Image result for nusantara

Oleh : Ustadz Agus Trisa

Islam Nusantara kembali dibicarakan. Prof. Mahfud MD membuat pernyataan kontroversial. Beliau menyatakan bahwa dakwah kita bukan mengislamkan Indonesia, tetapi mengindonesiakan Islam. Pernyataan ini jelas sekali lahir dari konsep Islam Nusantara yang beberapa tahun lalu sempat muncul.
Konsep Islam Nusantara ini, agar bisa diterima masyarakat Indonesia, banyak mengklaim diri sebagai pewaris dakwah Wali Songo. Padahal, entah disadari atau tidak, kenyataannya Islam Nusantara justru menumbuhsuburkan tata nilai dari Barat seperti sekulerisme, inklusivisme, pluralisme, sinkretisme, gender, dan lain-lain. Karena itu, bisa dikatakan pelekatan istilah ‘islam’ tersebut hanyalah kedok agar bisa diterima untuk menumbuhsuburkan berbagai tata nilai Barat tadi, yang notabene adalah produk dari ideologi transnasional yang dibawa oleh mereka yang terdidik oleh Barat.
Definisi Islam Nusantara
Apa itu Islam Nusantara? Sekedar mengingatkan saja, Prof. Azyumardi Azra mendefinisikan Islam Nusantara sebagai ‘Islam’ yang distingtif (berbeda) sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, dan indigenisasi Islam dengan tradisi atau budaya lokal Indonesia. Sedangkan KH. Said Aqil Siraj menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah gabungan nilai keislaman dan tradisi atau budaya lokal.
Dilihat dari definisi di atas, jelas sekali bahwa Islam Nusantara memang tidak ingin mengambil ajaran Islam secara apa adanya. Sebab, ajaran Islam akan diambil setelah disesuaikan dengan realitas yang ada di Indonesia. Ajaran Islam yang dinilai ‘tidak sesuai’ dengan Indonesia, maka harus dihilangkan. Intinya, tradisi atau budaya Indonesia ini adalah filter atau penyaring bagi ajaran agama Islam, apakah akan diterima ataukah ditolak. Dengan melihat realitas seperti ini saja, sudah terlihat betapa jahatnya konsep Islam Nusantara terhadap Islam itu sendiri.
Kembali pada pernyataan Prof. Mahfud MD, jelas sekali pernyataan tersebut sama saja dengan melecehkan Islam. Islam diambil, diterima, setelah diseleksi terlebih dahulu. Kalau perlu, pemahaman Islam diubah, diedit agar sesuai dengan tradisi lokal Indonesia. Pernyataan ‘dakwah kita mengindonesiakan Islam’ inilah buktinya. Pernyataan tersebut, sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, yaitu dakwah.
Realitas Dakwah
Dakwah memiliki arti seruan atau ajakan kepada Islam. Jika objeknya adalah orang kafir, maka dakwah ini adalah dakwah yang mengajak untuk masuk ke dalam agama Islam (da’wah ilal islam). Sedangkan jika objeknya adalah sesama orang Islam, maka dakwah ini adalah dakwah dalam rangka menjalani kehidupan Islam (da’wah ila hayatil islamiyah) agar setiap muslim menjadikan ajaran Islam sebagai petunjuk hidup atau pandangan hidup. Sama sekali tidak ada ajaran Islam yang diedit, tidak ada ajaran agama Islam yang disesuai-sesuaikan.
Adapun jika ada fakta atau realitas yang menjadikan ajaran Islam sulit diterapkan atau diwujudkan, maka pilihannya dua : 1) mengubah realitas agar sesuai dengan ajaran Islam, atau 2) mengubah, mengedit, menafsir-nafsirkan, dan menundukkan ajaran Islam agar sesuai dengan realitas. Inilah pilihannya. Tentu pilihan kedua adalah pilihan yang keliru, menyimpang. Justru ajaran Islam diturunkan untuk mengubah realitas, dari yang semula tidak Islami menjadi Islami. Untuk itulah ada dakwah. Inilah realitas dakwah.
Rasulullah saw. bersabda:
من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان
“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).
Jadi, dakwah itu perbuatan menyengaja untuk menyeru, mengajak, mengubah realitas yang semula tidak Islami menjadi perkara yang Islami. Sebab, perkara makruf atau mungkar dalam dakwah, itu standarnya jelas Islam, bukan selain Islam. Jika Islam Nusantara mengklaim sebagai pewaris Wali Songo, justru itu bertentangan dengan dakwah Wali Songo sendiri yang melakukan Islamisasi di bumi Nusantara.
Maka, perbuatan mengubah, mengedit, atau menyesuaikan ajaran Islam atau menafsir-nafsirkan ajaran Islam dengan suatu realitas seperti yang dipahami dari konsep Islam Nusantara, jelas itu perbuatan menyimpang dari Islam. Bahkan perbuatan tersebut secara nyata jelas mencederai ajaran Islam.
Wallahu a’lam

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.