RS. Roemani Muhammadiyah
Semarang – Persoalan defisit BPJS hingga mencapai 7 triliun membuat beberapa rumah sakit ‘kelabakan’, terlebih lagi rumah sakit swasta yang memiliki pasien BPJS hingga lebih dari 50% dari total pasien yang dilayani.
Seperti yang dialami RS. Roemani Muhammadiyah Semarang, hingga saat ini tunggakan BPJS terhadap rumah sakit ini hingga sebesar 48 miliar, angka yang cukup besar untuk sekelas rumah sakit tipe C milik swasta, yang seharusnya dana itu bisa digunakan untuk operasional rumah sakit, yang mencakup gaji pegawai, dokter, pembelanjaan obat dan perawatan gedung.
“Namun apa dikata, beberapa pengajuan klaim ke BPJS belum ada kabar menggembirakan, bahkan RS. Roemani sampai kelabakan meminjam uang kesana kemari untuk menutup biaya operasional. Hingga saat ini gaji karyawan belum dibayarkan, mundur gajiannya, karena nunggu pinjaman dari bank cair,” tegas Subidah, pegawai staf keuangan RS. Roemani, Selasa (25/9/2018).
RS. Roemani terpaksa mengajukan pinjaman ke Bank, dan piutang di BPJS sebagai jaminannya, untuk menutup biaya operasional yang perbulannya mencapai 10 miliar, dengan total karyawan 600 orang dan 100 dokter yang harus digaji tiap bulannya.
Tiap hari RS. Roemani melayani sekitar 500 pasien BPJS rawat jalan, dan 50 pasien untuk rawat inap. namun diakui bahwa hingga saat ini pihak rumah sakit terpaksa menumpuk hutang tagihan obat darpi perusahaan farmasi yang jumlahnya puluhan.
“lha bagaimana lagi, kita mau bayar (ke perusahaan farmasi) tapi BPJS uangnya belum keluar juga, ini aja masih mengajukan pinjaman ke bank belum cair juga karena syaratnya pun harus punya tabungan dulu sebilai 20% dari jumlah pengajuan hutang” terang Subidah.
tagihan obat yang harus dibayarkan kepada 70 perusahaan farmasi oleh pihak rumah sakit sebesar 3 miliar, karena selama 2 bulan belakangan rumah sakit belum mampu membayar hutang tersebut.
Rumah sakit hingga saat ini belum tau apakah bisa tetap beroperasi jika uang BPJS belum keluar juga, kendati pun pinjaman dari bank yang sebesar 6 miliar cair. karena sebenarnya uang itu pun hanya bisa bertahan untuk operasional sampai bulan desember 2018.
“jika sampai bulan desember uang dari BPJS belum keluar, saya tidak tahu apakah rumah sakit bisa melayani pasien atau tidak” terang subidah dengan penuh kehawatiran.
“sekarang saja, lajut Subidah, obat sudah banyak yang kosong, beberapa pasien dikasih resep tapi obatnya di apetek sini tidak ada, karena perusahaan farmasi tidak mau menyuplai obat ke kita, sebelum tagihannya kita lunasi” imbuhnya.
” jika desember uang di BPJS tidak keluar, maka Roemani tidak berani beroperasi, karena percuma juga menerima pasien tapi kita tidak bisa memberikan tindakan apapun, tidak ada obat juga” tutupnya.
Ditempat terpisah, Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah saat menerima kunjungan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan  Sandiaga Uno (24/9/2018) di Gedung Muhammadiyah Jateng Jl Singosari Raya 33 Semarang, menyampaikan bahwa saat ini BPJS belum membayar klaim rumah sakit Muhammadiyah se Jawa Tengah dengan jumlah tagihan sekitar 300 miliar.

Sumber : pwmjateng

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.