Oleh : Iwan Januar aktifis HTI

dakwahjateng.net -Memang tidak mudah menghadapi sesama muslim yang belum paham keadaan saudaranya. Apalagi belum memahami visi dan misi dakwah yang sedang dilakukannya. Kejadian penghadangan dan pembubaran Pawai Panji Rasulullah dan Tabligh Akbar di Jawa Timur bisa menjadi secuil bukti bahwa ketidakmauan memahami isi hati dan pikiran sesama muslim yang sedang beramal soleh bisa berujung pada kebencian.

Alhamdulillah, ribuan para syabab dan umat Muslim yang sudah menghadiri agenda mulia itu memilih bersabar, mengambil jalan terbaik untuk mengalah ketimbang mempersoalkan apalagi melawan. Saya tidak tahu, seandainya saat itu para syabab HTI dan jamaah yang sudah membludak itu memberikan perlawanan, apakah orang-orang yang hendak membubarkan acara itu – konon kabarnya hanya 1500 orang – sanggup menahannya? Alhamdulillah, itu tidak terjadi.
Kalangan yang tidak suka HTI lalu melakukan gerakan pelarangan dan penghadangan sejauh yang saya tahu karena mendapat informasi kalau HTI adalah ormas radikal, anti NKRI, intoleran, dan tinggi syahwat destruksinya. Kalau itu info yang mereka percayai jelas sulit untuk membuat mereka mau bersahabat.

Padahal sejauh yang sudah saya kaji dan saya pahami, tudingan itu tidak berdasar dan tak ada buktinya. Saya berkenalan dengan Hizbut Tahrir – waktu itu belum HTI – sejak bangku SMA di Bogor, pada tahun 90-an. Awalnya diajak kawan-kawan yang lebih dulu aktif di rohis sekolah sampai kemudian saya percaya kalau jama’ah ini baik-baik saja, tak ada masalah.

Di Hizbut Tahrir saya dan kawan-kawan dikokohkan akidahnya; membahas keimanan pada Allah, kenabian Muhammad, iman pada al-Qur’an juga Qadha dan Qadar. Sehingga saya heran ketika ada sebagian orang melempar tuduhan bahwa HTI tidak mengajarkan akidah, melulu bicara politik dan khilafah. Padahal itu kami bahas dan dijadikan dasar amal. Bahkan sekarang saya sedang mengkaji kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz 1, yang sarat dengan pembahasan akidah. Karenanya, saya menghimbau saudara-saudara kami yang sudah terlanjur percaya dengan kampanye itu untuk rajin bersilaturahmi dengan para pengurus HTI, khususnya para asatidznya, agar tidak keliru bersikap apalagi ikut menuduh yang tidak benar.

Termasuk kepada saudara-saudara kami sesama muslim yang menuduh HTI adalah Mu’tazilah atau Neo-Mu’tazilah sebaiknya tabayyun dan bertanya baik-baik. Karena dalam kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz 1 justru muassis jamaah ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah mengkritik kerasa para mutakallimin – termasuk paham Mu’tazilah -- yang mencampuradukkan akidah dengan ilmu kalam. Lalu, dimana letak Mu’tazilah-nya Hizbut Tahrir?
Itu satu sisi HTI. Di sisi lain, kami sering dituding tinggi syahwat destruksinya. Anti kebhinekaan, mengancam bangsa Indonesia, bahkan seringkali di media sosial para syabab diejek supaya jangan tinggal di bumi Indonesia kalau anti-demokrasi dan nasionalisme.
Hai, hai, pernahkah saudaraku membaca buletin al-Islam? Datang ke tempat kajian-kajian yang diadakan Hizbut Tahrir? Bertanya pada para syabab; apakah Anda benci pada Indonesia? Ingin mendestruksi/menghancurkan Indonesia? Jawabannya justru sebaliknya; para syabab itu ingin menyelamatkan Indonesia.

Mari bicara jujur, hidup kita di negeri ini makin sejahterakah? Makin amankah? Apakah warga pribumi sudah jadi tuan rumah di negeri sendiri, atau sebaliknya? Jadi kuli, babu bahkan pengangguran karena tanah airnya dan lapangan kerjanya sudah diberikan pada pihak asing? Kalau negeri ini sejahtera saya pikir tak ada warga kita yang bersusah payah meninggalkan keluarga, kampung halaman, hanya untuk menjadi tenaga kerja informal di negara orang.
Bukan HTI yang membuat negeri ini sengsara. Bukan HTI yang membuat BBM, tarif listrik, biaya sekolah, biaya kesehatan makin mahal. Bukan HTI yang membuat negeri ini jadi banyak pencuri, perampok, pemerkosa dan pedofil. Bukan HTI dan juga bukan Syariat Islam dan Khilafah penyebab semua itu.

Itulah sebabnya dalam buletin al-Islam, dalam Media Ummat, al-Waie, di situs, dan juga kajian-kajian HTI, para syabab menyodorkan solusi yang semestinya dilakukan oleh umat Islam. HTI bukan hanya menyodorkan tawaran kosong; ini haram, itu haram, tapi tanpa solusi. Para syabab bekerja keras memikirkan semua persoalan umat dan negeri, lalu menawarkan solusi terbaik dalam sudut pandang Islam.

Para syabab HTI itu amat cinta pada negeri ini. Mereka tidak rela negeri ini terus-terusan terpuruk, rakyatnya sengsara, dan bangsanya dibelit hutang. Ibarat rumah yang terbakar, para syabab HTI tahu itu, lalu mereka bekerja keras membangunkan penghuni rumah itu agar selamat. Sayangnya ada saja yang tidak percaya dan bersikukuh ingin bertahan di rumah yang sebentar lagi ludes dilalap si jago merah.

Para syabab HTI tidak pragmatis. Mempertahankan rumah yang akan terbakar habis. Para syabab HTI melihat ada solusi yang bisa dilakukan. Negeri ini terlalu cantik untuk dirusak oleh politisi yang korup, parpol yang pragmatis, dan rezim penipu nan represif. Semangat HTI adalah konstruktif dan solutif, bukan destruktif.

Sekarang kami bertanya baik-baik kepada saudara-saudaraku yang membenci amal para syabab HTI; adakah tawaran solusi lain untuk perbaikan negeri ini? Duduk berdoa, berzikir, sambil berharap sim salabim negeri ini akan baik? Apakah dengan menghadang rombongan pembawa Panji Rasulullah dan membubarkan tabligh akbar, atau mencegah dakwah HTI negeri ini akan jadi lebih baik? Mari sama-sama punyai spirit konstruktif dan solutif. Tapi kalau semangatnya ‘asal anti-HTI’, sungguh kami menyayangkan perbuatan seperti itu. Itu sama saja saudaraku berpartisipasi mendorong negeri ini ke dalam kehancuran.

Sampai sejauh ini terus terang kami belum melihat tawaran solusi nyata untuk negeri ini yang rasional apalagi sesuai agama. Yang kami prihatinkan hanyalah semangat anti-syariat, anti-khilafah, dan anti-HTI.  Kalau Syariat Islam dan Khilafah itu harus ditentang karena ide asing, bukan asli Nusantara, lalu darimana asal demokrasi? Gunung Kidulkah?!
Maaf, hampir semua agama dan budaya yang berada di negeri ini bukan asli muatan lokal. Hindu dari India, Budha dari India dan Cina, Kristen dari Eropa dan Islam dari Arab. Mungkin yang asli lokal hanyalah Nyi Roro Kidul dan Kuntilanak. Demokrasi dan republik juga bukan asli Indonesia, tapi dari warisan Yunani Kuno. Lalu kenapa hanya Syariat Islam dan Khilafah yang ditentang dengan alasan bukan asli Nusantara?

Kami bertanya; apakah itu yang namanya cinta tanah air ketika koleganya di parpol korupsi, menyetujui ekonomi neoliberal, mendiamkan seks bebas, cuek dengan separatisme-nya OPM, membiarkan privatisasi kekayaan alam, dll.  Dimana letak cinta orang yang seperti itu? Inikan ironis kalau tidak dibilang lucu. Selucu seleb Indonesia yang ngaku cinta Indonesia tapi menggunakan bahasa Inggris: Da*n I Love Indonesia! Lho katanya cinta Indonesia kok pake bahasa asing? Mungkin mereka kikuk kalau harus pakai bahasa Indonesia misalnya Kepar*t Aku Cinta Indonesia, atau Sial*n Aku Cinta Indonesia. Mereka juga bercas-cis-cus pakai bahasa Inggris di media sosial, di layar kaca, dll. Tapi mereka tidak pernah digugat pro-kebarat-baratan.

Karenanya justru kami rindu saudaraku sesama muslim ikut dalam agenda Panji Rasulullah. Kalaupun tidak ikut, ya berpartisipasi dengan mengawal dan menjaga agar aman, tertib dan lancar. Kalau umat Kristiani yang Natalan saja dijaga, bukankah sesama muslim jauh lebih penting lagi untuk dijaga? Sekali lagi, saya ingin menyampaikan bahwa semangat dakwah HTI adalah konstruktif dan solutif, bukan destruktif. Lihat saja, bukan sekali dua kali acara syabab HTI digagalkan, dihadang, diintimidasi sesama muslim, tapi alhamdulillah para syabab tidak pernah melawan. Memilih memuliakan sesama muslim karena para syabab tahu harta, darah dan kehormatan sesama muslim haram untuk dilanggar.

Terakhir, ada juga yang mengkritik para syabab HTI itu belum paham agama tapi sudah ngomong Khilafah. Baca kitab kuning nggak becus, baca al-Qur’an masih belepotan, tapi berani-beraninya ngomong Syariah dan Khilafah. Saudaraku, kami mengakui bahwa para syabab HTI itu beragam kondisinya. Hizbut Tahrir itu tumbuh dan berkembang di tengah umat yang sudah rusak akibat penjajahan Barat. Jauh dari tsaqofah Islamiyyah. Ada di antara syabab HTI itu yang baru belajar agama seperti saya, ada juga yang alhamdulillah Allah karuniai ilmu agama yang ekselen alias mumtaz. Tapi bi idznillah kemudian ada orang-orang masih awam pengetahuan agamanya mendapat hidayah Allah, mau berubah, mau mengaji dan berdakwah. Apakah ini baik atau buruk, saudaraku?
Apakah ketika ada saudara kita yang belum lancar bacaan shalatnya kemudian ia mengerjakan shalat lima waktu berjamaah ke mesjid, lantas kita hinakan ia? Pantaskah kita katakan padanya; sudah pulang saja ke rumah, sampeyan kan belum lancar bacaan shalat, nggak pantas shalat jamaah ke mesjid. Begitukah?

Apakah gara-gara belum bisa baca kitab kuning, lantas seorang bujangan tidak boleh menikah? Yang belum bisa baca al-Qur’an dilarang umroh apalagi haji? Yang belum hafal matan alfiyah tidak boleh memberikan nasihat pada saudaranya? Bukankah tidak ada syarat sah ataupun rukun seperti itu? Janganlah kita mengada-ada dalam agama.Yang saya tahu, para syabab HTI yang beragam itu latar belakangnya (mulai dari tukang becak, ibu rumah tangga, anak sekolah sampai profesor dan pimpinan ponpes) ingin mengamalkan hadits mulia dari Rasulullah SAW.:

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِى فَوَعَاهَا ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّى فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya (HR. Ibnu Majah).

Bila Allah dan RasulNya memuliakan orang-orang yang tidak faqih tapi menyampaikan pada orang yang lebih faqih, apakah pantas bila kita melecehkan mereka?
Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan ukhuwah pada semua muslim di dunia.[]

editor : satrio

Post a Comment

Powered by Blogger.