Image result for gempa bumi lombok
Oleh Ahmad Sastra
Forum Doktor Islam Indonesia

dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman (QS Al A’raaf : 85).

Lombok, NTB kembali diguncang bencana tektonik, 6,4 SR pada 29/7/18. Ratusan bangunan hancur dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah.

Jauh sebelumnya kabut asap akibat pembakaran lahan yang melanda Aceh, Sumatera, Riau, Bangka Belitung, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan adalah bencana lingkungan yang diakibatkan ulah tangan manusia.

Bencana ekologis ini telah merugikan masyarakat, baik kerugian kesehatan, kerugian ekonomi. Kabut asap yang oleh BMKG Stasiun Pekanbaru, Riau telah mencapai level berbahaya ini telah mengakibatkan berbagai penyakit seperti ISPA, asma, pneumonia, infeksi mata dan infeksi kulit.

Secara ekonomi, akibat kabur asap ini beberapa penerbangan harus dibatalkan. Tidak sampai disitu, Indonesia juga dirundung musibah seperti gempa bumi, dan gunung meletus. Kedua musibah ini merupakan kehendak Allah langsung, sedang bencana lingkungan seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan merupakan akibat ulah manusia.

Namun  kedua bentuk bencana ini memiliki titik kesamaan pada sumber penyebabnya, yakni manusia.

Dalam pandangan Islam, fenomena ekologis erat kaitannya dengan perspektif teologis. Maknanya bahwa segala musibah  yang menimpa manusia adalah  kehendak Allah karena akibat ulah manusia yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip nilai yang dikehendakiNya, baik berkaitan dengan pelanggaran sunah kehidupan maupun sunah lingkungan.

Hal ini ditegaskan Allah dalam al Qur’an, “ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS Asy Syura : 30).  “

Telah nampak  kerusakan (fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar Ruum : 41). 

Para mufassir memaknai kerusakan atau fasad bermacam-macam arti. Diantaranya , segala sesuatu yang tidak tergategori sebagai kebaikan, kekurangan hujan dan sedikitnya tanaman, kelaparan dan banyaknya kemudaratan yang terjadi.

Hal ini diakibatkan oleh  ulah dan perbuatan manusia yang melanggar hukum dan aturan yang telah Allah tetapkan. Berbagai pelanggaran dan penyimpangan manusia dari hukum Allah dinamakan kemaksiatan.

Teologi lingkungan dengan demikian adalah kesadaran hubungan positif antara manusia, lingkungan dan Tuhan melalui kesyukuran ekologis dan menjauhi kekufuran ekologis.

Kesyukuran ekologis diwujudkan dengan pola pengelolaan lingkungan berdasarkan prinsip-prinsip aturan Allah.

Menjauhi kekufuran ekologis adalah dengan tidak merusak dan mengekploitasi sumber daya lingkungan  secara berlebihan.

Kesyukuran ekologis akan mendatangkan kasih sayang dan keberkahan hidup.  Kekufuran ekologis akan mendatangkan bencana dan musibah.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.”(QS An Nisaa : 79).

Dengan demikian berbagai kerusakan di muka bumi tidaklah terjadi tanpa sebab. Semua ini disebabkan oleh cara  berfikir, bertindak, bersikap dalam mengelola lingkungan alam  maupun lingkungan perilaku. 

Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna adalah untuk menjadi seorang hamba sekaligus seorang khalifah. Fungsi kehambaan manusia mengacu kepada dimensi transendental manusia kepada sang Pencipta. 

Seluruh sikap dan perilaku manusia hendaknya ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Az Zariyat : 56).

Adapun fungsi kekhalifahan memiliki makna bahwa manusia hendaknya mengelola seluruh Sumber daya lingkungan sejalan dengan yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta lingkungan demi kepentingan kesejahteraan manusia seluruhnya.

Islam memandang lingkungan sebagai anugerah Allah yang mesti dijaga, dipelihara, dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Islam  mengharamkan sumber daya alam diprivatisasi dan dieksploitasi secara berlebihan dengan tujuan pragmatisme dan materialisme.

Menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada pihak asing yang kapitalistik adalah sebuah bentuk kemaksiatan. Pola fikir sekuler dan materialis yang abai terhadap aspek teologis dalam mengelola lingkungan berdampak kepada kerusakan lingkungan dan kemurkaan Tuhan.

“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124).

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan  bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya” (QS Al Hasyr : 7).

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di muka bumi adalah adanya pelanggaran dan penyimpangan manusia terhadap ketentuan dan aturan Allah.

Tujuan Allah menimpakan bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia. Liyudhikohum ba’da al ladzi ‘amilu. Ibnu Jarir menafsirkan ayat ini dengan perkataan agar Allah menimpakan kepada mereka hukuman atas sebagian perbuatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Al Baghawi mengatakan bahwa hukuman atas sebagian dosa yang telah mereka kerjakan. Perbuatan dosa dan maksiat bisa dilakukan oleh manusia sebagai individu juga bisa dilakukan oleh sebuah negara karena  mengabaikan aspek spiritual dalam  mengelola lingkungan.
 
Fikih Lingkungan

Meski dalam Islam telah jelas bahwa dimensi ekologis erat kaitannya dengan dimensi teologis, namun faktanya tidak semua manusia memahami akan hal itu.

Jikapun telah memahami belum tentu menguasai ilmu lingkungan yang baik. Bisa jadi masih banyak kaum muslimin yang belum memiliki ilmu tentang pola pengelolaan sampah, konservasi air, konservasi hutan, konservasi lahan pertanian dan aspek ekologis lainnya.

Karena itu penggalian terhadap khasanah sumber-sumber klasik dan modern bidang lingkungan perspektif Islam mendesak untuk dilakukan sebagai kerangka menyusun fiqih lingkungan.

Setidaknya ada tiga  dimensi dasar dalam upaya penyusunan fiqih lingkungan ini. Pertama adalah dimensi teologis, artinya penyusunan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan diorientasikan  sebagai cara untuk merefleksikan dan menjalankan perintah Allah yang bernilai ibadah, bukan semata-mata berorientasi pragmatisme.

Kedua dimensi saintifik, artinya pentingnya penguatan  basis epistemologis  yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Diperlukan riset-riset lingkungan yang ilmiah dan rasional bidang lingkungan hidup pada umumnya. Sebab Islam melalui lisan Rasulullah memberikan ruang yang luas bagi riset dan inovasi ekologis, selama hal itu diorientasikan bagi terpeliharanya lingkungan.

Bahkan Islam menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu (sains) ke segala penjuru dunia. Meski demikian, langkah islamisasi sains tetap dibutuhkan. Sebab pengelolaan lingkungan yang sekuleristik, terbukti melahirkan kerusakan dan musibah ekologis.

Ketiga dimensi praktis, artinya fiqih lingkungan bukan hanya kajian normatif, melainkan praktis yang langsung bisa diamalkan. Karena itu, fiqih lingkungan juga berkait erat dengan ilmu-ilmu lain seperti biologi, geografi, sosiologi, matematika, kimia, serta ilmu lainnya. dengan demikian, fikih lingkungan memiliki tiga dimensi utama yakni iman, ilmu dan amal.

Islam sangat menghargai orang-orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu dengan landasan keimanan kepada Allah. Penghargaan Allah hanya ditujukan kepada orang berilmu yang beriman. Tentu kebalikannya, Allah tidak menghargai ilmuwan sekuler. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujadilah : 11)

Dalam perspektif sejarah, banyak ilmuwan muslim yang telah menguasai ilmu lingkungan hidup dalam arti yang lebih luas. Salah satunya adalah ilmu geografi. Geografi dianggap ilmu yang menghubungkan langit (yakni pengamatan astronomi dan meteorologi) dan bumi (geodesi dan geologi).  Juga ilmu yang menghubungkan dunia hidup (biotik) dan mati (abiotik) yang mencakup flora, fauna dan manusia beserta interaksinya. 

Dan yang lebih penting: geografi tidak cuma ilmu untuk memetakan dan memahami alam semesta di sekitar kita, namun juga untuk merubahnya sesuai kebutuhan kita.  Berbeda dengan filsafat, geografi memiliki kegunaan praktis dalam memanfaatkan lingkungan. 

Para ahli geografi Muslim ternama dari Abu Zaid Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), Abu Rayhan al-Biruni (973-1048), Ibnu Sina (980-1037), Muhammad al-Idrisi (1100–1165), Yaqut al-Hamawi (1179-1229), Muhammad Ibn Abdullah Al Lawati Al Tanji Ibn Battutah (1305-1368) dan Abū Zayd ‘Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldūn Al-Hadrami, (1332-1406), menyediakan laporan-laporan detail dari penjelajahan mereka. Dalam bidang biologi ada ilmuwan-ilmuwan muslim diantaranya Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari.

Dengan adanya fikih lingkungan, diharapkan masyarakat dunia mampu memahami bagaimana harus bersikap, mengelola dan menata secara  benar terhadap air, udara, tanah, hutan, barang tambang, sampah, sanitasi, kebersihan lingkungan, pupuk, pohon, laut, sungai, danau, pabrik, perumahan, gunung, lembah, dan seluruh aspek material yang berhubungan dengan lingkungan hidup manusia.

Tentu sikap yang dimaksud selain berdasarkan sains rasional juga berdasarkan wahyu Allah SWT.

Dengan fikih lingkungan, masyarakat akan disadarkan akan perannya sebagai seorang khalifah dalam  mengelola alam dan lingkungan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada sang Pencipta alam raya.

Keimanan dan ketaqwaan dalam perspektif ekologis  adalah  masyarakat sadar lingkungan dengan menjaga dan memelihara lingkungan sebagai amanah Allah dengan harapan mendatangkan “ keberkahan lingkungan” dari sang Penguasa lingkungan. 

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”  (Qs Al A’raf : 96).

Namun jika yang terjadi adalah gempa tektonik seperti di Lombok NTB adalah murni kekuasaan Allah, tinggal bangsa ini bersabar menghadapi ujian sekaligus merenung, maksiat sistemik apa yang telah dilakukan di negeri ini.

[AhmadSastra, KotaHujan, 30/7/18 : 10.13 WIB]

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.