Pembangunan tak berhasil menghapuskan jurang antara si kaya dan si miskin

Oleh: M. Amin (Dir. ForPURE)
Isu pengentasan kemiskinan dan turun drastisnya nilai tukar rupiah terhadap dollar menyentuh masalah wong cilik. Inflasi yang terjadi sepanjang tahun membuat jarak (ketimpangan) antara upah nominal dan upah riil semakin melebar. Ini mengindikasikan bahwa semakin hari kondisi buruh tani semakin tertekan, kesejahteraan merosot. Gambaran detail kesejahteraan sebagian besar masyarakat kita. Golongan petani nelayan dan pedagang kecil. Mereka adalah mayoritas bangsa Indonesia.
Bicara soal pengentasan kemiskinan maka akan membicarakan multisektor program pemerintah. Namun pemerintah masih menjalankan program yang selama ini masih parsial soal mengentaskan kemiskinan. Perlu sistem yang cemerlang dan leadership yang kuat untuk fokus pada politik anggaran dan merancang arah kebijakan nasional yang terukur soal pengentasan kemiskinan.
Persoalan wong cilik diperparah dengan berbagai kebijakan ekonomi masih merujuk pada neolib, tragisnya, hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi “penyakit” umum rakyat. Negara pun belum mampu membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka.
Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan antar musuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur disana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para Ulama dan aktivis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam, mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas. Menyuarakan kebenaran dituduh radikalis, intoleran, ekstrimis hingga bibit teroris. Sehingga nyatalah bahwa Indonesia belum merdeka secara non-fisik. Karena ternyata penjajah itu masih ada, yakni kekuatan asing dan aseng yang menjajah negeri ini dengan jajahan gaya baru yakni neo imperialisme uakni memanfaatkan kaki tangannya para komprador sebagai penghianat bangsa yang telah menjual berbagai macam aset negera.
Karena itu, kunci agar kita benar-benar bangkit dari penjajahan non-fisik yang menimpa bumi pertiwi adalah dengan bersatu mewujudkan kemerdekaan yang hakiki dengan melepaskan diri dari : (1) Sistem Kapitalisme-Sekuler dalam segala bidang; (2) para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis.
Maka dari itu, pentingnya semua elemen umat ini mulai dari Ulama, intelektual, pengusaha, pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar untuk bersatu dalam rangka mewujudkan kesejahteraan yang hakiki di bumi pertiwi. Kita harus bahu membahu khususnya peran para pemuda dan mahasiswa untuk melanjutkan estafet perjuangan para leluhur yang telah mengusir penjajah secara fisik, bukan malah melanjutkan estafet penjajahan.[]

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.