Alhamdulillah, Episode 2 Lingkar Intelektual Peduli Bangsa telah terlaksana. Dihadiri oleh 20an intelektual dari berbagai kampus di Semarang dan cendekiawan Muslim Semarang, Episode 2 ini mengangkat tema "Islam dan Kehidupan Sosial". Kegiatan yang dilaksanakan hari Ahad, 8 April 2018 di rumah salah seorang intelektual Semarang, dibuka dan dipandu oleh Dr. Singgih Saptadi - Koordinator Lingkar Intelektual Peduli Bangsa. 

Tema "Islam dan Kehidupan Sosial" dipilih dengan dorongan berupa keprihatinan terhadap fenomena kehidupan sosial saat ini. Begitu mudahnya seseorang menyakiti fisik hingga membunuh orang tuanya, saudaranya, tetangganya bahkan orang yang tidak dikenalnya dengan alasan yang sepele. Fenomena pergaulan bebas dan seks bebas juga membuat miris hati. Promosi Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) juga gencar. Ditambah kebebasan berperilaku seperti “My body Myself” “Ini paha Gue, Otak Lo yang jorok!” yang dipawaikan pada Woman Day 8 Maret lalu menambah daftar kerusakan di negeri muslim Indonesia ini.

Dalam Episode 2 ini, dua narasumber dihadirkan. Narasumber pertama adalah dr. Achmad Zulfa Juniarto Msi,Med, SpAnd. PhD. dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang banyak terlibat sebagai saksi ahli dalam sidang penentuan jenis kelamin. Dengan keahliannya, dr. Zulfa menjelaskan bahwa perlunya dibedakan makna seks dan gender. Seks mengacu pada karakteristik biologis, profil hormonal, oan seks eksternal dan internal yang menentukan jenis kelamin, sehingga seseorang disebut laki-laki atau wanita. Ini berarti seks berguna dalam membedakan antara pria dan wanita berdasarkan jenis kelamin. Istilah gender merujuk para peran sosial, perilaku, kegiatan dan atirbut yang dalam sebuah masyarakat dianggap tepat untuk pria dan wanita. Dari sini muncul istilah maskulin dan feminin sebagai kategorisasi gender.

Dr. Zulfa juga menjelaskan beberapa masalah terkait dengan seks dan gender dari perspektif genetik dan perilaku. Interseksual adalah gangguan perkembangan organ kelamin. Sebagai contoh, ada seseorang memiliki organ eksternal tampak seperti perempuan, tetapi sejatinya organ eksternal tersebut tidak tumbuh sempurna, terlebih organ internalnya dan kromosomnya menunjukkan dirinya adalah laki-laki. Kondisi seperti ini membutuhkan kepastian secara hukum akan jenis kelamin orang tersebut. Dalam Islam, orang seperti ini disebut sebagai khuntsa. Bukan banci jadi-jadian. 

Masalah bagi kehidupan sosial dan akan mengantarkan pada hancurnya peradaban manusia adalah transeksual. Ini adalah kondisi dimana seseorang secara psikologis merasa memiliki gender dan identitas seksual yang berbeda dengan kondisi biologis seksual tubuh mereka sebagaimana mereka dilahirkan. Selain itu, homoseksual dan biseksual, disebutkan sebagai selain orientasi seksual. Kekuatan politik dan lobby para pelakunya membuat homoseksual yang dulu dikategorikan sebagai penyakit jiwa, berangsur disebut sebagai gangguan orientasi seksual dan akhirnya dilegalkan.

Narasumber kedua adalah Nopriadi Hermani, PhD., dosen Teknik Fisika Universitas Gajah Mada dan penulis buku The Model : Meraih Sukses Pribadi & Peradaban. Dalam pengamatan Beliau, fenomena maraknya dan massifnya pergerakan LGBT tidak bisa dilepaskan dari peradaban dimana manusia hidup saat ini. Dalam peradaban kapitalisme saat ini, sekulerisme adalah paradigma dasar kehidupannya. Agama tidak diberikan peran dalam kehidupan manusia, bahkan dalam kehidupan pribadinya. Sehingga, muncullah kebebasan berekspresi dan berperilaku. Tidaklah mengherankan dalam peradaban kapitalisme saat ini, fenomena LGBT marak. Dengan alasan hak asasi manusia, pelaku-pelaku LGBT berupaya memperjuangkan eksistensi mereka.

Dalam peradaban kapitalisme, manusia diarahkan pada kebahagiaan materiil. Kesuksesan seseorang diukur secara materi. Kesejahteraan manusia diukur secara besaraan materi yang dimilikinya. Ternyata, banyak fakta menunjukkan bahwa di era kapitalisme ini, manusia tidak mencapai kebahagiaan. Harta yang dimiliki seseorang banyak, tetapi dia tidak memperoleh kebahagiaan. Kapitalisme hanyalah menghasilkan toxic success, keberhasilan yang meracuni.

Ini berbeda dengan peradaban Islam. Peradaban Islam mencapai kegemilangan, bahkan ketika Eropa masih dalam masa kegelapan. Dalam peradaban Islam, kebahagiaan adalah ridlo Alloh. Sehingga, pertumbuhaan kekayaan memberikaan kebahagiaan yang hakiki bagi manusia, karena kekayaan itu diperolehnya, dimanfaatkannya, dikembangkannya sejalan dengan aturan-aturan Alloh. Sejaln dengan ridlo Alloh.

Pemuasan hasrat seksual, dalam islam, tidak dilepaskan dari tujuan agung dan koridor hukum Islam. Hasrat seksual dipenuhi dengan lawan jenis melalui jalan pernikahan dalam rangka melanjutkan keturunan dan melestarikan generasi yang memelihara bumi. Ini berarti pemuasan seksual bukan sekedar pemuasan hasrat belaka.

Dalam sesi diskusi, para intelektual menyampaikan pandangan mereka tentan kehidupan sosial saat ini dan bagaimana seharusnya Islam bisa menggantikan peradaban rusak saat ini. LGBT yang dimassifkan saat ini bukanlah sekedar gerakan biasa. Gerakan ini mendapatkan dukungan dari PBB dan lembaga-lembaga dibawahnya. 

Selain masalah LGBT, para intelektual melihat urgensi islamisasi terhadap filsafat ilmu dalam tubuh umat Islam, karena bangunan peradaban ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsafat yang melandasinya. Aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi yang saat ini berbasis sekuler harus diarahkan kembali berbasis pada Islam. 

Di bagian akhir, para intelektual diingatkan bahwa fenomena kehidupan sosial ini menyadarkan kita bahwa ada tuntutan peran besar intelektual muslim dalam memperbaiki kehidupan sosial ini. Sebuah perbaikan yang mengarah pada peradaban besar Islam. Karenanya, para intelektual saat ini dihadapkan pada pilihan untuk berpihak pada peradaban rusak kapitalisme atau berpihak pada pembangunan peradaban agung Islam.

penulis : SS
editor    :Agus

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.