DISKUSI HANGAT VS DEBAT PANAS
Choirul Anam

Alhamdulillah, atas izin Allah, kemarin terjadi diskusi yang hangat dalam suasana kekeluargaan dan akademis tentang Khilafah. Acara tersebut sejak awal memang bukanlah debat untuk mencari menang kalah. Di sana tidak terjadi duel, apalagi merendahkan berbagai pihak. Jika ada kata duel, maka harus dalam tanda petik ("). Karena memang tidak terjadi duel apapun. Yang ada adalah sebuah diskusi hangat, yang tentu saja masing-masing menjelaskan dalil dan argumentasinya secara akademis dan santun. Acara diskusi pun diakhiri dengan makan bersama dalam suasana kekeluargaan.

Sebagai orang yang menggeluti ilmu tafsir, Ust Andika menafsirkan bahwa ayat "inni jailun fil ardli khalifah" ( Kami jadikan manusia di muka bumi sebagai Khalifah), menafsirkan bahwa Khalifah di sini artinya adalah wakil Allah di bumi sebagai pemakmur, bukan Khalifah sbg sebuah pemimpin dalam sebuah sistem pemerintahan.

Beliau mengakui bahwa Khilafah sbg sebuah kepemimpinan itu memang ada, tetapi itu hanya 30 tahun, sebagaimana hadits Nabi saw. Setelah itu tidak ada lagi Khilafah.

Dan masih banyak lagi tema-tema menarik yang beliu bahas, dari sudut pandang beliau sebagai orang yang mengkaji tafsir dan hadits.

Saya yang diberi amanah unk ikut membahas hal ini secara prinsip banyak yang sepakat dg pernyataan Ustadz Andika.

Bahwa ayat di atas bukan dalil tentang Khilafah, saya sepakat 100% dengan Ust Andika. Bahwa ayat tsb memang bukan dalil tentang Khilafah sbg sebuah sistem pemerintahan dalam Islam. Dalil wajibnya Khilafah menggunakan ayat lain dan hadits lain, bukan ayat dan hadist tersebut.

Menurut pemahaman saya, sebuah sistem memang tidak cukup hanya dipahami dg satu dalil. Sebuah sistem hanya bisa dipahami dengan mengaitkan berbagai subsistem pembangunnya. Jika kita teliti secara mendalam, Islam itu memang sebuah sistem yang unik yang memiliki perbedaan mendasar dengan sistem-sistem lain yang ada di dunia, meski tentu saja ada berbagai persamaan dengan sistem lain dalam beberapa hal.

Saat Rasulullah wafat, kepemimpinan Islam kemudian menjadi ijma shahabat. Abu Bakar diangkat sbg pemimpin umat Islam. Tentu bukan sekedar pemimpin unk menjalankan sistem apa saja. Tetapi menjalankan sistem yang diajarkan Nabi, atau yang disebut minhajin nubuwwah, atau lebih lengkapnya Khilafah ala minhajin nubuwwah. Misalnya ada pencuri, maka Abu Bakar bukan sekedar menghukum dg sistem sanksi apapun, tetapi dengan menghukum sistem sanksi yang diajarkan Rasul sbgm dalam al-quran yaitu potong tangan.

Karena Abu Bakar menjalankan menjalankan fungsi sbg Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah, maka beliau mendapat gelar sebagai Khalifah. Maka sebutan beliau sbg Khalifah, tentu saja berbeda dg istilah yang dipakai alquran: Inni jailun fil ardli khalifah. Hal inilah yang dilahami oleh para sahabat Nabi dan para ulama salafush sholih setelahnya.

Adapun terkait hadits Nabi bahwa Khilafah hanya 30 tahun, maka menurut saya semua hadits terkait masalah ini harus dihadirkan dan dipahami secara holistik dengan kaidah ijtihad yang benar.

Jika kita hadirkan semua hadits tentang Khilafah, maka memang beragam. Ada hadits yang menyatakan bahwa Khalifah itu 12 orang. Jika hadits ini dibandingkan maka kelihatan bertentangan (ta'arud), sebab 30 tahun itu hanya 5 orang khalifah. Bahkan ada bebetapa hadits yang menjelaskan bahwa Khalifah itu ada di akhir zaman. Dari berbagai hadits ini, kemudian para ulama menyimpilkan bahwa 30 tahun yang dimaksud ada khulafaur rosyidin, adapun setelah itu tetap khilafah (jika syaratnya terpenuhi), tetapi tidak bisa disebut khulafaur rosyidin. Makanya menurut para ulama, khilafah bani umayyah, misalnya, tetap disebut khilafah, meski ada kekurangan dan penyimpangan di sana sini.

Tetapi unk jadi rujukan (benchmark), adalah khulafaur rosyidin.

Tentu saja ada banyak hal lain yang didiskusikan.

Sungguh diskusi yang sangat menarik dan penuh keakraban. Terima kasih prof Suteki sebagai inisiator dan Ustadz Andika atas ilmunya.

Jadi, kemarin tidak ada debat panas. Jika ada beberapa sahabat yang memberitakan seperti itu, apalagi sampai ada istilah "sekak mat", "dibuat terdiam", dll, meski saya husnudzdzan makudnya baik, tetapi ada baiknya postingan seperti itu diubah atau dihapus.

Wallahu a'lam.


Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.