Hasil gambar untuk pesta demokrasi

Oleh : Yusuf Aqbani ( Aktivis Gema Pembebasan Pekalongan )

Tahun 2018 merupakan Tahun pilitik indonesia sebagai negara yang menganut sistem Kapitalis-Demokrasi, pada tahun ini akan diadakan Pemilu Pilkada salah satunya di Jawa Tengah. Berbagai macam cara mendulang suara untuk memenangkan pilkada sudah mulai dilakukan tim sukses seperi memasang spanduk-spanduk di jalanan,menawarkan janji-janji bak sales yang dikejar target penjualan menawarkan berbagai pepesan manis yang entah akan terealisasi atau tidak.

Seperti dilansir Kompas.com 11 januari 2018, hingga batas akhir pendaftaran Pilkada Jawa Tengah (Jateng), hanya dua pasangan bakal calon (balon) Gubernur dan Wakil Gubernur yang mendaftar ke KPUD Provinsi. Mereka adalah pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) yang diusung koalisi partai PDIP, GOLKAR, Demokrat, PPP, Nasdem. Semenara itu pasangan ke dua yaitu Sudirman Said-Ida Fauziyah didukung koalisi empat partai yaitu Gerindra, PKS, PAN, PKB.

Dapat Kita lihat strategi PDI-P dengan Ganjar Pranowo sebagai Gubernur sekaligus Calon Gubernur petahana mengandeng pasangan wakil gubernur dari kalangan NU Gus Yasin, yang mana beliau merupakan cucu dari Tokoh Kyai NU tersohor di Jawa Tengah Mbah Maimoen yang diharapkan dengan ini dapat mendulang suara warga Nahdiyin, sepertinya cara ini dianggap PDI-P cukup ampuh untuk menarik suara umat islam dikarenakan PDI-P selama ini terkenal sebagai partai sekuler pendukung penista agama dalam Pilkada DKI. Disisi yang lain berangkat dari kalangan islam background tokoh Muhammadiyah Sudirman said menggandeng pasangan yang diusung PKB yaitu Ida Fauziyah, dengan harapan dapat mendulang suara umat islam dari kalangan Muhammadiyah.

Perlu kita sadari, skema Pemilu Pilkada diatas merupakan skema busuk yang ditampakkan oleh sistem demokrasi, dimana ada framming pemecahan suara umat islam dan upaya membenturkan 2 ormas besar di Jawa Tengah Pada khususnya. Suara umat islam akan terpecah, warga Nahdiyin kemungkinan besar akan memilih Ganjar-Yasin dikarenakan ketokohan dari Taj Yasin Maimoen sendiri tanpa melihat pengusung Ganjar dari PDI-P yang dulunya mendukung penista. Disisi lain warga Muhammadiyah diharapkan memilih Sudirman-Ida dikarenakan ketokohan dari Sudirman Said sendiri tanpa melihat Ida Fauziyah yang diusung oleh PKB juga sebagai pendukung pensita.

Hal ini menandakan bahwa pada faktanya suara umat islam sangatlah berpengaruh, sekaligus menepis anggapan PDI-P yang dilansir Kumparan.com 28 oktober 2017 bahwa mereka tidak takut kehilangan pemilih muslim, namun nyatanya dengan berbagai cara mereka lakukan untuk menarik simpati umat muslim, bukankah ini sebuah kemunafikan didalam berpolitik? Jangan heran karena Hal ini biasa dan sudah menjadi hal yang wajar didalam sistem demokrasi. 

UMAT HARUS SADAR

Pilkada DKI harusnya menjadi pelajaran bagi umat muslim, kia dapat melihat mana partai yang mendukung penista agama dan mana partai yang menolak penista agama, namun jangan heran jika di lain daerah partai yang menolak penista agama menjadi kawan dari partai pendukung penista agama,karena sekali lagi apapun bisa terjadi dan itulah wajah asli dari sistem demokrasi. 

Sudah saatnya umat islam harus bersatu dan tidak terpecah belah dikarenakan pilkada dalam sistem Demokrasi, yang ketika suaranya dibutuhkan namun setelah itu aturannya dicampakkan. Umat harus menyaukan visi perjuangan yaitu tegaknya syariat Allah dimuka buni ini. islam yang memiliki aturan dan konsep pemilihan sendiri, sesuai dengan apa yang dicontohkan rosulullah. Namun, itu semua hanya bisa terwujud didalam sebuah institusi negara yang menerapkan syariat islam secara kaffah didalam naungan Khilafah, jadi sudah saatnya kita memperjuangkan itu semua agar terwujud islam sebagai agama rahmatan lil’alamin.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.