Hasil gambar untuk hti

Oleh: Achmad Fathoni - Dir. El harokah Research Center

Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto merasa pihaknya kerap disalahkan terutama dalam aksi #2019GantiPresiden dan penolakan pada Ustaz Abdul Somad. HTI kerap disebut membonceng di aksi ganti presidan dan ceramah-ceramah Abdul Somad. Ismail mengatakan, ada kesan bahwa kubu pendukung Jokowi mencoba menakuti masyarakat akan sosok Ustaz Abdul Somad (UAS) dengan mencatut nama pihaknya. Aparat disebutnya juga ada dibalik upaya itu. "Dalam konteks politik, ini kelompok Jokowi melawan kelompok Prabowo. Ini diembuskan kelompok Jokowi untuk menakut-nakuti kelompok Prabowo," kata Ismail kepada CNNIndonesia.com via sambungan telepon, Selasa (4/9). "Dalam hal UAS, [isu HTI] diembuskan untuk menakut-nakuti masyarakat terhadap UAS dan menjadikannya alasan bagi aparat agar tidak mengizinkan UAS," kata Ismail. Ismail pun percaya, dalam kasus UAS, aparat membingkai alasan HTI itu untuk memukul kelompok masyarakat tertentu lewat tangan kelompok masyarakat lainnya. "Jadi ini setting-an dari aparat yang harusnya adil," ujarnya. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180904095733-32-327386/kerap-jadi-kambing-hitam-hti-merasa-jadi-alat-monsterisasi)

Catatan

1. Wajah perpolitikan kita kembali ternoda dengan adanya narasi untuk memberangus suara Islam melalui berbagai wacana, termasuk upaya monsterisasi syariah Islam dan gerakan yang mengusungnya. Padahal al-Quran justru mengharuskan asas Islam itu, karena keberadaan organisasi Islam tidak lain adalah untuk menyerukan Islam serta melakukan amar makruf dan nahi mungkar.

2. Terkait monsterisasi gerakan Islam HTI bentuk yang sangat nyata dari ketakutan nyata di tengah semangat dukungan dan simpati luar biasa dari umat Islam terhadap seruan gerakan ini untuk bangkit dengan akidah Islam. 

3. Narasi monsterisasi HTI yang dilakukan pemerintah bentuk ketidakadilan. Cara yang ditempuh Pemerintah mencabut ijin ormas ini bukan cara yang tepat. Sebagai gerakan dakwah, sikap HTI – sebagaimana yang kita ketahui- tidak pernah berkompromi terhadap penindasan, kezaliman dan pengkhianatan serta upaya pecah belah umat Islam. 

4. Rakyat Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, hendaknya menyadari, bahwa negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggunya, dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahannya, HTI telah mengingatkan dengan pemikiran tanpa kekerasan, bahwa jika di negeri ini diterapkan syariah Islam secara kaffah, negeri ini terbebas dari kesulitan demi kesulitan serta dipimpin oleh penguasa yang adil. HTI telah menyampaikan kepada kita, jika untuk keluar dari krisis multidimensi ada wacana bahwa negeri ini membutuhkan “jalan baru”, maka sejatinya “jalan baru” itu adalah Islam. Islam bisa dipandang sebagai “jalan baru” bagi Indonesiakarena memang negeri ini belum pernah menempuh “jalan Islam”. Apakah jalan Islam dengan penerapan Syariah terlarang dan perbuatan kriminal bagi?

5. HTI bertolak belakang dengan PKI. HTI bukan gerakan kriminal - premanisme. Setiap narasi menyamakan PKI dengan HTI bertabrakan dengan akal sehat. Tuduhan HTI mirip dengan PKI adalah alasan yang mengada-ada, HTI dituduh memecah-belah, mengancam pluralitas (keragaman) dan keutuhan NKRI, dll adalah finah. Na‘ûdzu billâh. Padahal bukankah carut-marutnya negeri ini adalah akibat langsung dari diterapkannya sekularisme- kapitalisme di negeri ini selama puluhan tahun sekaligus dicampakkannya hukum-hukum Allah?

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.