Image result for taqwa
Oleh : KH. Rokhmat S Labib
Di antara perkara penting yang dijelaskan oleh QS al-Baqarah [2]: 183 adalah hikmah yang didapat tatkala puasa dikerjakan. Menurut ayat tersebut, puasa dapat membuat pelakunya memiliki sikap takwa. Yakni kesediaan untuk taat dan tunduk terhadap segala perintah dan larangan Allah Swt.
Jika dicermati, ibadah puasa memang dapat mengantarkan pelakunya meraih takwa. Dengan catatan, puasa itu dipahami dan dilaksanakan dengan benar.
Dalam berpuasa, seseorang dilatih untuk mengingat Allah Swt dalam setiap ruang dan waktu. Ketika menjalankan puasa, seseorang diingatkan bahwa tidak ada tempat yang tersembunyi dari penglihatan dan pendengaran Allah Swt. Sehingga, di mana pun dia berada, tidak berani makan nasi, walaupun hanya sesuap. Tidak berani minum air meskipun hanya seteguk. Atau berhubungan intim dengan istrinya kendati berada dalam ruang tertutup.
Apabila keyakinan itu diimplementasikan tidak hanya dalam puasa, namun juga seluruh aktivitas kehidupan, niscaya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang bertakwa. Yakni pribadi yang selalu patuh dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun berada.
Puasa juga melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu. Benar bahwa manusia membutuhkan makan, minum, atau lawan jenis. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan bagi manusia untuk mengumbar hawa nafsu sesukanya seperti binatang. Manusia hanya diperbolehkan mengkonsumsi makanan atau minuman yang halal. Demikian pula dalam hubungannya dengan lawan jenis. Manusia hanya diizinkan melampiaskannya pada pasangan yang dihalalkan. Orang yang mampu berpuasa berarti telah berhasil mengendalikan hawa nafsunya itu.
Dengan puasa, manusia dilatih untuk hidup berdisiplin dengan syariah-Nya. Sekalipun haus atau lapar, manusia harus tetap menahannya untuk tidak minum atau makan hingga waktu maghrib tiba. Sekalipun hasrat seksualnya sedang menggebu, manusia harus tetap mampu meredamnya hingga waktu yang diperbolehkan untuk melakukannya. Jika itu berhasil dikerjakan, jalan untuk menjadi pribadi takwa lebih mudah dicapai.
Betapa tidak. Jika dalam puasa dia mampu menahan haus dan lapar dari makanan yang di bulan lain dihalalkan, maka selayaknya dia lebih mampu menahan diri dari makan atau minum dari harta yang diharamkan.
Jika seseorang mampu menahan diri tidak menggauli isterinya di siang hari, sepatutnya dia lebih mampu menahan diri untuk melakukan perbuatan zina. Oleh karena itu, tak aneh jika orang yang belum mampu menikah diperintahkan untuk berpuasa. Rasulullah saw bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah ia menikah. Sebab, pernikahan itu lebih bisa menundukkan pandangan dan memilahara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa adalah perisai baginya (HR al-Buhkhari, Muslim, dari Abdullah ra).

Walhasil, apabila dipahami dan dikerjakan secara benar, puasa akan mengantarkan pelakunya menjadi pribadi yang bertakwa.
Bukan hanya puasa, semua aktivitas ibadah kepada Allah Swt jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar akan berbuah takwa. Allah Swt berfirman:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 21).
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Kita bermohon kepada Allah Swt semoga puasa dan semua ibadah dapat mengantarkan kita menjadi pribadi takwa; yang disediakan baginya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. WaLlâh a’lam bi al-shawâb.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.