Oleh : KH. Rokhmat S Labib

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS al-Baqarah: 216).

Penjelasan Ayat
Allah Swt berfirman: 
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ 
Diwajibkan atas kamu berperang

Secara bahasa, kata al-qitâl atau al-muqâtalah berarti al-muhârabah (peperangan). Peperangan yang dimaksud tentulah perang fisik. Sebab, dalam bahasa Arab tidak ada makna lain kecuali itu 

Sementara frasa كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ bermakna فُرض عليكم القتال (diwajibkan ats kamu berperang). Demikian penafsiran Ibnu Jarir al-Thabar dan lain-lain. 
Lebih jauh, al-Farra’ menyatakan, semua frasa kutiba ‘alâkum dalam al-Quran bermakna furidha ‘alaykum (al-Shabuni, Rawâi al-Bayân I/168). 

Penafsiran tersebut, akan semakin jelas apabila kita meneliti ayat-ayat lain yang juga menggunakan kata kutiba ‘alaykum, seperti QS al-Baqarah: 178, 180, dan 183. Dengan demikian, menurut ayat ini hukum berperang wajib bagi kaum Muslim.

Berperang yang diwajibkan tersebut adalah berperang melawan kaum kafir. Demikian dijelaskan Syihabuddin al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’ânî, I/501. Atau sebagaimana dikatakan Abdurrahman al-Sa;di, berperang di jalan Allah Swt. Dalam ayat-ayat lain kata perang atau jihad –kata yang semakna dengan kata perang— seringkali disertai kata fî sabîliLlâh yang berkedudukan sebagai pembatasnya, seperti QS al-Hujurat: 15, al-Shaff: 11, al-Muzzammil: 20. 

Setelah menegaskan kewajiban berperang, selanjutnya Allah Swt berfirman:
وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ 
Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci

Frasa ini menjelaskan bahwa secara tabi’i manusia tidak menyukai peperangan. Wajar, sebab peperangan dapat mengakibatkan seseorang tertawan, terbunuh, rusaknya badan, dan lenyapnya harta benda (Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, II/152). Peperangan memang membuka peluang kemenangan, namun terbuka pula risiko kekalahan, kerugian, dan kesengsaraan. Semua kejadian itu merupakan sesuatu yang tidak disukai manusia. 

Kendati manusia tidak menyukai peperangan, bukan berarti boleh mengabaikannya. Sebab, perasaan manusia tidak selalu benar adanya. Allah Swt pun kemudian mengingatkan:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. 

Meskipun tidak sukai manusia, bukan berarti perang di jalan Allah itu buruk dan mengakibatkan keburukan. Sebaliknya, justru terdapat banyak kebaikan di dalamnya, bagi individu Muslim, jama’ah Muslim, dan seluruh umat manusia. Juga bagi kebenaran, kebaikan, dan keshalihan. 

Abu Hayyan menyebutkan beberapa kebaikan yang diperoleh darinya. Di antara adalah mendapatkan kemenangan, ghanimah, tawanan, rampasan perang, dan penaklukan. Serta kebaikan terbesar darinya, yakni syahid. Sebuah keadaan yang amat diharapkan Rasulullah saw (Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, II/152). 

Sebaliknya meninggalkan semua kewajiban tersebut adalah keburukan dan menyebabkan keburukan. Di antara kondisi yang menimpa umat akibat meninggalkan perang adalah kekalahan, kehinaan, dan lenyapnya urusan mereka (Ibnu ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajîz, I/289).

Bukan hanya perang. Realitas itu juga meliputi perkara-perkara lainnya. Sebab dalam ayat ini dinyatakan syay’ân (sesuatu), dan bukan qitâlan (perang). Itu artinya, banyak perkara yang dibenci manusia, namun di dalamnya justru mengandung kebaikan. 

Membayar zakat, misalnya, bagi manusia juga akan terasa berat. Sebab, ia harus kehilangan uang tanpa memperoleh kompensasi apa pun. Demikian pula berpuasa, menutup aurat, mengemban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan beberapa kewajiban lainnya. Berbagai kewajiban tersebut terasa berat dan tidak disukai manusia. Namun harus dicatat, semua perbuatan tersebut akan mendatangkan kebaikan jika dikerjakan. 

Sebaliknya, banyak perkara yang disenangi manusia namun justru buruk fakta dan akibatnya. Memakan riba, mengumbar aurat, berbuat zina, dan beberapa perbuatan terlarang lainnya barangkali dapat disebut sebagai perbuatan yang disenangi manusia. Akan tetapi, semua perbuatan itu adalah buruk dan wajib dijauhi. 

Selanjutnya Allah Swt berfirman: 
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Akibat ketidaktahuan manusia, mereka bisa membenci sesuatu yang baik, yang semestinya disukai; menyukai sesuatu yang buruk, yang selayaknya dibenci. Oleh sebab itu, manusia harus tunduk terhadap tuntunan dan petunjuk-Nya yang pasti benar. Hanya Dialah yang mengetahui dan tidak ada yang mengetahui selain-Nya. Bertolak dari sini maka hanya Dialah yang berhak membuat syariah, dan tidak ada yang berhak selain-Nya Wallah a’lam bi al-shawab. 

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.