Hasil gambar untuk gema pembebasan aksi

Oleh Izzuddin Faisal
(Pengamat di Nusantara Politic Watch)

Perubahan Zaman
Memang tak bisa dipungkiri bahwa zaman senantiasa berubah. Tak hanya umur yang senantiasa berganti, namun juga zaman di tiap generasi pun juga berbeda. Karena pada hakekatnya kehidupan yang ada di dunia ini senantiasa berada pada sunatullah dengan dinamika yang senantiasa berputar seperti halnya planet yang berputar mengelilingi matahari.



Kita bisa lihat di zaman sekarang ini yang bisa dikatakan gerasi milenial, bahwa yang ada sekarang benar-benar berbeda dengan apa yang ada di belas tahun yang lalu. Yang di mana baik dari sarana maupun media yang digunakan semakin berpindah dari yang manual seperti misalnya telepon yang dulu harus ke telkom dahulu jika ingin menelpon,menjadi praktis yang sekarang hanya tinggal memegang gatget dan memencet tombol untuk menelpon siapapun tanpa harus pergi ke telkom. Itu salah satu contoh bahwa memang di zaman milenial ini hal-hal yang bersifat tradisional atau jadul sudah mulai ditinggalkan.



Maka bersyukurlah bagi kaum muda yang hidup dizaman yang modern ini. namun juga patut di waspadai bahwa apa yang ada sekarang ini tak semuanya menguntungkan bagi generasi muda sekarang ini. dengan semakin berkembangnya tehnologi bisa jadi akan memberikan dampak yang negatif bagi generasi muda karena semakin bebasnya mengakses konten-konten yang ada di internet.

Perubahan Gaya Hidup
Hal yang mungkin cukup menonjol di kalangan generasi muda adalah gaya hidup. Ya gaya hidup mereka senantiasa mengikuti tren kekinian dengan melihat apa yang lagi eksis sekarang ini. mulai dari pakaian, makanan dan budaya yang ada dimasyarakat sekarang ini sudah mulai mengikuti tren yang ada. Yang dimana tren tersebut sebenarnya adalah tren dari barat. Dengan mengedepankan kebebasan dalam mengekspresikan diri membuat tren yang ada seakan memberikan kesan yang mengagumkan bagi kalangan generasi muda milenial sekarang ini.



Generasi Emas



patut diketahui bersama bahwa generasi muda itu adalah generasi yang memiliki kelebihan di berbagai segi kehidupan. Yang dimana momentum tersebut tidak akan didapatkan di momen sebelum dan sesudah momen generasi muda tersebut. Ya hanya di saat mereka merasakan generasi muda lah mereka mendapatkan suatu kenikmatan maksimal yang takkan bisa digantikan oleh waktu sesaatpun.



Maka mementum ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bisa menunjukan identitas dan eksistensi dari generasi muda sesungguhnya. Bahwa sebenarnya kaum muda yang sesuai Syari’at islam itu seperti apa nantinya. Apakah mereka dibiarkan bebas dan mengikuti tren yang dikeluarkan oleh barat, atau mereka justru membendung dan dan merubah poros baru di tren generasi muda yang ada. Itu semua ditentukan oleh cara edukasi yang benar kepada kaum muda.



Kaum muda yang ada harus bisa menjadi tinta emas preadaban bukan malah larut dan tergerus oleh zaman yang ada. Karena pada hakekatnya zaman senantiasa berubah dengan presepsi pandangan hidup dan pola pikir tertentu. Tidak serta merta muncul tanpa ada perantara sedikitpun.



Kaum Muda Menurut Islam



Dalam ajaran Islam yang mulia, generasi muda sebagai bagian dari umat Muhammad SAW memegang peranan penting bagi kehidupan. Pada zaman islam generasi terdahulu banyak generasi muda islam yang mengukir sejarah  bahkan pencapaian mereka tergolong luar biasa.
bagaiaman kita melihat  Usamah bin Zaid R.A diberi kepercayaan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menjabat sebagai panglima perang Islam.Sementara di antara pasukan masih banyak sahabat yang lebih tua dan berpengalaman. Veteran perang Badar dan Uhud juga terlibat dalam kesatuan pasukan pimpinannya. Semua itu dijalani oleh Usamah bin Zaid R.A yang masih berusia 18 tahun.



Kemudian Attab bin Usaid R.A ditunjuk oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai pelaksana tugas-tugas beliau di kota Mekkah setelah ditaklukan pada Fathu Makkah. Ketika itu Rasulullah SAW bergerak bersama seluruh pasukan menuju Hunain untuk menghancurkan kecongkakan dan kesombongan beberapa kabilah besar.Semua itu dilaksanakan oleh ‘Attab bin Usaid yang masih berusia 20 tahun lebih.Bahkan, kepimpinan ‘Attab bin Usaid terus berlanjut sampai pada kekhilafahan Abu Bakar dan Umar R.a



Dan ada juga Muhammad Al Fatih yang dengan usianya yang masih menginjkak umur 21 tahun sudah memiliki kemampuan yang luar biasa baik dari segi bahasa, strategi perang maupun kemampuan untuk memimpin kaum muslimin pada saat itu untuk menghancurkan kekuasaan konstantinopel. Bahkan predikat pemimpin terbaik didapatkan olehnya yang jauh sebelum belau lahir rasulullah sudah menucapkannya dari lisannya yang mulia dari Abdullah bin Bisyr Al Ghonawi, ia berkata: Bapakku telah menceritakan kepadaku: Saya mendengar Rasulullah 


Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.

Luar biasa sekali kiprah kaum muda yang terpapar pada deretan sejarah umat islam terdahulu. Yang kebanyakan dari mereka masih memiliki usia yang cukup belia. Dan semua itu tak secara tiba-tiba muncul dalam diri mereka. Di balik itu semua ada sebuah pola pikir dan pola sikap khas yang menjadi implementasi dasar yang membentuk kepribadian dalam diri kaum muda. Pemikiran yang cemerlang akan mengantarkan pada suatu peradaban besar dan mensejahterakan kehidupan dunia. Sebagai agama yang paripurna, Islam sangat konsen dengan pembangunan generasi berkualitas yang memiliki pemikiran yang sempurna. Islam telah menempatkan orang - orang yang memilki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi.

Sebagaimana firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al –Mujadilah[58]: 11)



Pola pikir Islami (aqliyah Islamiyah) akan terbentuk bila pemahaman terhadap suatu fakta senantiasa dikaitkan dengan pemikiran dan pandangan Islam. Sebagai contoh, pemahaman terhadap pendidikan generasi, apa dan bagaimana tujuan, metode dan kurikulum yang harus diterapkan dan bagaimana peran keluarga , masyarakat maupun negara dalam pendidikan generasi, bila didasarkan penataannya pada keimanannya terhadap aqidah Islam, maka akan terbentuk pemikiran dan pandangan tentang pendidikan generasi yg Islami.

Namun bila pemahaman dan penyelesaian persoalan pendidikan generasi didasarkan pada cara pandang (ideologi) kapitalis sekuler, maka akan terlahir sistem pendidikan generasi sekuler yang sangat berbeda dan bertentangan dengan Islam. Contoh nyatanya adalah fenomena dikotomi pendidikan generasi saat ini, dimana agama dipisahkan dari aspek - aspek kehidupan, termasuk dari teknologi dan ilmu pengetahuan.

Begitu pula dengan pola sikap Islami (nafsiyah Islamiyah), akan terbentuk bila motivasi dalam generasi didasarkan pada keimanannya kepada Islam. Yaitu pendidikan generasi yang dilakukan bertujuan untuk mengantarkan generasi kita kepada derajat ketaqwaan yang lebih tinggi dan menebar kemaslahatan bagi manusia. Tetapi apabila motivasinya didasarkan pada cara pandang kapitalis sekuler, sekalipun dia seorang muslim, akan terjebak pada dorongan untuk meraih materi dan penguasaan ilmu yang melahirkan persaingan untuk mengalahkan individu, kelompok atau bangsa yang lain. Karena dalam cara pandang kapitalis sekuler, berbicara pendidikan generasi tidak lagi karena kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu sebagaimana yang Allah SWT perintahkan, tetapi berbicara pendidikan generasi muda sama seperti berbicara tentang ekonomi, hukum, politik dan yang lainnya yang membahas tentang persoalan uang, kepentingan, dan kekuasaan. Pola pikir dan pola sikap Islami ini harus senantiasa dipupuk agar syakhsiyyah Islamiyah seseorang selalu mencapai kesempurnaan .

Faktor yang dapat menguatkan pola pikir Islam (aqliyah Islamiyah) adalah pemahaman yang utuh terhadap Islam,melalui pengkajian tsaqofah Islam (ilmu-ilmu Islam) seperti : ‘Ulumul Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, Ushul Fikih, Fikih, ‘Ulumul Hadits, Tarikh dan ilmu yang berkaitan dengan sistem ekonomi, hukum, pendidikan, sosial, dan politik Islam. Semakin kuat seseorang mengaitkan berbagai persoalan kehidupan dengan pemahaman Islam maka semakin tinggi aqliyah Islamiyahnya. Oleh karena itu, dalam setiap pendidikan generasi Islam, tsaqofah Islam menjadi pembahasan pokok dalam setiap jenjang pendidikan generasi, sehingga akan mampu mengantarkan seseorang menjadi faqih fid-Diin (mumpuni dalam pemahaman agamanya) dan memiliki Aqliyah Islamiyah yang tinggi.

Adapun faktor yang akan bisa menguatkan pola sikap Islam (nafsiyah Islamiyah) adalah pelatihan dan pembiasaan untuk memperbanyak ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Menyelaraskan perasaan dan hati untuk senantiasa terdorong melakukan aktivitas semata-mata hanya tuk meraih keridhoan Allah swt. Hal ini membutuhkan gemblengan dan kedisiplinan yang terus- menerus, keteladanan dari orang tua dan para pemimpin, serta kontrol (muhasabah) dari seluruh anggota masyarakat. Sehingga generasi yang terlahir akan memiliki kekuatan sikap (nafsiyah) yang diwarnai oleh aqidah Islam.
Wallahu a’lam bissawab

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.