Image result for muinudinillah basri

Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Muinudinillah Basri menyesalkan persekusi yang dilakukan oleh oknum organisasi Patriot Garuda Nusantara (PGN), kepada peserta aksi bela muslim Uighur di Wonosobo.

Ia menilai, perlakuan tidak beretika itu disebabkan PGN merasa kebal hukum dan dilindungi oleh pihak aparat.

“Maka saya yakin kalau ada ketegasan itu maka tidak ada muncul organisasi semacam itu, anak-anak atau organisasi nakal kayak itu ada karena merasa dilindungi, coba kalau mereka nggak merasa dilindungi,” katanya kepada jurnis.com di Masjid Iska Gatak, Sukoharjo, Senin (31/12/2018).

Muin juga mengkritisi kebijakan pemerintah membiarkan munculnya organisasi-organisasi yang kerap menganggu ketertiban umum. Seharusanya, kata dia, pemerintah bisa membedakan mana organisasi yang membantu masyarakat dan yang merugikan masyarakat secara umum.

Baca Juga: Oknum PGN Pelaku Penyerangan di Masjid Al-Huda Wonosobo Minta Maaf

“Saya kira kalau pemerintah pusat tegas dengan masalah itu, dan memiliki pemahaman yang jelas mana yang haq dan yang batil, mana yang pengacau dan yang benar,” paparnya.

Lebih dari itu, ia berpesan kepada ormas Islam untuk tetap tegas dan mengikuti prosedur hukum terkait adanya pihak-pihak yang memperkusi umat Islam. Ia juga mengimbau seluruh kaum muslimin untuk menjaga persatuan dan ukhuwah sesama ormas Islam.

“Ormas-ormas Islam ikutilah prosedur dengan baik tapi tegaslah, dan jangan surut karena kelakuan pengacau seperti ini,” pungkasnya.

rezim jokowi dholim

Pakar Politik Islam Australian National University (ANU) Greg Fealy menyatakan hal buruk yang dilakukan Jokowi adalah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
“Menurut saya, satu hal yang Jokowi lakukan dan buruk bagi demokrasi Indonesia adalah ia menggunakan negara untuk melarang dan menindas oposisi Islam. Misalnya, pembubaran HTI,” ujarnya seperti dilansir tirto.id, Jumat (28/12/2018).
Menurutnya, pembubaran itu adalah langkah politis. HTI selama bertahun-tahun masih bersikap sama, sudah lama terkenal soal sikapnya terhadap khilafah, Pancasila, dan sebagainya. Terutama di tingkat nasional, tidak ada perubahan sikap kepemimpinan HTI tentang Indonesia, tentang UUD 1945, dan sebagainya.
“Jadi, saya kira ini direkayasa. Ada mobilisasi dari NU untuk melawan HTI untuk memberikan dalih kepada pemerintah guna menindak tegas HTI,” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini bertentangan dengan hak untuk berserikat dan berkumpul. “Apakah HTI betul-betul melanggar hukum? Menurut saya, itu belum jelas. Pemerintah menggunakan HTI untuk mengirim sinyal kepada organisasi-organisasi yang lebih kuat seperti FPI. HTI seperti pion, alat untuk mengirim pesan yang lebih besar,” paparnya.[]
Sumber : Mediauamt.news



Arga Ramadhan, oknum dari organisasi Patriot Garuda Nusantara (PGN) yang membuat kericuhan di halaman Masjid Al-Huda Sudagaran, Wonosobo, Jawa Tengah kemarin, Ahad (30/12/2018) akhirnya meminta maaf. Bersama puluhan rekannya, Arga melakukan mengintimidasi peserta Aksi Bela Uighur yang hendak melakukan shalat dzuhur di masjid yang juga menjadi titik kumpul aksi tersebut..

“Saya mewakili oknum mohon maaf sebesar-besarnya, dengan kerendahan hati saya atas kejadian tadi pada hari minggu pukul 12.00 WIB, kami tadi melakukan hal hal yang kurang berkenan di hati saudara kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” katanya di hadapan puluhan umat Islam yang mengawal jalannya audensi di Pendopo Bupati Wonosobo, Ahad (30/12/2018) malam.


“Mungkin untuk kedepan kita bersatu, bisa berkolaborasi, untuk Wonosobo lebih damai, lebih maju dan lebih berkarya,” sambungnya.


Sementara itu, Muntako ketua Mujahidin 1912, meminta umat Islam untuk tidak memperpanjang kasus tersebut. Ia menyebut Kapolresta Wonosobo AKBP Abdul Waras telah berjanji untuk menindak tegas oknum-oknum PGN apabila kembali membuat keributan terhadap umat Islam Wonosobo.

“Setelah pulang dari sini semua clear tidak ada masalah, dan sudah ada komitmen dari bapak Kapolres bahwa ketika sewaktu waktu ini terjadi lagi, kita tidak usah melapor delik aduan semua biar pak Kapolres yang menindak,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, sekelompok massa berseragam PGN melakukan penyerangan terhadap peserta aksi Solidaritas Muslim Uighur di Masjid Al Huda, Sudagaraan Wonosobo saat hendak melakukan shalat Zuhur Berjamaah pada Ahad (30/12/2018).

Massa PGN juga berusaha merebut bendera tauhid dari peserta hingga memicu aksi saling dorong dan nyaris baku hantam. Oleh karena itu, ratusan umat Islam melaporkan kasus tersebut ke pihak aparat pada ahad malam.

Sumber : jurnis

Image result for tahun baru

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi


Tanya:

Ustadz, bolehkah seorang muslim ikut merayakan tahun baru?

Jawab :
Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al-ihtifal bi rasi as-sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertaintment), berolahraga seperti hockey es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org).

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi.

Dalil keharamannya ada 2 (dua);

Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al-kuffaar).

Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah [2] : 104).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ru’uunah (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan raa’inaa (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS. Al-Baqarah: 120; QS. Al-Baqarah: 145; QS Ali ‘Imran: 156; QS. Al-Hasyr: 19; QS. Al-Jatsiyah: 18-19; dll (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 12/7; Wail Zhawahiri Salamah, At-Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At-Tasyabbuh bil Kuffar fi Al-‘Ashr Al-Hadits, hlm. 28-34).

Dalil umum lainnya sabda Rasulullah SAW :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, 5/20; Abu Dawud no. 403). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti aqidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As-sunnah An-Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir.

Dari Anas RA, dia berkata :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu kaum jahiliyyah mempunyai dua hari raya setiap tahun untuk bermain-main (bersenang-senang). Maka ketika Nabi SAW datang ke kota Madinah, Rasulullah SAW bersabda, “Dahulu kalian punya dua hari raya untuk bermain-main pada dua hari itu dan sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.”” (HR. Abu Dawud, no. 1134)

Hadits ini dengan jelas telah melarang kaum muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As-Sunnah An-Nabawiyyah, hlm. 173).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya.

Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al-kuffaar) yang telah diharamkan Islam. Wallahu a’lam.


Peserta Aksi Solidaritas Muslim Uighur diserang sekelompok massa berpakaian hitam-hitam di halaman Masjid Al-Huda Sudagaran, Wonosobo, Ahad (30/12/2018) siang.
Menurut korlap Aksi Solidaritas Muslim Uighur, Muntako, massa berjumlah puluhan orang dan mengunakan seragam ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN). Mereka tiba-tiba mendatangi peserta aksi yang akan melakukan shalat berjamaah di Masjid Al-Huda .
Lebih lanjut Muntako mengatakan, massa PGN juga berusaha merebut bendera tauhid dari seorang anak kecil yang ikut dalam aksi bela Uighur. Saat itu, katanya, suasana sempat memanas dan sempat anarkis.
“PGN berusaha merebut bendera tauhid, kalau kita lihat al Liwa dan Ar Raya itu ya, berusaha merebut dari anak kecil dimana anak kecil itu menangis dan trauma,” ujarnya.
“Alhamdulillah respon kita cepat dan terjadi tarik-menarik namun berhasil kita amankan lagi, bahkan sempat terjadi baku hantam,” ungkap Muntako.
Muntako mengaku tidak tahu penyebab penyerangan itu. Ia pun geram dan akan melaporkan kasus ini kepada kepolisian.
Sebelumnya, ratusan massa melakukan aksi solidaritas untuk Muslim Uighur di depan Masjid Al-Huda Sudagaran, Kabupaten Wonosobo. Mereka melakukan longmarch dan menyampaikan orasi di Taman Plaza. Setelah itu mereka kembali ke Masjid Al-Huda. Aksi berjalan tertib dan lancar.

Sumber : Jurniscom,



Sedih... Pedih... Perih.... Mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka, dan nestapa bangsa ini akibat musibah yang bertubi-tubi. Belum reda duka Lombok akibat gempa, muncul duka baru: gempa Palu. Belum berakhir duka Palu yang membuat pilu, kini muncul tsunami Banten yang juga memakan banyak korban. Kali ini lebih dari 200 orang meninggal. Ratusan terluka. Ratusan lainnya lagi hilang. Tsunami Banten seolah menjadi bencana penutup akhir tahun 2018 dari rentetan bencana yang melanda negeri ini. Khususnya dalam setahun terakhir ini.

Sikap Benar Menghadapi Musibah

Sebagai Muslim, kita tentu harus menyikapi aneka musibah secara benar sesuai dengan tuntunan syariah. Karena itu hakikat musibah ini harus betul-betul kita pahami.
Secara umum musibah ada dua macam. Pertama: Musibah karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunatullah atau merupakan qadha (ketentuan) dari Allah SWT yang tak mungkin ditolak. Misalnya musibah gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dll. Di antara adab dalam menyikapi qadha ini adalah sikap ridha dan sabar baik bagi korban ataupun keluarga korban. Bagi kaum Mukmin, qadha ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Orang yang berakal akan menjadikan sikap sabar sebagai pilihannya dalam menyikapi musibah. Ia ridha terhadap qadha dan takdir Allah SWT yang menimpa dirinya tanpa berkeluh-kesah (Al-Jazairi, Mawsûah al-Akhlâq, 1/137).

Apalagi musibah apapun yang menimpa seorang Mukmin, besar atau kecil, bisa menjadi wasilah bagi penghapusan dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَ

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tentu, dosa-dosa terhapus dari orang Mukmin yang tertimpa musibah jika ia menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran (Lihat: Ibn Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhâj al-Qâshidîn, 1/272).

Kedua: Musibah yang merupakan akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah Allah SWT. Terutama yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan zalim yang mereka lakukan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Musibah banjir, misalnya, bisa jadi karena banyak manusia melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Salah satunya menggunduli hutan dengan cara semena-mena.
Contoh lain adalah musibah kemiskinan yang menimpa bangsa ini, justru di tengah-tengah kekayaan negeri ini yang melimpah-ruah. Jelas, kemiskinan di negeri ini antaranya merupakan akibat rezim ini secara zalim menyerahkan sebagian besar kekayaan alam milik rakyat kepada pihak swasta bahkan asing. Contohnya jutaan ton tambang emas di Papua. Berpuluh-puluh tahun tembang tersebut sebagian besarnya dinikmati oleh perusahaan asing, PT Freeport. Bukan dinikmati oleh rakyat negeri ini. Bahkan Rakyat Papua, di tengah limpahan emas, tembaga dll, malah banyak yang hidup miskin.

Kemiskinan di negeri ini juga diakibatkan oleh karena negeri ini terjerat utang ribawi. Saat ini utang tersebut nyaris menyentuh angka Rp 5.000 triliun, dengan bunga yang harus dibayar setiap tahun lebih dari Rp 100 triliun. Akibatnya, pendapatan negara yang seharusnya bisa digunakan untuk mengatasi kemiskinan, terpakai untuk membayar utang ribawi berikut bunganya.

Demikian pula musibah lain dalam bentuk bencana moral seperti maraknya perzinaan, LGBT, dll. Musibah ini lalu melahirkan ragam bencana lain berupa penyakit yang sulit diobati. Di antaranya HIV/AIDS.
Maraknya riba, yang pelaku utamanya adalah negara, dan zina yang juga dibiarkan oleh negara, boleh jadi menjadi penyebab datangnya azab Allah SWT atas negeri ini. Sebagaimana sabda Nabi saw:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَ الرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika zina dan riba telah merajarela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, 2/42).

Musibah/bencana jenis kedua ini sebetulnya bisa dihentikan. Bahkan bisa dicegah. Caranya: Pertama, dengan melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap pelaku kemaksiatan atau kezaliman. Kedua, menerapkan hukuman yang tegas terhadap pelaku kejahatan dan kezaliman tersebut. Dalam hal ini, Rasul saw bersabda:

«حَدٌّ يُقَامُ فِى الأَرْضِ خَيْرٌ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا ثَلاَثِينَ أَوْ أَرْبَعِينَ صَبَاحاً»

“Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih baik untuk manusia daripada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi.” (HR Ahmad).

Hadits ini menyatakan betapa besarnya kebaikan dari penerapan hudûd Allah SWT. Pasalnya, jika satu hadd (hukuman) saja diterapkan di muka bumi membawa kebaikan sedemikian besar, lalu bagaimana jika yang diterapkan adalah semua hudûd Allah SWT dan syariah-Nya secara menyeluruh? Tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi. Pasalnya, penerapan hukum Islam atau syariah Islam secara kaffah adalah wujud hakiki dari ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan berlimpah dari langit dan bumi. Sebagaimana Firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan (TQS al-Araf [7]: 96).

Dalam ayat di atas, jelas Allah SWT telah mengaitkan secara langsung keberkahan hidup penduduk suatu negeri dengan keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya. Di dalam kitab tafsirnya, Imam ar-Razi menafsirkan, pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa jika mereka taat kepada-Nya, pasti Dia akan membukakan bagi mereka segala pintu kebaikan.

Agar Musibah Berbuah Berkah

Dari paparan di atas, jelas bahwa ragam musibah yang menimpa kita bisa berbuah berkah atau mendatangkan aneka kebaikan jika: Pertama, musibah yang ada disikapi dengan sikap ridha dan sabar. Kesabaran atas musibah akan berbuah pahala dari Allah SWT. Ini adalah salah satu bentuk keberkahan.
Kedua, musibah yang ada dijadikan bahan muhâsabah. Dengan itu setiap Muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT, dan sejauh mana ia benar-benar telah menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan itu pula, setiap saat ia akan terdorong untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya. Ini adalah bentuk keberkahan yang lain.

Saatnya Berubah

Dari paparan di atas juga sudah sangat jelas, bahwa kunci keberkahan hidup adalah takwa kepada Allah SWT. Tentu dengan takwa yang sebenar-benarnya. Takwa yang sebenarnya tidak lain dengan mengikuti seluruh petunjuk Allah SWT di dalam al-Quran. Artinya, tidak ada ketakwaan tanpa sikap mengikuti al-Quran. Allah SWT berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati. Karena itulah, ikutilah dia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat (TQS al-Anam [6]: 155).

Di dalam kitab tafsirnya, Imam al-Qurthubi menjelaskan, bahwa al-Quran disifati dengan mubârak (yang diberkati) karena mengandung banyak keberkahan atau aneka kebaikan di dalamnya. Adapun frasa fattabiûhu, maknanya adalah imalû bimâ fîhi (amalkanlah semua hal yang terkandung di dalam al-Quran itu).
Karena al-Quran merupakan sumber keberkahan hidup, maka hanya dengan mengikuti al-Quran saja keberkahan hidup itu bisa dirasakan oleh setiap Muslim.

Alhasil, agar hidup kita menjadi berkah, dan jauh dari segala musibah, kita harus berubah. Caranya adalah dengan meninggalkan semua hukum jahiliah, yang telah terbukti mendatangkan aneka musibah. Lalu menegakkan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan, sebagai wujud menerapkan seluruh isi al-Quran. Hal itu hanya mungkin terwujud dalam institus Khilafah ala minhâj an-nubuwwah. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17) وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (18)

Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (TQS al-Mulk [67]: 16-18). []

Buletin Dakwah Kaffah No. 071
[20 Rabiul Akhir 1440 H | 28 Desember 2018]



Oleh Farid Wadjdi

2018 berlalu.Catatan penting untuk rezim sekarang semakin menguat sikap anti Islam, kecendrungan dzolim dan bisa dikatakan rezim gagal. Secara umum rezim sekarang gagal menjalankan tugas-tugas pokok sebagai penguasa. Salah satunya adalah  tugas mensejahterakan rakyat, rezim sekarang masih gagal mentuntaskan kemiskinan. Menurut data BPS, pada bulan Maret 2018, masih terdapat 25,95 juta orang penduduk miskin (9,82 persen).

Meskipun diklaim terjadi penurunan, namun jumlah 25,95 juta adalah jumlah yang saat besar. Apalagi mengingat, negeri Indonesia merupakan negeri yang sangat kaya alamnya.

Sementara itu pelayanan kesehatan masyarakat yang mengandalkan BPJS Kesehatan pun dililit berbagai masalah. Masyarakat semakin banyak mengeluh buruknya pelayanan kesehatan melalui BPJS. Sementara pihak rumah sakit mengeluh BPJS nunggak hutang. BPJS sendiri mengalami kesulitan keuangan, pada tahun 2017 tercatat defisit 9 trilyun rupiah, sementara tahun ini 12 trilyun rupiah. Negara yang seharusnya bertanggung jawab penuh untuk menjamin kesejahteraan rakyat termasuk kesehatan, seolah lepas tangan.

Alih-alih mensejahterkan rakyat, rezim sekarang, dalam kebijakan ekonominya justru semakin liberal. Kekayaan alam yang sesungguhnya merupakan milik rakyat yang harus dikelola negara dengan baik untuk kesejahteraan rakyat, justru banyak dirampok atas nama investasi. Kebijakan mengkaitkan harga BBM dengan harga pasar, yang ditandai dengan kenaikan beberapa jenis BBM, semakin menyengsarakan rakyat.

 Hutang yang tentu saja membebani ekonomi terus meningkat.  Tercatat pada oktober 2018 utang luar negeri Indonesia menjadi 360,5 milyar US dollar, meningkat 0,7 milyar US dollar dari bulan sebelumnya. Kecendrungan dolar yang terus menguat, berpengaruh besar terhadap harga-harga barang. Ujung-ujungnya, beban ekonomi rakyat semakin sulit.

Kegagalan rezim sekarang juga bisa dilihat dari hampir sebagian besar janji-janji saat Jokowi-JK kampanye gagal dicapai. Publik tentu masih ingat janji Jokowi, untuk tidak bagi-bagi kursi menteri kepada partai pendukungnya. Kenyataanya, hampir sebagian besar menteri berasal dari partai pendukung Jokowi. Janji lain yang dilanggar atau belum tercapai antara lain: pastikan tolak utang luar negeri (sekarang malah bertambah), menghentikan impor daging, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor pertanian, perkikanan, dan manufaktur. Yang terjadi malah sebaliknya, pekerjaan semakin sulit,sementara gelombang pekerja asing terutama dari China meningkat. Janji turunkan harga sembako dan beli kembali Indosatpun belum terwujud. Tidak heran, kalau sebagian publik, menilai, rezim sekarang ingkar janji.

Kecendrungan rezim sekarang semakin dzolim dan represif pun banyak diungkap. Hal yang paling menonjol adalah pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tanpa proses pengadilan. Seperti yang disampaikan Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Muhammad Ismail Yusanto saat menolak keras terbitnya Perppu Ormas, karena sesungguhnya tidak ada alasan yang bisa diterima bagi terbitnya Perppu itu. Menurutnya, UU No 17 Tahun 2013 tentang Ormas adalah peraturan perundangan yang telah ditetapkan. Perppu tersebut mengandung sejumlah poin-poin yang bakal membawa negeri ini kepada era rezim diktator yang represif dan otoriter.  Semestinya Pemerintah menjadi pihak pertama dalam ketaatan kepada hukum. Bukan justru menghindari dan ketika merasa kesulitan dalam menghadapi sebuah Ormas lalu membuat peraturan baru. Secara substansial, lanjut Ismail, dihilangkannya proses pengadilan dalam mekanisme pembubaran Ormas (Pasal 61) membuka pintu kesewenang-wenangan karena pemerintah akan bertindak secara sepihak dalam menilai, menuduh, dan menindak Ormas, tanpa ada ruang bagi Ormas itu untuk membela diri.

Rezim sekarang cenderung refresif dengan  menggunakan alat-alat kekuasaan yang  berkerja cenderung untuk kepentingan rezim. Hal ini diungkap Tom Power (The New Mandala), menurutnya pada tahun 2018 melihat semakin banyak bukti bahwa pemerintah Jokowi mengambil tindakan yang cenderung otoriter dalam menanggapi lawan-lawan politik, Dalam catatannya, upaya pemerintah untuk menggunakan instrumen hukum dengan cara ini telah menjadi jauh lebih terbuka dan sistematis di bawah Jokowi.
Tanda-tanda peringatan dari pergeseran ini tampak jelas ketika Jokowi menunjuk politikus Nasdem Muhammad Prasetyo sebagai jaksa agung—sebuah jabatan yang secara tradisional diperuntukkan bagi orang yang bukan partisan—pada tahun 2014. Dan sesaat setelahnya, Kantor Kejaksaan Agung bergerak untuk melumpuhkan mayoritas koalisi oposisi yang ada pada saat itu, dengan menangkap sejumlah anggota partai oposisi atas tuduhan korupsi.

Menurutnya, pelemahan lebih lanjut terhadap koalisi oposisi dicapai pada tahun 2015–2016, seiring Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menggunakan kontrolnya atas verifikasi legal dewan-dewan partai untuk memanipulasi perpecahan dalam Golkar dan PPP, dan akhirnya memaksa mereka masuk ke dalam koalisi yang berkuasa.Investigasi kriminal telah diarahkan pada para penyelenggara dan penyokong kampanye oposisi. Peristiwa penangkapan para kritikus pemerintah yang membingungkan terjadi pada malam aksi 212 di Jakarta pada akhir tahun 2016; kemudian diam-diam dibebaskan begitu krisis berlalu.

Adapun anti Islam, tampak dari tindakan pemerintahan Jokowi seperti mengkriminalisasi ulama dan aktivis Islam, serta mencekal dai, membubarkan, dan menghalangi kegiatan dakwah di sejumlah tempat.Beberapa dai yang dikenal kritis dan berseberangan dengan Jokowi pun dicekal. Aksi Bela Islam, yang berjalan damai, tanpa kekerasan, kemudian dituding didalangi kelompok radikal Islam. Padahal yang dilakukan umat Islam hal yang wajar, menuntut agar penista agama Islam diproses hukum. Demikian pula saat muncul seruan dari para ulama dan ormas –ormas Islam untuk  tidak memilih pemimpin kafir seharusnya dilihat sebagai hal yang biasa saja.  Karena dalam Islam memang haram memilih pemimpin kafir, namun dicap oleh rezim sekarang sebagai sikap anti kebhinekaan.

Ada kesan kuat yang muncul bahwa ulama dan tokoh-tokoh Islam yang dianggap mengancam kepentingan rezim dikriminalisasi. Ormas Islam dibubarkan secara dzolim tanpa proses pengadilan. Suara umat Islam yang kritis dan berdasarkan syariah Islam pun dibungkam dan dituding sebagai penghasutan, kebencian,  makar, anti kebhinekaan, radikal hingga teroris.

 Tuntutan penerapan syariah Islam dituding ancaman negara. Kewajiban mengangkat khilafah Islam yang merupakan ajaran Islam dikriminalisasi dan dimonsterisasi.

Saat umat Islam bersama-sama menyuarakan solidaritas mereka untuk saudara muslim Rohingya mereka yang ditindas, muncul tudingan solidaritas muslim Rohingya, digoreng untuk menjatuhkan Jokowi. Tidak hanya itu, dibangun opini pembantaian muslim Rohingya digunakan kelompok-kelompok radikal untuk melakukan tindakan terorisme.

Ketidakadilan sikap aparat penegakan hukum juga dirasakan umat Islam. Dengan alasan menyebarluaskan kebencian, SARA, dan radikalisme,  situs-situs yang banyak dimiliki aktifitis Islam, termasuk akun-akun sosial media yang isi bersikap kritis dengan rezim diberangus. Aparat dengan sigap menahan mereka yang berpihak terhadap aksi bela Islam, karena dianggap menyebarkan meme atau tulisan yang dianggap menghina.

 Sementara akun-akun pro-Jokowi, yang kerap menghina Islam dan ulama, tampak seperti dibiarkan.
Ulama yang berperan penting dalam aksi bela Islam dikriminalisasi. Ustadz Alfian Tanjung, yang sudah dibebaskan dari pengadilan Surabaya ditangkap lagi. Padahal yang disuarakan adalah ancaman terhadap komunisme/PKI, yang memang masih ada dan berbahaya. Hal yang sama terjadi pada Habib Riziq, Gus Nur, Habib Bahar,  dan aktifis Islam yang lain, yang dengan cepat diproses hukum. Sementara itu, Viktor Laiskodat yang dalam ceramahnya menghina ajaran Islam yang mulia Khilafah Islamiyah tidak diproses hukum secara serius, masih bebas.

Tidak hanya itu, Victor juga menuding partai-partai tertentu sebagai pendukung radikalisme. Pidatonya pun seperti memprovokasi masyarakat luas secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan pembunuhan.

Kasus Ade Armando, Permadi Arya, Sukmawati, Grace Natalie yang diadukan karena melakukan penghinaan terhadap agama tidak jelas nasibnya. Melihat ini semua, sudah seharusnya umat memiliki sikap yang jelas terhadap rezim sekarang ini.

Berdasarkan Islam, tentu haram mengangkat pemimpin yang ingkar janji, dzolim, apalagi anti Islam. Rosulullah SAW juga mengingatkan apa yang akan menimpa orang-orang yang mengikuti pemimpin yang bodoh ini. “ Siapa pun yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong kezaliman mereka bukanlah bagian dari aku dan aku pun bukan bagian dari mereka. Mereka tidak akan masuk ke telagaku. Sebaliknya, siapa pun yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka adalah bagian dari aku dan aku pun bagian dari mereka. Mereka akan masuk ke telagaku.” (HR al-Hakim).

Dunia Islam Butuh Khilafah

 Sepanjang tahun ini, penderitaan umat Islam, masih terjadi di mana-mana, seperti tahun-tahun sebelumnya. Berbagai kawasan dunia Islam dirundung penderitaan. Palestina, negeri yang diberkahi, terus menerus dibombardir penjajah Zionis Yahudi. Hampir setiap hari, ada saja nyawa umat Islam yang melayang, darah umat Islam yang tertumpah. Rumah-rumah umat Islam dihancurkan untuk perluasan pemukiman Yahudi, penghuninya diusir.
Zionis Yahudi pun semakin brutal karena dukungan tanpa batas negara-negara Barat. Simbol dukungan itu diperkuat dengan perpindahan kedubes Amerika secara resmi dari Tel Aviv ke Yerussalem, pada 14 Mei 2018.

Perpindahan ini terjadi di tengah aksi unjuk rasa di Jalur Gaza yang memakan puluhan korban jiwa. Amerika dengan arogannya tanpa memedulikan penguasa negeri Islam yang lemah, menunjukkan dukungannnya terhadap kezaliman Zionis Israel. Sementara penguasa negeri Islam, terutama negara-negara Arab, hanya beretorika, tidak berbuat banyak dan nyata.

Penderitaan kaum Muslimin di Suriah pun menjadi catatan pilu dunia Islam. Sejak pecah konflik tujuh tahun yang lalu.  Menurut  Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia terdapat 364.792 orang telah tewas, sepertiga dari mereka adalah warga sipil. Di tahun 2018 ini, jumlah korban jiwa naik 13 ribu orang dalam enam bulan terakhir. Berdasarkan keterangan lembaga pengawasan di Inggris, jumlah korban tewas ini termasuk para pejuang, pejabat, dan staf medis. Posisi umat Islam pun semakin sulit dan berbahaya setelah menguatnya rezim Bashar Assad belakangan ini. Kota-kota yang menjadi basis perlawanan dibombardir.
Apa yang terjadi di Suriah, tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Aksi damai rakyat Suriah pada tahun 2011, sebagai imbas dari Arab Spring, disikapi dengan brutal rezim Bashar. Berbagai penangkapan, penyiksaan hingga pembunuhan terjadi. Rakyat Suriah pun melakukan perlawanan bersenjata. Keinginan mereka untuk menurunkan diktator Bashar dan menerapkan syariah Islam, sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat. Apalagi, perang Suriah menjadi magnet kuat bagi mujahidin di seluruh dunia untuk jihad fi sabilillah, untuk membela saudaranya yang ditindas.

Awalnya, Amerika berupaya mencari pengganti Bashar Assad, namun gagal. Kelompok oposisi yang dibentuk Amerika pun gagal.  Akhirnya Amerika mengubah kebijakan untuk tetap mempertahankan Bashar sekaligus menghancurkan umat Islam yang menghendaki tegaknya Islam. Caranya dengan membiarkan Iran dan Hizbullah masuk, serta Rusia.

Di Yaman, perang yang sesungguhnya merupakan perpanjangan kepentingan politik Amerika Serikat dan Inggris juga telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa. Menurut Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, (WFP), David Beasley, Yaman terancam bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama tempo 100 tahun terakhir. Berdasarkan data yang dimilikinya jumlah warga yang berada di ambang kelaparan diperkirakan mencapai 12-14 juta jiwa atau hampir 50 persen dari total penduduk Yaman, negara yang terletak di Jazirah Arab.

Serangan koalisi Saudi dukungan Amerika serikat telah membunuh banyak rakyat sipil termasuk anak-anak dan wanita. Jumlah korban tewas di Yaman diperkirakan mencapai puluhan ribu. Organisasi non-pemerintah Menurut Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), korban tewas di Yaman enam kali lebih tinggi daripada data yang dirilis oleh PBB. Dilaporkan dari Sputniknews, 15 Desember 2018, ACLED mengklaim 60.000 orang tewas secara langsung oleh konflik. Angka ini tidak termasuk, 85.000 anak-anak yang kemungkinan meniggal kelaparan dalam tiga tahun terakhir.

Penderitaan di tempat lain juga masih terjadi di Turkistan Timur. Umat Islam harus menghadapi kekejaman rezim Cina Komunis nyaris sendiri tanpa bantuan dari negeri-negeri Islam. Berbagai cara dilakukan oleh Cina komunis untuk mencabut akar Islam dari bumi Turkistan Timur yang merupakan negeri Islam yang dicaplok Cina. Umat Islam dicuci otaknya untuk melupakan Islam dalam kamp-kamp yang seperti penjara besar. Dilarang untuk beribadah, dipaksa makan daging babi dan minum alkohol. Umat Islam juga disiksa dengan cara yang sangat sadis, wanita-wanita Muslimah diperkosa. Rezim keji ini pun memaksakan ide-ide komunis pro-Cina, mengambil bayi-bayi dan anak-anak dari orang tua Muslim yang masih hidup.

Penderitaan yang sama juga menimpa umat Islam Rohingya di Myanmar, Pattani di Thailand, dan berbagai belahan dunia lain seperti Afrika.

Semua ini terjadi karena di tengah-tengah umat Islam tidak ada kekuatan politik yang sifatnya global untuk menghentikan kekejaman pihak-pihak yang memusuhi umat Islam terutama yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutu penjajahnya. Hal ini tidak akan berlangsung nyaris tanpa perlawanan, kalau di tengah umat Islam ada negara khilafah yang menyatukan umat Islam.
Negara khilafah ala minhajinnubuwah akan melindungi setiap nyawa umat Islam di berbagai kawasan dunia. Sekaligus, mengenyahkan penguasa-penguasa boneka di negeri Islam yang telah berkhianat dengan bersekutu kepada penjajah.

 Intinya, umat Islam membutuhkan khilafah ala minhajin nubuwah untuk menyelesaikan berbagai kemelut di negeri Islam. Sementara itu, tegaknya kembali khilafah ala minhajin nubuwah adalah merupakan janji Allah dan Rasul-Nya. Yang dituntut dari kita adalah ikut berjuang untuk menegakkannya. Allahu Akbar! []

dollar

Soal:
Tampak ada upaya yang menyolok dari beberapa negara khususnya Russia, China dan Uni Eropa, upaya untuk mengganti Dollar dengan mata uang lainnya dalam transaksi internasional. Sampai-sampai beberapa perjanjian transaksi yang ditandatangani menggunakan mata uang lokal milik beberapa negara tersebut. Misalnya, Russia bersepakat dengan India pada 31/10/2018 untuk menjual rudal S-400 menggunakan mata uang Russia. Dan Russia melakukan kesepakatan pada bulan lalu dengan Turki menggunakan mata uang kedua negara itu untuk membayar harga transaksi rudal serupa. Dalam pertemuan Erdogan selama KTT negara-negara berbahasa Turki…
China mengumumkan akan membayar harga impor minyaknya dari Iran menggunakan Petroyuan.  Bank sentral China menandatangani kesepakatan bilateral dengan Bank Sentral Jepang untuk pertukaran mata uang lokal sebesar 200 miliar Yuan (29 miliar Dollar) dengan kompensasi 2,4 triliun Yen (31 miliar Dollar). Apakah hitungan mundur untuk mengakhiri dominasi Dollar atas perekonomian global telah dimulai?

Jawab:
Supaya jelas jawaban pertanyaan tersebut maka wajib dijelaskan posisi Dollar dalam perekonomian global:
Pertama, posisi Dollar mulai mencuat melalui perjanjian Bretton Woods 1944 di mana Amerika memaksakan Dollar dan dominasinya dalam pertemuan itu karena Amerika menang dalam Perang Dunia tanpa mengalami kerugian besar… Begitulah, sistem finansial disetujui dan sepuluh negara industri besar setuju menetapkan harga tertentu untuk mata uang nasionalnya dengan bersandar kepada Dollar Amerika.  Demikian juga sebaliknya, Amerika setuju mengaitkan Dollar Amerika dengan basis emas “35 Dollar per ons”. Dengan begitu, jadilah pertukaran Dollar yang datang dari Bank-Bank Sentral asing dilakukan dengan kurs tetap untuk Dollar yang terikat dengan emas.  Kala itu, cadangan emas milik Amerika diestimasi sebesar dua pertiga dari total cadangan dunia, dan sisanya yakni sepertiganya dimiliki oleh negara-negara lainnya… Tetapi berlanjutnya kelemahan neraca pembayaran Amerika dampak dari belanja luar negeri menyebabkan melemahnya cadangan emas Amerika.  Antara tahun 1961-1970 cadangan emas Amerika menurun sampai hampir lima miliar Dollar. Dengan tujuan untuk menjaga cadangan emas Amerika, presiden Amerika kala itu, Nixon pada tahun 1971 memutuskan penghentian penukaran Dollar ke emas, mengumumkan berakhirnya sistem pengaitan Dollar dengan emas…
Setalah itu, pemerintahan Nixon menangani perubahan finansial baru ini melalui serangkaian perjanjian dengan kerajaan Arab Saudi dari tahun 1972 sampai 1974 dan menciptakan apa yang disebut PetroDollar. Hal itu memberikan kepada negara-negara asing, sebab lain untuk menimbun dan menggunakan Dollar disebabkan keperluan negara-negara terhadap minyak yang dihargai dengan Dollar sesuai perjanjian-perjanjian dengan Arab Saudi sebagai produsen terbesar minyak di dunia. Sebagaimana Arab Saudi juga sepakat untuk memutar kembali miliaran Dollar Amerika dari pendapatan minyak melalui korporasi-korporasi industri senjata Amerika, infrastruktur dan pembelian obligasi Amerika. Pada tahun 1977, sedikitnya 20 % dari total obligasi di luar negeri Amerika ada di tangan Saudi… Jika disamping minyak, ditambah emas juga dihargai dengan Dollar, maka negara-negara akhirnya jadi punya perhatian untuk memperoleh Dollar. Cadangan devisa dalam bentuk Dollar di Bank-Bank Sentral global sekitar 71 % sampai tahun 2000, meski setelah tahun tersebut menurun menjadi 62%. Demikian juga 40% utang global dalam denominasi Dollar.
Kedua: sekarang Dollar Amerika mendominasi transaksi global. Situasi ini menciptakan pasar artifisial yang sangat besar untuk Dollar Amerika. Ini membedakan Dollar Amerika dari semua mata uang lokal di dunia. Dollar menjadi mediator dalam transaksi yang tidak ada batasnya mencapai lebih dari 5,4 triliun Dollar sekarang ini, tidak ada hubungannya dengan produk atau jasa Amerika…
Satu perkara yang mencolok adalah bahwa Dollar merepresentasikan 84,9% transaksi pertukaran luar negeri  (foreign exchange) harian meski transaksi perdagangan Amerika dengan Dollar sendiri kurang dari setengah angka itu. Hal itu karena negara-negara selain Amerika bertransaksi menggunakan Dollar dalam utusan-urusan komersial!  Kekuatan Dollar itu memiliki dampak ekonomi yakni membuat Amerika mampu menghukum secara ekonomi dan finansial negara yang disasar. Bukan hanya itu, Amerika juga bisa meminggirkan negara-negara lainnya dari perdagangan dengan negara yang disasar.  Amerika mampu merealisasi hal itu menggunakan langkah-langkah keras melalui sistem SWIFT (The Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication).
Itu merupakan sistem pembayaran Dollar internasional antar bank. Karena Dollar merupakan mata uang cadangan devisa global, maka sistem SWIFT memfasilitasi sistem Dollar internasional. Negara-negara di seluruh penjuru dunia melakukan pembayaran transaksi melalui SWIFT. Hal itu menjamin bahwa semua transaksi bilateral bersandar kepada Dollar.  Sebagai contoh, Russia dan China tidak bisa mempertukarkan barang dan jasa menggunakan mata uang nasionalnya selama pembayaran transaksi tidak menggunakan Dollar melalui sistem SWIFT. Amerika bisa menggunakan sistem tersebut untuk memaksakan sanksi-sanksi ekonomi yang keras… Berdasarkan sistem ini, Amerika selama dua tahun, 2014 dan 2015, melarang sejumlah bank Russia dari SWIFT ketika hubungan antara kedua negara memburuk. Pada November 2018, Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi keras terhadap Iran menggunakan SWIFT. Sejumlah korporasi Eropa menolak memenuhi kesepakatannya dengan Iran karena takut kepada Amerika…
Seperti yang telah kami sebutkan, semua itu terjadi karena Dollar merupakan cadangan devisa global: porsi Dollar dalam cadangan 146 Bank Sentral pada tingkat global pada akhir tahun lalu mencapai 64% dari total cadangan devisa bank-bank sentral itu. Euro menempati posisi kedua sebesar 20%. Sementara kontribusi Yen Jepang dan Pounsterling Inggris hanya 5%. Ini tanpa menyebutkan Yuan China yang porsi dalam cadangan bank devisa bank-bank sentral global tidak melebihi 108 miliar Dollar Amerika atau sekitar 1% … (www.alquds.co.uk, 19/8/2018).
Ketiga: berhadapan dengan realita ini, negara-negara di dunia yang memiliki bobot dan nilai penting telah bertolak dari dua titik tolak untuk membatasi pengaruh Dollar. Titik tolak pertama tahun 1999 di mana Euro muncul dan disirkulasikan secara resmi pada tahun 2002 dalam menyaingi Dollar. Hal itu bertolak dari kuatnya perekonomian negara-negara Eropa dan kepercayaannya terhadap kemampuannya untuk bersaing. Adapun negara-negara kedua seperti Russia dan China, upayanya untuk membatasi dominasi Dollar lebih belakangan disebabkan tidak adanya kemampuan untuk bersaing pada waktu itu (waktu bertolaknya Euro). Sampai terjadi krisis finansial tahun 2008 dan dikhawatirkan krisis tersebut memakan cadangan devisa Dollar mereka dan jadi kehilangan nilainya, maka mereka bergabung dengan negara-negara Eropa dalam mengurangi dominasi Dollar. Bersamaan dengan berubahnya China menjadi negara ekonomi kelas dunia (global), maka upaya-upaya internasional pun dimulai untuk mempengaruhi dominasi Dollar…
Begitulah, krisis ekonomi tahun 2008 membunyikan alarm bahaya bagi negara-negara untuk berfikir dalam masalah Dollar akibat pengaruh krisis tersebut…Tetapi sesuatu yang mempercepat hal itu adalah provokasi dan sanksi-sanksi Trump. Politik baru yang ditempuh oleh pemerintahan presiden Trump telah mempercepat orientasi negara-negara besar untuk membatasi dominasi Dollar Amerika secara global.  Politik presiden Trump tercermin dengan arogan pada slogan “America first”. Semua pemerintahan Amerika bekerja untuk kepentingan Amerika. Tetapi pemerintahan Trump paling dekat dari tidak adanya pengakuan terhadap kepentingan negara-negara lain. Trump meminta negara-negara Eropa membayar, dan berlaku surut, atas proteksi militer Amerika untuk negara-negara Eropa.  Trump meluncurkan percikan-percikan api kuat yang mengancam memicu perang dagang dengan China. Trump menuntut Jepang dan Korea Utara untuk membayar sebagai imbalan proteksi dari ancaman rudal-rudal Korea Utara. Ketika Trump menjatuhkan sanksi-sanksi terhadap Iran, ia jadikan sanksi itu mencakup siapa saja yang menggunakan Dollar untuk membeli minyak Iran. Dan karena China sekarang adalah importer terbesar minyak di dunia, maka tindakan Trump ini memprovokasi China untuk mengambil langkah-langkah untuk menghentikan penggunaan Dollar, apalagi China sedang dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.  Untuk itu, pada Maret 2018, Bursa Berjangka Shanghai untuk pertama kalinya meluncurkan kontrak berjangka yang terbuka untuk para investor asing. Kontrak ini merupakan kontrak berjangka untuk minyak, menggunakan denominasi Yuan agar menjadi pesaing untuk kontrak berjangka Brent dan WTI (West Texas Intermediate) yang menggunakan denominasi Dollar dan digunakan sebagai standar sekarang ini….
Jadi, meletusnya krisis finansial di Amerika tahun 2008 dan dampaknya terhadap perekonomian banyak negara dan kerugian negara-negara akibat krisis tersebut, kemudian kebijakan Trump yang proteksionis, perang dagang dan kebijakan-kebijakan finansial dan ekonomi yang diambilnya… Semua itu mempercepat munculnya orientasi-orientasi menentang dominasi Dollar.
Keempat: oleh karena itu, tindakan-tindakan itu telah memprovokasi beberapa negara, khususnya yang kuat dan independen, bahkan kadang-kadang sampai pada negara-negara satelit, meski pengaruh efektif dan kuat adalah dari gerakan-gerakan negara-negara independen. Hal itu karena pengaruh negara-negara satelit Amerika bersifat temporer untuk tujuan tertentu, kemudian berhenti sebab negara itu tidak mungkin berkonfrontasi dengan Amerika secara efektif selama negara itu beredar di orbit Amerika. Kami paparkan aksi-aksi negara-negara ini:

1- Aksi-aksi negara independen:
a- Russia:
Pada tahun 2009, presiden Russia Medvedev mengajukan usulan mata uang global alternatif dalam pertemuan G-8 di London sebagai mata uang cadangan alternatif untuk menggantikan Dollar. China, Russia, India, Turki dan negara-negara produsen minyak lainnya, belakangan sepakat melakukan semua transaksi perdagangan dan investasi bilateral menggunakan mata uang mereka sendiri. Tetapi, meski semua itu, harga emas dan minyak mentah masih tetap menggunakan standar Dollar. Russia berulang kali mengumumkan mata uang nasional lain menggantikan Dollar dan mengambil harga minyak Russia menggunakan mata uang selain Dollar.  Semua itu kembali kepada sanksi-sanksi Amerika terhadap Russia setelah invasi Russia terhadap semenanjung Krimea dan wilayah timur Ukraina pada tahun 2015. Semua itu juga merupakan konsekuensi dari investigasi atas intervensi Russia dalam pemilu Amerika pada tahun 2016.
Kemudian Amerika Serikat telah meningkatkan sanksinya terhadap Rusia sejak 2015. Kongres Amerika telah memperluas sanksi tersebut secara bertahap, menggunakan “Act to Counter the Enemies of America Through Sactions” yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2017. Kongres memberlakukan sanksi lebih keras terhadap Rusia. Ini merupakan langkah-langkah sangat kuat terhadap Russia. Aksi ini menyebabkan terputusnya hubungan bank-bank besar Rusia dengan Dollar, menghasilkan penurunan 18 persen Rubel terhadap Dollar … Semua itu pada waktu di mana Russia menggunakan Dollar dalam 58% utangnya.  Artinya, Russia berutang sekira setengah dari jumlah utangnya menggunakan Dollar. Oleh karena itu, Russia jadi berada dalam dilema yang mendorongnya berusaha meminimalkan penggunaan Dollar dan membebaskan dirinya secara finansial, ekonomi dan moneter dari Dollar.  Putin telah menyatakan secara gamblang dalam pidatonya di depan majelis Duma: “kita harus memperkuat kedaulatan ekonomi kita. Sementara perdagangan minyak di bursa menggunakan Dollar. Tentu saja kita berpikir bagaimana membebaskan diri dari beban ini…”. Ia melanjutkan, “kita bertindak secara naif dalam beberapa dekade lalu. Saya berharap ada komitmen terhadap doktrin-doktrin secara terbuka dalam bidang perdagangan internasional dan perekonomian global. Sekarang, kita melihat bahwa kaedah-kaedah sistem perdagangan global mengalami banyak kejahatan dan ada banyak batasan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politik yang disebut sanksi” (Dunya al-wathan, 9/5/2018).  Berikutnya, Russia secara bertahap mulai menurunkan kepemilikan atas obligasi Amerika. Pada puncaknya tahun 2008, kepemilikan Russia atas obligasi Amerika mencapai 223 miliar Dollar. Penurunan itu terus dilakukan hingga pada akhir tahun lalu, kepemilikan Russia tinggal 100 miliar Dollar. Dan atas dijatuhkannya sanksi Amerika terhadap Russia, Russia melepas sebagian besar obligasi Amerika selama bulan April dan Mei 2018. Sekarang Russia hanya memiliki 14,5 miliar Dollar obligasi Amerika…
Meski demikian, Russia tidak bisa menjadikan Rubel menggantikan posisi Dollar disebabkan lemahnya kepercayaan terhadap Rubel yang tidak membantu Russia menghimpun negara-negara yang punya bobot bersamanya. Hal itu kembali kepada sejumlah negara di dunia yang tidak ingin membeli Rubel yang kursnya berfluktuasi dalam skala luas di pasar mata uang, dan terutama dunia tidak percaya terhadap Rubel Russia sebagai mata uang cadangan. Begitulah, maksimal yang bisa dilakukan Russia adalah menekan beberapa negara untuk membayar pembelian energi dari Russia menggunakan Rubel. Tetapi, mata uang Russia itu tidak mungkin menggantikan posisi Dollar… Dmintry Peskov, juru bicara Putin dalam wawancara dengan surat kabar the Financial Times mengatakan, “makin banyak negara, bukan hanya di timur tetapi juga di barat, berfikir tentang bagaimana meminimalkan ketergantungan kepada Dollar Amerika”. “Mereka baru memahami bahwa perkara tersebut: a. Mungkin. b. Harus dilakukan. c. Anda bisa menyelamatkan diri Anda jika Anda lakukan hal itu segera”. Penghapusan Dollar merupakan perkara yang mungkin, sampai batas tertentu. Tetapi, perkara tersebut tidak berkaitan dengan jika Anda ingin keluar dari zona Dollar. Tetapi apa yang menjadi alternatif setelah itu: Euro? Yuan? Bitcoin? Oreshkin, mantan deputi gubernur Bank Sentral Russia mengatakan, “masing-masing dari semua opsi ini memiliki konsekuensi sendiri-sendiri.  Kita harus menyeimbangkan beban bertahan dengan Dollar dan beban mengadakan sikap baru”… (the Financial Times, 3 Oktober 2018). Semua itu menunjukkan bahwa para pejabat Russia sendiri tidak yakin sepenuhnya bahwa Rubel layak menjadi mata uang global menggantikan Dollar!

b- China:
China dengan potensinya bisa menjadikan mata uangnya Yuan menjadi pesaing yang kuat secara global. Tetapi, cakrawala politik globalnya sempit. Berikutnya hal itu mempengruhi sempitnya cakrawala ekonomi globalnya dari sisi persaingan dan konflik dengan Amerika. Oleh karena itu, China tidak bisa memaksakan mata uangnya secara global dalam transaksi perdagangan dan terhadap pasar keuangan meskipun skala ekonomi China besar. Tetapi China tetap bersandar kepada Dollar. China mengumpulkan Dollar dalam jumlah besar yang selama tahun terakhir berkisar 4,3 triliuan Dollar! China berusaha menjauh dari lembaga-lembaga keuangan Amerika. China membentuk kelompok ekonomi BRICS bersama Russia, India, Brasil dan Afrika Selatan. Total skala ekonomi kelompk BRICS sekira 15 trilliun Dollar setara dengan 20% dari skala ekonomi global yang mencapai 74 triliun Dollar… Demikian juga, China membentuk Bank pembangunan untuk membiayai proyek-proyek dan utang kepada kelompok BRICS pada Juli 2015 di Shanghai dengan modal 50 miliar Dollar dan akhirnya akan ditingkat menjadi 100 miliar Dollar sebagai alternatif dari Bank Dunia. Meski demikian, China tidak berlepas diri dari Dollar!
Ketika presiden Trump menjatuhkan sanksi terhadap Iran, Trump menadikan sanksi itu mencakup person siapapun yang menggunakan Dollar untuk membeli minyak Iran. Karena China sekarang adalah importer terbesar minyak di dunia, maka tindakan Trump inilah yang memprovokasi China mengambil langkah-langkah untuk menghentikan penggunaan Dollar, apalagi China sedang dalam kondisi perang dagang melawan Amerika Serikat. Oleh karena itu pada Maret 2018, Bursa Berjangka Shanghai untuk pertama kalinya meluncurkan kontrak berjangka yang terbuka untuk para investor asing. Kontrak ini, yaitu kontrak berjangka, menggunakan denominasi Yuan agar menjadi pesaing untuk kontrak berjangka Brent dan WTI (West Texas Intermediate) yang menggunakan denominasi Dollar dan digunakan sebagai standar sekarang ini. Semua aksi ini memiliki bobot yang bisa mengguncang Dollar.
Satu hal yang membatasi kerja serius dari China untuk mendongkel Dollar atau mengguncangnya secara efektif adalah kuatnya keterikatan China dengan perekonomian dan Dollar Amerika. Skala perdagangan Amerika China sangat besar mencapai 500 miliar Dollar per tahun. China saat ini memiliki 1.170 miliar Dollar obligasi Amerika (website surat kabar keuangan China Xinhua, 30/9/2018).  Angka itu menurun dari 1.300 miliar Dollar pada tahun 2013. China adalah negara pemilik terbesar obligasi Amerika. Cadangan China berupa Dollar mencapai 4,3 triliun Dollar, di tambah lagi bahwa China mengekspor komoditinya selama tahun 2016 senilai 2,1 triliun Dollar dan mengimpor 1,6 triliun Dollar sesuai data WTO yang membuat China sebagai raksasa ekonmi kedua di dunia setelah Amerika Serikat…
Begitulah, masifnya perdagangan China menggunakan Dollar, ditambah kepemilikannya atas obligasi Amerika, membuat China hanya melangkahkan satu kaki dalam upaya serius untuk mengguncang Dollar. Keberhasilan Amerika dalam menarik China untuk melakukan perdagangan internasional menggunakan Dollar membuat China konsern untuk tidak mengguncang Dollar. China sadar bahwa China akan menjadi pihak yang paling besar merugi secara global dari keguncangan Dollar. Ini mendorong China membatasi perannya secara pelan dan hati-hati untuk menjaga cadangan Dollar dan obligasi miliknya. Sampai-sampai saandainya semua perdagangan China dengan Russia diubah dari Dollar maka hal itu tidak menyelesaikan persoalan sebab skala perdagangan China Russia secara timbal balik mencapai 120 miliar Dollar per tahun (Arabic China, 23/9/2018) tetap terbatas secara relatif dibandingkan perdagangan global yang mencapi lebih dari 20 triliun Dollar setahun.  Dengan ini, China kurang berani dari Russia dan lebih hati-hati dalam upayanya untuk membatasi dominasi Dollar.
Tampak bahwa China menyadari bahaya transaksi dengan Dollar, baik dari sisi masifnya cadangan Dollarnya atau dari sisi obligasi Amerika miliknya… dll. Maka jadilah China menjadi negara pembeli terbesar emas. China menaikkan cadangan emasnya dari 600 ton pada tahun 2008 menjadi 1.842 ton pada tahun 2018. Ini menjelaskan penurunan besar cadangan China dalam bentuk Dollar yang mencapai puncaknya pada tahun 2014 mencapai 4 triliun Dollar (website Trading Economics). Perlu diketahui, China membeli lebih dari 700 ton emas pada tahun 2015 saja. Adapun obligasi Amerika maka setelah krisis finansial tahun 2008 China menjual obligasi Amerika yang dimilikinya sehingga nilai penguasaan China atas obligasi Amerika selama dua tahun pasca krisis tersebut menurun. Namun ancaman Amerika yang akan menghambat perdagangan China yang pada waktu itu mencuat dalam masalah mainan anak-anak yang diekspor dari China ke Amerika, menyebabkan peningkatan penguasaan China atas obligasi. Hal itu terus berlangsung sampai mencapai puncaknya tahun 2013. Tetapi China kembali menjual obligasi Amerika yang dikuasainya karena terjadinya ancaman perdagangan dari pemerintahan Trump.  Maka penguasaan China atas obligasi Amerika menurun tidak secara konfrontatif… Kemudian, China jadi mengetahui jalan dan dengan hati-hati untuk mengurangi peran Dollar dalam perdagangannya. Maka China menandatangani perjanjian dengan Russia, Jepang dan negara lainnya untuk melakukan perdagangan menggunakan mata uang lokal. Demikian juga China mendirikan bursa Shanghai untuk perdagangan minyak dengan denominasi Yuan yang diback up dengan emas. Bursa itu mengcapture 10 % perdagangan minyak global selama enam bulan pertama sejak didirikan.  China juga berpartisipasi dalam Special Drawing Right (SDR) IMF. “Hari ini di samping Dollar Amerika, Euro, Yen Jepang, Poundsterling dalam keranjang mata uang SDR (Special Drawing Right) IMF menambahkan Yuan China ke keranjang mata uang yang membentuk SDR (Special Drawing Right) sejak 1 Oktober 2016” (https://www.imf.org, 30-9-2016).
Meski dengan semua itu, masifnya cadangan China berupa Dollar dan obligasi Amerika … dsb, membuat kerja China untuk menyingkirkan Dollar tidak efektif berpengaruh. Oleh karena itu, Yuan hanya merepresentasikan 1,7% dari pembayaran internasional, dibandingkan Dollar Amerika yang merepresentasikan 40% pembayaran internasional.

c- Uni Eropa
Pada tahun 1999 muncul Euro dan mulai digunakan oleh bank menempati posisi sebagai pengganti mata uang lokal negara-negara tertentu di Uni Eropa sejak tahun 2002 dan akhirnya berusaha menyaingi Dollar. Di belakangnya ada negara-negara perekonomian yang kuat secara global seperti Jerman, Perancis dan ditambah negara-negara industri dan kaya lainnya. Dengan itu, Euro menjadi mata uang yang kuat secara global. Di belakangnya ada kekuatan yang secara kolektif memungkinkan Euro memiliki pengaruh politik global sehingga menyaingi Amerika. Uni Eropa memiliki potensi guna dibangun untuknya tentara yang kuat dan independen, dan Uni Eropa berusaha ke arah itu. Euro masuk sebagai cadangan di bank-bank sentral internasional dengan porsi mencapai antara 20-23 persen. Tetapi, salah satu faktor utama yang menghalangi kontrol Euro terhadap perekonomian global adalah lemahnya pengaruh politik, militer dan ekonomi Eropa di depan Amerika. Uni Eropa sendiri tetap dalam kondisi mempertahankan eksistensinya. Sebab ada ancaman-ancaman yang tidak lunak untuk eksistensinya itu. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa merupakan guncangan kepercayaan terhadap Uni Eropa. Demikian juga, munculnya gerakan-gerakan separatis rasial di negara-negara anggotanya yang menuntut pemisahan dari Uni Eropa turut melemahkan Uni Eropa… Ini ditambah lagi tidak adanya persatuan keputusan politik bagi Uni Eropa. Semua faktor itu kemudian tercermin pada mata uang Euro dan kepercayaan terhadap Euro.

2- Negara-negara satelit Amerika yang bersepakat dengan Russia, China dan Eropa:
  • Turki, Iran, India dan Jepang:
– Gubernur Bank Sentral Iran Abdul Nasser Hamati mengumumkan bahwa dalam pertemuannya dengan representasi Russia dan Turki (telah didiskusikan masalah perdagangan dan penggunaan mata uang lokal menggantikan Dollar…” (surat kabar Tehran Times, 9-9-2018).
– Russia, Turki dan Iran sepakat menggunakan mata uang nasional mereka dalam pertukaran perdagangan di antara mereka menggantikan Dollar Amerika. Sesuai apa yang disebutkan oleh kantor berita Anatolia Turki. Kantor berita Anatolia Turki yang dikelola oleh negara, mengutip gubernur bank sentral Iran Abdul Nasser Hammati yang mengatakan di Tehran, “transaksi-transaksi perdagangan akan dilakukan menggunakan harga kurs tertentu…” (https://ahvalnews.com/ar, 9-9-2018).
– Pada Oktober 2018, China dan Jepang menyepakati kontrak swap mata uang senilai 3 miliar Dollar, yang menjadi kotrak terbesar Jepang…
– Yury Borisov, deputi Perdana Menteri Russia pada 31-10-2018 mengumumkan bahwa “telah ditandatangani kontrak suplay sistem rudal S-400 ke India yang akan menggunakan mata uang Russia Rubel…” (https://sputniknews.com, 31-10-2018).
Negara-negara yang coba ditarik oleh Russia dan China kepada kebijakan transaksi menggunakan mata uang nasional, negara-negara itu tetap negara satelit Amerika atau antek Amerika. Artinya, itu merupakan kebijakan yang terkait dengan Amerika dan cepat bersentuhan dengan Amerika dan tidak tuntas dalam berlepas diri dari transaksi menggunakan Dollar atau berlepas diri dari menjadikan Dollar sebagai cadangan moneter negara.  Keputusan untuk independen ekonomi wajib diiringi oleh independsi politik seperti China dan Russia yang independen. Sementara negara satelit itu menerima membahas transaksi menggunakan mata uang lokal dengan Russia dan China sebab mereka didorong oleh Amerika karena situasi darurat yang jika hilang akan kembali ke kondisi normalnya:
Turki sejak presiden Trump menjatuhkan sanksi terhadap baja Turki, dan sejak Amerika Serikat menyerang mata uang Turki, akhirnya Erdogan mengkritik Dollar untuk konsumsi lokal. Total utang Turki yang nilainya lebih dari 400 miliar Dollar diperoleh dalam bentuk Dollar. Ini berarti bahwa setiap kali nilai mata uangnya turun terhadap Dollar maka cicilan utangnya memerlukan lebih banyak Lira, dan berikutnya harga-harga naik dan masyarakat menekan dan Erdogan menyampaikan pidatonya yang mengkilat seperti kebiasaannya!… Adapun pernyataan Erdogan dalam Konferensi VI Majelis Turki di Roh Ordu Cultural Center Kyrgistan pada 3 September, dia mengatakan: “kami menawarkan perdagangan menggunakan mata uang kita sendiri daripada menggunakan Dollar Amerika”.  Pernyataan tersebut tidak ada faktanya. Pernyataan itu sangat jauh untuk menjadi hakikat faktual. Hal itu karena Turki secara asasi berdagang dengan Uni Eropa! Meski demikian, Turki berdagang menggunakan Dollar. Turki juga berutang dalam bentuk Dollar dan menyimpan cadangannya berupa mata uang asing mayoritas dalam Dollar. Demikian juga, minyak dan gas alam serta bahan mentah yang diimpor semuanya juga menggunakan Dollar… Kita melihat Turki ketika Amerika mencabut sanksi darinya setelah Turki melepaskan pastur Amerika maka perkara-perkaranya kembali seperti semula. Turki tidak lagi bersemangat seperti sebelum dicabutnya sanksi untuk memberikan prioritas bertransaksi menggunakan mata uang lokal… Adapun negara-negara berbahasa Turki di Asia Tengah, negara-negara itu mengikuti politik Amerika. Perdagangan Turki dengan negara-negara itu hingga meskinya pertukarannya menggunakan mata uang lokal tidak sampai ke angka berpengaruh dalam perdagangan global dikarenakan marjinalnya perekonomian negara-negara Asia Tengah.
Sedangkan Iran, Iran dilarang oleh Amerika dari bertransaksi menggunakan Dollar akibat sanksi-sanksi finansial keras yang dijatuhkan terhadap Iran dalam tahun yang panjang setelah Iran dikeluarkan dari sistem perbankan Amerika… Tetapi, setelah sanksi-sanksi dicabut pada tahun 2015, Iran menjual minyaknya menggunakan Dollar dan menandatangani kontrak-kontrak besar dengan korporasi-korporasi internasional termasuk korporasi Eropa seperti Airbus dan Total Perancis hanya menggunakan Dollar saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa!  Jadi sanksi-sanksi dan pencabutannya berpengaruh pada tindakan-tindakan Iran secara temporer. Amerika lah yang memasukkan Iran atau mengeluarkannya dari Sistem Telekomunikasi Antara Bank Internasional (SWIFT). Ketika Amerika meningkatkan pernyataan permusuhannya kepada Iran dan Iran menutup pintunya terhadap Dollar maka respon Iran dengan pernyataan tentang transaksi menggunakan selain Dollar …
Sedangkan India, India mengimpor senjata Russia sejak dahulu dan Amerika tidak melarang hal itu. India memiliki posisi khusus bagi Amerika sebab Amerika menginginkan India sebagai kekuatan yang punya bobot melawan pengaruh China yang terus meningkat di Asia. India menyadari hal itu. Karena itu tidak diprediksi bahwa India akan mengubah Dollar ke Rubel atau Yuan sebagai mata uang global.
Adapun Jepang, keterikatannya dengan Amerika tidak perlu lagi dijelaskan. Transaksinya dengan Russia tidak berarti sama sekali bahwa Jepang menentang Dollar atau bahwa Jepang menerima Rubel sebagai pengganti Dollar.
Ringkasnya: negara-negara yang bisa diperhitungkan memiliki dampak efektif dalam pengaruh dalam menyingkirkan Dollar dari posisinya adalah Russia, China dan Uni Eropa.  Tetapi, semua faktor ini melemahkan pergerakannya seperti yang kami jelaskan.  Tetapi seandainya semua negara itu terbebas dari faktor-faktor itu maka memungkinkannya menggoyang Dollar dari posisinya. Negara-negara itu jika tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam perkara ini maka akan dikejutkan dengan apa yang disebut Dollar lemah. Ketika itu, negara-negara itu akan mendapati kekayaannya berupa cadangan devisanya dalam bentuk Dollar akan menguap. Amerika memiliki utang sangat besar. Majalah Amerika, Washington Examiner pada 1-10-2018 menyebutkan, “utang pemerintah Amerika meningkat lebih dari 1,2 tiliun Dollar selama satu tahun fiskal yang berakhir pada 30 September 2018. Hal itu menurut website pemerintah yang memonitor utang. Utang nasional Amerika pada akhir tahun fiskal 2017 telah mencapai 20,25 triliun Dollar dan pada akhir tahun fiskal 2018 mencapai 21,52 triliun Dollar…”.
Akumulasi utang Amerika selama sepuluh tahun ini telah membawa negeri ke dalam kesulitan finansial. Dikarenakan cepatnya akumulasi utang pemerintah Amerika setelah krisis 2008, total utang pemerintah Amerika melompat dari 8 triliun Dollar menjadi 21 triliun Dollar sekarang ini maka kesulitan finansial Amerika menjadi akut. Itulah yang disebut oleh Bolton sebagai bahaya terhadap keamanan nasional dan perlu penyelesaian cepat, yakni dalam jangka pendek dan menengah, bukan jangka panjang… Berhadapan dengan realita ini maka ruang yang masih tersisa di depan Amerika untuk mengelola pendanaannya adalah dengan makin menyuntikkan likuiditas (mencetak Dollar). Penyuntikan likuiditas dengan kuantitas yang memenuhi pendanaan negara apalagi pembayaran utangnya akan menyebabkan runtuhnya Dollar, atau yang disebut oleh menteri keuangan Amerika “Dollar lemah – a weak Dollar -”. Itu artinya, negara-negara di dunia yang bertransaksi menggunakan Dollar dalam perdagangannya, dan cadangan mata uangnya, serta obligasi Amerika yang dimilikinya, akan kehilangan kekayaannya dengan kadar yang sama dengan melemahnya Dollar. Artinya akan terjadi pukulan kuat terhadap negara-negara itu!
Di atas semua itu, realita sekarang ini tidak memungkinkan negara-negara ini untuk bersandar kepada mata uang global pengganti Dollar. Tetapi, bisa dikatakan bahwa upaya Russia dan China untuk bertransaksi menggunakan mata uang lokal dan membuat kontrak dengan negara-negara lain menggunakan mata uang lokal jelas memiliki pengaruh dalam menghancurkan dominasi Dollar jika terus berlangsung dengan kuat dan tanpa melemah. Pergerakan Eropa di samping China akan memiliki pengaruh lebih besar. Permintaan untuk membeli emas akan memperkuat hal itu, hanya saja hal itu tidak menyelesaikan persoalan selama emas tetap sebagai komoditi di bank-bank sentral yang dijual untuk memperoleh Dollar ketika negara-negara memerlukan Dollar. Atau emas sebagai cadangan untuk mendukung uang fiat money milik negara tersebut agar bisa memperoleh mata uang kuat (hard currency)… Persoalan tidak akan terselesaikan kecuali emas dan perak menjadi mata uang. Dan jika dikeluarkan uang kertas maka wajib dinilai dengan emas atau perak dan bukan hanya emas dan perak itu menjadi komoditi di bank-bank sentral untuk membeli mata uang kuat (hard currency)…  Artinya, bahwa bank sentral di setiap negara mengeluarkan mata uang dengan emas dan perak. Dan tidak ada halangan negara mengeluarkan uang kertas yang dinilai dengan emas dan perak di mana pembawa uang kertas itu kapan saja bisa pergi ke bank dan menukarkannya dengan emas atau perak. Artinya, uang kertas itu digunakan sebagai mata uang substitusi dari emas dan perak yang bisa ditukarkan degan emas dan perak sesuai nominal yang tertulis.  Maka ketika itu, dominasi akan menjadi milik emas dan perak… Dan berikutnya negara tidak bisa merampok kekayaan pihak lain atau mengeksploitasi tenaga mereka dan menggerakkan alat-alat perang dan melancarkan perang invasif menggunakan mata uang yang tidak memiliki nilai.  Seperti yang kita lihat sekarang, tidak ada negara yang mampu melakukan hal itu. Melainkan hanya daulah al-Khilafah yang mungkin mengimplementasikannya sebab ketentuan itu (menjadi emas dan perak sebagai basis mata uang) merupakan hukum syara’ yang diperintahkan oleh Allah SWT. Rasul saw telah menerapkannya di negara beliau secara riil. Kemudian hal itu ditempuh oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah yang datang setelahnya sampai Daulah al-Khilafah dihancurkan pada 1342 hijriyah atau 1924 masehi, dan setelah itu kebatilan memimpin… Ideologi kapitalisme memimpin dunia. Pemimpin ideologi kapitalisme hanya mementingkan untuk merampok atau memakan harta manusia dengan jalan yang batil dan mengumpulkan harta miliaran. Ideologi kapitalisme merupakan hukum manusia yang jahat. Dan kita melihat dampak dari penerapan ideologi kapitalisme dalam bentuk berbagai krisis finansial dan ekonmi yang menghancurkan di samping bermain-main dengan potensi masyarakat, merampok kekayaan mereka dan menyia-nyiakan harta mereka melalui uang kertas yang nilai instrinsiknya tidak bernilai! Ideologi batil ini harus dijatuhkan. Wajib dilakukan perjuangan untuk mendaulatkan ideologi Islam, ideologi kebenaran dan keadilan dalam bentuk yang menyatu (mentajasad) dalam negaranya yang telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, berjuang dan saleh.
﴿وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (TQS ar-Rum [30]: 6).
Dunia akan terus dalam penderitaan finansial dan ekonomi selama tidak berhukum kepada syariah Allah SWT. Mahabenar Allah SWT:
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً﴾
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (TQS Thaha [20]: 124).


18 Rabiul Awwal 1440 H
26 November 2018 M

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/56414.html

krakatau meletus

Oleh: Achmad Fathoni  (Direktur el-Harokah Research Center)
Tercatat di sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami banyak terjadi bencana alam. Mulai dari gempa di Lombok NTB, Tsunami di Palu, hingga yang terbaru Tsunami Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam lalu. Selain itu tercatat dari awal hingga akhir 2018 Indonesia juga banyak dilanda bencana alam lain seperti gempa, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Mengutip dari laman resmi Badan Nasional Penanggulanagan Bencana (BNPB) tercatat hingga November 2018 telah terjadi 2.308 kejadian bencana yang menyebabkan 4.201 orang meninggal dunia dan hilang. Sementara 9.883.780 lainnya terdampak dan mengungsi akibat bencana alam tersebut. Selain itu bencana alam juga telah mengakibatkan 371.625 rumah mengalami kerusakan (http://www.tribunews.com/section/2018/12/24/kaleidoskop-2018-bencana-alam-di-indonesia-sepanjang-2018-tsunami-2-kali-hingga-banyak-gempa-bumi).
Di sela-sela berderet bencana alam tersebut, pada akhir bulan Oktober 2018 terjadi pula kecelakaan pesawat Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, yang telah menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat yang mencapai ratusan korban jiwa. Selain kecelakaan pesawat tersebut, sebelumnya juga terjadi kecelakaan tenggelamnya Kapal Penumpang di Danau Toba, yang menelan korban jiwa dan harta benda yang sangat banyak. Tentu saja semuanya peristiwa itu sangat menorehkan duka yang sangat mendalam bagi keluarga korban khususnya dan seluruh elemen bangsa ini umumnya.
Di tengah kepedihan tersebut, masih ada banyak tragedi yang sangat patut disayangkan yang menimpa kaum muslimin. Di antaranya tragedi pembakaran bendera tauhid, saat peringatan hari santri Nasional di Garut, Jawa Barat oleh oknum salah satu ormas Islam. Yang akhirnya memicu reaksi keras dari umat Islam baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang akhirnya terakumulasi dengan aksi reuni 212 “Bela Tauhid” Ahad, 2/12/2018 di Monas yang dihadiri belasan juta massa. Selain itu upaya kriminalisasi terhadap ulama’ dan ajaran Islam masih terus berlangsung di negeri zamrut katulistiwa ini. Propaganda jahat anti syariat Islam oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dengan mudahnya terjadi di depan umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini.
Dengan mencermati situasi dan kondisi terkini yang menimpa negeri dan bangsa ini, maka solusi yang mendesak dan harus segera dilakukan oleh semua elemen bangsa ini adalah taubatan nashuha (taubat yang sebenar-benarnya). Untuk mewujudkan hal itu, ada beberapa hal yang harus segera dipayakan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan, sebagai berikut.
Pertama, mewujudkan pribadi yang bertakwa pada semua elemen bangsa ini. Artinya setiap individu masyarakat dan para pemimpinnya senantiasa menjadikan setiap aktivitasnya adalah mewujudkan ketaatan kepada sang Khaliq, Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Menjadikan dunia sebagai sarana pengabdian hakiki untuk kebahagiaan negeri akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana hadist riwayat dari Zaid bin Tsabit, yang telah mendengar Nabi SAW bersabda,  “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah SWT akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina” (HR. Ahamad, dalam Musnadnya IV/183, Ibn Majah no. 4105, Ibnu Hibban dalam Mawariduzh Zham’ah no. 72, Al-Baihaqi VII/288).
Kedua, mewujudkan masyarakat yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak yang baik dan mencegah dari yang mungkar). Aktivitas tersebut harus senantiasa terwujud di tengah-tengah masyarakat. Karena dengan adanya amar ma’ruf nahi munkar kehidupan masyarakat akan terjaga sebagai masyarakat yang baik dan beradab, serta menjauhkan murka dari Allah SWT. Sebagaimana Sabda Nabi SAW, “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh kalian (mempunyai dua pilihan, yaitu) melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau (jika tidak dilakukan) Allah akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian (jika hal itu tidak dilaksanakan) kalian berdo’a, maka (do’a itu) tidak akan dikabulkan”
Ketiga, mewujudkan pemimpin yang amanah dan berpihak kepada Islam dan kaum muslimin. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menjadikan hukum Allah SWT sebagai panduan dan pedoman dalam mengatur dan mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan katakanlah, Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS. Al-Isra’ [17] : 80). Kekuasaan yang menolong menurut pendapat sebagian mufassir adalah perintah Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk berhijrah ke Madinah, untuk mewujudkan masyarakat dan negara yang berdasarkan syari’ah Islam. Dengan demikian, sudah saatnya umat Islam mewujudkan kepemimpinan Islam dalam sistem Khilafah Islamiyah yang dicontohkan Nabi SAW dan para shahabat setelahnya.
Keempat, menata kembali negeri dan bangsa ini dengan tatanan kehidupan yang berasal dari Yang Maha Sempurna, Allah SWT, yaitu menerapkan kembali sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan Negara Khilafah Rasyidah ‘alaa  Minhaj an-Nubuwwah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf [7] : 96). Peringatan Allah SWT dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa agar suatu negeri memperoleh keberkahan maka syaratnya adalah keimanan dan ketakwaan. Implementasi dari ketakwaan tersebut adalah melaksanakan tajul furudh (mahkota kewajiban) yaitu mewujudkan sistem Islam, khilafah Islamiyah, yang akan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Itulah kunci utama agar negeri dan bangsa ini memperoleh kebaikan dan kesehteraan hidup di dunia dan akhirat kelak. Wallahu a’lam.[]
loading...
Powered by Blogger.