Image result for kaum munafik di alqur'an

Tafsir Annur 48-50: Ciri Kaum Munafik, Diskriminatif Terhadap Hukum Syara’

Oleh: KH. Rokhmat S. Labib, M.E.I.

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (50)

”Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim” (TQS al-Nur [4]: 48-50).

Ayat ini memberitahukn di antara ciri orang-orang munifk. Menurut ayat ini, sikap dasar kaum Munafik itu adalah menolak syariah. Ini dengan jelas dapat dipahami dari ayat ini:

إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang
Ketika diajak untuk berhukum dengan hukum ALlah Swt dan rasul-Nya mereka berpaling. Mereka menolak.

Jika suatu saat mereka terlihat bersedia tunduk terhadap keputusan syariah, bukan berarti mereka telah berubah sikap. Namun ketundukan mereka disebabkan karena kesuaian mereka dengan keputusan syariah. Sikap itu dideskripsikan dalam ayat selanjutnya. Allah Swt berfirman:

وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ

Tetapi jika keputusan itu untuk [kemaslahatan] mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh
Kata لَهُمُ الْحَقُّ berarti hak buat mereka. Sementara kata مُذْعِنِينَ, menurut al-Thabari berarti tunduk kepada hukumnya, membenarkannya, dan tanpa tanpa paksaan. Al-Zujjaj, sebagaimana dikutip al-Syaukani, mengartikannya sebagai bersegera untuk taat.  

Dengan demikian, frasa ini memberikan makna: apabila seruan kepada syariah itu menguntungkan mereka, maka mereka bersedia tunduk datang kepada Rasulullah saw atau keputusan syariah.

Sebaliknya, demikian kata Ibnu Katsir, jika keputusan itu merugikan mereka, maka mereka segera berpaling dan mengajak kepada selain yang haq dan bertahkim kepada selain Rasulullah saw. Hal itu disebabkan karena ketundukan mereka tidak didasarkan kepada keyakinan bahwa keputusan syariah itu benar, namun karena kesesuaannya dengan hawa nafsu mereka. Sehingga jika keputusannya bertabrakan dengan hawa nafsunya, mereka menolak dan berpaling kepada yang lain.
Jelaslah bahwa menolak syariah merupakan sikap dasar kaum Munafik. Kalaupun mereka mau menerima, sikapnya amat diskriminatif. Ada hukum-hukum yang diterima, dan ada yang ditolak. Penetapan atasnya ditentukan oleh selera hawa nafsu dan kepentingannya.

Jika cocok dengan selera hawa nafsu dan kepentingannya, mereka bersedia mengambilnya. Sebaliknya, jika bertentangan dengan selera dan kepentingannya, sudah pasti akan ditinggalkan. Bahkan, tak menutup kemungkinan mereka mencerca dan menistakannya.

Sikap tersebut jelas berbeda dengan sikap kaum Mukmin. Kaum Mukmin tidak pernah menolak syariah, apa pun keputusannya. Apakah menguntungkan diri mereka atau tidak, mereka tetap tunduk dan patuh terhadapnya. Bagi mereka, ketetapan syariah pasti benar dan wajib diterima. Sikap itu digembarkan dalam firman Allah Swt:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan; ”Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS al-Nur [24]: 51).

Hatinya Sakit, Ragu, atau Dzalim

Penolakan mereka terhadap syariah itu muncul bukan tanpa sebab. Sikap itu disebabkan karena dalam hati mereka terdapat penyakit.

 Allah Swt berfirman:
أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

Apakah itu [karena] dalam hati mereka ada penyakit?).
Sebagaimana dinyatakan al-Baghawi, istifhâm  atau kalimat tanya dalam ayat ini mengandung makna mengandung celaan terhadap mereka. Artinya, dalam hati mereka benar-benar terjangkit penyakit.

Menurut al-Razi, penyakit di dalam hati mereka itu adalah kemunafikan. Keberadaan penyakit dalam hati kaum Munafik ini juga dikemukakan dalam beberapa ayat, seperti dalam  firman Allah Swt:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS al-Baqarah [2]: 10.).

Atau disebabkan oleh faktor lainnya:
أَمِ ارْتَابُوا

Atau [karena] mereka ragu-ragu?
Termasuk menjadi penyebab sikap mereka adalah karena ada keraguan dalam hati mereka. Tentang ini, juga diberitakan dalam firman Allah Swt:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah ‘alâ harf (dengan berada di tepi); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, an jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. (TQS al-Hajj [22]: 11).

Makna frasa عَلَى حَرْفٍ (berada di tepi) dalam ayat ini menurut Mujahid adalah ‘alâ syakk (dalam keraguan).

Kemungkinan sebab lainnya:

 أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ

Ataukah [karena] takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka?
Ini juga menjadi penyebab lainnya sikap mereka. Mereka amat takut jika keputusan syariah itu merugikan kepentingan mereka. Sebagai orang kafir, tentu saja banyak sekali selera mereka yang bertentangan dengan syariah. Riba, zina, miras, korupsi, dan berbagai larangan syariah amat mungkin menjadi kegemaran mereka.

Sebaliknya, shalat, zakat, puasa, dakwah, jihad, dan berbagai kewajiban syariah lainnnya dirasakan mereka amat memberatkan. Mereka pun menuduh semua ketetapan hukum itu mendzalimi mereka; dan oleh karenanya mereka pun menolak ketentuan itu.

Tuduhan itu jelas salah. Seluruh hukum-Nya pasti benar dan adil (lihat QS al-An’am [6]: 115). Allah Swt juga sama sekali tidak pernah mendzalimi hamba-Nya (lihat QS Ali Imron [3]: 182, al-Anfal [8]: 51). Jika demikian, maka sesungguhnya bukan Allah Swt dan Rasul-Nya yang dzalim, namun merekalah yang justru orang yang dzalim. Allah Swt berfirman: Bal ulâika hum al-zhâlimûn (sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim). Sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Maidah [5]: 45, orang-orang yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan-Nya, adalah orang-orang dzalim. Demikian juga kekafiran mereka. Sesungguhnya kemusyrikan adalah kedzaliman yang amat besar (lihat QS Luqman [31]: 13).

 Demikianlah karakter Munafik dan akibatnya. Semoga kita dijauhkan dari sifat tersebut. 
WaLlâh a’lam bi al-shawâb.

wanita arab di stadion
Pewaris tahta Arab Saudi, Muhammad Bin Salman, yang dikenal dengan nama inisial MBS baru-baru ini diwawancarai oleh CBS, sebuah jaringan televisi Amerika.
Dalam wawancara pertamanya dengan saluran televisi Amerika itu, dia membahas banyak masalah dari masalah ekonomi hingga reformasi sosial yang dilakukan secara masif.
Dia juga mendiskusikan rencana emansipasi wanita Saudi dengan memberikan mereka hak yang sama seperti hak yang diberikan kaum laki-laki seperti: hak untuk memulai bisnis, bergabung dengan dinas militer, menghadiri konser dan acara olahraga dan hak untuk mengemudi dll.
Dia juga mengatakan bahwa kaum wanita boleh memakai pakaian yang layak dan pakaian terhormat sebagaimana kaum laki-laki dan keputusan itu sepenuhnya diserahkan kepada kaum wanita untuk memutuskan jenis pakaian yang layak dan hormat yang mereka pilih untuk dipakai.
Dia juga menunjukkan kekhawatirannya bahwa hanya 22 persen kaum wanita Saudi yang bekerja di luar rumah sehingga dia mendorong lebih banyak dari mereka untuk bergabung dalam angkatan kerja negara itu.
Dia juga mengatakan bahwa pada hari ini, kaum wanita Saudi tidak mendapatkan hak penuh meskipun hak-hak mereka telah ditetapkan dalam Islam tetapi karena mereka telah sedemikian maju, hanya ada cara singkat untuk menetapkan hak-hak penuh kaum wanita Saudi.
Komentar:
Telah diketahui oleh dunia termasuk kaum Muslim apa yang terjadi di Arab Saudi dengan dalih memerangi korupsi, reformasi sosial dan emansipasi wanita. Ini juga bukan rahasia bagi dunia bahwa selama beberapa dekade, Arab Saudi memiliki hubungan seperti seorang budak dan tuan dengan pemerintah AS yang berkuasa berturut-turut. Sekarang, rezim Saudi Arabia saat ini yang dipimpin oleh Raja Salman yang berusia 82 tahun dan putranya yang memiliki kekuasaan yang kuat, Muhammad Bin Salman (MBS) melakukan hal terbaik untuk membuktikan kesetiaan mereka sepenuhnya kepada tuan mereka yang berumur puluhan tahun.
Meskipun banyak wanita Saudi menyambut gagasan MBS tentang apa yang disebutnya sebagai “emansipasi” wanita Saudi dan memimpikan sebuah negara di mana mereka akan menyingkirkan segala macam pelanggaran dan akan mendapatkan hak-hak dan kebebasan tertinggi tetapi kenyataannya jauh api dari panggang. Sebagian alasannya adalah sebagai berikut:
1 – Definisi sebenarnya dari emansipasi wanita tidak ada hubungannya dengan hak mengemudi, atau hak untuk memulai bisnis sebagaimana kaum laki-laki atau pergi ke gedung konser atau menonton olahraga. Jika memang demikian, maka para wanita di Barat akan menjadi wanita paling bahagia di dunia dan bebas dari segala macam pelanggaran dan eksploitasi. Menurut sebuah laporan terbaru dari Gallup, lebih dari satu dari tiga wanita di AS takut diserang secara seksual dan dari 77 negara yang melaporkan ke PBB, Swedia, Inggris, Botswana dan Australia memiliki tingkat kekerasan seksual tertinggi yang dilaporkan. AS khususnya, memiliki tingkat pemerkosaan yang tinggi. Oleh karena itu, jelaslah bahwa bagaimana konsep “kebebasan dan pembebasan” barat telah membawa malapetaka bagi kehidupan kaum wanita di barat dan mengubahnya menjadi komoditas seksual belaka untuk memenuhi hasrat laki-laki yang tidak tahu malu.
2 – Atas nama Islam moderat, MBS sebenarnya mensekulerkan negara sesuai keinginan tuannya. Di masa lalu, para penguasa negara itu berturut-turut menerapkan Wahabisme, bentuk Islam yang terdistorsi yang diciptakan oleh Inggris, yang mengeksploitasi dan mensalahgunakan kaum wanita atas nama Islam. Dan sekarang MBS akan mensekulerkan negara dengan memberantas setiap jejak Islam. Jadi, di bawah bendera kebebasan dan pembebasan, kaum wanita Saudi sekarang akan menghadapi penundukan dan eksploitasi yang berbeda. Tidak ada keraguan bahwa dalam waktu dekat, kebebasan palsu ini akan menghapus martabat mereka sebagai wanita Muslim dan mengubahnya menjadi komoditas seksual pada perusahaan-perusahaan multi-nasional.
3 – Meskipun MBS telah mengakui bahwa Islam menjamin hak-hak wanita Muslim tetapi wanita Saudi perlu memahami bahwa Arab Saudi yang sekuler dengan kelas penguasa bonekanya telah meninggalkan Islam dan tidak akan pernah menerapkan hukum Syariah untuk melindungi hak-hak kaum wanita Saudi yang diberikan oleh Islam.
Setiap wanita Muslim yang sadar akan sejarah Islam yang agung, tahu bahwa di bawah wanita pemerintahan Islam, wanita Muslim telah mencapai tingkat tertentu dalam hal partisipasi politik mereka, mengelola urusan ekonomi, mengikuti kegiatan sosial, menyalurkan aspirasi mereka dari tingkat pendidikan yang lebih tinggi mulai dari astronomi hingga kedokteran, dan yang paling penting, martabat dan keselamatan sebagai manusia berada di luar pemahaman terhadap apa pun yang disebut sebagai wanita liberal Barat. Sepanjang sejarah Islam, hukum Syariah melindungi hak-hak wanita Muslim sebagai anak perempuan, istri dan ibu. Dan Negara Khilafah menggambarkan mereka sebagai kehormatan negara, dimana kehormatan dan martabatnya itu tidak dapat diganggu gugat dengan cara apa pun. Oleh karena itu, untuk mendapatkan emansipasi sejati, dengan mengikuti jejak kaum wanita sahabat Rasulullah ﷺ, kaum wanita Saudi harus berjuang untuk mengembalikan sistem Islam sejati di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang kedua dan membuang semua konsep-konsep palsu lainnya tentang kebebasan dan emansipasi.
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Fehmida Binte Wadud

Jubir hti usai sidang ptun 18 januari 2018
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menilai jawaban ahli tata negara dari pemerintah Prof Dr Satya Arinanto tidak sungguh-sungguh dalam memosisikan diri sebagai ahli.
“Sudah sangat politis jawaban-jawabannya saksi ahli tadi,” ujarnya kepada mediaumat.news usai mengikuti persidangan gugatan HTI melawan Kemenkumham, Kamis (29/3) di Pengadilan Tatat Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur.
Dalam Sidang, Ismail  juga menanyakan kepada ahli kalau atheism, leninisme dan komunisme dalam UU Ormas kan disebut sebagai paham yang bertentangan dengan Pancasila. Apakah sosialisme dan kapitalisme bisa dikatakan sesuai atau bertentangan dengan Pancasila? Itu kan sebenarnya bertentangan dengan Pancasila. Tapi ahli tidak jawab sesuai atau bertentangan.
“Sebenarnya secara keilmuan itu bisa dijawab, baik itu ‘sesuai’ atau ‘bertentangan’ tapi ahli kemudian mengatakan bahwa itu bukan keahlian saya. Lho, kalau bukan keahlian mengapa tadi ngomong bahwa Pancasila itu tidak bisa dirubah dengan ideologi lain? Pertanyannya, ideologi lain itu apa?” beber Ismail.
Ismail pun sangat menyesalkan sikap ahli seperti itu. Karena sidang ini memerlukan pendapat dari ahli yang bertumpu pada pengetahuan dan pengalamannya, bukan pada sikap politik. “Kalau sudah masuk ke sikap  politik itu sudah bukan lagi benar dan salah tapi dia sudah berada di posisi mana?” katanya.
Ia juga melihat ahli sudah di posisi sebagai pembela dari kuasa hukum tergugat (pemerintah). “Akhirnya kita tidak dapat pencerahan di sidang tadi, padahal di sidang tadi kami memerlukan pencerahan untuk bisa menilai secara subtansi apakah tindakan akan pemerintah ini benar atau salah bukan ke arah hukum politik,” pungkasnya.
Sumber : Mediaumat.news

bu rini

Setelah kasus yang menimpa Asma Dewi, kini seorang ibu dari Bandung kembali ditangkap oleh aparat kepolisian, Rini Sulistyowati ditahan karena dianggap telah menyebarkan konten SARA, dan manipulasi konten elektronik.
“Jadi kami sedang menangani kasus yang menyita perhatian publik, yaitu barisan emak-emak ke dua setelah Asma Dewi, dia adalah Ibu Rini Sulistyowati, beliau didakwa oleh jaksa karena dianggap menyebarkan konten SARA dan dianggap pula melakukan manipulasi terhadap terhadap konten elektronik yang dianggap otentik,” jelas Ahmad Khozinuddin SH, dari Advokat Bela Islam.
Kejadian ini bermula saat Rini menyebarkan konten yang menyinggung PDIP, diketahui bahwa konten tersebut diduga hoax oleh penyidik, setelah itu dilakukan penangkapan dan penahanan. Rini kini terancam hukuman 6 hingga 12 tahun penjara.
Namun fakta di persidangan, penyidik tidak mampu menunjukkan bukti-bukti kuat, bahkan hingga 3 kali persidangan bukti URL tidak bisa ditampilkan oleh penyidik.
“Fakta persidangan menunjukkan sesuatu yang sangat absurd, terkait bukti online, seharusnya penyidik mampu menghadirkan bukti URL, namun hingga 3 kali sidang, mereka tidak mampu menunjukkan bukti URL yang bisa kami lihat dari bukti awal yaitu screenshot. Ini persoalan yang sumir,” jelas Ahmad.
Lalu hingga sidang terakhir penyidik tidak juga mampu memperlihatkan pembanding yang menunjukkan konten asli dan palsu.
“Persoalannya penyidik hanya menunjukkan dari satu akun Facebook yang itu dianggap asli, padahal itu juga bisa tidak bisa menunjukkan konten yang benar, lalu itu hanya diambil dari satu akun yang bernama jogokariyan, dan penyidik tidak juga melakukan verifikasi faktual, seperti langsung datang ke tempat baliho yang terdapat di konten tersebut,” kata Ahmad.
Ahmad menuturkan apabila terdapat bukti-bukti yang kuat, kami tidak akan menutup kemungkinan terhadap putusan hakim, karena putusan akan dikeluarkan secara adil, namun yang terjadi adalah penyidik tidak bisa menunjukkan bukti-bukti tersebut.
“Tidak ada yang bisa menguatkan tuduhan tersebut, dan yang menjadi masalah selama ini juga klien kami sudah ditahan dalam waktu yang cukup lama, sudah menjadi tersangka dan ditahan dan HP ibu Rini juga sudah ditahan kami pun tidak tahu bagaimana caranya URL itu bisa hilang,” ungkapnya.
Ahmad menambahkan, melihat dari kasus yang menimpa kliennya dan Asma Dewi jangan membuat takut masyarakat untuk memberikan kritik kepada pemerintah, sepanjang itu bisa dipertanggung jawabkan.
“Semua pihak masyarakat jangan takut dan sebenarnya mempunyai hak untuk menyampaikan kritik agar bangsa ini menjadi lebih baik. Sepanjang kritik itu faktual, tidak menimbulkan fitnah, dan bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Ahmad juga meminta kepada penyidik agar melakukan pendekatan lain terhadap kasus yang serupa, jangan sampai banyak kasus dengan tuduhan sumir seperti ini banyak masuk ke pengadilan.
“Kasus yang menimpa klien kami juga kan politik yang membawa nama PDIP, kenapa juga bukan PDIP yang melaporkan, ini pelaporan dari penyidik sendiri. Tidak semertalah kasus ujaran ini sedikit-dikit dituduh dan ditindak, kalau ingin begitu pun harus equal, banyak kasus yang seperti ini harusnya masuk pidana,” jelasnya.
Dan konten yang terkait pun masih ada bertebaran, kenapa hanya Rini yang dituduh. Menurut Ahmad, Ini akan menimbulkan sangkaan publik bahwa aparat tidak adil.
Dalam pantauan mediaumat.news sidang terakhir seharusnya dilakukan pada Rabu 28 Maret di Pengadilan Jakarta Selatan, namun karena saksi dari jaksa penuntut umum tidak hadir dengan alasan hujan, sidang pun ditunda.[]

sumber : Mediaumat.news

Image result for isra mi raj

Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rajab adalah Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Begitu pentingnya, peristiwa ini diperingati oleh sebagian kaum Muslim, termasuk di Tanah Air. 

Menurut riwayat Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqât (1/213), kejadian ini berlangsung pada delapan belas bulan sebelum Rasulullah saw. dan kaum Muslim hijrah ke Madinah. Peristiwa Isra Mikraj yang diabadikan di dalam Kitabullah ini tentu memiliki banyak ibrah (pelajaran) yang amat penting, baik bagi diri Rasulullah saw. maupun untuk kaum Muslim. Sepanjang Isra Mikraj, Allah SWT memperlihatkan berbagai tanda kebesaran-Nya kepada Rasulullah saw. Pantaslah jika Allah SWT sampai mengingatkan kita semua akan peristiwa ini dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dialah Zat Yang Maha Mendengar lagi Mahatahu (TQS al-Isra’ [17]: 1).


Arti Penting Bagi Rasulullah saw.
Dakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul sungguh bukanlah amal yang mudah. Mereka mengalami ujian yang amat berat dalam menyampaikan kalimatullah. Mereka berhadapan dengan para penentang dakwah, yakni para pendukung status quo kemusyrikan dan peradaban jahiliah. Bukan saja terjadi benturan secara pemikiran, namun tindakan serangan secara fisik semisal persekusi hingga penganiayan harus dirasakan oleh para utusan Allah SWT tersebut. Hal yang sama juga dialami oleh Nabi kita, Muhammad saw., hingga Allah SWT pun menguatkan hati beliau dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا... 
Sungguh telah didustakan (pula) para rasul sebelum kalian, tetapi mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) atas diri mereka hingga datang pertolongan Kami kepada mereka... (TQS al-An’am [6]: 34).


Beratnya beban dakwah yang dirasakan oleh Rasulullah saw. kemudian dipulihkan oleh Allah SWT. dengan perjalanan Isra Mikraj. Berbagai tanda kebesaran Allah SWT atau kemukjizatan Dia perlihatkan ke hadapan Nabi saw. seperti kendaraan buraq yang dapat melaju kencang; juga wilayah Sinai, Golan dan lainnya yang kemudian hari berhasil ditaklukkan ke dalam wilayah kaum Muslim. Allah SWT pun memperlihatkan sebagian isi neraka. Allah SWT juga mengangkat beliau hingga ke Sidratul Muntaha untuk berdialog dengan-Nya dan menerima perintah shalat.

Seluruh kejadian dalam peristiwa Isra Mikraj sungguh telah mengangkat kembali moril Baginda Nabi saw. dan mampu memupus duka yang telah beliau alami kala itu.


Keteladanan Iman Abu Bakar ra.

Jika Isra Mikraj adalah perjalanan yang demikian bermakna bagi Rasulullah saw., lalu apa makna Isra Mikraj bagi kaum Muslim? Dengan indah Ibnu Ishaq menuliskan, “Sungguh pada peristiwa Isra yang beliau jalani dan apa yang beliau sebutkan di dalamnya terdapat ujian, seleksi dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk dan rahmat pengokohan bagi orang yang mengimani dan membenarkan kekuasaan Allah.” (Ibnu Hisyam, 1/396).

Mendengar peristiwa Isra Mikraj yang mustahil diterima akal, kaum musyrik Quraisy menjadikan peristiwa itu sebagai celah untuk meruntuhkan keimanan kaum Muslim. Mereka menghasut sebagian orang yang telah masuk Islam agar kembali murtad dari agama Allah SWT. Mereka berdalih, bagaimana mungkin seorang manusia dapat menempuh perjalanan yang amat jauh dalam waktu yang amat singkat, kemudian bercerita bahwa dia dinaikkan ke langit dan bercakap-cakap dengan Pencipta dan Pengatur alam semesta ini?

Sebaliknya, hal menakjubkan justru ditunjukkan oleh Abu Bakar ra. Sama sekali tak ada keraguan yang dapat membuat keimanannya guncang. Abu Bakar ra. malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., ”Demi Allah, jika itu yang ia katakan, sungguh ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian?”

Setelah itu Abu Bakar ra. mendatangi Rasulullah saw. dan meminta beliau menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis. Setelah beliau menjelaskan dengan lengkap, Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah!” Rasulullah saw. menjawab, “Engkau Abu Bakar adalah ash-Shiddiq (yang selalu membenarkan)!”

Inilah keteladanan dalam keimanan yang semestinya diikuti oleh umat sepanjang zaman. Pasalnya, di antara ciri seorang Mukmin yang bertakwa adalah mengimani seluruh perkara yang dibawa oleh Rasulullah saw., termasuk di dalamnya perkara gaib, tanpa sedikit pun keraguan.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) 
Alif lam mim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang mengimani perkara gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka (TQS al-Baqarah [2]: 3-3).

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menunjukkan keteguhan imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam. Sikap seperti inilah yang selayaknya diteladani oleh kaum Muslim pada hari ini. Tidak goyah keimanannya saat kaum kuffâr mencoba menghasut dan menyebarkan provokasi yang menyesatkan. Sedikitpun tidak ada keraguan.


Ironi Hari Ini

Mari kita bandingkan dengan kondisi hari ini. Di tengah gempitanya peringatan Isra Mikraj di berbagai pelosok negeri, justru keteguhan iman Abu Bakar ra. tak lagi menjadi teladan. Seruan yang mengajak pada penegakan akidah dan syariah Islam bukan saja ditolak, tetapi bahkan dihadang dengan kriminalisasi dan dilabeli sebagai radikalisme agama.

Hari ini sebagian Muslim justru ramai-ramai menolak dan menghujat agamanya sendiri, bahkan dalam perkara yang telah jelas (qath’i) sekalipun. Di mana-mana kita sering mendengar seruan pluralisme agama, menyamakan risalah Islam dengan agama lainnya. Padahal telah jelas agama yang diterima Allah SWT hanyalah Islam, sementara yang lainnya tertolak. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ... 
Sungguh agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam... (TQS Ali Imran [3]: 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Siapa saja yang mencari agama selain Islam, sekali-kali agama itu tak akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (TQS Ali Imran [3]: 85). 

Berbagai ceramah yang menyatakan kebenaran Islam serta menjelaskan kebatilan agama dan kepercayaan lain justru dituding mengancam kebhinekaan. Sebaliknya, ajaran sesat seperti Ahmadiyah atau kelompok Lia Eden dibiarkan terus bercokol. Padahal kebatilan telah tampak dalam keyakinan mereka. Mereka bahkan nyata-nyata telah menistakan ajaran Islam. Padahal Abu Bakar ash-Shiddiq saat menjabat khalifah justru bersegera memerangi nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab dan Aswad al-’Ansi. Sungguh ironi.

Demikian pula hukum-hukum Islam yang statusnya qath’i (tegas), kini banyak diragukan bahkan ditolak oleh sebagian kaum Muslim. Ketika ada sebagian umat yang menyuarakan keharaman pemimpin kafir, misalnya, mereka malah dihujat dengan alasan anti-kebhinekaan, anti-kebangsaan, dll. Padahal nas-nas yang menjelaskan hukum itu telah begitu tegas dan jelas.

Keharaman LGBT yang ditetapkan Rasulullah saw. juga dipertanyakan. Berbagai dalih yang tak masuk akal dan mengada-ada dicari-cari untuk melegalkan keberadaan kemungkaran kaum LGBT.

Seruan penerapan syariah Islam dan penegakan Khilafah Islam juga terus-menerus dikriminalisasi. Mereka menuduh Khilafah sebagai karangan ulama semata dan disuarakan oleh kelompok tertentu saja. Para pencela dan penentang Khilafah seolah mengabaikan pendapat para ulama mu’tabar (terkemuka) yang berabad-abad silam telah menyatakan kewajiban menegakkan Khilafah atas kaum Muslim. Al-’Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, mengatakan, “Para imam mazhab telah bersepakat bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah.” (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, XII/205).

Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan Imamah (Khilafah) di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada Ijmak Sahabat. (Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).


Teguhkan Keimanan!

Wahai kaum Muslim! Mengapa sikap dan keteladanan Abu Bakar ash-Shiddiq belum menjadi pelajaran bagi kita semua? 

Abu Bakar mendapatkan gelar ash-Shiddiq karena tak pernah sehelai rambut pun meragukan risalah Islam. Karena itulah beliau menjadi salah satu dari sepuluh orang yang dijamin mendapatkan jannah. Karena itu pula, jika kita menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah SWT, maka teguhlah dalam keimanan, sebagaimana Abu Bakar ra. 

Keteguhan dalam keimanan akan tampak nyata dalam ketaatan pada hukum-hukum Allah SWT. Tanpa ketaatan pada syariah-Nya, iman seseorang tentu cacat. [] 


Hikmah:

Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65). []

sumber : Buletin Kaffah_34_12 Rajab 1439 H – 30 Maret 2018 M

Image result for pengumuman pencabutan bhp hti

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

Ada hal yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Prof Zudan Arif Fakrulloh, SH MH, ahli yang dihadirkan Pemerintah saat memberikan keterangan dalam persidangan gugatan HTI melawan Kemenkumham di PTUN Jakarta (Kamis, 29/03/2018). Ahli memberikan pisau bedah analisis untuk menilai sah atau tidaknya sebuah Keputusan Tata Usaha Negara.
Kepada audiens, ahli menjelaskan 3 (tiga) aspek yang patut diperhatikan dan harus dipenuhi oleh seorang pejabat TUN dalam mengeluarkan keputusan Tata Usaha Negara.
Pertama, aspek kewenangan. Pejabat TUN yang mengeluarkan KTUN memiliki wewenang untuk mengeluarkan KTUN, baik kewenangan Atributif, delegatif dan kewenangan mandat.
Kedua, aspek prosedur. Artinya, keputusan TUN yang dikeluarkan pejabat atau badan TUN telah memenuhi prosedur dalam mengeluarkan KTUN, baik berdasarkan peraturan perundangan atau peraturan internal pejabat atau badan TUN yang mengeluarkan KTUN.
Ketiga, aspek substansi. Artinya, keputusan TUN dikeluarkan berdasarkan norma, kaidah dan asas yang benar.
Kita harus akui, bahwa sejak dikeluarkannya Perppu No. 2 tahun 2017 yang kemudian disahkan menjadi UU No. 16 tahun 2017, Kemenkumham mendapatkan wewenang Atributif untuk mencabut secara sepihak status pengesahan badan hukum Ormas (BHP HTI), tanpa proses pengadilan dengan dalih asas contrarius actus.
Betapapun hal ini ironis, tetapi faktanya Perppu Ormas telah memindahkan otoritas (wewenang) pencabutan status badan Ormas dari vonis pengadilan menjadi sepihak ditangan penguasa (Kemenkumham).
Dengan berbagai kontroversi dan banyaknya kritik atas hilangnya due proces of Law akibat dikeluarkannya Perppu Ormas, faktanya penguasa telah diberi wewenang sepihak oleh Perppu Ormas untuk mencabut pengesahan status badan hukum ormas.
Namun, untuk aspek prosedur dan substansi keputusan TUN yang dikeluarkan Kemenkumham yang mencabut status badan hukum ormas HTI memiliki banyak cacat.
Secara prosedur, baik melalui rezim UU Ormas atau menggunakan rezim Perppu Ormas, sanksi pencabutan status badan hukum Ormas harus didahului dengan pemberian sanksi administratif sebelum sanksi akhir berupa pencabutan status badan hukum ormas diterbitkan. Pencabutan status Badan Hukum Ormas bersifat Ultimum Remidium.
Jika merujuk UU Ormas, pencabutan badan hukum ormas harus didahului dengan tindakan administratif berupa pemanggilan mediasi, pemberian sanksi atau peringatan tertulis (SP1-SP3), pembekuan sementara merujuk fatwa Mahkamah Agung, baru kemudian pengajuan permohonan pencabutan status badan hukum di pengadilan (pasal 60 s/d 82 UU Ormas).
Adapun merujuk Perpu Ormas, dalam ketentuan Pasal 62 disebutkan :
(1) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1) huruf a diberikan hanya 1 (satu) kali dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak 
tanggal diterbitkan peringatan.

(2) Dalam hal Ormas tidak mematuhi peringatan tertulis dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud 
pada ayat (1), Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang 
hukum dan hak asasi manusia sesuai dengan kewenangannya menjatuhkan sanksi penghentian 
kegiatan.
(3) Dalam hal Ormas tidak mematuhi sanksi penghentian kegiatan sebagaimana dimaksud pada 
ayat (2), Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia sesuai dengan 
kewenangannya melakukan pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan 
hukum.

Dalam konteks pencabutan status hukum badan hukum HTI, Pemerintah menisbatkan diri memiliki wewenang untuk mencabut tetapi tidak mengindahkan prosedur pencabutan.
Pemerintah tidak pernah mengeluarkan peringatan tertulis dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak diterbitkan, tidak pula menunjukan bukti HTI tidak mematuhi sanksi administrasi yang dikeluarkan.
Artinya, secara prosedur Pemerintah (Kemenkumham) telah melanggar prosedur pencabutan status badan hukum ormas baik yang diatur melalui UU ormas maupun melalui Perppu Ormas.
Pemerintah tidak pernah mengajak mediasi, dialog, memberi peringatan, memberi tahu ketidakpatuhan atas peringatan, namun sekonyong-konyong Pemerintah mengeluarkan KTUN yang mencabut status badan hukum ormas HTI pada tanggal 19 Juli 2017.
Adapun secara substansi pencabutan status badan hukum ormas tanpa pengadilan dan tanpa menunjukan kesalahan ormas berikut bukti-buktinya, ini menunjukkan substansi pemerintahan yang diktator.
Memang benar, dalih yang selalu dinyanyikan secara berulang ulang yang dituduhkan Pemerintah kepada HTI adalah karena HTI dituding menganut, mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila (Pasal 59 ayat 4 huruf c Perppu Ormas).
Tetapi persoalannya, secara substansi Pemerintah tidak mampu menunjukan ajaran apa yang bertentangan dengan Pancasila ? Jika kemudian ajaran yang dituduh adalah ide Khilafah, padahal ide Khilafah itu ajaran Islam, maka bukankah ini sama saja menuding agama Islam dan kaum muslimin ? Jahat sekali Pemerintah jika demikian ?
Sampai saat inipun, tudingan substantif yang dialamatkan Pemerintah kepada HTI diambil dari peristiwa tahun 2013 dan kegiatan lain sebelum terbitnya Perppu ormas yang diundangkan 10 Juli 2017.
Jika demikian ini proses penegakan hukum atau sebuah operasi negara untuk mentarget Ormas ? Jika niatnya mentarget ormas HTI, maka diskusi hukum berbulan-bulan dan argumen menumpuk setinggi gunung tidak akan pernah ada nilainya. Masalahnya sudah ada niat jahat penguasa jika demikian.
Terakhir, tentu kita berharap pada majelis hakim dan seluruh umat Islam untuk objektif menilai persoalan. Tidak akan pernah beruntung suatu kaum, jika model penegakan hukum menggunakan pendekatan kekuasaan. Pada akhirnya, semua khalayak yang masih memiliki nalar dan nurani, pastilah akan objektif melihat persoalan. [].

Image result for hizbut tahrir
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.

Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

Ahli kedua yang dihadirkan Pemerintah Prof. Setya Arinanto, kembali dihadirkan untuk memberikan tafsir Khilafah bertentangan dengan Pancasila & UUD 1945. Kuasa hukum Pemerintah sepertinya ingin meneguhkan Pandangan bahwa HTI telah melanggar ketentuan pasal 59 ayat 4 huruf c, yang pada pokoknya HTI dengan khilafahnya dianggap menganut, mengemban dan menyebarluaskan paham atau ajaran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Nampaknya ada sesat fikir yang coba dinarasikan di forum persidangan. Khilafah Islamiyah, yang notabene ajaran Islam dan belum wujud nyata, baru sebuah diskursus opini dan pemikiran, dihakimi sebagai sebuah tindakan.
Ada soal yang sangat krusial, jika ajaran Islam khilafah dijadikan dasar pencabutan status badan hukum Ormas HTI karena dituding bertentangan dengan Pancasila.
Pertama, Khilafah adalah ajaran Islam yang bersumber dari dalil yang mu'tabar. Menuding Khilafah sebagai dasar pencabutan status BHP HTI sama saja menuding ajaran Islam yang dapat disimpulkan sebagai menuding ajaran Islam secara keseluruhan.
Kedua, menuding ajaran Islam Khilafah berarti menisbatkan ketidakadilan. Sebab, Khilafah itu belum wujud, baru berupa pemikiran. Khilafah tidak bisa berbuat sesuatu, baik untuk merealisir kemaslahatan maupun untuk menimbulkan kerusakan. Alangkah tidak fair, jika sebuah ide telah divonis sementara banyak tindakan aktual yang merongrong negara seperti : *Korupsi berjamaah partai politik, upaya pemisahan oleh Teroris OPM, serangan ratusan ton narkoba, pengrusakan fasilitas negara oleh gerakan anarkisme,* ternyata disikapi dengan kebijakan Pembiaran bahkan terkesan menumbuh kembangkan. Lantas, tafsir ancaman negara itu apa ? Apa subjektif oleh penguasa ?
Ketiga, pada faktanya mencabut status badan hukum suatu ormas karena menganut ajaran Islam Khilafah tidak akan pernah mampu memutus ikhtiar dan upaya perjuangan untuk menegakkan daulah Khilafah. Bagaimana mungkin Khilafah yang diperintahkan Allah SWT, bisa dianulir oleh kebijakan penguasa ? Kalau tujuan pencabutan status badan hukum Ormas dipandang akan mampu menghentikan kebangkitan Khilafah itu keliru besar.
Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah SAW. Tidak ada satupun janji Allah SWT yang diingkari, sehingga ikhtiar penguasa untuk mendeskreditkan ajaran Islam Khilafah adalah usaha yang sia-sia belaka.
Tudingan Pemerintah kepada ajaran Islam Khilafah ini juga tidak selaras dengan klaim Pemerintah atas Pancasila. Setya Novanto yang dahulu mengklaim sebagai "AKU PANCASILA" ternyata menjadi pesakitan kasus korupsi e KTP.
Semua partai politik yang mengklaim paling Pancasilais, ternyata juga disebut menerima aliran dana korupsi proyek e KTP. Artinya, frasa "Anti Pancasila" bukanlah norma hukum, lebih tepat disebut sebagai jargon politik yang dapat digunakan setiap saat untuk menggebuk lawan politik. Ingat, tidak ada satupun fakta persidangan e KTP yang menyeret ormas HTI.
Terakhir sebagai penutup, penulis menghimbau kepada segenap umat Islam agar tetap Istiqomah, sabar dan ikhlas dalam perjuangan. Yang menjadikan kita jatuh bukan besarnya ancaman dan hambatan, namun tergelincirnya diri pada maksiat dan kesesatan.
Karenanya, tetaplah taat dan terus menerus memohon pertolongan Allah SWT. Hanya Allah tempat bergantung dan meminta pertolongan. Tidak ada satupun makhluk yang mampu memberikan keburukan, tanpa izin dan kehendak Allah SWT.
Penulis ingin menuliskan satu ungkapan bijak :
"Pejuang itu menjadi tangguh atas ujian dan cobaan, menjadi jatuh karena maksiat dan kemalasan, serta pasti kalah tanpa pertolongan Allah SWT. Satu-satunya jalan menuju kemenangan, adalah pertolongan Allah SWT yang hanya bisa kita rengkuh, melalui aktivitas ketaatan".
Karena itu, tetaplah dalam ketaatan dalam semua urusan dan dalam semua keadaan. Semoga Allah SWT melindungi kita, Amien YRA. []

Foto Hadi Rasyidi.
Oleh Nasrudin Joha
Ya, hari ini mungkin banyak yang sudah tidak asing dengan istilah Khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menerapkan syariat Islam dan mengemban misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam.
Ingat ! Khilafah ya? Bukan Khilafiyah, Khofifah, bukan pula khazanah.
Khilafah akhir-akhir ini menjadi satu istilah yang menghebohkan. Sebagiannya menganggap ancaman serius. Wajar saja, ketika Khilafah tegak memang hukum syariat yang diterapkan akan menjadi ancaman serius para penjajah kafir dan antek-anteknya.
*Pertama
Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi Freeport, Newmont, Chevron, Conoco, Philips, Bumi Resources, Toba Energy, dan seluruh perusahaan tambang lainnya, baik asing maupun domestik. Kenapa? Karena begitu Khilafah tegak, sistem Islam ditegakkan, maka semua harta milik umum yang masuk kategori "Milkiyatul Ammah" seperti tambang, hutan, laut, harta-harta yang pada asalnya tidak boleh dimiliki oleh individu, semuanya akan diambil alih oleh Negara Khilafah.

Otomatis, berdasarkan syariah untuk mengambil alih tambang tersebut tidak dibutuhkan skema divestasi, tidak butuh kompromi untuk menghentikan kontrak karya, semua tambang secara sekaligus, serta merta dan seketika diambil alih kepemilikannya oleh negara Khilafah, tanpa kompensasi.
Khilafah hanya mempertimbangkan untuk menilai (aprasial) berapa investasi alat dan teknologi yang telah dibenamkan pada pertambangan, itupun bisa dikompensasikan dengan nilai penambangan yang selama ini sudah dilakukan. Jika tidak bersedia, perusahaan penambang dipersilakan angkat Kaki dan membawa seluruh alat dan mesin tambangnya.
*Kedua
Khilafah akan menjadi ancaman serius industri perbankan, baik bank umum maupun bank swasta. Keharaman riba, telah menjadi dasar bagi negara Khilafah untuk menghilangkan riba dan melarang transaksi ribawi di daulah Khilafah.

Semua gedung perkantoran jawatan perbankan negara, ditutup dan dialih fungsikan menjadi struktur Baitul Mal. Baitul Mal adalah sistem perbendaharaan keuangan Khilafah yang akan melayani kebutuhan anggaran negara dan pelayanannya kepada umat.
Beberapa fasilitas non ribawi yang ada pada perbankan diadopsi oleh Baitul Mal sebaga bentuk pelayanan negara kepada umat. Jadi, masih ada fasilitas menabung, transfer, kirim uang, tarik uang, dan yang semisalnya. Sementara seluruh konpensasi, baik karena menabung atau mengajukan kredit, berupa bunga-bunga perbankan dihapuskan.
Terbayang siapa ysng paling dirugikan ? Ya, sindikat perbankan yang dikuasai para bankir Yahudi.
*Ketiga
Khilafah akan menjadi ancaman serius bagi kapitalisme global dan sosialisme internasional. Sebab, Khilafah hanya akan menerapkan hukum Quran Sunnah, yang meniscayakan proteksi negara dari serangan pemikiran, budaya, sistem hukum dan politik dari asing yang memasuki negara Khilafah.

Ini ancaman serius bagi kapitalisme global. Mereka akan kehilangan akses sumber daya, pasar, dan kader-kader untuk melanggengkan penjajahan. Yang dimaksud kader ini adalah jongos kekuasaan, bisa yang ada di pemerintahan maupun di bidang lainnya.
*Keempat
ancaman serius bagi penguasa antek. Sebab, tanpa demokrasi sekuler yang diwariskan penjajah niscaya penguasa antek ini tidak mungkin duduk di kursi kekuasaan. Mereka hanya mampu berkuasa dengan persetujuan tuannya para kafir penjajah, atas manipulasi sistem demokrasi ysng diterapkan di negeri ini.

Jadi para penguasa antek yang saat ini menjalankan misi penjajahan asing aseng, adalah pihak yang sangat terancam atas tegaknya Khilafah.
Sementara empat poin saja pihak yang saya sebutkan terancam. Lantas, siapa saja sebenarnya pihak yang paling diuntungkan dengan tegaknya Khilafah ?
Pertama, seluruh umat akan diuntungkan karena semua harta kekayaan umat ysng masuk kategori milik umum seperti tambang, hutan, dan yang semisalnya dikelola oleh Khilafah. Kekayaan ysng super besar ini dijadikan modal bagi Khilafah untuk melayani kepentingan umat.
Pelayanan Khilafah juga tidak khusus diberikan kepada warga negara yang bergaya Islam, tetapi juga kepada ahludz dzimah (non muslim). Semua warga negara Khilafah, baik muslim maupun non muslim mendapat layanan dari Khilafah. Yang non muslim ikut Happy.
Tiga layanan utama yang akan diberikan Khilafah kepada warga negaranya tanpa memandang status agama, yang wajib diselenggarakan Khilafah yakni : 
1. sandang pangan papan, 
2. pendidikan dan Kesehatan. 
3. Keamanan.

Keamanan yang ditanggung negara, menjadikan engkoh dan encik tidak perlu lagi sewa satpam untuk mengamankan dagangannya. Khilafah lah yang akan memberi pengamanan, perlindungan, pengayoman kepada seluruh warga negaranya.
Dengan harta Milkiyatul amanah, rakyat tidak perlu dipungut pajak. Bahkan, negara Khilafah mengharamkan pajak bagi setiap warga negaranya. Bayangkan, kita tidak perlu ribet lagi SPT pajak. Bisnisnya juga lebih untung, karena tidak ada yang memalak.
Kedua, seluruh kaum muslimin akan diuntungkan dengan adanya ridlo dan berkah ekonomi. Karena riba dihilangkan oleh negara Khilafah, seluruh muamalat (transaksi) ekonomi dibangun berdasarkan akad sy'ari. Akan bermunculan syairkah-syirkah Islami balik mudlorobah, Inan, abdan, dan yang semisalnya.
Dengan taatnya negara dan rakyat pada hukum Allah, maka Bumi dan langit akan mengeluarkan perbendaharaan harta yang melimpah. Sungguh, akan benar-benar terjadi semua orang tercukupi kebutuhannya, sehingga sampai-sampai kelak orang kesulitan untuk menyalurkan harta zakat.
Ketiga, seluruh rakyat dan umat benar-benar akan menjadi hamba yang taat sempurna. Bayangkan, bagaimana jika seluruh rakyat diperintah taat dengan teladan seorang Khalifah yang taat. Seluruh kaum muslimin merasa Qonaah dalam ibadah, karena urusan kehidupannya selain telah diupayakan secara pribadi, negara Khilafah juga hadir untuk mencukupi.
Hari ini, umat terbelenggu kesyirikan. Negara diam. Umat terhimpit kelaparan, negara diam. Umat menderita sakit, negara diam.
Negara Khilafah, prinsipnya benar-benar akan memakmurkan bumi dan membebaskan penduduk bumi dari penghambaan kepada selain Allah SWT dan hanya menghamba, menyembah kepada Allah semata.
Jadi tergambar, betapa Khilafah itu bukanlah visi politik sesaat yang ecek-ecek. Jadi wajar, membutuhkan waktu dan kesabaran, juga wajar mendapat penentangan dan hambatan. [].

radikalisme
Oleh: Dr. Ahmad Sastra | Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia
Radikalisme : Genealogi dan Histori
Radikalisme adalah istilah yang dikonstruk oleh epistemologi Barat, bukan dari khasanah ajaran Islam. Radikalisme berasal dari kata radical atau  radix yang berarti “sama sekali” atau sampai ke akar akarnya. Dalam kamus Inggris Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disama-artikan (synonym) dengan kata “fundamentalis” dan “extreme”. ‘radikalisme’ berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada etimologi kata “akar” atau mengakar.
Secara historis, istilah fundamentalisme atau radikalisme muncul pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-19, untuk menunjukkan sikap gereja terhadap ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat modern serta sikap konsisten mereka yang total terhadap agama Kristen. Gerakan Protestan dianggap sebagai awal mula munculnya fundamentalisme.
Mereka telah menetapkan prinsip-prinsip fundamentalisme pada Konferensi Bibel di Niagara tahun 1878 dan Konferensi Umum Presbyterian tahun 1910, dimana saat itu mulai terkristalisasi ide-ide pokok yang mendasari fundamentalisme. Ide-ide pokok ini didasarkan pada asas-asas teologi Kristen, yang  bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan  yang lahir dari ideologi kapitalisme yang berdasarkan aqidah pemisahan agama dari kehidupan.
Istilah radikalisme mengalami semacam politisasi makna, istilah radikal oleh Barat kemudian dijadikan sebagai alat untuk menyerang dan menghambat kebangkitan Islam. Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan. Monsterisasi inilah yang kelak melahirkan islamophobia di Barat dan seluruh dunia. Ini adalah fakta sejarah, bukan ilusi apalagi fitnah. Menggunakan istilah radikal untuk Islam merupakan sebuah kerancuan epistemologi atau cacat intelektual dan cacat historis.
Inilah akibatnya jika menjadikan epistemologi Barat sekuler sebagai timbangan untuk menilai  Islam dan kaum muslim. Jika orang Barat melakukan tuduhan dan fitnah terhadap Islam, maka itu suatu kewajaran, namun jika dilakukan oleh seorang muslim, maka fitnah terhadap Islam bisa dikatakan sebagai bentuk pengkhiatan.
Padahal Allah telah dengan tegas agar menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai tempat kembali dan menimbang atas berbagai kondisi kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin mestinya bersatu dibawah ikatan aqidah Islam, bukan sekulerisme Barat. Perhatikan firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [QS An Nisa [4] : 59]
Meski demikian, jika obyektif, maka orang Baratpun akan melihat dan menilai Islam sebagai kebaikan bukan keburukan. Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151 menyatakan bahwa Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka.
Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik. Karena itu hanya orang yang tidak paham sejarah yang akan melakukan tuduhan bahwa Islam adalah agama intoleran, sebab sejarah justru menunjukkan kesempurnaannya dalam menghargai perbedaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan melalui berbagai istilah yang disematkan dalam kata Islam yang berasal dari Al Qur’an. Berbagai kata yang disematkan Allah setelah kata Islam misalnya kaffah, rahmatan lil’alamin dan washatiyah. Ketiganya memiliki pengertian khas yang sahih karena berasal dari Allah langsung. Sementara istilah-isilah yang disematkan setelah kata Islam banyak yang telah menyimpang dari al Qur’an karena berasal dari epistemologi Barat yang sekuler. Istilah Islam radikal lebih banyak mengandung unsur sentimentalitas dibandingkan intelektualitas.
Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan dengan holistisitas ajarannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini karena Islam merupakan ajaran terakhir yang dibawa oleh Nabi terakhir untuk seluruh manusia. Ajaran Islam meliputi ajaran tentang ekonomi, pendidikan, budaya, dan politik. Islam mengajarkan dari mulai urusan kecil seperti doa masuk kamar mandi hingga bagaimana membangun negara dan peradaban. Inilah Islam yang sesungguhnya yang datang dari Allah melalui Rasulullah.
Meski sepanjang sejarah, kesempurnaan Islam selalu mendapat tuduhan keji karena kebencian dan dendam sejarah. Bahkan Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan lebel dan kampling-kapling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi intelektual hingga fisik sesama muslim yang cenderung destruktif.  Akibatnya kini kaum muslim mengalami perpecahan dan bahkan hingga permusuhan.
Konstruksi epistemologi  Barat didasarkan oleh aliran pemikiran sekuleristik, liberalistik, pluralistik, skeptisistik, ateisitik, permisifistik, relatifistik dengan tujuan dekonstruksi epistemologi Islam. Istilah Islam radikal adalah bagian dari ghozwul fikr  yang bermuara kepada imperialisme epistemologi. Hasilnya umat Islam menjadi ragu kepada agamanya sendiri karena telah terjadi sinkretisme, pelarutan dan pembaratan ajaran Islam
Secara historis, serangan epistemologi Barat terhadap Islam memiliki tujuan utama untuk melumpuhkan ajaran Islam dan memecah belah kaum muslimin di seluruh dunia, melalui gerakan misionarisme dan orientalisme. Gerakan misionaris dan orientalisme berperan besar dalam pola dekonstruksi  ajaran Islam melalui apa yang disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah inilah pula yang telah menipu dan menyeret kaum intelektual muslim hingga mereka merasa bangga dengan pendekatan baru studi Islam kontemporer ini. Inilah cikal bakal lahirnya kaum liberal di dunia Islam.
Tokoh utama pengusung hermeneutika di dunia Islam adalah Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir) yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, juga Arkoun dari Afrika Utara yang kini di Eropa, serta Fazlur Rahman yang harus hengkang dari Pakistan ke Chicago Amerika. Kini para penerus mereka bertebaran di Indonesia dan bermarkas di berbagai perguruan tinggi Islam.
Setidaknya ada empat karakteristik dan tujuan Barat  melancarkan imperialisme epistemologi sebagai propaganda Barat menyerang Islam, Pertama, Harakah At Tasykik yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Diantara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang otentitas Al Qur’an, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad.
Dampak dari at tasykik adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. Jika masih ada seorang muslim yang secara fanatik memahami Islam maka mereka kemudian dicap sebagai fundamentalis, radikalis, islamist dan teroris.
Kedua, Harakah At Tasywih, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Mereka dengan gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media.
Islam dipresentasikan sebagai agama yang antagonistik terhadap ide-ide kebebasan, HAM, demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai Barat lainnya. Dampak dari tasywih ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamopobhia, pemujaan  kepada Barat
Ketiga, Harakah At Tadzwib, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran.  Dampaknya adalah terjebaknya umat Islam dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Sebab pluralisme menurut WC Smith bermakna transendent unity of religion (wihdat al adyan), dan global teologi menurut John Hick.
Keempat, Hakarah At Taghrib yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum muslimin. Paradigma Barat dijadikan sebagai kiblat kaum muslimin dengan meninggalkan tsaqafah Islam. Melalui berbagai bidang seperti fun, fashion, film, dan food, Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Islam : Agama Dakwah Perdamaian dan Anti Kolonialisme
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik [QS Ali Imran : 110]
Islam diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW sebagai agama perdamaian. Kata Islam itu sendiri secara etimologi berarti keselamatan dan perdamaian. Sementara Islam dalam makna terminologi adalah sistem nilai dari Allah yang mengatur urusan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri serta manusia dengan sesama manusia. Makna terminologis ini memiliki arti bahwa sistem nilai Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik ritual maupun sosial.
Islam adalah agama dakwah dan perdamaian, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam al Qur`an suci, ‘Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS An Nahl : 125)
Rasulullah sendiri sebagai utusan Allah yang membawa risalah Islam adalah sosok yang berakhlak agung dan sangat mencintai perdamaian. Sejak Rasulullah belum diangkat menjadi Rasul, beliau adalah pemuda yang sangat peduli kepada nasib masyarakat kecil yang menjadi korban kezaliman. Setelah menjadi Rasul, beliau dengan semangat yang membara menebarkan dan menerapkan Islam  sebagai sistem nilai perdamaian dan kesejahteraan untuk umat manusia. Sebab dalam ditegaskan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta, tanpa memandang suku, ras, bangsa dan agama.
Dalam pandangan Islam, masyarakat diibaratkan sebagai sekelompok penumpang kapal. Para penumpang itu berada di ruang bawah dan ruang atas kapal. Jika suatu saat penumpang yang berada di ruang bawah kapal menginginkan air dengan cara melubangi dinding kapal berharap mendapat kucuran air laut dengan asumsi agar tidak mengganggu penumpang yang diatas, maka apa yang akan terjadi.
Justru dengan perbuatan itu, kapal bisa tenggelam dan seluruh penumpang akan terkena dampaknya. Karena itu penumpang yang diatas harus mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan itu, jika menginginkan keselamatan seluruh penumpang. Begitulan Islam, mengingatkan manusia agar tidak membuat lubang-lubang kezoliman dan kemaksiatan karena akan berdampak buruk kepada seluruh manusia.
Kapal itu ibarat universalitas Islam yang dengan sistem nilainya mampu menampung segala manusia dari berbagai ragam yang melekat pada dirinya. Selama manusia itu bisa memberikan ketaatan kepada nilai-nilai agung Islam, maka manusia akan mendapatkan kehidupan yang damai dan sejahtera. Sebab Islam lahir untuk mengubah berbagai bentuk kezoliman  menjadi kemuliaan.
Karena itu, saat Rasulullah memimpin Daulah Madinah, terciptalah kehidupan yang damai dan harmoni. Masyarakat dengan keyakinan agamanya bisa leluasa menjalankan keyakinannya di Madinah. Bahkan hak-hak mereka yang beda keyakinan sama kedudukannya dimata Islam sebagai warga negara. Rasulullah pernah mengancam siapapun yang mengganggu warga negara [kafir zimmah] di Madinah sebagai bentuk ancaman kepada beliau. Madinah adalah negara manusiawi yang menerapkan sistem nilai Islam bagi kebaikan seluruh umat manusia yang menerimanya.
Islam adalah jalan yang lurus yang akan membawa manusia kepada kebaikan dunia dan akherat. Allah sendiri yang menegaskan akan kebenaran dan kelurusan jalan Islam. Dalam Qur`an surat al An`am ayat 153 dinyatakan, ` Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.`
Islam adalah agama dakwah untuk mewujudkan perdamaian, kesejahteraan dan rahmat bagi alam semesta. Ketika suatu kehidupan diwarnai oleh berbagai sistem nilai yang zolim dan menyengsarakan rakyat, maka dengan dakwahnya Islam menyeru agar kembali kepada sistem nilai Islam. Islam adalah agama dakwah yang memberikan solusi fundamental bagi permasalahan manusia. Seluruh permasalahan manusia telah disediakan solusi oleh Allah melalui al Qur`an. Islam adalah jalan kebenaran dan keselamatan.
Dakwah adalah wujud kepedulian, bahkan kasih sayang Islam  kepada seluruh manusia di muka bumi.  Karakter  seorang muslim adalah kepeduliannya terhadap aktivitas dakwah untuk menciptakan kehidupan yang mulia. Sebab siapapun manusia secara naluri menginginkan sebuah kemuliaan, kedamaian dan kebaikan. Sistem nilai Islam jika diimplementasikan akan mewujudkan cita-cita mulia seluruh manusia.
Tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam. Namun Islam mengajarkan bahwa agama ini harus didakwahkan kepada segenap manusia di dunia. Islam mesti dipahami, diyakini, diamalkan dan diperjuangkan. Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia membawa rahmat dengan terbentuk pribadi yang shaleh, masyarakat mulia dan peradaban yang agung.
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengingatkan manusia agar tidak melakukan berbagai bentuk kezoliman, baik saat dalam daulah Islam maupun diluar daulah Islam. Allah memerintahkan seluruh nabi-nabiNya agar mendatangi dan menyampaikan nasehat dan kebenaran Islam kepada para penguasa yang zolim. `Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS Thahaa : 43-44).
Islam mengapresiasi kerja dakwah sebagai sebaik-baik perkataan manusia. Dakwah juga harus dilakukan secara berjamaah. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Al Fushilat :33). Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran :104).
Jika dakwah Islam ditinggalkan umatnya, maka akan muncul berbagai kerusakan dan kezoliman.  Tanpa dakwah Islam, maka kehidupan manusia akan diliputi oleh kekufuran dan kemusyrikan. Tanpa dakwah Islam  juga akan muncul fasad (kerusakan) akibat sistem nilai yang tidak adil, bahkan akan muncul pula penguasa yang zolim dan mendatangkan murka Allah.  Sebaliknya dengan dakwah akan melahirkan kehidupan harmonis, damai dan sejahtera dibawah ridho Allah SWT.
Dakwah ini memerlukan keimanan dan pemahaman tentang realitas sebagai hakekat keimanan dan wilayahnya dalam sistem kehidupan. Keimanan dan tataran inilah yang akan menjadikan kebergantungan secara total kepada Allah, serta keyakinan bulat akan pertolonganNya kepada kebaikan serta perhitungan akan pahala di sisiNya, sekalipun jalannya sangat jauh. Orang yang bangkit untuk memikul tanggungjawab ini tidak akan menunggu imbalan di dunia, atau penilaian dari masyarakat yang tersesat dan pertolongan dari orang-orang jahiliyah dimana saja.
Meski oleh Allah, Rasulullah adalah manusia paling agung akhlaknya dan lemah lembut sikap dan tutur katanya, namun dakwah Nabi tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Sepanjang dakwah di Makkah, ketika Rasulullah menyerukan Islam sebagai ajaran terbaik yang datang dari Allah, maka kaum kafir Quraisy mulai merasa terganggu dan terusik. Dengan berbagai cara, mereka mencoba menghadang laju dakwah Nabi yang semakin mendapat simpati masyarakat Arab.
Dengan penuh kesabaran dan ketegaran jiwa, Rasulullah tidak pernah membalas perlakuan zalim kaum kafir saat itu. Sebaliknya, Rasulullah terus menyampaikan Islam dengan lemah lembut, hingga pada akhirnya orang-orang yang membenci dakwah Rasulullah tersadarkan dan masuk Islam. Banyak dari para sahabat Nabi yang dulunya justru orang-orang pembesar dan tokoh masyarakat yang menentang Rasulullah. Dakwah Islam adalah dakwah penuh perdamaian. Dakwah Nabi adalah cermin indah bagi umat hari ini.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab : 21). Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran : 31).
Islam adalah agama dakwah dan perdamaian untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Salah satu upayanya adalah membebaskan manusia dari berbagai belenggu penjajahan yang berakibat kepada kesempitan dan kesengsaraan hidup manusia. Karena itu Islam adalah satu-satunya agama yang antikolonialisme. Idologi kolonial menurut Islam adalah kapitalisme dan komunisme.
Dalam kontek kesejarahan Indonesia, tidak diragukan lagi bahwa kaum muslimin yakni para ulama dan santri dengan semangat keislaman telah menjadi para pejuang melawan penjahahan kapitalistik dan komunistik.  Kekuatan aqidah dan tauhid menjadi sumber energi bagi jihad perlawanan terhadap segala bentuk penjahan masa lalu, hingga Allah memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Berbagai jihad melawan tentara penjajah di medan perang membuktikan betapa Islam adalah ajaran sempurna bagi kebaikan manusia. Inilah keunggulan Islam dibanding ideologi lainnya yang justru berperan sebagai penjajah. Karena itu jika ada tuduhan Islam sebagai agama yang mengajarkan terorisme dengan mengkaitkan istilah jihad, maka selain sebagai fitnah keji, tuduhan itu merupakan bentuk penghinaan terhadap ajaran Allah.
Bahkan kata tauhid dalam Islam memiliki efek mempersatukan sekaligus membebaskan manusia dari belenggu dan keterjajahan. Makna harfiah tauhid adalah menyatukan atau mengesakan. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk makna mempersatukan hal yang terserak atau terpecah. Misalnya penggunaan kata tauhid al kalimah yang kurang lebih berarti mempersatukan paham dan dalam istilah tauhid al quwwah yang berarti mempersatukan kekuatan. Ini dibuktikan dengan penyatun visi dan kekuatan kaum muslim dalam membebaskan [taharruruyyah] bangsa ini dari belenggu penjajahan kolonialis.
Karena itu kehadiran para Nabi Allah ke dunia selalu membawa misi pembebasan manusia dari segala belenggu dan penjajahan. Sebab kehadiran para Nabi dan Rasul selalu diikuti oleh kondisi sosiologis yang disebut jahiliyah. Kata jahiliyah menunjukkan kondisi dimana manusia dibelenggu oleh paham-paham sesat yang menyengsarakan. Islam hadir untuk membebaskan manusia dari belenggu sesat jahiliyah tersebut.
Istilah jahiliyah menurut Al Amir Syakib Arsalan merujuk pada sebuah kondisi bangsa Arab pra Islam pola pikir dan pola perilaku yang sangat jauh dari nilai-nilai kemuliaan agama. (lihat, Al Amir Syakib Arsalan Mangapa Kaum Muslimin Mundur, 1954, Bulan Bintang. Hal. 7). Ahmad Ratib Armush, menggambarkan zaman Jahiliyah pra Islam dengan mengutip perkataan Ja’far,” Wahai Raja dulu kami adalah bangsa Jahiliyah (bodoh) yang menyembah berhala, mengonsumsi bangkai, melakukan perbuatan keji, memutuskan silaturahmi, melukai tetangga, dan orang yang kuat diantara kami memangsa yang lemah. Kami seperti itu sampai Allah mengutus seorang Rasul dari bangsa kami kepada kami” (dikutip dari Ibnu Hisyam, as Syirah, j.1, hal. 359).
Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qol’ahji menggambarkan kondisi bangsa Arab pra Islam dalam bukunya Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw  dengan adanya berbagai bentuk kezaliman yang tiada tara. Setidaknya menurut dia, ada lima kezaliman yang terjadi di Arab praislam. Kelimanya adalah kezaliman politik, kezaliman sosial, kezaliman ekonomi, kesesatan aqidah , kesesatan pemikiran dan kezaliman jiwa.
Kondisi jahiliah yang sangat buruk dan mencapai titik kulminasi berbagai bentuk kezaliman ini sebagai representasi dari jauhnya mereka dengan ajaran-ajaran wahyu Allah. Kebodohan pemikiran, kesesatan aqidah dan sistem hidup yang destruktif telah menjerumuskan bangsa Arab pra Islam layak disebut sebagai bangsa paling tidak beradab dalam sejarah kemanusiaan. Dalam titik kulminasi inilah Rasulullah Muhammad saw diutus untuk membongkar kebobrokan sistem jahiliyah sampai akar-akarnya dengan membawa ajaran yang sama sekali baru yakni Islam.
Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam sub bab Sekapur Sirih 2 dalam buku Api Sejarah 2 menjelaskan dengan jelas tentang peran Islam dan kaum muslimin [ulama dan santri] dalam mengusir dan melawan penjajah dari bumi pertiwi. Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan :
Ulama dan santri memasuki abad ke 14 H/20 M dihadapkan pada turunnya rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yakni berakhirnya penjajahan politik atas bangsa dan negara Indonesia. Perang Doenia II [1939-1945 M] dan Perang Asia Timoer Raja [1941-1945 M], perang antar negara imperialis Barat yang bergabung dalam Pakta Pertahanan Sekoetoe – Alied Forces yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Rusia, Inggris dan Perancis melawan imperialis Barat dan Timur yang bergabung dalam Pakta Pertahanan Poros – Axis Pact. Mereka dipimpin Jerman, Italia dan Djepang. Dampaknya,bangsa dan negara Indonesia yang baru terbebas dari penjajahan Kerajaan Protestan Belanda ditandai dengan adanya Kapitulasi Kalijati Subang 8 Maret 1942. Kemudian menyusul terbebas dari penjajah Kekaisaran Shinto Djepang yang ditandai dengan menyerahnya Djepang kepada Sekoetoe, 14 Agustus 1945, diikuti dengan proklamasi 17 Agustus 1945. Proses terbebasnya dari penjajahan politik Barat dan Timur merupakan puncak keberhasilan perjuangan ulama dan santri yang berlangsung sejak 1511 M.
Menakar HTI : Antara  Obyektivitas Dan Sentimentalitas
            HTI sejauh yang penulis ketahui adalah ormas legal yang sejak lama berdiri di Indonesia dan memiliki kiprah positif bagi kesadaran keislaman bangsa ini. Sebab HTI sama dengan ormas Islam lainnya merupakan organisasi dakwah yang mendakwahkan ajaran Islam dari A sampai Z. Namun, oleh pemerintah, HTI kemudian dipersoalkan hingga dicabut legalitas badan hukumnya dengan didasarkan oleh berbagai asumsi yang dikonstruk pemerintah tanpa melalui proses peringatan dan peradilan.
Tidak mengherankan jika pemerintah dianggap oleh banyak kalangan justru telah melanggar konstitusinya sendiri. Sebab penerbitan perppu ormas dianggap sebagai tindakan semena-mena atas hak rakyat untuk berserikat dan berkumpul serta menyuarakan pendapat. Penerbitan perppu adalah langkah yang sombrono karena meniadakan proses dan prosedur  hukum yang selama ini justru dijadikan sebagai  pilar atas negara ini.
Ketidakadilan penerbitan  perppu ormas  ini dibuktikan oleh ketidakjelasan latar belakangnya. Jika ormas HTI dianggap sebagai ormas anti-pancasila, alasan inipun tidak pernah dengan jelas dipaparkan oleh pemerintah. Sebab secara substansial tidak ada satupun sila dari lima pancasila dilanggar oleh HTI. Sebaliknya jika dicermati, justru perilaku anti pancasila telah mewarnai negeri ini seperti korupsi, kriminalitas, LGBT, narkoba, privatisasi aset negara, dan gerakan sparatis yang jelas telah melecehkan simbol-simbol negara.
Oleh HTI, tindakan pemerintah ini merupakan bentuk kezaliman rezim terhadap ormas Islam yang justru telah banyak memberikan kontribusi positif bagi perbaikan masyarakat. Maka, HTI kemudian menempuh jalur hukum dengan melakukan gugatan atas keputusan pemerintah melalui PTUN. Salah satu tuduhan pemerintah yang dialamatkan kepada HTI adalah sebagai ormas radikal yang melahirkan terorisme. HTI juga dituduh mengajarkan pengkafiran kepada individu dan kelompok yang berbeda. Bahkan HTI oleh pemerintah melalui saksi ahli pemerintah disebut sebagai ormas yang mengajarkan jihad sebagai perang.
Nampaknya pemerintah melakukan pembacaan terhadap ormas HTI secara subyektif didasarkan oleh timbangan epistemologi Barat. Sebab HTI telah dengan jelas membantah seluruh tuduhan pemerintah, baik secara lisan maupun didasarkan oleh kitab-kitab yang dijadikan rujukan oleh HTI. Ormas ini justru melakukan apa yang disebut dakwah intelektual yang santun dan argumentatif dengan menjauhkan berbagai tindakan kekerasan. Sementara istilah radikalisme dan terorisme telah disebutkan di awal tulisan ini merupakan istilah Barat yang tidak tepat dan tidak terbukti jika dikaitkan dengan Islam.
Begitupun jika dikaitkan dengan ormas HTI, istilah radikal menjadi tidak tepat, sebab timbangnyya epistemologinya salah.  HTI adalah ormas yang berdakwah mengajarkan ajaran Islam dalam rangka menyadarkan masyarakat akan keislamannya. Disisi lain justru HTI telah menjadi satu-satunya ormas Islam yang secara serius mengingatkan pemerintah dan masyarakat akan bahaya neokolonialisme yang sedang menjajah Indonesia dengan memberikan solusi Islam untuk mengusir penjajah itu, sebagaimana dalam sejarah Islam telah menjadi solusi bagi pelawanan terhadap penjajah hingga Indonesia merdeka.
Penjajahan dari dulu hingga sekarang adalah sama yakni hegemoni kapitalisme dan komunisme di negeri ini. Kedua ideologi ini sejak dahulu telah melakukan penjajahan atas negeri ini. Hal ini sangat disadari oleh HTI dan demi cinta kepada Indonesia, HTI memberikan proses penyadaran ideologis dengan menjadikan Islam sebagai solusi.
Ada pasal fundamental dalam Undang-Undang Dasar di negeri ini bahwa sumber daya alam adalah milik rakyat dan dikuasai negara untuk dikelola demi kesejahteraan rakyat. Dalam perspektif Islam, sumber daya alam seperti air, hutan, minyak dan gas adalah milik rakyat atau umat yang tidak boleh dijual atau diprivatisasi menjadi monopoli individu.
Privatisasi sumber daya alam sebagai konsekuensi implementasi sistem ekonomi kapitalisme sejatinya melanggar undang-undang, terlebih prinsip Islam. Rasulullah pernah bersabda, kaum muslim bersekutu [memiliki hak yang sama] dalam tiga hal : air, padang dan api [HR Abu Dawud]
Sistem kapitalisme merujuk kepada sistem sosial ekonomi yang individualistik dan liberalistik, dimana kepentingan individu diatas segalanya. Karena itu kapitalisme sering juga disebut dengan istilah free enterprise atau private enterprise.
Hak milik privat atas alat-alat produksi dan konsumsi [tanah, pabrik, jalan, dll] dengan tujuan menumpuk kekayaan individual adalah karakter utama kapitalisme menurut Milton H Spencer. Konsep ini timbul dari pemikiran filsafat John Locke yang berpendapat bahwa kekayaan adalah hak alamiah dan terlepas dari kekuasaan negara.
Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang tercantung dalam pancasila hanya akan menjadi sebuah utopia bagi rakyat kecil, jika yang diterapkan di negeri ini justru kapitalisme yang individualistik. Menjual aset-aset strategis bagi faktor kesejahteraan rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa ini.
Sebab semakin banyak kebijakan privatisasi, maka semakin menganga kemiskinan rakyat. Akhirnya negara hanya menjadi kapling-kapling para kapitalis yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
Kapitalisme ekonomi akan menjadikan kesenjangan menganga antara yang kaya dan yang miskin. Kekayaan sebuah negara hanya akan dikuasai oleh segelintir manusia rakus.
Sementara dari sisi sosial, sekulerisme akan melahirkan perilaku individual amoral yang jauh dari nilai-nilai agama dengan berlindung dibalik hak asasi manusia sebagai hak individual untuk berbuat apa saja. Kapitalisme sekuler telah membawa self destructive sejak lahir.
Worlview kapitalisme yang antietika agama inilah yang kelak menjadi sumber malapetaka sosiologis dunia modern di seluruh aspeknya. Kapitalisme adalah kejahatan sistematis dan terstruktur yang ditopang oleh konsensus konstitusi hasil konspirasi pengusaha dan penguasa yang hidup dalam jeratan pragmatisme. Dari akar masalah inilah lahirnya berbagai bentuk kemiskinan dan kejahatan di masyarakat arus bawah karena tekanan hidup yang semakin tidak adil.
Sistem kapitalisme mendudukkan para pemilik modal diatas negara. Kedaulatan negara berada dibawah kuasanya. Faktor-faktor ekonomi strategis dikuasai sepenuhnya oleh para kapitalis yang mampu mengendalikan berbagai kebijakan negara. Kedaulatan dan keadilan dalam negara kapitalistik hanyalah sekedar retorika semua, jika tidak hendak dikatakan sebagai pembohongan publik.
Alih-alih penguasa akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sesuai amanah Undang-undang, dengan sistem kapitalisme ini justru sebuah negara akan mudah tergadaikan kedaulatannya dalam pesaran materialisme.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa negara bisa terjual jika menganut sistem kapitalisme ini. Bukan hanya sampai disitu, kapitalisme akan melahirkan berbagai kezaliman bagi rakyat kecil. Setidaknya ada empat kezaliman akibat sistem kapitalisme ini.
Pertama, kezaliman politik. Mengingat kekuasaan terhadap manusia dimonopoli oleh komunitas tertentu di antara mereka. Komunitas yang memonopoli kekuasaan ini senang memaksakan kehendaknya kepada rakyat, tanpa memberikan hak kepada siapapun untuk mengemukakan pendapatnya dalam menyusun program dan cara kerja penguasa. Di sana telah terjadi perampasan hak rakyat secara masif oleh sentral kekuatan politik negara.
Kedua, kezaliman sosial. Proses penjaringan penguasa dalam sistem kapitalisme diberikan hanya kepada orang-orang berduit dan yang mau melakukan tindakan tercela berupa suap atau gratifikasi. Akibatnya orang-orang yang sebenarnya memiliki kejujuran dan integritas tidak tidak ada peluang sama sekali jika tak memiliki uang.
Kapitalisme dengan demikian berwatak diskriminatif terhadap orang-orang baik yang sejatinya layak menjadi pemimpin. Terbukti banyaknya tindak pidana korupsi adalah cara untuk mengembalikan modal politik penguasa dalam sistem kapitalisme.
Ketiga, kezaliman ekonomi.  Tumbuhnya kelas sosial kapitalis yang memiliki kekayaan yang melimpah di satu sisi tapi terdapat pula kelas sosial yang sangat miskin di sisi lain. Kekayaan segelintir orang bisa melebihi harta ratusan juta rakyat jelata.
Hal ini diakibatkan oleh belum terfikirnya pembuatan peraturan pendistribusian kekayaan negara kepada rakyat. Karenanya tumbuh kelas sosial yang kaya (kapitalis) yang rakus dan menzalimi sesama demi memuaskan nafsunya tanpa mengindahkan aturan. Tumbuhlah praktek-praktek ribawi yang sangat menjerat si miskin.
Keempat, kezaliman jiwa. Masyarakat kapitalistik tidak dibangun di atas asas persaudaraan melainkan pemaksaan dan kepentingan sepihak. Inilah yang kemudian menghilangkan kejernihan jiwa penguasa dan rakyat. Mereka tumbuh menjadi penindas yang lemah. Jiwa mereka menjadi gelap penuh egoisme dan kecongkakan.
Akibatnya berbagai bentuk kejahatan dan kriminalitas  tumbuh subur dari dari pucuk penguasa hingga rakyat jelata. Rakyat kemudian banyak mengalami stress dan depresi akibat tekanan ekonomi yang kian menjerat.
Dalam konteks inilah sesungguhnya ormas HTI menginginkan bangsa ini terbebas dari berbagai bentuk penjajahan dengan menerapkan Islam secara kaffah dengan tegaknya institusi khilafah. Khilafah sendiri adalah bagian dari ajaran Islam yang mampu menjadi benteng bagi pertahanan dan pelawanan penjajahan. Dalam hal ini pemerintah mestinya berterima kasih kepada HTI karena telah memberikan contoh cinta yang mendalam kepada negeri ini dengan cara yang benar dan mulia.
  Semestinya pemerintah menghormati gagasan-gagasan yang disampaikan oleh masyarakat dengan cara yang seimbang. Sebab gagasan syariah sebagai solusi yang diemban oleh HTI adalah ajaran Islam itu sendiri. Bukankah penerapan syariah ini telah juga dilakukan di berbagai bidang seperti perbankkan syariah, wisata syariah, asuransi syariah, hotel syariah dan berbagai bidang lainnya. Bahkan Inggris dan Jepang adalah dua negara yang justru mengakui keunggulan sistem syariah ini. Disinilah pemerintah harus tetap tenang dan obyektif melihat kecenderungan dan perkembangan dunia dan melepas diri dari berbagai tekanan negara asing kapitalisme yang secara ideologis bertentangan dengan sistem Islam.
Jika mau obyektiif, ideologi kapitalisme sekuler jika ditelisik lebih mendalam justru menjauhkan negeri ini dari nilai-nilai Pancasila di semua aspek berbangsa dan bernegara. Sila pertama yang menyatakan keesaan Tuhan (tauhid) justru dinodai oleh berbagai penyimpangan agama yang semakin tumbuh tak terkendali. Sila kedua yang menyatakan kemanusiaan dan keberadaban justru dinodai oleh segala bentuk kriminalitas dan kezaliman yang semakin mengkhawatirkan. Karena itu dalam konteks HTI, pemerintah lebih banyak sentimentalitas dibandingkan rasionalitas demi mencari kebenaran yang hakiki. Selain itu pemerintah banyak mengalami ketidakpahaman atas epistemologi Islam sehingga melontarkan berbagai tuduhan kepada HTI.
Sistem ekonomi kapitalisme terbukti telah melahirkan kesenjangan ekonomi yang semakin dalam. Kekayaan di negeri ini hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat, sementara rakyat kecil mayoritas belum bisa beranjak dari status warga miskin. Kemiskinan dan ketidaksejahteraan inilah yang seringkali memicu kriminalitas dan bahkan upaya disintegrasi. Cita-cita persatuan Indonesia justru berada di ujung tanduk dibawah hegemoni kapitalisme yang tak berkeadilan. Pertanyaannya, apa kapitalisme itu pancasilais ?. Wajar jika  Din Syamsudin menegaskan bahwa mestinya yang dibubarkan adalah kapitalisme, bukan ormas Islam. Sementara PKS menegaskan bahwa perppu ormas terbuktif represif [Republika, 27/7]. Jadi ketidakadilan ini semestinya diadili jika negeri ini mau berkemanusiaan yang adil dan beradab.
Sebuah Catatan Akhir
Dari makalah ini dapat disimpulkan bebarapa hal berikut, pertama menyatakan HTI yang mengajarkan Islam dengan dakwah damai dan ingin membebaskan Indonesia dari neokolonialisme sebagai ormas radikal adalah sebuah tuduhan keji penuh sentimentalitas akibat politik kekuasaan yang sekuleristik dan kapitalistik. Terdapat kerancuan epistemologi dalam memaknai istilah radikal karena mendasarkan para epistemologi Barat.
Kedua mengatakan bahwa HTI adalah ormas yang mengajarkan terorisme karena memahami jihad sebagai perang adalah kedangkalan berfikir. Sebab baik secara normatif dan historis jihad adalah ajaran Islam yang salah satu artinya adalah perang melawan penjajah, sebagaimana telah dilakukan oleh para ulama dan santri terdahulu yang turun ke medan perang melawan penjajah dengan semangat jihad fi sabilillah. Gema takbir para pejuang Islam telah mengobarkan perlawanan kepada kaum kolonial hingga Indonesia merdeka.
Ketiga upaya pemerintah untuk membangun narasi radikalitas HTI merupakan sebuah kerancuan epistemologi dan sentimentalitas politik kekuasaan yang menunjukkan kezaliman dan ketidakadilan. Jika tidak ingin disebut sebagai tuduhan dan fitnah keji terhadap HTI dan ajaran Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Muhammad Imaduddin. Kuliah Tauhid. Bandung : 1980. Pustaka-Perpustakaan salman ITB.
Ahmad, Zainal Abidin.   Negara Adil Makmur Menurut Ibnu Siena,  1974. Jakarta : Bulan Bintang.
Ahmed, Shabir, Anas Abdul Muntaqim dan Abdul Sattar. Islam dan Ilmu Pengetahuan. 1999. Bangil : Al Izzah
Hodgson, Marshall GS, The Vanture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia Masa Klasik Islam, 2002, Jakarta : Paramadina.
Iqbal, Muhammad. Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam. 1966. Jakarta : Tintamas.
Ismail, Faisal, Paradigma Kebudayaan Islam, Studi Kritis dan Refleksi Historis, 2003, Yogyakarta : Titian Ilahi Press
Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan, 2005, Jakarta : Paramadina
Suryanegara, Ahmad Mansur, Api Sejarah 2, 2010, Bandung : Salamadani.
loading...
Powered by Blogger.