Hasil gambar untuk minoritas muslim Uighur

Oleh: Ahmad Rizal - Dir. Indonesia Justice Monitor (IJM)

Kejam, itu kata terucap saat kita mendapat kabar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam bidang Hak Asasi Manusia (HAM) mendapat laporan akan adanya penyanderaan yang dilakukan pemerintah Komunis Cina terhadap minoritas muslim Uighur. Panel HAM PBB mengaku mendapatkan sejumlah laporan kredibel di mana etnis minoritas itu disekap dalam fasilitas rahasia. Laporan tersebut mengatakan sekitar 2 juta etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya ditempatkan di kawasan barat daerah otonomi Xinjiang. Mereka ditahan di sebuah kamp politik guna menjalani proses cuci otak atau indoktrinasi.

Pemerintah China juga menerapkan kebijakan Srtike Hard yaitu memperketat pengendalian terhadap kegiatan agama, membatasi pergerakan orang, dan menahan orang yang dicurigai mendukung gerakan separatis, pada tahun 1996. Terutama terhadap Muslim Uighur. Pada bulan Juli 2009, konflik kekerasan besar terjadi dengan melibatkan antara warga suku Uighur dengan suku Han di Urumqi, ibukota Xinjiang. Penyebabnya karena suku Uighur menolak pelarangan-pelarangan dari pemerintah Cina di Xinjiang dan adanya perbedaan perlakuan terhadap suku Uighur dan suku Han. Akibat peristiwa ini, 197 orang tewas, 1700 orang terluka, dan 1434 Muslim Uighur diculik serta dihukum oleh pemerintah China.

Kesewenang-wenangan Pemerintah China kepada rakyat Muslim Uighur. Di mana memberlakukan tidak adil semakin ditampakkan oleh pemerintah China ketika Beijing melarang Muslim Uighur berpuasa. Bahkan, melarang melaksanakan shalat tarawih.

LSM HAM menuduh pihak berwenang Cina bersikap represif karena berusaha memberangus jutaan (genosida) etnis Han di wilayah itu dengan tujuan akhir melenyapkan identitas dan budaya. Pemerintah Komunis Cina ingin menjadikan Xinjiang sebagai pusat strategi keamanan energi nasional. Wilayah Otonomi Uihgur Xinjiang, mayoritas beragama Islam, memiliki kekayaan alam luar biasa mulai dari minyak, gas dan batu bara.

Kabinet Cina menerbitkan dokumen berjudul "Proposals of the State Council on Promoting Econimic and Social Development in Xinjiang" yang secara jelas mengungkapkan bahwa 2020, Xinjiang akan menjadi basis pengolahan dan produksi migas terbesar di Cina.

Cadangan Minyak dan Gas :

- Wilayah Xinjiang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak Cina

- Cadangan minyak mencapai antara 20-40 miliar ton minyak mentah

- Cadangan gas sedikitnya 12,4 Triliun kaki kubik

- China National Petroleum Corp, perusahaan minyak milik negara terbesar, memiliki hak monopoli pengelolaan dan eksplorasi di Xinjiang.

- Penemuan minyak yang besar di cekungan Sungai Tarim dan Gurun Taklamakan telah menarik perhatian global

- Cina membangun pipa sepanjang 2.600 mil yang mengaliri migas ke sebagian besar kota besar seperti Shanghai hingga ke Beijing.

Penghasilan :

1. 75 persen pajak dari Xinjiang masuk ke pemerintah pusat, padahal wilayah itu daerah ekonomi

2. Ekonomi Cina sangat tergantung migas dan salah satu pemain utama global dalam perang energi dengan AS, Rusia, dan Uni Eropa

3. Cina rata-rata menghabiskan 65 miliar dollar AS per tahun untuk impor energi yang kebanyakan dari Arab Saudi dan Iran

4. Pada 2008, Xinjiang menghasilkan 27,4 juta ton minyak mentah, atau melebihi produksi ladang-ladang minyak Shandong

5. Pada 2009, Xinjiang diharapkan mampu memproduksi minyak hingga 28 juta ton

6. Pertumbuhan GDP Xinjiang mencapai 10% per tahun

7. Tiap tahun 500 ribu turis asing masuk

8. Lebih dari 13 juta pelancong domestik juga datang

9. Memperoleh pendapatan dari pariwisata rata-rata 1,5 miliar dolar AS

Dari data di atas rakyat Xinjiang yang sebelumnya mayoritas muslim mengalami eksploitasi ekonomi dari rezim komunis Cina. Dikarenakan penindasan dan penjajahan pemerintah komunis China terhadap Muslim Uighur itulah, maka wajar muncul perlawanan dari kaum muslim Uighur. Perlawanan Muslim Uighur bukan lantas menjadikan pemerintah China lebih memperhatikan mereka, namun justru menjadi pembenar untuk semakin menindas muslim Uighur. 

Kaum muslim Uighur sebagai pihak minoritas mengalami penindasan dan kezhaliman dari pemerintah komunis China. Kezaliman itu terus berlangsung sampai hari ini, tanpa henti, dan melakukan aksi kekerasan senjata terhadap Muslim di wilayah itu. [IJM]

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.