Hasil gambar untuk mata uang rupiah anjlok

Tentang Revolusi Sistem Mata Uang

Oleh: M. Firdaus - Direktur FORKEI

Nilai tukar Rupiah hingga Juni 2018 di bawah kepemimpinan Joko Widodo terendah sepanjang sejarah di RI. Nilai tukar Rupiah kini di atas 14.500. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (13/8) sore bergerak melemah sebesar 124 poin menjadi Rp 14.610. Sebelumnya, rupiah ditransaksikan di level Rp 14.486 per dolar AS. Sentimen eksternal mengenai krisis keuangan di Turki oleh pengamat berdampak negatif bagi rupiah. Melemahnya nilai tukar rupiah, berimbas aliran modal asing yang keluar dapat semakin tinggi.

Dampak berikutnya adalah melemahnya daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal. Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik ujungnya harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan, maka pengaruh ke profit ke pengusaha juga dapat semakin rendah.

Tak hanya itu beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar. Risiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging) akan naik. Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Tercatat impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari, karena produksi dalam negeri tak mencukupi konsumsi BBM. Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan. Kondisi ini akan membuat para pelaku usaha bingung karena membeli bahan dengan mata uang dolar, tetapi dalam penjualannya menggunakan mata uang rupiah.

Pelemahan nilai tukar ini berpotensi akan menambah jumlah kemiskinan dan pengangguran. Karena harga barang mengalami kenaikan, sementara penghasilan tetap atau bahkan berkurang. Ditambah lagi adanya pemutusan hubungan kerja (PHK). Alhasil angka kriminalitas dan permasalahan sosial lainnya akan meningkat.

Kondisi ini bertahan di saat pembangunan yang tengah gencar dilakukan oleh pemerintah dengan biaya utang dipertanyakan keamanannya. Selain itu, respon masyarakat pun dipertanyakan terkait realisasi pembangunan itu dengan utang-utang. Uang APBN 2.300 triliun per tahun. Terus ada proyek-proyek pakai uang utang, pakai uang insvestor asing atau swasta. Diresmikan oleh Kepala Negara. Sebenarnya pembangunan itu layak dibanggakan atau malah membahayakan?

Pemberlakuan fiat currency ini membuat resah para pelaku ekonomi. Karena ia membuat mata uang dunia menjadi tidak stabil, fluktuasi nilai tukar menjadi sulit diprediksi bahkan kadangkala bergerak secara ekstrim. Ditambah dengan inflasi yang terus membumbung akibat percetakan mata uang kian tak terkendali.

Dunia termasuk Indonesia, membutuhkan sistem moneter yang jauh lebih stabil, yaitu mata uang emas yang jejak rekamnya telah teruji di dunia moneter internasional selama ratusan tahun. Ia merupakan standar moneter paling layak diperhitungkan. Dengan menerapkan mata uang emas, pemerintah suatu negara tidak dapat menambah pasokan uang dengan bebas. Uang hanya bertambah ketika bertambah pula cadangan emas negara. Sehingga inflasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan uang sebagaimana pada sistem mata uang kertas (fiat money) tidak terjadi.

Nilai tukar antar negara pun relatif stabil karena mata uang masing-masing negara disandarkan pada emas yang nilainya stabil. Jadi, sejatinya mata uang di dunia adalah emas dan perak walaupun mata uang yang beredar di berbagai negara bisa bermacam-macam. Hal ini membuat kelancaran dan kestabilan transaksi perdagangan. Eksportir tidak perlu khawair nilai ekspor akan terganggu akibat nilai tukar yang tidak stabil. Nilai hutang luar negeri pun akan relatif stabil, baik dalam jangka panjang atau pendek.

Emas (dan juga perak) adalah komoditi yang dalam pengadaannya membutuhkan ongkos eksplorasi dan produksi. Emas (dan perak) dapat diperjualbelikan jika ia tidak digunakan sebagai uang. Dengan kata lain, emas dan perak mempunyai nilai intrinsik, tidak seperti uang kertas sekarang.

Sistem mata uang emas dan perak memiliki keunggulan yang prima, yaitu berapapun kuantitasnya dalam suatu negara, banyak atau sedikit maka ia tetap akan mampu mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang. Jika jumlah uang tetap, sementara barang dan jasa bertambah, uang yang ada akan mampu membeli barang dan jasa secara maksimal. Jika jumlah uang tetap, sedangkan barang dan jasa berkurang, uang yang ada hanya mengalami penurunan daya beli. Walhasil, berapa pun jumlah uang yang ada,tetap cukup untuk membeli barang dan jasa di pasar, baik jumlah uang itu sedikit atau banyak.

Sistem mata uang emas dan perak pun mampu membuat negara memelihara kekayaan emas dan peraknya. Tidak akan terjadi pelarian emas dan perak dari suatu negeri ke negeri lainnya. Negara tidak memerlukan alat kontrol untuk menjaga (cadangan) emas dan peraknya, karena kedua jenis uang itu (emas dan perak) tidak akan berpindah kecuali untuk pembayaran (harga) barang atau upah para pekerja.

Itulah sekilas keunggulan mata uang emas. Namun, keunggulan ini tidak ada gunanya jika hanya menjadi wacana kosong di negeri-negeri dunia Islam yang masih rela tunduk pada hegemoni Barat pimpinan AS. Saatnya kita sadar bahwa perekonomian Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dengan menerapkan sistem moneter berbasiskan emas.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.