Oleh : Ahmad Sastra
Forum Doktor Islam Indonesia

Beberapa hari yang lalu, saat saya melintasi jalan di daerah Bogor, saya dapati dua kelompok anak remaja dengan kibaran merah putih membawa kardus sumbangan dari para pengendara. Saya baca tulisan dalam kardus itu bertuliskan, sumbangan dana untuk peringatan HUT RI ke 73.  Kardus kelompok pemuda yang kedua adalah sumbangan bagi anak yatim. Hati saya sedih dan membatin, nampaknya negeri ini belum benar-benar merdeka’. 

Meski teriakan merdeka selalu menggema dalam apel HUT RI, meski rezim dan kepemimpinan negeri ini terus berganti. Namun sesungguhnya negeri ini belum merdeka. Indonesia masih dalam kubangan berbagai belenggu. Kata merdeka berarti terlepas dari segala bentuk intervensi lahir dan batin. Intervensi yang membelenggu seseorang atau bangsa yang membuat bangsa itu harus tunduk dan teraniaya disebuat sebagai penjajah atau kolonial.

Kolonialisme bisa berwujud fisik maupun non fisik. Penjajah fisik telah sirna dari bangsa ini, namun penjajahan non fisik (neokolonialisme) justru semakin mencengkeram negeri ini. Neokolonialisme yang berarti intervensi penjajah terhadap kemerdekaan ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan keamanan justru lebih berbahaya dibanding penjajahan fisik. Neokolonialisme inilah yang sering disebut sebagai proxy war. 

Dalam fakta perang, memang ada perang fisik dan nonfisik. Perang nonfisik sering disebut dengan istilah perang pemikiran (ghozwul fikr). Dalam sejarah panjang perkembangan politik dunia, maka yang sesungguhnya terjadi adalah perang tiga ideologi besar dunia. Ketiga ideologi yang senantiasa terjadi benturan adalah ideologi Islam, kapitalisme dan komunisme. Dalam pandangan penulis yang dimaksud proxy war adalah perang ideologi.

Ideologi kapitalisme selalu melakukan apa yang disebut dengan imperialisme yakni melakukan hegemoni terhadap negara lain dengan tujuan menguasai seluruh sektor-sektor ekonomi dengan berbagai instrumen seperti hutang luar negeri, investasi dan privatisasi. Sementara dalam Islam, privatisasi sektor publik milik umat hukumnya haram.

Secara de facto dalam perspektif proxy war, Indonesia belum layak dikatakan sebagai bangsa yang merdeka lahir batin. Bangsa ini justru tengah berada dalam kubangan penjahahan gaya baru yang semakin membuat rakyat Indonesia sengsara. Ketika angka pengangguran semakin meningkat tajam, ketika hutang semakin menggunung dan ketika bangsa ini terus diintervensi asing dalam setiap kebijakan, maka sesungguhnya Indonesia belum layak teriak merdeka, karena negeri ini justru sedang dijajah. 

Memang benar, negeri ini diberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk bisa memilih pemimpinnya sendiri. Namun faktanya, pemilu di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari intervensi asing. Tidak ada pemilu yang terlepas dari intervensi asing, langsung maupun tidak langsung. Inilah adalah bentuk dari penjajahan bidang politik. Hasilnya adalah para pemimpin yang lebih pro kapitalis asing dari pada pro kepada kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Di bidang hukum, Indonesia merupakan negara yang belum merdeka menentukan hukumnya sendiri. Selain hukum-hukum produk kolonial yang masih dipakai, produk hukum yang dirumuskan DPR juga sarat dengan intervensi kapitalis asing seperti IMF, UNDP dan USAID. Undang-undang strategis seperti UU migas, listrik, penanaman modal  dipastikan ada intervensi asing di dalamnya.

Dalam perspektif ini, bangsa ini jauh dari kata merdeka. Itulah mengapa, setiap produk hukum yang ditelurkan oleh DPR justru seringkali merugikan rakyatnya sendiri. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah adalah bukti nyata bahwa produk perundang-undangan di negeri ini masih dalam cengkeraman intervensi asing dan tentu menguntungkan asing. Contoh nyata adalah kebijakan privatisasi aset rakyat yang justru menyalahi UUD 45.

Di bidang  ilmu dan teknologi, Indonesia bahkan belum bisa menciptakan produk-produk teknologi bagi rakyatnya sendiri. Kebanyakan rakyat Indonesia masih menggunakan teknologi asing. Merdeka dalam IPTEK berarti negara mampu menciptakan teknologi untuk kebutuhan rakyatnya sendiri. Derajat merdeka  bidang IPTEK  bangsa ini sangat rendah, meski masih sedirkit diatas Arab Saudi dan Brunai Darussalam yang seluruh teknologinya diimpor dari luar negeri.

Bangsa ini harus mengakui bahwa masih  terjajah oleh teknologi asing, karena masih sangat tergantung kepada asing. Akibatnya asing masih mudah mempermainkan bangsa ini melalui teknologi yang mereka buat. Sebagai contoh melalui teknologi asing, google menghapus peta Palestina dari peta dunia. Jangan-jangan peta negeri ini juga akan dihapus.

Di bidang  ekonomi, Indonesia masih dalam kategori terjajah.  Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan negeri ini telah memporak-porandakan kekayaan SDA bangsa ini dan beralih kepada perusahaan-perusahaan asing. Sementara rakyat Indonesia semakin miskin dan kehilangan lapangan kerja. Hutang negara yang terus menggunung menambah nestapa bangsa besar ini.

Jika para pahlawan bangsa ini masih hidup, mungkin mereka akan menangis melihat Indonesia dalam ancaman kehancuran dan kemunduran. Sistem ekonomi bangsa ini sangat rentan, karena terlalu mudah dipengaruhi oleh gonjang-ganjing ekonomi dunia, baik sengaja maupun tidak. Sektor-sektor ekonomi strategis bangsa ini justru kini dikuasai oleh asing.

Ujung dari semua ini adalah tidak adanya kemerdekaan secara ideologis. Meski negeri ini mengaku berideologi Pancasila, namun faktanya Pancasila tak mampu membendung derasnya serangan ideologi kapitalisme dan komunisme dengan segala aspek peradabannya. Arus budaya Barat yang bertentangan dengan Pancasilapun begitu bebas masuk ke Indonesia. Budaya asing yang tak lagi mengindahkan adab dan etika telah menjalar ke hampir seluruh sendi kehidupan bangsa ini. Etika dan keadaban tak lagi menjadi sesuatu yang penting. Sebaliknya liberalisme gaya hidup telah menjadi tren bangsa ini.

Padahal dari Ideologi yang kuat akan mendorong sebuah negara untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, peradabannya, sosial budayanya, bahkan bisa mempengaruhi negara lain. Negara dengan ideologi yang kuat akan menjadi negara super power. Dengan ideologi kapitalismenya, kini Amerika menjadi negara super power, sementara negeri ini hanya menjadi pihak yang terjajah oleh ideologi negara lain. Dahulu Uni Soviet juga pernah menjadi negara super power dengan ideologi komunismenya.

Namun demikian dalam perspektif Islam merdeka yang sesungguhnya adalah justru ketika terlepas dari seluruh ideologi manusia dan hanya terikat dengan aturan dan sistem Allah semata.  Merdeka sejati adalah ketika sebuah negara beserta rakyatnya hanya menghamba kepada Allah Sang Pencipta manusia dan alam semesta, terlepas sepenuhnya kepada penghambaan kepada manusia melalui sistem apapun, baik kapitalisme maupun komunisme.

Sebab misi kemerdekaan dalam pandangan Islam adalah pembebasan  segala bentuk penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah sang pencipta. Misi kemerdekaan dalam Islam adalah misi tauhid yang juga merupakan misi seluruh nabi dari Adam hingga Rasululah.

Itulah sebabnya, mengapa para pejuang kemerdekaan bangsa ini adalah pada ulama yang memekikkan suara takbir dengan semangat jihad fi sabilillah. Para pejuang ulama seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nya Dien, KH Agus Salim, HAMKA dan M. Natsir adalah mereka yang meletakkan hakekat kemerdekaan yang sejati. Sebab hakekat penjajahan adalah penghambaan atau perbudakan. Merdeka berarti terlepasnya segala perbudakan kepada ideologi manusia.

Allah berfirman : Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (QS An Nahl : 36). Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (QS Al Anbiya : 25). Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz Dzariyat : 56) . Hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan (QS Al Fatihah :5)

Inilah tugas generasi penerus kemerdekaan yang telah diraih oleh para pendahulu. Bangsa ini harus secara serius memahami dan berbuat benar dan terbaik. Miliki aqidah yang kokoh, akhlak yang mulia, ilmu yang mendalam, mental yang kuat, visi yang jelas dan tentu saja jiwa kepemimpinan dan kemandirian jika bangsa ini menginginkan kemerdekaan sepenuhnya.

Sebab hanya bangsa yang beriman dan bertaqwalah yang akan mendapatkan keberkahan hidup dari Allah. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, (QS Al A’raf : 96).

Model perjuangan kemerdekaan dalam Islam adalah apa yang dilakukan Rasulullah ketika di Mekkah hingga hijrah ke Madinah. Meski beliau ditawari harta, tahta dan wanita oleh kaum kafir Quraisy, namun tidak boleh mengubah sistem jahiliyah, maka dengan tegas Rasulullah menolak. Bahkan meskipun mereka mampu meletakkan matahari dan bulan di tangan, Rasulullah memilih lebih baik mati dalam jalan dakwah dan perjuangan atau Islam tegak mencapai kemenangan.

Fakus dakwah dan perjuangan kemerdekaan Rasulullah  bukan kepada pergantian kepemimpinan dan rezim, namun pergantian sistem. Rasulullah tidak mau masuk sistem jahiliyah, meski diberikan kesempatan. Rasulullah terus memilih dakwah penyadaran umat untuk mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islami. Maka, tegaklah daulah Islam di Madinah yang merdeka dan terlepas dari intervensi sistem jahiliyah.

Karena itu meski telah gonta ganti rezim, namun jika masih berideologi demokrasi kapitalis sekuler, maka negeri ini tidak akan pernah merdeka sampai kapanpun. Buang kapitalisme dan komunisme, ganti dengan sistem Islam, itu baru merdeka namanya. Kalau bukan Rasulullah yang jadi teladan, lantas siapa ?.

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.