dakwahjateng.net - Purwokerto. Tidak seperti biasanya, pada Sabtu malam Ahad (04/03/2017) sejak pukul 19.30 WIB Masjid Jami’ Sholahuddin Al ayyubi Arcawinangun sudah mulai didatangi oleh warga masyarakat untuk menyaksikan Forum Kajian Kemasyarakatan yang bertajuk “Jagongan Dakwah”. Acara yang mengangkat tema “Indonesia Dijual” ini dilatarbelakangi oleh adanya berbagai persoalan yang melanda Indonesia yang berujung pada penguasaan aset-aset dan kekayaan negara oleh kafir Imperialis lewat tangan para komprador yang menguasai negeri ini.

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang digelar oleh DPD II Hizbut Tahrir Banyumas dalam rangka sosialisasi Panji Rosululloh yang di awali dengan Acara “Jagongan Dakwah”, lalu Sholat Tahajjud bersama, dilanjutkan dengan “Tadabbur Alam” ke bukit Tranggulasih. Hadir dalam acara tersebut berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, tokoh agama, tokoh seni budaya dan tokoh masyarakat.

Dalam pengantarnya, Kang Puji memberikan pemaparan fakta tentang berbagai persoalan ekonomi, berupa mahalnya kebutuhan pokok, masalah pengangguran dan sebagainya dan dibenarkan oleh Kang Yoni sebagi pelaku usaha kecil dibidang makanan dan minuman. Namun kedua orang tersebut hanya bisa mengindera dan mengartikulasikan fakta dalam bentuk guyonan segar a la rakyat jelata yang justru membuat acara “Jagongan Dakwah” menjadi terasa segar dan menarik.

Tamu pertama dalam acara ini adalah Ki Dalang Mantri Tjarito yang menggambarkan bahwa kondisi yang dialami saat ini tergambar dalam sebuah lakon pewayangan yaitu “Babad Wanamarta”. Dimana atas tipudaya dan provokasi yang dilakukan oleh Patih Sengkuni, maka Pandhawa kalah dalam permainan dadu dan akhirnya diusir dari kerajaan menuju Hutan Mertani. Banyak petuah bijak yang disampaikan melalui tokoh Bima dan Semar yang beliau bawa dalam acara kali ini. Menguatkan kondisi yang telah disampaiakan oleh beliaU, team “Mendoan Fighter” membawakan sebuah lagu berjudul Indonesia Dijual.


Tamu kedua adalah seorang tokoh jaringan pengusaha, Ust. Khotam Wahid. “Akar permasalahan ekonomi itu salah satunya ditinjau dari sisi ilmiah akademis, yaitu perhitungan matematis dan angka-angka”, ujarnya. Beliau menjelaskan secara terperinci bahwa masalah perekonomian yang terjadi saat ini diantaranya adalah masalah distribusi kekayaan termasuk juga praktek konglomerasi dan sebagainya. Semua itu adalah akibat diterapkannya sistem Ekonomi Liberal yang kita adopsi. Lebih jauh lagi, sistem Ekonomi ini ada dalam Sistem Hidup Kapitalisme dimana kita hidup didalamnya selama berabad-abad sejak umat Islam tidak lagi hidup dalam kehidupan Islam.

Kedatangan Ketua DPD II Hizbut Tahrir Banyumas, Ust. Imam seolah-olah memberikan air sejuk bagi dahaga pemikiran para peserta acara. “Bukankah kita sudah sholat, sudah puasa, zakat kita banyak, trus apalagi yang kurang?”, dalam sebuah pertanyaan retoris. Menurut beliau, Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan, bukan hanya masalah ibadah saja. Oleh karenanya, beliau menyampaikan bahwa Islam adalah solusi atas semua permasalahan yang terjadi. Dengan diterapkannya kembali aturan hidup yang berasal dari Allah SWT, yaitu Syariat Islam untuk menggantikan aturan yang berasal dari pemikiran manusia yaitu Kapitalisme dan perekonomian Neo Liberalisme, maka kehidupan ini akan mendapat keridhoan dari Allah SWT.

Ada beberapa pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh elemen mahasiswa. Diantaranya Imanuddin Shiddiq yang menanyakan tentang kenapa negara penganut Kapitalisme diluar negeri lebih makmur dari Indonesia yang sama-sama penganut Kapitalisme. Pembicara kedua menyampaikan bahwa melihat kehidupan itu bukan dari sudut pandang kemakmurannya saja, namun dari sudut pandang ideologi bagaimana kehidupan itu diatur, apakah sesuai perintah Allah dan Rosul-Nya atau sekedar menuruti hawa nafsunya. Kapitalisme adalah sistem hidup yang menyalahi perintah Allah dan rosul-Nya sehingga tidak dilagi dilihat makmur atau tidaknya.

“Acara Forum Kajian Kemasyarakatan ini adalah sebuah acara bulanan yang membahas berbagai masalah kehidupan dari mulai hiburan, politik, ekonomi dan sebagainya dengan format santai namun menggelitik sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat dari semua kalangan”, Ujar Ust. Dash Shameel penanggung jawab acara tersebut.

Hampir dari seluruh peserta, mendapatkan kesan yang mendalam atas pemaparan dan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan oleh peserta, sehingga mereka pulang dalam keadaan yang tercerahkan. Mereka berharap agar acara semacam ini bisa lebioh sering lagi diadakan kembali. (dash)

editor : Satrio

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.