ghouta timur
Darah kaum Muslimin kembali tertumpah, mayat-mayat bergelimpangan.  Ghouta timur di perdesaan Damaskus, dalam beberapa hari terakhir mendapat gempuran paling sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rezim Bashar Assad yang buas dengan dukungan Rusia menyerang Ghouta timur, dengan artileri, serangan udara dan bom barel. Dalam beberapa hari tercatat lebih dari 500 orang yang terbunuh, banyak di antaranya anak-anak.
Seorang dokter di Ghouta Timur menggambarkan situasi di Ghouta timur: “Kami berdiri di hadapan pembantaian di abad ke-21. Jika pembantaian tahun 1990an adalah Srebrenica, dan pembantaian tahun 1980an adalah di Halabja dan Sabra dan Shatila, maka Ghouta timur adalah pembantai abad ini yang terjadi sekarang. ”
Peran Rusia sebagai penopang utama Assad setelah Amerika Serikat, dalam gempuran brutal ini sangat menonjol. Bagi Rusia, krisis Suriah yang telah membunuh ratusan ribu umat Islam, merupakan ajang uji coba senjata.  Anggota parlemen senior Rusia, Vladimir Shamonov menyatakan militer negaranya telah menguji coba lebih dari 200 senjata jenis baru di Suriah. Uji coba dilakukan selama operasi militer di Suriah untuk mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah mengomentari eskalasi kekerasan di Ghouta timur. Menurutnya, daerah tersebut tak ubahnya seperti “neraka” di muka bumi. PBB menyebutkan bahwa saat ini konflik di Suriah masuk dalam pertempuran terburuk dalam perang yang memasuki tahun kedelapan. Konflik multidimensi telah membunuh ratusan ribu orang dan mengusir jutaan orang dari rumah mereka.
Amnesti Internasional mengatakan bahwa “kejahatan perang mengerikan” dilakukan di Ghouta timur dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Orang-orang tidak hanya menderita pengepungan yang telah berlangsung bertahun-tahun, tapi sekarang terjebak dalam serangan harian yang membunuh mereka dan dengan sengaja menyebabkan mereka, yang merupakan kejahatan perang yang mengerikan,” kata Guardian mengutip Diana Semaan.
Sementara itu, rezim Bashar malah berjanji untuk menghabisi Muslim Ghouta. Dengan arogan rezim Bashar Assad, melalui Brigader Jenderal Suhail al Hassan, komandan Tiger Force, menyatakan akan melakukan serangan darat dan menghabisi Muslim Ghouta. “Saya berjanji, saya akan memberikan mereka sebuah pelajaran, dalam pertempuran dan dalam tembak-menembak. Anda tidak akan menemukan seorang penyelamat. Dan jika Anda melakukannya, Anda akan diselamatkan dengan air seperti minyak mendidih. Anda akan diselamatkan dengan darah,.“ ujarnya.
Kejahatan dan Pengkhianatan
Apa yang terjadi Ghouta timur menunjukkan kejahatan Barat yang berulang terhadap umat Islam. Rakyat Ghouta menjadi korban dukungan Barat terhadap rezim Bashar yang buas. Kekhawatiran, Suriah menjadi negara Islam yang menerapkan syariah Islam, Barat lebih memilih mempertahan Bashar Assad yang keji. Pada awalnya Amerika bermain di dua kaki, yang pertama seolah-oleh mendukung kelompok perubahan yang menginginkan Assad diturunkan, di sisi lain, Amerika mendukung Bashar, karena khawatir Suriah menjadi negara Islam yang sulit dikontrol dan dikendalikan Amerika.
Berbagai langkah dilakukan Amerika, mulai dari mendukung oposisi yang gagal, membiarkan Iran membela Bashar Assad, memainkan Turki dan Saudi untuk membangun kelompok perlawanan yang bisa dikontrol. Terakhir Amerika membiarkan Rusia bersama Bashar Assad melakukan apapun untuk menghabisi pejuang-pejuang Islam yang tersisih di beberapa wilayah, termasuk di Ghouta timur.
Menurut pengamat politik internasional Umar Syarifuddin, serangan brutal di Ghouta tidak terpisah dari rangkaian revolusi rakyat yang sulit untuk dicegah AS dan sekutunya. Menurutnya, AS bekerja siang malam untuk menghentikan revolusi ini.
“Solusi politik Amerika tidak lepas dari upaya mengakhiri revolusi dan mengembalikan legitimasi rezim Assad dan mengembalikan rakyat kembali ke aturan rezim ini untuk melanjutkan aksi-aksi kriminalnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Umar menyoroti  kenapa selama bertahun-tahun ratusan ribu korban terus berjatuhan, jet tempur Rusia dan serangan udara tidak berhenti atau mereda. Padahal, berbagai konferensi dan inisiatif sudah dilakukan.
“Masalahnya, negosiasi yang dilakukan selama ini tidak bertujuan untuk menyelesaikan sumber petakanya, yakni rezim brutal dan campur tangan AS dan Rusia. Lebih buruk lagi, konferensi bertujuan untuk memadamkan tekad mulia rakyat Suriah dan mengulur-ulur waktu kepada Bashar dan sekutu-sekutunya untuk menumpahkan darah warga sipil, dan mengusir mereka,” tegasnya.
Umar juga mempertanyakan sikap penguasa negeri Islam yang diam. “Seharusnya tragedi ini memanggil nurani para penguasa dengan militernya untuk menjawab panggilan Allah dan Rasul-Nya,  penguasa negeri-negeri Islam seharusnya  menggunakan senjata mereka untuk membela kaum Muslimin dan  menghentikan aksi barbar tiran jahat,” ujarnya.[]
Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 215

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.