pengadilan mesir jatuhi hukuman mati 75 ikhwan
Sebuah pengadilan Mesir telah menghukum mati 75 orang ‘Islamis’ termasuk para pemimpin Ikhwanul Muslimin, dalam apa yang disebut merupakan satu kasus terbesar hukuman mati, AFP melaporkan.
Undang-undang Mesir mewajibkan grand mufti untuk diajak berkonsultasi pada kasus hukuman mati, meskipun pendapatnya tidak mengikat secara hukum dan mereka yang divonis masih memiliki hak untuk mengajukan banding.
Anggota Senior Ikhwan Mohamed el-Baltagui, Issam al-Aryan dan Safwat Hijazi dijatuhi hukuman itu sementara 31 lainnya diadili secara in absentia.
Pihak berwenang Mesir telah melancarkan tindakan keras terhadap para anggota dan pendukung Ikhwanul Muslimin sejak penggulingan Mursi tahun 2013.
Sebagai bagian dari tindakan keras itu, ribuan pendukung Ikhwan telah dipenjara dan kelompok itu masuk dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris.
Mei lalu, pengadilan Mesir menghukum seorang penasehat tertinggi Ikhwanul Muslimin, Mohammed Badie, dengan penjara seumur hidup karena “Merencanakan serangan dengan kekerasan”.
September lalu, sebuah pengadilan di Mesir menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap Mursi atas tuduhan melakukan tindakan mata-mata untuk Qatar.
Pada bulan November 2016, pengadilan kasasi Mesir membatalkan hukuman seumur hidup terhadap mantan Presiden itu  dalam kasus berbeda terkait tuduhan spionase dengan Hamas.
Seminggu sebelumnya pengadilan membatalkan hukuman mati terhadap Mursi dalam kasus di mana ia dan lima pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya dijatuhi hukuman karena tuduhan berperan dalam mengatur pembobolan penjara massal pada tahun 2011.[]
Sumber: dawn.com

tambang freeport
Oleh: Mahfud Abdullah (Indonesia Change)
Nasehat pada judul di atas maksudnya jangan suka licik/culas/kriminal agar tidak celaka. Dimulai dari Papua yang kekayaan sumberdaya alam sangat melimpah-ruah. Sayang, kekayaan itu lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang dan perusahaan-perusahaan asing. Ketidakdilan ekonomi sebagai pemicu gerakan separatis ini juga pernah diakui sendiri oleh Pemerintah. Separatisme yang belum selesai hingga sekarang serta masalah terorisme disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi. Salah satu kunci menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut adalah menciptakan keadilan ekonomi, dalam arti, kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia itu harus sungguh-sungguh terwujud.
Bisakah kita berharap pada sistem ekonomi kapitalis yang saat ini diterapkan oleh Pemerintah sendiri, bahkan dengan model yang sangat liberal? Tentu tidak. Pasalnya, sistem ekonomi kapitalis inilah yang justru menjadi akar dari seluruh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, khususnya secara ekonomi.
Contoh kecil dalam kasus PT Freeport di Papua. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kontrak Karya atau Contract of Work Area yang ditangani Pemerintah Orba yang dianggap telah mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Pada saat yang sama, orang-orang Papua di sekitarnya banyak yang miskin, bahkan sebagiannya mengalami kelaparan. Itulah hasil ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalis. Ironisnya, sistem ini justru tetap diterapkan oleh Pemerintah, bahkan saat ini dengan nuansa yang lebih liberal. Contohnya adalah kebijakan Pemerintah yang semakin proaktif dalam melakukan privatisasi (menjual) BUMN yang notabene milik rakyat dan menjadi sumber pemasukan negara.
Jika pemerintah berharap kesejahteraan merata hanya sebuah harapan kosong jika Pemerintah sendiri malah melanggengkan sistem ekonomi kapitalis yang terbukti hanya menguntungkan segelintir orang, bahkan pihak asing, dan sebaliknya menyengsarakan mayoritas rakyat sendiri. Selain masalah kesejahteraan dan ketidakadilan ekonomi ini, jika Pemerintah konsisten dengan keutuhan NKRI, jelas Pemerintah harus mewaspadai setiap keterlibatan asing, terutama yang memanfaatkan gerakan-gerakan separatis di Tanah Air.
Kasus lepasnya Timor Timur yang antara lain di-support oleh Australia harus menjadi pelajaran berharga. Pemerintah harus tegas terhadap berbagai manuver pihak asing, baik Amerika, Australia, dll yang memang telah lama mengincar Indonesia. Jangan sampai negeri ini terpecah-belah karena akan semakin memperlemah posisi Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Jika tidak, negara dan umat ini akan makin masuk dalam cengkeraman penjajahan asing.[]

jokowi dan koalisinya
Oleh: Ahmad Rizal (Dir. IJM)
Partai-partai berkonsentrasi postur koalisi dan strateginya. Begitulah gambaran politik saat ini. Rakyat menonton, menilai, dari siaran media beserta narasi-narasnya. Politik Indonesia tampak labil, ada banyak masyarakat yang binging apa tujuan sebenarnya dari tiap pidato politik para tokoh politik tersebut, kadang yang mereka pahami sekarang substansi lobi-lobi politik yang dilakukan elit-elit politik hanya sebatas perebutan kekuasaan semata, dengan berebut simpati dari masyarakat. Rakyat tidak banyak tahu, partai-partai mana saja yang layak mendapat mandat untuk mewakili aspirasi mereka. Mungkin sebagian berpikir memang tidak ada partai yang layak untuk menjadi tempat menggantungkan harapan bagi rakyat.
Sebagian masyarakat pesimis terhadap Pemilu, Pilkada, partai-partai yang ada dan para anggotanya yang duduk di DPR. Namun di tengah sikap pesimis masyarakat ternyata ada kecenderungan di kalangan umat bahwa masa depan politik Indonesia ada pada syariah Islam. Beberapa survei menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syariah Islam meningkat. Kalau betul rakyat menginginkan syariah, mengapa partai-partai Islam yang ada tidak pernah menang dalam Pemilu. Mengapa mereka selalu kalah suara oleh partai-partai sekular? Idealnya, jika rakyat memang menginginkan syariah, partai-partai Islam itu harusnya menjadi pemenang Pemilu.
Jawabannya, ada dua kemungkinan. Pertama: hasrat rakyat untuk bersyariah memang sudah membuncah. Namun, ketika hendak disalurkan, mereka belum melihat adanya partai politik, termasuk partai Islam, yang benar-benar memperjuangan penerapan syariah, sebagaimana yang mereka dambakan. Pada titik ini, mereka berdiri di persimpangan jalan; antara memilih partai-partai yang ada dengan mengorbankan hasrat mereka (dengan alasan, daripada tidak memilih) dan tidak memilih alias golput, karena memang tidak ada pilihan. Barangkali sikap terakhir inilah yang mereka pilih sehingga angka golput diprediksikan bakal terus meningkat, termasuk dalam Pemilu 2009.
Kedua: partai politik yang ada memang tidak pernah melakukan pendidikan politik kepada umat sehingga antara hasrat umat untuk bersyariah dan pilihan mereka menjadi tidak sama. Artinya, antara harapan umat dan pilihan politik mereka menjadi tidak ”nyambung”.
Karena itu, wajar jika ada sejumlah tokoh yang menyarankan, agar ”kekosongan” ini segera diisi oleh partai politik Islam ideologis yang benar-benar memperjuangkan syariah Islam yang didukung oleh para polikus Islam ideologis yang berani, ikhlas dan benar-benar berjuang untuk melayani dan mengurus umat.
Aktivitas parpol yang berideologi Islam seluruhnya harus terikat dengan hukum-hukum Islam yang menjadi mercusuarnya. Semua itu akan berjalan jika parpol ideologis Islam tersebut dibangun di atas 3 unsur: 1) Fikrah(ide) dan tharîqah (metode perjuangan)-nya bersifat ideologis, jelas dan tegas hingga ke bagian-bagian terkecilnya; 2) Bertumpu pada orang-orang yang memiliki kesadaran politik yang benar, memiliki niat hanya untuk memperjuangkan Islam dan kaum Muslim serta hanya mencari keridhaan Allah semata; 3) Ikatan yang menjalin anggota parpol, simpatisan maupun pendukungnya adalah akidah Islam.
Dengan parpol seperti inilah umat Islam akan meraih kemenangan sejati, yakni ketika mereka berhasil menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sebab, penerapan syariah Islam, di samping merupakan kewajiban syar’i, juga akan mampu menyelesikan persolan bangsa ini secara tuntas.
Walhasil, kini umat tidak membutuhkan partai sekular atau partai Islam yang hanya sekadar namanya saja. Umat kini membutuhkan partai baru, dengan harapan baru. Itulah partai Islam ideologis yang berusaha untuk memperjuangkan penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan.[]

sby-jokowi-prabowo
Oleh: M. Amin – (Dir. ForPURE)
Menjelang pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden pada 8-14 Agustus 2018, SBY punya dua pilihan. Namun dinamika terkini Partai Demokrat memperlihatkan sikap politik yang makin merapat ke kubu Gerindra. Banyak dugaan SBY mengisyaratkan lebih memilih bergabung ke kubu Prabowo Subianto. Jokowi atau Prabowo, SBY akan pilih siapa? Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada 24 Juli 2018. Ringkasnya, hari ini belum ada hasil final untuk berkoalisi di Pilpres 2019.
Memang, suasana politik dirasa hangat, kadang panas, kadang terasa kejam… di tengah Masyarakat secara merasakan beban ekonomi, sebagai dampak dari masalah demokrasi kapitalis hari ini. Partai-partai mengklaim telah mengerahkan segenap daya dan upaya untuk memperbaiki kondisi yang ada. Namun, alih-alih menjadi lebih baik, kondisinya dianggap semakin suram. Masyarakat pun semakin gerah dan pesimis, termasuk para menteri dan mereka yang menjadi elit-elit politik.
Kekecewaan masyarakat mungkin saja terwakili oleh pernyataan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak yang pernah menyebut, mencari partai yang antikorupsi saat ini seperti mencari hantu. Sebab, banyak partai politik yang kadernya terjerat kasus korupsi. “Karena mencari partai antikorupsi itu yang utopis, seperti mencari hantu. Jadi memang ketika bicara parpol anti-korupsi, semua orang, termasuk publik, enggak percaya, seperti mimpi,” kata Dahnil Anzar di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (25/7/2018).
Demokrasi yang digembar-gemborkan selama ini jelas tidak cocok dan tidak kompatibel untuk bangsa dan negara ini. Demokrasi hanya menjadi alat legalisasi penjarahan bagi para konglomerat dan kapitalis asing. Suara rakyat hanya akan diperalat untuk meloloskan agenda-agenda busuk. Masalahnya sesungguhnya bukan hanya terletak pada orangnya, juga bukan hanya pada bidang ekonomi saja. Sesungguhnya akar masalahnya ada pada pondasi sistem yang mengakar di tengah masyarakat, juga terletak pada diri mereka yang disebut sebagai penguasa, intelektual dan para pakar.
Masalah seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir merata di seluruh negeri Islam yang lain, bahkan seluruh negara yang disebut sebagai Dunia Ketiga. Para penguasa di Dunia Ketiga—termasuk di dalamnya negeri-negeri Islam—tidak percaya, baik kepada diri mereka sendiri, para intelektual, maupun pakar-pakar mereka. Mereka hanya percaya kepada para pakar dari Barat dan nasihat-nasihat mereka. Padahal sudah diketahui, Barat bertindak berdasarkan asas manfaat secara individualistik.
Negara-negara Barat juga tidak pernah mempunyai nasihat yang jujur. Sebaliknya, mereka justru menyesatkan siapa saja yang meminta nasihatnya. Tujuannya adalah untuk merampas kekayaan dunia dengan cara-cara yang lunak, jika mereka bisa; jika tidak bisa, mereka pun menggunakan cara-cara berdarah dan destruktif jika memang mengharuskan seperti itu. Persis seperti yang telah dan tengah dilakukan oleh Amerika saat ini di Irak, Afganistan, Somalia, dan Sudan…Terpecahnya wilayah Indonesia juga tidak jauh dari makar mereka. Namun, dengan izin Allah, makar mereka akan kembali membinasakan mereka sendiri.
Berbagai nasihat menyesatkan yang diberikan oleh negara-negara Barat penjajah di bidang ekonomi adalah seperti privatisasi kekayaan yang dikelola oleh negara (BUMN), dan keharusan adanya investasi asing. Umumnya, penjualan kepemilikan negara dan kepemilikan umum itu dilakukan kepada perusahaan-perusahaan asing, karena mereka memiliki modal, sementara rakyat negeri ini sendiri miskin, dan hanya memiliki sedikit modal. Ketika perusahaan-perusahaan asing itu datang untuk menanamkan modalnya di dalam negeri, mereka menuntut dibuatnya berbagai perundangan khusus untuk mereka, yang membebaskan mereka dari pajak, serta membolehkan mereka untuk memasukkan dan mengeluarkan apa saja yang mereka peroleh.
Mereka juga berhak menyelesaikan berbagai sengketa dengan negara tuan rumah, bukan dengan undang-undang negara ini, melainkan dengan undang-undang tersendiri yang telah dibuat, atau dengan menggunakan undang-undang internasional. Negara-negara asing yang menjadi induk perusahaan-perusahaan ini juga bisa melakukan intervensi, jika memang diperlukan, untuk melindungi hak-hak yang menjadi konsesi perusahaan-perusahaan tersebut. Akhirnya, perusahaan-perusahaan multinasional tersebut benar-benar menguasai perekonomian dunia, dan atas jaminan dari undang-undang perdagangan internasional yang dipaksakan oleh Amerika atas nama globalisasi. Globalisasi inilah yang juga telah membuka peluang negara-negara kaya untuk meningkatkan cengkeraman mereka terhadap negara-negara miskin dan menjadikannya semakin miskin, membebek dan tunduk.
Indonesia adalah negara besar dan kaya. Indonesia mempunyai tangan-tangan terampil yang rajin dan murah. Indonesia juga bisa menjadi pasar konsumen yang bisa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian, industri dan perdagangannya; tentu jika semuanya itu berjalan mengikuti sistem yang benar serta pemerintahan yang ikhlas dan terbebas dari penyesatan para pakar asing itu. Sayang, pada masa Soeharto, misalnya,Indonesia telah mengikuti berbagai rekomendasi Bank Dunia dan IMF hingga mata uang dan perekonomiannya terperosok.
Namun, semuanya itu tidak membuatnya sadar dan menjadi pelajaran. Mereka yang disebut pakar dan intelektual di Indonesia dan Dunia Ketiga selalu memandang negara-negara Barat sebagai negara yang sukses secara ekonomi. Sebabnya, pendapatan perkapita di sana mencapai 20 atau 30 kali lipat pendapatan perkapita di negara-negara Dunia Ketiga. Karena itu, mereka (para pakar dan intelektual) pun segera mengambil nasihat dan masukan dari negara-negara Barat tersebut. Mereka tidak tahu, bahwa pendapatan tinggi negara-negara Barat, yang paling besar, adalah hasil penjajahan mereka terhadap kita dan perampokan mereka terhadap kekayaan alam kita; juga dari larangan terhadap negeri kita untuk menjadi negara industri agar tetap menjadi pasar bagi produk-produk industri mereka. Mereka mengambil bahan-bahan mentah dari negeri kita dengan harga semurah-murahnya dan menjualnya kembali kepada kita dalam bentuk produk industri dengan harga setinggi-tingginya.
Jadi, kemakmuran ekonomi di Barat bukanlah merupakan bukti atas kesahihan sistem ekonomi mereka, tetapi itu justru mebuktikan perampokan mereka terhadap kekayaan alam kita dan larangan mereka terhadap para penguasa kita untuk membangun industri berat, serta menghalang-halangi negeri kita agar tidak terbebas dari belenggu penjajahan mereka.[]

Image result for gempa bumi lombok
Oleh Ahmad Sastra
Forum Doktor Islam Indonesia

dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman (QS Al A’raaf : 85).

Lombok, NTB kembali diguncang bencana tektonik, 6,4 SR pada 29/7/18. Ratusan bangunan hancur dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah.

Jauh sebelumnya kabut asap akibat pembakaran lahan yang melanda Aceh, Sumatera, Riau, Bangka Belitung, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan adalah bencana lingkungan yang diakibatkan ulah tangan manusia.

Bencana ekologis ini telah merugikan masyarakat, baik kerugian kesehatan, kerugian ekonomi. Kabut asap yang oleh BMKG Stasiun Pekanbaru, Riau telah mencapai level berbahaya ini telah mengakibatkan berbagai penyakit seperti ISPA, asma, pneumonia, infeksi mata dan infeksi kulit.

Secara ekonomi, akibat kabur asap ini beberapa penerbangan harus dibatalkan. Tidak sampai disitu, Indonesia juga dirundung musibah seperti gempa bumi, dan gunung meletus. Kedua musibah ini merupakan kehendak Allah langsung, sedang bencana lingkungan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan merupakan akibat ulah manusia.

Namun  kedua bentuk bencana ini memiliki titik kesamaan pada sumber penyebabnya, yakni manusia.

Dalam pandangan Islam, fenomena ekologis erat kaitannya dengan perspektif teologis. Maknanya bahwa segala musibah  yang menimpa manusia adalah  kehendak Allah karena akibat ulah manusia yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip nilai yang dikehendakiNya, baik berkaitan dengan pelanggaran sunah kehidupan maupun sunah lingkungan.

Hal ini ditegaskan Allah dalam al Qur’an, “ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS Asy Syura : 30).  “

Telah nampak  kerusakan (fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar Ruum : 41). 

Para mufassir memaknai kerusakan atau fasad bermacam-macam arti. Diantaranya , segala sesuatu yang tidak tergategori sebagai kebaikan, kekurangan hujan dan sedikitnya tanaman, kelaparan dan banyaknya kemudaratan yang terjadi.

Hal ini diakibatkan oleh  ulah dan perbuatan manusia yang melanggar hukum dan aturan yang telah Allah tetapkan. Berbagai pelanggaran dan penyimpangan manusia dari hukum Allah dinamakan kemaksiatan.

Teologi lingkungan dengan demikian adalah kesadaran hubungan positif antara manusia, lingkungan dan Tuhan melalui kesyukuran ekologis dan menjauhi kekufuran ekologis.

Kesyukuran ekologis diwujudkan dengan pola pengelolaan lingkungan berdasarkan prinsip-prinsip aturan Allah.

Menjauhi kekufuran ekologis adalah dengan tidak merusak dan mengekploitasi sumber daya lingkungan  secara berlebihan.

Kesyukuran ekologis akan mendatangkan kasih sayang dan keberkahan hidup.  Kekufuran ekologis akan mendatangkan bencana dan musibah.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.”(QS An Nisaa : 79).

Dengan demikian berbagai kerusakan di muka bumi tidaklah terjadi tanpa sebab. Semua ini disebabkan oleh cara  berfikir, bertindak, bersikap dalam mengelola lingkungan alam  maupun lingkungan perilaku. 

Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna adalah untuk menjadi seorang hamba sekaligus seorang khalifah. Fungsi kehambaan manusia mengacu kepada dimensi transendental manusia kepada sang Pencipta. 

Seluruh sikap dan perilaku manusia hendaknya ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Az Zariyat : 56).

Adapun fungsi kekhalifahan memiliki makna bahwa manusia hendaknya mengelola seluruh Sumber daya lingkungan sejalan dengan yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta lingkungan demi kepentingan kesejahteraan manusia seluruhnya.

Islam memandang lingkungan sebagai anugerah Allah yang mesti dijaga, dipelihara, dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Islam  mengharamkan sumber daya alam diprivatisasi dan dieksploitasi secara berlebihan dengan tujuan pragmatisme dan materialisme.

Menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak asing yang kapitalistik adalah sebuah bentuk kemaksiatan. Pola fikir sekuler dan materialis yang abai terhadap aspek teologis dalam mengelola lingkungan berdampak kepada kerusakan lingkungan dan kemurkaan Tuhan.

“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124).

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan  bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya” (QS Al Hasyr : 7).

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di muka bumi adalah adanya pelanggaran dan penyimpangan manusia terhadap ketentuan dan aturan Allah.

Tujuan Allah menimpakan bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia. Liyudhikohum ba’da al ladzi ‘amilu. Ibnu Jarir menafsirkan ayat ini dengan perkataan agar Allah menimpakan kepada mereka hukuman atas sebagian perbuatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Al Baghawi mengatakan bahwa hukuman atas sebagian dosa yang telah mereka kerjakan. Perbuatan dosa dan maksiat bisa dilakukan oleh manusia sebagai individu juga bisa dilakukan oleh sebuah negara karena  mengabaikan aspek spiritual dalam  mengelola lingkungan.
 
Fikih Lingkungan

Meski dalam Islam telah jelas bahwa dimensi ekologis erat kaitannya dengan dimensi teologis, namun faktanya tidak semua manusia memahami akan hal itu.

Jikapun telah memahami belum tentu menguasai ilmu lingkungan yang baik. Bisa jadi masih banyak kaum muslimin yang belum memiliki ilmu tentang pola pengelolaan sampah, konservasi air, konservasi hutan, konservasi lahan pertanian dan aspek ekologis lainnya.

Karena itu penggalian terhadap khasanah sumber-sumber klasik dan modern bidang lingkungan perspektif Islam mendesak untuk dilakukan sebagai kerangka menyusun fiqih lingkungan.

Setidaknya ada tiga  dimensi dasar dalam upaya penyusunan fiqih lingkungan ini. Pertama adalah dimensi teologis, artinya penyusunan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan diorientasikan  sebagai cara untuk merefleksikan dan menjalankan perintah Allah yang bernilai ibadah, bukan semata-mata berorientasi pragmatisme.

Kedua dimensi saintifik, artinya pentingnya penguatan  basis epistemologis  yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Diperlukan riset-riset lingkungan yang ilmiah dan rasional bidang lingkungan hidup pada umumnya. Sebab Islam melalui lisan Rasulullah memberikan ruang yang luas bagi riset dan inovasi ekologis, selama hal itu diorientasikan bagi terpeliharanya lingkungan.

Bahkan Islam menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu (sains) ke segala penjuru dunia. Meski demikian, langkah islamisasi sains tetap dibutuhkan. Sebab pengelolaan lingkungan yang sekuleristik, terbukti melahirkan kerusakan dan musibah ekologis.

Ketiga dimensi praktis, artinya fiqih lingkungan bukan hanya kajian normatif, melainkan praktis yang langsung bisa diamalkan. Karena itu, fiqih lingkungan juga berkait erat dengan ilmu-ilmu lain seperti biologi, geografi, sosiologi, matematika, kimia, serta ilmu lainnya. dengan demikian, fikih lingkungan memiliki tiga dimensi utama yakni iman, ilmu dan amal.

Islam sangat menghargai orang-orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu dengan landasan keimanan kepada Allah. Penghargaan Allah hanya ditujukan kepada orang berilmu yang beriman. Tentu kebalikannya, Allah tidak menghargai ilmuwan sekuler. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujadilah : 11)

Dalam perspektif sejarah, banyak ilmuwan muslim yang telah menguasai ilmu lingkungan hidup dalam arti yang lebih luas. Salah satunya adalah ilmu geografi. Geografi dianggap ilmu yang menghubungkan langit (yakni pengamatan astronomi dan meteorologi) dan bumi (geodesi dan geologi).  Juga ilmu yang menghubungkan dunia hidup (biotik) dan mati (abiotik) yang mencakup flora, fauna dan manusia beserta interaksinya. 

Dan yang lebih penting: geografi tidak cuma ilmu untuk memetakan dan memahami alam semesta di sekitar kita, namun juga untuk merubahnya sesuai kebutuhan kita.  Berbeda dengan filsafat, geografi memiliki kegunaan praktis dalam memanfaatkan lingkungan. 

Para ahli geografi Muslim ternama dari Abu Zaid Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), Abu Rayhan al-Biruni (973-1048), Ibnu Sina (980-1037), Muhammad al-Idrisi (1100–1165), Yaqut al-Hamawi (1179-1229), Muhammad Ibn Abdullah Al Lawati Al Tanji Ibn Battutah (1305-1368) dan Abū Zayd ‘Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldūn Al-Hadrami, (1332-1406), menyediakan laporan-laporan detail dari penjelajahan mereka. Dalam bidang biologi ada ilmuwan-ilmuwan muslim diantaranya Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari.

Dengan adanya fikih lingkungan, diharapkan masyarakat dunia mampu memahami bagaimana harus bersikap, mengelola dan menata secara  benar terhadap air, udara, tanah, hutan, barang tambang, sampah, sanitasi, kebersihan lingkungan, pupuk, pohon, laut, sungai, danau, pabrik, perumahan, gunung, lembah, dan seluruh aspek material yang berhubungan dengan lingkungan hidup manusia.

Tentu sikap yang dimaksud selain berdasarkan sains rasional juga berdasarkan wahyu Allah SWT.

Dengan fikih lingkungan, masyarakat akan disadarkan akan perannya sebagai seorang khalifah dalam  mengelola alam dan lingkungan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada sang Pencipta alam raya.

Keimanan dan ketaqwaan dalam perspektif ekologis  adalah  masyarakat sadar lingkungan dengan menjaga dan memelihara lingkungan sebagai amanah Allah dengan harapan mendatangkan “ keberkahan lingkungan” dari sang Penguasa lingkungan. 

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”  (Qs Al A’raf : 96).

Namun jika yang terjadi adalah gempa tektonik seperti di Lombok NTB adalah murni kekuasaan Allah, tinggal bangsa ini bersabar menghadapi ujian sekaligus merenung, maksiat sistemik apa yang telah dilakukan di negeri ini.

[AhmadSastra, KotaHujan, 30/7/18 : 10.13 WIB]


Foto : Warta DPRD Jawa Tengah

Dakwah Jateng-, Kegiatan Aksi 277 bertema Menolak Represifitas di Dunia Kampus dan Adili Menristekdikti telah berhasil dilaksanakan oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan Wilayah Jawa Tengah. Aksi yang direncanakan pada jumat 27 Juli 2018 dengan tujuan menyampaikan aspirasi ke Gedung Dewan berhasil dilaksanakan pada kamis 26 Juli 2018 dalam bentuk audiensi langsung dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Diwakili puluhan pemuda dan mahasiswa dari berbagai kampus yang berasal dari kota Semarang, Solo dan Purworejo.
Aksi berupa audiensi yang dipimpin oleh Septian Wahyu Rahmanto Koordinator PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan Wilayah Jawa Tengah berjalan selama kurang lebih satu jam tiga puluh menit, di kantor DPRD Jawa Tengah untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan keluh kesah mengenai represifitas dan upaya pembungkaman yang menimpa dunia kampus dewasa ini. Kedatangan PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan tersebut diterima dengan baik oleh perwakilan DPRD Jawa Tengah Komisi A dari Fraksi Gerindra, Bapak Sriyanto Saputro.
Di forum audiensi tersebut Septian menyatakan bahwa saat ini Pemerintah melalui Menristekdikti telah melakukan berbagai upaya pembungkaman suara – suara kritis mahasiswa dan dosen. Septian juga menuturkan, berbagai upaya pembungkaman oleh Menristekdikti lebih menyasar kepada tokoh dan golongan Islam, salah satu buktinya adalah upaya kriminalisasi yang dilakukan Menristekdikti kepada Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Prof. Suteki yang hanya gara – gara menghadiri persidangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai ahli dan meyakini Khilafah sebagai ajaran Islam. Selain Prof. Suteki, beberapa diskusi keIslaman yang diadakan oleh mahasiswa hampir di kampus – kampus di seluruh Indonesia seringkali dipersekusi.
Agus Supriyanto perwakilan pemuda Semarang menuturkan bahwa isu Radikalisme oleh pemerintah dijadikan alat propaganda negatif untuk menyerang mahasiswa dan golongan Islam. Narasi Radikalisme hanya dituduhkan kepada mahasiswa dan golongan Islam, pemerintah dewasa ini selalu mengkaitkan organisasi dakwah kampus yang kritis dan ajaran Islam sebagai faham – faham radikalisme, belum lama Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) telah mempublish tujuh kampus yang terpapar faham Radikalisme kini disusul dengan daftar masjid pemerintah yang mendakwahkan paham – paham Radikal, padahal menurut KBBI, Radikalisme berkaitan erat dengan makna kekerasan. Sedangkan di sisi lain pemerintah tidak pernah sekalipun pernah menyebut Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang telah bertindak separatis sebagai organisasi berpaham Radikalisme maupun Terorisme.
Bapak Sriyanto mengapresiasi sikap kritis pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan. Bapak Sriyanto juga berkomitmen akan meneruskan aspirasi yang telah disampaikan ke DPRD Jawa Tengah, karena menurutnya isu yang disampaikan adalah isu nasional. kemudian acara diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Koordinator PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan Wilayah Jawa Tengah dan berfoto bersama.




Dakwah Jateng – Kamis, 26 Juli 2018, komunitas pemuda yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 Divisi Pemuda Dan Mahasiswa Wilayah Jawa Tengah mengunjungi DPRD Jawa Tengah untuk audiensi dan pengaduan. Audiensi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut dihadiri oleh sekitar 25 orang perwakilan dari Semarang, Solo dan Purworejo.

PA 212 divisi pemuda dan mahasiswa mengadukan Menristekdikti atas kebijakan yang represif dan membuat tidak nyaman dunia kampus. Aspirasi disampaikan oleh 5 (4 ikhwan dan 1 akhwat) perwakilan dari PA 212 divisi pemuda dan mahasiswa.



Septian, selaku Koordinator PA 212 divisi pemuda Jawa Tengah menyatakan, bahwa Pemerintah sebelumnya memunculkan framing bahaya terorisme, sekarang ditambah framing radikalisme dengan batasan yang tidak jelas. Ada tafsir tunggal terkait radikalisme yang cenderung kembali mengarah ke komponen umat Islam di dunia kampus, baik tokoh dosen, mahasiswa, ataupun lembaga keislaman di kampus. Dan menduga yang disebut terpapar radikalisme adalah orang atau lembaga yang sepakat, mendukung dan mendakwahkan ide Islam, yaitu Khilafah dan yang ada hubungannya dengan HTI. Harusnya kampus tempat mendiskusikan berbagai ide dan memproduksi pemikir dan intelektual.

Ibnu salah satu peserta audiensi dari solo menambahkan, pemerintah harus menegakkan keadilan akademik di lingkungan kampus. Ada beberapa ide mulai dari yang kiri mentok sampai kanan mepet didiskusikan dan diajarkan di kampus, misalnya ide tentang pemerintahan dari karl marx.



Audiensi tersebut berjalan lancar dan diapresiasi oleh perwakilan DPRD Jawa Tengah. Acara ditutup oleh Koordinator PA 212 divisi pemuda dengan membacakan pernyataan sikap yang juga termasuk aspirasi dan pengaduan. Setelah itu dilanjutkan dengan foto perwakilan PA 212 divisi pemuda Bersama perwakilan DPRD Jawa Tengah. [S/A]

No automatic alt text available.

Oleh : Ust Ismail Yusanto
Seperti hamba kepada tuannya, seorang muslim yang baik semestinya juga merespon dengan cepat dengan cara bergegas melaksanakan setiap perintah Allah SWT
Sikap seperti itu bukanlah didorong oleh sekadar sebuah ketundukan buta, tapi disertai dengan keyakinan bahwa perintah Allah SWT pastilah baik karena tidak mungkin ia memerintahkan sesuatu yang buruk, baik ketika ketika melarang ataupun mewajibkan untuk melakukan sesuatu
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Buraidah, ketika turun ayat larangan khamar dan judi, sejumlah orang Islam di masa nabi tengah asyik minum khamar yang memang saat itu masih dihalalkan
Tapi ketika ayat itu sampai pada lafadz “maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”, maka seketika itu mereka menumpahkan khamar baik yang masih yang ada di kendi maupun yang ada di gelas atau di mulut, seraya berseru, “Ya Tuhan kami, kami telah berhenti”.
Adalah shahabat Handzalah bin Abi Amir, yang syahid di medan perang uhud, jasadnya dimandikan oleh para malaikat. Mengapa? Rupanya ia sesungguhnya baru saja menikah. Malam itu, ketika ia sedang bersama istrinya, datang panggilan untuk berjihad
Tanpa berpikir panjang, dalam keadaan masih junub ia segera bergegas menuju medan jihad hingga akhirnya ia syahid. Itulah mengapa ia kemudian dimandikan oleh para malaikat
Demikianlah sejumlah contoh, bagaimana para shahabat di masa nabi merespon dengan cepat setiap perintah dan larangan Allah
Karakter semacam ini mestinya diteladani oleh umat Islam sekarang, bahwa sikap menghadapi ketentuan syariah tidak lain adalah sami’na wa ata’na (kami mendengar dan kami mentaati)
Andai saja, seluruh umat Islam di negeri ini bertindak seperti ini niscaya seluruh problem bangsa ini bisa diselesaikan dengan mudah, karena dengan ketaatan itu semua larangan ditinggalkan dan semua kewajiban dilaksanakan. Maka tidak perlu lagi ada korupsi, pelacuran, pornografi, illegal logging, kriminalitas, penjualan aset negara, dan sebagainya

lapas-sukamiskin-1
Oleh: Nur Rakhmad, SH.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin Bandung Wahid Husein (WH) atas dugaan penerimaan suap dan jual beli fasilitas lapas. Fenomena pejabat lembaga permasyarakatan (lapas) Sukamiskin Bandung yang diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan pada Sabtu (21/7) lalu kita khawatirkan sebagai fenomena gunung es. Bisa jadi situasi serupa berpotensi juga terjadi di lapas yang lain.
Masalah ini perlu diantisipasi dengan baik oleh pemerintah agar para pejabat bersih dari tindak pindana KKN. Pembenahan system lapas sangat diperlukan, sebuah sistem yang baik harus mampu menutup peluang adanya indikasi kongkalikong antar petugas dengan warga binaan. Aturan sedapat mungkin mengedepankan tertib hukum dan tertib aturan dalam lapas, serta penguatan integritas para petugasnya lapas. Dengan adanya integritas yang baik, maka peraturan yang ada pun akan dapat diimplementasikan secara tepat.
Kita menyadari dengan kondisi hukum yang sangat rentan dimanipulasi. Misalnya, hukum terkait hadiah. Dalam timbangan syariah Islam, telah dengan jelas merinci hukum-hukum soal hadiah yang boleh dan tidak boleh, termasuk bila untuk seorang pejabat.
Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa yang menjadi pegawai kami dan sudah kami beri gaji, maka apa saja ia ambil di luar itu adalah harta yang curang.” (HR Abu Dawud).
Tentang hadiah kepada aparat pemerintah, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kekufuran.” (HR. Ahmad).
Salah satu ‘efek samping’ dari diberlakukannya hal tersebut adalah, orang-orang akan sangat kesulitan untuk melakukan aktivitas ‘suap-menyuap’.
Negara wajib memberikan gaji dan fasilitas yang layak kepada aparatnya. Bisa jadi secara umum, ‘penghasilan’ yang sedikit mendorong seseorang untuk melakukan pencurian, korupsi, dan sebagainya; untuk memenuhi keperluan hidupnya. Apalagi kalau justru rugi lantaran biaya kampanye lebih besar daripada gaji bersihnya? Maka, untuk lebih meminimalisir tindak kriminal tersebut, perlulah adanya upaya untuk mencukupi keperluan-keperluan seseorang. Termasuk, keperluan seorang pegawai negeri.
Abu Ubaidah pernah berkata kepada Umar, ”Cukupilah para pegawaimu, agar mereka tidak berkhianat.”
Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-,”Siapa saja yang bekerja untuk kami, tapi tak punya Rumah, hendaklah dia mengambil Rumah. Kalau tak punya isteri, hendaklah dia menikah. Kalau tak punya pembantu atau kendaraan, hendaklah ia mengambil pembantu atau kendaraan.” (HR Ahmad).
Rekrutmen SDM aparat negara, wajib berasaskan integritas dan profesionalitas. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.” (HR Bukhari).
Umar bin Khaththab pernah berkata,“Barangsiapa mempekerjakan seseorang hanya karena faktor suka atau karena hubungan kerabat, berarti dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin.”
Dari 2 riwayat tersebut, jelaslah siapa saja yang hendak menjadi aparatur peradilan, maka mereka harus kredibel, terpercaya, andal (mampu), dan memenuhi kapabilitas, serta tentu kepribadiannya harus Islami. Tidak boleh sembarang bisa menjabat hanya karena ada ‘hubungan dekat’ ataupun sogokan uang.
Terkait standar system, oknum, kesadaran, dan hukum,  Islam memiliki langkah preventif mencegah kasus korupsi dan suap. Pada praktiknya, langkah preventif dan kuratif dalam paradigma Islam telah berhasil meminimalisir terjadinya kasus korupsi di Daulah Islam dari zaman Rasul hingga Turki Utsmani dahulu. Jika kelak akan diterapkan lagi sehingga kelak kasus korupsi bisa terminimalisir.[]

Pembangunan tak berhasil menghapuskan jurang antara si kaya dan si miskin

Oleh: M. Amin (Dir. ForPURE)
Isu pengentasan kemiskinan dan turun drastisnya nilai tukar rupiah terhadap dollar menyentuh masalah wong cilik. Inflasi yang terjadi sepanjang tahun membuat jarak (ketimpangan) antara upah nominal dan upah riil semakin melebar. Ini mengindikasikan bahwa semakin hari kondisi buruh tani semakin tertekan, kesejahteraan merosot. Gambaran detail kesejahteraan sebagian besar masyarakat kita. Golongan petani nelayan dan pedagang kecil. Mereka adalah mayoritas bangsa Indonesia.
Bicara soal pengentasan kemiskinan maka akan membicarakan multisektor program pemerintah. Namun pemerintah masih menjalankan program yang selama ini masih parsial soal mengentaskan kemiskinan. Perlu sistem yang cemerlang dan leadership yang kuat untuk fokus pada politik anggaran dan merancang arah kebijakan nasional yang terukur soal pengentasan kemiskinan.
Persoalan wong cilik diperparah dengan berbagai kebijakan ekonomi masih merujuk pada neolib, tragisnya, hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi “penyakit” umum rakyat. Negara pun belum mampu membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka.
Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan antar musuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur disana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para Ulama dan aktivis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam, mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas. Menyuarakan kebenaran dituduh radikalis, intoleran, ekstrimis hingga bibit teroris. Sehingga nyatalah bahwa Indonesia belum merdeka secara non-fisik. Karena ternyata penjajah itu masih ada, yakni kekuatan asing dan aseng yang menjajah negeri ini dengan jajahan gaya baru yakni neo imperialisme uakni memanfaatkan kaki tangannya para komprador sebagai penghianat bangsa yang telah menjual berbagai macam aset negera.
Karena itu, kunci agar kita benar-benar bangkit dari penjajahan non-fisik yang menimpa bumi pertiwi adalah dengan bersatu mewujudkan kemerdekaan yang hakiki dengan melepaskan diri dari : (1) Sistem Kapitalisme-Sekuler dalam segala bidang; (2) para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis.
Maka dari itu, pentingnya semua elemen umat ini mulai dari Ulama, intelektual, pengusaha, pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar untuk bersatu dalam rangka mewujudkan kesejahteraan yang hakiki di bumi pertiwi. Kita harus bahu membahu khususnya peran para pemuda dan mahasiswa untuk melanjutkan estafet perjuangan para leluhur yang telah mengusir penjajah secara fisik, bukan malah melanjutkan estafet penjajahan.[]

sapi di india
Pada hari Sabtu (21/7), seorang warga Muslim India meninggal di Rajasthan, negara bagian di barat laut India, setelah dipukuli oleh sekelompok ekstrimis Hindu dengan tuduhan melanggar “kesucian” sapi.
Kepolisian India mengatakan: “Para ekstrimis Hindu mencegat dua orang Muslim yang tengah membawa dua ekor sapi, di distrik Alwar, Rajasthan. Mereka memukuli kedua orang Muslim itu dengan tongkat, dan menuduh keduanya menyelundupkan sapi.”
Mayoritas umat Hindu menguduskan atau menyucikan sapi, tetapi minoritas kaum Muslim di India menjual belikan ternak guna disembelih untuk makan, dan untuk diambil susunya.
Kepolisian negara bagian Rajasthan mengatakan: “Lima hingga tujuh orang mengepung pria yang sedang berjalan dengan membawa dua ekor sapi di desanya, di negara bagian Haryana. Mereka memukulinya yang menyebabkan kematiannya, sementara rekannya berhasil melarikan diri.”
“Kami sedang menyelidiki insiden itu, dan kami akan menangkap para pelaku segera,” kata Shiyam Singh, seorang pejabat polisi di distrik Alwar.
Polisi mengatakan bahwa korban itu bernama Akbar, umur 28 tahun, yang meninggal saat dibawa ke rumah sakit.
Kelompok “pengawal sapi”, yang sebagian besar berafiliasi dengan partai yang berkuasa, telah membunuh sedikitnya 20 orang dalam 15 bulan terakhir dengan tuduhan melanggar kesucian sapi.
Sebelumnya, pengadilan tinggi India meminta pemerintah federal agar membuat undang-undang untuk menindak aksi-aksi serangan seperti ini, yang dinilainya sebagai tindakan brutal dan biadab (www.aljazeera.net, 21/7/2018).

ht-syria
Upaya-upaya untuk mengkaitkan antara Hizbut Tahrir dengan ISIS bukanlah upaya yang berhasil meskipun upaya ini terus dilakukan; upaya-upaya baru dilakukan untuk melemahkan partai ini, yang telah bersumpah untuk berusaha mendirikan Khilafah Rashidah yang berjalan pada metode Kenabian; yang dianggap oleh syariah sebagai satu-satunya cara untuk menerapkan Islam dalam kehidupan dan satu-satunya solusi atas berbagai penderitaan umat Islam. Upaya yang terbaru adalah yang dilakukan oleh media murahan dan terang-terangan yang mengklaim bahwa kelompok-kelompok yang berasal dari Hizbut Tahrir bergabung dengan kelompok-kelompok imajiner. Kami Hizbut Tahrir/Wilayah Suriah menyatakan sebagai berikut:
Pertama, Hizbut Tahrir bukan lahir pada hari ini, tetapi ia merupakan partai politik yang didirikan pada tahun 1953 oleh Sheikh Taqiuddin Al-Nabhani, Rahimahu Allah. Partai ini adalah partai global yang berkerja di banyak negara Islam dan negara-negara dunia dan saat ini dipimpin oleh ulama terkemuka Ata Bin Khalil Abu Al-Rashtah. Partai ini mengadopsi seperangkat pemikiran dan konsep di banyak bukunya; ia juga mengadopsi metode khusus dalam bekerja, yang mengikuti metode Rasulullah (Saw) dalam membangun sebuah negara. Metode ini bergantung pada perjuangan intelektual dan politik dan upaya-upaya dalam mencari Nusrah (kemenangan) dari orang-orang yang berkuasa. Itu adalah metode yang pasti yang tidak berubah oleh perubahan waktu dan tempat dan tidak pernah berubah dengan berubahnya kondisi dan keadaan karena metode itu menegaskan aturan syariah yang berasal dari dalil-dalil syara yang rinci.
Kedua, upaya-upaya ini hanyalah rekayasa media yang ditujukan untuk memfitnah Hizbut Tahrir dalam benak kaum Muslim untuk menghindarinya dan mencari pembenaran untuk mendiskreditkannya dan gagasan Khilafah yang diembannya.
Ketiga: Semua upaya untuk mencemarkan nama baik Hizbut Tahrir dan memutarbalikkan gagasan Khilafah akan gagal sebagaimana yang terjadi sebelumnya, Insya Allah, dan kelicikan para pengkhianat itu akan kembali ke tenggorokan mereka; Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Maha Kuasa:
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.”[Terjemahan QS Al-Hajj: 38].
Oleh Ahmad Abdul Wahab
Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir
Wilayah Suriah

Hasil gambar untuk aksi 212

Membangun Sinergi Gerakan Dakwah
Oleh : Ust Ismail yusanto
Ibarat membangun rumah yang pasti memerlukan sejumlah tenaga manusia, membangun “rumah umat” yang jauh lebih besar tentu diperlukan lebih banyak lagi tenaga manusia. Bahkan bukan sekadar manusia, tapi manusia yang telah tersadarkan dan tercerahkan oleh pancaran sinar tauhid dan tergerakkan oleh semangat dakwah.
Di tengah umat kini bekerja beragam kelompok Islam. Bukan hanya satu kelompok. Menghilangkan keragaman kelompok itu tidaklah mungkin, sama tidak mungkinnya untuk menyatukannya.
Maka, kata “sinergi” menegaskan pengakuan akan eksistensi masing-masing kelompok sekaligus tuntutan pada kelompok-kelompok itu untuk melakukan langkah yang menguatkan, bukan melemahkan dakwah secara keseluruhan.
Untuk tercapainya sinergi antar berbagai kelompok dakwah, diperlukan upaya yang harus secara konsisten dilakukan terus menerus.
Pertama, dengan semangat keikhlasan dalam dakwah, diantara pimpinan gerakan Islam terutama harus mengembangan semangat persaudaraan dan komunikasi yang baik. Jangan ragu untuk bertegur sapa bila ada masalah antar keduanya. Bila diantara pimpinan sudah terjalin hubungan yang bagus biasanya di bawah sana juga akan bagus. Begitu sebaliknya.
Kedua, harus dikembangkan kepada para kadernya masing-masing pemahaman tentang mengapa terjadi perbedaan dan bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan itu. Bukan berarti mengajak kompromi pada yang batil, tapi semangat amar ma’ruf nahi mungkar harus dilakukan dengan tetap menjaga akhlaqul karimah.
Ketiga, harus dikembangkan sikap bahwa kemenangan satu gerakan sesungguhnya adalah kemenangan gerakan Islam secara keseluruhan. Sehingga sikap iri, dengki, arogan, gemar melontar fitnah dan sifat buruk lainnya bisa ditekan karena semua sesungguhnya adalah kawan. Sama sekali tidak layak sifat-sifat buruk seperti itu berkembang di kalangan aktivis dakwah.
Keempat, masing-masing harus mewaspadai kemungkinan adanya anasir yang memang bermaksud mengaduk-aduk gerakan Islam dan membenturkan satu sama lain karena musuh-musuh Islam memang selalu mencari jalan untuk merusak kekuatan dakwah.
Harus diingat, berdakwah itu wajib, menjaga persatuan umat juga adalah wajib. Salah besar bila untuk meraih kemenangan dakwah ditempuh dengan menikam teman seiring.
Sementara itu harus pula dikembangkan sikap bersama diantara berbagai gerakan dakwah sehingga bisa tercipta saling pengertian dan kesepahaman.
Pertama, bahwa semua harus berjuang untuk tegaknya kembali izzul Islam wal muslimin melalui penerapan syariah karena tidak ada kemuliaan kecuali dengan Islam dan tidak ada Islam kecuali dengan syariah.
Kedua, semua harus berupaya mewujudkan persatuan umat seluruh dunia, karena hanya melalui persatuan di bawah satu kepemimpinan saja, umat Islam dapat meraih kembali kekuatan untuk melindungi diri dan mewujudkan seluruh gagasan-gagasannya.
Ketiga, bahwa semua gerakan Islam dalam perjuangannya harus berpegang teguh pada syariah itu sendiri serta bermuamalah, baik sesama gerakan Islam maupun dengan komponen masyarakat lain, secara syar’iy yang diselenggarakan dengan penuh akhlaqul karimah.
Keempat, bahwa semua gerakan Islam harus mewaspadai siapapun yang menentang syariah, terus menerus memecah belah umat dan tak segan berbuat dzalim. Orang seperti ini tentu harus diingatkan. Bila tidak mau, berarti mereka memang sengaja memusuhi Allah yang berarti juga memusuhi umat Islam. Menghadapi itu, satu sikap kita: lawan! Semua gerakan Islam tidak boleh bersekutu dengannya karena kita dilarang bersekutu dengan musuh Allah SWT.
Dengan penguatan dakwah yang dilakukan oleh berbagai kelompok Islam, proses penyadaran umat semestinya akan lebih mudah dilakukan. Umat yang sadar akan menjadi pilar utama dari kekuatan yang perubahan menuju tegaknya syariah.



Dakwah Jateng-, Semarang, Sebuah seruan aksi dari persaudaraan alumni 212 bidang pemuda dan mahasiswa menggema di semarang.

Aksi rencana akan diadakan jum'at (27/07/2018),  seperti dikutip dari akun instagram fapmmjateng.id

UNDANGAN #AKSI277
PA 212 PEMUDA & MAHASISWA
“LAWAN REPRESIFITAS REZIM TERHADAP KAMPUS, DOSEN, DAN MAHASISWA”
___________________________________________ 
Pemuda dan Mahasiswa siap mewakafkan jiwa raga untuk membela Islam dan menegakkan keadilan. Menristek Dikti telah bersikap diktator kepada dosen dan mahasiswa dengan membungkam suara kritis dan dakwah mereka.

Ikuti Aksi Simpatik pada
Hari : Jumat, 27 Juli 2018, 
Pukul. 13.30 s.d. selesai 
Tempat : Depan DPRD Jateng
Korlap : Agus S (08983411023)

PA 212 PEMUDA & MAHASISWA
KOORDINATOR WILAYAH JATENG




erdogan
David Barchard—wartawan, konsultan dan mantan guru besar di Turki—menulis bahwa penunjukan Recep Tayyip Erdogan sebagai kepala eksekutif pertama bagi Turki membuat rakyat Turki tampak penuh harap untuk perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sistem pemerintahan mereka, sejak berakhirnya imperium Ottoman dan diproklamirkannya Republik pada tahun 1923 M. Yaitu perubahan yang tujuannya adalah untuk menciptakan mesin administrasi yang bergerak cepat, di mana presiden memegang sendiri kemudinya untuk memastikan posisi Turki sebagai negara yang besar dan kuat. Penulis tersebut dalam artikelnya di situs Middle East Eye mempertanyakan kemampuan Erdogan untuk mengembalikan Turki pada era kebesaran dan kekuatannya. Dia menyebutkan serangkaian prosedur administrasi dan perubahan yang dibuatnya dalam rangka untuk membuat perbaikan, serta pemisahan kekuasaan kementerian dari parlemen, sehingga tidak ada pertanggungjawaban akuntabilitas pemerintah (kementerian) di depan parlemen.
*** *** ***
Untuk menjawab keraguan tersebut, maka kami katakan dengan tegas bahwa Erdogan mampu mengembalikan Turki pada kebesaran dan kekuatannya. Ketika penulis menyadari bahwa Turki dahulu adalah negara besar dan kuat, maka tidak ada keraguan bahwa itu mengacu pada saat Turki menerapkan sistem Khilafah, sehingga Turki menjadi negara nomor satu di dunia dalam waktu yang lama. Sementara Turki merosot dari kebesaran dan kekuatannya akibat menerapkan sistem sekulerisme, dan menghancurkan sistem Khilafah, serta memecah-belah bagian-bagiannya dalam bentuk negara-negara kartun kecil yang tidak berdaya.
Ya mampu, dengan syarat, ia membangun jembatan komunikasi nyata antara negara dan rakyat, dan bekerja untuk menjembatani kesenjangan antara keyakinan masyarakat yang telah terpatri di dalam hati dan pikirannya, bahwa mereka adalah kaum Muslim, di mana agama mereka memerintahkannya untuk menerapkan sistem ekonomi, peradilan, politik dan sosial berdasarkan Islam; serta antara realitas di mana mereka hidup dalam sistem sekularisme yang membatasi agama hanya di sudut-sudut masjid, dan memposisikan Islam sama dengan Buddha, Hindu atau Kristen!
Ya mampu, jika ia membangun jembatan komunikasi nyata dengan Allah, tidak memerangi syariah-Nya, serta tidak melemparkan orang-orang yang berjuang untuk menegakkan Khilafah dan mengembalikan Turki pada kebesaran dan kekuatannya ke dalam penjara, bahkan selama satu setengah dekade telah ada vonis penjara kepada mereka itu, yang totalnya 1.621 tahun (lihat: Press Release: Sejumlah Sanksi Berat Dikeluarkan Untuk Aktivis Hizbut Tahrir Yang Justru Membuat Mereka Semakin Beriman dan Tunduk Pada Hukum Allah! Jum’at, 8 Maret 2013 M.) Jadi, bagaimana mungkin Turki akan kembali pada kebesarannya jika dengan terang memusuhi Allah, dan memerangi upaya penerapan syariah-Nya dengan cara yang mengerikan tersebut?!
Ya mampu, jika ia mengganti sistem ekonomi kapitalis dengan sistem Islam. Sebab tidak ada artinya seorang Muslim hidup dalam kemakmuran, namun di bawah naungan sistem yang mengebiri agama dan hukumnya dari hidupnya, sehingga kemakmurannya itu adalah hasil dari perekomian yang dibagun di atas riba dan utang baik dalam dan luar negeri, serta melegalkan prostitusi dan minuman keras, juga perdagangan tidak terbatas dengan entitas yang merampas bumi Isra’, dan lain-lainnya. Ya, semua ini bukan prestasi, karena pertanyaan besarnya, adalah di manakah Islam? Bukan, di manakah dolar!
Ya mampu, jika ia memutus semua bentuk ikatan yang berhubungan dengan entitas Yahudi, hubungan-hubungan yang telah dinormalisasi dan didokumentasikan dengan kerjasama ekonomi dan militer, di mana semua pemerintah Turki sebelumnya biasa tersedu-sedu menumpahkan air mata buayanya terkait Gaza dan agresi Yahudi padanya!
Ya mampu, jika ia memperpanjang tangan Turki dan pandangan matanya ke arah dunia Islam, yang akan menjadi inti dari persatuan dan kesatuannya, dan mengembalikan entitas yang telah dihancurkannya. Sehingga kekuatan Turki berasal dari kekuatan Islamnya, sistem Tuhannya, serta kekuatan umat Islam yang sangat besar dan kekayaannya yang tidak terbatas. Dengan demikian, jika itu terwujudkan, maka akan memutus Barat dari semua alat yang digunakan untuk menjarah dunia Islam dan kekayaannya, yang kemudian akan mengembalikan kepada umat kejayaan dan kedaulatannya.
Ya mampu, jika ia memutus persekongkolannya dengan Rusia, Amerika dan Iran, serta rezim Assad, sebab mereka bersekongkol melawan umat Islam, membantai kaum pria dan wanitanya, membasmi tentaranya, dan yang menempatkan garis garis merah di belakang yang lainnya, serta membeli perlindungan kepemimpinan faksi-faksi revolusi Syam agar mendukung rezim Assad, juga mereka mencegah perubahan.
Akan tetapi kompas Turki mengarah ke Barat, dan keyakinannya terhadap sekularisme yang tidak terbatas, kapitalisme, serta hubungan Zionis-Amerika, sehingga semua ini membuat kita melihat lebih jauh tenggelamnya Turki dalam sistem yang lemah dan ketergantungannya, bukan kebesaran dan kekuatannya. Namun rakyat Turki, tidak lama lagi akan membuka penutup matanya hingga mereka akan melihat semua pihak yang memerangi agamanya, dan mereka tidak akan rela kecuali menggantikannya. [Tsair Salamah – Abu Malik]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 17/7/2018.

syariat1-740x431
Meningkatnya publik yang menginginkan syariah Islam dijadikan aturan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang ditunjukkan dalam survei, harus dinilai sebagai sesuatu yang sangat positif.
“Memang kesadaran masyarakat untuk kembali kepada syariah Islam semakin meningkat. Survei ini bukan survei yang pertama kali, ini tentunya harus dilihat sebagai sesuatu yang sangat positif,”  ungkap pengamat politik dunia Islam Farid Wadjdi dalam wawancara live dengan Radio Dakta 107 FM pada segmen  Sorotan Dunia Islam, Rabu (18/7/2018) pagi.
Setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan sehingga harus dinilai demikian. Pertama, karena syariah Islam itu berasal dari Allah SWT.  “Artinya, kalau umat Islam menjalankan ini pasti akan memberikan kebaikan kepada umat Islam termasuk kepada negeri ini,” bebernya.
Kedua, hasil survei ini seharusnya dipahami secara wajar bahwa syariah Islam sebagai solusi. “Jangan dianggap sebagai monster yang seolah-olah akan menghancurkan negeri ini,” tegasnya.
Farid juga menyatakan kapitalisme sekarang ini mengalami goncangan yang luar biasa, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dalam skala internasional. Sementara di Indonesia, kapitalisme telah gagal memakmurkan masyarakat, di sisi lain kekayaan alam Indonesia telah dirampok oleh perusahaan-perusahaan asing karena prinsip-prinsip kapitalisme.
“Jadi ini harus dipahami secara wajar, secara normal dan secara positif,” pungkasnya.
Sebelumnya survei yang dihelat LSI Denny JA menemukan bahwa publik yang pro terhadap NKRI Syariah mengalami peningkatan. LSI Denny JA menemukan, peningkatan tersebut terjadi sejak tahun 2005 hingga tahun 2018.
Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa menyebutkan, persentase publik yang pro terhadap NKRI Syariah mencapai 4,6 persen pada tahun 2005. Kemudian, angka tersebut naik menjadi 7,3 persen pada tahun 2010. Pada tahun 2015, angkanya kembali naik menjadi 9,8 persen. Hingga akhirnya pada tahun 2018 naik menjadi 13,2 persen. Dengan demikian, kata Ardian, dalam kurun waktu 13 tahun, ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9 persen.
Ardian menjelaskan, yang dimaksud dengan pro NKRI Syariah adalah publik yang menginginkan nilai-nilai agama masuk ke dalam pemerintah. Secara sederhana, publik ini menginginkan Indonesia berdasarkan agama. “Jadi agama mengatur banyak hal dalam kehidupan publik, masuk dalam pemerintahan. Sejauh ini (maksudnya adalah) negara Islam,” ujar Ardian seperti dilansir kompas.com, Selasa (17/7).[]
Sumber : mediaumat.news

Hasil gambar untuk menasehati penguasa zalim

Oleh : KH. Rokhmat S Labib.
Dalam menghadapi kezaliman dan orang-orang zalim, Islam memiliki sikap tegas. Yakni, wajib berlepas diri darinya. Bahkan, tidak boleh ada kecenderungan dan kecondongan terhadap orang-orang yang berbuat dzalim sedikit pun.
Allah Swt berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113)
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (QS Hud [11]: 113).

Kata الَّذِينَ ظَلَمُوا, menurut al-Alusi adalah orang-orang yang di dalamnya dirinya terdapat kezhaliman. Secara bahasa, al-zhulm berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam perkembangan berikutnya, kata al-zhulm digunakan untuk menunjukkan setiap perbuatan yang menyimpang dari ketetapan dînuL-lâh.
Ada beberapa yang disebutkan secara jelas dalam al-Quran sebagai kezaliman. Di antaranya adalah syirik, sebagaimana firman-Nya: 
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman [31]: 13).

Orang yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah Swt disebut sebagai orang zalim, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS al-Maidah [5]: 45).

Semua orang yang melanggar hukum Allah Swt juga dinyatakan sebagai orang zalim. Allah Swt berfirman:
وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ 
Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri (QS al-Syura [42]: 42).

Dalam ayat ini ditegaskan, kaum Mukmin bukan saja dilarang melakukan perbuatan dzalim atau menjadi menjadi orang zalim. Bahkan, merasa ridha dan cenderung terhadap orang yang berbuat zalim pun sudah dilarang.
Imam al-Qurthubi mengutip beberapa penjelasan para ulama tentang makna ayat ini. Qatadah berkata, “Janganlah kalian mencintai dan mentaati mereka!” Ibnu Juarij berkata, “Janganlah kalian cenderung kepada mereka!” Abu Aliyah berkata, “Janganlah kalian ridha terhadap amal-amal mereka!”
Menurut al-Qurthubi, semua penafsiran tersebut berdekatan. 
Dikatakan juga oleh Abdurrahman al-Sa’di bahwa yang dimaksud dengan al-rukûn di sini adalah al-mayl (cenderung) dan bergabung dengan kezaliman, , “Jika kamu cenderung kepada mereka, menyetujui dan rela terhadap kezaliman mereka.”

Menurut al-Zamakhsyari, الركون adalah الميل اليسير (kecenderungan ringan). Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.
Ungkapan al-ladzîna zhalamû kian mengukuhkan ketentuan tersebut. Sebab, ungkapan al-ladzîna zhalamû lebih ringan daripada al-zhâlimîn. Sehingga, jika kepada orang yang berbuat zalim saja sudah dilarang cenderung kepadanya, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah terkategori zalim.
Dikatakan oleh Abdurrahman al-Sa’di, Jika ayat ini terdapat ancaman keras bagi yang cenderung kepada orang-orang zalim, maka bagaimana keadaan para pelaku kedzaliman itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezaliman.
Al-Zamakhsyari memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cenderung kepada pelaku perbuatan zalim. Di antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, menghabiskan waktunya bersama mereka, bersahabat dengan mereka, duduk bersama mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, mengenakan pakaian mereka, dan menyebut mereka dengan penuh penghormatan.
Menurut al-Qurthubi larangan ini juga sejalan dengan firman Allah Swt: 
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu] (QS al-An’am [6]: 68)

Perbuatan zalim itu yang tidak boleh diridhai itu berlaku bukan hanya terhadap kaum Musyrik, namun berlaku umum. Demikian penegasan al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr. Termasuk pula di dalamnya terhadap tindakan dan perilaku zalim penguasa. Rasulullah saw juga menegaskan larangan bersikap ridha terhadap penguasa yang berperilaku zalim.
Rasulullah saw bersabda: 
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Akan muncul para pemimpin, (tindakan mereka) ada yang kalian anggap baik dan ada yang kalian anggap salah. Siapa saja yang menolak tindakan salah mereka, maka dia bebas dari dosa. Siapa saja yang ingkar, dia juga selamat (dari dosa). Tetapi siapa saja yang merasa ridha, bahkan mengikuti (perbuatan yang salah itu), maka dia telah berdosa. Para sahabat bertanya, “Tidakkah lebih baik mereka itu kita perangi saja, wahai Rasulullah saw? Nabi menjawab, “Tidak selama mereka mengerjakan shalat.” (HR Muslim dari Auf bi Malik).

Larangan cenderung kepada pelaku kezaliman itu sampai batas haram. Sebab, orang yang mengerjakannya diancam dengan sanksi yang amat berat, neraka. Allah Swt berfirman: 
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ 
Menyebabkan kamu disentuh api neraka

Tak hanya itu, mereka diancam tidak akan mendapat penolong. Allah Swt berfirman: 
وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan

Walhasil, seorang Mukmin memang harus membersihkan dirinya dari segala kezaliman, hingga tak tersisa kecenderungan terhadap pelaku kezaliman. 
Termasuk kepada penguasa yang terus-menerus menzalimi rakyatnya. Terlebih para penguasa saat ini.

Kezaliman yang mereka sudah sangat jelas. Sebab mereka tidak menegakkan shalat (hukum Islam) dalam kehidupan sebagaimana disebutkan dalam Hadits di atas. Mereka juga sudah berani menampakkan kufran bawâhan (kekufuran yang nyata) karena hukum yang mereka terapkan adalah hukum kufur. Lebih dari itu, mereka pun memusuhi Islam beserta syariahnya untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara.
Terhadap penguasa demikian, kita dilarang untuk ridha dan cenderung kepada mereka. Rasulullah saw bersabda:
سيكون بعدي أمراء فمن دخل عليهم وصدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه وليس يرد علي الحوض
Akan ada sepeninggal aku nanti para pemimpin. Siapa saja yang menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka dia bukan bagian dariku; aku pun bukan bagian dari dirinya dan dia tidak akan menemuiku di telaga surga (HR at-Tirmidzi).

Semoga kita tetap istiqamah dalam menjalankan dan memperjuangkan Islam serta tidak condong terhadap orang-orang zalim. WaLlâh a’lam bi al-shawâb.
loading...
Powered by Blogger.