pemimpin
Oleh: KH. M. Shiddiq Al Jawi
Pendahuluan
Setelah runtuhnya Khilafah di Turki tahun 1924, semua agama Islam di dunia dipimpin oleh para pemimpin diktator (al-mulk al-jabriy) sebagai sistem pemerintahan keempat yang disampaikan Nabi SAW kepada orang Islam. Hal itu dapat diketahui dari hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت
“Adalah Kenabian (nubuwwah) yang ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya ekstensi Dia berkehendak diangkatnya. Maka akan ada Khilafah yang menempuh alur kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya ekstensi Dia berkehendak diangkatnya. Maka akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan 'Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya ekstensi Dia berkehendak diangkatnya. Maka akan ada Kekuasaan yang menekankan (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, berbagi Dia berkehendak diangkatnya. Maka akan ada Khilafah yang lewat jejak Kenabian (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam. ”(HR Ahmad. Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273,
Pengertian Pemimpin Diktator (Al-Mulk Al-Jabriy)
Syeikh Hisam Al Badrani menjelaskan pengertian Al-Mulk Al-Jabriy itu dengan mengatakan:
أما أن معنى الملك الجبري: هو إقامة شرائع الكفر في بلاد المسلمين, فهذا ظاهر من دلالة النصوص الشرعية في تعريف الملك الجبري, فضلا عن مشاهدته في الواقع المحسوس تفسيرا لنبوءة الرسول صلى الله عليه وسلم, وتحقيقا لمناط الأنظمة الجبرية, وبيانا للمسلمين المطلوب الشرعي
“Sebagai makna al-mulk al-jabri (pemimpin diktator) adalah [pemimpin yang] menegakkan hukum-hukum kufur di negeri-negeri kaum muslimin. Ini jelas sekali hasil pada dalaalah (definisi) nash-nash syara 'Resolusi tinggi al-mulk al-jabriy. Apalagi jika melihat fakta-fakta yang terindera terhadap al-mulk al-jabriy yang menjadi penafsiran terhadap nubu`ah (ramalan) Rasulullah SAW, dan menjadi perwujudan terhadap sistem-sistem diktator, dan juga sebagai salah satu tokoh muslimin tentang desas syar'i mereka . ”(Hisyam Al Badrani, An Nizham Sebagai Siyasi Ba'da Hadm Al Khilafah, hlm. 38).
Ciri-Ciri Pemimpin Diktator (Al-Mulk Al-Jabriy)
Banyak hadits nash-nash Nabi SAW yang menjelaskan ciri-ciri atau sifat-sifat dari pemimpin diktator ini. Diungkapan adalah sebagai berikut:
Pertama, tidak memiliki kapabilitas untuk memimpin masyarakat banyak.
Pemimpin seperti ini oleh Nabi SAW disebut dengan ruwaibidhah. Sikap seperti ini sangat berbahaya dan sangat destruktif bagi orang Islam khususnya dan manusia pada umumnya. Karena pemimpin seperti ini dapat menjungkirbalikkan segala nilai dan tatanan, yaitu orang yang jujur, pembohong orang orang yang dibohong, pengkhianat dipercaya namun orang yang bisa dipercaya malah dianggap pengkhianat. Dalam kitab Sunan Ibnu Majahinggal:
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة قيل: وما الرويبضة. قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. رواه بن ماجة 4036
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang pada manusia yang penuh tipu daya. Pada tahun-tahun itu pendusta dibenarkan, orang lain jujur ​​didustakan, pengkhianat dipercaya orang yang tangguh pengkhianat. Pada masa itu berbicara Ruwaibidhah. "Ada yang bertanya," Apa itu Ruwaibidhah? "Rasul bersabda," Orang bodoh yang bicara urusan orang banyak. "(HR Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, nomor 4036).
Kedua, tidak sesuai petunjuk (hadyu) dan Sunnah Rasulullah SAW.
Pada faktanya di jaman modern ini, yang diikuti oleh pemimpin diktator lepas ajaran Islam (sunnah Rasulullah SAW), ada sistem demokrasi-sekular yang merupakan hadyu dan sunnah dari kaum kafir penjajah (Yahudi dan Nashrani) dari Barat. Kepemimpinan seperti ini disebut oleh Nabi SAW dengan istilah imaarat al-sufahaa` (kepemimpinan orang-orang bodoh). Orang yang suka memimpin orang-orang bodoh ini kelak tidak akan diakui Nabi SAW sebagai orangnya dan tidak akan dibajibkan menjumpai Nabi SAW di telaganya (al Haudh) di Hari Kiamat kelak. Na'uuzhu billah min dzaalik. Dalam kitab Al-Musnad oleh Imam Ahmad berpengalaman:
عن جابر بن عبد الله: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لكعب بن عجرة أعاذك الله من إمارة السفهاء قال وما إمارة السفهاء قال أمراء يكونون بعدي لا يقتدون بهديي ولا يستنون بسنتي فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فأولئك ليسوا مني ولست منهم ولا يردوا على حوضي ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فأولئك مني وأنا منهم وسيردوا على حوضي
Dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, 'Hai Ka'ab bin' Ujrah, semoga Allah melindungi kamu dari imaarat al-sufahaa` (kepemimpinan orang-orang bodoh). ' Ka'ab bin Ujrah bertanya, "Apa itu imaarat al-sufahaa` wahai Rasulullah SAW? ' Rasulullah SAW Jawab, ”[Imaarat al-sufahaa` itu] adalah para pemimpin yang akan datang setelah aku. Mereka itu tidak berteladan dengan petunjukku dan tidak bersunnah dengan sunnahku. Maka barangsiapa yang membenarkan perkataan mereka (Imaarat al-sufahaa`), dan membantu kezaliman mereka, maka dia tidak termasuk golonganku dan aku pun tidak termasuk golongannya, dan dia tidak akan mendatangi aku di telagaku (di Hari Kiamat kelak). Namun barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka (Imaarat al-sufahaa`), dan tidak membantu kezaliman mereka,
Ketiga, bertindak kejam dan biadab, yaitu tidak segan membunuh rakyatnya sendiri jika tidak mau dilakukan kepada para pemimpin diktator ini.
Pemimpin seperti ini dalam sebagian atsar dari para shahabat disebut dengan imaarat al-shibyaan alias kepemimpinan anak-anak, yaitu rencana dari orang-orang yang belum sempurna akalnya mungkin, anak-anak. Dalam kitab Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah terdapat atsar dari Abu Hurairah RA sebagai berikut:
عن أبي هريرة, قال: ويل للعرب من شر قد اقترب: إمارة الصبيان إن أطاعوهم أدخلوهم النار, وإن عصوهم ضربوا أعناقهم
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Orang-orang Arab dari orang-orang yang sakit dekat, yaitu imaarat ash-shibyaan (kepemimpinan anak-anak), yaitu kepemimpinan yang jika rakyat mentaati mereka, mereka akan memasukkan rakyatnya ke dalam neraka. Tapi jika rakyat tidak mentaati mereka, mereka akan membunuh rakyatnya sendiri. ”(HR Ibnu Abi Syaibah, dalam Al Mushonnaf, nomor 37546).
Menyikapi Pemimpin Diktator Menurut Sunnah Nabi SAW
Islam tidak hanya menjelaskan sifat-sifat atau ciri-ciri pemimpin diktator (al-mulk al-jabri), tetapi juga menjelaskan bahwa orang Islam menyikapi pemimpin diktator (al-mulk al-jabri) yang tengah mencengkeram dan menindas umat Islam. Diungkapkan adalah sebagai berikut dalam Hadits-hadits Nabi SAW:
Pertama, menjauhkan diri dari mereka.
Hal ini nampak jelas dari hadits Hudzaifah bin Al Yaman RA yang pernah berkata:
كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير. وكنت أسأله عن الشر. مخافة أن يدركني. فقلت: يا رسول الله! إنا كنا في جاهلية وشر. فجاءنا الله بهذا الخير. فهل بعد هذا الخير شر؟ قال (نعم) فقلت: هل بعد ذلك الشر من خير؟ قال (نعم. وفيه دخن). قلت: وما دخنه؟ قال (قوم يستنون بغير سنتي. ويهدون بغير هديي. عرف منهم وتنكر). فقلت: هل بعد ذلك الخير من شر؟ قال (نعم. دعاة على أبواب جهنم. من أجابهم إليها قذفوه فيها). فقلت: يا رسول الله! صفهم لنا. قال (نعم. قوم من جلدتنا. ويتكلمون بألسنتنا) قلت: يا رسول الله! فما ترى إن أدركني ذلك! قال (تلزم جماعة المسلمين وإمامهم) فقلت: فإن لم تكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال (فاعتزل تلك الفرق كلها. ولو أن تعض على أصل شجرة. حتى يدركك الموت ، وأنت على ذلك). رواه مسلم 1847
“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasululah SAW tentang kebaikan, tapi aku bertanya tentang keburukan, takut keburukan akan menimpaku. Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, nyata dulu kami dalam kejahiliyahan dan keburukan, Lalu Allah mendatangkan ke kami di sini. Lalu apakah setelah ini ada keburukan? Rasulullah SAW menjawab, 'Iya' Maka aku bertanya, 'apakah setelah keburukan ini ada kebaikan?' Rasulullah SAW menjawab, “Iya, dan tawaran [kebaikan] ada secepatnya.” Aku bertanya, 'Apa asapnya?' Rasulullah SAW bersabda, 'Ada satu kaum yang berperilaku dengan selain sunnahku, dan berpetunjuk dengan selain petunjukku. Sebagian dari mereka kamuraight dan kamu akan mengingkarinya. ”Aku bertanya, 'apakah setelah ini akan ada keburukan?' Rasulullah SAW menjawab, 'Iya, yaitu ada para dai (penyeru) di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang membalas seruan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam. ' Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami?' Rasulullah SAW bersabda, 'Baik, mereka adalah satu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita, mereka berbicara dengan lisan kita.' Aku bertanya, 'Lalu bagaimana kalau Anda hal itu menimpa diriku?' Rasulullah SAW menjawab, 'Berpeganglah dengan jamaah kaum muslimin dan Imam mereka.' Aku bertanya, 'Lalu jika tidak ada lagi jamaah kaum muslimin dan Imam mereka?' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya, meskipun Anda harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dengan tetap dalam keadaan yang demikian itu. ”(HR Muslim, no 1847). jelaskan sifat mereka kepada kami? 'Rasulullah SAW bersabda,' Baik, mereka adalah satu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita, mereka berbicara dengan lisan kita. ' Aku bertanya, 'Lalu bagaimana kalau Anda hal itu menimpa diriku?' Rasulullah SAW menjawab, 'Berpeganglah dengan jamaah kaum muslimin dan Imam mereka.' Aku bertanya, 'Lalu jika tidak ada lagi jamaah kaum muslimin dan Imam mereka?' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya, meskipun Anda harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dengan tetap dalam keadaan yang demikian itu. ”(HR Muslim, no 1847). jelaskan sifat mereka kepada kami? 'Rasulullah SAW bersabda,' Baik, mereka adalah satu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita, mereka berbicara dengan lisan kita. ' Aku bertanya, 'Lalu bagaimana kalau Anda hal itu menimpa diriku?' Rasulullah SAW menjawab, 'Berpeganglah dengan jamaah kaum muslimin dan Imam mereka.' Aku bertanya, 'Lalu jika tidak ada lagi jamaah kaum muslimin dan Imam mereka?' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya, meskipun Anda harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dengan tetap dalam keadaan yang demikian itu. ”(HR Muslim, no 1847). 'Berpeganglah dengan jamaah kaum muslimin dan Imam mereka.' Aku bertanya, 'Lalu jika tidak ada lagi jamaah kaum muslimin dan Imam mereka?' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya, meskipun Anda harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dengan tetap dalam keadaan yang demikian itu. ”(HR Muslim, no 1847). 'Berpeganglah dengan jamaah kaum muslimin dan Imam mereka.' Aku bertanya, 'Lalu jika tidak ada lagi jamaah kaum muslimin dan Imam mereka?' Rasulullah SAW bersabda, 'Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya, meskipun Anda harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dengan tetap dalam keadaan yang demikian itu. ”(HR Muslim, no 1847).
Dalam hadits tersebut terdapat dalil, bahwa dalam kondisi tiadanya Imam bagi kaum muslimin seperti saat ini, yang harus dilakukan Islam adalah mereka. Disebut sabda Rasulullah SAW, ”Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya.” Ini juga isyarat halus yang dalam kondisi tiadanya Imam kaum kaum muslimin sekarang, ini, kegiatan yang semantik dilakukan terlupakan dengan “masuk sistem” seperti yang dilihat oleh salah satu kaum muslimin, sebaliknya harus "di luar sistem".
Kedua, tidak mendengar dan mentaati mereka.
Hal ini diumumkan oleh sabda Nabi SAW:
على المرء المسلم السمع والطاعة فيما أحب وكره إلا أن يؤمر بمعصية فإن أمر بمعصية ، فلا سمع ولا طاعة
“Wajib atas orang muslim untuk mendengar (pemimpin) pada apa-apa yang dia senangi dan dia benci, kecuali kalau diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak bleh didengar dan ditaati.” (HR Muslim, no 1839).
Ketiga, tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits tentang imaarat as-sufaaha, khususnya mengenai orang-orang yang akan selamat di akhirat kelak, yaitu :
ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فأولئك مني وأنا منهم وسيردوا على حوضي
Sabda Rasulullah SAW, ”… namun barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka (Imaarat al-sufahaa`), dan tidak membantu kezaliman mereka, maka dia termasuk golonganku dan aku pun termasuk golongannya, dan dia akan mendatangi aku di telagaku (di Hari Kiamat kelak) . ”(HR Ahmad, Al-Musnad, Juz III, hlm. 111, nomor 14.481).
Keempat, berdoa kepada Allah agar selamat dari kepemimpinan mereka yang zalim dan kejam.
Hal ini jelas doa Nabi SAW kepada sahabat bernama Ka'ab bin 'Ujrah dalam hadits tentang imaarat as-sufahaa` di atas.
عن جابر بن عبد الله: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لكعب بن عجرة أعاذك الله من إمارة السفهاء
Dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, 'Hai Ka'ab bin' Ujrah, semoga Allah melindungi kamu dari imaarat al-sufahaa` (kepemimpinan orang-orang bodoh). (HR Ahmad).
Penutup
Ya Allah, kami berlindung berlindung kepada-Mu dari segala jenis diktator (al-mulk al-jabriy) yang ada saat ini, yaitu pemimpin yang ada setelah pemimpin pemimpin kami yang sebenarnya, yaitu Imam Muslimin di seluruh dunia.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan imaarat al-sufahaa` (kepemimpinan orang-orang bodoh) yang ada sekarang ini, yang tidak berteladan dengan petunjuk Nabi-Mu dan tidak bersunnah dengan sunnah Nabi-Mu, tapi sebagainya berteladan dan bersunnah dengan sunnah kaum penjajah kafir dari mereka dan Nashrani.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan imaarat ash-shibyaan (kepemimpinan anak-anak) yang ada saat ini, yaitu kepemimpinan yang jika kami mentaati mereka, mereka akan memasukkan kami ke dalam neraka, tetapi jika kami tidak mentaati mereka, mereka akan membunuh kami padahal kami adalah rakyatnya sendiri.
Ya Allah, tolonglah kami Ya Allah, dengan hadirnya menyanyikan lagu sejati bagi umat Islam ini,, yaitu seorang khalifah yang dibaiat untuk menjalankan Kitab-Mu dan Sunnah Nabi-Mu dalam negara Khilafah yang Engkau ridhoi. Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin. []

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.