Hasil gambar untuk menasehati penguasa zalim

Oleh : KH. Rokhmat S Labib.
Dalam menghadapi kezaliman dan orang-orang zalim, Islam memiliki sikap tegas. Yakni, wajib berlepas diri darinya. Bahkan, tidak boleh ada kecenderungan dan kecondongan terhadap orang-orang yang berbuat dzalim sedikit pun.
Allah Swt berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113)
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan (QS Hud [11]: 113).

Kata الَّذِينَ ظَلَمُوا, menurut al-Alusi adalah orang-orang yang di dalamnya dirinya terdapat kezhaliman. Secara bahasa, al-zhulm berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam perkembangan berikutnya, kata al-zhulm digunakan untuk menunjukkan setiap perbuatan yang menyimpang dari ketetapan dînuL-lâh.
Ada beberapa yang disebutkan secara jelas dalam al-Quran sebagai kezaliman. Di antaranya adalah syirik, sebagaimana firman-Nya: 
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman [31]: 13).

Orang yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah Swt disebut sebagai orang zalim, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS al-Maidah [5]: 45).

Semua orang yang melanggar hukum Allah Swt juga dinyatakan sebagai orang zalim. Allah Swt berfirman:
وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ 
Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri (QS al-Syura [42]: 42).

Dalam ayat ini ditegaskan, kaum Mukmin bukan saja dilarang melakukan perbuatan dzalim atau menjadi menjadi orang zalim. Bahkan, merasa ridha dan cenderung terhadap orang yang berbuat zalim pun sudah dilarang.
Imam al-Qurthubi mengutip beberapa penjelasan para ulama tentang makna ayat ini. Qatadah berkata, “Janganlah kalian mencintai dan mentaati mereka!” Ibnu Juarij berkata, “Janganlah kalian cenderung kepada mereka!” Abu Aliyah berkata, “Janganlah kalian ridha terhadap amal-amal mereka!”
Menurut al-Qurthubi, semua penafsiran tersebut berdekatan. 
Dikatakan juga oleh Abdurrahman al-Sa’di bahwa yang dimaksud dengan al-rukûn di sini adalah al-mayl (cenderung) dan bergabung dengan kezaliman, , “Jika kamu cenderung kepada mereka, menyetujui dan rela terhadap kezaliman mereka.”

Menurut al-Zamakhsyari, الركون adalah الميل اليسير (kecenderungan ringan). Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.
Ungkapan al-ladzîna zhalamû kian mengukuhkan ketentuan tersebut. Sebab, ungkapan al-ladzîna zhalamû lebih ringan daripada al-zhâlimîn. Sehingga, jika kepada orang yang berbuat zalim saja sudah dilarang cenderung kepadanya, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah terkategori zalim.
Dikatakan oleh Abdurrahman al-Sa’di, Jika ayat ini terdapat ancaman keras bagi yang cenderung kepada orang-orang zalim, maka bagaimana keadaan para pelaku kedzaliman itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezaliman.
Al-Zamakhsyari memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cenderung kepada pelaku perbuatan zalim. Di antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, menghabiskan waktunya bersama mereka, bersahabat dengan mereka, duduk bersama mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, mengenakan pakaian mereka, dan menyebut mereka dengan penuh penghormatan.
Menurut al-Qurthubi larangan ini juga sejalan dengan firman Allah Swt: 
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu] (QS al-An’am [6]: 68)

Perbuatan zalim itu yang tidak boleh diridhai itu berlaku bukan hanya terhadap kaum Musyrik, namun berlaku umum. Demikian penegasan al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr. Termasuk pula di dalamnya terhadap tindakan dan perilaku zalim penguasa. Rasulullah saw juga menegaskan larangan bersikap ridha terhadap penguasa yang berperilaku zalim.
Rasulullah saw bersabda: 
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Akan muncul para pemimpin, (tindakan mereka) ada yang kalian anggap baik dan ada yang kalian anggap salah. Siapa saja yang menolak tindakan salah mereka, maka dia bebas dari dosa. Siapa saja yang ingkar, dia juga selamat (dari dosa). Tetapi siapa saja yang merasa ridha, bahkan mengikuti (perbuatan yang salah itu), maka dia telah berdosa. Para sahabat bertanya, “Tidakkah lebih baik mereka itu kita perangi saja, wahai Rasulullah saw? Nabi menjawab, “Tidak selama mereka mengerjakan shalat.” (HR Muslim dari Auf bi Malik).

Larangan cenderung kepada pelaku kezaliman itu sampai batas haram. Sebab, orang yang mengerjakannya diancam dengan sanksi yang amat berat, neraka. Allah Swt berfirman: 
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ 
Menyebabkan kamu disentuh api neraka

Tak hanya itu, mereka diancam tidak akan mendapat penolong. Allah Swt berfirman: 
وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan

Walhasil, seorang Mukmin memang harus membersihkan dirinya dari segala kezaliman, hingga tak tersisa kecenderungan terhadap pelaku kezaliman. 
Termasuk kepada penguasa yang terus-menerus menzalimi rakyatnya. Terlebih para penguasa saat ini.

Kezaliman yang mereka sudah sangat jelas. Sebab mereka tidak menegakkan shalat (hukum Islam) dalam kehidupan sebagaimana disebutkan dalam Hadits di atas. Mereka juga sudah berani menampakkan kufran bawâhan (kekufuran yang nyata) karena hukum yang mereka terapkan adalah hukum kufur. Lebih dari itu, mereka pun memusuhi Islam beserta syariahnya untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara.
Terhadap penguasa demikian, kita dilarang untuk ridha dan cenderung kepada mereka. Rasulullah saw bersabda:
سيكون بعدي أمراء فمن دخل عليهم وصدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه وليس يرد علي الحوض
Akan ada sepeninggal aku nanti para pemimpin. Siapa saja yang menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka dia bukan bagian dariku; aku pun bukan bagian dari dirinya dan dia tidak akan menemuiku di telaga surga (HR at-Tirmidzi).

Semoga kita tetap istiqamah dalam menjalankan dan memperjuangkan Islam serta tidak condong terhadap orang-orang zalim. WaLlâh a’lam bi al-shawâb.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.