uighur bawa bendera china
Oleh: Ilham Efendi (Dir. Resist Invasion Center)
Muslim Xinjiang merupakan wilayah administrasi Cina yang terbesar, berbatasan dengan delapan negara: Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Mayoritas penduduknya adalah etnis Uighur yang beragama Islam. Bagi warga Uighur, Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki, dan mereka menganggap diri mereka secara kultural dan etnis lebih dekat dengan negaranegara di Asia Tengah ketimbang Cina.
Di bawah pemerintahan Partai Komunis, terjadi pembangunan ekonomi yang sangat gencar, namun kehidupan warga Uighur semakin sulit dalam 20-30 tahun terakhir akibat masuknya banyak warga Cina muda dan memiliki kecakapan teknis dari provinsi-provinsi di bagian timur Cina.
Operasi militer China yang senyap dan sistematis untuk membersihkan 15 juta etnis uyghur Muslim di Xinjiang. Wilayah tersebut sebetulnya adalah turkistan timur hingga Cina mulai menduduki dan menjajah area tersebut di tahun 1949. Lebih lanjut lagi, Cina tidak melakukan menghilangkan jejak kekerasan mereka di kehidupan Muslim Uyghur sebelumnya. Hal ini seperti mimpi buruk yang kembali muncul, menampilkan genosida yang dilakukan di abad sebelumnya. Memori itu sengaja dihidupkan kembali di internet dan media, hari-hari terkelam negara Komunis. Sebuah periode “revolusi kultur”, ketika orang-orang dan daerah-daerah agamis dihapuskan dari negara tersebut.
Akan tetapi, selama tahun 1970 hingga 1980, Cina se makin terbuka dan melunakkan sikapnya terhadap minoritas baik etnis maupun agama. Namun di balik itu, minoritas tetap terjepit dari sisi ekonomi, politik dan keagamaan mereka. Muslim Uyghur mencoba menyerukan kembali kemerdekaan mereka, karena memang status mereka sebagai negara berdaulat Republik Turkistan Timur, sebah negara pecahan Uni Sovyet. Meski negara tersebut hanya sesaat di tahun 1940 sebelum ada campur tangan Cina. Mengetahui hal itu, Cina yang takut akan berkembangnya gerakan separatis di perbatasan barat, mulai melakukan tindakan keras terhadap Xinjian di akhir 1990-an.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) menyebutkan konflik tersebut terjadi akibat pengekangan kebebasan agama dan budaya yang seharusnya dinikmati Uighur. Kekerasan yang dilakukan oleh Cina semakin menjadi-jadi ketika AS mendeklarasikan “perang terhadap terorisme” di tahun 2001. Cina menggunakan kesempatan itu untuk menggambarkan Muslim Uyghur sebagai bagian dari kebangkitan jihadis global, sampai-sampai mereka mengaitkan mimpi nasionalisme Uyghur dengan tujuan kelompok teror Al-Qaeda.
Diskriminasi otoritas China terhadap Muslim Uighur dalam melakukan ibadah sehari-hari terus berlangsung hingga detik ini. Apabila memasuki bulan Ramadhan, para pegawai negeri sipil, mahasiswa, dan anak-anak setempat dilarang berpuasa oleh otoritas China di Xinjiang. Kaum muslim Uighur sebagai pihak minoritas mengalami penindasan dan kezhaliman dari pemerintah China. Kezaliman itu terus berlangsung sampai hari ini, tanpa henti, dan melakukan aksi kekerasan senjata terhadap Muslim di wilayah itu.
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan sakit karena demam”. (HR. Muslim).
Jika penguasa diam, lalu bagaimana dengan aplikasi hadits Rasulullah Saw. di atas?[]

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.