KH. Hisyam Hidayat : Majelis Kyai Ponpes Al Ihsan, Baron, Nganjuk, Jatim
Dalam kitab, al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:
» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465]
“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).
Imam Ibnu Rojab Al-hambali dalam Jaamiul uluum wal hikam menyatakan riwayat tentang makna “ruwaibidhoh” dikeluarkan Imam Thabarony dan Imam Ahmad:
قالوا : وما الرويبضَةُ ؟ قال : (( السَّفيه ينطق في أمرِ العامَّة )) . وفي رواية : (( الفاسقُ يتكلَّمُ في أمر العامة ))
Mereka bertanya: Apakah ruwaibidhoh? Beliau bersabda: “Orang bodoh yang berbicara dalam urusan masyarakat”.
Sedangkan dalam riwayat lain: “orang ahli maksiyat yang berbicara dalam urusan masyarakat”.
*Pemimpin Ruwaibidhoh adalah Pemimpin bodoh dan ahli maksiyat yang diamanahi urusan masyarakat*
Saat ini, banyak kita temui orang bodoh yang diserahi urusan masyarakat atau orang yang memiliki ilmu diserahi urusan masyarakat tapi pernyataan dan sikapnya bertentangan dengan syariat. Hakekat keduanya sama saja, masuk golongan yang tidak berakal.
*Maka ulama menyebut orang yang dhohirnya intelek dan berdedikasi namun pernyataan dan sikapnya bertentangan bahkan menentang syariat maka mereka hakekatnya adalah golongan yang tidak berakal*.
Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al ihkam fii Ushuul Al-ahkam menyatakan:
تَرَى الرجلَ داهِيا لبِيبا فاطِنا و لا عقْلَ لهُ فالعاقِل مَنْ اطاع اللهَ عز و جل
Engkau akan melihat seorang laki-laki cerdik pandai lagi cerdas akan tetapi sebenarnya mereka tidak berakal karena hakekat orang berakal adalah mereka yang taat kepada Allah.
Orang ‘alim tunduk kepada kebijakan orang bodoh maka menjadi manusia terhina, terhina karena tidak menggunakan akalnya dengan benar dan derajatnya menjadi golongan yang tidak berakal karena tunduk kepada orang yang bodoh.
Imam Al-Mawardi mengutip ungkapan ahli hikmah:
قيل لبعض الحكماء : من أذل الناس ؟ فقال : عالم يجري عليه حكم جاهل
“Siapakah orang yang paling hina? Dijawab, “Orang alim (ulama) yang tunduk dengan keputusan orang bodoh.”
(Lihat, Al-Mawardi,Adab ad-Dunya wa ad-Din,hal. 48).

Abu ‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:
الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
“Orang yang berkata batil adalah Syaitan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari mengatakan kebenaran adalah Syaitan yang bisu.”
( Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ wad-Dawâ, Tahqîq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.)
*BILA ORANG ALIM TUNDUK KEPADA RUWAIBIDHOH TIDAK TAUBAT HINGGA WAFAT MAKA MENGALAMI KEHINAAN DI AKHERAT*
Allah Swt berfirman:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.””
(QS. Al-Ahzab: Ayat 66)

وَقَالُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا
“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzab: Ayat 67)

رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا
“Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.””
(QS. Al-Ahzab: Ayat 68)

• ولما علموا أ
نهم هم وكبراءهم مستحقون للعقاب، أرادوا أن يشتفوا ممن أضلوهم، فقالوا: { رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا } فيقول اللّه لكل ضعف، فكلكم اشتركتم في الكفر والمعاصي، فتشتركون في العقاب، وإن تفاوت عذاب بعضكم على بعض بحسب تفاوت الجرم.
“Ketika mereka mengetahui bahwa mereka dan pemimpin mereka memperoleh siksaan, maka mereka menginginkan agar mereka ditambah siksaannya karena pemimpin mereka telah menyesatkan mereka, maka mereka berdoa, “Ya Tuhan kami timpakan kepada mereka siksaan yang belipatganda dan laknatlah mereka dengan keras”.
Maka Allah berfirman: “Masing-masing dilipatgandakan, sekalipun siksaan sebagian satu dengan yang lain sesuai dengan perbedanan tingkat kejahatannya” (tafsir As-sa’dy)
*Bagaimana Sikap Ulama Akherat dengan pemimpin Ruwaibidhoh:*
1. Menampakkan kebenaran.
Imam Ahmad ibn Hanbal di dalam Bayna Mehnah al-Din wa Mehnah al-Dunya:

إذا سكت العالم تقيةً، والجاهل يجهل، فمتى يظهر الحق
“Kalau diam orang alim kerana taqiyah (cari aman), dan orang jahil terus dalam ketidak tahuan, maka bilakah kebenaran itu akan nampak?”
2. Memerintahkan pemimpin kembali kepada syariah dalam mengatur urusan masyarakat.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011, Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Sabda Nabi SAW:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
”Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthallib dan seseorang yang berdiri di hadapan seorang imam yang zalim lalu orang itu memerintahkan yang ma’ruf kepadanya dan melarangnya dari yang munkar, lalu imam itu membunuhnya.” (HR Tirmidzi dan Al-Hakim)



Kaum wanita Arab Saudi membuka babak baru dalam sejarah stadion sepak bola, pada hari Jum’at sore (29/12), di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri ini, kaum wanita diperbolehkan menghadiri pertandingan sepak bola. Sedang gelora reformasi di Arab Saudi ditujukan untuk memberi kaum wanita kebebasan lebih besar. Sebagaimana kaum wanita diizinkan menghadiri pertandingan sepak bola di stadion setelah keputusan bersejarah yang membolehkan mereka mengemudikan mobil. “Saya berterima kasih kepada Anda semua atas usaha dan dukungan Anda yang terus berlanjut tidak mengenal lelah. Hari ini Anda telah membawa kebahagiaan kepada setiap keluarga dan wanita Arab Saudi, yang pertama kalinya menghadiri pertandingan sepak bola,” kata salah seorang putri Arab Saudi di Twitter (BBC Arabic)
*** *** ***
Berbagai media masa Arab ramai mempublikasikan berita ini secara massif dan mempromosikannya untuk waktu yang lama, serta menganggapnya sebagai peristiwa bersejarah dan kemenangan besar bagi kaum wanita di Arab Saudi dalam konteks “reformasi” yang dilakukan oleh Muhammad bin Salman dalam “Visi 2030”. Sungguh sayang sekali bahwa berita semacam itu dibahas secara luas dan bahkan dijadikan headline di sejumlah surat kabar dan situs web sebagai kemenangan bagi kaum wanita di Arab Saudi, sementara di satu sisi mengabaikan situasi menyedihkan perempuan di Kerajaan secara politik dan ekonomi, serta melanggar hak-hak dasar mereka dalam pemanfaatan kekayaan dan perbaikan kondisi materi mereka, juga standar hidup mereka setelah kemiskinan mencapai 25 persen dari populasi Kerajaan, padahal menempati urutan pertama dalam produksi minyak di dunia!
Laporan mengejutkan diungkapkan oleh pelapor khusus PBB mengenai kemiskinan ekstrim dan hak asasi manusia yang menunjukkan kesenjangan antara besarnya kekayaan negara dan penyebaran fenomena kemiskinan di Arab Saudi. Kaum wanita adalah yang paling terkena dampak oleh undang-undang yang tidak adil dan menutup semua jalan bahkan untuk melakukan pekerjaan sendiri demi memenuhi kebutuhan dasarnya, serta terhalangnya dari sejumlah hak, di mana membicarakan tentang memburuknya situasi atas hal-hal yang disembunyikan atau subjek “tabu”, maka pelakunya akan dikenakan denda yang berat.
Untuk level ini, langit-langit tuntutan kaum wanita di Arab Saudi telah turun sehingga kebahagiaan telah mewarnai hatinya dengan memasuki stadion sepak bola! Atau pencitraan yang menghibur ini adalah keharusan politik dan media hingga Ibnu Salman memuaskan para kritikus Barat sekuler dan memperdagangkan hak “palsu” dengan melakukan hal murah yang membuat perempuan menyerbu tribun, memasuki gedung bioskop, atau menghadiri konser sebagai “hak istimewa” yang dicapai di negaranya, juga sebuah lompatan besar menuju “modernisasi” dan “kemajuan” dalam memperlakukan kaum wanita?
Perdagangan hak-hak kaum wanita adalah komoditas kediktatoran di dunia. Lihatlah kaum wanita di Arab Saudi sangat terpikat ke dalam sel sekuler yang murah ini setelah bertahun-tahun absen, bahkan dibajak secara pemikiran, politik dan ekonomi, atas nama agama dan syariah untuk mengeksploitasi dan meminggirkannya menuju dunia yang gelap gulita meski di sekitarnya ada banyak cahaya.
Jika kaum wanita di Arab Saudi dan di negara-negara Muslim pada umumnya, juga kaum wanita di seluruh dunia ingin hidup dengan kebahagiaan yang nyata, mengisi dan mewarnai hatinya serta orang-orang di sekitarnya dengan kegembiraan dan ketenangan, maka wahyu Allah Tuhan semesta alam sudah mencukupinya, juga sistem Islam di bawah naungan negara yang adil dan bijak, yang akan menjamin perawatan, kecukupan dan kebahagiaannya. Allah SWT berfirman: “Thāhā. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (TQS Thāhā [20] : 1-2).
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 14/1/2018.


(Tanggapan atas Pernyataan Kapolri Yang Mengandung Ujaran Adu Domba Terhadap Umat Islam)
Oleh : Achmad Fathoni  | Direktur el-Harokah Research Center
Kapolri Jenderal Tito Karnavian kembali mengeluarkan sebuah retorika tak pantas sebagai seorang petinggi Negara di hadapan masyarakat Indonesia. Pernyataan bernada instruksi itu terekam dalam sebuah video sebuah portal berita media nasional berdurasi 2 menit 9 detik. Video ini viral dan menyebar di segala lini media sosial. Dengan nada tegas dan herois Jenderal Pol Tito menginstruksikan kepada jajarannya di seluruh daerah untuk memperkuat hubungan kerjasama dengan NU dan Muhammadiyah. “… Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Semua Polres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten dan kota. Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian, mereka bukan pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya…” (http://nusantaranews.co/kapolri-ucapkan-retorika-pecah-belah-dan-pilih-kasih/).
Memang dalam bagian pernyataan tersebut adalah frasa yang sangat insinuatif dan tendensius terhadap kelompok dan elemen umat Islam yang ada di negeri ini, yang patut untuk dikritisi oleh publik yaitu “…jangan dengan yang lain. Dengan kelompok yang lain itu nomor sekian, mereka bukan pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya…”. Frasa tersebut bisa dipahami bahwa organisasi di luar NU dan Muhammadiyah bukan pendiri bangsa, malah hanya ingin merontokkan NKRI saja. Tentu saja pernyataan tersebut sangat tidak layak keluar dari lisan petinggi negara ini, yang mempunyai populasi Muslim terbesar di dunia ini. Pasalnya, pernyataan tersebut sangat menyudutkan elemen umat Islam yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini. Apalagi pernyataan tersebut, sangat menyakitkan hati umat Islam bahwa elemen umat Islam di luar NU dan Muhammadiyah dianggap akan merontokkan NKRI.
Hal itu sangat bertolak belakang saat menyikapi kelompok separatis, yang dilakukan oleh kelompok di luar Islam, misalnya OPM (Organisasi Papua Merdeka). Meski OPM telah melakukan tindakan makar dan telak membunuh aparat, baik Polri maupun TNI, sejak organisasi separatis itu berdiri tahun 1965. Bahkan yang baru saja terjadi OPM telah menyandera ribuan warga Papua, namun sikap Polri sangat jauh berbeda, bak panggang jauh dari api, serta bertolak belakang. Bahkan tidak ada satu patah kata pun pernyataan yang dikeluarkan oleh Kapolri atau pihak yang berwenang negeri ini, yang mengutuk dan akan menindak tegas kelompok separatis OPM tersebut. Padahal, jika Kapolri mau bersikap objektif, justru kelompok OPM-lah yang telah melakukan tindakan merongrong negara dan akan merontokkan negara. Jika Polri dan rezim saat ini ada itikat baik untuk berlaku adil, harusnya kelompok itulah yang harus ditumpas sampai ke akar-akarnya. Tapi fakta menunjukkan kebalikan, justru rezim membiarkan dan cenderung melindungi kelompok separatis tersebut. Jika sikap rezim saat ini, terus menerus “memusuhi” elemen Islam dan umat Islam, maka ini jelas menjadi bukti yang menunjukkan bahwa Kapolri dan rezim saat ini memang benar-benar rezim yang anti Islam.
Padahal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dan dalam proses kemerdekaan negeri ini, tidak bisa dibantah  bahwa seluruh elemen umat Islam-lah yang mempunyai kontribusi terbesar di dalamnya. Tentunya publik, juga sangat memahami bahwa banyak elemen umat Islam, selain NU dan Muhammadiyah, yang ikut berjuang melawan penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua. Di Jawa saja, jauh sebelum Muhammadiyah dan NU lahir, telah berdiri organisasi Islam yaitu Syarikat Dagang Islam, yang kemudian menjadi Sarikat Islam (SI), dengan tokoh pendirinya Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto, yang merupakan guru besar bagi Bung Karno dan banyak tokoh pejuang lainnya. Pada tahun 1901 di Jakarta telah berdiri Jam’iyatul Khairat, yang didirikan umat Islam keturunan Arab, yang punya andil besar dalam perjuangan melawan penjajah.
Selain itu ada pula organisasi Islam lain, pada tahun 1916 di Banten telah berdiri Mathla’ul Anwar, yang juga punya andil besar berjuang melawan penjajah dan membuat usaha agar Indonesia bisa merdeka dari cengkeraman penjajah. Juga pada tahun 1926 di Medan berdiri organisasi Islam yang bernama Al-Washiliyah. Yang sangat berjasa dalam membangun sekolah, bahkan para ulama’-nya berjuang pula angkat senjata melawan penjajah Belanda. Pada tahun 1936  di Medan, berdiri pula organisasi Islam yang bernama Al-Ittihadiyah, oleh Syekh Muhammad Dahlan, Syekh Zainal Arifin Abbas, Syekh Sayuti Nur. Di Aceh juga berdiri Persatuan Ulama’ Aceh, yang mengeluarkan fatwa jihadmelawan Penjajah Belanda dan menuliskan “Hikayat Peran Sabil” yang sangat terkenal itu. Di Sumatera Barat berdiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dipelopori oleh para ulama’ di sana dalam rangka memobilisasi kaum muslim berjuang melawan penjajah di daerah Sumatera Barat. Di Bandung Jawa Barat ada Persis (Persatuan Islam) yang dipelopori oleh Syekh A. Hasan.
Tidak hanya itu, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), berdiri organisasi Islam yang bernama Nahdhatul Wathan, yang didirikan oleh Tuan Guru Zainuddin. Di Sulawesi berdiri juga organisasi Islam yaitu Al-Khairat, dan masih banyak yang lainnya. Tentu semua elemen bangsa ini sangat memahami peran dan kiprah semua elemen umat Islam di negeri ini dalam memerdekakan negeri ini dan juga telah berjuang dengan sepenuh hati tanpa pamrih dalam mengisi kemerdekaan dalam menyiapkan generasi yang amanah, cerdas, dengan keimanan yang kokoh dalam melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini.
Semua realitas sejarah tersebut, telah dinegasikan dan tidak diperhatikan oleh Kapolri. Justru pernyataan Kapolri tersebut bisa dimaknai sebagai upaya memecah belah umat Islam. Merujuk sikap Kapolri tersebut, maka publik tidak bisa disalahkan, jika menyimpulkan bahwa rezim saat ini telah menerapkan politik belah bambu yang sangat keji terhadap elemen Islam, ulama’, dan umat Islam. Di satu pihak rezim mensupport dan mendukung ormas Islam tertentu, dan di pihak lain rezim melakukan propaganda negatif dan melakukan kriminalisasi terhadap ormas Islam lain. Oleh karena itu, publik terutama seluruh umat Islam, wajib menolak keras dan lantang atas pernyataan Kapolri yang menyudutkan dan memecah belah umat Islam. Serta semua elemen umat Islam harus terus merapatkan barisan dan menjaga ukhuwah Islamiyah, sehingga upaya rezim yang anti Islam tersebut bisa jadi GATOT KACA (Gagal Total dan Kacau Balau). Semoga demikian adanya. Amin…Wallahu a’lam.[]
sumber : media umat


Pernyataan Kapolri menunjukkan lemahnya pengetahuan sejarah para jenderal polisi.
Ucapan Kapolri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian dalam sebuah rekaman video yang menyebar luas menuai polemik. Dalam video tersebut, Tito menyatakan, polisi hendaknya hanya merangkul ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di semua lini. Tito pun menyebutkan, organisasi lain selain NU dan Muhammadiyah merontokkan negara.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto mengatakan, Kapolri akan bertemu dengan organisasi Islam lainnya. “Nanti akan ada pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam. Kita silaturahim,” kata Setyo di Jakarta, Selasa (30/1).
Selain bersifat silaturahim, kata Setyo, Polri juga akan memberikan penjelasan terkait ucapan Tito Karnavian. Setyo menjelaskan, ucapan Tito itu terlontar pada 2016.
“Waktu itu kalau tidak salah ada MoU dengan NU. Saya waktu itu masih kadiv hukum. Bahkan, gambarnya (yang) viral ada gambar saya di situ. Saya masih kadiv hukum dan (peristiwa dalam video terjadi) di kantor PBNU, kalau tidak salah,” kata Setyo.
Adapun ucapan Tito dalam video yang viral berbunyi, “… Semua Kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Semua polres wajib membuat kegiatan-kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten dan kota. Para kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian, mereka bukan pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya .…”
Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnaen meminta Kapolri meminta maaf terkait pidato yang disampaikan dalam video yang beredar. “Saya sangat kecewa dan keberatan atas pidato Kapolri yang saya nilai provokatif , tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan, dan rawan memicu konflik. Saya dan umat sekarang menunggu pernyataan maaf dari Kapolri,” kata Tengku melalui pesan singkatnya, Selasa (30/1).
Tengku mengaku sempat menuliskan surat terbuka di akun Facebook-nya yang diunggah pada 29 Januari 2018. “Benar, itu saya yang menuliskan, langsung dengan tangan saya,” kata dia.
Dalam surat terbuka yang diunggah Tengku, dia menuliskan sejarah ormas-ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tulisan itu merupakan bentuk protes atas pidato Kapolri yang menyebut ormas lain selain NU dan Muhammadiyah justru merontokkan negara. Di akhir surat tersebut, Tengku pun meminta Tito meminta maaf.
Menurut Tengku, Kapolri tidak perlu melakukan klarifikasi terkait ucapannya yang menyebut ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah merontokkan negara. Umat Islam bukan memerlukan alasan Kapolri, melainkan permintaan maaf. “Tidak perlu ngeles-ngeleslah. Tidak perlu lagi, sudah tersakiti umat Islam. Cukup minta maaf,” ujar Zulkarnain.
Zulkarnain juga menilai rencana Polri mengumpulkan ormas Islam untuk mengklarifikasi hal tersebut tidak perlu dilakukan. “Tak usahlah. Lebih gentlemen minta maaf,” kata dia.
Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung Ahmad Mansur Suryanegara menyatakan, pernyataan Kapolri menunjukkan lemahnya pengetahuan sejarah para jenderal polisi terkait peran ulama dan umat Islam di Indonesia. “Itu bukan kali pertama,” kata Mansur.
Sebelumnya, kata dia, mantan kapolda Jabar yang juga maju sebagai calon wakil gubernur Jabar dari PDI Perjuangan, Irjen Polisi Anton Charliyan, salah mengutip sejarah dalam acara di stasiun televisi. Anton menyebut Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari sebagai salah satu dari Panitia Sembilan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
“Fakta sejarahnya, apa yang disampaikan Kapolri dan Anton itu salah total. Ini cukup memalukan. Saya meminta perwira dan jenderal polisi untuk belajar sejarah lagi agar kesalahan yang sama tidak terulang,” ujar Mansur.
Mansur yang merupakan penulis buku sejarah Indonesia ternama berjudul Api Sejarah melanjutkan, kesalahan dua jenderal polisi dalam mengutip sejarah bangsa Indonesia, khususnya terkait umat Islam, sangatlah fatal, apalagi dengan menyebut hanya NU dan Muhammadiyah saja yang berperan mendirikan bangsa ini.
“Ke mana Mohammad Natsir yang juga tokoh penting di Persatuan Islam (Persis) dan juga pernah menjadi perdana menteri kelima di era Sukarno? Bagaimana Tuan Guru Kiai Haji Abdul Madjid pendiri Nahdlatul Wathan di NTB yang kemarin diberi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi? Apakah perannya selama ini yang telah dicatat sejarah dilupakan Kapolri?” sindir Mansur.
Kesalahan fatal lain yang disampaikan Anton Charliyan dengan menyebut Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari sebagai Panitia Sembilan yang dibentuk pada 1 Juni 1945. Padahal, Ahmad Dahlan meninggal pada 23 Februari 1923. “Dan bukan Hasyim Asy’ari yang menjadi Panitia Sembilan, melainkan putranya, Wahid Hasyim.”
Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Siddik juga sangat menyesalkan pernyataan Kapolri. Menurut dia, pernyataan Kapolri sangat menghina dan sangat disesalkan.
“Pernyataan itu tidak sesuai dengan sejarah. Tidak ada ormas Islam yang merontokkan NKRI. DDII memprotes pernyataan Kapolri yang mengabaikan ormas Islam lainnya,” kata Siddik. []
Sumber: republika.co.id

ketimpanganekonomi
Hasil penelitian International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) yang menyebut satu persen penduduk terkaya memiliki 45 persen dari kekayaan nasional, menurut Muhammad Ishak hal tersebut terjadi lantaran diterapkannya sistem kapitalisme.
“Ketimpangan yang sangat lebar yang terjadi di Indonesia dan juga dunia saat ini tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem kapitalisme,” ujar peneliti Center of Reform on Economic (Core) Indonesia tersebut kepada , Senin (29/1/2018).
Menurutnya, sistem kapitalisme telah menjadikan akses kebutuhan primer (makanan, pakaian dan perumahan) dan fasilitas pelayanan primer khususnya pendidikan dan kesehatan bersifat komersial. Kebijakan pemerintah yang mendorong komersialisasi pendidikan dan layanan kesehatan yang bermutu termasuk asupan gizi, membuat orang-orang yang kaya lebih berpeluang dalam mendapatkan layanan tersebut dibandingkan penduduk yang miskin.
“Dampaknya, kualitas pendidikan dan kesehatan orang-orang yang lebih kaya relatif lebih baik. Hal ini kemudian berpengaruh pada daya saing mereka dalam kegiatan ekonomi seperti bekerja dan berusaha,” bebernya.
Ia menyebutkan, ketimpangan juga disebabkan oleh adanya pasar bebas dalam kegiatan ekonomi seperti dalam akses permodalan dan aset-aset produktif seperti tanah untuk kegiatan pertanian. Para pemodal lebih mudah mendapatkan modal untuk menguasai aset-aset produktif seperti perkebunan dan pertambangan dan sektor finansial. Sementara, orang-orang menengah bawah sangat sulit untuk mengakses hal tersebut.
“Sebagai contoh, modal usaha saat ini sebagian besar diperoleh melalui perbankan dimana suku bunga usaha mikro di samping harus ada agunan, suku bunganya hampir dua kali kredit korporasi,” Ishak mencontohkan.
Oleh karena itu, lanjutnya, di sinilah pentingnya sistem Khilafah Islamiyyah, suatu sistem yang menciptakan keadilan untuk seluruh rakyatnya. Sistem yang menjamin terpenuhinya kebutuhan primer rakyatnya namun pada saat yang sama memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kekayaan mereka sesuai dengan koridor syariat Islam.
sumber : media umat

ki bagoes hadikoesoemo

Oleh Ma’mun Murod Al-Barbasy *)
Tulisan ini sekadar mengingatkan akan sejarah politik bangsa Indonesia di seputar persidangan BPUPKI. Seperti diketahui, ketika kita dulu sekolah SMP atau SMA, ketika membahas sejarah Indonesia seputar sidang BPUPKI, selalu saja disuguhkan hanya tiga pidato tokoh nasionalis: Soekarno, Moh. Yamin, dan Soepomo.
Sementara seakan sepi tak ada satu pun wakil Islam yang berbicara. Padahal faktanya banyak tokoh Islam yang berbicara, salah satunya Ki Bagoes Hadikoesoemo yang saat itu menjabat Ketua PB Moehammadiyyah. Ki Bagoes menyampaikan pidatonya pada persidangan BPUPKI kedua, tanggal 31 Mei 1945.
Selama berpuluh-puluh tahun notulensi pidato Ki Bagoes Hadikoesoemo ini tidak pernah dimuat dalam dokumen resmi negara. Berikut beberapa petikan dari pidato Ki Bagoes Hadikoesoemo:
“Tuan-tuan dan sidang yang terhormat! Dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan putusan rapat, serta luas berlebar dada tidak memaksa tentang agama. Kalau benar demikian, dirikanlah pemerintahan itu atas agama Islam, karena ajaran Islam mengandung kesampaiannya sifat-sifat itu.”
Sambil mengutip Alquran surat An-Nahl: 90, An Nisa: 5, Ali Imron: 158, Asy-Syura: 38 dan Al-Baqarah: 256, Ki Bagoes Hadikoesoemo melanjutkan pidatonya:

“Dengan ayat-ayat yang singkat ini, cukuplah kiranya sudah untuk mengetahui bahwa agama Islam itu cakap dan cukup serta pantas dan patut tuk menjadi sendi pemerintahan kebangsaan di negara kita Indonesia ini. Tetapi di antara tuan-tuan ada juga orang-orang yang tidak setuju negara kita ini berdasarkan agama.”
Pada bagian akhir pidatonya, Ki Bagoes mengatakan:

“Oleh karena itu tuan-tuan, saya sebagai seorang bangsa Indonesia tulen, bapak dan ibu saya bangsa Indonesia, nenek moyang saya pun bangsa Indonesia juga yang asli dan murni belum ada campurannya; dan sebagai seorang Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan Merdeka, maka supaya negara Indonesia merdeka itu dapat berdiri tegak dan teguh, kuat dan kokoh, saya mengharapkan akan berdirinya negara Indonesia itu berdasarkan agama Islam.
Sebab, itulah yang sesuai dengan keadaan jiwa rakyat yang terbanyak, sebagaimana yang sudah saya terangkan tadi.
Janganlah hendaknya jiwa yang 90 persen dari rakyat itu diabaikan saja tidak dipedulikan. Saya khawatir apabila negara Indonesia tidak berdiri di atas agama Islam, kalau-kalau umat Islam yang terbanyak itu nanti bersifat pasif atau dingin tidak bersemangat: sebagaimana yang dikuwatirkan juga oleh tuan Kiai Sanusi tadi. Tetapi saya mengharapkan jangan sampai kejadian demikian.
Tuan-tuan, sudah banyak pembicara yang berkata, bahwa agama Islam itu memang tinggi dan suci. Sekarang bagaimana kalau orang yang tidak mau diikat oleh agama yang sudah diakui tinggi suci, apakah kiranya akan mau diikat oleh pikiran yang rendah dan tidak suci?
Kalau jiwa manusia tidak mau bertunduk kepada agama perintah Allah, apakah kiranya akan suka bertunduk kepada perintah pikiran yang timbul dari hawa nafsu yang buruk? Pikirkan dan camkanlah tuan-tuan.” 
Sumber: Saafroedin Bahar, Nannie Hudawati (Editor). Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) – Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945 – 22 Agustus 1945, Sekretariat Negara Republik Indonesia. Jakarta, 1998.[]*
*) Ma’mun Murod Al-Barbasy adalah Guru Ilmu Politik FISIP UMJ
Dikutip dari http://pwmu.co 

saudi terapkan pajak

Arab Saudi dan UEA menerapkan pajak “nilai tambah” dan tingginya harga bahan bakar di Kerajaan (CNN Arabic, 1/1/2018).
*** *** ***
Sebagaimana yang diketahui dalam sistem kapitalis, bahwa kenaikan harga dan penerapan pajak atas masyarakat merupakan tradisi sistem ini di berbagai negara yang menerapkannya, seperti keadaan—yang amat disayangkan—juga terjadi di bawah pemerintahan Salman dan anaknya, dimana mereka menerapkan kapitalisme dan membuka pintu-pintu proyeknya untuk mengendalikan leher rakyat dan negara. Mereka berdua ini bukan yang pertama, namun mereka yang paling berani di antara pendahulu mereka di antara keluarga Saud selama beberapa dekade terakhir.
Selama tiga tahun terakhir, sejak Salman berkuasa di Arab Saudi, maka efek mengerikan dari diterapkannya kapitalisme telah mulai menghantui masyarakat, penghidupan dan semua aspek kehidupannya. Dalam hal ini, negara telah menjadi kanker yang menghisap keringat dan darah masyarakat. Negara telah berubah dari negara yang mengayomi dan memakmurkan rakyat hingga rakyat diam, menjadi negara penghisap rakyat dan mengambil apa yang ada di kantong-kantong mereka. Terkait pajak dan pungutan pemerintah, sungguh beberapa pungutan bertambah hingga lebih dari sepuluh kali lipat, seperti pungutan visa kunjungan, serta pungutan visa haji dan umroh, termasuk pengenalan pajak baru, seperti pajak tanah putih (tanah tanpa bangunan), pajak pertambahan nilai (PPN) 5%, pungutan tempat tinggal, lahan dan pekerja asing. Pemerintah juga mulai menjalankan cara para kapitalis dengan menaikkan subsidi untuk turunan minyak dan energi, akibatnya harga bahan bakar naik hampir 200%, harga listrik naik lebih dari 350%, harga air naik hampir 100%, dan lebih banyak lagi. Dan pemerintah masih mengatakan bahwa kita berada di awal perjalanan, di mana keadaan ini akan terus berlanjut dengan kenaikan-kenaikan ini sampai tahun fiskal 2023, sesuai dengan rencananya, yang berarti bahwa kenaikan harga saat ini dan pajak hanyalah bagian pertama dari rencana tersebut, sehingga komplikasi selanjutnya akan seperti sebelumnya dan bahkan lebih dari sekedar penghisapan.
Dalam suasana yang rumit ini, dan dengan dimulainya tahun 2018, di mana dimulainya pembayaran pajak baru, para ulama salathin (corong penguasa) dan tukang khutbahnya sedang blusukan untuk mengetuk pikiran masyarakat dengan pidato mereka yang menggema, yang mengajak masyarakat untuk sabar dan menunggu, bahkan beberapa dari mereka menyalahkan masyarakat atas kenaikan ini karena dosa dan kesalahan mereka, agar masyarakat berkontribusi terhadap kejahatan pemerintah, lalu perhatian masyarakat tertuju pada pemerintah. Bahkan keadaannya sampai pada titik yang membuat mereka tidak lagi punya malu dengan membuat pernyataan untuk menyinari halaman pemerintah dan membanggakan prestasinya, membenarkan perkara haram yang dilakukan pemerintah, serta menghalalkan pajak dan pungutan yang diterapkan pemerintah, di mana Rasulullah saw bersabda dalam hal ini:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ»
Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pungutan (pajak).” (HR. Abu Daud).
Bahkan keberanian dan keangkuhan mereka hingga menilai dungu dan tolol orang-orang yang mengharamkan pajak. “Sebab pajak yang dibayarkan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan pemerintah adalah boleh … itu bukan pungutan (pajak), dan itu tidak haram.” Itu yang mereka kemukakan secara umum. Dalam hal ini, seolah-olah negara tidak memiliki pendapatan lain, bahkan seolah-olah rezim Al Saud tidak pernah menjarah kekayaan negara dan rakyat sejak masa orang tua dan kakek-neneknya!
Benar bahwa syariah Islam membolehkan pajak, namun itu diberlakukan dalam kondisi Baitul Mal kaum Muslim tidak memiliki dana sama sekali yang diperlukan untuk memenuhi biaya yang wajib dikeluarkan negara, seperti pembiayaan jihad dan pengeluaran untuk orang miskin, juga dalam kasus terjadi bencana, musibah dan lainnya, sehingga kewajiban ini berpindah kepada yang mampu di antara kaum Muslim, bahwa pajak diberlakukan kepada mereka setelah memenuhi kebutuhan primer mereka, yaitu sandang, pangan dan papan, serta kebutuhan sekunder dan tersier secara layak (yakni mereka orang-orang yang kaya). Sebab Rasulullah saw bersabda:
«خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى»
Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan dari selebihnya keperluan.” (HR. Bukhari).
Adapun realitas yang ada di kerajaan rezim Al Saud, bahwa itu semua adalah akumulasi kebijakan busuk, dari pembodohan, pencurian dan buruknya pendistribusian sampai pada era Salman, antek Amerika, di mana dia mulai menghadiahkan harta pada bapak angkatnya, Amerika, untuk mengokohkan takhtanya dan takhta anaknya setelah dirinya di kerajaan. Dengan demikian, harta itu sekarang berada di tangan musuh-musuh umat. Sehingga mereka sekarang menjadi para penjarah harta masyarakat untuk diberikan kepada tuan-tuan mereka, dan untuk memuaskan keinginan duniawi mereka yang murah. Lalu, dimana letak halalnya dalam hal ini, wahai para ulama?
Kenaikan harga dan tingginya biaya hidup adalah keniscayaan yang dihasilkan dari kebijakan kapitalisme, hal ini sama seperti yang dijalankan Salman dan anaknya di negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain). Begitu juga penipuan yang dilakukan oleh Salman dan anaknya dalam kebijakan subsidi harga tinggi dan “pengurangan beban rakyat” adalah bagian skandal dari sistem kapitalisme. Sehingga ini bukan rahasia lagi rakyat di negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain), bahkan mereka sadar akan semua kebijakan ini, dan mereka telah bisa membedakan antara yang jahat dan yang baik.
Sarana komunikasi elektronik dan komunikasi langsung dengan masyarakat di negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain) menunjukkan pada suatu keadaan yang sedikitpun tidak memberikan ruang untuk ragu bahwa semua orang di negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain) ini tidak ridha dengan semua kebijakan bodoh tersebut, dan setiap orang telah menderita akibat kerusakan besar, bahkan banyak orang di negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain) yang secara terbuka mengumumkan hal ini, di mana mereka meminta pertanggung jawaban dengan mengingkari setiap keputusan tentang nasib miliaran yang dikendalikan oleh rezim Al Saud, bahkan mereka melampaui semua garis merah yang dikhawatirkan Salman dan anaknya. Mereka menyebut beberapa hal dengan nama yang jelas, tidak lagi dengan isyarat, dan sedikit demi sedikit menunjukkan kompas untuk menemukan solusi yang tepat, meski terliahat masih jauh. Dengan demikian, seolah-olah mereka sedang membebaskan diri dari belenggu penguasa mereka yang zalim untuk mencari alternatif yang adil.
Semua kebijakan bodoh ini hanya akan meningkatkan kebencian masyarakat terhadap penguasanya. Semuanya seperti bara yang terpendam di bawah abu, di mana panasnya mulai ditiup di sana-sini dan telah menjadi seperti api yang akan mendidihkan panci rezim Al Saud, serta semua penguasa zalim di berbagai negeri kaum Muslim, dan bahkan di berbagai negara di dunia yang sedang ditimpa bencana akibat sistem kapitalisme yang busuk. Apakah mereka para penguasa mau belajar dari semua ini?
Sementara satu-satunya solusi yang benar untuk semua masalah ekonomi dan politik ini, tidak ada cara lain kecuali kembali kepada sistem Islam, sebab sistem Islam ini adalah cara yang berasal dari Allah SWT, di bawah naungan negara Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah, yang akan menyelesaikan semua masalah manusia dan memastikan kesuksesan dan keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Akan tetapi solusi ini tidak akan terjadi kecuali setelah menyingkirkan para penguasa ini dari kursi mereka, lalu mengangkat Khalifah yang bertakwa yang akan memimpin semua kaum Muslim dan menegakkan Islam di tengah-tengah mereka. [Majid al-Shaleh—negeri Dua Masjid Suci (bilād al-haramain al-syarifain)—Muhammad Bajuri]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 19/01/2018.




Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedekatan Abu Hurairah dengan Rasulullah di antaranya karena beliau bermulazamah hingga menjadi periwayat hadits terbanyak. 

Begitu dekatnya hubungan dengan Rasulullah, Abu Hurairah dalam hadits menyebut Rasulullah dengan “kekasih.”

Rasulullah pernah berwasiat kepada Abu Hurairah untuk senantiasa mengamalkan tiga amal yaumiyah. Tiga wasiat ini selalu dipegang oleh Abu Hurairah dan tidak pernah ia tinggalkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:


أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ


“Kekasihku (Rasulullah) mewasiatkan tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga mati yakni berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari)


وْصَانِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ


“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari dan Muslim)


Puasa Ayyamul Bidh



Wasiat pertama adalah puasa tiga hari setiap bulan. Puasa ini tidak lain adalah puasa ayyamul bidh. Yakni puasa pada tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan hijriyah. Disebut ayyamul bidh karena pada tanggal-tanggal itu bulan bersinar dengan terang/putihnya.

Salah satu keutamaan puasa ayyamul bidh, siapa yang rutin mengerjakannya, ia seperti puasa sepanjang tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ


“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari)


Sholat Dhuha



Wasiat kedua adalah sholat dhuha dua rakaat. Meskipun hanya dua rakaat, sholat dhuha setara dengan 360 sedekah yang merupakan hak sedekah bagi setiap sendi manusia. Dengan menunaikan sholat dhuha dua rakaat, kita telah memenuhi hak sedekah sendi-sendi tersebut.


فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ


“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)


Sholat Witir



Wasiat ketiga adalah sholat witir sebelum tidur. Sholat witir merupakan sholat dengan bilangan rakaat ganjil dan termasuk bagian dari sholat malam. Waktunya terbentang sejak setelah isya’ hingga terbit fajar.

Sholat witir juga memiliki banyak keutamaan di antaranya dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dua hadits di atas juga menjadi dalil bahwa sholat witir boleh dikerjakan sebelum tidur. Dan bagi orang-orang yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, mengerjakan witir sebelum tidur merupakan salah satu sunnah. Sedangkan yang bisa bangun di akhir malam, mengerjakan witir di akhir malam lebih utama.


مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ


"Barangsiapa yang khawatir tidak akan sanggup bangun pada akhir malam, hendaknya ia berwitir pada permulaan malam. Dan barangsiapa yang merasa sanggup bangun pada akhir malam, hendaknya ia berwitir pada akhir malam itu. Sebab mengerjakan sholat pada akhir malam itu disaksikan malaikat yang demikian itu lebih utama." (HR. Muslim)

Semoga, kita juga bisa mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Abu Hurairah.



Dakwah Jateng- Purworejo, Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI) melakukan Roadshow edukasi hukum ke Jawa Tengah. Salab satunya pada Ahad, 28 Januari 2018 mengadakan Focus Group Discussion (FGD) di Purworejo.

Sekitar 30 Sarjana Hukum se-eks karesidenan Kedu berkumpul di Meeting room Hotel Plaza. Mengangkat tema "Rechstaat atau Machtstaat? Quo Vadis Masa Depan Advokat Muslim?" diskusi berlangsung hangat.

Hadir pada kesempata tersebut, Chandra Purna Irawan, S.H., M.H., Ketua Eksekutif Nasional KSHUMI. Beliau memaparkan pentingnya Sarjana Hukum untuk mengawal hukum di Indonesia. "Negara kita sudah mulai bergeser dari Negara Hukum (Rechtstaat) menuju Machtstaat (Negara Kekuasaan)." Ungkap Chandra.

Beliau beralasan, hal ini berdasarkan beberapa bukti diantaranya atas dikeluarkannya PERPPU No. 2 Tahun 2017 yang kini disahkan me jadi Undang-Undang. Selain itu juga adanya kriminalisasi simbol Islam seperti bendera liwa' dan rayyah. Juga penangkapan aktivis Islam.

Selain itu Cahyono, S.H., pengacara senior di Purworejo mengaminkan hal tersebut. Beliau juga bercerita tentang pengalamannya bahwa hukum sekarang tergantung pada uang. "Ilmu lawyer itu sama, yang membedakan adalah tebal dan tipisnya uang." Ujar beliau.

Acara tersebut juga diapresiasi oleh para peserta yang menginginkan acara serupa lebih sering diadakan.

Sebelum diakhiri, acara tersebut diakhiri dengan tausiyah dan doa dari K.H. Muhamad Ainur Rafiq, pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid 2 Grabag, Purworejo. Tausiyah beliau semakin menguatkan kepada para Sarjana Hukum untuk bertekad berjuang untuk Islam.

Kalimat ini sangat pendek. Jika diucapkan hanya 2 sampai 3 detik. Namun, kalimat ini merupakan kalimat yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pahalanya luar bisa.
Adalah Abu Dzar Al Ghifari yang pertama kali mendapat penjelasan keutamaan kalimat tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas Abu Dzar pun menyampaikan dzikir agung itu kepada sahabat lainnya dan hari ini sampai kepada kita.
“Maukah aku kabarkan kepadamu kalimat yang paling dicintai Alah?”
Mendengar sabda Nabi itu, Abu Dzar langsung menyahut. “Tentu ya Rasulullah. Sampaikanlah kepadaku kalimat yang paling dicintai Allah.”
Rasulullah pun menyampaikan kalimat itu:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Mahasuci Allah dengan memujiNya
Secara lengkap, berikut ini haditsnya:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ. فَقَالَ « إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Maukah aku kabarkan kepadamu kalimat yang paling dicintai Alah?” Aku menjawab, “Tentu ya Rasulullah. Sampaikanlah kepadaku kalimat yang paling dicintai Allah.” Lalu berliau bersabda: “Sesungguhnya kalimat yang paling dicintai Allah adalah Subhanallahi wabihamdih (Mahasuci Allah dengan memujiNya)” (HR. Muslim)




LGBT MERUSAK TATANAN KELUARGA

Oleh : Hasnah - Pemerhati masalah keluarga dan anak

Seorang perempuan kulit hitam mendapati guncangan dari dalam rumahnya. Dipikirnya, anak-anaknya yang tengah bermain di lantai dualah yang menciptakan goncangan tersebut hingga terasa sampai pada tempatnya di dapur. Namun ternyata guncangan tersebut bukan disebabkan anak-anaknya.

Pasangannya , wanita  berkulit putih, dan anak mereka berhamburan keluar menghampirinya, dan mengatakan bahwa guncangan tersebut disebabkan sesuatu diluar. Mereka pun berupaya untuk menyelamatkan diri dan pasangan sesama jenis ini memberi  instruksi pada anaknya supaya anaknya tidak cedera tertimpa barang-barang di dalam rumah. Baru sesaat kemudian, mereka mengetahui guncangan tersebut datang dari robot dinosaurus raksasa yang tengah melintas. Kisah ini merupakan cuplikan singkat salah satu episode Doc Mcstuffins, animasi yang ditayangkan disaluran Disney Junior. Dan Doc Mcstuffins bukanlah satu-satunya tayangan untuk anak yang menampilkan LGBT, ada Cartoon Network yang menampilkan karakter gay  dan juga Nickelodeon yang mengankat isu gay dalam tayangan program Loud House. 

Isu LGBT yang hari ini banyak dibicarakan terkhusus di Indonesia setelah gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi mendapatkan penolakan yaitu  meminta agar MK meluaskan makna asusila dalam KUHP yaitu pasal 284, 285, dan 292. Dengan harapan aktivitas kumpul kebo dan homoseksual bisa masuk delik pidana dan penjara. Setelah penolakan itu kini kaum LGBT justru semakin menampakkan identitas mereka, serta dukungan juga semakin banyak yang ditujukan ke mereka mulai  kalangan pejabat, aktivis HAM, public figure, dan masyarakat tentunya. Mereka benar-benar ingin membumikan LGBT, atas nama kebebasan dan hak asasi manusia yang dijamin kebebasanya, dan demokrasi memberi ruang seluas-luasnya untuk tumbuh kembang  LGBT. Belum lagi dengan banyaknya bukti kucuran dana asing untuk  aktivitas ini.

Sebagaimana cuplikan episode kartun anak yang telah dipaparkan sebelumnya, kaum LGBT tidak hanya diterima di kalangan dewasa namun juga mencari ruang penerimaan di kalangan anak-anak dengan mencekoki anak-anak akan pemahaman yang rusak ini, dengan adanya kartun-kartun tersebut mereka ingin memberikan pemahaman sekaligus gambaran bahwa sebuah keluarga bisa terbentuk dengan pasangan sesama jenis. Karena pada dasarnya bagi seorang anak, kelengkapan keluarga adalah apabila adanya kedua orangtua yaitu ayah dan ibu. Namun hari ini tidak menjadi masalah bagi anak apabila hanya ada ayah-ayah dan ibu-ibu. Dan anak-anak menganggap itu adalah suatu yang normal dan wajar. Kepolosan anak-anak kini dikotori dengan pemahaman yang rusak ini dan dipaksa untuk menerimanya.

Padahal sudah sangat jelas sekali kerusakan dari ide ini. Dimana ide ini adalah upaya barat untuk memerangi kaum muslimin dan menghentikan kebangkitan Islam. Hari ini LGBT sangat aktif dikampanyekan di negeri-negeri muslim. Sebagai kaum muslimin kita meyakini bahwa Allah SWT menciptakan dalam diri kita ketertarikan pada lawan jenis  dengan tujuan untuk melestarikan keturunan manusia dan LGBT telah menyimpang dari diciptakannya naluri ini. Karena sudah jelas tidak akan pernah akan lahir keturunan dari pasangan sesama jenis. Maka ancaman lost generation-lah yang akan kita hadapi jika LGBT dibiarkan. 

Kalaupun mereka, dalam hal ini kalangan LGBT dan pendukungnya, mensolusikan masalah lost generation dengan sewa rahim, ini adalah ide yang merusak dan menghancurkan martabat wanita. Karena jelas saja mereka akan menyasar Negeri-Negeri muslim untuk mencari ibu sewaan karena di Negeri inilah jumlah penduduk yang besar yang didominasi kalangan perempuan dengan ekonomi yang rendah.  Tekanan ekonomi kapitalis akan memaksa  mereka untuk menjual harga diri apalagi dengan iming-iming yang besar. Akhirnya muncullah keluarga PALSU, orang tua PALSU, dan kita bayangkan apa jadinya anak-anak yang tumbuh di keluarga seperti ini.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengakui  fitrah dan menjaga nasab manusia. Ide-ide yang rusak ini hanya akan bisa kita hapus dengan penerapan Islam, jadi tidak cukup hanya dengan slogan “memeluk anak erat-erat” tapi kita butuh penjaga, yang menjaga kita dan membentengi kita dari kerusakan, yaitu KHILAFAH, Ya KHILAFAH yang Mulia.

Nah bagaimana Khilafah menjaga keluarga dari serangan LGBT? LGBT dalam Islam termasuk penyimpangan, dosa besar dan tindakan kriminal (Al-Jarimah), Lesbianisme dalam kitab-kitab fikih disebut dengan istilah as-sihâq atau al-musâhaqah. Definisinya adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama wanita. Tak ada khilafiyah di kalangan fuqaha’ bahwa lesbianisme hukumnya haram. Keharamannya antara lain berdasarkan sabda Rasulullah saw:

:السِّحَاق  بَيْنَ النِّسَاءِ زِنًا بَيْنَهُنَّ.    

“Lesbianisme (as-sihâq) di antara wanita adalah [bagaikan] zina di antara mereka (HR ath-Thabrani).”

Adapun homoseksual dikenal dengan istilah liwâth. Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa telah sepakat (ijma') seluruh ulama mengenai keharaman homoseksual (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, XII/348). Nabi saw. telah bersabda:

"Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah telah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth". (HR Ahmad).

"Rasulullah saw. melarang laki-laki dan perempuan menyerupai lawan jenisnya.Nabi saw. melaknat laki-laki yang berlagak meniru wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki". (HR al-Bukhari). 
Solusi Preventif Menghadapi LGBT

Pertama, mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat.

Kedua, Islam memerintahkan untuk menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan

Ketiga, Islam mengharuskan pemisahan tempat tidur anak-anak. Rasulullah saw. bersabda, "Suruhlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka pada usia 10 tahun jika tak mau shalat, dan pisahkan mereka di tempat tidur ". (HR Abu Dawud).

Keempat, Islam melarang tidur dalam satu selimut. Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki. Jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut. Jangan pula perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut". (HR Muslim).

Kelima, secara sistemis,  khilafah akan menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Begitu pula segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku homoseksual dan lesbianisme atau mendekati ke arah itu.

Solusi Kuratif

Bagi para pemula, yang belum sampai melakukan hubungan seksual, maka menyembuhkannya bisa dilakukan dengan cara mengubah pola pikir dan pola sikap mereka terhadap homoseksual maupun lesbianisme. Para pelaku dijauhkan dari lingkungan sebelumnya yang membuat mereka terjerat perilaku ini. Mereka harus dijauhkan dari pasangan mereka. Alihkan naluri atau gharîzah naw’ mereka ke naluri yang lainnya semisal gharîzah tadayyun (naluri beragama), yaitu dengan menyibukkan mereka dengan zikir dan beribadah kepada Allah SWT. Bisa juga dengan menyibukkan mereka dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat atau bisa juga dengan mengajak mereka berpuasa. 

Pahamkan kepada mereka bahwa itu adalah dosa besar yang akan menjerumuskan mereka pada kehinaan, dunia maupun akhirat. Ajak mereka untuk bertobat atas seluruh dosa yang sudah dilakukan dan bertekad untuk berubah.

Adapun bagi pelaku yang sudah melakukan hubungan seksual, Islam menerapkan hukuman (persanksian) yang sangat tegas. Bagi pelaku sodomi, baik subyek maupun obyeknya dikenakan sanksi berupa hukuman mati.

"Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi)". (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Wallahua'lambishawab.
loading...
Powered by Blogger.