Oleh : Ismail Yusanto

dakwahjateng.net - Bulan Ramadhan lalu, persisnya pada 10 Ramadhan yang bertepatan dengan tanggal 10 Agustus, saya diundang sebagai pembicara untuk acara Bedah Buku Pancasila dan Syariat Islam karya Prof. Hamka Haq di Megawati Center, Jakarta. Pembicara lain adalah Dosen UIN Sahid Jakarta, Muqsith Ghazali, Habib Muhsin dari FPI dan tentu saja penulisnya sendiri. Hamka Haq adalah guru besar IAIN Alauddin Makassar, yang juga adalah Ketua Umum Baitul Muslimin, sayap ormas PDI-Perjuangan. Ormas itu dibentuk agaknya untuk menepis anggapan bahwa partai berlambang moncong banteng ini anti terhadap (umat) Islam. Terbitnya buku ini kiranya makin menegaskan bagaimana posisi partai ini dalam memandang Islam dalam konteks Pancasila.

Mengawali presentasi yang sangat singkat karena memang waktu sangat terbatas mengingat sore bulan puasa, saya menyampaikan bahwa di kalangan umat Islam memang ada yang sangat anti terhadap Pancasila, ada juga yang sangat mendukung, bahkan mengatakan bahwa Pancasila itu sesungguhnya adalah saripati dari ajaran Islam. Hamka Haq tentu termasuk kelompok yang kedua.

Dalam buku ini, ia jelas sekali ingin menegaskan bahwa tidak ada yang salah dari Pancasila. Bahkan sesungguhnya telah banyak sekali yang dilakukan oleh negara yang berdasar Pancasila ini dalam apa yang disebut sebagai penerapan syariah baik melalui peraturan perundang-undangan seperti lahirnya UU Perkawinan, UU Zakat, UU Perbankan Syariah, UU Perlindungan Anak dan sebagainya; maupun melalui aneka ragam kebijakan pemerintah seperti kebolehan memakai jilbab bagi pelajar dan pegawai negeri dan sebagainya. Jadi tegasnya, penerapan syariah itu justru berjalan sangat subur di Bumi Pancasila.

Menanggapi uraian Prof Hamka dalam buku itu, saya mengatakan bahwa sesungguhnya Pancasila hanyalah set of philosophy atau seperangkat pandangan filosofis tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan yang dijadikan sebagai dasar negara. Sebagai set of philosophy, Pancasila tidaklah mencukupi (not sufficient) untuk mengatur negara ini (to govern this country). Buktinya, di sepanjang Indonesia merdeka, dalam mengatur negara ini, rezim yang berkuasa—meski semua selalu mengaku dalam rangka melaksanakan Pancasila—ternyata menggunakan sistem dari ideologi yang berbeda-beda. Rezim Orde Lama misalnya, menggunakan Sosialisme. Rezim Orde Baru menggunakan Kapitalisme. Rezim sekarang oleh banyak pengamat disebut menggunakan sistem neo-liberal.

Jadi, meski pada level filosofis semua mengaku melaksanakan Pancasila, underlying system atau sistem yang digunakan ternyata lahir dari ideologi sekularisme baik bercorak sosialis, kapitalis ataupun liberalis.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena pada faktanya yang diberikan oleh Pancasila hanyalah sebatas gagasan-gagasan filosofis. Padahal untuk mengatur sebuah negara tidak hanya diperlukan gagasan filosofis, tetapi juga pengaturan yuridis yang mencakup apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bila ideologi yang bahasa Arabnya mabda'—sebagaimana disebut oleh Syaikh Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al-Fikr al-Islami (1958)—didefinisikan sebagai ‘aqidah ‘aqliyah yang memancarkan sistem atau nizhâm untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek baik politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya, maka Pancasila bukanlah sebuah ideologi. Itulah sebabnya hingga sekarang, misalnya, tidak pernah lahir rumusan tentang Ekonomi Pancasila meski sejumlah orang seperti Guru Besar FE UGM, Prof. Mubyarto semasa hidupnya sudah bersusah-payah berusaha menyusunnya. Yang berjalan di negara ini hingga sekarang tetap saja ekonomi kapitalis.

Oleh karena itu, dalam tataran praktis banyak sekali peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah yang layak dipertanyakan kesesuaiannya dengan Pancasila. Misalnya, apakah UU Penanaman Modal (yang memungkinkan kekuatan asing melakukan investasi di segala bidang nyaris tanpa hambatan), UU Migas (yang amat merugikan peran Pertamina sebagai BUMN yang notabene milik rakyat dalam pengelolaan migas), atau UU Sumber Daya Air (yang secara fatal telah mentransformasi air bukan hanya dalam fungsi sosial tetapi juga komersial) dan banyak lagi UU yang sangat berbau neo-liberal, itu semua adalah Pancasialis? Apakah kebijakan pemerintah seperti menjual Indosat kepada pihak asing dan menyerahkan blok kaya minyak di Cepu kepada Exxon Mobil, bukan kepada Pertamina, adalah juga sebuah kebijakan yang Pancasilais? Adapun peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah yang disebut Prof. Hamka sebagai penerapan syariah itu hanyalah sebatas aspek-aspek yang menyangkut al-ahwal asy-syakhsiyyah, seperti aspek ibadah, pakaian atau NTCR (nikah-talak-rujuk-cerai). Kalau ada UU yang terkait muamalah, seperti UU perbankan syariah, tetap saja ia hanyalah merupakan bagian dari sistem perbankan ribawi.

Di akhir uraian, saya menyentak hadirin dengan pertanyaan, sekarang tunjukkan bahwa perjuangan penerapan syariah itu bertentangan dengan Pancasila? Sila yang mana? Sebaliknya, saya bisa katakan bahwa menolak penerapan syariah itu bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebab, Tuhan yang mana yang dimaksud bagi rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim bila bukan Allah SWT..?

Allah SWT telah memerintahkan untuk menerapkan aturan-aturan-Nya secara kaffah. Nah, Hizbut Tahrir Indonesia melalui rangkaian kegiatan dakwahnya tidak lain bertujuan untuk menegakkan syariah secara kaffah menggantikan sistem yang lahir dari ideologi sekular tadi. Hanya dengan penerapan syariah, prinsip-prinsip tentang ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial itu benar-benar dapat diwujudkan.

Tambahan lagi, dalam konteks Indonesia, ide khilafah yang substansinya adalah syariah dan ukhuwah, yang diperjuangkan HTI, sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap penjajahan baru (neo-imperialisme) yang nyata-nyata sekarang tengah mencengkeram negeri ini yang dilakukan oleh negara adikuasa. Hanya melalui kekuatan global, penjajahan global bisa dihadapi secara sepadan. Adapun syariah akan menggantikan sekularisme yang telah terbukti memurukkan negeri ini. Karena itu, perjuangan HTI dalam berbagai bentuknya itu harus dibaca sebagai bentuk kepedulian yang amat nyata dari HTI dalam berusaha mewujudkan Indonesia lebih baik di masa datang, termasuk guna meraih kemerdekaan hakiki negeri ini atas berbagai bentuk penjajahan yang ada.

++++

Kita tidak boleh lupa, secara politik, Pancasila oleh tiap rezim di masa lalu memang acap digunakan untuk membungkam lawan-lawan politiknya atau menutup pintu bagi lahirnya gagasan atau ide baru meski ide itu sangat diperlukan untuk perbaikan negeri ini. Dulu, rezim Orde Baru selalu menyatakan bahwa siapa saja yang menentang Pemerintah, termasuk yang memperjuangkan Islam, sebagai menentang Pancasila, dan siapa saja yang sudah dicap menentang Pancasila kala itu absah untuk dihabisi. Kini, Pancasila agaknya juga akan kembali digunakan untuk menghentikan laju dukungan terhadap ide syariah dan Khilafah yang mulai marak di tengah masyarakat.

Jelas hal ini patut dicurigai. Mengapa isu Pancasila tidak dimunculkan, misalnya saat maraknya kasus korupsi yang melibatkan banyak pejabat negara dan anggota parlemen dari tingkat daerah hingga tingkat pusat? Mengapa isu Pancasila tidak muncul saat penguasa negeri ini menyerahkan kekayaan alamnya ke pihak asing atas nama privatisasi? Mengapa isu Pancasila juga tidak muncul saat negeri ini secara membabibuta menerapkan ekonomi neoliberalisme? Bukankah semua itu malah lebih pantas dianggap sebagai antitesis terhadap Pancasila, bukan syariah dan Khilafah ? Mengapa ?[]

editor : Satrio



Dakwahjateng.net -  Majelis Ulama Indonesia mempersilakan organisasi Hizbut Tharir Indonesia (HTI) menyelenggarakan acara International Khilafah Forum 1438 H di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (23/4).

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain mengatakan HTI memiliki hak konstitusional untuk menyelenggarakan acara tersebut.

"Silakan saja. Itu hak demokrasi mereka, hak berkumpul dan berpendapat juga diatur undang-undang," kata Zulkarnain saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (22/4).

Dia pun meminta aparat kemanan tidak langsung melarang penyelenggaraan acara tersebut.

Menurut Zulkarnain, penindakan oleh aparat keamanan sebaiknya dilakukan bila acara HTI berisi materi yang bertentangan dengan
dasar negara, seperti Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

Bahkan, lanjutnya, pemerintah dapat mengambil langkah pembubaran HTI, bila acara International Khilafah Forum 1438 H membahas perubahan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

"Khilafah apa yang dimaksud, nanti kita lihat dulu, kan belum dibicarakan. Kalau melanggar UUD 1945, ya dibasmi," katanya.

Tak Bertentangan

Dia juga mengingatkan agar HTI tidak membahas materi yang bertentangan dengan dasar negara. Ia mempersilakan anggota HTI menempuh langkah-langkah konstitusional bila ingin melakukan hal tersebut.


"Jadi sikap kami, jangan langgar UUD 1945. Kalau, mau ubah negara ini ya menangkan Pemilu, tuturnya.

Ia menambahkan, perwakilan MUI di Kabupaten Bogor juga akan hadir di International Khilafah Forum 1438 H. Pihaknya akan memantau materi-materi yang dibahas dalam acara tersebut.

Rencananya, HTI menggelar acara International Khilafah Forum 1438 H pada Minggu (23/4). Acara itu akan digelar di Gedung Balai Sudirman, kawasan Dr Saharjo, Jakarta Selatan.

sumber : cnnindonesia.com
editor : satrio


Umat islam kini telah sadar bahwa Alquran adalah sandaran hidupnya, umat islam kini sadar bahwa standar perbuatan itu harus didasarkan pada Alquran dan Sunnah, dan umat islam telah benar-benar mengamalkan Surat Almaidah Ayat 51 sebagai petunjuk dalam memilih seorang pemimpin.
Yang kini jadi pertanyaan, jika umat islam kini telah terbebas dari surat almaidah ayat 51, bagaimana dengan surat almaidah ayat 50 yang mundur satu ayat kebelakang ? Apakah umat islam bersandar kepada Alquran Seluruhnya ?
Dakwahjateng.net- Semarang, Ditengah ramainya Pilkada Jakarta yang selesai digelar pada tanggal 19 april kemarin, akhirnya Pasangan muslim Anies dan Sandi berhasil menduduki puncak kepemimpinan DKI Jakarta. Hal ini tidak terlepas dari dukungan umat islam dalam memilih pemimpin muslim dan haramnya pemimpin kafir.

Dengan adanya kasus penistaan agama oleh Ahok yang menghina ayat suci Alquran surat almaidah 51 di kepulauan seribu membuat umat islam marah besar sehingga membuat umat islam turun kejalan berkali-kali, yang terbesar dan mungkin masih terngiang sampai saat ini mungkin aksi 411 dan 212.
Berbagai upaya dilakukan oleh umat islam pada waktu itu baik secara kredit maupun diskredit agar umat islam ini mau mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah melalui Alquran bahwa jangan jadikan Orang-Orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin diantara kalian, dan terbukti upaya itu telah terbukti membuat Ahok kalah diputaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Umat islam kini telah sadar bahwa Alquran adalah sandaran hidupnya, umat islam kini sadar bahwa standar perbuatan itu harus didasarkan pada Alquran dan Sunnah, dan umat islam telah benar-benar mengamalkan Surat Almaidah Ayat 51 sebagai petunjuk dalam memilih seorang pemimpin.
Yang kini jadi pertanyaan, jika umat islam kini telah terbebas dari surat almaidah ayat 51, bagaimana dengan surat almaidah ayat 50 yang mundur satu ayat kebelakang ? Apakah umat islam bersandar kepada Alquran Seluruhnya ?

Mari kita simak ayatnya :

 { أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ }
[artinya:" Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?"Q.S.Almaidah :50]

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengingkari orang yang berpaling dari hukum Allah -hukum yang telah muhkam (kokoh), meliputi seluruh kebaikan dan mencegah setiap keburukan- kemudian orang tersebut justru berpaling kepada yang lain, berupa pandangan-pandangan, hawa nafsu dan berbagai peristilahan yang dibuat oleh manusia tanpa bersandar kepada Syariat Allah, sebagaimana masyarakat jahiliyah berhukum kepada kesesatan dan kebodohan, hukum yang mereka buat berdasarkan pandangan dan hawa nafsu mereka.

Sama halnya seperti Bangsa Tartar yang berhukum dengan kebijakan-kebijakan kerajaan yang diambil dari keputusan raja mereka, Jengiskhan, raja yang telah menyusun al Yasaq untuk mereka, yaitu kitab kumpulan hukum yang diramu dari berbagai syariat yang berbeda, termasuk dari Yahudi, Nasrani dan Islam. Di dalamnya juga terdapat  banyak hukum yang semata-mata dia ambil dari pandangan dan hawa nafsunya. Kitab itu kemudian berubah menjadi syariat yang diikuti oleh anak keturunannya, yang lebih diutamakan ketimbang hukum yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Barangsiapa melakukan hal tersebut maka dia telah kafir. Ia wajib diperangi sampai mau kembali merujuk kepada hukum Allah dan RasulNya, sampai dia tidak berhukum kecuali dengannya (Kitab dan Sunnah) baik sedikit maupun banyak.”

Lalu Ibnu Katsir melanjutkan: “Allah berfirman {أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ} artinya: “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?”, yaitu: (apakah) mereka mencari dan menghendaki (hukum jahiliyah), sementara terhadap hukum Allah mereka berpaling? {وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ} artinya: “dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?”, Yaitu: siapakah yang lebih adil dari Allah dalam hukumnya bagi orang yang memahami syariat Allah dan beriman, yakin serta mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Pemberi Keputusan yang paling bijaksana (ahkamul hakimin), lebih mengasihi makhluqnya ketimbang kasih-sayang seorang ibu kepada anaknya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang mengetahui segala sesuatu, Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu, dan Dzat yang Adil dalam segala sesuatu”.

Jika kita meresapi ayat ini sudah barang tentu umat islam belum terbebas sebagai halnya surat almaidah  51, berkali-kali kita dikecewakan oleh penegak hukum dinegeri ini yang membuat penista agama hanya dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan selama dua tahun, maka dari itu sudah seharusnya umat islam saat ini meneruskan langkahnya dengan menstandarkan perbuatan kita sesuai dengan alquran dan sunnah, sebagaimana yang telah kita lakukan pada penerapan surat almaidah 51. Semoga kedepan seluruh isi Alquran  dapat kita amalkan dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara.

Wallahualam bishowab.[]

satrio


HTI memang berikhtiar agar syariah dan Khilafah dapat tegak, karena diyakini akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat, namun HTI sama sekali tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Perjuangan HTI adalah dakwah pemikiran (fikriyah) tanpa menggunakan cara-cara kekerasan (la unfiah). Metode dakwah ini diyakini sebagai metode dakwah Rasulullah saw yang wajib ditiru dan diikuti.

Oleh: Ustadz Ir.Abdullah IAR, MT.
(Ketua DPD 1 HTI Jateng)

Dakwah Jateng - Bulan April 2017 ini, HTI kembali menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Hal ini  karena di bulan April 2017 HTI menggelar acara kolosal bertajuk “Masirah Panji Rasulullah” di 36 kota besar di Indonesia. Acara yang mengambil tema “Khilafah Kewajiban Syar’ie Jalan Kebangkitan Umat” ini bertujuan mensosialisasikan Panji Rasulullah Al-Liwa dan Ar-Rayah serta memahamkan kepada umat bahwa Khilafah itu adalah ajaran Islam yang agung yang akan menjadi jalan bagi kebangkitan Islam. Inti dari gagasan Khilafah itu adalah ukhuwah islamiyah, syariah dan dakwah.

Dalam pertemuan Alim Ulama di Jember pada tanggal 16 April 2017 yang dihadiri 45 ulama Jawa Timur, ditegaskan kembali bahwa Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam, bagian dari syariah Islam. Ulama-ulama dari ahlus sunnah wal jama’ah dari empat madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali menegaskan wajibnya mengangkat khalifah. Al Imam al Hafidz Abu Zakaria an Nawawiy al Asyari asy Syafii dalam syarah Shahih Muslim menegaskan

“dan kaum muslimin telah berijma’ bahwa mengangkat khalifah itu wajib atas kaum muslimin, kewajiban tersebut berdasarkan syara’ bukan berdasarkan akal”. 

Terkait dengan Panji Rasulullah SAW, yaitu Ar-Royah dan Al-Liwa, At-Thabrani meriwayatkan bahwa Panji atau Royah Rasulullah berwarna hitam dan bendera atau Liwa’ Rasulullah berwarna putih bertuliskan kalimat tauhid “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Hal ini sekaligus menegaskan bahwa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu adalah Panjinya Rasulullah, bukan bendera organisasi, bukan benderanya HTI, dan tidak boleh sama sekali dianggap sebagai simbol radikalisme sebagaimana yang selama ini berkembang.

Meluruskan Kesalahpahaman

Dakwah HTI mengusung ide syariah dan khilafah dilakukan secara terbuka, tetapi tetap santun,  damai, tanpa kekerasan dan mengedepankan kualitas intelektual yang tinggi. Namun tidak dipungkiri di masyarakat terjadi pro dan kontra. Ini kita pandang sebagai hal yang biasa. Apalagi kenyataan masyarakat saat ini menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar antara ajaran Islam di satu sisi dan pemahaman masyarakat di sisi yang lain, sehingga menyebabkan banyak sekali ajaran Islam yang belum difahami masyarakat kemudia menimbulkan kesalahpahaman.

Di antara kesalahfahaman terhadap HTI adalah bahwa HTI itu dianggap anti kearifan lokal, seperti menolak ziarah kubur, qunut, tahlian, dan lain sebagainya. Padahal semua itu tidak benar, HTI itu bukan organisasi yang dibangun berdasarkan kesatuan mazhab atau aliran fiqih tertentu tetapi HTI adalah organisasi dakwah yang mewadahi berbagai madzhab atau aliran fiqih yang muktabar, sehingga para aktifisnya datang dari berbagai mazhab dan HTI tidak mempersoalkan perbedaan itu. HTI berpandangan bahwa semua organisasi dan ormas Islam adalah saudara. Adapun amalan ziaroh kubur, qunut, dan tahlilan adalah perkara furu’ dan ikhtilaf yang diperbolehkan berbeda diantara kaum muslimin. Sebagian para aktivis HTI sendiri dengan latar belakang yang beragam juga melaksanakan amalan-amalan tersebut. HTI sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya, bahkan sebaliknya HTI mendorong agar di antara perbedaan itu muncul rasa tasamuh atau sikap toleransi terhadap perbedaan dalam persoalan khilafiyah. Jadi anggapan bahwa HTI suka menyesatkan kelompok yang melaksanakan Ziaroh Kubur, Tahlil, dan Qunut, pernyataan ini jelas tidak ada dasarnya sama sekali.

Terkait dengan anggapan bahwa HTI adalah gerakan radikal, akan mengubah UUD 45, disampaikan bahwa meski kata radikal yang bermakna “mendasar” adalah sebuah istilah yang ‘netral’, tidak condong kepada sesuatu yang bermakna positif atau negatif. Namun, kesan yang timbul di masyarakat memang sangat negatif. Apalagi jika diimbuhi kata “isme” di belakangnya, sebab definisi radikalisme adalah suatu paham yang diyakini sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

HTI memang berikhtiar agar syariah dan Khilafah dapat tegak, karena diyakini akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat, namun HTI sama sekali tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Perjuangan HTI adalah dakwah pemikiran (fikriyah) tanpa menggunakan cara-cara kekerasan (la unfiah). Metode dakwah ini diyakini sebagai metode dakwah Rasulullah saw yang wajib ditiru dan diikuti.

Kemudian tentang UUD, baik ada HTI atau tidak, faktanya memang terus berubah seiring dengan dinamika masyarakat. Karena itulah perubahan UUD merupakan sesuatu yang wajar, bukan sesuatu yang istimewa.Yang penting bahwa perubahan itu didasarkan pada kepentingan masyarakat dalam arti yang sebenarnya, bukan karena kepentingan politik sesaat dari kelompok tertentu.

Secara teoritik menurut CF Strong, perubahan UUD secara legal dapat terjadi melalui berbagai cara, diantaranya perubahan dilakukan oleh  pemegang kekuasaan legislatif tetapi dengan batasan-batasan tertentu (by ordinary legislative but under certain restriction) atau oleh rakyat melalui suatu referendum (by the people through of referendum). 

Di Indonesia, UUD 45 telah mengalami perubahan sebanyak lima kali pasca reformasi hingga saat ini. Jika memang perubahan UUD 45 itu sesuatu yang harus dikecam, perubahan itu terjadi tanpa keikut-sertaan HTI sama sekali. Maka cukup mengherankan jika HTI ditolak karena dituduh akan mengubah UUD 45.

Sebagai Organisasi yang berbadan hukum yang disahkan SK Menkumham, HTI mendakwahkan dan mensosialisasi syariah dan khilafah dengan cara-cara damai yang tidak melanggar hukum. Jika kemudian rakyat dan wakil rakyat di DPR dan MPR menerima dakwah HTI maka perubahan menuju diterapkannya syariah baru bisa terjadi. Jadi HTI hanya menawarkan konsep perubahan saja, dan tidak bersifat memaksa. Bahkan konsep yang ditawarkan HTI boleh didiskusikan dan diuji oleh siapapun. Dan dengan duduk bersama dan berdiskusi dengan pikiran terbuka insya Allah kesalahpahaman ini dapat diminimalisasi.

Wallahu a’lam.

Tulisan Ini dipublikasikan Pertama Kali oleh Hariam Amanah


Acara yang dihadiri ribuan orang ini merupakan serangkaian agenda Rajab untuk semakin mengenalkan panji persatuan umat Islam, Panji Rasulullah SAW. Bukan tanpa halang rintang, Mapara di Jawa Tengah berhasil dilaksanakan dengan keteguhan dan semangat militansi dakwah Islam, tentu saja semata-mata karea pertolongan Allah SWT. 

Dakwah Jateng, SEMARANG - Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yang merupakan perhelatan akbar di bulan rajab ini sukses digelar DPD I Jawa Tengah di dua titik secara kolosal. Pertama, di rest area Tol Bawen pada Ahad, (9/04) dan Kedua, di Masjid Diponegoro Pleburan pada Rabu, (19/04).

Kegiatan yang mengusung tema besar "Khilafah Kewajiban Syar’i, Jalan Kebangkitan Umat" ini berlangsung aman dan tertib, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa pihak sebelumnya. "Forum ini merupakan sarana pertemuan antara Keluarga Besar Hizbut Tahrir Indonesia dengan Tokoh Masyarakat dari berbagai kalangan untuk membangun kesehatian dan persamaan persepsi tentang merajut langkah bersama membangkitkan Ummat dan melakukan perubahan menuju kehidupan Islam yang kita cita-citakan bersama", tutur Ustd Abdullah selaku Ketua HTI DPD I Jawa Tengah.



Acara yang dihadiri ribuan orang ini merupakan serangkaian agenda Rajab untuk semakin mengenalkan panji persatuan umat Islam, Panji Rasulullah SAW. Bukan tanpa halang rintang, Mapara di Jawa Tengah berhasil dilaksanakan dengan keteguhan dan semangat militansi dakwah Islam, tentu saja semata-mata karea pertolongan Allah SWT. Tidak hanya di Jawa Tengah, acara ini juga secara marathon digelar di 35 lima kota lainnya se-Indonesia. []Aab

Walaupun sempat dihentikan, Indonesia Khilafah Forum (IKF) akhirnya berhasil digelar oleh Hizbut Tahrir DPD I Jawa Tengah pada bulan April ini. Adanya penundaan pelaksanaan kegiatan besar tersebut karena ada ketidaksepahaman beberapa pihak mengenai tujuan penyelenggaraan acara. Meskipun begitu, peserta yang menghadiri sangat antusias untuk bertanya dan menyampaikan pandangan dan dukungannya terhadap perjuangan HTI.

Para Pembicara Indonesia Khilafah Forum Jawa Tengah

Para Peserta Khusyuk Dalam Mendengarkan Pemaparan

Testimoni Tokoh Purworejo, 

Usia Tidak Menghalangi Peserta untuk Mengikuti Acara Ini

Mualaf Sekaligus Budayawan Dari Purwokerto, Jawa Tengah

Acara Ditutup Dengan Do'a Oleh KH Nashrudin, Pimpinan Pondok Al Mabda' Al Islamy Semarang

Para Peserta Khusyuk Dalam Berdo'a

Kaum Hawa Pun Juga Antusias Mendengarkan Pemaparan Materi

Sesi Foto Bersama
Dok : JA, PL


 
Konferensi Pers Terkait Indonesia Khilafah Forum


Dakwah Jateng - Walaupun sempat dihentikan, kegiatan Masiroh Panji Rasulullah dan Indonesia Khilafah Forum (IKF) akhirnya berhasil digelar oleh Hizbut Tahrir DPD I Jawa Tengah pada bulan April ini. Adanya penundaan pelaksanaan kegiatan besar tersebut karena ada ketidaksepahaman beberapa pihak mengenai tujuan penyelenggaraan acara. Meskipun begitu, peserta yang menghadiri sangat antusias untuk bertanya dan menyampaikan pandangan dan dukungannya terhadap perjuangan HTI.

Kegiatan besar yang mengusung tema besar "Khilafah Kewajiban Syar’i, Jalan Kebangkitan Umat" berlangsung pada Ahad, 16 April 2017 bertempat di Wujil, Ungaran dengan suasana aman dan tertib, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa pihak sebelumnya. "Forum ini merupakan sarana pertemuan antara Keluarga Besar Hizbut Tahrir Indonesia dengan Tokoh Masyarakat dari berbagai kalangan untuk membangun kesehatian dan persamaan persepsi tentang merajut langkah bersama membangkitkan Ummat dan melakukan perubahan menuju kehidupan Islam yang kita cita - citakan bersama", tutur Ustd Abdullah selaku Ketua HTI DPD I Jawa Tengah.

Panji Rasulullah Berkibar Di Seluruh Pelosok Jawa Tengah
Alhamdulillah atas izin Allah SWT rangkaian kegiatan Masirah Panji Rasulullah di Jawa Tengah berjalan lancar. Pawai Panji Rasulullah ini dilaksanakan terpusat di kota Semarang, bertempat di dua lokasi yaitu Rest Area Tol Ungaran pada Ahad (9/04) dan Masjid Diponegoro, Pleburan Semarang pada Rabu (19/04). Kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan orang dari beberapa daerah di Jawa Tengah, untuk mengenalkan Panji Persatuan Islam, Panji Rasulullah SAW.




Masirah Panji Rasulullah diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia di 36 kota besar di seluruh Indonesia di sepanjang bulan April 2017 sejak 2 April, bertepatan dengan bulan Rajab 1438 H.

 
Sosialisasi Panji Rasulullah, Sulawesi Selatan


Dakwah Jateng - Polda Sulsel telah menyiapkan 2500 personel gabungan pada pengawalan acara Masirah Panji Rasullulah digelar oleh DPD I HTI Sulsel di Lapangan Karebosi, 16 April nanti.


Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengungkapkan, 2500 personel gabungan dari tiap-tiap satuan dari Polda Sulsel dan juga Polrestabes Makassar bersama jajarannya.

"Surat pemberitahuannya sudah masuk ke kami, dan untuk itu kita siapkan 2500 personel gabungan untuk kawal jalan kegiatan itu," ungkap Kombes Pol Dicky kepada tribun, Jumat (14/4/2017).

Kegiatan Masirah Panji Rasullulah SAW yang diselenggarakan DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sulsel ini akan diikuti sekitar  50 ribu anggota HTI yang berada di Sulsel.

Tentunya, banyaknya massa yang nanti akan mengikuti kegiatan itu dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita itu, pihak Polda akan terapkan sistem buka tutup atau rekayasa arus lalulintas.
Kombes Dicky menambahkan, segala bentuk persiapan pengawalan kegiatan tentunya sedang dilakukan oleh pihak Polda Sulsel dan jajaran.

"Mulai dari pengawalan agar acara itu berjalan tertib dan aman, kami mungkin akan melakukan rekayasa arus lalulintas untuk tidak mengganggu aktifitas warga dan pengguna jalan," jelas Dicky.
Menurut Dicky, semua kegiatan yang berkaitan dengan agama dan kegiatan kerohanian adalah hak bagi masyarakat Indonesia yang tentu sudah dilindungi oleh undang-undang.(*)

Sebelumnya dilansir dari laman Makassarterkini.com, Organisasi pemuda itu seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Pergerakan Pemuda Islam Indonesia (PPII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta PMII Cabang Jeneponto. Mereka menolak acara yang akan diselenggarakan oleh Hizbut-Tahrir tersebut.

Sumber :
Dakwah Media


dakwahjateng.net - Penulis dan Pemerhati Sosial Budaya Babel Ahmadi Sofyan menyayangkan adanya kelompok tertentu yang menghalangi Masirah Panji Rasulullah SAW di Jawa Timur beberapa waktu lalu.

“Menurut saya hal tersebut tidak boleh terjadi sama sekali kalau paham tentang perbedaan dan mengaku ber-Bhenika Tunggal Ika serta hidup di negeri berfalsafah Pancasila,” ungkapnya kepada mediaumat.com, Selasa, 4 April 2017.

Menurutnya, penyelenggara masirah tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),  bukan organisasi terlarang dan yang dilakukan mereka selama ini sangat akademik, ilmiah, santun. “Dan saya belum pernah melihat dan membaca adanya kekerasan yang dilakukan oleh kawan-kawan HTI,” ujarnya.

Ia menilai masirah tersebut merupakan bagian dari syiar dan sosialisasi agar umat dan bangsa ini tidak gagal paham tentang bendera yang bertuliskan tauhid, tidak alergi dengan tulisan Arab.

“Janganlah sedikit-sedikit dianggap tidak Pancasilais, tidak toleransi, tidak Bhenika Tunggal Ika. Wong Islam itu ajarannya wajib toleransi kok, diatas Pancasila dan jauh sebelum Bhenika Tunggal Ika ada, Islam sudah lebih dahulu mengajarkan kebhenikaan. Jadi jangan gagal paham saja tentang Panji Rasulullah SAW bagi yang nggak sreg,” pungkasnya.[] 

sumber : mediaummat.com
editor : satrio 


oleh : Doni Riw

dakwahjateng.net - Salah satu doa dlm sholat tarawih, seperti yg ada di website nu online, adalah memohon naungan di bawah panji-panji Rasulullah kelak di yaumul hisab.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلَمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Seperti kita ketahui, seluruh balasan di yaumul hisab adalah buah dari apa yg kita kerjakan selama di dunia.

Maka, cara untuk mendapat naungan panji-panji Rasulullah kelak di yaumul hisab kelak adalah dengan menegakkan panji-panji itu selama hidup di dunia.

Menegakkan panji-panji Rasulullah artinya adalah menjalankan seluruh ajaran Rasulullah yang meliputi aqidah, ibadah, ahlaq, dan seluruh muamalah.

Sedang seluruh syariah itu tidak akan mungkin tuntas tanpa kepemimpinan sempura seperti dicontohkan Rasulullah, yaitu sistem Khilafah di bawah pimpinan Khalifah.

Sedangkan sistem Khilafah di bawah kepemimpinan Khalifah itu menggunakan panji-panji Rasulullah bertuliskan kalimat syahadat. Sama dengan panji-panji yg kita harapkan naungannya kelak di yaumul hisab.

Jadi panji-panji Rasulullah di yaumul hisab dan panji-panji Rasulullah di dunia itu sejatinya berkorelasi.

Sesuatu yg mustahil, adalah ketika seseorang meminta perlindungan panji-panji Rasulullah di yaumul hisab kelak, namun tindakannya selama di dunia adalah menolak dakwah panji-panji Rasulullah, menolak dakwah syariah, menolak dakwah khilafah. Allahu a'lam. []

editor : satrio


dakwahjateng.net - Lembaga Oxfam menyebutkan harta total empat orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin.Dalam laporannya, Oxfam menyatakan kekayaan empat milyader terkaya di nusantara, tinggi dari total kekayaan 40 persen penduduk  miskin – atau sekitar 100 juta orang. Indonesia masuk dalam enam besar negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia. Pada tahun 2016, satu persen orang terkaya memiliki hampir setengah (49 persen) dari total kekayaan populasi.

Hanya dalam satu hari, orang Indonesia terkaya bisa mendapatkan bunga deposito dari kekayaannya, lebih dari seribu kali daripada dana yang dihabiskan penduduk Indonesia termiskin untuk kebutuhan dasar sepanjang tahun. Jumlah uang yang diperoleh setiap tahun dari kekayaan itu bahkan akan cukup untuk mengangkat lebih dari 20 juta orang Indonesia keluar dari jurang kemiskinan.

Oxfam juga melaporkan, walau menyandang predikat negara dengan pertumbuhan urbanisasi tertinggi di Asia, ketimpangan penduduk di perkotaan di Indonesia meningkat, demikian pula ketimpangan antara daerah pedesaan dan perkotaan. Oxfam mengingatkan, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin merupakan ancaman serius bagi kesejahteraan masa depan Indonesia.Hambat pertumbuhan ekonomi

Jika ketidaksetaraan tidak ditangani, maka akan jauh lebih sulit mengurangi kemiskinan, dan ketidakstabilan sosial dapat meningkat. Penelitian Oxfam juga menunjukkan bahwa kesenjangan ini menghambat pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, dengan mengambil tindakan untuk mempersempit kesenjangan, pemerintah bisa mengangkat jutaan orang untuk keluar dari kemiskinan, sehingga bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan berkelanjutan dan berkeadilan serta membantu Indonesia untuk memenuhi target sasaran tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dalam laporan terbaru Oxfam berjudul "Menuju Indonesia yang Lebih Setara" disebutkan bahwa penyebab ketidaksetaraan di Indonesia sangat kompleks. Di antaranya akibat kebijakan-kebijakan tertentu. Fundamentalisme pasar diperkenalkan setelah krisis keuangan menghantam Indonesia tahun 1997. Segelintir  orang menggunakan kekayaan mereka untuk mempengaruhi kebijakan dengan mengorbankan banyak hal. Gaji buruh rendah dan ketidakamanan kontrak kerja menjadi unsur penyumbang ketidakserataan ekonomi.

Demikian pula akses dan infrastruktur tidak merata antara daerah pedesaan dan perkotaan, seperti misalnya penyediaan listrik dan jalan raya. Belum lagi, konsentrasi kepemilikan tanah di tangan perusahaan-perusahaan besar dan orang-orang kaya. Sistem perpajakan telah gagal memainkan peran penting dalam mendistribusikan kekayaan, dan jauh dari potensi untuk membiayai pelayanan publik yang bisa membantu mengurangi ketimpangan itu.Pungutan pajak di Indonesia sebagai persentase dari pendapatan kotor di Indonesia merupakan yang terendah kedua di Asia Tenggara. Pada tahun 2014, US $ 100 milyar mengalir dari Indonesia ke negara-negara lain untuk menghindari pajak.

Angka itu setara dengan hampir 10 kali anggaran pendidikan di tanah air pada  tahun yang sama.
Padahal, penerimaan pajak diperlukan untuk membiayai pelayanan publik yang vital untuk memberikan kesempatan bagi semua orang. Di lain sisi, sistem pendidikan kekurangan dana, sehingga tidak memberikan kesempatan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan orang untuk memasuki dunia kerja. Itu artinya, jutaan pekerja tidak dapat mengakses  keterampilan tinggi yang bisa meningkatkan pendapatan.

Dikutip dari kompas.com, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengatakan, saat ini pemerintah belum berhasil mengatasi kesenjangan ekonomi: "10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,7 persen kekayaan nasional. Kekayaan tersebut diperoleh karena faktor kedekatan dengan kekuasaan. Sementara di sisi lain, pemerintah belum mampu meningkatkan kesejahteraan kelompok pekerja."

Diilansir dari AP, dalam penelitiannya, Forbes mencatat nama Budi dan Michael Hartono serta Susilo Wonowidjojo termasuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia.
Dengan menggunakan patokan garis kemiskinan moderat versi Bank Dunia, yang mematok pada pendapatan US $ 3,10, maka tercatat 93 juta orang Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Oxfam merekomendasikan agar pemerintah Indonesia segera mengambil langkah dalam mengurangi kesenjangan ekonomi.

Komentar : Jurang Antara orang kaya orang miskin semakin membesar karena diterapkannya sistem kapitalisme,  ciri khas sistem ini diantaranya adalah utang meningkat, konsentrasi kekayaan memihak pada pemodal dan timbulnya kemiskinan. Walhasil, Kapitalisme memiliki masalah sistemik dengan kemiskinan. Kapitalisme, diutak-atik bagaimanapun, tidak akan dapat memecahkan masalah sistemiknya. Untuk menghentikan tren meluasnya kemiskinan rakyat Indonesia dan dunia umumnya, kita membutuhkan sistem baru, yang merupakan alternatif dari Kapitalisme, yaitu sistem yang dibangun di atas fondasi yang berbeda dari Kapitalisme. Itulah sistem Islam yang bernama Khilafah Islamiyah. []

dikutip : dw.com, kompas.com
editor : Satrio


Dakwah Jateng - ULAMA Tangerang ini menangis karena dakwah yang dilakukan buruh pabrik!

Beliau adalah KH. Muhammad Tamim, seorang ulama kharismatik asal banten yang dengan rendah hati menceritakan pengalaman mendalamnya.

Dalam ceramahnya yang pertamakali viral diunggah akun fanspage fb Dakwah Tangerang, beliau menegaskan bahwa: Tugas para ulama yang seharusnya menyampaikan kebenaran, malah orang-orang pabrik yang membawakan kebenaran kepada Ulama! Ini Ulamanya pada ke mana??.

Allahuakbar. Ini mengingatkan kita untuk tidak melihat siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikanlah yang seharusnya

[]Aab





dakwahjateng.net – Bagi Anda yang menginginkan elemen umat Islam saling berpecah-belah dan saling serang tampaknya harus kecewa. Pasalnya, meskipun berbeda jalan, antara Banser NU dan HTI masih saling bertaut ukhuwah, bertaut dengan tali kasih-sayang Islam. Contohnya saat kegiatan Sosialisasi Panji Rasulullah di Alun-alun Tulungagung (1/4/2017).

Sekilas, yang tampak kasat mata dalam aksi banser di Alun-alun Tulungagung adalah sebuah sikap arogansi agresif dengan menyita panji-panji Rasulullah yang dibawa massa HTI. Namun, masih ada rasa persaudaraan di sana.

Salah seorang peserta Sosialisasi Panji Rasulullah, Bishri Musthofa mengisahkan, saat mengambil bendera, salah seorang anggota banser berkata kepadanya, “Kita masih ‘saudara’, Pak.”

Peserta kegiatan HTI di Masjid Agung Surabaya (MAS) pose bersama anggota Banser yang bertugas mengarahkan jalan (TuBer)

Begitu pula saat ia dan peserta Masirah lainnya berpesan pada anggota Banser yang mengambil bendera agar panji-panji Rasulullah tersebut disimpan baik-baik. Dengan sopan sang anggota Banser menganggukkan kepala dan berjanji menyimpannya dengan baik, sambil melipat panji-panji Rasulullah.

Sejenak sebelum peserta Sosialisasi Panji Rasulullah membubarkan diri, salah seorang yang tampaknya berperan sebagai juru bicara anggota Banser dalam aksi tersebut tampak berpelukan dengan salah satu orator kegiatan sosialisasi. Beberapa peserta sosialisasi dan anggota Banser pun tampak saling bersalaman.

foto : Aktivis Banser dan Aktivis HTI Saling Berpelukan di Tulung Agung

Tak hanya di Tulungagung, sikap persudaraan juga terlihat saat anggota Banser mengarahkan jalan peserta kegiatan HTI Jawa Timur saat menuju parkir bis dari Masjid Agung Surabaya.[]

#KuatKitaBersinar
#PanjiRasulullah

Sumber : TulungAgung Bersyariah
Editor : Satrio


oleh : Felix Siauw

dakwahjateng.net - Tiap-tiap ummat punya panji yang mereka junjung tinggi, yang menggambarkan keadaan mereka dan mewakili mereka, tanda dari apa yang mereka yakini

Panji yang mengibarkan semangat mereka, tekad mereka, dan tentu saja sesuatu simbol yang mereka banggakan lebih dari diri mereka sendiri, yang teristimewa

Adakah yang lebih kita banggakan dibandingkan hidayah Islam yang Allah telah mudahkan bagi kita? Yang dengannya syahadat mampu kita lafadzkan lewat lisan kita?

Dengan syahadat itu kita mulai menjadi hamba Allah, menekuni tiap perintah dan menjauhi larangan-Nya. Mencoba memurnikan ibadah agar layak mendaoat surga

Dengan syaahdat itu kita menjadi warga Muslim sedunia yang bersaudara tersebab diikatkan hatinya oleh Allah, tersebab keyakinan yang tak lekang oleh apapun

Maka adakah panji yang lebih cocok bagi kita selain apa yang dibawakan Rasulullah bagi ummatnya? Kalimat tauhid yang terukir pada kain hitam dan putihnya?

Sejelas tanda-tanda keberadaan Allah di muka bumi ini, sejelas itulah kalimat tauhid digores pada kain putih, dan sejelas itu pula kalimat tauhid digores pada kain hitam

Panji hitam dan putih ini pula yang dikibarkan saat Rasulullah memasuki kota selepas ekspedisi fii sabilillah, panji tanda kemenangan, dan keselamatan hidup

Dilanjut dari generasi ke generasi, panji ini tetap menemani sejarah panjang kaum Muslim dan segala kegemilangannya, panji ini tetap setiap dikibarkan ummat

Sebab ia kebanggan, tekad, semangat, keyakinan, cita-cita, dasar hidup, sebuah pernyataan yang mewakili Muslim ke tengah-tengah ummat yang lainnya

Bahwasanya di muka bumi ini tak ada yang layak disembah melainkan Allah, dan Muhammad saw adalah utusannya yang paling baik tuntunan dan teladannya.[]

editor : satrio



Oleh : Iwan Januar aktifis HTI

dakwahjateng.net -Memang tidak mudah menghadapi sesama muslim yang belum paham keadaan saudaranya. Apalagi belum memahami visi dan misi dakwah yang sedang dilakukannya. Kejadian penghadangan dan pembubaran Pawai Panji Rasulullah dan Tabligh Akbar di Jawa Timur bisa menjadi secuil bukti bahwa ketidakmauan memahami isi hati dan pikiran sesama muslim yang sedang beramal soleh bisa berujung pada kebencian.

Alhamdulillah, ribuan para syabab dan umat Muslim yang sudah menghadiri agenda mulia itu memilih bersabar, mengambil jalan terbaik untuk mengalah ketimbang mempersoalkan apalagi melawan. Saya tidak tahu, seandainya saat itu para syabab HTI dan jamaah yang sudah membludak itu memberikan perlawanan, apakah orang-orang yang hendak membubarkan acara itu – konon kabarnya hanya 1500 orang – sanggup menahannya? Alhamdulillah, itu tidak terjadi.
Kalangan yang tidak suka HTI lalu melakukan gerakan pelarangan dan penghadangan sejauh yang saya tahu karena mendapat informasi kalau HTI adalah ormas radikal, anti NKRI, intoleran, dan tinggi syahwat destruksinya. Kalau itu info yang mereka percayai jelas sulit untuk membuat mereka mau bersahabat.

Padahal sejauh yang sudah saya kaji dan saya pahami, tudingan itu tidak berdasar dan tak ada buktinya. Saya berkenalan dengan Hizbut Tahrir – waktu itu belum HTI – sejak bangku SMA di Bogor, pada tahun 90-an. Awalnya diajak kawan-kawan yang lebih dulu aktif di rohis sekolah sampai kemudian saya percaya kalau jama’ah ini baik-baik saja, tak ada masalah.

Di Hizbut Tahrir saya dan kawan-kawan dikokohkan akidahnya; membahas keimanan pada Allah, kenabian Muhammad, iman pada al-Qur’an juga Qadha dan Qadar. Sehingga saya heran ketika ada sebagian orang melempar tuduhan bahwa HTI tidak mengajarkan akidah, melulu bicara politik dan khilafah. Padahal itu kami bahas dan dijadikan dasar amal. Bahkan sekarang saya sedang mengkaji kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz 1, yang sarat dengan pembahasan akidah. Karenanya, saya menghimbau saudara-saudara kami yang sudah terlanjur percaya dengan kampanye itu untuk rajin bersilaturahmi dengan para pengurus HTI, khususnya para asatidznya, agar tidak keliru bersikap apalagi ikut menuduh yang tidak benar.

Termasuk kepada saudara-saudara kami sesama muslim yang menuduh HTI adalah Mu’tazilah atau Neo-Mu’tazilah sebaiknya tabayyun dan bertanya baik-baik. Karena dalam kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz 1 justru muassis jamaah ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah mengkritik kerasa para mutakallimin – termasuk paham Mu’tazilah -- yang mencampuradukkan akidah dengan ilmu kalam. Lalu, dimana letak Mu’tazilah-nya Hizbut Tahrir?
Itu satu sisi HTI. Di sisi lain, kami sering dituding tinggi syahwat destruksinya. Anti kebhinekaan, mengancam bangsa Indonesia, bahkan seringkali di media sosial para syabab diejek supaya jangan tinggal di bumi Indonesia kalau anti-demokrasi dan nasionalisme.
Hai, hai, pernahkah saudaraku membaca buletin al-Islam? Datang ke tempat kajian-kajian yang diadakan Hizbut Tahrir? Bertanya pada para syabab; apakah Anda benci pada Indonesia? Ingin mendestruksi/menghancurkan Indonesia? Jawabannya justru sebaliknya; para syabab itu ingin menyelamatkan Indonesia.

Mari bicara jujur, hidup kita di negeri ini makin sejahterakah? Makin amankah? Apakah warga pribumi sudah jadi tuan rumah di negeri sendiri, atau sebaliknya? Jadi kuli, babu bahkan pengangguran karena tanah airnya dan lapangan kerjanya sudah diberikan pada pihak asing? Kalau negeri ini sejahtera saya pikir tak ada warga kita yang bersusah payah meninggalkan keluarga, kampung halaman, hanya untuk menjadi tenaga kerja informal di negara orang.
Bukan HTI yang membuat negeri ini sengsara. Bukan HTI yang membuat BBM, tarif listrik, biaya sekolah, biaya kesehatan makin mahal. Bukan HTI yang membuat negeri ini jadi banyak pencuri, perampok, pemerkosa dan pedofil. Bukan HTI dan juga bukan Syariat Islam dan Khilafah penyebab semua itu.

Itulah sebabnya dalam buletin al-Islam, dalam Media Ummat, al-Waie, di situs, dan juga kajian-kajian HTI, para syabab menyodorkan solusi yang semestinya dilakukan oleh umat Islam. HTI bukan hanya menyodorkan tawaran kosong; ini haram, itu haram, tapi tanpa solusi. Para syabab bekerja keras memikirkan semua persoalan umat dan negeri, lalu menawarkan solusi terbaik dalam sudut pandang Islam.

Para syabab HTI itu amat cinta pada negeri ini. Mereka tidak rela negeri ini terus-terusan terpuruk, rakyatnya sengsara, dan bangsanya dibelit hutang. Ibarat rumah yang terbakar, para syabab HTI tahu itu, lalu mereka bekerja keras membangunkan penghuni rumah itu agar selamat. Sayangnya ada saja yang tidak percaya dan bersikukuh ingin bertahan di rumah yang sebentar lagi ludes dilalap si jago merah.

Para syabab HTI tidak pragmatis. Mempertahankan rumah yang akan terbakar habis. Para syabab HTI melihat ada solusi yang bisa dilakukan. Negeri ini terlalu cantik untuk dirusak oleh politisi yang korup, parpol yang pragmatis, dan rezim penipu nan represif. Semangat HTI adalah konstruktif dan solutif, bukan destruktif.

Sekarang kami bertanya baik-baik kepada saudara-saudaraku yang membenci amal para syabab HTI; adakah tawaran solusi lain untuk perbaikan negeri ini? Duduk berdoa, berzikir, sambil berharap sim salabim negeri ini akan baik? Apakah dengan menghadang rombongan pembawa Panji Rasulullah dan membubarkan tabligh akbar, atau mencegah dakwah HTI negeri ini akan jadi lebih baik? Mari sama-sama punyai spirit konstruktif dan solutif. Tapi kalau semangatnya ‘asal anti-HTI’, sungguh kami menyayangkan perbuatan seperti itu. Itu sama saja saudaraku berpartisipasi mendorong negeri ini ke dalam kehancuran.

Sampai sejauh ini terus terang kami belum melihat tawaran solusi nyata untuk negeri ini yang rasional apalagi sesuai agama. Yang kami prihatinkan hanyalah semangat anti-syariat, anti-khilafah, dan anti-HTI.  Kalau Syariat Islam dan Khilafah itu harus ditentang karena ide asing, bukan asli Nusantara, lalu darimana asal demokrasi? Gunung Kidulkah?!
Maaf, hampir semua agama dan budaya yang berada di negeri ini bukan asli muatan lokal. Hindu dari India, Budha dari India dan Cina, Kristen dari Eropa dan Islam dari Arab. Mungkin yang asli lokal hanyalah Nyi Roro Kidul dan Kuntilanak. Demokrasi dan republik juga bukan asli Indonesia, tapi dari warisan Yunani Kuno. Lalu kenapa hanya Syariat Islam dan Khilafah yang ditentang dengan alasan bukan asli Nusantara?

Kami bertanya; apakah itu yang namanya cinta tanah air ketika koleganya di parpol korupsi, menyetujui ekonomi neoliberal, mendiamkan seks bebas, cuek dengan separatisme-nya OPM, membiarkan privatisasi kekayaan alam, dll.  Dimana letak cinta orang yang seperti itu? Inikan ironis kalau tidak dibilang lucu. Selucu seleb Indonesia yang ngaku cinta Indonesia tapi menggunakan bahasa Inggris: Da*n I Love Indonesia! Lho katanya cinta Indonesia kok pake bahasa asing? Mungkin mereka kikuk kalau harus pakai bahasa Indonesia misalnya Kepar*t Aku Cinta Indonesia, atau Sial*n Aku Cinta Indonesia. Mereka juga bercas-cis-cus pakai bahasa Inggris di media sosial, di layar kaca, dll. Tapi mereka tidak pernah digugat pro-kebarat-baratan.

Karenanya justru kami rindu saudaraku sesama muslim ikut dalam agenda Panji Rasulullah. Kalaupun tidak ikut, ya berpartisipasi dengan mengawal dan menjaga agar aman, tertib dan lancar. Kalau umat Kristiani yang Natalan saja dijaga, bukankah sesama muslim jauh lebih penting lagi untuk dijaga? Sekali lagi, saya ingin menyampaikan bahwa semangat dakwah HTI adalah konstruktif dan solutif, bukan destruktif. Lihat saja, bukan sekali dua kali acara syabab HTI digagalkan, dihadang, diintimidasi sesama muslim, tapi alhamdulillah para syabab tidak pernah melawan. Memilih memuliakan sesama muslim karena para syabab tahu harta, darah dan kehormatan sesama muslim haram untuk dilanggar.

Terakhir, ada juga yang mengkritik para syabab HTI itu belum paham agama tapi sudah ngomong Khilafah. Baca kitab kuning nggak becus, baca al-Qur’an masih belepotan, tapi berani-beraninya ngomong Syariah dan Khilafah. Saudaraku, kami mengakui bahwa para syabab HTI itu beragam kondisinya. Hizbut Tahrir itu tumbuh dan berkembang di tengah umat yang sudah rusak akibat penjajahan Barat. Jauh dari tsaqofah Islamiyyah. Ada di antara syabab HTI itu yang baru belajar agama seperti saya, ada juga yang alhamdulillah Allah karuniai ilmu agama yang ekselen alias mumtaz. Tapi bi idznillah kemudian ada orang-orang masih awam pengetahuan agamanya mendapat hidayah Allah, mau berubah, mau mengaji dan berdakwah. Apakah ini baik atau buruk, saudaraku?
Apakah ketika ada saudara kita yang belum lancar bacaan shalatnya kemudian ia mengerjakan shalat lima waktu berjamaah ke mesjid, lantas kita hinakan ia? Pantaskah kita katakan padanya; sudah pulang saja ke rumah, sampeyan kan belum lancar bacaan shalat, nggak pantas shalat jamaah ke mesjid. Begitukah?

Apakah gara-gara belum bisa baca kitab kuning, lantas seorang bujangan tidak boleh menikah? Yang belum bisa baca al-Qur’an dilarang umroh apalagi haji? Yang belum hafal matan alfiyah tidak boleh memberikan nasihat pada saudaranya? Bukankah tidak ada syarat sah ataupun rukun seperti itu? Janganlah kita mengada-ada dalam agama.Yang saya tahu, para syabab HTI yang beragam itu latar belakangnya (mulai dari tukang becak, ibu rumah tangga, anak sekolah sampai profesor dan pimpinan ponpes) ingin mengamalkan hadits mulia dari Rasulullah SAW.:

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِى فَوَعَاهَا ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّى فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya (HR. Ibnu Majah).

Bila Allah dan RasulNya memuliakan orang-orang yang tidak faqih tapi menyampaikan pada orang yang lebih faqih, apakah pantas bila kita melecehkan mereka?
Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan ukhuwah pada semua muslim di dunia.[]

editor : satrio


dakwahjateng.net - Jemaah yang sudah mendatangi Masjid Al Akbar Surabaya sejak Sabtu (1/4) malam mendirikan salat subuh berjamaah. Saf masjid tampak penuh oleh jamaah baik laki-laki maupun perempuan. 

Berdasarkan pantauan detikcom, Minggu (2/4/2017), tak hanya orang dewasa, ada pula anak-anak yang terlihat mengikuti salat berjamaah. Jemaah yang membludak membuat beberapa orang harus melaksanakan salat di tangga masjid. 

Jemaah yang memenuhi Masjid Al Akbar hari ini dikabarkan berasal dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur. 

Selain menunaikan salat subuh berjamaah, jemaah juga direncanakan akan mengikuti tabligh akbar. 
Sebelumnya, diberitakan 16 mobil yang dinaiki jemaah HTI dihentikan kepolisian dari Mapolsek Sumberrejo. Mereka dihentikan saat melintas di Jalan Raya Bojonegoro-Babat, persisnya di depan Mapolsek Sumberejo, pada Sabtu (1/4) sekitar pukul 23.30 WIB.


Semua Demi Jaga Ukhuwah


Seperti tahun-tahun sebelumnya Hizbut Tahrir Indonesia senantiasa menajadikan momentum bulan rajab sebagai  momen dakwah yang dilakukan secara serentak diseluruh Indonesia. Rajab adalah bulan mulia yang didalamnya terdapat peristiwa yang tak mungkin dilupakan umat islam yaitu diangkatnya Rasulullah ke langit untuk menerima perintah yang sangat besar yaitu Sholat wajib 5 waktu sekaligus mementum peringatan runtuhnya daulah Khilafah di Turki.



Tahun inipun Hizbut Tahrir Indonesia juga menyelenggarakan agenda dakwah yang sama, namun ternyata tantangan dakwah semakin hari semakin kuat menghambat, kebencian dari mereka yang benci tegaknya syariat islam semkin menjadi-jadi, hal ini sebagaimana yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. 

Agenda Tabligh Akbar, Ahad (2/4/2017) yang akan diselenggarakan oleh HTI DPD 1 Jawa Timur terpaksa dibatalkan, karena pembubaran paksa oleh Banser yang hanya berjumlah 1500 orang, meskipun terdapat keganjilan yang teramat sangat mengingat HTI adalah organisasi resmi yang telah terdaftar dalam Menkumham, namun demi menjaga kedamaian HTI mengalah, agar ukhuwah antar sesama muslim tetap terjaga dan bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan akhirnya massa HTI yang berjumlah 60.000 orang dari berbagai penjuru Jawa Timur membubarkan diri dengan tertib.

Setelah sholat subuh berjamaah di masjid Al Akbar Surabaya Masa HTI yang didominasi oleh kaum santri dan intelektual kampus ini pulang dengan tertib tanpa ada kericuhan sedikitpun. Sebuah kemenangan dan kedewasaan sikap yang luar biasa ditunjukan oleh HTI, sikap yang seperti inilah yang harus dimiliki oleh seluruh warga Indonesia, bukan adu otot, betapapun dari sisi jumlah lebih besar dan tak mungkin dapat dikalahkan namun tetap berdakwah berada dalam jalur yang ditetapkan Rasulullah, dakwah damai dengan pemikiran.[]

Sumber : detik, dakwahmedia
editor : Satrio
loading...
Powered by Blogger.