dakwahjateng.net - Nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tengah ramai diperbincangkan publik usai pemerintah memutuskan akan membubarkan organisasi itu karena dinilai mengancam NKRI.
Terlepas dari gejolak polemik soal keputusan tersebut, beberapa jemaah HTI--biasa disebut Syabab HTI-- mengaku tak pernah diajarkan untuk melakukan hal-hal yang bersifat menentang dasar negara oleh para ustaz mereka di HTI.

Choirul Anas (29), pria yang telah menjadi anggota HTI sejak tahun 2004 ini mengaku perkenalannya dengan HTI justru banyak membawa perubahan baik bagi dirinya.
"Saya sejak SMA ikut HTI. HTI yang membuat saya keluar dari jurang kemaksiatan waktu SMA. Di saat anak-anak SMA dan teman-teman saya pacaran dan narkoba, ada gitu ya ormas islam ya HTI itu yang menolong kita dan mengangkat kita dari kejahiliyahan," ujar Chairul kepada kumparan (kumparan.com), Selasa (9/5). 
Perkenalan Chairul dengan HTI bermula dari ajakan salah seorang temannya untuk menghadiri acara pengajian yang diadakan oleh HTI.
"Kebetulan saya anggota rohis pas SMA. Kebetulan ada temen rumah ya teman sekolah juga ngajak saya ikut pengajian HTI. Sejak itu sering ikut pengajiannya," ujar Syabab HTI wilayah Bogor ini.
"Waktu kuliah di kampus saya enggak ada HTI, saya kuliah Bahasa Arab. Tapi saya tetap rajin ikut kajian HTI," imbuh dia.

HTI adalah organisasi islam skala besar pertama yang dikenal Chairul. Beragam ilmu yang didapat dari para ustaz HTI, kata Chairul, selalu berhasil menyentuh nuraninya dan menyadarkannya tentang hakikat kehidupan.
"HTI mengajarkan saya kebaikan, meluruskan, membuat kita jadi bertaubat. Juga menyadarkan hakikat hidup dan fungsi manusia, kemudian tugas manusia di muka bumi itu apa juga peran remaja. Itu yang mengena banget ke saya," ucap Chairul.

Hal lain yang membuat Chairul tetap setia menjadi Syabab HTI hingga saat ini, adalah karena organisasi itu tak pernah mempermasalahkan perbedaan tata cara ibadah anggotanya yang beragam.
"Yang (caranya ikut) Nahdlatul Ulama atau NU ya tetap NU, yang (caranya ikut) Muhammadiyah ya tetap muhammadiyah, tata cara ibadahnya. HTI itu mengajarkan hakikat hidup, segi ibadaahnya sama saja tak masalah. Sekarang saya sudah berkeluarga dan alhamdulillah keluarga saya ajak gabung HTI," kata Chairul.

Chairul sering turun langsung ke jalan menyuarakan beragam aspirasi bersama para Syabab lainnya. Ia mengaku bangga dengan beragam aksi demonstrasi yang mereka lakukan karena tak pernah memicu kericuhan.
"Aktif ikut aksi ke jalan. Gerakannya intelek banget, kalo melihat mahasiswa demo itu biasanya bakar-bakar dan  anarki, kalau HTI masya allah damai. Enggak pakai kekerasan, taat aturan sama polisi," ujar Chairul.
"Dari polisi juga dapat apresiasi, orang HTI nurut, enggak perlu banyak penjagaan. Rata-rata yang didemokan ajakan Islam, mengajak melanjutkan kehidupan secara Islam," lanjutnya.
Ketika disinggung soal isu khilafah yang sering diusung oleh HTI dan banyak menimbulkan kontroversi, Chairul menegaskan HTI tak pernah mengajarkan para anggotanya untuk merobohkan Pancasila melalui penegakan Khilafah.

"Sebetulnya banyak tafsir soal Khilafah, tapi ketika di HTI ketika merujuk khilafah, itu memang lebih condong ke sistem pemerintahan. Antara khilafah dan Pancasila bukan dua hal yang harus dibenturkan. Sampai sejauh ini saya enggak lihat HTI itu punya pemikiran akan menumpas Pancasila gitu," ujar Chairul.
"Pancasila sebagai sebuah nilai akan tetap lestari. Ketika khilafah tegak misalnya apakah orang Nasrani masuk Islam? ya enggak juga, pemerintahan dan pejabat akan dipecat kalo khilafah tegak? enggak pernah dengar saya," imbuhnya.  

Senada dengan beragam ajaran kebaikan yang didapat Chairul dari HTI, syabab HTI lainnya yaitu Novi (39), juga mengaku HTI telah menjadi batu lompatan bagi dirinya untuk hijrah menjadi muslim yang kaffah.
"Saya dulu sering dugem pas masih tinggal di Bali. Saya kuliah perhotelan di sana, banyak lihat pergaulan bebas," kata Novi kepada kumparan.
"Lalu tahun 1999 di pertengahan masa membuat skripsi pas saya pulang ke Semarang, saya diajak teman ikut pengajian HTI, sejak itulah ilmu saya soal Islam semakin bertambah," lanjut jemaah HTI wilayah Semarang ini.
Ilmu baru soal kewajiban menutup aurat bagi wanita muslim yang dipelajari Novi dari kajian-kajian di HTI, membuat dirinya enggan kembali ke Bali untuk menyelesaikan skripsi.
"Tadinya mau balik ke sana menyelesaikan skripsi tapi saya tahu ilmu kewajiban hijab, saya belum berhijab. Kalau saya balik ke sana belum boleh pakai kerudung, di zaman itu pakai kerudung masih langka," ujarnya.
"Saya mantap berhijab dan enggak akan meninggalkan, karena kalau kita sudah tahu kebenaran dan enggak melakukan itu namanya kemaksiatan. Ya sudah saya enggak lanjut kuliah," imbuh Novi. 

Melalu ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan HTI, kata Novi, berbagai kegelisahan yang ia rasakan ketika berada di Bali terjawab sudah.
"Saya dulu dari masa kegelapan saya sudah tau dunia itu seluk beluk kriminilitas sampai pergaulan bebas di depan mata, saya enggak tenang kala itu. Di sana teman-teman saya orang muslim tapi enggak melakukan apa-apa yang diwajibakan islam," ucap Novi.
"HTI ini tempatnya. Harusnya muslim itu pegang al-quran dan sunnah, ini yang benar ini kayak gini, makanya saya langsung klik (dengan HTI)," imbuh dia. 
Tak lama setelah menjadi aktivis dakwah bersama HTI, Novi memutuskan untuk melepas masa lajangnya. Ia sama sekali tak menyesal menikah di usia muda dan gagal menjadi sarjana.
"Langsung menikah enggak lama dari itu. Allah memberikan pertolongan dengan menikah, saya enggak dapat ijazah tapi dapat ijab sah," ujarnya.

Perihal pembubaran HTI oleh pemerintah karena dinilai bertentangan Pancasila, Novi enggan banyak berkomentar. Namun menurutnya, selama delapan belas tahun menjadi Syabab HTI, tak pernah ada ajaran HTI yang bertentangan dengan Pancasila.
"Enggaklah kita kan makhluk Allah, pancasila di sila pertama tuhan yang maha esa. Kita justru diarahkan ke sana. Itu anak-anak muda yang masih berada di kegelapan kayak teman-teman saya dulu itu malah enggak sesuai dgn sila 1," kata dia.
"Kita itu justru mau menyelamatkan negara, kalau mereka rusak bagaimana? padahal mereka aset negara,"imbuh Novi.[] 

sumber : Kumparan.com
editor : satrio 


Post a Comment

Powered by Blogger.