Dakwah Jateng – Kamis, 26 Juli 2018, komunitas pemuda yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 Divisi Pemuda Dan Mahasiswa Wilayah Jawa Tengah mengunjungi DPRD Jawa Tengah untuk audiensi dan pengaduan. Audiensi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut dihadiri oleh sekitar 25 orang perwakilan dari Semarang, Solo dan Purworejo.

PA 212 divisi pemuda dan mahasiswa mengadukan Menristekdikti atas kebijakan yang represif dan membuat tidak nyaman dunia kampus. Aspirasi disampaikan oleh 5 (4 ikhwan dan 1 akhwat) perwakilan dari PA 212 divisi pemuda dan mahasiswa.



Septian, selaku Koordinator PA 212 divisi pemuda Jawa Tengah menyatakan, bahwa Pemerintah sebelumnya memunculkan framing bahaya terorisme, sekarang ditambah framing radikalisme dengan batasan yang tidak jelas. Ada tafsir tunggal terkait radikalisme yang cenderung kembali mengarah ke komponen umat Islam di dunia kampus, baik tokoh dosen, mahasiswa, ataupun lembaga keislaman di kampus. Dan menduga yang disebut terpapar radikalisme adalah orang atau lembaga yang sepakat, mendukung dan mendakwahkan ide Islam, yaitu Khilafah dan yang ada hubungannya dengan HTI. Harusnya kampus tempat mendiskusikan berbagai ide dan memproduksi pemikir dan intelektual.

Ibnu salah satu peserta audiensi dari solo menambahkan, pemerintah harus menegakkan keadilan akademik di lingkungan kampus. Ada beberapa ide mulai dari yang kiri mentok sampai kanan mepet didiskusikan dan diajarkan di kampus, misalnya ide tentang pemerintahan dari karl marx.



Audiensi tersebut berjalan lancar dan diapresiasi oleh perwakilan DPRD Jawa Tengah. Acara ditutup oleh Koordinator PA 212 divisi pemuda dengan membacakan pernyataan sikap yang juga termasuk aspirasi dan pengaduan. Setelah itu dilanjutkan dengan foto perwakilan PA 212 divisi pemuda Bersama perwakilan DPRD Jawa Tengah. [S/A]

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.