Umat islam kini telah sadar bahwa Alquran adalah sandaran hidupnya, umat islam kini sadar bahwa standar perbuatan itu harus didasarkan pada Alquran dan Sunnah, dan umat islam telah benar-benar mengamalkan Surat Almaidah Ayat 51 sebagai petunjuk dalam memilih seorang pemimpin.
Yang kini jadi pertanyaan, jika umat islam kini telah terbebas dari surat almaidah ayat 51, bagaimana dengan surat almaidah ayat 50 yang mundur satu ayat kebelakang ? Apakah umat islam bersandar kepada Alquran Seluruhnya ?
Dakwahjateng.net- Semarang, Ditengah ramainya Pilkada Jakarta yang selesai digelar pada tanggal 19 april kemarin, akhirnya Pasangan muslim Anies dan Sandi berhasil menduduki puncak kepemimpinan DKI Jakarta. Hal ini tidak terlepas dari dukungan umat islam dalam memilih pemimpin muslim dan haramnya pemimpin kafir.

Dengan adanya kasus penistaan agama oleh Ahok yang menghina ayat suci Alquran surat almaidah 51 di kepulauan seribu membuat umat islam marah besar sehingga membuat umat islam turun kejalan berkali-kali, yang terbesar dan mungkin masih terngiang sampai saat ini mungkin aksi 411 dan 212.
Berbagai upaya dilakukan oleh umat islam pada waktu itu baik secara kredit maupun diskredit agar umat islam ini mau mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah melalui Alquran bahwa jangan jadikan Orang-Orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin diantara kalian, dan terbukti upaya itu telah terbukti membuat Ahok kalah diputaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Umat islam kini telah sadar bahwa Alquran adalah sandaran hidupnya, umat islam kini sadar bahwa standar perbuatan itu harus didasarkan pada Alquran dan Sunnah, dan umat islam telah benar-benar mengamalkan Surat Almaidah Ayat 51 sebagai petunjuk dalam memilih seorang pemimpin.
Yang kini jadi pertanyaan, jika umat islam kini telah terbebas dari surat almaidah ayat 51, bagaimana dengan surat almaidah ayat 50 yang mundur satu ayat kebelakang ? Apakah umat islam bersandar kepada Alquran Seluruhnya ?

Mari kita simak ayatnya :

 { أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ }
[artinya:" Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?"Q.S.Almaidah :50]

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengingkari orang yang berpaling dari hukum Allah -hukum yang telah muhkam (kokoh), meliputi seluruh kebaikan dan mencegah setiap keburukan- kemudian orang tersebut justru berpaling kepada yang lain, berupa pandangan-pandangan, hawa nafsu dan berbagai peristilahan yang dibuat oleh manusia tanpa bersandar kepada Syariat Allah, sebagaimana masyarakat jahiliyah berhukum kepada kesesatan dan kebodohan, hukum yang mereka buat berdasarkan pandangan dan hawa nafsu mereka.

Sama halnya seperti Bangsa Tartar yang berhukum dengan kebijakan-kebijakan kerajaan yang diambil dari keputusan raja mereka, Jengiskhan, raja yang telah menyusun al Yasaq untuk mereka, yaitu kitab kumpulan hukum yang diramu dari berbagai syariat yang berbeda, termasuk dari Yahudi, Nasrani dan Islam. Di dalamnya juga terdapat  banyak hukum yang semata-mata dia ambil dari pandangan dan hawa nafsunya. Kitab itu kemudian berubah menjadi syariat yang diikuti oleh anak keturunannya, yang lebih diutamakan ketimbang hukum yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Barangsiapa melakukan hal tersebut maka dia telah kafir. Ia wajib diperangi sampai mau kembali merujuk kepada hukum Allah dan RasulNya, sampai dia tidak berhukum kecuali dengannya (Kitab dan Sunnah) baik sedikit maupun banyak.”

Lalu Ibnu Katsir melanjutkan: “Allah berfirman {أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ} artinya: “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?”, yaitu: (apakah) mereka mencari dan menghendaki (hukum jahiliyah), sementara terhadap hukum Allah mereka berpaling? {وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ} artinya: “dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?”, Yaitu: siapakah yang lebih adil dari Allah dalam hukumnya bagi orang yang memahami syariat Allah dan beriman, yakin serta mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Pemberi Keputusan yang paling bijaksana (ahkamul hakimin), lebih mengasihi makhluqnya ketimbang kasih-sayang seorang ibu kepada anaknya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang mengetahui segala sesuatu, Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu, dan Dzat yang Adil dalam segala sesuatu”.

Jika kita meresapi ayat ini sudah barang tentu umat islam belum terbebas sebagai halnya surat almaidah  51, berkali-kali kita dikecewakan oleh penegak hukum dinegeri ini yang membuat penista agama hanya dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan selama dua tahun, maka dari itu sudah seharusnya umat islam saat ini meneruskan langkahnya dengan menstandarkan perbuatan kita sesuai dengan alquran dan sunnah, sebagaimana yang telah kita lakukan pada penerapan surat almaidah 51. Semoga kedepan seluruh isi Alquran  dapat kita amalkan dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara.

Wallahualam bishowab.[]

satrio

Post a Comment

Powered by Blogger.