Image result for aksi damai 64

Oleh : K.H KH ROKHMAT S LABIB
Coba baca dan dengarkan baik-baik puisi Sukmawati yang menuai protes umat Islam. Sulit mengingkari bahwa isi puis itu tidak merendahkan Syariat Islam.
Puisi itu diawali dengan kalimat: 'Aku tak tahu Syariat Islam.' Kemudian dilanjutkan dengan kalimat berikutnya bahwa yang dia tahu adalah 'sari konde'. Bayangkan, dia hendak membandingkan 'Syariat Islam' dengan 'Sari konde'. Kemudian dia lebih mengunggulkan sari konde dibandingkan dengan syariat Islam. Lalu dia sebutkan salah satu ketentuan dalam syariat Islam dalam soal berpakaian, yakni cadar.
Cadar adalah kain yang biasa digunakan untuk menutupi wajah. Dalam bahasa Arab disebut dengan niqab.
Berkaitan dengan wajah perempuan, memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan wajah perempuan adalah aurat sehingga wajib ditutup. Sebagian lainnya mengatakan bahwa itu bukan aurat dan tidak wajib ditutup.
Berbeda halnya dengan bagi istri-istri Nabi saw. Terdapat dalil yang jelas menunjukkan bahwa mereka wajib menutup wajbnya. Di antara dalilnya adalah firman Allah Swt:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ 
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (QS al-Ahzab [33]: 53).

Dengan demikian, pakaian tersebut jelas merupakan pakaian disyariatkan bagi istri-istri Nabi saw.
Jika dibandingkan dengan konde, jelas bukan bandingannya. Sebab, konde merupakan cara berhias yang meniscayakan untuk membuka rambut perempuan aurat. Terlebih jika konde tersebut merupakan potongan rambut yang disambungkan kepada rambut perempuan. Pakaian ini merupakan sesuatu yang diharamkan. Rasulullah saw bersabda:
« لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمَوْصُولَةَ »
Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya [HR. Bukhari]

Oleh karena itu, mengunggulkan konde jelas merendahkan syariat Islam. Bagaimana mungkin sesuatu yang diharamkan oleh syariah dianggap lebih baik daripada yang disyariahkan Islam?
Lalu dia pun membandingkan antara kidung ibu Indonesia dengan azan. Tak ada seorang pun yang mengingkari bahwa azan merupakan perkara yang disyariahkan. Sementara kidung adalah nyanyian. Tidak semua nyayian berisi syair-syair yang baik. Sebagian berisi kemungkaran dan mengajak kemaksian. Kembali dia lebih mengunggulkan kidung daripada azan.
Adzan adalah panggilan yang ditetapkan syariah untuk menghadap Allah Swt. Lafadznya pun merupakan merupakan lafadz-lafadz yang agung. Di dalamnya ada kalimat yang mengagungkan Allah Swt. Ada juga dua kalimat syahadat. Dua kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Lafadz dan urutannya tidak boleh diubah. Allah Swt mengganjar pahala besar bagi orang yang beradzan. Rasulullah saw bersabda:
الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدََّ صَوْتِهِ وَأَجْرُهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ
“Muadzin diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan pahalanya seperti pahala orang yang sholat bersamanya” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir)

Demikian besarnya hingga Nabi saw manusia akan berebut untuk bisa adzan. Rasulullah saw bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا
Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya… (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi orang yang mendengarnya diperitahkan untuk menjawabnya.. Rasulullah saw bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin” (HR. Bukhari, dan Muslim).

Bagi yang melakukan perintah tersebut dijanjikan mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw di hari Kiamat. Rasulullah saw bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kamu sekalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bacalah shalawat kepadaku. Karena barangsiapa membaca shatawat untukku satu kali, maka Allah membalasnya dengan sepuluh shalawat. Lalu mintakanlah kepada Allah Wasilah untukku. Wasilah adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi hamba Allah dan aku berharap agar aku adalah hamba Allah tersebut. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia mendapat syafaatku” (HR. Muslim, no. 384; ; Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad)

Lalu bagaimana mungkin itu nyanyian manusia lebih diunggulkan darinya. Ini jelas merupakan sikap merendahkan syariah.
Apakah kita akan diam agama kita direndahkan?

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.