Dakwah Jateng-, Purwokerto, Selasa, 11 September 2018 bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1440 H, ratusan umat islam mulai dari para ulama, mubalighoh, tokoh, aktivis islam dari berbagai  wilayah banyumas raya yaitu purwokerto, banjarnegara, purbalingga, cilacap, majenang, sidareja bahkan dayeuh luhur berkumpul di Purwokerto untuk menghadiri acara Silaturahmi Akbar dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1440 H.

Acara Silaturahmi  yang mengambil tema Hijrah Menuju Islam Kaffah itu dimulai pada pukul 09.00 wib yang diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya adalah pemaparan materi dari beberapa pembicara dan tausiyah dari beberapa tokoh masyarakat terkait dengan tema acara tersebut dan diskusi.



Pembicara pertama yaitu Ust. Hanif Al-Fasiry dari Ma'had Mustanir Purwokerto, beliau menjelaskan tentang makna hijrah yang haqiqi dan aktualisasi hijrah saat ini. Beliau juga menegaskan bahwa hijrahnya Rasul dan para sahabat bukan karena takut dengan tekanan dari orang-orang kafir quraisy, tapi dalam rangka menjaga dan meninggikan islam sebagaimana telah dikisahkan dalam sirah dakwah beliau saw.


Adapun Pembicara kedua yaitu Ust. Muhsinin dari Majenang,  beliau menyampaikan bahwa hijrah selain dimaknai secara bathin, juga musti dimaknai secara dzahir, yaitu rasul SAW dan kaum muslimin saat itu berpindah dari tempat yang sistemnya jahiliyah menuju sistem islam.  Karena itu,  umat islam saat ini yang masih hidup dalam sistem Jahiliyyah wajib hukumnya berhijrah meninggalkan sistem sekuler kapitalis menuju sistem syariah secara kaffah. 

Dilanjutkan Pembicara yaitu ke tiga yaitu  Ust. Jadi Wiryono.  Beliau menjelaskan tentang janji dan bisyaroh rasulullah saw yang akan datang yakni kemenangan umat islam, sebagaimana hadist tentang penaklukan konstatinopel yang diucapkan oleh rosulullah saw 1400 tahun lalu dan pada akhirnya dapat terealisir pada 800 tahun kemudian oleh Muhammad Al Fatih.



Dalam sesi penyampaian Kalimah hikmah minal Ulama dan Tokoh Banyumas, diantaranya adalah KH. Ahmad Kamal Ismail, Penasehat Dewan Masjid Purbalingga tampil pertama menyampaikan tausiyahnya, yaitu berhijrah dari kejahiliyahan menuju madinah yang baldatun thoyibatun warobun ghafur, apalagi melihat kondisi sekarang umat islam terus didzalimi. Semoga akan hadir penakluk konstantinopel yang akan memenuhi janji Allah dan Rasulnya.  Beliau juga mengkritisi adanya upaya presekusi kalimat tauhid Laa IlaaHa Illalah, padahal kalimat ini adalah kalimat harga mati yang akan jadi penolong di akhirat kelak.

Berikutnya kalimah minal tokoh dari Ust Sukarno dari Banjarnegra, beliau menyampaikan, menegaskan beberapa hal yaitu
1. Nabi saw tdk hanya berpindah dr Makkah ke Madinah tapi juga membentuk negara
2. Bahwa membentuk masyarakat islami meniscayakan adanya negara islam
3. Masyarakat Islam bukanlah masyarakat yg 100% muslim, tapi yang menjadi standar setiap penduduknya adalah sistem apa yg diterapkan.
Selain tausiyah dari para pemateri, acara juga diselingi dengan pembacaan puisi mengenai Panji dan Bendera Rasullah saw yakni, “Liwa dan Royah” yang dibacakan oleh Ust. Ari dengan penuh kesyahduan, para peserta ikut terbawa suasana sedih sekaligus semangat ketika dibacakan kisah para sahabat rasul saw ketika mempertahankan panji (rayah) rasulullah saw saat peristiwa perang mu’tah yang sangat dahsyat tersebut.

Tepat pukul 11.45 WIB acara Silaturahmi Akbar Muharrom diakhiri dengan Do’a yang disampaikan oleh Kiayi Anshorudin, beliau dalam do’anya berharap agar khilafah islam segera tegak di bumi Allah ini. Sebelum pulang peserta saling bersalaman dan berfoto bersama dengan para pembicara dan tokoh dengan background Panji Rayah Rasulullah saw. []

Reporter: Abu Faqih

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.