KH. Hisyam Hidayat : Majelis Kyai Ponpes Al Ihsan, Baron, Nganjuk, Jatim
Dalam kitab, al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:
» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465]
“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).
Imam Ibnu Rojab Al-hambali dalam Jaamiul uluum wal hikam menyatakan riwayat tentang makna “ruwaibidhoh” dikeluarkan Imam Thabarony dan Imam Ahmad:
قالوا : وما الرويبضَةُ ؟ قال : (( السَّفيه ينطق في أمرِ العامَّة )) . وفي رواية : (( الفاسقُ يتكلَّمُ في أمر العامة ))
Mereka bertanya: Apakah ruwaibidhoh? Beliau bersabda: “Orang bodoh yang berbicara dalam urusan masyarakat”.
Sedangkan dalam riwayat lain: “orang ahli maksiyat yang berbicara dalam urusan masyarakat”.
*Pemimpin Ruwaibidhoh adalah Pemimpin bodoh dan ahli maksiyat yang diamanahi urusan masyarakat*
Saat ini, banyak kita temui orang bodoh yang diserahi urusan masyarakat atau orang yang memiliki ilmu diserahi urusan masyarakat tapi pernyataan dan sikapnya bertentangan dengan syariat. Hakekat keduanya sama saja, masuk golongan yang tidak berakal.
*Maka ulama menyebut orang yang dhohirnya intelek dan berdedikasi namun pernyataan dan sikapnya bertentangan bahkan menentang syariat maka mereka hakekatnya adalah golongan yang tidak berakal*.
Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al ihkam fii Ushuul Al-ahkam menyatakan:
تَرَى الرجلَ داهِيا لبِيبا فاطِنا و لا عقْلَ لهُ فالعاقِل مَنْ اطاع اللهَ عز و جل
Engkau akan melihat seorang laki-laki cerdik pandai lagi cerdas akan tetapi sebenarnya mereka tidak berakal karena hakekat orang berakal adalah mereka yang taat kepada Allah.
Orang ‘alim tunduk kepada kebijakan orang bodoh maka menjadi manusia terhina, terhina karena tidak menggunakan akalnya dengan benar dan derajatnya menjadi golongan yang tidak berakal karena tunduk kepada orang yang bodoh.
Imam Al-Mawardi mengutip ungkapan ahli hikmah:
قيل لبعض الحكماء : من أذل الناس ؟ فقال : عالم يجري عليه حكم جاهل
“Siapakah orang yang paling hina? Dijawab, “Orang alim (ulama) yang tunduk dengan keputusan orang bodoh.”
(Lihat, Al-Mawardi,Adab ad-Dunya wa ad-Din,hal. 48).

Abu ‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:
الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
“Orang yang berkata batil adalah Syaitan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari mengatakan kebenaran adalah Syaitan yang bisu.”
( Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ wad-Dawâ, Tahqîq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.)
*BILA ORANG ALIM TUNDUK KEPADA RUWAIBIDHOH TIDAK TAUBAT HINGGA WAFAT MAKA MENGALAMI KEHINAAN DI AKHERAT*
Allah Swt berfirman:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.””
(QS. Al-Ahzab: Ayat 66)

وَقَالُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا
“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzab: Ayat 67)

رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا
“Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.””
(QS. Al-Ahzab: Ayat 68)

• ولما علموا أ
نهم هم وكبراءهم مستحقون للعقاب، أرادوا أن يشتفوا ممن أضلوهم، فقالوا: { رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا } فيقول اللّه لكل ضعف، فكلكم اشتركتم في الكفر والمعاصي، فتشتركون في العقاب، وإن تفاوت عذاب بعضكم على بعض بحسب تفاوت الجرم.
“Ketika mereka mengetahui bahwa mereka dan pemimpin mereka memperoleh siksaan, maka mereka menginginkan agar mereka ditambah siksaannya karena pemimpin mereka telah menyesatkan mereka, maka mereka berdoa, “Ya Tuhan kami timpakan kepada mereka siksaan yang belipatganda dan laknatlah mereka dengan keras”.
Maka Allah berfirman: “Masing-masing dilipatgandakan, sekalipun siksaan sebagian satu dengan yang lain sesuai dengan perbedanan tingkat kejahatannya” (tafsir As-sa’dy)
*Bagaimana Sikap Ulama Akherat dengan pemimpin Ruwaibidhoh:*
1. Menampakkan kebenaran.
Imam Ahmad ibn Hanbal di dalam Bayna Mehnah al-Din wa Mehnah al-Dunya:

إذا سكت العالم تقيةً، والجاهل يجهل، فمتى يظهر الحق
“Kalau diam orang alim kerana taqiyah (cari aman), dan orang jahil terus dalam ketidak tahuan, maka bilakah kebenaran itu akan nampak?”
2. Memerintahkan pemimpin kembali kepada syariah dalam mengatur urusan masyarakat.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011, Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Sabda Nabi SAW:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
”Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthallib dan seseorang yang berdiri di hadapan seorang imam yang zalim lalu orang itu memerintahkan yang ma’ruf kepadanya dan melarangnya dari yang munkar, lalu imam itu membunuhnya.” (HR Tirmidzi dan Al-Hakim)

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.