(Tanggapan Atas Semakin Menghangatnya Perdebatan Tentang Ide Khilafah)
Oleh : Achmad Fathoni (Direktur el-Harokah Research Center)
Perdebatan tentang ide khilafah kian hari kian menghangat, baik melalui media sosial maupun melalui diskusi-diskusi darat dalam forum seminar, diskusi publik, mudzakarah ulama’, maupun forum-forum yang sejenis, tidak ketinggalan di media televisi pun perdebatan “khilafah” semakin menghangatkan suasana perpolitikan di negeri ini. Sebagai sebuah gagasan, maka tidak ada larangan dari pihak manapun untuk mendiskusikannya dari level masyarakat manapun. Apalagi gagasan atau ide khilafah itu bukan sekedar gagasan atau ide khayalan yang kosong dari realitas sejarah. Namun gagasan atau ide khilafah itu sangat terkonfirmasi dalam realitas sejarah panjang dalam percaturan politik dunia sejak abad ke-6 hingga abad ke-19 masehi. Bahkan dalam sejarahnya eksistensi khilafah bisa menandingi dan mengalahkan negara adidaya di jamannya yaitu imperium Romawi dan Persia, meski kedua imperium tersebut telah berjaya selama ribuan tahun sebelumnya.
Terlepas adanya pro dan kontra, secara historis eksistensi khilafah sangat erat dan kental mempengaruhi sejarah terbentuknya negeri ini. Indonesia, yang dulu dikenal dengan istilah Nusantara, merupakan negeri Muslim terbesar di dunia Islam. Jauh sebelum merdeka dari penjajahan fisik (militer) dan menjadi sebuah Negara Indonesia, di wilayah Nusantara telah berdiri pusat-pusat kekuasaan Islam yang berbentuk kesultanan. Mulai dari kesultanan Aceh yang terletak di ujung barat, hingga kesultanan Ternate di ujung timur. Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa kesultanan-kesultanan Islam tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sangat erat dengan kekhilafahan Islam, khususnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
Hal itu bisa dibuktikan dengan ditemukannya sebuah arsip Khilafah Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Alaudin Riayat Syah kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni yang dibawa oleh Husein Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitasa militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu, bantuan Khilafah Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) (Sumber: Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca”, hal. 215). Sultan Sulaiman al-Qonuni wafat tahun 974 H / 1566 M, akan tetapi petisi Aceh mendapat dukungan Sultan Salim II (974-982 H / 1566-1574 M), yang mengeluarkan perintah kesultanan untuk melakukan ekspedisi besar militer ke Aceh.
Sekitar September 975 H / 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah ahli senapan api, tentara, dan artileri. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan Sultan. Namun dalam perjalanan, armada besar ini hanya sebagian yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H / 1571. Menurut catatan sejarah, pasukan Khilafah Turki Utsmani yang tiba di Aceh pada tahun 1566 – 1577 M sebanyak 500 orang tentara, termasuk ahli-ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M (Sumber: Marwati Djuned Pusponegoro, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Jakarta: Balai Pustaka, 1984 hal. 54).
Khilafah Turki Utsmani bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum muslimin di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (Konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Kepada kaum muslimin yang ada di Batavia para konsul Turki berjanji akan memperjuangkan hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropa. Selain itu, Turki juga akan mengusahakan agar seluruh kaum Muslimin di Hindia Belanda terbebas dari penindasan Belanda (Sumber: Snouck Hurgronje, 1994, Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda; 1889-1936, Jakarta: INIS, hal. 1631).
Akibat adanya penjajahan negara-negara Eropa ke negeri-negeri Kaum Muslimin, termasuk wilayah Nusantara yang sedang dijajah oleh Portugis dan Belanda. Maka Khalifah Sultan Abdul hamid II berupaya keras untuk mengokohkan persatuan Islam, dengan menyatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslim di belahan bumi yang lain. Kita wajib mendekat dan merapat dalam intensitas yang sangat kuat. Sebab, tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini”. Inilah gagasan yang kelak dikenal sebagai Pan-Islamisme. Upaya penguatan kesatuan Islam pun sampai ke Indonesia (Hindia Belanda) (Sumber: Mudzirat as-Sulthan Abdul Hamid ats-Tsani, Pengantar oleh Dr. Muhammad Harb, Dar al-Qalam, 1412 H / 1991 M, hal. 23).
Pada tahun 1903 diselenggarakan Konggres Khilafah di Jakarta, yang salah satu pembicaranya adalah salah seorang utusan Khalifah dari Turki yang bernama Muhammad Amin Bey. Kongges menetapkan fatwa haram hukumnya bagi Muslim tunduk terhadap penguas Belanda. Untuk merespon terhadap gerakan penyatuan Islam oleh Khilafah Utsmaniyah ini pasca Konggres Khilafah tersebut, akhirnya di terbentuklah beberapa organisasi pergerakan Islam yang mendukung gerakan tersebut. Yang tujuan utamanya adalah melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Nusantara. Di antara organisasi tersebut adalah Jam’iyat Khair yang didirikan pada 17 Juli 1905.
Organisasi pergerakan Islam lain yang muncul sebagai respon positif terhadap penyatuan ini adalah Sarikat Islam. Peristiwa dikibarkannya bendera Turki Utsmani pada Konggres Nasional Sarikat Islam di Bandung pada tahun 1916, sebagai simbol solidaritas sesama Muslim dan penentangan terhadap penjajahan bangsa Eropa atas negeri kaum Muslimin. Pada waktu itu, salah satu usaha yang dilakukan Khilafah Utsmaniyah adalah menyerukan seruan jihad dengan mengatasnamakan khilafah kepada segenap umat Islam, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai Jawa. Di antara seruan tersebut adalah: “wahai saudara seiman, perhatikanlah berapa negara lain menjajah dunia Islam. India yang luas dan berpenduduk seratus juta Muslim dijajah oleh sekelompok kecil musuh dari orang-orang kafir Inggris. 40 juta Muslim Jawa dijajah oleh Belanda. Maroko, Al-Jazair, Tunisia, Mesir, dan Sudan menderita dibawah cengkeraman musuh Tuhan dan Rasul-Nya. Juga Kuzestan berada di bawah tekanan penjajah musuh iman. Persia yang dipecah-belah. Bahkan tahta khilafah pun, oleh musuh-musuh Tuhan selalu ditentang dengan segala macam cara” (Sumber: H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, tahun 1991, LPIS Jakarta, hal. 81-82, dan 219).
Lebih dari itu, Khilafah Utsmani bahkan pernah berjasa dalam membantu rakyat nusantara saat terjadi bencana banjir di Batavia, ketika masa penjajahan Belanda. Tepatnya pada tahun 1916, Sultan Muhammad V mengirim bantuan 25.000 Kurush koin emas, yang senilai dengan 91.500 US Dollar atau sekitar Rp. 1.189.500.000 (atau sekitar 1,2 triliun). Tentu saja pemberian bantuan itu didorong oleh semangat membantu meringankan saudara sesama Muslim yang mengalami musibah. Arsip pengiriman bantuan milik Khilafah Utsmani ini masih tersimpan rapi samapi sekarang di Turki. Inilah bukti bahwa rakyat Nusantara atau Indonesia sangat berhutang jasa dan kebaikan dari Khilafah Islamiyah yang waktu itu direpresentasikan oleh Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
Realitas sejarah tersebut memberikan gambaran kontribusi besar khilafah Utsmaniyah dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada kaum Muslimin Indonesia serta memandangnya sebagai satu kesatuan tubuh, bahkan menyerukan untuk membebaskan diri dari penjajah Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Selain itu keberadaan Khilafah tersebutlah yang senantiasa mengobarkan semangat perjuangan dan jihad fi sabilillah dalam mengusir penjajah yang ada di seluruh negeri kaum Muslimin, termasuk Indonesia.
Dengan demikian, masihkah ada pihak yang mencari-cari alasan untuk melakukan black campain (kampanye hitam) terhadap khilafah? Jika memang masih ada, pihak-pihak yang anti dan menolak ide khilafah, bahkan menuduh khilafah membahayakan negeri ini, maka sesungguhnya tuduhan tersebut adalah ahistoris, sangat tendensius, dan tanpa dasar. Semoga mereka segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. Wallahu a’lam.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.