkanmu ketika engkau masih kecil

Doakanlah agar Allah senantiasa menyertai Bunda
Sebagaimana Bunda selalu membersamaimu pada saat kamu masih kecil

Doa itu, Nak, upah dari pekerjaan Bunda
Untuk sebuah pekerjaan istimewa
Menjadikan engkau sholih-sholihah bermanfaat bagi agama dan sesama
Upah atas sebuah profesi yang Bunda jalani sepanjang usia.

post script: Ah, kau bertanya lagi, “Mengapa membeli kue sekecil itu, Bunda? Mengapa bukan coklat seperti biasa? Mengapa ada hiasan di bagian atasnya? Untuk apa dibeli dan dan di mana?”
Ah, kau memang selalu ingin tahu dan banyak bertanya. Kue itu kita beli dalam acara Cake Sale untuk menyumbang Islamic School tempat kalian ngaji tiap Sabtu-Ahad, sehari sebelum Bunda *officially* berumur 36 tahun, 5 hari sebelum Bunda membuat tulisan ini… Begitulah kisah di  balik kue mini itu…

Nurisma Fira – Colchester, Essex, 27 Maret 2015

[nurismafira.wordpress.com]

Post a Comment

Powered by Blogger.