Image result for ismail yusanto
Oleh : HM. Ismail yusanto
Apakah kamu tidak memperhatikan orang  yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.” Orang itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Lalu terdiamlah orang kafir itu. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (TQS al-Baqarah [2]: 258).
*****
Di atas adalah fragmen dialog antara Nabi Ibrahim dan Raja Namrudz. Nabi Ibrahim berhasil mematahkan Namrudz dengan kekuatan logika. Ketika Nabi Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” Namrudz menjawab. “Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Maksudnya, ia bisa membunuh orang dan membiarkan dia hidup. Lalu Nabi Ibrahim menantang dia dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat.” Terdiamlah Namrudz. Mana bisa ia menerbitkan matahari dari barat?
Nyatalah kekuatan logika Nabi Ibrahim mengalahkan Namrudz yang mencoba membangun argumen bahwa dia juga sekuasa Tuhan.
Namrudz adalah seorang penguasa yang tak mau begitu saja tunduk. Logika boleh saja kalah. Namun, ia punya kuasa. Kekuasaan itulah yang kemudian ia gunakan. Ia memerintahkan agar Ibrahim dibakar.  Ibrahim ditundukkan dengan logika kekuatan, bukan oleh kekuatan logika.
*****
Dalam sejarah kekuasaan-kekuasaan dunia dari dulu hingga sekarang, logika kekuatan inilah yang acap digunakan untuk menundukkan lawan politik. Bukan hanya Namrudz, Firaun juga bertindak sama. Sedemikian takut kursi kekuasaannya terancam, ia  membuat titah yang sangat keji:  bunuh setiap bayi lelaki yang lahir. Dimana logikanya ia takut kepada seorang bayi? Mengurus dirinya saja tak mampu.
Keadaan serupa terjadi juga pada abad modern. Tak mampu melawan Nelson Mandela yang kokoh menolak politik apartheid yang memang sangat tidak logis itu, penguasa Afrika Selatan akhirnya mengirim Mandela ke penjara. Tak kurang dari 26 tahun Mandela terpaksa melewati masa hidupnya dibalik jeruji besi sebelum akhirnya politik diskriminasi ras di negara ujung Afrika itu benar-benar berakhir.
Bukan hanya orang-perorang, penggunaan logika kekuatan juga dilakukan oleh negara. AS, yang  sering disebut sebagai negara kampiun demokrasi, tak segan menggunakan kekuatan militernya untuk menghancurkan negara lawan. Vietnam, Irak, Afghanistan adalah sebagian dari negara-negara yang merasakan sadisnya kekuatan negara adidaya itu. Semuanya terjadi tanpa dasar logika yang kuat.
Sesaat setelah invasi AS ke Irak beberapa tahun lalu, seorang pejabat di Kedutaan Besar AS di Jakarta meminta untuk bertemu dengan saya selaku Jubir HTI. Ringkas cerita, terjadilah pertemuan itu di sebuah hotel di bilangan Kuningan Jakarta. Belum lagi duduk sempurna, saya sudah bertanya kepada pejabat itu, “Mana senjata pemusnah massalnya?”
Ketika itu, meski sudah menguasai Irak hampir tiga bulan, tidak juga ditemukan senjata pemusnah massal yang disebut-sebut  dikembangkan Saddam, yang dijadikan dasar oleh AS untuk menginvasi Irak.
Terkejut dengan pertanyaan itu, ia balik bertanya, “Apakah Anda menuduh kami berbohong?”
“Saya tidak menuduh Anda berbohong. Saya cuma bertanya, mana senjata pemusnah massalnya? Bukankah Anda yang mengatakan bahwa Amerika harus menyerang Irak untuk menghancurkan senjata pemusnah massal itu. Jadi wajar kan, sekarang saya bertanya mana senjata itu?”
Ia berusaha menjelaskan, “Kalau sekarang belum ditemukan, kan ada beberapa kemungkinan.”
“Oke, sekarang sebutkan kemungkinan-kemungkinan itu,” tanya saya.
Pertama, senjata itu sudah dipindahkan oleh Saddam.”
Cepat saya memotong, “Itu mustahil, sebab sebelum menyerang saja, Anda bilang sudah tahu posisinya. Kalau benar senjata-senjata itu dipindahkan Saddam, pasti Anda juga akan tahu. Terus kemungkinan kedua?”
“Mungkin sudah dihancurkan,” jawabnya.
“Sama dengan kemungkinan pertama, ini juga mustahil. Anda tentu juga akan tahu. Terus apa kemungkinan ketiga?
“Ya, memang tidak ada,” jawabnya sekenanya.
Kita semua tahu, meski tak ada logikanya, tetap saja AS melanjutkan invasinya ke Irak. Tanpa ampun, negeri ini dibombardir dengan ribuan ton bom. Tak ayal, lebih 1,5 juta rakyat Irak tewas. Negeri yang pernah menjadi pusat Khilafah Islam ratusan tahun lamanya, dan disebut bak negeri 1001 malam karena keindahannya, hancur berantakan. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Invasi AS ke Irak adalah pertunjukkan paling telanjang dari prinsip the might is right. Dalam bahasa Jawa disebut: asu gedhe menang kerahe (anjing besar menang kelahinya).
Hal sama terjadi di negeri ini. Ketika Pemerintah tak mampu menghadapi munculnya kekuatan politik umat Islam sebagaimana tampak pada Aksi 212 dan berpuncak pada kekalahan jagoan mereka di Pilkada DKI tahun lalu, mereka lalu melakukan persekusi terhadap tokoh penggerak aksi itu. Sebagiannya bahkan sekarang sudah divonis bersalah. Meski alasan yang dikemukakan tidak masuk akal, tetap saja persekusi itu terus mereka lakukan.
Bukan hanya itu. Ketika mereka tak lagi mampu menghalangi kekuatan dakwah yang menyerukan tegaknya syariah dan Khilafah serta haramnya memilih pemimpin kafir, yang dilakukan dengan damai dan mendapat sambutan dimana-mana, akhirnya kelompok dakwah itu dibubarkan. Ketika dibubarkan tak bisa dengan UU yang ada, maka dibuatlah UU yang baru melalui terbitnya Perppu.  Lalu ketika merasa bakal kalah adu argumen di Mahkamah Konstitusi, mereka paksakan pengesahan Perppu itu secara politik di DPR.
Di Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN), merasa tidak akan mungkin melawan argumen bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, mereka kemudian mengembangkan opini bahwa yang mereka tolak adalah Khilafah ala kelompok tersebut. Padahal Khilafah yang diserukan itu juga adalah Khilafah yang dipahami oleh para ulama dalam berbagai kitab yang mu’tabar, bahkan juga ditulis oleh para ulama di negeri ini.
Yang paling konyol adalah ketika ada ahli yang mereka ajukan mencoba dengan sangat kasar mengkaitkan antara kelompok penyeru Khilafah dengan terorisme. Alasannya, semua teroris yang tertangkap berpaham Khilafah, sama dengan kelompok yang dibubarkan itu. Namun, ketika kepada ahli itu ditanyakan apakah kelompok itu pernah dinyatakan sebagai kelompok teroris atau terlibat dalam kegiatan terorisme, ia tak mau menjawab. Ia tentu sangat tahu, kalau menjawab tidak, maka logika yang ia hendak bangun, bahwa ide-ide kelompok itu telah  menginspirasi terorisme, akan berantakan. Padahal sama saja. Dengan ia tidak menjawab, itulah jawaban bahwa kelompok itu memang tidak terlibat terorisme. Karena bila benar terlibat terorisme, pasti jawabannya tegas, iya.
*****
Demikianlah logika kekuatan selalu dimainkan oleh penguasa ketika tak lagi memiliki kekuatan logika. Kalau dalam permainan sepakbola ada istilah main kayu. Tahu bakal kalah taktik dan teknik, lalu main jegal, main tendang. Yang penting menang. Inilah logika kekuatan. Di situlah awal diktatorisme dan represivisme bertumbuh.
Namun demikian,  sejarah mencatat, penguasa seperti itu tak akan pernah bertahan lama. Sekuat tenaga menjaga kekuasaannya dengan titah yang amat bengis, singgasana Fir’aun, Namrudz dan penguasa lalim lainnya di berbagai belahan dunia, akhirnya tumbang juga. Begitulah yang juga  akan terjadi di negeri ini. Lihat saja nanti. 
Sumber : alwaie.id

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.