Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

Bahagia sekali bisa hadir dalam sebuah diskusi publik di Purbalingga bertema "Peta Hukum & Politik Dakwah Islam di Indonesia" (13/04/2018). Hadir bersama penulis, Zulhidir, SH, ketua KSHUMI Jawa Tengah. Penulis berkesempatan menjelaskan tentang sistem hukum dalam sistem Khilafah. Paradilan (Al Qadla) dalam sistem hukum Islam Khilafah dibagi menjadi tiga. 

Pertama, Qadli Khusumat. Yakni peradilan umum yang mengadili perkara hudud, Qusos Diyat, Ta'jier dan Mukholafah. Kedua, Qadli Hisbah. Yakni peradilan yang mengadili perkara yang berhubungan dengan jamaah. *Ketiga, * Qadli Madzalim. Yakni peradilan yang mengadili perkara terkait pengadilan kedzaliman penguasa. 

Dalam diskusi juga dijelaskan bagaimana sistem ekonomi Islam akan mengembalikan harta milik umat berupa tambang dan harta yang pada asalnya terlarang bagi individu untuk memiliki, baik oleh korporasi swasta domestik maupun asing. Khilafah juga akan mengharamkan pemasukan negara dari pajak. 

Khilafah mengelola negara dengan perbendaharaan negara di Baitul Mal yang berasal dari sumber-sumber penerimaan negara yang dilegalkan Syara' seperti zakat, Milkiyatul Ammah (harta milik umum), Kharaj, Ghanimah, Fai dan jizyah. 

Negara juga akan melakukan pengelolaan anggaran sesuai pos-pos alokasi anggaran yang telah diterapkan oleh syariah. Dijelaskan pula, bahwa hak legislasi dan anggaran (budgeting) ada pada wewenang Khalifah.

Sehingga Khalifah tidak mungkin di sandera oleh pihak legislatif seperti dalam sistem demokrasi. Tidak ada wewenang dewan untuk 'membintangi' anggaran, sehingga tidak mungkin ada perkara korupsi berjamaah seperti terjadi di DPRD Sumatera Utara.

Yang menarik, ada salah satu peserta yang memberikan pemaparan dan tanggapan kemudian menyatakan sudah sangat rindu pada Khilafah. Beliau seorang tokoh kepala desa yang hadir dalam diskusi. Beliau juga memberikan pertanyaan yang cukup agitatif.

"Kami ini sudah sangat rindu pada Khilafah. Demokrasi di negeri ini adalah pangkal dari seluruh persoalan yang mendera. Jadi kami setuju Khilafah. Tapi siapa calon khalifahnya ?   Orangnya yang mana ? Kami ingin segera membaiatnya. Dan apa yang harus kami lakukan ?".

Sontak, pertanyaan ini membuat penulis kaget. Sebab, ini pertanyaan praktis. Bukan debat terkait hukumnya apa? Pendapat ulama Khilafah bagaimana ? Dalilnya apa ? Dan pertanyaan lain yang umumnya muncul dalam diskusi dakwah dan politik keumatan yang penulis hadiri.

Subhanallah, inikah salah satu diantara tanda kebangkitan itu ? Terdiam sejenak, kemudian penulis mencoba menjawab pertanyaan.

"Pak, saat Mus'ab Bin Umair menyiapkan masyarakat Madinah untuk menyongsong tegaknya Daulah Islam pertama di Madinah. Saat itu, Rasulullah diperkenalkan oleh Mus'ab bin Umair kepada masyarakat Madinah sebagai pemimpin yang kelak akan memimpin Madinah".

"Masyarakat Madinah ketika itu belum pernah bertemu Rasulullah, tetapi mereka yakin dan percaya kepada beliau. Masyarakat Madinah mengindera sosok Mus'ab bin Umair, dan yakin atas kapasitas dan kesalehannya. Dengan mengindera sosok Mus'ab, masyarakat Madinah dapat meyakini bagaimana sosok Rasulullah SAW". 

Selanjutnya penulis sampaikan: "Pak, Amir kami Asy Syaikh Ato' Bin Abu Ar Rusytoh. Beliau adalah seorang laki laki saleh yang memimpin jamaah dakwah yang konsisten memperjuangkan tegaknya Khilafah. Beliaulah, yang kami calonkan dan kami tawarkan kepada kaum muslimin untuk menjadi Khalifah".

"Beliau siap untuk menerima Bai'at, siap untuk menjalankan kekuasaan Islam berdasarkan Quran dan Sunnah, siap untuk didengar dan ditaati".

"Karena itu anggap saja kami adalah utusan beliau, sebagaimana Rasulullah mengutus Mus'ab bin Umair. Jadi mari kita persiapkan masyarakat Purbalingga, dan masyarakat di kota dan kabupaten seluruh nusantara. Agar siap untuk menerapkan hukum Qur'an, siap menerapkan syariah, siap menyongsong kedatangan calon Khalifah kemudian memberikan Bai'at kepada beliau".

"Kelak ketika masyarakat Purbalingga dan masyarakat kota dan kabupaten lainnya sudah rindu pada syariah, ingin menerapkan syariah, maka kita akan bersama-sama membaiat beliau sebagai Khalifah".

Mendengar jawaban penulis, penanya dan peserta diskusi menjadi riuh dan bertakbir. Luar biasa, suasana begitu hangat dan bersemangat. Penulis membayangkan, jika diskusi ini terus digalakkan keseluruh penjuru pelosok negeri, InsyaAllah hari pembaiatan Khalifah itu semakin dekat.

Tidak terasa, waktu menunjukan pukul 17.00. Kurang lebih 3 (tiga) jam diskusi dilaksanakan. Pada akhir diskusi, semua peserta mengambil pose foto bersama. [].

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.