Dakwah Jateng-, Semarang, Selasa (21/08/2018) masyarakat semarang yang tergabung dalam Majelis Cinta Rasul melaksanakan sholat idhul Adha.

Sholat yang dimulai pada pukul 06.45 WIB pagi bertempat di Lapangan SMK Robbi Rodliyya  Genuk, Kota Semarang dengan imam Sholat adalah Ust Wasroi dan khotib Ust Faqihuddin Habibullah, M.Si.


Khotib menjelaskan dalam khutbahnya tentang Pentingnya Melaksanakan Nasihat Nabi SAW . 

"Hari ini kaum Muslim dari seluruh dunia bersiap-siap menunaikan ibadah haji. Mereka akan berkumpul di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, dalam keadaan sama. Tak ada baju kebesaran. Tak ada pangkat dan jabatan, apatah lagi harta kekayaan. Mereka hanya ditemani dua lembar baju ihram yang lusuh dan tak seberapa harganya. Bersimpuh di tengah padang yang tandus, demi mengharap ampunan dan ridha Allah SWT.

Di Padang Arafah dulu Baginda Nabi SAW menyampaikan pesan yang luar biasa kepada kita kaum Muslim, saat beliau menunaikan haji yang terakhir atau dikenal sebagai Haji Wada’. Di hadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji, beliau menyampaikan khutbah hajinya:

Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan... Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian...

Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain...

Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung... (HR al-Bukhari dan Muslim).

Beliau pun bersabda:

Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pula keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih. Kecuali karena ketakwaannya... (HR Ahmad).

Beliau juga bersabda:

Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini...Riba jahiliah pun telah dilenyapkan...

Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya... (HR Ibnu Khuzaimah).

Apa yang bisa kita petik dari nasihat baginda Nabi SAW tersebut? Pertama, kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul atas bangsa dan umat lain. Tak selayaknya bangsa Arab merasa lebih unggul atas bangsa non-Arab. Tak sepatutnya bangsa non-Arab, termasuk kita di Nusantara ini, merasa lebih unggul atas bangsa Arab. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Takwa tentu harus dibuktikan dengan ketaatan total atas seluruh perintah dan larangan-Nya, dengan menjalankan semua syariah-Nya.

Kedua, kita diperintahkan oleh beliau untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Tak boleh saling menumpahkan darah. Haram saling merampas harta. Terlarang saling menodai kehormatan sesama. Inilah wujud ukhuwah yang hakiki.

Ketiga, kita diperintahkan oleh beliau agar meninggalkan semua tradisi jahiliyah. Satu di antaranya riba dalam segala bentuknya. Bukan malah dilembagakan sebagai pilar utama ekonomi.

Keempat, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan. Sayang, hari ini tali persaudaraan seolah hilang. Antar kelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Hanya gara-gara berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Tak ada lagi ruh berjamaah. Tak ada lagi rasa kebersamaan. Mereka seolah lupa, kaum Muslim itu bersaudara. Mereka harusnya saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Kelima, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Sebab, kata Baginda Nabi SAW, agama adalah nasihat. Di antara nasihat yang paling utama adalah yang ditujukan kepada penguasa agar tidak terus dalam kesesatan dan penyimpangan. Agar penguasa tidak terus melakukan kezaliman. Dan, kezaliman terbesar penguasa adalah tidak menerapkan al-Quran, tidak menerapkan syariah Islam. Itulah yang Allah SWT tegaskan: 
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al-Quran), mereka itulah kaum zalim (QS al-Maidah [5]: 45).

Yang keenam, kita diwajibkan oleh beliau untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Baginda Nabi SAW telah menjamin, siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya. Sayang, apa yang dipesankan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan, kecuali sebatas bacaan. Isinya kita abaikan. Hukum-hukumnya kita campakkan. Pantas, saat ini, bangsa ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Lalu sampai kapan al-Quran dan as-Sunnah akan terus kita abaikan?  

Lalu apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai umat Nabi SAW, tapi kita mengabaikan nasihatnya? Apakah layak kita mengharap syafaatnya namun kita lupakan tuntunannya?


Semoga Allah mengampuni kita dan menjadikan kita sebagai pengikut Nabi yang setia. Aamiin."


Acara berlangsung dengan khidmad dan dalam pelaksanaan sholat ini terkumpul uang sebagai kepedulian masyarakat terhadap gempa Lombok



Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.