Aksi Bela Rohingya Magelang Borobudur
Masa Aksi Peduli Rohingya berjalan kaki menuju lokasi (Foto: Dash Shameel)


Laporan Perjalanan
Editorial Dakwah Jateng

Kamis (07/09). Info yang beredar tentang penghalangan sejumlah masa dari luar daerah menuju Masjid Agung An-Nur, di Kecamatan Borobudur membuat kami memutuskan langsung bertolak pukul 11 malam dari Semarang. Hanya sedikit rapat kecil dengan obrolan yang juga santai kami bergegas menuju lokasi Aksi Peduli Rohingya yang ramai diberitakan hampir semua media.

Di perjalanan bisa dikatakan lancar, hanya beberapa titik kemacetan kecil di daerah Pringsurat dikarenakan beberapa truk bermuatan berat melaju merangkak. Tiga jam jarak di tempuh menggunakan mobil, berbekal aplikasi Google Maps kami tiba di penginapan pukul 03.00 dini hari. Istirahat.

Persiapan dan Suasana Pagi yang Bergairah

Jum'at (08/09). Pagi hari setelah sholat subuh dan mandi, semua kru Dakwah Jateng berkumpul untuk fiksasi peliputan. Beberapa peralatan pengambil gambar, tripod, micro SD, microphone, dan pembagian jobdesk antara pemberitaan, video, foto, dan streaming dirampungkan tak lebih dari satu jam. Sedikit seduhan kopi, makanan ringan dan gorengan hangat telah cukup mengantarkan matahari untuk nampak. Hari mulai terang.

Diantara obrolan rencana sarapan pagi, semua sepakat untuk berjalan kecil keluar penginapan. Dan memang pagi yang cukup bergairah. Hanya beberapa meter dari lokasi penginapan, mobil patroli kepolisian sudah berbaris rapih. Tidak sedikit, sepengamatan kami ada 3 buah mobil patroli, belasan polisi berompi hijau, dan beberapa buah motor.

Nampaknya kecamatan Borobudur pada pagi itu terlihat ketat. Menandakan akan ada gelombang besar kerahan masa yang tidak bisa dibilang biasa saja.

Akses Masuk Ditutup, dan Petualangan Menemukan Jalan 

Sebelum memutuskan pergi ke lokasi Aksi Peduli Rohingya, kami menghubungi beberapa kenalan aktivis yang terus memantau perkembangan situasi setempat. Didapat info bahwa beberapa akses masuk menuju lokasi telah diblokade pihak keamanan. Malah dikabarkan beberapa rombongan yang belum masuk Magelang telah banyak yang dipulangkan. Rekomendasi untuk melewati jalan pintas dan terpencil akhirnya kami pilih. Karena info yang beredar disetiap akses masuk sangat tidak mungkin dilewati karena kumpulan masa yang harus melewati pemeriksaan pihak keamanan menumpuk.

Pukul 10.00 wib mobil kami diparkir di posko himpunan BMT (Baitul Mal wat Tamwil)  se Jawa Tengah. Rombongan kami dijamu sangat ramah dengan hidangan minuman dan makanan. Beberapa pengurus daerah BMT mengeluhkan penghadangan massa yang tergerak untuk melakukan protes genosida kejam terhadap muslim Rohingya. Bukan satu dua mobil, dengan wajah lelah mereka mengaku ada puluhan mobil di setiap daerah yang dipulangkan aparat keamanan.

Bukan dengan kekerasan kami protes, hanya untuk berkumpul, berdoa pada Allah agar kekejaman yang melanda muslim Rohingya segera tiada. Esensi ini yang kami tangkap dari pengakuan beberapa pengurus BMT yang berhasil 'lolos' dari penghadangan.

Tak lebih dari 15 menit obrolan berjalan, Para perwakilan BMT di Jawa Tengah hendak melakukan rapat terbatas, bersamaan dengan kedatangan kawan yang menunjukan arah, akhirnya kami pamit dari posko,

Mobil yang dipacu datar dan pelan rupanya harus melewati jalanan yang berkelok dan putar-putar. Sempat melewati akses masuk utama menuju lokasi aksi yang memang padat dan dijaga ketat. Sekitar satu kilo kami berbelok dari jalan utama menuju jalanan kecil.

Setelah puas dengan lika-liku khas jalan desa, akhirnya kami berhasil mendekat pada lokasi Aksi. Hanya satu kilo meter. Namun diantara ruas jalan yang susah payah kami tempuh, masih saja pintu masuk dijaga ketat. Niat hati untuk menerobos dengan menunjukan identitas Pers namun tetap tidak bisa masuk dan mobil terpaksa diparkir disekitaran masjid yang berkubah warna emas. [] 

Oleh: Aab Elkarimi










Post a Comment

Powered by Blogger.