Aksi 299 berakhir sekitar jam 17.00, peserta meninggalkan lokasi aksi sambil memungut semua sampah yang ada. Tepat pukul 17.00 saat dipanjatkan doa, langit mendung dan sejuk. Mungkin matahari malu dan menutup dirinya dengan awan, sebab matahari sedang menangis terharu. Semoga ini pertanda ridho Allah menaungi perjuangan kaum muslimin. 


Sejak usia mahasiswa, entah sudah berapa kali saya mengikuti aksi-aksi besar sejak orde baru hingga orde reformasi sekarang ini. Sebagai mantan ketua HMI Kom. UIKA Bogor, aksi menuntut keadilan rezim adalam sarapan saya, meski saat aksi kadang belum sarapan pagi. Aura idealisme begitu kuat saat masih mahasiswa. Bahkan saya pernah tidak diberikan sarapan saat dijebloskan ke jeruji besi oleh rezim orde baru. Tapi sudahlah itu masa lalu, biarlah itu menjadi sejarah.
Alhamdulillah hingga saat ini, semangat aksi memperjuangkan keadilan dan kebenaran terus bergelora, tidak padam dan insyaallah tidak akan pernah padam. Jika saat mahasiswa, saya bertandang aksi bersama mahasiswa lain, pasca mahasiwa, saya selalu mengajak anak dan istri istri saya untuk ikut aksi. Aksi bela Islam adalah aksi-aksi yang sering saya ikuti akhir-akhir ini.
Aksi 299 bela Islam adalah aksi yang cukup mengharukan bauat saya dan keluarga. Berangkat pagi-pagi, bersama keluarga, bahkan anak saya yang belum genap 4 tahunpun ikut. Berbekal nasi bungkus masakan istri, saya bonceng istri dengan motor butut menuju Stasiun Kereta Rawa Buntu. Berbagai isu kerusuhan yang akan terjadi pada aksi 299, saya abaikan.
Anjuran teman untuk tidak membawa anak kecilpun saya abaikan. Bagi saya perjuangan harus totalitas dan tidak boleh ada rasa takut sedikitpun. Makanya setiap kali mendapat berita isu akan terjadinya chaos saat aksi, selalu saya jawab dengan balasan singkat : Kami Tidak Takut. Faktanya aksi 299 berjalan super damai, meski pulangnya hingga malam karena hujan deras, ke tembus juga hujan itu dengan bertawakal kepada Allah.
Meski kehujanan selama satu jam diatas motor, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan kepada kami. Makanya saya bisa menulis ini karena sehat. Begitupun anak saya yang belum genap 4 tahun, setiba di rumah langsung bercerita kepada kakak-kakaknya yang tidak ikut karena ada UTS di sekolahnya. “ Wah tadi asyik lho bang, naik kereta sama abi, banyak orang dan banyak yang jualan mainan, nanti kita naik kereta lagi bareng-bareng ya bang sama abi”, begitu celoteh anak terkecil saya dengan penuh antusias.
Bahkan ada celoteh seorang tokoh yang mengomentari rencana aksi 299 ada yang mendanai. Meski dia tidak ikut aksi dan saya ikut aksi, tapi celoteh tokoh itu benar adanya. Sebab aksi yang menghadirkan lebih dari 300 ribu kaum muslimin tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan dana yang cukup. Mungkin tokoh itu paham bahwa segala aktivitas tidak akan berjalan tanpa dana. Mungkin juga dia beraktivitas hanya jika mendapat dana.
Terbukti juga saat aksi-aksi tandingan umat Islam yang diselenggarakan oleh mereka yang kontra Islam. Mereka mendapat dana besar dari pihak luar plus nasi bungkus. Bisa saja ini terjadi karena aksinyapun karena pesenan orang-orang yang mendanai dan punya kepentingan. Aksi-aksi itu jadinya hanya segerombolan manusia bayaran, tak bergerak jika tak dibayar.
Begitupun aksi 299 bela Islam, tak bergerak jika tak dibayar. Hanya sebagai saksi lapangan yang langsung ikut aksi, saya berharap mendapat bayaran kebaikan dari Allah Sang Maha Kaya. Dana aksi saya ambil dari kantong saya sendiri meski tidak banyak. Saya relakan dana rezeki dari Allah sebagai bekal perjuangan untuk Allah pula. Bagi yang penasaran atau menuduh aksi 299 didanai, ternyata terbongkar juga, Anda benar. Aksi 299 bela Islam didanai oleh Allah melalui kantong-kantong peserta aksi, lillah karena Allah. Tak berharap uluran tangan manusia, semata-mata berharap kepada rezeki dari Allah.
Bahkan saat di tengah aksi, oleh pembawa acara aksi diberhentikan sejenak untuk memanjatkan doa atas musibah gunung meletus yang menimpa saudara-saudara kita di Bali. Setelah berdoa, maka peserta aksi beramai-ramai menyumbangkan uangnya untuk membantu masyarakat Bali yang sedang mendapat musibah. Bisa jadi itu adalah uang jatah makan siang usai aksi, semoga Allah akan memberikan gantinya.
Di tengah-tengah gemuruh teriakan takbir saya mendapati anak SMA yang juga ikut aksi 299 bela Islam. Akhirnya saya dapati bahwa dia jauh-jauh datang dari Solo untuk ikut membela Islam dari segala bentuk kezaliman, kediktatoran dan kesewenang-wenangan rezim yang menerbitkan Perppu dan tidak segera menggebuk kebangkitan PKI yang jelas-jelas di depan mata. Diapun terbongkar telah mendapatkan rezeki dari Allah untuk biaya perjalanan aksi 299.
Sepanjang aksi 299 terik matahari begitu menyengat dan panas, sahabat saya menunjukkan HP nya ada angka 40 derajat selsius saat itu. Bahkan disampaing saya ada anak laki-laki berusia 5 tahun berkaca mata hitam, berdiri disela-sela para peserta aksi, meski sesekali dia duduk kelelahan. Saat saya sodorkan air minum, dia meminumnya dengan penuh bahagia, bibirnya tersungging senyum.
Dalam terik panas yang menyengat itu tiba-tiba udara begitu sejuk dan nyaman, ternyata di atas tubuh saya ada Panji Rasulullah raksasa yang melintas begitu gagah, berwarna putih bertuliskan kalimat tauhid berwarna hitam. Sejam kemudian panji raksasa berwarna hitam dan kalimat tauhid berwarna putihpun kembali melintas menyejukkan peserta aksi, saya kembali berada persis dibawahnya. Air mata ini langsung menetes, saya lekatkan tangan ini ke bendara raksasa itu, ya Allah indahnya dan sejuknya dibawah Panji Rasulullah ini, begitu batinku saat itu.
Bendera tauhid, bendera Rasulullah dan bendera persatuan kaum muslimin telah mewarnai aksi 299 menjadikan indah dan penuh perdamaian. Bahkan polisi dan tentara yang berjaga begitu menikmati perhelatan aksi 299 bela Islam ini. Terlebih saat pasukan polisi meminta waktu kepada peserta aksi 299 untuk memanjatkan asmaul husna secara berjamaah, suasana aksi tambah syahdu dan penuh perdamaian.
Aksi 299 bukanlah aksi terakhir, akan ada aksi-aksi susulan yang lebih besar dan lebih damai. Selama pemerintah dan DPR tidak segera mencabut Perppu dan menolak PKI, maka gelombang aksi akan terus terjadi. Sebab perppu adalah alat pemerintah untuk menghadang kebangkitan Islam dan sedangkan PKI adalah adalah ideologi drakula haus darah kaum muslimin. Karena itu persiapkan diri untuk hadir pada aksi-aksi berikutnya, sebab dana langsung dari Allah Yang Maha Kaya, yakinlah itu.

Oleh *Ahmad Sastra*



_Peserta Aksi 299 Bela Islam_

Hasil gambar untuk aksi 299

Dakwah Jateng- Jakarta, Perppu No. 2/2017 akan melewati proses uji politik di DPR RI. Sejalan dengan proses ini, Perppu juga sedang diuji secara hukum di MK. Secara sosial, Perppu terbukti mendapat penolakan publik yang luas. Aksi 299 adalah bukti nyata Perppu tidak lolos Uji Publik.

Hanya saja persoalannya adalah bahwa proses uji politik di DPR bukanlah uji atas dasar benar salahnya Perppu, bertentangan atau tidaknya dengan konstitusi, layak atau tidaknya, diterima atau ditolak publik. Uji politik Perppu di Senayan adalah uji kepentingan. Uji kekuatan. Uji kesetiaan. Uji Akseptabilitas publik terhadap parpol. Uji pemilu dan Pilpres 2019.

Uji kepentingan 

Bagi parpol yang berada dibarisan oposan, geliat gerakan publik yang menolak Perppu bisa dikatakan berkah politik. Sebab, baik karena alasan meneruskan aspirasi publik atau karena banyaknya problem yang melatarbelakangi terbitnya Perppu, barisan partai oposan tentu mendapat benefit politik yang signifikan.

Benefit politik berupa dukungan publik, partai yang dinilai aspiratif, membela kepentingan rakyat, partai yang dianggap masih memiliki telinga yang mendengar dan memiliki mulut yang menyuarakan suara rakyat. Ujungnya, elektabilitas partai yang meningkat di ajang kontestasi kekuasaan (Pilkada, Pemilu maupun Pilpres).

Aksi 299 yang dihadiri ratusan ribu bahkan diprediksi hingga jutaan peserta dari berbagai daerah, tidak bisa dianggap enteng. Para peserta aksi bela Islam alumni 212 ini, telah menorehkan prestasi politik yang gemilang dengan menumbangkan ahok pada ajang pilgub DKI. Tidak mustahil, peristiwa ini akan kembali terulang diseluruh daerah jika dikonsolidasikan untuk menolak semua partai yang mendukung Perppu ormas.

Dari sisi benefit politik, sudah pasti partai Gerindra, PKS dan PAN mendapat benefit politik yang luar biasa. Penolakan ketiga partai ini terhadap Perppu ormas dipastikan berkorelasi Positif bagi dukungan suara.

Adapun Demokrat, nampaknya masih menimbang-nimbang, kedua kakinya tetap menjejak pada dua pilar kutub politik. Demokrat, juga menjejakan kaki di pusara kekuasaan dan pada saat yang sama juga berada dibarisan oposan.

Jika komitmen politik istana tidak sejalan atau dianggap terlalu kecil bagi Demokrat, sudah jelas Demokrat akan segera membaur menjadi barisan partai yang menolak Perppu. Meskipun, Demokrat juga tidak kehilangan kacamata kekuasaan, dimana bagi Demokrat kontestasi 2019 lebih penting ketimbang konsesi politik yang bersifat sesaat.

Posisinya tergantung pada besarnya tekanan publik dan peluang bermitra dengan penguasa. Dus, meskipun jika Demokrat menginduk pada penguasa dengan konsesi cawapres misalnya, Demokrat juga akan tergilas jika Mujahid alumnus 212 mengkonsolidasi massa dan konsisten menghukum seluruh partai politik yang mendukung Perppu ormas.

Adapun PKB dan PPP, walau memiliki ikatan kepentingan dengan koalisi penguasa, sesungguhnya momentum Perppu ormas ini penting untuk dijadikan sarana politik bagi PPP dan PKB, untuk merapat kembali kepada umat Islam, setelah sebelumnya menyakiti umat Islam pada ajang pilgub DKI dengan mengusung pasangan calon Ahok - Djarot.

PPP dan PKB yang memiliki basis pemilih Islam, dapat menjadikan momentum islah dengan umat Islam melalui penolakan Perppu ormas. Sebagaimana diketahui, umat Islam itu pemaaf. Politik menolak Perppu dipastikan akan membuka pintu islah sekaligus menyiapkan konsolidasi politik menjelang 2019.

PPP dan PKB menyadari benar, bahwa suara partai-lah yang diperhitungkan. Jika partai tidak memiliki suara, mustahil pihak penguasa mau menjalin kemitraan dalam koalisi.

Golkar masih bisa memainkan kartu politik melalui Perppu. Bagaimanapun, Golkar adalah partai berpengalaman. Golkar tidak mungkin mengorbankan jargon "suara Golkar suara rakyat" jika harus menentang kehendak rakyat. Dan rakyat negeri ini mayoritas adalah umat Islam. Bagaimanapun, Golkar tidak akan gegabah melawan kehendak rakyat dengah mendukung Perppu ormas.

HANURA dan NASDEM, mendapat getah politik kekuasaan. Benefit kekuasaan yang diperoleh, sebenarnya tidak seimbang dengan resiko tergerusnya elektabilitas partai. Apalagi, khususnya Nasdem adalah partai yang sedang membangun dan menguatkan restorasi Indonesia untuk mengkonsolidasi partai dan dukungan.

Pun demikian HANURA, adalah partai yang tentunya memiliki visi jangka panjang. Dukungan politik membabi buta, telah menyebabkan HANURA menjadi tumbal kekuasaan. Wiranto yang diposisikan selalu didepan dalam konteks penerbitan Perppu, mendapat pukulan politik secara langsung. Padahal, benefit politik terbesar di tangguk PDIP selaku partai penguasa.

Sehingga, secara kepentingan HANURA dan Nadem seyogyanya menjadikan isu Perppu ormas untuk menjadi sekoci politik agar tidak ikut karam bersama kapal penguasa.

Badai begitu kuat, kapal tidak didesain untuk menghadapi badai, sementara pulau tujuan masih jauh. Membuat sekoci politik untuk menyeberang ke daratan adalah pilihan politik yang paling rasional, ketimbang tetep berada dalam kapal kekuasan yang rapuh dengan Nahkoda yang ringkih dan adanya perebutan kendali kemudi.

Terakhir PDIP harusnya belajar dari pengalaman. Tidak ada satupun kekuasaan yang berhasil memenangkan pertempuran melawan rakyat. Apalagi kekuasaan yang dimiliki PDIP belumlah mengakar. Banyak bromocorah yang merapat ke PDIP untuk sekedar mencari kue kekuasaan, bukan membela mati-matian. Saat kapal karam, semua telah menyiapkan pelampung atau sekoci untuk meninggalkan PDIP.


Uji Kekuatan & Uji Kesetiaan 

Perppu ormas akan menghadap-hadapkan kekuasaan pada kontestasi pembahasan di Senayan. Penguasa, dengan segenap daya dan upaya, seluruh sumber daya dan kekuatan, akan berusaha menggolkan Perppu ini di Senayan.

Ada uji kesetiaan pada partai pendukung penguasa, apakah mereka akan setia pada komitmen koalisi atau memilih setia kepada rakyat.

Pada saat rakyat menuntut pembatalan Perppu ormas, partai mitra koalisi sebenarnya memiliki argumen untuk mengambil pilihan terhadap penolakan Perppu disebabkan besarnya desakan publik.

Tetapi jika partai mitra koalisi mendukung Perppu, dan meninggalkan kesetiaan terhadap rakyat, maka sudah pasti rakyat selaku pemilik kedaulatan akan membuat perhitungan.

Bagi politisi sejati, tidak akan mungkin mengambil resiko berada pada garis yang berseberangan dengan rakyat. Apalagi, pada masa injuri time menjelang kontestasi pemilu dan Pilpres 2019.

Uji Akseptabilitas Publik

Masa alumni 212 yang hadir dalam aksi 299 adalah masa real, bukan buzzer, bukan akun anonim apalagi akun palsu. Masa alumni 212 adalah masa yang bisa masuk ke bilik suara dan memberikan dukungan politik, bukan hanya masa nyinyir yang hanya digdaya didunia maya.

Masa tolak Perppu juga masa terdidik, memiliki preferensi politik yang cerdas, bukan masa buzzer yang bisa diselesaikan dengan gizi di diplomasi meja makan.

DPR dan parpol harus melihat kondisi ini sebagai peluang sekaligus ancaman. Preferensi politik dengan menolak Perppu ormas berimplikasi pada dukungan politik dan peningkatan akseptabilitas partai.

Sebaliknya, mendukung Perppu ormas sudah barang tentu sebuah ancaman besar. Ancaman bagi Akseptabilitas dan elektabilitas partai. Ancaman dalam kontestasi politik di tahun 2019.

Khatimah 

Yang patut dipertimbangkan DPR dan parpol adalah bahwa rakyat saat ini terbiasa kritis dan mencari saluran aspirasi  politik dengan berbagai cara dan sarana.

Jika aspirasi tolak Perppu telah dikunci pintunya oleh penguasa, sementara DPR sebagai wakil rakyat ikut mengalungkan rantai di pintu tersebut, maka penulis khawatir rakyat akan mendobrak pintu itu.

Rakyat berusaha masuk melalui jendela. Rakyat berusaha masuk melalui pintu belakang. Bahkan rakyat akan siap melubangi dinding dan membuat jalan aspirasi sendiri.

Yang lebih patut dipertimbangkan adalah jika rakyat tidak mau lagi memasuki pintu itu, rumah itu, dan membakarnya dengan satu gerakan pembangkangan publik. Inilah momentum revolusi, dimana bukan sekedar penguasa yang terjungkal tetapi sistem sekuler negeri ini pun bisa ditumbangkan.

Wallahu A'lam. [].


Oleh: Nasrudin Joha




Berikut adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya

2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.

3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi.

Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.
Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan. Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319) [DJ]

Hasil gambar untuk Chandra Purna Irawan, MH.
Chandra Purna Irawan, MH.

Dakwah Jateng - Jakarta, Munculnya Perpu Ormas dan Ideologi Komunis ke publik akhir-akhir ini mendapat sorotan dari Ketua Eksekutif Nasional KSHUMI dan Tim Koalisi Advokat Penjaga Islam Chandra Purna Irawan, MH. 

Menanggapi opini yang berkembang saat ini terkait diduga “bangkitnya PKI”, dalam hal ini saya memfokuskan pembahasan pada Ideologi Komunis. Saya akan memberikan catatan hukum sebagai berikut;

1. Ideologi Komunis, dengan tegas dilarang sebagaimana pasal 2 berbunyi, “Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut, dilarang.” (pasal 2 Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia)

2. Sanksi Pidana bagi penyebar Ideologi Komunis, sebagaimana termaktub didalam Pasal 107 a UU tersebut berbunyi, “Barangsiapa yang melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme dalam segala bentuk, dipidana penjara paling lama 12 tahun.” (Pasal 107 a UU No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara.)

3. Sementara jika berdasarkan PERPPU 2/2017 Tentang Ormas maka pemerintah harus mengambil tindakan tegas yaitu; 

a]. Mendorong kepada Pemerintah untuk segera membubarkan badan hukum (ormas, yayasan, partai dll) yang yang secara terang-terangan menyebarkan atau mengkomunikasikan ideologi Komunis kepada publik baik tulisan, ucapan dan aksesoris verbal lainnya . Sebagaiman dalam pasal 59 ayat (4) huruf C Perpu Nomor 2 Tahun 2017, yang berbunyi “ Ormas dilarang; menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila”. 

b]. Mendorong Pemerintah untuk menindak tegas para penganut ideologi Komunis yang secara terang-terangan menyebarkan atau mengkomunikasikan kepada publik baik tulisan, ucapan dan aksesoris verbal lainnya. Sebagaimana yang diatur didalam Perppu 2/2017 tentang ormas Pasal 82A Perppu Nomor 2 Tahun 2017, yang berbunyi ;

(1) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. 

(2) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

(3) Selain pidana penjara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersangkutan diancam dengan pidana tambahan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan pidana.

4. Berdasarkan penjelasan diatas, jika Pemerintah tidak mengambil tindakan apapun baik kepada Ormasnya dan individu/pengurus ormas yang menganut dan mengembangkan ideologi Komunis. Akan menjadi citra buruk bagi Pemerintah terutama Presiden, bahwa Perppu 2/2017 hanya digunakan untuk “MENGGEBUK” gerakan dakwah atau ormas-ormas Islam dan kriminalisasi ajaran Islam. [ags/dj]


Dakwah Jateng - Magelang, Tim Advokasi Ekonomi Kerakyatan terbentuk setelah munculnya surat panggilan yang ditujukan Ustadz Anang Imamuddin oleh Polres Magelang sebab kasus usang pemasangan spanduk Gerakan Belanja ke Toko Pribumi.
Fatkhul Mujib, SH, koordinator Tim Advokasi Ekonomi Kerakyatan mengatakan bahwa hingga detik ini telah ada 7 anggota yang telah tergabung dalam tim tersebut. Mereka dari Advokad Magelang, Advokad FJI (Front Jihad Islam) dan ISAC (The Islamic and Action Center). Kata dia masih akan bergabung kembali advokad dari FPI (Front Pembela Islam).
“Memang tim ini akan melakukan pendampingan Ustadz Anang termasuk saksi-saksi, jangan sampai terjadi intimidasi terhadap mereka saat memberikan keterangan,” katanya pada  Rabu (27/9/2017).
Surat panggilan yang tidak jelas nama dan alamat saksi, menurut Mujib tidak perlu ditanggapi. Dia menduga pemanggilan tersebut bentuk kriminalisasi aktifis umat Islam Magelang.
“Kami menduga bentuk mengkriminalisasi. Bahasa spanduknya kan, yang diancamkan ujaran kebencian terhadap ras dan golongan. Materi yang ada di spanduk tidak ada ras Asing dan ras Aseng nggak ada. Dari materi sudah sumir kayak gitu,” ungkapnya.
“Ini kok sepertinya maraton sekali, dalam dua hari memanggil sepuluh saksi. Ini nggak biasanya kepolisian dengan cepat seperti itu. Ada yang tidak lazim di kepolisian Magelang,” imbuhnya.
Mujib meminta umat Islam ikut memberikan dukungan dan doa. Sebab gerakan yang digelorakan Ustadz Anang dari Muntilan, Magelang akan mengawali gerakan bangsa Indonesia kembali mengangkat ekonomi rakyat.
“Yang jelas ini kriminalisasi. Bentuk-bentuk pekemahan gerakan kritis rakyat yang digerakkan aktifis muslim. Kita menghimbau umat Islam bahwa gerakan ini tidka berhenti akan terus menyuarakan dan mendujung gerakan ini untuk kemandirian bangsa,” pungkasnya. [SY]
x

Dakwah Jateng - Jakarta, Ibu kota akan kembali memanas dengan digelarnya aksi 299. Aksi ini di inisiasi oleh Aliansi Ormas dan Umat Islam JABODETABEK dan presidium Alumni 212. Tema yang di angkat dalam aksi damai 299 adalah penolakan terhadap PERPU Ormas dan penolakan bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Aksi damai ini di klaim akan menghadirkan sekitar 200 ribu kaum muslimin.

Berikut Poster aksi damai yang akan digelar pada hari jum'at tanggal 29 september 2017.


Perpu Ormas adalah Perpu yang sangat membahayakan Organisasi Masyarakat yang kritis terhadap pemerintah dibuktikan dengan dibubarkannya Hizbuttahrir Indonesia (HTI) dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI). Pemerintah bisa dengan sekehendaknya membubarkan Organisasi Masyarakat tanpa proses pengadialan. Maka tema yang diambil dari  aksi damai ini salah satunya yaitu tolak Perpu Ormas

Berdasarkan poster yang beredar di media sosial aksi 299 digelar terkait dengan Perppu Ormas yang dianggap anti-Islam dan melindungi PKI. Tertulis juga dalam poster tersebut bahwa Perppu dibuat hanya untuk membubarkan HTI, menangkap ulama dan aktivis Islam. Sementara Gerwani, IPI, LBH, underbow PKI dibiarkan tumbuh subur.

Pun demikian dengan Partai Komunis Indonesia yang saat ini mulai tercium kebangkitannya. Dengan sejarah kelam yang pernah dialami oleh Umat Indonesia  yaitu pembantaian para Santri, Ulama, dan para Jenderal tinggi TNI. Maka kebangkitannya juga perlu untuk di tolak.


Ketua Aliansi Ormas dan Umat Islam JABODETABEK juga mengajak lewat videonya kepada kaum muslim di seluruh nusantara untuk menghadiri acara hari jum'at tanggal 29 september 2017

Berikut Video ajakan darinya





Hasil gambar untuk fpi

Dakwah Jateng - Jakarta ,Ketua umum Front Pembela Islam Ahmad Sobri Lubis mengomentari isu PKI yang santer dibicarakan. Ia menyebut indikasi kebangkitan PKI tidak bisa dimungkiri lagi.

"Kebangkitan komunis di Indonesia ini sudah jelas nyata, sudah tidak bisa dimungkiri lagi. Tidak bisa dibilang itu hanya isu, tidak bisa. Ini sudah jelas, terang-benderang," kata Ahmad setelah mengikuti salat subuh bersama di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Rabu (27/9/2017).

Ahmad mengatakan kegiatan yang diadakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta beberapa waktu lalu membuatnya yakin terhadap indikasi tersebut. Ia juga menilai pemerintah terkesan membiarkan acara yang dianggap berkaitan dengan PKI tersebut.

"Dengan kegiatan mereka di LBH kemarin itu semakin menunjukkan kepada kita bahwa mereka serius betul dan sudah membuat persiapan-persiapan. Apalagi kita lihat bagaimana ternyata pemerintah terkesan membiarkan acara PKI tersebut," tuturnya.

Ahmad mengaku pihaknya sudah lama memantau segala kegiatan yang berbau isu PKI. Ia juga telah menghimpun indikasi-indikasi bangkitnya PKI di Indonesia ke dalam sebuah kajian.

"Sudah lama memantau (indikasi kebangkitan PKI). Berapa tahun yang lalu kami sudah membuat kajian menghimpun aneka macam indikasi kebangkitan PKI di Indonesia. Ada sekitar 800 halaman kajian," ujarnya.

Kajian tersebut telah dikirimkan kepada Presiden Joko Widodo dan beberapa instansi penegak hukum terkait.

"Sudah kami serahkan ke Presiden, Mabes Polri, Pangkostrad, Mabes TNI. Sudah kami sampaikan kepada semua instansi yang berkaitan dengan kebangkitan PKI," imbuhnya.

Menurutnya, institusi-institusi penegak hukum kurang teguh dalam mencegah timbulnya indikasi kebangkitan PKI. Ahmad berpendapat indikasi-indikasi yang muncul saat ini sudah menguatkan kebangkitan tersebut. 

"Ini masalahnya tidak adanya kebulatan tekad dari pemerintah untuk mencegah itu. Seperti misalnya Presiden Jokowi ngebel (bertelepon) kepada Panglima TNI dan Polri untuk tidak men-sweeping baju-baju yang ada. Nah, itu kan kontraproduktif. Ini masalahnya tidak adanya kebulatan tekad dari pemerintah untuk mencegah itu. Jadi indikasi itu sifatnya memperkuat," ucap Ahmad.

Presiden Jokowi sebelumnya menegaskan tidak ada ruang untuk komunisme di Indonesia. Negara dengan sangat tegas melarang keberadaan PKI.

"Saya mau bicara mengenai masalah yang berkaitan dengan PKI. Karena sekarang ini banyak isu bahwa PKI bangkit, komunis bangkit," kata Jokowi di hadapan para mahasiswa dan warga Muhammadiyah di kampus Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Sabtu (3/6).

Jokowi mempertanyakan soal desas-desus kebangkitan komunisme di Indonesia. "Pertanyaannya, di mana? Di mana? Karena jelas, sudah jelas, di konstitusi kita jelas, ada Tap MPR bahwa komunisme dilarang di negara kita Indonesia," tegas Jokowi. (yas/nvl)

Hasil gambar untuk karya imam 4 madzhab
Oleh Dr. Ahmad Sastra

Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia.

Sosok empat Imam Mazhab adalah figur-figur yang bukan hanya dijadikan sebagai rujukan mazhab fiqh bagi kaum muslimin sedunia, namun mereka juga pantas dijadikan sebagai teladan dalam hal menuntut ilmu, hingga merere bisa mancapai derajat mujtahid. Bagi pengikut Imam Abu Hanifah biasa disebut Hanafiyyah. Bagi pengikut Imam Asy Syafi’i disebut sebagai Syafiiyah. Bagi pengikut Imam Ahmad bin Hanbal disebut sebagai Hanabilah. Pengikut Imam Maliki bin Anas disebut sebagai Malikiyah. Namun apakah setiap muslim sudah meneladani generasi terbaik tabi’in dan tabi’at tabi’in ini dalam kesungguhannya menuntut ilmu ?. Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi.

Meskipun keempat Imam Mazhab memiliki perbedaan dalam pola pengambilan istimbat hukum, namun mereka adalah teladan dalam kesungguhan sebagai penuntut ilmu. Imam Abu Hanifah menggunakan metode rasional [thariq ar ra’y]. Imam Malik bin Anas menggunakan metode sunnah [ahl as sunnah]. Imam Syaf’i menggunakan metode konvergensi rasional dan sunnah [al jami’] yakni metode naqli dan aqli secara bersamaan. Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan metode ittiba’ yang cenderung berdasarkan sunnah dengan pendekatan teori mashlahah al mursalah dan ‘sadd adz dzara’i, tanpa menggunakan rasio dan analogi.

Imam mazhab pertama adalah Imam Abu Hanifah [80 H – 150 H] memiliki nama lengkap Nu’man bin Tsabit bin Zauthah bin Ma’ah. Tinggal di pusat pemerintahan dua dinasti Umayyah dan Abbasiyah yakni di kota Kufah, menjadikan Imam Abu Hanifah dilingkari oleh pergumulan berbagai pemikiran, sekte keagamaan, dan sirkulasi kekuasaan. Kota Kufah adalah juga pusat berkembangnya ilmu bahasa Arab, ilmu Hadist, nahwu, sejarah, sastra dan ilmu fiqh semenjak dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Oleh Abu Hanifah, kota Kufah disebut sebagai kota ilmu [Madinatul ‘Ilm].

Spirit menuntut ilmu Imam Abu Hanifah sangat tinggi hingga menjadi ahli fikih dan ilmu kalam yang par-excelence. Beliau telah bergaul baik dengan beberapa sahabat Rasulullah saw, berguru kepada lebih dari 93 orang tabi’in dan jumlah guru yang menjadi tempatnya belajar mencapai 300 orang. Kegiatan bisnisnya terhenti karena kesibukannya menuntut ilmu, mengajar dan berfatwa. Beliau pernah mengalami proses uzlah yang oleh al Hujwiri, Imam Abu Hanifah disebut sebagai salah saorang waliyullah. Tokoh-tokoh sufi seperti Ibrahim bin Adham, Fudhail bin ‘Iyadh, Dawud ath-Tha’i dan Bisyr al-Hafi pernah berguru kepada Imam Abu Hanifah.

Imam Abu Hanifah pernah mengatakan bahwa,’ Barang siapa mempelajari ilmu demi harta duniawi, maka ia tidak akan memperoleh keberkahan dari ilmu dan justru membuat hatinya menjadi bodoh. Dan barang siapa mempelajari ilmu karena Allah, maka amal perbuatannya akan diberkahi dan hatinya dicerdaskan serta orang-orang yang dapat mengambil ilmu darinya akan memperoleh berkah juga’. Katanya lagi,’ orang yang tidak mengetahui argumentasi dan dalilku, tidak pantas untuk berfatwa menggunakan pendapatku’.

Imam Abu Hanifah adalah orang yang sangat dermawan, berpenampilan dan berpakaian menawan dan wangi, fasih dalam bicara, sangat lembut intonasi bicaranya, rendah hati, banyak diam, kuat nalar dan argumentasinya, terpercaya dalam memegang amanah, sederhana dalam bicara, kehati-hatian yang tinggi, tidak berkata jika tidak diminta dan selalu bersabar menghadapi hinaan dan cercaan orang lain kepada dirinya. Beliau meninggal pada usia 70 tahun dimakamkan di pekuburan Khaizran.

Imam mazhab kedua adalah Imam Malik [93-179 H] yang memiliki nama lengkap Malik bin Anas bin Abu Amir bin Amr bin Ghiman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Imam Malik tinggal di Madinah hingga wafat tahun 179 H, beliau sangat mencintai kepada Rasulullah, Imam Malik tidak pernah mengendarai tunggangan apapun saat kota Madinah karena hendak bertentangga dengan Rasulullah. Saking hormatnya di Madinah. ‘Sungguh aku merasa malu jika naik suatu kendaraan, yang kakinya menginjak bumi, yang tanahnya memuat jasad Rasulullah saw’, katanya.

Lahir dari seorang ibu bernama Ghaliyah binti Syuraik dan ayah yang tidak bisa berjalan, seorang pembuat anak panah untuk menafkahi keluarga bernama Anas. Kakek Imam Malik yakni Malik bin Abu Amir adalah salah satu Tabi’in yang meriwayatkan hadist dari Umar, Thalhah, Aisyah, Abu Hurairah dan Hasan bin Tsabit membuat Imam Malik tumbuh dalam lingkungan keluarga yang selalu berorientasi dan mencintai ilmu serta periwayatan hadist.
Imam Malik memulai belajar dengan menghafal Al Qur’an dan Al Hadist, karena beliau dianugerahi daya ingat yang sangat kuat. Karena kecerdasannya, Imam Malik mempelajari banyak ilmu dan memahami fiqh dalam waktu singkat. Di usia yang ke 17 tahun, Imam Malik telah direkomendasikan oleh 70 orang guru, termasuk Rabiah dan Az Zuhri untuk menjadi pengajar. Bahkan guru-gurunya kemudian justru belajar kepada Imam Malik di Masjid Nabawi Madinah, tempat Imam Malik meriwayatkan hadist, memberi fatwa dan mengajar.

Menurut Imam Malik, ada empat kriteria orang yang tidak pantas diambil ilmunya dari mereka. Pertama adalah orang bodoh. Kedua orang yang sering memperturutkan hawa nafsu, sering berbuat maksiat. Ketiga, orang yang sering berdusta dan menyeru kepada kesesatan. Keempat orang yang tidak memahami isi kandungan dari apa yang diucapkan, meski dia seorang ahli ibadah.

Imam Malik mampu menghafal semua yang didengarnya dan juga mampu menuliskan apa yang dihafalnya. Namun, dia hanya akan menyampaikan ilmu yang dipandang memiliki kemaslahatan bagi manusia, tidak semua disampaikan. Tiga peti catatan tangan Imam Malik yang dibaca oleh Ahmad bib Shaleh menyamai 12 ribu hadist sebagai representasi pembicaraan penduduk Madinah saat itu. Imam Malik oleh ulama digelari sebagai ruh kota Madinah.

Imam Malik wafat pada usia 90 tahun dan dimakamkan di Baqi’. Peninggalan ilmu Imam Malik menurut catatan Imam Adz Dzahabi adalah Al Muwaththa’, Risalah fi al Qadar, Mu’allaf fi an Nujum wa Manazil al Qomar, Risalah fi al Aqdhiyyah, Risalah ila Abi Ghassan Muhammad bin Mathruf, Risalah Adab ila ar Rasyid, Kitab as Sirr, Al Mudawwanah al Kubra, At Tafsir li Gharib al Qur’an dan As Siyar.

Terkait kesungguhan menuntut ilmu, Imam Malik pernah berpesan kepada para penuntut ilmu bahwa seseorang tidak akan dapat memperoleh ilmu, hingga bersiap untuk dihantam oleh kefakiran dan mau memprioritaskan pencarian ilmu dari yang lainnya. Artinya jika telah bersiap diri untuk menjadi pecinta ilmu, maka harus bersiap diri menjadi faqir dari harta.

Imam mazhab ketiga adalah Imam Syafi’i [150-204 H] yang bernama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Ustman bin Syafi’i bin Sya’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Abd al Muthallib bin Abd Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka[ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nadzar bin Ma’ad bin Adnan bin Uddi bin Udah. Lahir di Gaza Palestina dan saat usia 2 tahun dibawa hijrah ibunya ke Makkah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan Rasulullah dari pada kakeknya, yakni Abd Manaf bin Qushai. Ibunya yang sangat berperan dalam perkembangan keilmuwan Imam Syafi’i bernama Yaminah dari kabilah Azdi.

Imam Syafi’i banyak mendalami sastra Arab dari suku Huzhail dan banyak menghafal puisi dari bangsa Arab serta gramatikanya. Banyak menghafalkan hadist dan pembahasan masalah dari para gurunya di Masjidil Haram. Beliau belajar keilmuwan dari Syaikh Muslim bin Khalid az Zanji dan belajar hadist dari mahaguru hadist bernama Sufyan bin Uyainah.

Setelah menghafal al Qur’an, Imam Syafi’i menghafal hadist dan menuliskannya di tulang-belulang sebagai media untuk menulis periwayatan hadis dan masalah-masalah agama lainnya. Setelah semua tulang belulang telah habis, Imam Syafi’i menuliskan ilmu di tempayan tua milik ibunya. Rumah Imam Syafi’i dipenuhi oleh tulang belulang yang berserakan yang bertuliskan berbagai ilmu yang dimilikinya. Karena ketinggian ilmunya, Imam Syafi’i telah memberikan fatwa agama saat berusia 15 tahun, sebagaimana diterangkan oleh al Mundzir at Taymimi dalam Adab asy Syafi’i wa Manaqibuhu.

Imam Syafi’i berguru kepada Imam Malik saat berusia 13 tahun dan mampu menghafal kitab al Muwatha’ dengan baik yang membuat Imam Malik sangat mengagumi kemampuan Imam Syafi’i. Hidup di zaman kekhalifahan Harun ar Rasyid, Imam Syafi’i mendalami ilmu hadist dari Ibn Uyainah dan il,u Fiqh dari Muhammad bin Hasan.Terkait kesungguhan mencari ilmu, Imam Syafi’i pernah berpesan,’ Tidakkah aku berdiskusi dengan seseorang, melainkan aku sangat ingin yang bersangkutan bisa menunjukkan kesalahanku. Dan jika hatiku tidak memiliki solusi suatu orang’. Permasalahan, aku berharap agar pendapat mitra diskusiku diterima setiap

Imam mazhab keempat adalah Imam Ahmad bin Hanbal [164-241 H] yang bernama lengkap Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad adz Dzuhali asy Syaibani al Marwazi. Namanya dinisbatkan kepada kakeknya, bukan kepada ayahnya, kakeknya seorang wali kota Sarkhas dan ayahnya seorang tentara daulah Abbasiyah. Nasab Imam Ahmad sampai kepada Rasulullah dari kakeknya Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Imam Ahmad bin Hanbal adalah sosok pecinta ilmu hadist yang melakukan perjalanan panjang untuk menemui para syaikh hadist untuk menerima periwayatan hadist. Mempelajari hadist sejak berusia 15 tahun dari 20 syaikh hadist. Perjalanan mencari ilmu dari Bashrah, Hijaz, Kufah, Yaman hingga ke Mekkah berguru ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh dari Imam Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hanbal adalah sosok yang sangat sederhana dalam hal kehidupan. Memakai pakaian kasar dan jarang makan. Merasa bahagia justru saat dirinya tidak memiliki harta. Sebab menurut keyakinan Imam Ahmad, kemiskinan selalu beserta dengan kebaikan. Imam Syafi’i pernah berkata,’ sewaktu saya keluar dari kota Baghdad, tidak ada orang yang saya kenal di sana yang lebih mengetahui fiqh, lebih zuhud, lebih wara’, dan lebih pintar daripada Ahmad bin Hanbal’.

Selanjutnya Imam Syafi’i berkata,’Ahmad bin Hanbal adalah imam yang unggul dalam delapan kondisi, imam dalam ilmu hadist, imam dalam ilmu fiqh, imam dalam kajian ilmu al Qur’an, imam dalam ilmu bahasa, imam dalam sunnah, imam dalam sikap zuhud, imam dalam sikap wara’ dan imam dalam kondisi faqir.

Meski memiliki kekuatan menghafal yang tinggi, namun dalam pengajaran, Imam Ahmad sesalu mengandalkan catatan. Imam Ahmad bin Hanbal menjadi referensi para ulama pada zamannya. Hidup pada masa kepemimpinan khalifah Harun Ar Rashid dan al Makmun, menjadikan Imam Ahmad hidup dalam lingkungan zaman keemasan Islam.
Saat ditanya tentang kesungguhan mencari ilmu, ‘Wahai Imam, hingga kapankah Anda akan terus mencari ilmu, padahal Anda telah sampai kepada kedudukan yang terhormat ini dan telah menjadi imam bagi kaum muslimin ?. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab,’ dengan tinta akan kubawa hingga kuburan’.

Semoga tulisan ini menambah wawasan sekaligus motivasi bagi kaum muslimin untuk lebih bersungguh-sungguh menuntut ilmu sebagai cahaya bagi hati dan amal serta pencerah bagi kehidupan manusia yang kian diselimuti oleh kabut kegelapan ini. [Disarikan dari buku Kurikulum Pendidikan Empat Imam Mazhab karya Dr. Pahrurroji M Bukhori]


Dakwah Jateng - Magelang, kabar Ketua Aksi Peduli Rohingya di Masjid An Nur, Borobudur, Magelang, Ustadz Anang Imamuddin akan dikriminalisasi, dibenarkan Ustadz Syihabuddin, Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah.
Ustadz Syihabuddin yang juga ketua GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia) Jateng itu bersiap melakukan pembelaan terhadap Ustadz Anang.
“Harus dibela Ustadz Anang Imamuddin ini, karena itu kan hak kita mengajak pribumi belanja di warung-warung kita. Masak mau dianggap provokator?,” ucapnya, Ahad (24/9/2017).
Anang yang merasa dikriminalisasi kasus usang dengan mengajak kembali berbelanja ke toko milik pribumi, dianggap telah melakukan ujaran kebencian. Ustadz Syihabuddin menegaskan bahwa upaya tersebut jelas sangat janggal.
“Ini sangat janggal, mosok tidak boleh hanya menulis kembali ke warung pribumi. Justru adanya warung mart itu, warung pribumi hancur semua kan,” ujarnya.
Dia lantas menceritakan bahwa kasus tersebut dikaitkan dengan keberhasilan Ustadz Anang dalam memobilisasi alumni 212 di aksi peduli Rohingya pada tanggal 8 September 2017 lalu. Menurut dia, Polisi galau sebab peserta aksi berhasil masuk ke Masjid An Nur meski hanya 30 persen.
“Ini kasus sudah lama, kita dianggap berhasil mengadakan temu alumni 212 pada aksi Rohingya di Masjid An Nur. Karena Anang itu kuat memegang prinsipnya, padahal Polisi nggembosi semua supaya Anang menyerah,” ungkapnya.
Ustadz Syihabuddin mengatakan bahwa FPI Jateng siap diterjunkan untuk mengawal kasus tersebut. Jika hal itu dirasa kurang, pihaknya akan meminta FPI Pusat untuk mengawal kasus tersebut.
“Kita akan membela semaksimal mungkin. Kalau FPI Jawa tengah masih kurang nanti pihak FPI pusat akan kita turunkan. Karena Anang itu kan membela Islam ya, otomatis FPI akan membela semaksimal mungkin,” tandasnya. [PJM]
loading...
Powered by Blogger.