Mahathir Mohamad, former Malaysian prime minister and opposition candidate for Pakatan Harapan (Alliance of Hope) reacts during a news conference after general election, in Petaling Jaya, Malaysia, May 9, 2018. REUTERS/Lai Seng Sin
OlehUmar Syarifudin (pengamat politik Internasional)
Rakyat Malaysia menyambut rezim baru Malaysia. Dari pemilu Malaysia bulan Mei lalu publik mendapati jatuhnya Perdana Menteri Najib dan kembalinya Tun Dr. Mahathir di usia melebihi 90 tahun ke kursi kepresidenan. Dan Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V telah menyetujui komposisi kabinet yang diajukan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Pada Selasa (26/6) Istana Negara mengonfirmasi bahwa Mahathir telah menyerahkan susunan kabinet kepada raja pada 20 Juni 2018.
Menjadi sejarah baru pemilu, warga Malaysia memberikan suara bersejarah untuk mendorong aliansi oposisi menjadi penguasa, mengakhiri kepemimpinan panjang koalisi Barisan Nasional. Jika flashback, Barisan Nasional (BN) telah memerintah negara itu selama lebih dari 60 tahun, kalah dalam Pemilihan Umum ke-14 yang memenangkan hanya 79 dari 222 kursi parlemen. Aliansi oposisi Pakatan Harapan memenangkan 113 kursi. Pakatan Harapan mencalonkan Mahathir Mohamad sebagai ketuanya – yang berubah arus dari blok yang berkuasa yang menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari dua dekade dimulai pada tahun 1981.
Selama kampanye, para tokoh oposisi menyuarakan kecaman keras pada proyek investasi dan infrastruktur Cina di Malaysia, mengikuti formula yang terlihat di negara-negara Asia lainnya yang telah mengalami ledakan dalam hal investasi Cina. Kini, Dr Mahathir Mohamad sendiri menciptakan sejarah baru ketika dia disumpah sebagai Perdana Menteri untuk kedua kalinya pada usia 92 tahun. Dugaan Barisan Nasional meleset, di antaranya: Beberapa menteri dan pemimpin partai kalah telak, dan koalisi yang berkuasa juga kalah di wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai kantong massa primer.
Dr. Mahathir mengumumkan bahwa Raja, telah mengabulkan untuk pengampunan kepada Anwar Ibrahim yang dipastikan akan mengarah pada pembebasan segera mantan Wakil Perdana Menteri tersebut, sekaligus berpeluang terbukanya jalan baginya untuk menggantikan Mahathir. Dr Mahathir sendiri dalam pidatonya pada 4/6/18 mengatakan: “Kami tahu ada banyak yang mengaku dianggap melindungi Islam, mereka mengklaim ingin mendirikan pemerintahan Islam tetapi kami menemukan bahwa tindakan mereka sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam. ” Dia menambahkan: “Kami akan mendirikan pemerintahan yang menjunjung hukum dan Konstitusi negara dan kami tidak akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan Islam.” [Sumber: The Straits Times]. Namun sikap politik Mahathir dianggap kontradiktif, dikarenakan spiritnya mempertahankan sistem sekuler di Malaysia.
Ketika Dr. Mahathir menyatakan menjunjung tinggi Islam, maka jangan bergerak menjauh dari solusi nyata – penerapan Syariah Islam secara utuh, dan melenyapkan pengaruh Inggris dan kontrol politiknya atas Malaysia. Pekerjaan untuk menegakkan kembali syariah membutuhkan realisasi dan kesungguhan yang mendalam dan pengorbanan besar dari setiap pengembannya, bukan sekedar pemanis retorika saja.
Memang, dalam dinamika politik demokrasi, slogan Islam acapkali dipolitisasi demi kepentingan partai politik, politisi sekuler, kapitalis dan termasuk Barat khususnya. Namun ada begitu banyak kaum muslim yang tulus yang bekerja untuk perubahan, perubahan dari sistem kapitalis yang korup ke Islam, namun dalam kerangka demokrasi yang terjebak pada dilemma dan frustrasi. Karena itu Islam yang bertolak belakang dengan doktrin Barat, seperti liberalisme dan kapitalisme, membuat penguasa Barat akan selalu memastikan bahwa tidak ada ruang bagi penantangnya, yakni Islam untuk sampai ke tampuk pemerintahan dan membuat perubahan.
Ringkasnya, perubahan ideal tidak akan pernah terjadi selama sistem kapitalisme – sekuler di Malaysia berlaku dan adapun jebakan politik yang disiapkan oleh Inggris untuk Malaysia tidak dalam ranah untuk mengubah sistem demokrasi yang ada ke sistem Islam. Tidak. Demokrasi masih dipertahankan oleh Barat yang kapitalis agar slogan yang berulang itu menjadi aturan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” terus bergema di telinga dan pikiran rakyat, sambil memaklumi realitas demokrasi – sekuler benar-benar sebuah sistem “dari korporasi, oleh korporasi, dan untuk korporasi“.

Image result for bercanda


Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tanya :
Ustadz, apa hukumnya bercanda (bergurau)?Bagaimanakah batasan atau kaidahnya dalam fiqh Islam?

Jawab :

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumaazahah. Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain. (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116).

Hukumnya menurut Imam An-Nawawi adalah mubah (diperbolehkan syariah). (An-Nawawi, _Al-Adzkar,_ hlm.279). Bahkan di dalam kitab itu Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bercanda yang hukum asalnya mubah, dapat naik derajatnya menjadi sunnah juka bertujuan merealisasikan kebaikan, atau untuk menghibur lawan atau untuk mencairkan suasana.

Sejalan dengan pendapat Imam Nawawi tersebut, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Candaan yang bersih dari segala yang dilarang dalam agama hukumnya mubah. Apabila bertepatan dengan suatu kemaslahatan seperti bisa menghibur lawan bicara atau mencairkan suasana, maka hukumnya mustahab (sunnah)." (Fathul Bari,X/257).

Dalil bolehnya bercanda, antara lain hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah SAW menjawab “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR Tirmidzi, Lihat Imam An Nawawi, al-Adzkar, hlm. 279).

Dalil lainnya, Rasulullah SAW pernah bercanda dengan seorang nenek tua bahwa nenek tua tidak akan masuk surga, karena yang masuk surga akan menjadi muda lagi.

Dari Al Hasan, bahwa pernah seorang nenek tua mendatangi Nabi SAW. Nenek itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga.” Nabi SAW menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua.” Nenek tua itu pun pergi sambil menanngis. Nabi SAW pun bersabda kepada para shahabat, “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman (artinya),“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37). (HR. Tirmidzi).

Artinya, orang yang masuk surga memang tidak ada yang tua, karena mereka ketika itu akan kembali muda lagi.

Dalil lainnya, Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan dengan nada canda. Dari Anas bin Malik RA, bahwa suatu ketika ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, tolong bawa aku (naik).” Rasulullah SAW pun menjawab dengan nada canda, “Kami akan menaikkanmu di atas anak unta.” Lelaki itu bertanya, “ Apa yang bisa aku perbuat dengan seekor anak unta?” Rasulullah SAW menjawab, “Bukankah unta hanya melahirkan anak unta (maksudnya unta dewasa sebenarnya juga anak unta)?” (HR. Abu Dawud).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah berdasarkan dalil-dalil di atas.

Tetapi meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Antara lain sebagai berikut :

1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam. (Lihat QS At Taubah : 65-66)

2. Tidak mengejek atau menyakiti perasaan orang lain. (Lihat QS Al Hujurat : 11).

3. Tidak mengandung kebohongan. (QS Al Ahzab : 70-71).

4. Tidak mengandung ghibah (menggunjing) orang lain. (QS Al Hujurat : 12).

5. Tidak mengandung kecabulan (rafats) (kisah porno). (QS Al Baqarah : 197).

6. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram.

(Lihat : ‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan Canda, hlm. 38-44). _Wallahu a'lam.

*Semarang, 3 Mei 2018*

*Muhammad Shiddiq Al Jawi*

Foto: Rachman Haryanto

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menguat. Dikutip dari Reuters, Jumat (29/6/2018) pagi ini, dolar AS sudah berada di level Rp 14.410.

Dolar AS bergerak dari Rp 14.380 dan melonjak ke level tertingginya di Rp 14.410.

Sejumlah ekonom menyebutkan penguatan ini terjadi akibat kondisi eksternal mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan The Federal Reserve hingga kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat (AS).

Hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) juga menjadi hal yang ditunggu oleh para investor.





Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena sentimen global. Mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve hingga sentimen perang dagang antara AS dan China.

Menurut dia, penguatan dolar terus terjadi meskipun sentimen sempat mereda akibat statement yang dikeluarkan pihak White House.

Namun tak hanya rupiah, sejumlah mata uang negara lain juga tersungkur akibat mata uang Paman Sam yang makin perkasa ini. Tapi ada juga yang berhasil 'melawan'.

Melansir data Reuters, Kamis (28/6/2018), dalam periode dari awal tahun hingga hari ini peso Argentina tercatat turun yang paling dalam yakni 32,13%.

Posisi kedua dari paling buncit ada lira. Mata uang Turki tercatat sudah anjlok 17,75%.

Lalu ada real Brasil yang turun 14,34% dan diikuti oleh rand Afrika Selatan yang turun 10,44%.

Sementara yang tercatat menguat terhadap dolar AS dalam periode yang sama hanya peso Colombia. Tercatat mata uang ini menguat 1,76% terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia juga ternyata bernasib lebih baik. Meskipun ringgit Malaysia hanya menguat 0,05%.


sumber : detikcom

Related image

Ramadhan sudah berlalu. Yang tersisa bagi umat hari ini adalah pertanyaan: bagaimana cara memelihara dan menyempurnakan ketakwaan? Ini adalah pertanyaan amat penting karena memang hikmah dari shaum Ramadhan adalah mencapai derajat takwa.
Tak ada keraguan lagi bahwa ketakwaan adalah status tertinggi seorang hamba di hadapan Allah SWT. Bukan kekayaan, status sosial, warna kulit, suku bangsa, dll. Islam telah menghilangkan status dan prestise yang melekat pada manusia dan menggantikannya takwa. Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 13).
Imam ath-Thabari rahimahulLâh dalam tafsirnya mengatakan, “Sungguh yang paling mulia, wahai manusia, di sisi Tuhan kalian, adalah yang bertakwa, yakni yang menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan; bukan yang paling mewah rumahnya dan paling banyak keturunannya.”(Tafsîr ath-Thabari, 7/86).
Allah SWT Bersama Orang Bertakwa
Takwa oleh sebagian sahabat didefinisikan sebagai:
اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ باِلتَّنْزِيْلِ وَالْقَنَاعَةُ باِلْقَلِيْلِ وَالْإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ
Takut kepada Allah Yang Mahaagung, mengamalkan al-Quran, merasa puas dengan yang sedikit dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi Hari Penggiringan (Hari Akhir).
Sebagian ulama juga memberikan pengertian takwa dengan: menaati semua perintah Allah SWT dan menjauhi segenap larangan-Nya. Hamba-hamba Allah yang bertakwa tidak pernah memilah dan memilih perintah maupun larangan-Nya. Perkara yang fardlu akan ia kerjakan sekuat tenaga sekalipun membutuhkan pengorbanan besar. Sebaliknya, perkara yang haram akan ia tinggalkan meskipun dipandang biasa di tengah masyarakat. Ia akan bergegas untuk mendapatkan ampunan dan surga yang dijanjikan Allah SWT.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (TQS Ali Imran [3]: 133).
Allah SWT akan selalu bersama kaum yang bertakwa:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Sungguh Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (TQS an-Nahl [16]: 128).
Allah SWT akan menjadi wali/penolong kaum yang bertakwa:
وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Allah adalah Pelindung orang-orang yang bertakwa (TQS al-Jatsiyah [45]: 19).
Allah SWT pun akan memberikan jalan keluar atas setiap persoalan dan memberikan rezeki dari cara yang tak diduga bagi orang yang bertakwa:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan beri dia jalan keluar dan rezeki dari jalan yang tak diduga (TQS ath-Thalaq [65]: 2-3).
Keberkahan pun akan dibukakan oleh Allah SWT manakala penduduk satu negeri beriman dan bertakwa.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).
Penyimpangan dari Ketakwaan
Sayang, hari ini sekularisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan) telah menyimpangkan makna takwa yang hakiki. Sekularisme menempatkan takwa sekadar ketaatan dalam urusan ibadah dan akhlak semata. Tidak sedikit orang yang seksama dan khusyuk dalam ibadah dan berperilaku baik pada sesama. Namun, mereka mengabaikan banyak perintah dan larangan Allah yang lain. Padahal Allah SWT telah menjadikan Islam sebagai risalah paripurna, mengatur semua aspek kehidupan.
Kaum Muslim bersemangat melaksanakan perintah shaum (QS al-Baqarah [2]: 183). Namun, terhadap ayat lain yang juga diawali dengan kata “kutiba” umat seperti tidak peduli. Umat seperti tak tersentuh dengan firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishâsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (TQS al-Baqarah [2]: 178).
Demikian pula dengan firman-Nya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ
Diwajibkan atas kalian berperang (TQS al-Baqarah [2]: 216).
Ketidakpekaan umat atas perintah-perintah Allah SWT tersebut karena menerapkan paham sekularisme terhadap ajaran Islam. Akibatnya, Islam menjadi mirip ajaran kerahiban yang hanya mengatur tatacara ibadah ritual dan moral. Padahal Islam adalah sistem kehidupan yang luas. Islam mengatur hubungan manusia dengan Al-Khâliq, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, juga hubungan manusia dengan sesamanya.
Penjajahan atas Dunia Islam telah menjadikan ajaran Islam mengalami sekularisasi. Umat dijauhkan dari risalah Islam yang hakiki. Akidah Islam dijadikan hanya sebatas membahas masalah keakhiratan. Tidak menjadi asas dalam kehidupan dunia. Syariahnya hanya dibatasi dalam masalah ibadah ritual dan akhlak. Tidak dipakai untuk mengatur bidang sosial, ekonomi, politik dan negara.
Distorsi makna takwa ini membuat kehati-hatian dalam beramal karena takut pada Allah SWT kian pudar dalam kehidupan sehari-hari. Praktik riba merajalela. Kecurangan bisnis terus terjadi. Perzinaan dan LGBT menjadi-jadi. Kezaliman dan kebohongan dalam politik dan pemerintahan tak kunjung henti.
Bahkan sebagian Muslim juga mengkriminalisasi ajaran agama dan orang-orang yang memperjuangkan agama. Muslim yang berusaha istiqamah menjalankan agama dan menyerukan pelaksanaan agama dilabeli sebagai kaum radikal. Mereka dipersekusi. Sementara itu syariah Islam dan penegakan Khilafah yang telah dibahas kewajiban hukumnya oleh para ulama Aswaja dipandang sebagai ancaman bagi umat manusia.
Akibat hilangnya takwa, sifat amanah dan menepati janji pun kian menghilang. Sebagai contoh, menurut Natalius Pigai, mantan Komisioner Komnas HAM, ada 66 janji pemerintahan Jokowi-JK ketika kampanye yang belum terealisasikan. Sejumlah janji diingkari begitu saja. Janji tidak akan menambah utang. Yang terjadi justru menambah utang sebanyak Rp 1.166 triliun dan sudah menembus angka Rp 4 ribu triliun. Janji tidak menaikkan harga BBM, tarif listrik, dsb. Yang terjadi justru sebaliknya.
Demikian dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan sekularisme hingga orang tidak merasa berdosa dan hilang rasa takutnya kepada Allah SWT ketika merusak kehidupan bernegara. Padahal dalam ajaran Islam, negara itu ada untuk menjaga dan melindungi masyarakat dan melindungi ketakwaan mereka. Dalam Târikh al-Khulafâ’ dituliskan bahwa Ibnu Saad berkisah: Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab pergi ke mimbar. Saat itu ia sedang dalam keadaan sakit. Orang-orang lalu mengatakan bahwa obatnya adalah madu. Di Baitul Mal ada satu geribah (kantong dari kulit) berisi madu. Khalifah Umar kemudian bertanya, ”Kalau kalian mengizinkan aku mengambilnya, akan aku ambil. Bila tidak, kunyatakan haram bagiku.” Orang-orang kemudian mengizinkan Umar untuk mengambilnya. Demikian hati-hatinya Khalifah Umar menggunakan harta rakyat bahkan sampai sekantung madu pun tak mau ia gunakan bila tidak mendapatkan izin dari rakyatnya.
Demikianlah sikap pemimpin yang bertakwa. Amat berhati-hati menjalankan pemerintahan karena terdorong rasa takut mereka akan hisab Allah SWT.
Memelihara Ketakwaan
Penyimpangan dari ketakwaan berdampak buruk bagi umat (Lihat: QS ar-Rum [30]: 41). Karena itu Rasulullah saw. telah mengingatkan kaum Muslim agar memelihara perintah dan larangan Allah SWT:
إِنْ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا
Sungguh Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban. Karena itu jangan kalian menyia-nyiakannya. Allah pun telah menetapkan berbagai larangan. Karena itu jangan kalian melanggarnya (HR al-Baihaqi).
Langkah yang bisa dilakukan untuk memelihara dan menyempurnakan ketakwaan kepada Allah SWT antara lain: Pertama, menjadikan akidah Islam bukan sekadar akidah ruhiyyah, tetapi juga akidah siyasiyah, yakni asas dalam kehidupan dunia. Dengan itu semua urusan dunia maupun akhirat selalu dilandasi oleh dorongan keimanan kepada Allah SWT.
Kedua, senantiasa menjadikan Islam sebagai standar untuk menilai perbuatan terpuji-tercela dan baik-buruk. Pertimbangan dalam beramal hanyalah halal dan haram, bukan manfaat atau madarat; bukan pula ridha atau benci manusia. Yang ia cari semata-mata adalah keridhaan Ilahi sekalipun orang-orang mencaci dirinya.
Ketiga, bersabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT sebagaimana para nabi dan rasul, juga orang-orang salihh dalam menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Nabi saw. bersabda:
فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ
Sungguh di belakang kalian adalah masa kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Pahala bagi yang melakukannya seperti 50 orang yang mengerjakan amalnya (HR Abu Daud).
Keempat, berdakwah mengajak umat untuk sama-sama meniti jalan ketakwaan dan menghilangkan kemungkaran. Ia takut bila berdiam diri justru akan mendatangkan bencana dari Allah SWT (Lihat: QS al-Anfal [8]: 25).
Kelima, segera memohon ampunan kepada Allah SWT dan kembali pada ketaatan manakala telah melakukan kemungkaran (Lihat: QS Ali Imran [3]: 135).
Keenam, menumbuhkan kerinduan pada ridha Allah dan surga-Nya. Dengan begitu ia tak akan tergoda untuk menggadaikan agama demi mendapatkan sekeping dunia yang ia pandang remeh. Seluruh hidupnya akan digunakan untuk meneguhkan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. []
—***—
Hikmah:
Nabi saw. bersabda:
السَّعَادَةُ كُلُّ السَّعَادَةِ طُولُ الْعُمُرِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Kebahagiaan dari segala kebahagiaan adalah panjang usia dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla (Musnad asy-Syihab Imam al-Qudhay, hadis marfû’). []
—***—
Sumber:
Buletin Kaffah No. 045 (15 Syawal 1439 H-29 Juni 2018 M)

Image result for penaklukan islam

Oleh : Ust Azizi Fathoni

“Islam kita ini Islam nusantara, Islam kita ini Islam yang sejati bukan Islam abal-abal model Timur Tengah. Ini Islam sejati, Islam nusantara ini, serius! serius! … Kenapa Islam nusantara mampu menjadi Islam yang sejati? karena Islam hadir dan hidup di nusantara ini bukan sebagai penakluk. Lain dengan yang di Arab dan anak-anak peradabannya, semuanya Islam datang sebagai penakluk.. yaa kurang lebih sebagai penjajah.”

Begitulah narasi yang dibawakan oleh Yahya Staquf dalam sebuah potongan video yang sedang viral bebarapa hari terakhir, bersamaan dengan viralnya video talkshow dirinya di wilayah pendudukan Israel.

Dalam narasinya tersebut, Yahya Staquf mengangkat “Islam Nusantara” dan merendahkan “Islam Arab”. Lebih memperihatinkan lagi adalah alasan bahwa itu disebabkan karena Islam Arab datang sebagai penakluk, yang itu ia samakan dengan penjajahan. Itu berarti secara tidak langsung menganggap Rasulullah saw beserta para Khulafa’ Rasyidun ra layaknya penjajah. Karena di tangan beliau-beliaulah Islam tersebar di jazirah Arab dan anak-anak peradabannya. wal ‘iyâdzu billâh.

Mari kita fokus pada isu penaklukan dalam Islam yang ia samakan dengan penjajahan. Benarkah demikian? Mari kita lihat dari sudut pandang bagaimana itu penaklukan dalam Islam, dan apa itu penjajahan. Sering kali aspek ini juga disalahpahami oleh sebagian kaum muslim akibat propaganda yang dilakukan oleh kaum orientalis atau para penyambung lidah mereka, bahwa Islam disebarkan dengan pedang alias dengan pemaksaan, kekerasan, atau semacamnya.

Menaklukkan Demi Dakwah Islam Tanpa Paksaan

Penaklukan dalam Islam atau yang juga dikenal dengan pembebasan dan futuhat adalah bagian daripada syari’at jihad. Yaitu tepatnya jihad yang bersifat offensive (jihâd hujûmî), yang diartikan sebagai:

القتال الهجومي : وهو الذي يبدؤه المسلمون عندما يتجهون بالدعوة الإسلامية إلي الأُمم الأخرى في بلادها ، فيصدّهم حكامها عن أن يَبْلُغوا بكلمة الحق سمع الناس .

“Perang yang bersifat offensive; yaitu perang yang dimulai oleh kaum muslim ketika mereka memaksudkan dakwah Islam kepada umat lain di negeri mereka, namun penguasanya menghalang-halangi kaum muslim untuk menyampaikan kebenaran.” (Mushthafa Dib al-Bugha dkk., al-Fiqh al-Manhajî ‘alâ Madzhab al-Imâm al-Syâfi’î, juz 8 hlm 115)

Inti daripada jihad ini adalah dakwah, yaitu agar Islam masuk, tersiar, dan diterapkan di wilayah yang menjadi target dakwah. Adapun perang, sebatas untuk menghilangkan penghalang dakwah yang biasanya datang dari penguasa wilayah setempat.

Jihad offensive ini dalam keterangan para ulama, hukumnya fardhu kifayah yang lazim dilaksanakan minimal setahun sekali.

أن يغزو كل عام إما بنفسه أو بسراياه على الإمام ، ولا يعطل الجهاد إذا قدر عليه : لأن فرضه على الأبد ما بقي للكفار دار ، والذي استقرت عليه سيرة الخلفاء الراشدين أن يكون لهم في كل سنة أربع غزوات ، صيفية في الصيف ، وشتوية في الشتاء ، وربيعية في الربيع ، وخريفية في الخريف . ... فإن عجز الإمام عن أربع غزوات في كل عام انتصر منها على ما قدر عليه . وأقل ما عليه أن يغزو في كل عام مرة ، ولا يجوز أن يتركها إلا من ضرورة.

“Wajib seorang imam (khalifah) untuk menyelenggarakan perang (jihad) setiap tahun, baik dengan melibatkan dirinya langsung maupun dengan mengirim pasukan, dan tidak boleh menelantarkan jihad apabila ada kemampuan untuk itu. Sebab wajibnya jihad itu berlaku untuk selamanya, selama kaum kafir memiliki wilayah kekuasaan. Dan yang menjadi ketetapan pada masa Khulafa Rasyidin adalah mereka setiap tahunnya menyelenggarakan empat kali jihad; di musim panas, di musim dingin, di musim semi, dan di musim gugur. … Apabila sang imam (khalifah) tidak mampu menyelenggarakan empat kali jihad di setiap tahunnya, maka dilakukan semampunya menurut kemampuan maksimal yang dimilikinya. Sedangkan minimal yang wajib untuk dilaksanakannya di setiap tahun adalah satu kali. Dan tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan alasan darurat.” (al-Mawardi, al-hâwî al-kabîr, juz 14 hlm 301)

Meski berupa aktivitas perang fisik, jihad jenis ini tidak dilakukan secara sembarangan. Akan tetapi memiliki tata cara tertentu yang khas. Yakni diawali dengan menawarkan kepada penguasa kaum kafir untuk memilih salah satu dari tiga pilihan: masuk Islam, membayar jizyah (dengan tetap dalam kekafiran), atau perang.

Tiga pilihan ini merupakan kaifiyah baku yang datang dari Rasulullah saw. Beliau bersabda:

وإذا لقيت عدوك من المشركين ، فادعهم إلى ثلاث خصال -أو خلال- فأيتهن ما أجابوك فاقبل منهم ، وكف عنهم ، ثم ادعهم إلى الإسلام ، فإن أجابوك ، فاقبل منهم ، وكف عنهم ، ... فإن هم أبوا فسلهم الجزية ، فإن هم أجابوك فاقبل منهم ، وكف عنهم ، فإن هم أبوا فاستعن بالله وقاتلهم .

"Jika kamu menjumpai musuhmu kaum musyrik, maka serulah mereka untuk memilih salah satu dari tiga perkara. Apapun dari ketiganya yang mereka pilih maka kamu harus menerimanya. Serulah mereka untuk masuk Islam, jika mereka mau maka terimalah dan biarkan mereka … jika mereka tidak mau maka mintalah dari mereka jizyah, jika mereka mau maka terimalah dan biarkan mereka. Jika mereka tidak mau, maka mintalah pertolongan pada Allah perangilah mereka. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Bakunya seruan di atas tergambar jelas di antaranya dalam pembicaraan antara ‘Ubadah bin al-Shamit ra yang merupakan utusan panglima ‘Amr bin al-‘Ash ra, yang diutus khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra untuk membebaskan negeri Syam, dengan raja Muqauqis berikut.

... فانظر الذي تريد فبينه لنا ، فليس بيننا وبينكم خصلة نقلبها منكم ، ولا نجيبك إليها إلا خصلة من ثلاث، فاختر أيها شئت ، ولا تُطمع نفسك في الباطل؛ بذلك أمرني الأمير ، وبها أمره أمير المؤمنين ؛ وهو عهد رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من قبل إلينا .

أما إن أجبتم إلى الإسلام الذي هو الدين الذي لا يقبل الله غيره ، وهو دين أنبيائه ورسله وملائكته ، أمرنا الله أن نقاتل من خالفه ورغب عنه حتى يدخل فيه ، فإن فعل كان له ما لنا وعليه ما علينا ، وكان أخانا في دين الله ؛ فإن قبلت ذلك أنت وأصحابك ، فقد سعدتم في الدنيا والآخرة ، ورجعنا عن قتالكم ، ولا نستحل أذاكم ، ولا التعرض لكم ، وإن أبيتم إلا الجزية ، فأدوا إلينا الجزية عن يد وأنتم صاغرون ، نعاملكم على شيء نرضى به نحن وأنتم في كل عام أبدًا ما بقينا وبقيتم ، ونقاتل عنكم من ناوأكم وعرض لكم في شيء من أرضكم ودمائكم وأموالكم، ونقوم بذلك عنكم ؛ إذ كنتم في ذمتنا، وكان لكم به عهد الله علينا ، وإن أبيتم فليس بيننا وبينكم إلا المحاكمة بالسيف حتى نموت من آخرنا ، أو نصيب ما نريد منكم ؛ هذا ديننا الذي ندين الله به ، ولا يجوز لنا فيما بيننا وبينه غيره، فانظروا لأنفسكم .

فقال له المقوقس : هذا مما لا يكون أبدًا ، ما تريدون إلا أن تأخذونا لكم عبيدًا ما كانت الدنيا . فقال له عبادة : هو ذاك ، فاختر ما شئت . فقال له المقوقس : أفلا تجيبونا إلى خصلة غير هذه الخصال الثلاث ؟ فرفع عبادة يديه ، وقال : لا ورب السماء ورب هذه الأرض ورب كل شيء ، ما لكم عندنا خصلة غيرها ، فاختاروا لأنفسكم .

“(’Ubadah bin al-Shamit ra.): … Pikirkanlah dan terangkan kepada kami apa yang anda mau. Antara kita tidak ada pilihan yang akan kami terima dan tidak pula pilihan lain selain salah satu dari tiga pilihan saja. Pilihlah mana yang anda mau, jangan perturutkan hawa nafsu anda dalam kebatilan. Begitulah aku diperintahkan oleh amir (amir jihad), dan begitu pula-lah amirul mukminin (khalifah) memerintahkan beliau. Dan sebelumnya, itu merupakan amanat dari Rasulullah saw kepada kami.

Yaitu antara memenuhi seruan masuk Islam, yang merupakan agama satu-satunya yang diterima oleh Allah, ialah agama para nabi, rasul, dan malaikat-Nya. Allah memerintahkan kami untuk memerangi siapa saja yang menyelisihi dan membencinya hingga ia masuk ke dalamnya. Apabila ia lakukan itu (masuk Islam) maka ia akan mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan kami, dan akan menjadi saudara se-Islam kami. Jika anda dan sahabat-sahabat anda memilih itu, maka kalian pasti bahagia di dunia dan di akhirat, dan kami akan pulang dari memerangi kalian, dan tidak menyakiti kalian, dan tidak pula menantang kalian. Tapi jika kalian tidak mau kecuali membayar jizyah, maka tunaikanlah jizyah kepada kami dalam keadaan tunduk terhadap syari’at Islam. Kami akan memperlakukan kalian berdasarkan apa yang kita sepakati bersama di setiap tahunnya untuk seterusnya selama kami dan kalian ada. Kami akan memerangi siapa saja yang memusuhi dan menantang kalian terkait tanah, keselamatan jiwa dan harta kalian. Kami lakukan itu untuk kalian karena kalian berada dalam jaminan kami, dan kalian punya hak dalam perjanjian yang wajib kami tepati. Tapi jika kalian enggan, maka antara kita hanya ada penentuan melalui perang hingga kami mati semua atau kami mengalahkan kalian. Inilah agama kami yang kami yakini, dan kami tidak boleh menempuh langkah lain di dalamnya. Maka pikirkanlah keputusan untuk diri kalian.

Raja Muqauqis berkata kepada beliau: Yang kalian mau tidak lain adalah menjadikan kami sebagai orang-orang kalian, sampai hari kiamat ini tidak akan mungkin terjadi! Ubadah berkata: Itulah adanya, silahkan pilih mana yang anda mau. Muqauqis: Tidakkah kalian mau menerima alternatif pilihan selain tiga perkara ini? Maka ‘Ubadah mengangkat kedua tangan beliau, dan berkata: Demi Allah Tuhan langit, bumi, dan segala sesuatu, kalian tidak punya pilihan lain selain itu. Maka tentukan pilihan kalian.” (Jalaluddin al-Suyuthi, Husn al-Muhâdharah fî Târîkh Mishr wa al-Qâhirah, juz 1 hlm 113-114)

Di situ jelas bahwa tiga pilihan tersebut adalah “harga mati” yang tidak bisa ditawar lagi. Ia adalah amanat Rasulullah saw bagi kaum muslim sepeninggal beliau untuk selalu diterapkan hingga hari kiamat tiba, dan bagi kaum kafir dipersilahkan untuk memilih; apakah mau masuk Islam, atau mau tetap kafir dengan membayar jizyah, atau bahkan menghendaki perang.

Tentu umat Islam sangat berharap mereka memilih pilihan yang pertama, yaitu masuk Islam tanpa ada peperangan. Akan tetapi, umat Islam tidak bisa memaksa kaum kafir memilih yang mana. Keputusan memilih sepenuhnya ada di tangan kaum kafir, dan manapun yang menjadi pilihan mereka umat Islam harus siap menghadapinya. “Apapun dari ketiganya yang mereka pilih maka kamu harus menerimanya” begitu pesan Nabi saw.

Tidak bisa dikatakan bahwa kaum muslim memaksa mereka masuk Islam dengan ancaman perang, karena ada opsi yang dengan memilihnya mereka bisa tetap dalam kekafirannya jika memang tidak mau masuk Islam. Yaitu dengan membayar jizyah dan tunduk sebagai Kafir Dzimmi. Kalaupun yang mereka pilih adalah perang, maka itu kemauan mereka sendiri, bukan kemauan umat Islam.

Dan yang perlu digaris bawahi tebal-tebal adalah, bahwa tiga pilihan tersebut bukan kreasi umat Islam sendiri. Bukan pula hasil karangan Muhammad bin Abdillah sebagai manusia. Akan tetapi itu adalah ketentuan syari’at dari Allah swt yang telah mengutus beliau. Kaum muslim hanya menjalankannya sebagai bagian dari konsep sistem khilafah dari masa ke-masa, yakni terkait dengan prinsip politik luar-negerinya. Dan terbukti inilah cara mahahebat Allah swt dalam mengunggulkan Islam atas segala agama yang ada. Sehingga menjadi agama pengayom bukan yang diayomi, pemberi keputusan bukan yang diberi keputusan, menyebar rahmat dan pemakmur dunia dengan cahaya petunjuk ilahi bukan menyebab kerusakan dan kesesatan. Sebagaimana terkandung dalam ayat:

{ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ } [التوبة: 33]

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk Dia menangkan atas segala agama yang ada, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS. Al-Taubah [9]: 33)

Semoga kita tidak termasuk kaum musyrik yang tidak menyukai akan hal tersebut.

Penaklukan Bukan Penjajahan

Karena misi utama daripada jihad di atas adalah dakwah Islam, maka tentu terbalik akal orang-orang yang menyamakannya dengan penjajahan. Bisa dilihat dalam catatan sejarah, betapa penaklukan Islam dapat membawa kemakmuran dan kesejahteraan di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya, dan semua itu dinikmati oleh warga setempat baik muslim maupun non-muslimnya. Di antara pengakuan akan keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan non-muslim dalam naungan Islam dengan sistem khilafah-nya, adalah surat yang dikirim oleh kaum nasrani Syam kepada sahabat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra pada tahun 13 H:

يا معشر المسلمين أنتم أحب إلينا من الروم وإن كانوا على ديننا ، أنتم أوفى لنا وأرأف بنا وأكف عن ظلمنا وأحسن ولاية علينا.

“Wahai kaum muslim, kalian lebih kami cintai daripada bangsa Romawi meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, lebih berbelas-kasih terhadap kami, lebih bersikap adil terhadap kami, dan lebih baik dalam memerintah kami.” (al-Baladzuri, Futûh al-Buldân, hlm 139)

Dan banyak lagi keterangan serupa dapat dibaca di banyak referensi. Di antaranya sebagaimana telah dihimpun oleh Dr. Abdullah bin Ibrahim al-Luhaidan dalam karyanya Samâhah al-Islâm fî Mu’âmalah Ghayr al-Muslimîn.

Ini 180° berbeda dengan penjajahan. Yang faktanya selalu mengeksploitasi kekayaan negeri jajahan untuk dinikmati pihak penjajahnya, serta memiskinkan, memperbudak, mengusir atau bahkan kalau perlu membantai warga aslinya. Sebagaimana penjajahan Belanda atas Indonesia, kaum zionis Israel atas Palestina, bangsa kulit putih atas kulit hitam di AS, dan lain sebagainya.

Islam tidak hanya sebatas memakmurkan wilayah yang ditaklukkan dan menyejahterakan penduduknya. Karena dengan penaklukan tersebut Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan, termasuk dalam bernegara, maka banyak warga non-muslim melihat keindahan Islam dan akhirnya dengan suka-rela masuk Islam. Sebagaimana masuk Islam nya seorang Nasrani di masa kekhilafahan ‘Umar bin Khaththab ra karena telah dibela sang khalifah atas perilaku zalim seorang walinya; juga berislamnya seorang Yahudi di masa kekhilafahan ‘Ali bin Abi Thalib ra karena kasusnya dimenangkan secara adil oleh al-Qadhi Syuraikh padahal lawan sengketanya tidak lain adalah sang khalifah sendiri, dan banyak lagi. Inilah dakwah bil-hâl (dengan praktik langsung) sebenarnya yang diperankan oleh khilafah dengan penerapan syari’at Islam secara menyeluruh atas umat atau wilayah yang ditaklukkannya. Sebagaimana pepatah arab mengatakan:

لسان الحال أفصح من لسان المقال

"Ajakan melalui praktik itu lebih kuat pengaruhnya daripada ajakan secara lisan semata."

Adakah sistem yang seindah, seteratur, dan secermat sistem Islam ini? Kenapa ada manusia-manusia jahat yang berusaha mengkriminalisasi ajarannya, dalam hal ini Jihad dengan menyamakannya dengan penjajahan? Apakah tidak mungkin justru merekalah penyambung lidah para penjajah yang sebenarnya, dari kalangan kaum kapitalis yang merasa terancam kepentingannya dengan tegaknya syari’at yang anti terhadap penjajahan, yaitu Khilafah yang akan menerapkan jihad offensive menyebarkan islam sebagai rahmat[an] lil-‘âlamîn? Wallâhu ta’âlâ a’lam. Mari kita pelihara otak kita agar selalu berfikir. [af]

Related image

Oleh : KH. Hafidz Abdurrahman, MA

Batasan “Ghibah”

“Ghibah” adalah menyebut seseorang di belakang, tentang apa yang tidak disukainya. [Lihat, al-‘Allamah Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, hal. 304]. Hukum asal “Ghibah” adalah haram. Keharaman ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Q.s. al-Hujurat: 12]

Makna “Ghibah” dinyatakan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يُكْرِهُ. قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

"Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka [para sahabat] menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Baginda saw. bersabda, “Ketika kamu menyebut saudaramu apa yang tidak dia sukai.” Ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu, jika apa yang aku katakan itu memang ada pada saudaraku.” Baginda saw. menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang ada padanya, maka kamu benar-benar telah melakukan ghibah kepadanya. Jika apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, maka kamu benar-benar telah memfitnahnya.” [Hr. Muslim]

Menurut al-Hasan, sebagaimana dinukil oleh al-Qurthubi, “Ghibah” itu ada tiga bentuk. Semuanya disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu “Ghibah”, “Ifk” dan “Buhtan”.

“Ghibah” adalah membicarakan saudaramu, yang memang faktanya seperti itu. Sedangkan “Ifk” adalah membicarakannya, sebagaimana informasi yang sampai kepadamu tentang dirinya. Adapun “Buhtan” adalah membicarakannya yang tidak sesuai dengan faktanya. [Lihat, al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, hal. Juz II/2878-2879]

“Ghibah” yang Dibolehkan
Dalam kitab, Raudhatu at-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin, dan al-Adzkar, Imam an-Nawawi menyatakan, "Ghibah” itu dibolehkan karena ada enam alasan. Saya telah menjelaskannya dengan berbagai bukti, apa yang terkait dengannya, dan beberapa jalan keluarnya dalam bagian akhir kitab al-Adzkar:

Pertama
Mengadukan kezaliman. Boleh bagi orang yang dizalimi untuk mengadukan kezaliman kepada Sultan [Khalifah], Qadhi [hakim] dan yang lain, yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menegakkan keadilan dari pelaku yang telah mezaliminya. Maka, dia bisa mengatakan, “Saya telah dizalimi Si Fulan. Dia telah melakukan begini kepada saya.”

Kedua
Meminta bantuan untuk mengubah kemunkaran, mengembalikan orang yang maksiat agar kembali ke jalan yang benar. Maka dia bisa mengatakan kepada siapa saja yang diharapkan, dengan kemampuannya, bisa menghilangkan kemunkaran. “Si Fulan telah melakukan perbuatan begini, maka cegahlah dia dari perbuatan itu.” Atau sejenisnya.

Ketiga
Meminta fatwa. Misalnya, mengatakan kepada Mufti, “Saya telah dizalimi Si Fulan, atau ayahku, atau saudaraku begini. Apakah dia berhak melakukan itu, atau tidak? Lalu, bagaimana caranya saya bisa melepaskan diri dari kezalimannya, dan mengelakkan kezalimannya terhadap diriku?” dan sejenisnya. Begitu juga, dia mengatakan, “Isteriku telah melakukan begini denganku.” Atau, “Suamiku telah memukulku, dan mengatakan kepadaku begini.” Semuanya ini boleh, karena dibutuhkan. Untuk lebih berhati-hati, hendaknya dia mengatakan, “Bagaimana pendapat Anda terhadap seseorang, suami, atau orang tua dengan tindakannya begini?” Meski demikian, jika dinyatakan secara definitif juga boleh. Berdasarkan hadits Hindun, dalam Shahih Bukhari dan Muslim, “Abu Sufyan itu orang yang pelit..” [al-Hadits].

Keempat
Memberi peringatan kepada kaum Muslim akan keburukannya. Itu antara lain tampak pada beberapa aspek:

Antara lain, menyatakan cacat orang yang memang cacat, baik perawi, saksi maupun pengarang. Itu boleh berdasarkan ijmak, bahwa wajib, karena untuk melindungi syariah.

Antara lain, jika Anda diminta pendapat seseorang tentang keluarganya, syarikah, titipannya, atau titipan orang padanya, atau mu’amalahnya dengan pihak lain, maka Anda wajib menyebutkan kepadanya apa yang Anda tahu tentangnya sebagai nasihat. Jika tujuan tersebut tercapai dengan Anda mengatakan, “Kamu tidak pantas bermu’amalah dengannya, atau berkeluarga dengannya, atau jangan melakukan ini, atau sejenisnya.” Jika menambah dengan menyebut keburukannya tidak cukup, jika tujuannya tidak tercapai, kecuali dengan terus terang secara definitif, maka sebutkanlah sebagai bentuk nasihat.

Antara lain, jika Anda melihat seseorang membeli barang yang cacat, atau budak yang tukang mencuri, pezina, atau pemabuk, lalu Anda mengingatkan pembelinya, jika dia belum mengetahuinya, sebagai bentuk nasihat, bukan untuk tujuan menyusahkan atau merusaknya.

Antara lain, Anda melihat orang yang belajar fiqih, bolak-balik mendatangi orang fasik dan ahli bid’ah untuk menjadikannya rujukan ilmu, Anda mengkhawatirkan bahaya orang itu, maka Anda wajib memberi nasihat kepadanya, dengan menjelaskan keadaannya dengan tujuan untuk memberi nasihat.

Antara lain, orang yang mempunyai kekuasaan, yang tidak menunaikannya sebagaimana mestinya, karena memang tidak mampu, atau fasik. Anda mengingatkannya kepada orang yang mempunyai kemampuan menjadi penguasa, agar bisa menggantikannya, atau dia mengetahui keadaannya, tetapi tidak menjadikannya sebagai pelajaran, atau mengharuskannya untuk meluruskannya.

Kelima, orang yang mendemonstrasikan kefasikan, atau bid’ahnya, seperti minum khamer, menyita harta milik masyarakat, menarik pajak, mengendalikan perkara-perkara yang batil, maka boleh disebutkan apa yang dia demonstrasikan itu, sedangkan yang lain tidak boleh, kecuali ada alasan lain.

Keenam
Memperkenalkan nama. Jika orang itu dikenal dengan gelar, seperti al-A’masy [rabun], al-A’raj [pincang], al-Arzaq, al-Qashir [pendek], dan sebagainya. Boleh mengenalkannya dengan gelar itu. Tapi, haram menyebut gelar tersebut, jika dimaksud untuk melecehkannya. Jika bisa memperkenalkan dengan gelar lain, tentu lebih baik.

Inilah ringkasan apa yang diperbolehkan tentang “Ghibah”. Wallahu a’lam.

[Lihat, Imam an-Nawawi, Raudhatu at-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin, juz III/192-193; al-Adzkar, hal. 235]

Khatimah

Ini ketentuan tentang “Ghibah” yang diperbolehkan, menurut Imam an-Nawawi. Mengenai rincian dalilnya telah beliau uraikan dalam kitab al-Adzkar [Lihat, al-Adzkar, hal. 235-236]. Bahkan, dalam penjelasannya, Imam an-Nawawi juga menyatakan, pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, dan ulama’ lain. Wallahu a’lam.

netanyahu kushner greenblatt
Oleh: Ahmad al-Khathwani
Dua utusan Amerika Jared Kushner penasehat Presiden Amerika Donald Trump dan Utusan Khusus AS untuk Negosiasi Jason Greenblatt, mengakhiri tur singkat di Timur Tengah, yang mencakup Mesir, Arab Saudi, Qatar, Yordania dan entitas Yahudi. Tidak tersebar dari tur itu suatu proposal politik khusus yang disepakati. Juga tidak terkristal sama sekali ajaran yang jelas seputar rencana Trump yang dikenal sebagai kesepakatan abad ini. Semua yang keluar dari wartawan tentang tur itu hanyalah spekulasi dan dugaan.
Mungkin hal paling mencolok yang muncul dalam pernyataan para pejabat tersebut dalam tur ini adalah untuk mengatasi situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan untuk membahas ide-ide (yang samar) untuk memisahkan Gaza dan membedakannya dalam berurusan dengan Tepi Barat. Juga untuk meminta Arab Saudi dan negara-negara Teluk untuk melakukan pembiayaan komprehensif untuk Jalur Gaza sekira satu miliar dolar dengan dalih mengatasi krisis kemanusiaan yang melanda di Jalur Gaza.
Adapun bocoran Yahudi, hal itu telah memenuhi pers Ibrani. Yang paling menonjol adalah ide-ide Likud yang dikenal milik Netanyahu tentag rencana tersebut. Tampaknya itu seperti rencana yang didiktekan oleh kelompok kanan Yahudi kepada Trump dan bukan ide-ide yang berasal dari para pejabat Amerika. Ide itu misalnya, penggabungan semua pemukiman dan Lembah Yordan dengan entitas Yahudi, dan pencopotan penuh untuk masalah al-Quds dan pengungsi dari proses negosiasi. Hal itu  dengan jalan penundaan pembahasan keduanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Dan didirikan entitas metamorfosis Palestina di wilayah (a) dan (b) menurut klasifikasi perjanjian Oslo, dengan penambahan wilayah baru dari daerah (c). Dan kemudian dideklarasikan negara Palestina di daerah-daerah terbatas itu, dengan syarat seluruh negara di dunia mengakui “negara (Israel) sebagai tanah air bagi bangsa Yahudi, dan Negara Palestina sebagai tanah air bagi bangsa Palestina, dan (Israel) menjamin kebebasan beribadah di tempat-tempat suci untuk semua dengan tetap menjaga status quo”. Da dimulai segera normalisasi hubungan dan pembentukan perdamaian antara entitas Yahudi dan negara-negara Arab.
Tur pejabat AS ini menunjukkan bahwa ada rencana AS yang hampir selesai untuk mengtasi masalah Palestina, dan bahwa rencana itu dalam tahap kerja akhir. Sementara pada kenyataannya tidak ada sesuatu yang jelas atau konsisten dalam rencana tersebut selain dari namanya, dan pembentukan hubungan normalisasi dan perdamaian antara entitas Yahudi dan negara-negara Arab, dan tepatnya pembentukan hubungan dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk.
Dari sudut pandang praktis, administrasi Amerika telah berusaha melalui tur ini untuk menonjolkan beberapa hal dengan menggunakan pendektan wortel dan tongkat:
* AS tetap membekukan bantuan khusus kepada Otoritas Palestina untuk 2018 sebesar $ 200 juta (sekitar $ 251 juta), di samping pembekuan $ 65 juta untuk Badan penyelamatan dan pemberian pekerjaan untuk para pengungsi (UNRWA), dengan mengabaikan rekomendasi Kementerian Luar Negeri AS dan USAID untuk melanjutkan bantuan ini.
* Gedung Putih mengirim pesan positif kepada Otoritas Palestina melalui pembocorannya kepada pers di entitas Yahudi yang menyatakan bahwa rencana perdamaian akan menjadi dasar untuk negosiasi dan bukan solusi yang dipaksakan. Dan bahwa Washington masih menganggap Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas sebagai teman dialog Palestina satu-satunya dan bahwa Washington tidak berusaha melangkahinya. Bleh jadi, ini juga satu hal yang berusaha ditampilkan oleh pers Amerika.
* Gedung Putih mengikuti rencana (wortel) mengungkapkan untuk menyediakan pendana Teluk untuk proyek-proyek ekonomi di Jalur Gaza senilai satu miliar dolar, termasuk penyediaan energi dalam kondisi ada pemutusan listrik terus menerus di Jalur Gaza, dan pembangunan pelabuhan, dan jaringan energi surya Sinai Utara di perbatasan selatan Gaza. Tujuan yang diumumkan dari pengumuman langkah ini adalah berkontribusi menyediakan atmosfer positif yang akan membantu menggerakkan perundingan.
* AS menerima keterlibatan terbatas dari Eropa dalam menyelesaikan rencana. Hal itu tampak melalui peran Inggris yang terlihat dalam upaya Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson untuk mengadakan pertemuan yang diperluas pada bulan depan antara Kouchner dan menteri luar negeri dari Perancis, Inggris, Jerman, Mesir, Yordania, Arab Saudi dan entitas Yahudi. Pertemuan itu untuk membandingkan ide-ide dan menentukan apa yang menjadi (garis merah) untuk jalannya negosiasi, di bawah upaya Eropa untuk memasuki garis AS, dan mencoba untuk menempatkan patokan-patokan Eropa terhadap rencana Gedung Putih yang tampaknya telah banyak dari rencana itu yang dicapai tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan Inggris dan negara-negara Eropa. Juga di bawha kondisi adanya perbedaan besar antara kedua pihak atas latar belakang benturan di antara keduanya seputar masalah nuklir Iran dan masalah tarif perdagangan. Dan perlu diketahui bawa Kouchner, dalam jawabannya kepada Boris Johnson, sangat jelas ketika dia bersikeras bahwa masalahnya pada akhirnya terserah kepada Trump untuk memutuskan sendiri apa yang termasuk dalam rencana AS sehingga tidak menerima tambahan substansial terhdapnya dari Inggris dan Eropa.
Tampaknya Amerika tidak ingin memberikan kesempatan kepada orang Eropa untuk mengutak-atik rencana AS dengan alasan penentuan (garis merah). Sebab AS tidak mau mengakui kehadiran orang-orang Eropa sebagai mitra, tetapi AS mau menerima mereka sebagai pihak saksi, tidak lebih. Sudah diketahui dengan baik bahwa Amerika lah yang menggulingkan Kuartet internasional, dan memonopoli masalah Palestina, dan karena itu tidak diprediksi AS kembali kepada kesalahan yang sama.
Di bawah penolakan alami dari sisi Palestina terhadap rencana tersebut, dikarenakan mustahil untuk menerimanya, maka penerimaan terhadapnya merongrong pedoman-pedoman internasional yang telah disepakati dan dikomitmenkan untuk dipegangi.  Tidak ada pemimpin Palestina yang mampu berlepas diri darinya. Sebab jika dia melakukannya maka dia langsung jatuh. Bahkan hingga pemerintahan Trump sendiri memperhatikan kekhususan otoritas Palestina, sehingga AS tidak menekannya untuk membuat otoritas Palestina menerima kesepakatan karena AS mengetahui sulitnya posisi Otoritas jika menerima kesepakatan itu.
Mengingat penolakan yang diprediksi ini, kesepakatan itu tidak memiliki makna lagi kecuali normalisasi dan pembentukan perdamaian antara entitas Yahudi dan negara-negara Arab, terutama negara-negara Teluk. Bagian yang mungkin diberlakukan dari kesepakatan itu adalah perdamaian dan hubungan ini. Adapun penyelesaian isu Palestina melalui kesepakatan abad ini maka tidak dimungkinkan dalam apa yang terjadi menyibukkan warga Palestna dengan situasi ekonomi seperti rekonstruksi Gaza, dan dengan perbedaan pendapat politik yang tak ada habisnya seperti rekonsiliasi, pemerintahan konsensus, pemilihan umum dan sejenisnya.
Mungkin penurunan tingkat pihak AS yang menangani masalah sensitif ini menunjukkan ketidakseriusan Amerika dalam solusi itu. Penyerahan masaah kepada Kouchner dan Greenblatt, dan marginalisasi peran tradisional dari Kementerian Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional, menegaskan bahwa Amerika pada akhirnya tidak menginginkan dari kesepakatan itu lebih dari masalah normalisasi.
Keterpurukan para penguasa Arab sampai batas ini, keantekan mereka, membebeknya mereka di belakang entitas Yahudi dan normalisasi dengan entitas Yahudi, dan ketidakpedulian terhadap hak-hak umat, sungguh merupakan dukti pasti atas dekatnya hilangnya takhta mereka. Dan itu merupakan kabar gembira dekatnya menyeruak sinar fajar pertama, fajar munculnya Negara Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian yang akan membebaskan Palestina dari sungai hingga lautnya, dan yang  akan memotong tangan Amerika dan mencegahnya merusak potensi umat, Daulah Khilafah Rayidah yang akan tegak menyapu semua rezim pengkhianatan yang mengangkangi dada umat.[]

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/alraiah-newspaper/53261.html

pencoblosan
Oleh: Muhammad Alauddin Azzam | Peneliti Utama di Civilization Analysis Forum (CAF)
Pilkada di Indonesia telah mengalami perjalanan cukup panjang dan penuh tantangan. Sejak tahun 2005 berlanjut ke tahun 2011, 2015, 2017, dan hari ini 2018. Pemenangnya pun berbeda-beda setiap tahunnya. Bisa dari partai yang sama, bisa juga partai berbeda. Kebijakan yang diterapkan pun berubah-ubah. Kira-kira apa yang Anda rasakan dengan hasil pilkada, terutama pemimpin yang terpilih baik di tingkat gubernur, bupati, hingga wali kota dari tahun ke tahun ?
Hari ini, pilkada kembali diselenggarakan. Namun, ada yang cukup menggemparkan dengan menjelang masuknya pilkada hari ini yakni pusaran korupsi jelang pilkada. Masih hangat di telinga kita kasus-kasus yang menyangkut kepala-kepala daerah di Indonesia. Sebuah artikel berjudul “6 Dinasti Politik dalam Pusaran Korupsi, Suami-Istri hingga Anak-Orangtua Bersekongkol” (https://nasional.kompas.com) menjadi ingatan bagi kita semua.
Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menyoroti adanya dinasti politik setelah Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya, Asrun, yang merupakan calon gubernur Sulawesi Tenggara terlibat kasus suap. Anak dan ayah itu diduga menerima suap-suap dalam proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Kendari tahun 2017-2018. Uang suap berasal dari Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara, Hasmun Hamzah. Suap itu digunakan Asrun untuk biaya politiknya maju sebagai calon gubernur Sulawesi Tenggara di Pilkada 2018. Asrun yang pernah berkuasa 10 tahun sebagai Wali Kota Kendari sejak 2007-2017 menggunakan mantan Kepala BPKAD Kota Kendari, Fatmawati Faqih, untuk jadi penghubung dengan pihak pemberi suap, dalam hal ini Hasmun.
Tahun sebelumnya kita juga masih ingat kasus Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Atut merupakan tersangka sejumlah kasus korupsi bersama adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Anak Atut, Andika Hazrumy, menjabat sebagai anggota DPD Banten 2009-2014, sementara istrinya Ade Rossi Khoerunisa menjabat sebagai anggota DPRD Kota Serang 2009-2014. Begitu pula dengan Ratu Tatu Chasanah, saudara Atut yang menjadi Wakil Bupati Kabupaten Serang 2010-2015. Dinasti Banten keluarga Atut berawal dari sang ayah, Tubagus Chasan Sochib. Pria yang dikenal memegang kendali Banten itu mengantarkan pasangan Djoko Munandar-Ratu Atut sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten tahun 2001.
Dinasti politik yang kental dengan korupsi juga terjadi di Kutai Kartanegara. Bupati Kutai Kartanegara terseret kasus korupsi. Ayah Rita, yang juga mantan Bupati Kutai Kertanegara, Syaukani Hassan Rais lebih dulu menjadi terpidana kasus korupsi. Syaukani merupakan terpidana penyalahgunaan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat. Sepanjang 2001-2005, Syaukani berhasil meraup dana sebesar Rp 93,204 miliar. Sementara Rita, merupakan tersangka tiga kasus korupsi.
Korupi di dalam lingkaran dinasti politik menyeret Wali Kota Cimahi periode 2012-2017 Atty Suharti bersama suaminya, Itoc Tochija, menjadi tersangka kasus penerimaan suap terkait proyek pembangunan pasar di Cimahi, dengan nilai total proyek mencapai Rp 57 miliar. Atty dan suaminya ditangkap petugas KPK setelah diduga menerima suap dari dua pengusaha.
Mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron adalah contoh lain dari dinasti politik. Dia merupakan penguasa di Bangkalan selama 10 tahun atau dua periode mulai 2003 sebelum turun takhta pada 2013. Terdakwa kasus suap jual beli gas alam Bangkalan Fuad Amin bersiap menjalani sidang dengan agenda tanggapan jaksa penuntut umum (JPU) atas eksepsi tim penasihat hukum terdakwa di Pengadilan Tipikor, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2015). JPU meminta Majelis Hakim untuk menolak eksepsi terdakwa karena surat dakwaan telah disusun sesuai ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.(TRIBUNNEWS/HERUDIN) Fuad kemudian digantikan putranya sendiri, Makmun Ibnu Fuad, Bupati Bangkalan Periode 2013-2018. Makmun saat itu menjadi bupati termuda dengan usia 26 tahun. Pada 2014, Fuad yang terbentur aturan menjabat Bupati Bangkalan karena sudah dua periode, dilantik putranya menjadi anggota DPRD Bangkalan. Dia kemudian terpilih menjadi Ketua DPRD Bangkalan 2014-2019.
Hal yang menjadi sorotan juga terkait kasus operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Bupati Klaten periode 2016–2021, Sri Hartini. Pada Desember 2016, Sri tertangkap tangan dalam operasi KPK. Dia menjadi tersangka terkait jual beli jabatan di Klaten. Kepemimpinan di kabupaten tersebut tak pernah lepas dari pasangan suami-istri sejak tahun 2000. Sri Hartini merupakan istri dari mantan Bupati Klaten periode 2000-2005, Haryanto Wibowo. Haryanto kemudian digantikan oleh Sunarna. Pada pilkada 2010, Sunarna menggandeng Sri Hartini sebagai wakilnya. Baca juga : Rincian Suap Rp 12,8 Miliar yang Diterima Bupati Klaten Keduanya pun memenangi pilkada 2010. Keluarga Haryanto kembali masuk dalam lingkaran kekuasaan di Klaten. Setelah menjabat dua periode tahun 2005-2015/
Bupati Banyuasin periode 2013-2018, Yan Anton Ferdian ditangkap KPK terkait kasus suap proyek di dinas pendidikan Banyuasin. Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian (tengah) digiring petugas kepolisian saat keluar dari gedung Subarkah Direktorat Kriminal Khusus Polda Sumsel, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/9). Yan Anton ditangkap KPK setelah diduga menerima suap terkait ijon proyek. (ANTARA/NOVA WAHYUDI) Yan termasuk bupati termuda saat dia ditangkap KPK September 2016. Dia melanjutkan tampuk kekuasaan yang sebelumnya diduduki ayahnya, Amiruddin Inoed, selama 12 tahun.
Korupsi di lingkaran kepala daerah mengerikan bukan ? Mengapa bisa demikian ? Tulisan menarik dariUbedilah Badrun, Analis sosial politik UNJ yang menuliskan analisis tentang pilkada yang berjudul “Evaluasi Pilkada dan Solusinya” yang menarik untuk diambil menjadi pembahasan berikutnya. Contoh biaya politik mahal ini bisa dicermati misalnya pada biaya pilkada 2018 yang mencapai angka Rp 15,2 triliun yang berasal dari sumber APBN dan APBD (Kemendagri,2018). Sementara biaya politik dari sang calon kepala daerah yang jumlahnya 117 daerah untuk pilkada 2018 angkanya bisa mencapai Rp 11,7 trliun (Puspol Indonesia, 2018). Karena itu, terjadi dilapis elit tetapi juga terjadi di lapis masyarakat bawah, pembelahan sosial terjadi sehingga tidak sedikit terjadi konflik diantara rakyat, biaya politik juga sangat mahal.
Sebagai catatan evaluasi, pada tahun 2015 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kajian penting terkait pilkada langsung. Kajian tersebut dilakukan melalui sebuah survei terpercaya terhadap bekas calon kepala daerah. Di antara temuan KPK tersebut adalah 51,4 persen calon kepala daerah mengeluarkan dana kampanye melebihi harta kas mereka, 16,1 persen mengeluarkan dana kampanye melebihi total harta yang mereka cantumkan dalam LHKPN, 56,3 persen mengatakan donatur kampanye mengharap balasan saat calon kepala daerah terpilih, 75,8 persen calon kepala daerah mengatakan akan mengabulkan harapan donatur, 65,7 persen menyatakan bahwa donatur menghendaki kemudahan perizinan usaha dari calon kepala daerah jika terpilih (sumber: KPK,2015). Temuan KPK tersebut menggambarkan dengan jelas betapa korupsi sistemik memang menjadi pola yang dimulai sejak awal proses pilkada langsung dilaksanakan. (Badrun, Ubedilah viawww.republika.co.id/berita/kolom/wacana)
Karena itu, korupsi dari hasil kontestasi pilkada bisa dikatakan cukup berpotensi. Bila kembali ke perjalanan pilkada dan track record kepala-kepala daerah di Indonesia belakangan ini membuat kita justru bertanya-tanya. Apakah semua kisah ini menjadi pilkada dan kekecewaan kita ? []

Chinas-Economy
Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik Internasional)
Cina beranjak menjadi adidaya. Cina telah membuat kemajuan yang signifikan, kita perlu bertanya apakah pertumbuhannya cepat dan berkelanjutan?
Obama sendiri pernah menyatakan, “Amerika menghadapi ambisi-ambisi Cina bukan hanya secara regional.” Reuters(24/6) mengabarkan Cina telah meminta dukungan lebih besar dalam organisasi global seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu sejalan dengan pertumbuhan kekuatan ekonomi dan diplomatik Cina. Presiden Xi telah mengambil pendekatan yang lebih ‘berotot’ dengan menyiapkan badan global milik Cina, sejak mulai menjabat pada akhir 2012. Badan global itu seperti Bank Investasi Infrastruktur Asia. Cina juga meluncurkan proyek Belt and Road yang bersejarah untuk membangun Jalur Sutra baru.
Dalam hal perdagangan, Cina beranjak menjadi lebih berani. Melihat keberanian Cina melayani perang dagang dengan AS, memungkinkan perubahan menjadi perang dalam skala penuh. Langkah Cina untuk memangkas ekspor minyak AS adalah strategis dan menunjukkan bahwa kepercayaan diri Tiongkok untuk mengambil Amerika semakin kuat dari hari ke hari.
China telah menjadi ekonomi terbesar di dunia setelah AS, menggantikan Jepang, serta telah menggantikan Jerman sebagai eksportir terbesar dunia dan sekarang bahkan mengkonsumsi lebih banyak minyak Saudi setelah Amerika Serikat. Kemunculan pesat Cina di peta global dalam 30 tahun terakhir telah mengejutkan banyak orang, membingungkan orang lain dan beberapa orang menandai pergeseran kekuatan global. Tiongkok saat ini memproduksi sebagian besar barang-barang konsumsi dunia dan banyak yang mewakili alternatif bagi Barat yang eksploitatif. Perkembangan ekonomi Cina mengarah pada pergeseran geopolitik dari barat ke timur ketika ekonomi Barat bergulat di ambang resesi kedua dalam beberapa tahun. Banyak yang berpikir bahwa China mampu menggantikan AS sebagai ekonomi terdepan di dunia dalam waktu dekat.
Para analis telah mengamati bangkitnya Cina sebagai tantangan terbesar terhadap Amerika Serikat (AS) dan banyak anggapan bahwa Cina akan berkembang menjadi negara adidaya. Cepatnya Cina menjadi negara yang diperhitungkan dalam peta politik dunia membuat banyak kalangan terkejut dan memprediksi adanya pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur.
Melihat Cina yang tidak pernah menjadi kekuatan politik dan sejarah masa lalunya yang kelam akibat penjajahan brutal oleh Jepang selalu menjadi memori bagi Cina di masa paska Perang Dunia II. 60 tahun Revolusi pada negara terbesar di dunia merupakan realita baru dan untuk pertama kalinya diperhitungkan sebagai kekuatan adidaya.
Perubahan penting dari kebijakan luar negeri Cina patut dicermati. Cina telah meninggalkan mentalitas yang memandang dirinya  sebagai korban (victim mentality) akibat penderitaan selama 150 tahun dan mengadopsi mentalitas adidaya (great power mentality-daguo xintai). Konsekuensinya, Cina mulai mengambil peran aktif dalam isu global, dimana generasi penggeraknya belum lahir semasa Revolusi Cina sehingga tidak memandang Cina dari perspektif sejarah Cina. Pemimpin kontemporer seperti Hu Jintao, yang lahir hanya beberapa tahun sebelum Revolusi adalah pemimpin Cina pertama yang tidak ikut serta dalam long march yang terkenal karena berhasil mengalahkan kaum Nasionalis dan menaikkan partai komunis ke panggung kekuasaan di tahun 1949. Pemimpin yang menanggalkan victim mentality dan yang mengambil mentalitas adidaya adalah tipe pemimpin yang kini memimpin Cina dan memiliki visi sebagai negara adidaya.
Namun Cina tidak mewakili sistem pemerintahan baru atau model ekonomi alternatif. China hari ini menjadi bengkel industri dunia; dimana ekonominya yang berorientasi ekspor sepenuhnya bergantung pada negara-negara asing untuk membeli barang-barangnya. Ini adalah model pembangunan yang sangat rapuh. Sementara banyak yang menyebut model ekonomi China sebagai bentuk baru pembangunan ekonomi. Kenyataannya adalah China telah mengadopsi Kapitalisme dengan pemerintah terlibat dalam segmen ekonomi yang besar. Cina seperti halnya dunia Kapitalis Barat yang berfokus pada produksi daripada distribusi, pertumbuhan dua digit China tidak menyentuh kehidupan ratusan juta penduduknya.
Pembangunan ekonomi dan politik Cina akan gagal ketika tidak memiliki pandangan hidup (worldview)- ideologi yang khas untuk mampu berperan sebagai fondasi semua aspek dari suatu negeri baik dari sisi ekonomi, hukum, politik luar negeri, energi, integrasi, pemerintahan, dan relasi pria dan wanita. Dengan pandangan hidup yang khas, maka suatu negeri akan menyelesaikan semua isu secara konsisten, terarah, dan menciptakan kemajuan. Tanpa ideologi, suatu negeri mungkin akan maju, tapi akan memerosokkan dirinya dalam pusaran badai problem yang tidak bisa ia selesaikan.
Hari ini, dunia membutuhkan sistem ekonomi yang stabil yang dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa the bubbles and crashes yang terlalu sering terlihat pada peradaban kapitalisme. Dunia butuh satu sistem yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan seluruh rakyatnya secara adil, bukan sistem maupun rezim yang meninggalkan mereka ke pasar bebas yang rapuh. Kita butuh suatu sistem yang berfokus pada distribusi kekayaan ketimbang model ekonomi yang tamak seperti dalam model kapitalis.
Ringkasnya, baik Cina maupun AS dan Negara-negara kapitalisme secara keseluruhan, selama mereka mengikuti ideologi Kapitalisme sekuler, mampu menjadi bencana bagi seluruh dunia. Ketika mereka berusaha untuk membawa seluruh dunia untuk tunduk pada diri mereka sendiri melalui hegemoni, penyebaran kekacauan dan kehancuran di mana-mana. Ini kontras dengan perdamaian dan keadilan umum yang berlaku di dunia selama 1 milenium ketika Islam menjadi negara adikuasa dunia, dimana yang diuntungkan oleh Barat sendiri untuk sampai pada tingkat peradaban mereka saat ini.[]

Image result for hizbuttahrir
Oleh : 
Akmal Kamil Nasution, S.H (LBH Pelita Umat Korwil Kepri)

Dalam siroh diceritakan, Stikma buruk tukang sihir, majnun, tukang syair tidak mampu memalingkan kaum Muslimin dari Rasulullah SAW, justru iman mereka semakin bertambah dan kokoh. Sehingga Abu Jahal dan kawan-kawannya mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri "jangan-jangan apa yang dibawa Muhammad memang benar"?.

Begitupula hari ini, penulis yakin, dari keteguhan HTI dalam memegang ide Islam, akan membuat hati para pendengki bertanya-tanya "jangan-jangan ide syari'ah dan Khilafah itu memang benar ? pasalnya, di cap radikal malah dakwahnya semakin gencar, dicabut Badan Hukum Perkumpulannya justru dakwahnya tetap jalan, di teror malah tidak ada rasa takut, jangan-jangan kita yang salah, HTI benar"?.

Dulu pertanyaan seperti itu mendorong Sufyan bin Harb, Abu Jahal, Amru bin Hisyam dan al-Akhnas bin Syariq untuk mendengarkan Al-Qur'an dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai suatu malam mereka mendengarkan Muhammad SAW yang sedang membaca Qur'an dalam sholat malamnya, satu sama lain tidak mengetahui tempat duduk masing-masing, hati mereka terpesona dan jiwa mereka sejuk mendengarkan Qur'an, mereka lakukan itu sampai fajar, lalu mereka  kembali kerumah masing-masing. Namun, ditengah jalan mereka saling berpapasan dan kemudian saling mengejek satu sama lain, mereka berjanji tidak akan mengulangi lagi, tapi kaki mereka bagaikan diseret sehingga mereka lakukan itu sebanyak tiga malam. Hati mereka menerima tapi nafsu kekuasaan menutupi cahaya kebenaran.

Hari ini penulis juga yakin, para penentang ide Khilafah itu ada yang diam-diam mendengarkan ceramah dan khutbah maupun dokumentasi dakwah syari'ah dan Khilafah. Hati mereka menerima sebenarnya, tapi mereka takut kehilangan jubah kekuasaan dan kebesaran.

Apakah kekuasaan dan kebesaran itu yang mereka takutkan ? Bukankah semasa Jahiliyah Umar dan Hamzah juga orang besar ? setelah memeluk Islam, kekuasaan dan kebesaran itu justru tetap dan semakin besar, sampai-sampai Umar pernah menjabat sebagai Kholifah, Hamzah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai Panglima Syuhada. Dulu Almarhum Hari Moekti juga begitu,  semasa jadi artis besar di atas panggung,  setelah hijrah tetap juga besar di atas panggung dakwah, jadi kebesaran diatas panggung tidak hilang.

Maka begitulah, Kekuasaan, kebesaran, populatitas tidak akan hilang, hanya gara-gara menerima ide Islam. (Kabirukum fil jahiliyyah, kabirukum fil Islam, iza faqquh fiddin.

Wallahu a'lam bissawab

riba

Oleh : KH. M.Shiddiq Al Jawi
Dari Ibnu Mas’ud RA, bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda :
الربا ثلاثة وسبعون باباً أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه
“Riba mempunyai 73 macam dosa, yang paling ringan seperti laki-laki yang menikahi (berzina) dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR al-Hakim, dalam Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain).
Imam al-Hakim dalam kitabnya tersebut mengatakan :
هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه
“Ini adalah hadits shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim meski tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.”
Penshahihan beliau disetujui Juga oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Talkhiish Al Mustadrak.
Begitu juga hadits tersebut dishahihkan oleh :
(1) Al-‘Alamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Shahih Ibnu Majah (Juz II, hlm. 27), juga dalam kitabnya Shahih al Jami’ ash Shaghiir ( Juz III, hlm. 186).
(2) Imam Suyuthi dalam Al Jami’ Al Shaghir (Juz II, hlm. 26).
(3) Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Takhriij Ahadits Ihya’ Ulumiddin (Juz V, hlm. 2002).
(4) demikian pula dishahihkan oleh ulama-ulama lainnya yang tidak sedikit jumlahnya seperti Imam Al Baihaqi dan Imam Al Bushiri.[]
loading...
Powered by Blogger.