Dakwah Jateng - Semarang, (16/08/2017), Komunitas Lingkar Aktivis Peduli Negeri UNDIP (LAPNU) Semarang mengadakan diskusi perdana yang diadakan pada malam 17 Agustus, pukul 20:00 hingga 21:00 WIB. Dihadiri oleh beberapa aktivis mahasiswa UNDIP. Diskusi ini sebagai bentuk respon atas kebijakan-kebijakan Pemerintah saat ini.

Isu yang dibahas pada diskusi tersebut, diantaranya terkait persatuan diantara gerakan atau ormas di Indonesia, Full Day School (FDS) dan juga Perppu No.2 Tahun 2017 tentang ke-Ormas-an.

Dalam diskusi tersebut, Agus, Aktivis dari Fakultas Peternakan Undip menyatakan,

"saat ini Barat sedang melakukan upaya devide et impera, yaitu memecah belah kaum muslimin.  Pada tahun 2003 lembaga Think Tank AS Rand Corporation merilis sebuah kajian yang berjudul Civil Democratic Islam, dalam kajian tersebut tertulis bahwa kaum Muslimin terbagi menjadi empat kelompok; Pertama kelompok Fundamentalis, kedua kelompok Tradisionalis, ketiga kelompok Modernis dan keempat kelompok Sekuleris. Juga secara terbuka mengungkapkan bahwa dikotomi kaum muslimin menjadi empat kelompok tersebut sengaja dibenturkan. Hal ini karena kekhawatiran Barat akan persatuan umat Islam di Indonesia."  

Irsyad, Aktivis dari Administrasi Publik menambahkan,

"terkait dengan Perppu Ormas, kita harus menggalang opini penolakan agar Perppu Ormas ini dibatalkan saat sidang di Mahkamah Konstitusi maupun di DPR."

Diskusi oleh Komunitas LAPNU ini akan terus berlanjut untuk menanggapi isu-isu publik. Dan diakhir acara ditutup dengan foto bersama atas dukungan untuk menolak Perppu Ormas No.2 Tahun 2017.

Reporter : Rahman

Post a Comment

Powered by Blogger.