ghouta timur diserang
Oleh Adnan Khan
Pada tanggal 18 Februari, rezim al-Assad, dengan dukungan Rusia, mulai memukul wilayah Ghouta Timur, sebuah wilayah di pinggiran Damaskus, dengan artileri, serangan udara dan bom barel. Ratusan orang telah terbunuh. Rezim sekarang bersiap untuk melakukan serangan darat sebagaimana yang dikatakan oleh Brigadir Jenderal Suheil al-Hassan, pemimpin Tiger Force pemerintah, dalam sebuah video: “Saya berjanji, saya akan memberikan mereka sebuah pelajaran, dalam pertempuran dan dalam tembak-menembak. Anda tidak akan menemukan seorang penyelamat. Dan jika Anda melakukannya, Anda akan diselamatkan dengan air seperti minyak mendidih. Anda akan diselamatkan dengan darah. “[1] Seorang dokter di Ghouta Timur menggambarkan situasi di Ghouta Timur:” Kami berdiri di hadapan pembantaian di abad ke-21. Jika pembantaian tahun 1990an adalah Srebrenica, dan pembantaian tahun 1980an adalah di Halabja dan Sabra dan Shatila, maka Ghouta timur adalah pembantai abad ini yang terjadi sekarang. “[2]
Ghouta Timur adalah sebuah distrik pertanian yang padat penduduk di pinggiran Damaskus dengan 22 kantung pemukiman. Ghouta sendiri hanya berjarak setengah jam berkendara ke luar ibukota Damaskus. Itu adalah tempat bagi lebih dari 400.000 orang sebelum pemberontakan pecah.
Ghouta adalah salah satu wilayah pertama di Damaskus dimana demonstrasi luas terjadi melawan rezim al-Assad pada tahun 2011, dan kemudian menjadi basis bagi pejuang bersenjata saat pemberontakan tersebut berubah menjadi perang berskala penuh. Rezim kemudian mengirimkan pasukannya, namun wilayah pinggiran kota itu memberikan bantuannya untuk melawan serangan gencar tersebut. Untuk sementara, wilayah itu tampaknya bisa menjadi batu loncatan bagi pemberontak yang menangkap ibukota Suriah. Wilayah itu merupakan sekelompok wilayah pinggiran kota di ujung timur Damaskus. Apalagi pada saat pasukan al-Assad diusir pada November 2012 lalu pada bulan Februari 2013, pasukan pejuang merebut sebagian jalan lingkar di tepi Damaskus dan memasuki distrik Jobar di kota tersebut.
Rezim tersebut membalasnya dengan serangan kimia pertamanya pada konflik tersebut. Pada tanggal 21 Agustus 2013, pasukan pemerintah membombardir Ghouta Timur dengan gas Sarin, yang menewaskan lebih dari 1.500 pria, wanita dan anak-anak. Sedikitnya 8, dan mungkin 12 roket diluncurkan ke wilayah seluas 1500 meter di Zamalka dan suatu lingkungan dekat Ein Tarma. Daerah itu berada dalam rute pasokan senjata pejuang dari Yordania dan telah mendapat serangan dari militer Suriah dan Hizbullah selama berbulan-bulan.
Setelah itu pasukan al-Assad, yang didukung oleh Iran dan Hizbullah, mulai mengepung Ghouta Timur, dan mengubahnya menjadi wilayah kantong. Pada hari ini, setelah lima tahun, ini adalah salah satu wilayah pengepungan di zaman modern yang terlama dalam sejarah. Lebih lama daripada pengepungan terhadap Sarajevo. [3] Sekitar 400.000 orang terjebak di wilayah seluas lebih dari 100 kilometer persegi. Sepanjang pengepungan tersebut, masyarakat Ghouta Timur telah menjadi korban serangan udara dan artileri konvensional. Namun tahun-tahun pertempuran telah gagal mengusir faksi-faksi pemberontak yang mengendalikannya. Ghouta Timur telah mampu bertahan lama karena wilayah itu luas, dipertahankan dengan kuat dan bisa bertahan dengan menumbuhkan makanannya sendiri. Tapi tahun lalu pemerintah memperketat pengepungannya.
“Kami berdiri dihadapan pembantaian abad ke-21. Jika pembantaian tahun 1990an adalah di Srebrenica, dan pembantaian tahun 1980an adalah di Halabja dan Sabra dan Shatila, maka Ghouta timur adalah pembantai abad ini, yang terjadi sekarang. ”
Meskipun ada beberapa pengumuman tentang kesepakatan gencatan senjata dan de-eskalasi sejak Desember 2016, rezim al-Assad terus melakukan serangan darat dan udara terhadap target-target militer dan sipil di Ghouta Timur. Kontrol militer Ghouta Timur terutama terbagi antara dua kelompok pejuang, Saudi dan Qatar yang mendukung Jaish al-Islam dan Failaq al-Rahman. Keduanya akhirnya bergabung dengan kesepakatan de-eskalasi antara Rusia dan Turki pada bulan Agustus 2017. Sebagai bagian dari kesepakatan de-eskalasi Ghouta Timur, Rusia mendirikan dua pos pemeriksaan dan empat pos pengamatan. Namun, dengan berkedok hal itu, pemboman oleh tentara al-Assad terhadap warga sipil terus berlanjut.
Pada bulan Januari 2018, wilayah tersebut hanya memiliki satu dokter per 3.600 orang. Pada bulan Desember 2017, analisis citra satelit oleh pakar PBB menyimpulkan bahwa 3.853 bangunan telah hancur, 5.114 rusak parah dan 3.547 rusak ringan di bagian barat wilayah kantong itu. Di daerah pinggiran Jobar 93% hancur, di Ein Tarma 73% dan di Zamalka 59%. [4]
Apa yang kita saksikan di Ghouta adalah akibat strategis dari usaha untuk mempertahankan keberlangsungan rezim di Damaskus. Ketika kelompok-kelompok pejuang masih kuat pada masa awal pemberontakan dan rezim al-Assad berjuang untuk mengatasi pemberontakan di sepanjang wilayah itu dan negara-negara regional dan internasional ikut campur tangan dengan mengirimkan senjata dan uang yang bukan membantu pejuang, suatu hal yang benar-benar melemahkan mereka. Hal ini memungkinkan rezim untuk menangani satu wilayah pada satu waktu dan pada hari ini kita melihat rezim tersebut benar-benar menghapus wilayah kantong pejuang yang tersisa di sekitar Damaskus. Agenda AS selalu untuk menjaga berkuasanya rezim, dan kekuatan di sekitarnya. Rusia berkontribusi atas hal ini, terlepas dari perbedaan taktis di antara mereka. Pertempuran di Hama, Homs, Dera dan Aleppo telah dimenangkan oleh rezim setelah melakukan pengepungan yang lama dan membantai penduduknya. Meskipun terdapat liputan media global, semua kekuatan regional dan internasional memberi lampu merah dengan hanya menonton pembantaian dari pinggir lapangan. Ini adalah hasil strategis yang sama yang terjadi di Ghouta.
[1] https://www.youtube.com/watch?v=LKRvkSqCM1c&feature=youtu.be
[2] https://www.theguardian.com/world/2018/feb/20/its-not-a-war-its-a-massacre-scores-killed-in-syrian-enclave-eastern-ghouta
[3] https://www.theguardian.com/world/2018/feb/20/eastern-ghouta-is-another-srebrenica-we-are-looking-away-again
[4] http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-43148010

memburu MCA
Oleh: Nasrudin Joha
Perih, melihat alat negara dijadikan alat kekuasaan untuk memburu dan menangkapi putra-putra & anak bangsa. Pilu, melihat negara “TAKLUK” tidak berdaya, tak kuasa menyentuh koruptor ratusan triliun. Prihatin, melihat kasus Novel Baswedan, meskipun kasus sudah mendekati hitungan tahun, tidak juga ada kabar kelanjutannya.
Alat Negara telah dijadikan alat kuasa untuk membungkam ujaran berbeda dan membiarkan para penjilat berlaku sesuka hati. Anak bangsa yang prihatin akan kondisi, dipersekusi, ditangkap bahkan diburu hingga ke Korea.
Muslim Cyber Army, jika Syahid adalah tujuan maka jangan melemah hanya sebab penangkapan. Jika ridlo Allah adalah harapan, teruslah suarakan kebenaran meski kedzaliman dilipatgandakan.
Yakinlah ! Rezim Represif Anti Islam ini tidak akan mampu berbuat sesuatu terhadapmu, kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT. Rezim ini tidak akan mampu menyakitimu -bahkan tidak akan mampu menyentuh kulitmu- jika perlindugan Allah ada Padamu.
Karena itu, teruskanah langkah dan mendekatlah pada Tuhanmu. Bersumpahlah ! Kalian tidak akan pernah tunduk taat dan patuh, tidak akan menyerah pada rezim dungu ini, kalian hanya boleh tunduk taat dan patuh kepada Allah Ta’ala semata.
Kalian tidak boleh mengendur apalagi mengambil langkah mundur, majulah hingga garis depan pertarungan ! Menceburlah, pada kobaran jihad perlawanan. Tunjukkanlah ! Kalian adalah generasi hebat ! Kalian adalah cucu-cucu Muhammad Al Fatih, kalian adalah cucu-cucu Sholahudin Al Ayubi, kalian adalah cucu-cucu Thariq bin Ziyad, kalian adalah umat Muhammad !
Jangan permalukan Muhammad SAW, dengan menunjukkan kelemahan apalagi pengkhianatan! Jangan berhenti apalagi lari ! Jangan tiarap, apalagi mencari bunker persembunyian dan mengurung diri di perut bumi, Lawan !
Jangan permalukan diri, rezim telah menyentuh kepala kalian, rezim telah menunjukkan penghinaan terhadap kalian, karena itu kalian harus membalas ! Kalian harus tegakkan Qisos dengan membongkar seluruh pengkhianatan rezim terhadap umat!
Buka seluruh topeng kepalsuan rezim, lucuti jubah-jubah keluguan dan tampakan! Tunjukkan Wajah-wajah tiran rezim yang bekerja siang dan malam mendzalimi umat. Tampakkan! Seluruh aib rezim represif anti Islam, agar umat memutus legitimasi, agar umat bersatu mengajukan perlawanan, agar umat menolak tunduk taat dan patuh pada kedzaliman! Agar umat bersatu padu melucuti kekuasaan rezim, agar rezim tidak lagi memiliki penopang, agar rezim represif anti Islam segera disudahi.
Wahai kalian para ksatria, para punggawa-punggawa Islam, tentara Islam, Moslem Cyber Army !
Kalian adalah harapan umat, karena itu jangan mengecewakan umat ! Kalian adalah permata umat, karena tunjukkan jiwa ksatria dan sikap wibawa. Terima tantangan rezim dan tunjukkan kekuatan kalian, pastikan rezim menyesal telah menghinakan kalian.
Wahai umat, Dukunglah ksatria kalian. Penuhilah hak para punggawa kalian. Lindungi mereka, saling ke jagalah diantara kalian.
Jika kalian diam atas kedzaliman yang ditimpakan rezim pada putra-putra kalian, ingatlah ! Kedzaliman itu juga tidak mustahil ditimpakan terhadap kalian.
Bersatulah, kepalkan tangan kalian, arahkan tinju kalian tepat di muka rezim. Keroyok kebengisan rezim dengan tamparan kebenaran, suarakan kebaikan untuk membungkam tirani kekuasaan.
Wahai umat, persoalan sudah jelas bagi kalian. Kalian yang memenangkan pertarungan ini, atau kalian binasa dalam perjuangan ini. Tidak ada pilihan lain!
Dan wahai umat, pastikan ! Kalian memperoleh pertolongan Allah yang dengannya kalian memenangkan pertarungan. Karena itu, bertakwalah ! Bertakwalah kepada Allah ! Tinggalkan semua maksiat, lipat gandakan aktivitas ketaatan. Allahu Akbar ! [].

ghouta suriah korban
Berita
Media resmi dan situs media sosial melaporkan foto-foto mengerikan dari pemborbardiran, pembakaran dan pembasmian lebih dari 400.000 Muslim di Ghouta Timur. Hadi al-Abdullah, seorang aktivis Suriah, mengatakan di akun Facebook-nya: “Mereka tidak dapat menghitung jumlah syuhada. Dalam dua hari saja, lebih dari 200 syuhada telah terbunuh.”.
Komentar
Ghouta Timur: medan pertempuran besar seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw., dan merupakan keranjang makanan rezim dan lokasi strategis yang ingin dikontrolnya selama bertahun-tahun untuk mempertahankan rute pasokan dan mengamankan perlindungan terhadap Bandara Damaskus dari pemboman kaum revolusioner. Yang terjadi di medan pertempuran itu, yang penduduknya dimusnahkan secara brutal, menyerukan untuk serupa dengan apa yang terjadi di Grozny Chechnya yang dilakukan oleh orang-orang Rusia bertahun-tahun yang lalu.
Apakah skenario Aleppo terulang lagi? Apakah ini merupakan rencana untuk mengembalikan apa yang terjadi di Grozny? Dengan banyaknya pokok berita mengenai hal itu, Al Jazeera bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Seakan kengerian yang sampai ke bagian tubuh ummat lainnya tidak cukup untuk menurunkan semangat dengan berita utama yang mengindikasikan, bahkan secara tidak langsung, atas hasil dari kekalahan yang menentukan seperti yang terjadi sebelumnya!
Foto-foto yang menyedihkan beredar dari Ghouta seperti juga saat foto-foto semacam itu keluar dari Aleppo dan Homs. Namun, kali ini kebrutalan rezim dan kroninya lebih besar daripada para pendahulunya, seperti yang dikatakan oleh para aktivis. Janin bayi yang ibunya terbakar muncul dalam keadaan mati, dan terbakar setelah kulit ibunya pecah. Sebuah laras senjata masuk ke dalam dada anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun, dan kesalahannya adalah karena dia adalah seorang Muslim, yang membuat orang-orang Kristen, orang-orang Magian dan orang-orang Yahudi dipenuhi kebencian.
Namun, di tengah-tengah semua kejadian mengerikan yang tragis ini, keyakinan terhadap hadis Rasulullah terhadap masyarakat Ash-Sham terbukti benar, dengan izin Allah, karena mereka adalah orang-orang Rabat dan orang-orang yang paling baik dan yang paling dicintai Allah di bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari pertempuran besar.
Tidak ada keputusasaan dan tidak ada kelemahan. Jadi, kami menghargai mereka, dan Allah adalah penghitung amal mereka. Video-video yang sampai kepada kami menunjukkan kaum wanita yang telah mengangkat senjata dan membentuk batalyon tempur bersama dengan kaum pria, dan seorang ibu yang baru saja kehilangan anak kesayangannya pergi ke garis depan pertempuran.
Keteguhan ini, menceritakan tentang realitas situasi yang sebenarnya, tidak memalsukan fakta dan tidak membebani penduduk Ash-Sham lebih dari apa yang dapat mereka tanggung. Ya, mereka adalah orang-orang yang teguh, tegar, dan terus berjihad. Namun mereka juga merupakan bagian dari umat yang besar yang merasa malu dengan tentaranya dan dengan orang-orang yang berkuasa namun membiarkan mereka menderita tanpa dapat menyelamatkan mereka, malah menyerahkan mereka kepada para pembunuhnya, yang menodai kehormatan mereka dan tubuh mereka di tengah-tengah keheningan dan ketundukan kepada para pembunuhnya.
Kaum wanita yang keluar dengan membawa senjata, juga berteriak: Kami adalah anak-anak perempuan Umat Muhammad, kami adalah wanita Muslim, namun dimana umat Islam dan dimana tentara Muslim ?!
Tangisan itu menjadikan kesedihan yang mendalam di hati umat Islam yang hanya mampu berbicara. Dan inilah kita yang merasa sakit karena terjadinya pembakaran dan penyerahan Ghouta: Kami berseru bersama kaum wanita Ghouta kepada tentara Muslim … untuk menjawab seruan Allah dan menolong hamba-hamba-Nya. Karena itulah yang diperintahkan oleh Allah: mendapat kehormatan baik tempat tinggal atau penghinaan di dunia dan azab yang menyengsarakan di akhirat:
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[Terjemahan QS 9:39]
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Bayan Jamal


Image result for uu md3

Oleh: Zulhaidir, SH. - Praktisi Hukum

Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menyebut DPR sejak dulu memang tidak pernah peduli terhadap kritik. Hal ini disampaikan terkait revisi UU MD3 yang terkesan membuat DPR antikritik dan kebal hukum.

"Dari dulu memang nggak ramah kritik. Bahkan nggak peduli terhadap kritik. Jadi, kalau bicara, DPR tidak mau, tapi mereka tidak tahu mana yang kritik dan yang bukan," kata peneliti Formappi, Lucius Karus, dalam diskusi Polemik di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/2/2018).

Ia menilai revisi terhadap Pasal 122 huruf k dalam UU No 17/2014 itu makin meneguhkan ketidakpedulian DPR terhadap kritik masyarakat. Lucius juga menyebut revisi tersebut memperlihatkan rasa sakit hati anggota Dewan atas kritik yang disampaikan kepadanya. (https://news.detik.com/berita/d-3871572/uu-md3-buat-dewan-antikritik-formappi-ada-strategi-licik-dpr)

Komentar 

UU MD3, revisi UU Ormas, beberapa UU lainnya menurut penulis menunjukkan klaim bahwa demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ternyata tidak terbukti. UU MD3 dinilai sebagian pengamat dan politisi justru melebarkan kesenjangan antara wakil rakyat dengan rakyat dan bahkan akan mengkriminalisasi rakyat yang akan memberikan kritik kepada anggota Dewan.

Sebagian masyarakat hari ini tidak puas dengan kinerja DPR, hal ini tervisualisasi dari survey yang dilakukan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) memotret persepsi alumni Kampus Kuning itu terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo lewat survei yang dirilis pada Kamis (15/2/2018). Hasilnya, dari 502 responden alumni UI, hanya 48,8 persen menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas dengan kinerja pemerintah saat ini. Koordinator Policy Center ILUNI UI Muhammad Fadli Hanafi mengatakan, angka ketidakpuasan responden itu lebih tinggi dari yang menyatakan puas atau sangat puas yang hanya 40,4 persen. Tingkat ketidakpuasan responden yang paling tinggi ada di bidang sosial. Angkanya mencapai 50,1 persen.

Masyarakat tidak puas? Faktanya, penguasa dan wakil rakyat terpilih sering mengeluarkan berbagai kebijakan yang menyesengsarakan rakyat. Rakyat terus diteror dengan kenaikan tarif listrik, BBM dan air; mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan; naiknya berbagai bahan kebutuhan pokok; dll. Kebijakan anti rakyat ini hakikatnya meneruskan kebijakan elit penguasa sebelumnya yang menaikkan BBM, mengeluarkan UU pro pasar yang menyengsarakan rakyat (UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Kelistrikan, UU BHP dll). Ironisnya, teror terhadap rakyat ini dilegalisasi oleh DPR. 

Anggota DPR, khususnya yang beragama Islam, hendaknya mengingat sabda Rasulullah saw.:

Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya(HR al-Bukhari dan Muslim).

Penipuan tersebut antara lain bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat. Setiap penguasa yang melakukan hal ini dipandang telah menipu dan berkhianat kepada umat (Lihat: Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Ancaman terhadap para penguasa dan pemimpin yang khianat tentu wajar belaka. Pasalnya, kekuasaan adalah amanah. Amanah adalah taklif hukum dari Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati…Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).

Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya sejak 16 abad lalu, bahwa akan datang masa ketika umatnya akan dipimpin oleh orang-orang egois. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya akan muncul sepeninggalku sifat egois (pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri sendiri) dan beberapa perkara yang tidak kamu sukai.” (HR Muslim).

Para pemimpin yang demikian boleh jadi mulutnya manis menebar pesona ketika berbicara di depan rakyatnya. Namun, hati dan kelakuan mereka busuk-sebusuknya laksana bangkai. Mereka sesungguhnya tidak lain adalah para pencuri harta rakyat. Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang sesudahku para penguasa yang memerintah kalian. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijak. Namun, setelah turun dari mimbar, mereka melakukan tipudaya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR ath-Thabrani).

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sekian abad yang lalu, kenyataannya banyak kita lihat di negeri ini. Kita bisa menyaksikan hal itu pada oknim di jajaran eksekutif maupun legislatif pada semua tingkatan. Betapa dijumpai di antara oknum pemimpin itu yang ramai-ramai mempertontonkan egoisme. Lidahnya manis saat merayu rakyat agar dipilih sebagai pemimpin. Begitu berkuasa, tampaklah ‘keberpihakan’ mereka. Diantara mereka ada yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri, yaitu berusaha mempertahankan kekuasaan dan menumpuk-numpuk kekayaan. Adapun rakyat hanya digunakan sebagai ‘komoditi’ untuk mengejar dan mempertahankan jabatan.



oleh saptuari

Bulan Januari lalu sempat heboh di sosial media tentang surat internal sebuah bank menganjurkan diadakan pengajian rutin karena banyak karyawannya yang resign. Surat itu banyak dikomentari oleh netizen karena ada penafsiran yang seolah-olah dicari ustadz yang bisa disetel tema pengajiannya sesuai pesanan. Tabu membahas soal riba di acara pengajian bank.

“Dicari ustadz yang pro riba..” komentar salah satu netizen

Sudah 5-6 tahun ini kran informasi seperti terbuka begitu lebar dan deras. Semenjak Blackberry yang sering hang-lepas baterei-banting itu musnah, diganti oleh gadged android berlayar lebar dan canggih ketika disentuh.
Facebook meledak..
Youtube meletus..
Instagram menggelegar...

Jutaan orang punya mainan baru di genggaman. Siang malam dipelototi.. ke WC dibawa, mau tidur jadi mainan di kasur.

Para ustadz dan ulama punya media baru untuk berdakwah tanpa harus dibedaki di layar tivi. Bebas membahas apa saja tanpa disetir produser acara religi.

Termasuk tentang kajian fiqih muamalah. Ribuan video tentang riba tersedia di semua sosial media. Puluhan ustadz ahli fiqih muamalah membahasnya. Dari penjelasan detail apa itu riba, bagaimana hukum praktek perbankan, leasing, asuransi, MLM, sampai masalah-masalah kontemporer produk terbaru yang belum ada di masa 10 tahun lalu.

Siapapun bisa melihatnya dan belajar dari sosial media, tentu kajian riba salah satu yang bisa ditonton dengan mudah oleh mereka yang masih bekerja di tempat yang berdekatan dengan akad-akad riba, dan membuat gelisah hatinya.

Komunitas XBank ini lahir 15 Juli 2017 dari inisiatif mas El Candra, mantan bankir yang sudah belasan tahun bekerja hingga jabatan satu level di bawah direksi di sebuah perbankan nasional. Komunitas ini membesar lewat ‘gethok tular’ mulut ke mulut, dilempar di sosial media dan group WA..

“Saat ini kami punya member 6200an seluruh Indonesia, ada 32 group WA dan terus bertambah dengan syarat minimal 100 orang di satu wilayah jika mau dibuatkan group WA baru.. “ kata Nopan Nopiardi salah satu pentolan XBank yang juga mantan bankir itu.

Sabtu kemarin mereka melakukan Kopdar di Jogja, saya diundang untuk berbicara dalam talkshow sebagai nasabah yang dulu jaman jahiliyah suka bergantung ke bank untuk memenuhi semua kebutuhan.. dari modal usaha hingga gaya hidup.

Sejak saya masuk ruangan jam 9 pagi, suasana begitu adem. Walaupun yang di depan saya para mantan bankir dan ada juga yang masih bankir aktif, tidak ada yang agresif menawarkan kredit.. hehe ya iyalah!

Satu jam pertama saya bercerita bagaimana 6 tahun saya berbisnis dan terjerat akad riba di berbagai bank, leasing dan asuransi. Ketika ketenangan hati tercabut, hidup hanya untuk mikir cicilan dan angsuran.. musibah demi musibah berdatangan. Halangan demi halangan bermunculan. Sampai saya diingatkan oleh seorang kawan tentang peringatan Nabi:
“Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya... memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Duuuh! Apakah saya ini pelaku riba? Kan saya yang ngutang! Saya gak makan duit riba!
Saya disodori lagi sebuah hadist, Nabi melaknat semua orang yang terlibat disana: yang minjemin, yang minjem, yang nyatet, yang jadi saksi.. semua sama dalam dosa!
Klakep deh saya gak bisa jawab..

Dan pukulan paling telak ketika saya dihantam di dada pakai Quran surat Al Baqarah 278-279 yang menyatakan perintah untuk meninggalkan riba, jika tidak akan DIPERANGI Allah dan rasulnya.

Makdeg!! Nyesek!
“Aku ini ciptaanMu wahai Allah.. kok sekarang aku malah Kau perangi! Apa aku bisa menang ya Allah?”

Sesi kedua tanya jawab dan testimoni peserta, terbawa suasana semuanya karena  mendengar penuturan mereka.

Mas El Candra memulai,
“Disini banyak mantan kawan-kawan AO bank, merasa berdosa ketika membujuk orang berutang tiap hari karena kejar target, lah saya ini kepala divisi yang membawahi 1000 AO (Account Officer), bayangkan berapa kali lipat-lipat dosa saya..” katanya dengan suara gemetar.

Lanjut mas Danto dari Semarang memberikan testimoni:
“Saya ini 15 tahun di bank berlabel syariah. Saya gak merasa sebagai pelaku riba, dan suka nunjuk ke mereka yang di bank konvensional lah pelaku riba. Kami ini penyelamat, dan saya bangga dengan pekerjaan ini. Sampai satu ketika saya belajar fiqih mumalah, saya tercenung dengan praktek yang saya temui di pekerjaan saya. Ketika bicara akad murabahah bank saya tidak pernah benar-benar membeli barang itu baru kami jual kembali. Tidak pernah kami membeli, bagaimana kami akan bisa menjualnya? akad ini cacat dan mengganjal di hati saya. Lalu akad mudharabah.. kenapa yang dibagi masih dari total uang yang dipinjamkan, bukan bagi hasil dari nilai keuntungan? Dan tidak ada resiko kerugian dengan adanya sita dan lelang. Lama berkecamuk dalam hati saya. Sampai ketika bertemu dengan salah satu ustadz saya berkata untuk membela diri, bahwa bank kami diawasi dewan syariah nasional. Jawaban ustadz itu membuat mati kutu..
“Nanti di akherat mas, engkau tidak bisa berlindung kepada siapun termasuk kepada dewan syariah jika pelaksanaannya di lapangan menyimpang fatwa DSN atau bahkan dari aturan Allah..”
Hal itu yang membuat saya memutuskan berhenti jadi bankir, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”
Dia menangis di atas panggung.. semua peserta terdiam.

Saya memanggil kawan saya mas Rinanto Suryadhimirtha yang juga hadir seorang pengacara muslim yang sudah melanglang buana sebagai pengacara dipihak bank dan leasing untuk maju ke panggung,

“Saya ini dulu membela bank dan leasing sampai tahap eksekusi lelang. Sampai orang yang punya aset itu nangis-nangis saya gak peduli. Ketika hijrah saya menyesal luar biasa dan sekarang saya bekerja untuk berbalik membela mereka. Bagaimana mungkin sudah bayar ratusan juta, pas mau melunasi utang pokoknya masih banyak tanpa mau memberi keringanan. Sampai tahap lelang sekarang saya hadapi.. saya bahkan datangi orang-orang yang dulu hartanya saya lelang, saya minta maaf kepada mereka, dan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”
Katanya dengan suara gemetar..

Dilain waktu ada seorang yang bertanya pada saya, “mas kalau banyak yang resign bank bisa tutup dong? Kita kalau mau transfer duit pakai wesel di kantor pos lagi?”

“Bank gak akan tutup bro, karena sistem ekonomi kapitalis dianut di negeri ini. Paling hanya keluar-masuk pegawainya yang kenceng, dan ratusan ribu lulusan sarjana tiap tahun tersedia di Indonesia..” jawab saya.

“Terus mas?”

“Kerinduan pada lembaga keuangan yang syar’i itu sekarang sedang menggebu-gebu dari masyarakat. Misal bank itu ibarat rumah.. ketika ada pipanya yang bocor, airnya mampet, plafonnya pecah, WCnya membludak dan bau, tidak langsung kita bakar rumahnya kan. Tapi diperbaiki satu-persatu hingga rumah itu layak huni dan membawa ketenangan penghuninya..”

“Mmm.. gitu ya mas, terus siapa yang bisa memperbaiki itu semua mas kalau pada resign?”

“Bola ditangan pemerintah tentunya, undang para ulama, ustadz-ustadz ahli fiqih muamalah dari berbagai perwakilan, sampai ketemu formula untuk pelaksanaan sistem bank yang bener-bener syar’i dan adil, dan menentramkan kita semua..”

“Apa mungkin ya mas?”

“Dulu tentara dan polisi wanita itu gak boleh pakai hijab lho.. setelah ada desakan dari masyarakat sekarang banyak tentara dan polisi wanita yang berhijab karena aturannya berubah. Ya kita doakan saja semoga suatu saat dapat terwujud..”

“Terus bagaimana bersikap pada bank mas?”

“Tak lebih seperti kantor pos, gunakan produk yang tidak ada ribanya seperti jasa transfer uang, menyimpan secukupnya, kalau ada rejeki lain putar di usaha lagi agar lebih bermanfaat, bukan ditimbun.. dan jangan membuka akad riba apapun bentuknya..”

Ketika sesi istirahat mau sholat dzuhur panitia meminta peserta keluar untuk difoto pakai drone. Mereka diberi bendera untuk dilambai-lambaikan..
saya merinding membacanya..
“Jangan gadaikan akheratmu untuk duniamu..”

Itulah XBank, perjalanan hijrah saudara-saudara kita yang menggetarkan hati..

Sebuah postingan di facebooknya XBank begini:
“Karir tertinggi seorang bankir adalah.. resign!”

Jleb!

Image result for pki dan ulama

Oleh: Prof. Dr. Ing. H  Fahmi Amhar

Saya lahir ketika Orde Baru sedang mulai berkuasa,
yang saya tahu, saat itu PKI, anggota, keluarga dan pengikutnya,
sedang dikejar-kejar dari lubang semut sampai lubang buaya.
Tetangga saya di-pulau-Buru-kan sepuluh tahun lamanya.
Padahal di tahun 1960an, dia hanya orang-orang sederhana,
yang karena takut pada PKI lalu ikut menjadi penggembira acaranya. 

Memang ada jutaan orang yang di masa Orde Baru terdholimi,
baik yang masa lalunya dengan PKI membuat mereka dipersekusi.
Atau juga orang-orang kritis lain yang dengan asal dituduh subversi.
Sejatinya, kejahatan Orde Baru tidak berarti memutihkan dosa-dosa PKI.

Karena, jauh sebelum Orde Baru mengejar-ngejar PKI,
justru PKI sudah biasa menekan dan membantai ulama di sana dan di sini,
baik secara langsung, atau meminjam tangan negara dengan keji !!!

Zaman itu PKI juga sudah menyalahgunakan dasar negara.
Para ulama yang anti komunis, dituduh Anti Pantjasila.
Partai seberang, dibubarkan meminjam tangan penguasa.
Para pemimpinnya dipenjarakan, tanpa pengadilan tentu saja,
dan para pengikutnya dimusuhi dan dikejar sampai desa-desa.

Dan berikut ini adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:

----------------------------------------------------------------------------------

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.

Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :
1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya
2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.
3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi. 

Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :
“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.

Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggang dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)###)

islam quran
Oleh: Rokhmat S. Labib
Ada yang menarik dalam sidang gugatan HTI terhadap Kemenkumhan di PTUN pada hari Kamis 22/2 lalu. Dalam sidang yang menghadirkan Prof. Dr. KH Didin Hafidzuddin sebagai Ahli itu, pihak pemerintah mengajukan banyak pertanyaan.
Di antaranya adalah pertanyaan tentang khilafah. “Apakah khilafah termasuk dalam rukun Iman atau rukun Islam?” Dijawab oleh Prof Didin, “Tidak.” Kemudian bertanya lagi, “Jika demikian, mengapa khilafah disebut sebagai ajaran Islam?” Prof kembali menjawab, “Kan banyak kewajiban dalam Islam yang tidak termasuk dalam rukun Islam. Misalnya, kewajiban menutup aurat.” Alhamdulilah, Prof Didin mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang ringkas, singkat, dan tepat.
Yang justru mengherankan adalah mengapa pertanyaan seperti itu bisa muncul.
Menjadi lebih aneh ketika pertanyaan itu merupakan respon terhadap penjelasan Prof Didin sebelumnya tentang kriteria sebuah kelompok dapat dikatagorikan menyimpang. Di antara cirinya adalah orang atau kelompok yang menambahkan rukun Iman dan rukun Islam. Sementara HTI tidak ciri-ciri tersebut.
Lantas pihak pemerintah menanyakan pun perihal tersebut. Ketika HTI mengatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam, padahal tidak termasuk dalam rukun Islam dan rukun Iman, bukankah itu berarti menambah rukun Iman atau rukun Islam?
Dengan pertanyaan itu seolah mereka ingin mengatakan bahwa HTI pun bisa dikatagorikan sebagai kelompok menyimpang karena menambahkan rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang Islam dengan ajaran khilafah.
Sebegitu awamkah mereka terhadap Islam, sehingga memahami bahwa ajaran Islam hanya sebatas rukun Islam dan rukun Islam?
Patut dicatat bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Semua perkara dijelaskan kedudukan hukumnya. Sehingga untuk mengatur kehidupan ini tak memerlukan sistem lainnya. Allah Swt berfirman:
أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci?  (QS al-An’am [6]: 114).
Menjelaskan ayat ini, Syihabuddin al-Alusi berkata, “Di dalamnya terdapat penjelasan tentang yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram, serta berbagai hukum lainnya sehingga tidak ada satu pun perkara agama yang rancu dan samar. Maka kebutuhan apa pun sesudah itu merujuk kepada hukum tersebut.”
Dalam akhlak, Islam memerintahkan amanah, memenuhi janji, bersikap adil, berbakti kepada orang tua, menolong orang yang membutuhkan, dan lain-lain , sebaliknya melarang berkata dusta, berbuat khianat, ingkar janji, berbuat dzalim, dan lain-lain.
Sementara dalam soal makanan dan minuman, Islam memerintahkan umatnya untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang dihalakan sekaligus menjauhi yang diharamkan, seperti bangkai, darah, babi, khamr, binatang buas yang bertaring, dan lain-lain.
Sedangkan dalam pakaian, Islam juga telah menetapkan batas aurat bagi pria dan wanita untuk ditutup. Juga memberikan beberapa ketentuan khusus tentang pakaian, seperti diharamkannya laki-laki mengenakan emas dan sutra, serta wajibnya wanita mengenakan jilbab dan kerudung.
Dalam soal pergaulan pria wanita, Islam mensyariatkan pernikahan dan memberikan pengaturan kehidupan keluarga, sekaligus mengharamkan zina, bergaul bebas, hubungan sejenis, dan semacamnya.
Dalam pengaturan harta, Islam membolehkan jual-beli, sewa-menyewa, syirkah, bertani,berburu, dan lain-lain. Sebaliknya Islam mengharamkan riba, judi, korupsi, menipu, dan lain-lain dalam mendapatkan harta.
Islam juga memerintahkan dakwah, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menerapkan syariah dalam kehidupan, dan berjihad, sekaligus memberikan ancaman keras bagi siapa pun yang meninggalkannya.
Dalam memberantas kriminalitas, Islam juga menetapkan hukuman yang wajib diterapkan bagi pelaku kriminal. Sebagai contoh, Islam menetapkan hukuman cambuk 100 kali atau rajam bai pelaku zina, potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pelaku pembunuhan  dilakukan dengan sengaja, dan lain-lain.
Semua perkara itu adalah ajaran Islam. Sebagian dijelaskan dalam al-Quran, sebagian lainyya di dalam al-Sunnah. Ada pula diambil dari Ijma’ Sahabat dan Qiyas Syar’i. Penjelasan tentang berbagai perkara itu dapat dijumpai dalam kitab-kitab fiqh dan berbagai kitab lainnya.
Begitulah Islam. Tidak hanya sebatas rukun iman dan rukun Islam.
Maka sungguh aneh jika ada orang Muslim yang menolak khilafah sebagai ajaran Islam hanya karena tidak termasuk dalam rukun Islam dan rukun Islam.
Jika demikian, betapa banyak ajaran Islam yang harus ditolak dan dibuang, bahkan dianggap menyimpang hanya karena tidak ada dalam rukun Iman dan rukun
Tentang khilafah, amat banyak dalil yang mewajibkannya sehingga tidak ada perbedaan di antara para ulama tentangnya. Para ulama sepakat bahwa khilafah adalah wajib. Kewajiban tersebut berdasarkan syara’, dan bukan berdasarkan akal.
Saya tidak perlu mengulang-ulang penjelasan tersebut. Cukup saya kutipkan penjelasan Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim tentang hal ini. Beliau berkata:
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْب خَلِيفَة وَوُجُوبه بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ ، وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنْ الْأَصَمّ أَنَّهُ قَالَ : لَا يَجِب ، وَعَنْ غَيْره أَنَّهُ يَجِب بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ
Dan mereka (kaum Muslimin) sepakat bahwa wajib atas kaum Muslimin untuk mengangkat seorang khalifah. Kewajiban tersebut berdasarkan syara’, dan bukan berdasarkan akal. Adapun apa yang diriwayatkan dari al-Ashamm yang berkata, “Tidak wajib,”  dan dari lainnya yang mengatakan bahwa itu adalah kewajiban berdasarkan akal, maka kedua pendapat tersebut adalah batil (al-Imam al-Nawawi, Syar-h Muslim ‘alâ al-Nawâwi. Vol. 6/291).
Inilah penjelasan ulama mu’tabar tentang khilafah. Penjelasan serupa juga dinyatakan oleh para ulama mu’tabar lainnya, seperti Imam al-Qurthubi, Imam ‘Ala’uddin al-Kasani, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam al-Jazairi, Imam al-Mawardi, Imam Ibnu Hazm, dan lain-lain.
Walhasil, tidak ada seorang pun ulama mu’tabar yang menolak wajibnya khilafah, apalagi menentangnya.
Jika demikian, siapakah sesungguhnya yang bermasalah:
Apakah kelompok yang menerima dan mendakwahkan ajaran Islam secara utuh atau pihak yang membatasi Islam hanya sekadar rukun Islam dan rukun Iman serta menghalangi ajaran Islam lainnnya didakwahkan?
Semoga kita diberikan petunjuk Allah Swt untuk bisa menjawabnya dengan benar.
WaL-lah a’lam bi al-shawab.[]

orang gila
Oleh: Umar Syarifudin
Kita melihat hari ini marak kasus teror terhadap sejumlah tokoh agama khususnya beberapa ulama di berbagai daerah yang membuat menimbulkan keresahan yang luas di masyarakat. Tak terhindarkan munculnya praduga di tengah masyarakat bahwa aksi teror terhadap Ulama merupakan skenario sistemik by design. maka ini perlu untuk segera direspon dengan sigap dan serius. Negara harus melindungi dan menjamin aman serta rasa aman bagi setiap warganya yang mayoritasnya muslim serta menindak tegas terhadap para pengganggu keamanan masyarakat. Penuntasan kasus-kasus ini diperlukan sehingga ketentaraman terjaga.
Mencermati kasus-kasus tersebut terungkap ke publik dengan pola dan modus yang relatif sama, maka pihak kepolisian hendaknya bertindak mengusut kasus-kasus tersebut sampai tuntas termasuk dugaan ada aktor intelektualnya, pelakunya, termasuk motifnya. Sehingga perlu mengurai secara profesional dan independen. Institusi pengadilan harus memutuskan secara adil berdasarkan fakta-fakta medis dan fakta hukum lainnya di persidangan yang punya otoritas memutuskan apakah para pelaku penganiayaan ini benar-benar gila atau waras.
Tantangan keamanan lainnya adalah tempat-tempat maksiat seperti komplek prostitusi, perjudian, pusat penjualan miras, dan lainnya adalah tempat-tempat yang perlu ditindak tegas oleh negara karena bisa jadi tempat ini berpotensi jadi biang ‘penyakit masyarakat’. Selanjutnya kita menghadapi sejumlah tantangan terhadap konten kekerasan dan liberal yang dipromosikan oleh sejumlah industri game, film, media dan hiburan, yang ditoleransi dan bahkan dipromosikan, dengan konsekuensi mengerikan bagi masyarakat.
Sebagaimana slogan ‘Melindungi dan Melayani’ terpatri dalam kinerja kepolisian, maka sewajarnya ditujukan untuk melindungi rakyat dan melayani rakyat yang memerlukan keadilan. Rasulullah saw. sebagai Rasul dan sekaligus kepala negara, memperhatikan betul rasa aman bagi warganya. Beliau membentuk semacam polisi kota (Syurthah). Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Anas yang mengatakan: “Bahwa Qais bin Sa’ad, ketika itu sedang berada di dekat Nabi saw. dalam posisinya sebagai anggota kesatuan polisi”. Kesatuan polisi diberi tugas untuk menjaga sistem dan mengatur keamanan dalam negeri, serta melaksanakan semua kegiatan yang bersifat operasional. Kesatuan inilah yang setiap malam berkeliling untuk mengawasi pencuri, orang-orang jahat serta mereka yang dicurigai melakukan tindak kejahatan. Abdullah bin Mas’ud adalah komandan patroli pada masa Khalifah Abu Bakar. Bahkan Umar bin Khaththab melakukan patroli sendiri dan kadang-kadang minta ditemani oleh pembantunya, beliau juga kadang minta ditemani Abdurrahman bin ‘Auf. Dan, tentu saja ini adalah tugas negara, bukan tugas rakyat.(Lebih lengkap silakan baca Abdul Qadim Zallum, Sistem Pemerintahan Islam, Penerbit al-Izzah, 2002, hlm. 188-190). Kesiagaan polisi dalam mengamankan juga berlaku bagi seluruh warga negara Daulah Islamiyah, baik muslim maupun non muslim. Ini salah satu bentuk kepedulian Islam dalam menghargai jiwa, raga, kehormatan dan harta manusia.
Ironisnya, di era demokrasi kapitalistik ini, sangat masyhur anggapan di tengah-tengah masyarakat di berbagai negara bahwa mafia dan kelompok gangster justru memiliki hubungan “persahabatan” dengan oknum penegak hukum sehingga keberadaan perampok, penjahat, preman jalanan, dan berbagai mafia kejahatan tetap eksis di berbagai wilayah dunia. Di Indonesia, seakan menjadi rahasia umum ada oknum hakim atau oknum jaksa yang bisa jual-beli hukum. Membebaskan yang seharusnya dihukum, dan menghukum yang tidak bersalah karena ‘pelicinnya’ kurang.
Ringkasnya, tindakan-tindakan teror secara acak ini hendaknya tidak menghalangi para ulama dan para aktivis dakwah khususnya, dan kaum muslim pada umumnya untuk menguatkan ukhuwah, dan terus membawa seruan untuk Islam melalui perjuangan intelektual dan pemikiran, yang akan menghidupkan kembali kebangkitan dan kemuliaannya.
Para ulama dan aktivis dakwah tidak berhenti mengadopsi kepentingan rakyat dan menunjukkan unggulnya solusi Islam terhadap Indonesia dan mengungkap konspirasi siapapun yang menjadi musuh-musuh umat dan musuh kedamaian. Publik yang hari ini kecewa dengan sejumlah kebijakan pemerintah, maka dengan kasus ini, hendaknya tetap jernih dan tenang menghadapi berbagai tantangan dengan argumen intelektual. []

tiang-tol-becakayu-roboh
YLKI sindir pemerintah bangun infrastruktur kejar setoran dan mengabaikan keselamatan. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memprotes pembangunan infrastruktur di Indonesia ternyata dikerjakan seperti sopir angkot (angkutan kota). Pembangunannya mengejar setoran dan mengabaikan keselamatan.
“Ya, seperti sopir angkot mengejar setoran. Yang penting pekerjaan selesai, tanpa mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penumpangnya,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, Selasa (20/2).
Penegasan tersebut terkait dengan robohnya “bekisting pierhead” Tol Becakayu di dekat Pintu Tol Becakayu itu sehingga mengakibatkan tujuh orang mengalami luka dan sudah dievakuasi ke Rumah Sakit UKI, Selasa pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Menurut Tulus, kecelakaan konstruksi terhadap proyek infrastruktur yang terjadi secara beruntun, dengan puluhan korban melayang, membuktikan hal itu.
“Kecelakaan konstruksi terjadi sebagai terbukti karena kegagalan konstruksi (construction failure). Ini membuktikan proyek konstruksi tersebut tidak direncanakan dengan matang dan atau pengawasan yang ketat dan konsisten,” katanya.
Oleh karena itu, kata Tulus, pihaknya !menyampaikan kritik keras dan mendesak pemerintah untuk membentuk tim investigasi independen dengan tugas utama melakukan forensik “engineering”. Hak itu untuk menyimpulkan apakah yang terjadi merupakan kegagalan dalam perencanaan konstruksi, kegagalan dalam pelaksanaan konstruksi, atau kegagalan dalam pengawasan konstruksi.
“Tim investigasi dimaksud sangat mendesak untuk mengaudit ulang terhadap proyek infrastruktur yang sedang berjalan,” katanya.
Tulus juga menegaskan, jangan sampai proyek infrastruktur tersebut mengalami kegagalan konstruksi berulang saat digunakan konsumen. “Kita bisa bayangkan, korban masal akan terjadi jika kecelakaan konstruksi tersebut terjadi saat digunakan konsumen,” kata Tulus.
Proyek Jalan Tol Becakayu merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk mulai 2014 dengan nilai kontrak Rp7,23 triliun dan memiliki panjang ruas 11 km.[]
Sumber: bdg.news

Image result for memuliakan ulama

Sejak akhir Januari hingga kini terjadi berbagai serangan terhadap ulama, ustadz, masjid dan pesantren di berbagai wilayah di negeri ini. Kasus pertama menimpa Pimpinan Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai shalat subuh di masjid pada Sabtu (27/1). Polisi lalu menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian dinyatakan lemah ingatan. 

Kemudian muncul kasus lain yang menimpa Komando Brigade PP Persis, Ustadz Prawoto. Beliau bahkan wafat setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya oleh seorang pria pada Kamis (2/1) pagi (Republika, 2/2/2018).

Setelah itu bermunculan kasus lain. Di Jawa Timur, dua pengasuh Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli, disatroni oleh orang tak dikenal dengan membawa pisau sambil berteriak-teriak. Pelaku kemudian diamankan oleh Polres Kediri untuk diinterogasi (JawaPos, 20/2018).

Sebelumnya terjadi penyerangan pada Ahad, 18 Februari 2018, kepada KH Hakam Mubarok, pengasuh Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan. Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera, pelaku yang bernama Nandang Triyana bin Satibi, 23 tahun, warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat diduga gila (Tempo, 19/2/2018).

Selain itu Masjid Baiturrahim Jl Sumurgempol No 77 Karangsari Tuban Jawa Timur dirusak oleh orang yang tidak dikenal pada Selasa (12/2) dini hari. Menurut informasi dari Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi Frans Barung Mangera, pelaku diduga mengalami gangguan jiwa (Republika, 13/2/2018).

Masih banyak kasus lainnya yang  datang silih berganti dengan kesamaan modus: menyerang ulama, ustadz, atau merusak masjid; lalu ketika pelakunya tertangkap, mereka dinyatakan mengalami gangguan jiwa atau gila.


Ada Rekayasa?

Tentu berbagai kasus yang terjadi tersebut harus ditangani oleh aparat negara secara serius, seksama dan transparan. Tuntutan dari masyarakat bermunculan.  Di antaranya dari 300 ulama perwakilan Pondok Pesantren se-Priangan Timur yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Situasi (FMPS) yang menghadiri rapat di Ponpes An-Nur Jarnauziyyah, Rabu (14/2). Forum tersebut mencurigai adanya rekayasa kasus serangan orang berstatus gila pada ulama (Republika, 14/2/2018).

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur pun mendesak Kepolisian mengusut tuntas siapa dan apa di balik insiden penyerangan berantai terhadap tokoh agama dan tempat ibadah yang belakangan ini terjadi di tiga wilayah di Jawa Timur. “Apakah ini kriminal murni atau ada gerakan by design atas semua peristiwa yang terjadi belakangan ini?” kata Ketua PWNU Jawa Timur, KH. M Hasan Mutawakkil Alallah (Tempo, 19/2/2018).

Bahkan Pengasuh Pesantren Al-Amien Kediri, yang juga kiai sepuh Nahdlatul Ulama, KH Anwar Iskandar, memperingatkan agar kasus penyerangan terhadap ulama tidak dibiarkan berlarut-larut. Jika dibiarkan, kepercayaan masyarakat kepada negara lambat-laun akan turun. KH Anwar mempertanyakan kinerja aparat Kepolisian yang cenderung lamban. Seharusnya aksi ini sudah bisa dicegah dan dilacak siapa dalangnya. “Menemukan teroris sampai orang hilang saja bisa, masak ini sulit sekali?” ucapnya (Tempo, 19/2/2018).

Demikian juga yang disampaikan oleh mantan ketua umum PP Muhammadiyah, M Dien Syamsuddin. "Saya juga meminta agar Polri melakukan upaya pencegahan dan perlindungan atas pemuka agama, serta mengawasi orang-orang gila (atau berpura gila)," kata Din, (Republika.co.id, 18/2/18).

Pernyataan dari Kepolisian yang dinilai terburu-buru, yang menyebutkan bahwa pelaku penyerangan itu mengalami gangguan jiwa, juga mendapatkan kritik keras. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo merasa, penyebutan pelaku penyerangan sebagai penyandang gangguan jiwa atau orang gila terlalu cepat dilakukan. Untuk mengatakan itu perlu pembuktian melalui diagnosis dokter. "Itu rasanya perlu dikoreksi menurut saya," kata dia (Republika, 14/2/2018).

Di sini tentu masyarakat menunggu keseriusan Pemerintah dalam menangani berbagai kasus penyerangan ini. 


Negara Wajib Menjamin Rasa Aman

Salah satu tugas negara adalah memberikan jaminan rasa aman kepada rakyatnya. Siapapun mereka. Apalagi bila yang harus dijaga keamanannya adalah ulama. Serangan terhadap ulama menunjukkan bahwa jaminan rasa aman di negeri ini masih mahal. Aparat pun malah terkesan meremehkan berbagai peristiwa tersebut. Dalam wawancaranya dengan media, Kapolri menyebutkan bahwa berbagai serangan itu adalah kriminal biasa (Republika, 13/2/2018). Rentetan peristiwa ini pun dianggap sebagai kebetulan belaka. Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal (Republika, 2/2/2018).


Ulama Harus Tetap Istiqamah

Sedemikian beratnya beban yang dipikul para ulama. Di satu sisi mereka memiliki tugas untuk menjadi penerang umat ke jalan Islam. Di sisi lain mereka pun harus menghadapi teror yang sedemikian dahsyat. Di sinilah ujian bagi para ulama untuk tetap istiqamah mengemban predikat pewaris para nabi.

Ulama harus tetap menjalankan amanah dan fungsinya. Mereka harus tetap menunjukkan bahwa mereka adalah pewaris nabi dari segi keilmuan, ketakwaan, keberanian, keikhlasan, ketawakalan, dll. Mereka pun harus tetap menunjukkan diri sebagai penjaga dan pengayom umat. 

Sedemikian pentingnya ulama, dapat disebutkan bahwa tanpa keberadaan ulama manusia akan bodoh dan mudah tergoda setan, baik dari jenis manusia maupun jin. Karena itu keberadaan ulama merupakan nikmat Allah SWT yang diberikan kepada penduduk bumi. Merekalah lentera-lentera yang menerangi, para pemimpin yang memberi petunjuk dan hujjah Allah di atas bumi. Merekalah yang akan memusnahkan segala pemikiran sesat serta segala bentuk keraguan dari dalam hati dan jiwa manusia. Merekalah pondasi keimanan dan kekuatan umat. Mereka laksana bintang-bintang di langit yang memberi terang dalam kegelapan dunia. Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْر
Sungguh perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang dengan cahayanya menerangi kegelapan di darat dan di laut (HR Ahmad).

Merekalah pewaris nabi, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ»
Sungguh ulama itu adalah pewaris para nabi  (HR Abu Dawud dan Baihaqi).

Semua keutamaan itu diperuntukan bagi para ulama yang berjalan di atas kebenaran, mencintai kebaikan, melaksanakan amar makruf nahi munkar, mengoreksi dan menasihati para penguasa, bekerja siang-malam demi kemaslahatan kaum Muslim, memperhatikan urusan-urusan umat dan siap menanggung kesulitan.

Semua kemuliaan ini diperuntukkan bagi para ulama pembela dan penjaga Islam; yang menyeru para penguasa untuk menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dengan lisan yang jujur dan hati yang kokoh; yang menghiasi dirinya dengan akhlak para nabi; yang perbuatannya merupakan terjemahan hukum al-Quran dan as-Sunnah. Mereka adalah orang-orang yang berkata kepada orang-orang yang zalim tentang kezalimannya. Mereka memperbaiki apa yang rusak dan meluruskan apa yang bengkok. Mereka tidak gentar terhadap siapa pun dan tidak takut celaan para pencela karena Allah SWT. Mereka tidak takut kepada para penguasa zalim atau para diktator karena mereka mengimani sabda Rasululullah Muhammad saw., “Siapa saja yang melihat penguasa zalim, menghalalkan apa yang Allah haramkan, melanggar janji-Nya, menyalahi Sunnah-Nya, memperlakukan hamba-Nya dengan dosa dan permusuhan, kemudian dia tidak mengubah semua itu baik dengan perbuatan maupun ucapan, maka hak Allah untuk memasukan mereka ke dalam neraka.” (HR ath-Thabrani dalam At-Târîkh dan Ibnu al-Atsir dalam Al-Kâmil).

Mereka pun mengimani firman Allah SWT:

وَإِذَ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ
(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kalian sembunyikan.” (QS Ali Imran [3]: 187)

Wajib Menjaga dan Memuliakan Ulama

Karena itu umat, khususnya penguasanya, wajib menjaga ulama mereka. Tidak boleh umat dan penguasa berdiam diri terhadap teror yang ditujukan kepada para ulama. Umat dan penguasa harus menjaga ulama mereka secara fisik dan langsung, juga dengan membangun opini bahwa betapa penting dan berharganya keberadaan ulama di tengah-tengah umat. Bila ulama ini hilang maka hilanglah mutiara dan penerang kebaikan di tengah umat.

Karena itu umat dan penguasa wajib memuliakan para ulama dan siapapun—khususnya penguasa—haram memusuhi mereka. Pasalnya, Rasulullah saw. telah bersabda: 

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ
Siapa saja yang memusuhi waliku maka Aku memaklumkan perang kepada dirinya (HR al-Bukhari). []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ 
Sungguh orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkan semua itu kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati  oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati (QS al-Baqarah [2]:159). []

Sumber : Buletin Kaffah_29_7 Jumada ats-Tsaniyah 1439 H- 23 Februari 2018 M
loading...
Powered by Blogger.