Dakwah Jateng - Pada hari Sabtu 8 Juli 2017, pukul 20.00 -22.00 WIB, segenap komponen umat Islam Kabupaten Kudus, yang tergabung dalam “Alumni Peserta Aksi Bela Qur’an” mengadakan acara “Silaturahmi dan Halal Bi Halal".

Acara tersebut diadakan di kediaman salah seorang tokoh Kabupaten Kudus, Bp. H. Fakih yang dihadiri sekitar 30an peserta dari berbagai organisasi.

Di sesi pertama, yaitu Mauidhoh Hasanah, Ust Abu Habib, Lc., M.Ag. dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menyampaikan tentang makna pentingnya menumbuhkan rasa kasih sayang di antara kaum muslimin sehingga akan menjadikan kuatnya ukhuwah islamiyah. Beliau menegaskan bahwa halal bi halal seyogyanya menjadi momentum untuk memperkokoh persaudaraan di antara umat Islam. Kata “saudara dan persaudaraan” memiliki 2 dimensi pemaknaan.
Kata “saudara” merefleksikan hubungan silaturahmi YANG TERLAHIR DARI RAHIM YANG SAMA, sedangkan kata “persaudaraan” merepresentasikan hubungan silah ukhuwah. Dahsyatnya, persaudaraan adalah ikatan kasih sayang yang kuat, sekalipun tidak terlahir dari rahim yang sama, demikian paparan beliau.

Ust Abu Habib juga menambahkan membangun ukhuwah islamiyah ADALAH BAGIAN DARI JALAN MENUJU SURGA, HAL ITU DIDASARI SABDA NABI SAW: “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim no. 54).

SUATU KENISCAYAAN BAHWA SYARAT UKHUWAH  ISLAMIYAH ADALAH
(1) Iman;
(2) Saling Cinta;
(3) Menahan Amarah; dan
(4) Mau Memaafkan.
Inilah mutiara yang perlu diperkokoh oleh umat Islam, lebih-lebih saat ini di mana umat Islam sedang diadu domba oleh kalangan yang tidak menyukai persatuan umat Islam.

Pada sesi berikutnya, ada paparan dari Ketua Tim PKBH (Pusat Kajian dan Bantuan Hukum) HTI Jawa Tengah, Bp. Zulhaidir, SH. Beliau menjelaskan tentang adanya Proxy War yang dilakukan oleh kekuatan global untuk melakukan adu domba terhadap umat Islam sehingga menyebabkan lemahnya persatuan dan kesatuan diakibatkan hilangnya perasaan kasih sayang diantara kaum muslimin. Proxy War yang sudah diluncurkan oleh kekuatan global ini telah mewarnai dinamika kehidupan politik di Indonesia, lebih-lebih pasca aksi damai  212. Menurut Bp. Zulhaidir umat Islam harus memahami dan mewaspadai adanya upaya untuk membuat friksi di tubuh umat Islam sehingga akan terjadi benturan horisontal di tubuh umat Islam. Proxy War ini dilakukan oleh negara-negara besar yang ingin menguasai berbagai potensi yang ada di Indonesia, termasuk sumber daya alam.  Islam dan ajarannya telah dianggap sebagai penghalang dari para kapitalis global dalam menguasai kekayaan alam di negeri muslim sehingga mereka melakukan upaya untuk mengkriminalisasi tokoh umat Islam dan berikutnya memonsterisasi ajaran Islam, termasuk Khilafah sehingga terjadi “stigmatisasi negatif” terhadap Islam. Oleh karena itu, umat Islam harus memperkokoh ukhuwah islamiyah dan di dalam ranah hukum perlu dibentuk tim advokasi umat Islam untuk merespon upaya kriminalisasi tokoh dan ormas islam dalam bidang hukum.    
           
Terkait dengan rencana pembubaran HTI, Bp. Zulhaidir menjelaskan bahwa sampai saat ini HTI belum dibubarkan dan Tim Advokasi yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc. siap memberikan advokasi terhadap HTI. Pemerintah juga mewacanakan diterbitkan Kepres atau Perpu namun tampaknya jika penerbitan Kepres dilakukan, hal ini akan menjadi blunder bagi pemerintah, yang mungkin dapat mengakibatkan pemakzulan dikarenakan adanya unsur pelanggaran Undang-Undang Keormasan yang sudah mengatur prosedur hukum pembubaran ormas. Penerbitan Perpu juga tidak bisa serta merta dilakukan mengingat Perpu baru bisa diterbitkan jika negara dalam kondisi yang mendesak dan genting. Sementara apa yang dilakukan oleh HTI dalam kegiatannya adalah murni dakwah pemikiran dan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.
Dikatakan oleh Bp. Zulhaidir bahwa tegaknya Khilafah akan menjadi keniscayaan, bahkan secara konstitusional dapat terjadi, jika seluruh komponen masyarakat tercerahkan oleh Islam.

Alhamdulillah, acara berlangsung dengan khidmat dan diakhiri dengan “halal bi halal”, mushafahah dan ramah tamah. Semoga Allah swt memudahkan jalan bagi umat Islam untuk meretas persatuan yang kokoh. []

Reporter: Ahmad
Editor: Aab

Post a Comment

Powered by Blogger.