Oleh: Nasrudin Joha

Ketentuan Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai barang saja yang dapat disita, yaitu:
a. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
b. benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
c. benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana;
d. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
e. benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan,
Jika penyidik menyita barang bukti berupa Al Qur'an, kitab suci umat Islam, pastilah bukan karena sebab Al Qur'an hasil kejahatan, digunakan untuk aksi kejahatan, digunakan untuk menghalangi penyidikan, benda khusus yang dibuat untuk melakukan kejahatan, atau benda yang ada hubungan langsung dengan tindak kejahatan.
Tetapi mengapa marak dipertontonkan oleh penyidik -khususnya dalam kasus terorisme- Al Quran dijadikan barang bukti ? Apa karena penyidik menuding Al Qur'an hasil kejahatan, digunakan untuk aksi kejahatan? digunakan untuk menghalangi penyidikan? benda khusus yang dibuat untuk melakukan kejahatan? atau benda yang ada hubungan langsung dengan tindak kejahatan? Jahat sekali penyidikan model begini ?
Jika tidak karena alasan KUHAP, yang memberi batasan kualifikasi barang bukti, lantas apa yang melatarbelakangi menarik Al Qur'an sebagai barang bukti ? Apakah Al Qur'an dituduh memiliki hubungan langsung dengan kejahatan ?
Apakah Al qur'an dan ajaran Islam yang terkandung didalamnya dianggap memicu kejahatan? Menginspirasi kejahatan ? Penyebab kejahatan ? Memerintahkan kejahatan ? Ayo penyidik ! Eta terangkanlah !
Yang paling rajih diantara sebab yang diduga kuat melatarbelakangi dijadikannya Al Qur'an, kitab suci umat Islam, sebagai barang bukti terorisme adalah upaya jahat mengaitkan terorisme dengan Islam.
Selama ini, jika aksi koboi ledak-ledakan dilakukan bukan oleh pelaku yang beragama Islam, disebut kejahatan biasa. Teror bom mal alam sutera Tangerang, membuktikan hal ini.
Tetapi, Jika kasus itu dilakukan oleh seorang muslim -baik tidak sengaja pelakunya muslim- atau ada setingan jahat menjadikan pelaku muslim, seluruh aparat berkoar dan bersemangat menyebutnya dengan predikat "TERORIS". Langsung terjadi aksi Dar-Der-Dor, tewas dengan status Terduga. Ingat, baru TERDUGA!
Seorang tersangka atau bahkan terdakwa saja memiliki hak atas presumption of innocent, ini baru Terduga langsung divonis salah dan layak di DOR.
Bagaimana jika dugaan itu keliru ? Dianggap pergi ke Suriah misalnya, ternyata keluar negeri saja tidak pernah. Bayangkan, jika terduga teroris yang dianggap ke Suriah ini langsung di DOR, siapa yang bertanggung jawab ?
Ayolah, ini bukan soal sekedar predikat 'TERDUGA' tapi ini terkait penghilangan nyawa. Ini bukan soal sekedar ditemukannya Al Quran di TKP (atau diupayakan ada), tapi ini terkait tuduhan jahat terhadap kitab suci umat Islam.
Coba, jika yang ditemukan di TKP emas 2 Kg, atau uang 400 m, siapa yang menjamin emas dan uang itu dijadikan barang bukti ? Siapa yang menjamin jika emas dan uang tadi dijadikan barang bukti jumlahnya tidak berkurang ?
Ayolah, jangan hina kitab suci agama Islam. Jangan berdalih menjalankan proses penyidikan, jangan menggelantung pada KUHAP atau aturan internal Densus 88, ini Al Qur'an kitab suci pedoman umat Islam. Sekali lagi, hentikan ! [].

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.